• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

1) Unit Digester

Pemilihan digester mencakup beberapa hal penting yang perlu diperhatikan seperti ukuran, model, bahan, dan juga ketahannya terhadap suhu, banjir dan juga gempa. Jika ukuran digester terlalu kecil maka akan sulit untuk menampung kotoran sapi yang setiap harinya makin bertambah, begitupun sebaliknya jika digester terlalu besar gas yang dihasilkan kurang maksimal.

Menurut Widarto dan Sudarto, dalam Sukandarrumidi, dkk, perihal perhitungan kapasitas alat didasarkan pada jumlah ternak sapi dan tinja yang dihasilkan:

1) Tiap 1 ekor sapi menghasilkan 2 ember kotoran per hari. 2) Kotoran perlu diencerkan dengan 3 ember air.

3) Volume untuk 1 ember adalah sekitar kurang lebih 10 liter.

4) Jumlah ternak yang diusahakan untuk digunakan minimal 4 ekor sapi.

31

Kuncoro Sejati, Pengolahan Sampah Terpadu dengan Sistem Node, Sub Point, Center Point, ( Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2009), h. 15

32

5) Lamanya fermentasi (proses pembentukan gas kurang lebih 30 hari).33

Berdasarkan perhitungan diatas, maka setiap hari kotoran yang masuk sebagai umpan dalam digester adalah 2 ember (tinja) + 3 ember (air) = 5 ember. Bila 1 ember = 10 liter, maka ada 50 liter campuran tinja dan air untuk 1 ekor sapi. Lama proses pembentukan gas dalam digester 30 hari, maka tiap ekor sapi membutuhkan ruang digester 30X50 liter = 1.500 liter. Bila jumlah ternak yang diusahakan 4 ekor sapi, maka volume digester yang harus dibuat 4X1.500 liter = 6.000 liter atau 6 meter kubik.

Menurut Ruhimat Mamat, adapun alat-alat yang digunakan saat pembuatan biogas adalah mesin las listrik, mesin gerinda, gergaji besi, palu, thermometer, meteran, dan anemometer. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah drum ukuran 200 liter sebanyak 3 buah, pipa ukuran 0.5 in sebanyak 2 batang, pipa ukuran 2 in sebanyak 120 cm, kompor gas sebanyak 1 buah, stop kran 0,5 sebanyak 4 buah, selang karet sebanyak 1 buah, plat besi 3 mm 50x30 sebanyak 1 buah, panci ukuran 6 liter air.34

Tabel 2.2 Kelebihan dan Kekurangan Beberapa Jenis Digester Beton/bata Fiber glass ( PT SWEN

IT)

Plastik

Pembangunan harus teliti, butuh waktu lama.

Produk. pabrik, sistem

knock down, sangat kedap udara, pemasangan relatif singkat. Konstruksi sederhana, waktu pemasangan singkat. Tidak dapat dipindahkan.

Dapat dipindah, mudah untuk direnovasi. Dapat dipindahkan, tetapi cukup riskan (rusak). 33

Sukandarrumidi, Herry Zardak Kotta, dan Djoko Wintolo, op. cit. h. 270.

34

Mamat Ruhimat,dkk, Sosialisasi dan Pelatihan Pemanfaatan Biogas Skala Rumah Tangga sebagai Sumber Energi Alternatif Ramah Lingkungan di Kampung Parabon Desa Warnasari Kecamatan Pengalengan Kabupaten Bandung, Survey Pemetaan dan Informasi Geografis FPIPS UPI, h.3

Kebocoran sullit dideteksi.

Apabila bocor mudah dideteksi dan diperbaiki.

Apabila terjadi kebocoran sulit diperbaiki.

Biaya konstruksi agak mahal.

Biaya konstruksi agak mahal.

Biaya konstruksi murah.

Operasional mudah kotoran dapat langsung disalurkan ke dalam reaktor.

Operasional mudah,

kotoran dapat langsung disalurkan ke dalam reaktor

Operasional agak rumit, bahan baku kotoran diisi menggunakan tangan. Daya tahan terganatung

saat pembuatan.

Daya tahan kuat terhadap segaka cuaca hingga 10-15 tahun.

Daya tahan sangat kurang, mudah rusak.

Sumber : Riset PT Swen Inovasi Transfer dalam Wahyuni 2) Pipa

Instalasi pipa berfungsi sebagai media penyaluran atau pendistribusian gas dari digester ke peralatan aplikasi biogas. Jumlah yang dibutuhkan tergantung pada jarak anatara digester dengan peralatan listrik, disarankan jaraknya tidak lebih dari 30 meter agar mempermudah kontrol penggunaan dan keamanan.35

3) Pompa Biogas

Pompa berfungsi untuk megeluarkan biogas dari kantong penampung biogas (biogas storage bag). Biasanya, terdiri dari pompa besar dan pompa kecil, perbedaan kedua pompa ini hanya terletak pada penggunaan baterai kering sebagai sumber arus listrik.36

35

Wahyuni., op. cit, h.26

36

4) Kantong Penampung Biogas

Kantong ini berfungsi sebagai tempat penampungan sementara untuk gas yang dihasilkan pada proses metanogenesis. Hasil biogas yang telah megalami proses metanogenesis kemudian disalurkan dengan menggunakan pompa menuju tempat lain. Tempat lain yang dimaksud ialah tempat yang akan dialiri biogas biasanya slang yang telah dipasang untuk kemudian mengaliri biogas ke kompor atau alat penerang.37

5) Manometer

Alat ini berfungsi sebagai indikator pengukur tekanan biogas di dalam digester dan tempat penampungan pada saat akan digunakan. Pada umumnya, manometer ini diletakkan pada bagian bawah kubah digester dan tempat peralatan aplikasi biogas.38

6) Katup atau Keran Gas

Katup ini berfungsi sebagai pengatur besar atau kecilnya aliran gas. Pemasangan biasanya terdapat pada slang atau alat aplikasi. Jumlah keran yang dibutuhkan tergantung kepada banyak tidaknya peralatan aplikasi biogas. Biasanya, untuk satu unit biogas dibutuhkan 3-6 buah keran. Terdapat beberapa jenis katup atau keran gas seperti katup berbahan plastik dan katup besi.39

5. Membangun Instalasi Biogas

Menurut Sukandarrumidi, dkk, mengungkapkan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan lokasi instalasi biogas:

a. Yakinkan bahwa tanah yang akan di jadikan lokasi pemasangan instalasi biogas itu stabil, tidak mudah longsor atau ambles, dan bukan tempat bekumpulnya air hujan (tempat yang rendah).

b. Pilih tempat yang selalu terkena sinar matahari secara langsung agar gas yang dihasilkan tetap hangat.

37 Ibid., h. 28 38 Ibid. 39 Ibid., h. 29

c. Dekat dengan bahan baku yang berupa feses ternak, sebaiknya berdekatan dengan kandang ternak yang akan dimanfaatkan feses-nya. Jarak nya berkisar kurang lebih 50m. Hal ini agar memudahkan proses dalam pembuatan biogas.

d. Dekat dengan sumber air dan persediaan yang cukup untuk bahan pengencer kotoran ternak maupun untuk menggelontor masuknya kotoran ternak ke dalam digester.

e. Usahakan lokasinya tidak begitu jauh dari dapur, akan lebih baik bila kurang dari 100 meter, namun tidak terlalu dekat dengan sumber air. f. Demi estetika, digester jangan diposisikan di depan atau samping

rumah. Tempatkan digester dibelakang rumah agar dekat dengan kandang sapi dan dekat dengan sumber air. Bangunan digester jangan menyatu dengan rumah induk.40

Berdasarkan pernyataan diatas, hal-hal yang perlu dilakukan sebelum menentukan lokasi dalam memasang instalasi biogas yakni yakinkan bahwa tanah yang akan dipasang instalasi bukan tempat yang rendah hal ini dilakukan karena dikhawatirkan akan merusak instalasi biogas.

Yang kedua pilihlah tempat yang selalu terkena sinar matahari untuk tetap membuat hasil gas yang tetap hangat. Langkah ketiga usahakan dekat dengan bahan baku (feses) dan dekat dengan sumber air. Usaha ini dilakukan untuk memudahkan dan tidak membuang banyak waktu dan tempat.Selanjutnya, simpan digester dibelakang rumah. Selain menambah estetika hal ini juga dilakukan agar tidak mencemari lingkungan sekitar khususnya wilayah depan rumah.

Langkah selanjutnya setelah menentukan lokasi adalah membangun instalasi biogas. Pembangunan instalasi biogas mencakup 5 hal yaitu:1)Membangun Lubang Penempatan Digester, 2)Membuat Saluran Pemasukan (inlet), 3)Membuat Saluran Pengeluaran dan Penampungan Limbah, 4) Memasang Instalasi Biogas, 5)Pemeliharaan Instalasi Biogas.41

1) Membuat Lubang Penempatan Digester

Setelah menentukan jenis, bentuk, ukuran dan lokasi pembangunan digester, langkah awal adalah membuat lubang penempatan digester.

40

Sukandarrumidi, Herry Zardak Kotta, dan Djoko Wintolo, op.,cit. h.295

41

Pembuatan lubang bertujuan untuk menempatkan digesterke dalam posisi yang lebih rendah. Lubang penempatan digester dibuat dengan ukuran dan bentuk digester. Karena itu, sebelum membuat lubang perhatikan ukuran dan besarnya digester agar kedalaman dan lebar tanah yang di gali sesuai.Biasanya pada instalasi biogas yang berbahan baku kotoran sapi, digester dibuat ditanah yang digali sehingga posisinya lebih rendah dari kandang sapi.42

Tabel 2.3 Ukuran Lubang Untuk Penempatan Digester

Sumber : Riset PT Swen Inovasi Transfer dalam Wahyuni. 2) Membuat Saluran Pemasukan (Inlet)

Guna mempermudah proses penyaluran kotoran dari kandang sapi ke dalam digester, sebaiknya dibuat saluran dari arah kandang menuju lubang pemasukan digester dengan diameter 20-30 cm. Saluran tersebut terbuat dari

42 Ibid.,h. 46 Kapasitas Digester m³ Dimensi Lubang

Tinggi ( m ) Diameter ( m ) Tebal ( m )

4,0 2,5 1,5 3-5 5,0 2,5 1,7 5-8 6,4 2,5 2,0 5-8 7,0 2,5 2,0 3-5 11,0 2,5 2,6 5-8 17,0 3,5 2,6 8-10

pasangan batu bata yang diplester. Kedalaman saluran disesuaikan dengan kemiringan agar kotoran dan air yang mengalir lancar ke dalam digester.43

3) Membuat Saluran Pengeluaran dan Penampungan Limbah

Saluran ini dibuat untuk menghubungkan lubang pengeluaran bahan organik yang sudah tidak menghasilkan biogas lagi dengan bak penampungan. Bak penampungan dibangun dengan membuat galian berbentuk kotak segi empat berukuran 1 m x 1 m dengan kedalaman 1 meter dari pasangan batu bata yang diplester. Outlet atau saluran pengeluaran dapat dibuat dari satu kotak dengan jarak dari lubang digester dengan posisi searah dengan lubang pemasukan sekitar 20 cm. Sisa bahan baku yang tertampung pada outlet dapat dijadikan pupuk kandang.44

4) Memasang Instalasi Biogas

Instalasi yang dipasang merupakan sarana penghubung antara peralatan aplikasi dan digester sebagai sumber biogas. Instalasi terdiri dari saluran penghubung berupa pipa atau slang, keran atau ketup penutup, dan alat untuk memeriksa tekanan dan persediaan gas. Beberapa langkah pemasangan instalasi biogas:

a) Lakukan penyetelan dan pemeriksaan terhadap kondisi digester sebelum dimasukkan ke dalam lubang.

b) Masukkan digester secara perlahan-lahan ke dalam lubang untuk menghindari kerusakan atau pecahnya digester. Selain itu, pastikan posisi inlet dan outlet sudah pas.

c) Usahakan saluran gas terbuat dari bahan polimer pipa PVC dengan ukuran diameter pipa 0,5 inci.

d) Pasang keran gas kontrol pada salah satu bagian pipa paralon yang ada di bagian atas kubah digester. Sementara itu, satu pipa lainnya disambungkan ke dapur atau generator penghasil listrik. e) Lakukan penimbunan tanah di sekeliling digester jika digester

tersebut telah terisi kotoran ternak.

f) Sambung slang dengan keran gas yang telah disediakan ke kompor dan slang direkatkan dengan benar.45

43 Ibid., h. 47 44 Ibid. 45 Ibid., h. 48-49

Dalam memasang instalasi biogas cara yang paling awal yakni dengan melakukan penyetelan akan kondisi digester sebelum dimasukkan ke dalam lubang yang telah dibuat dengan diameter 1 meter. Langkah selanjutnya masukan digester perlahan agar tidak rusak pastikan kembali posisi inlet dan outlet sudah pas. Setelah digester masuk kedalam lubang, pasang gas yang telah terhubung dengan bagian atas digester untuk pipa lainnya disambungkan ke dapur untuk menghasilkan panas. Langkah selanjutnya timbun tanah disekeliling digester tersebut. Terakhir sambungkan slang yang telah disediakan ke kompor agar dapat menyalurakan gas hasil fermentasi tersebut.

5) Pemeliharaan Instalasi Biogas

Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan agar biogas dapat memproduksi gas secara terus-menerus:

a) Mengisi bahan baku berupa kotoran ternak segar ke dalam digester sesuai dengan kapasitas harian agar produksi dapat kontinu.

b) Mencegah bahan penghambat (pestisida, disinfektan, air detergen, atau sabun) masuk ke dalam digester.

c) Membersihkan peralatan seperti kompor dan generator secara teratur.

d) Mengelola limbah biogas secara teratur.

e) Mengaplikasikan hasil olahan sisa bahan baku pembuatan biogas agar tidak terjadi penumpukan pada bak penampungan.

f) Segera perbaiki jika terjadi kebocoran pada instalasi peralatan biogas.46

Berdasarkan pernyataan tentang pemeliharaan instalasi biogas, disebutkan bahwa dalam memelihara instalasi biogas hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengisi bahan baku agar dapat dilakukan proses fermentasi secara kontinu dan mengurangi limbah peternakan. Kedua yakni mencegah bahan penghambat masuk salah satunya yaitu sabun hal ini di khawatirkan akan menyumbat atau mengurangi hasil gas karena tercampur bahan dari luar.

46

Selanjutnya membersihkan dan mengelola limbah secara teratur agar terlihat selalu bersih. Selanjutnya yakni mengaplikasikan atau mendaur ulang hasil olahan sisa pembuatan biogas menjadi pupuk agar tidak mengasilkan bau. Terakhir segera perbaiki jika terjadi kerusakan pada instalasi biogas.

6. Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Biogas

P. Renosari mengungkapkan beberapa kelebihan dan kekurangan dari biogas adalah sebagai berikut:

a. Masyarakat tak perlu menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar. b. Kotorannya dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti gas

elpiji.

c. Sisa limbah yang dikeluarkan dari biodigester dapat dijadikan pupuk sehingga tidak mencemari lingkungan.

d. Dapat berkontribusi menurunkan emisi gas rumah kaca melalui pengurangan pemakaian bahan bakar kayu dan bahan bakar minyak.

e. Relatif lebih aman dari ancaman bahaya kebakaran.

f. Mengurangi penggunaan bahan bakar lain (minyak tanah, kayu, dan lain sebagainya) oleh rumah tangga atau komunitas.

g. Menjadi metode pengolahan sampah (raw waste) yang baik dan mengurangi pembuangan sampah ke lingkungan (aliran air/sungai). h. Meningkatkan kualitas udara karena mengurangi asap dan jumlah karbodioksida akibat pembakaran bahan bakar minyak/kayu bakar. i. Secara ekonomi, murah dalam instalasi serta menjadi investasi

yang menguntungkan dalam jangka panjang.

Selain keuntungan dari penggunaan biogas sebagai energi alternatif, adapun kekurangan dari penggunaan biogas antara lain:

a. Memerlukan dana tinggi untuk aplikasi dalam bentuk instalasi biogas.

b. Tenaga kerja tidak memiliki kemampuan memadai terutama dalam proses produksi.

c. Belum dikenal masyarakat.

d. Tidak dapat dikemas dalam bentuk cair dalam tabung.47

Penulis menyimpulkan, biogas memiliki beberapa kelebihan juga kekurangan. Biogas yang memiliki harga murah, relatif aman,

47

P. Renosori. Kajian Peningkatan Pemanfaatan Kotoran Sapi Menjadi Biogas Dengan Metode SWOT dan AHP di Desa Wangunsari Kecamatan Lembang. Jurnal Buana Sains, Vol. 12, No. 1 Tahun 2012. h. 109.

menggurangi penggunaan bahan bakar lain seperti minyak tanah, kayu, juga dapat mengurangi pembuangan sampah ke lingkungan. Dampak negatif dari biogas belum terlalu nampak sejauh penelitian yang telah dilakukan, hanya saja program biogas memang belum banyak diketahui oleh masyarakat dikarenakan kurangnya sosialisasi.Terlebih dari banyaknya keuntungan yang didapatkan dari penggunaan biogas ketimbang dari kekurangannya, hal ini menjadi tidak berlebihan ketika biogas dapat digunakan menjadi energi alternatif yang mudah, murah, dan berjangka panjang.

7. Dampak Positif Biogas untuk Masyarakat di Desa Peternak

Penggunaan biogas di daerah pedesaan telah banyak memberi dampak positif bagi masyarakat terutama untuk lingkungan sekitar, tak terkecuali para peternak yang menggunakan kotoran sapinya untuk dijadikan biogas. Manfaat biogas selain mudah pembuatannya, murah bahan bakunya juga relatif aman digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, biogas juga dapat dijadikan mata pencaharian sampingan yakni hasil pupuk nya dapat dijual di pasar-pasar. Seperti yang telah dilakukan oleh kelompok tani Pasanggani Limboro yang bekerja sama dengan Balai Penelitian Tekhnologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah melalui program peningkatan pendapatan petani melalui inovasi yang dibiayai oleh Asian Development Bank.

Menurut Ahyar selaku tehknis biogas Limbaro mengungkapkan, manfaat biogas sudah sangat terasa di desa ini. Biasanya kami membutuhkan 20 liter minyak tanah perbulan, namun semenjak adanya biogas hanya dibutuhkan dua liter untuk penggunaan satu bulan. Beliau menambahkan, “Beberapa desa dan kecamatan di Donggala meminta

diajari membuat biogas dari tahi sapi ini. Cuma kendalanya, kompor gas tidak tersedia karena membutuhkan kompor khusus.48

B. Hasil Penelitian yang Relevan

1. Penelitian dilakukan oleh Shofian Rinazani (Respon Masyarakat Terhadap Pemanfaatan Energi Alternatif ( Biogas ) Di Desa Tarumajaya Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung, Skripsi). Hasil penelitian menunjukan 3 respon yang diberikan masyarakat yaitu: masyarakat yang menolak program biogas dikarenakan kurangnya pelatihan dan informasi mengenai biogas, masyarakat yang menerima tapi tidak pernah mempraktekan biogas ini dikarenakan tidak sepenuhnya memahami akan manfaat biogas, cara membuat instalasi biogas, serta mekanisme cara kerja biogas, dan masyartakat yang telah menerima informasi dan menggunakan biogas sampai saat ini.49

2. Penelitian dilakukan oleh Mamat Ruhimat, dkk ( Sosialisasi dan Pelatihan Pemanfaatan Biogas Skala Rumah Tangga Sebagai Sumber Energi Alternatif Ramah Lingkungan di Kampung Parabon Desa Warnasari Kecamatan Pengalengan Kabupaten Bandung, Jurnal). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penduduk di Kampung Parabon masih belum mendukung sepenuhnya kegiatan biogas ini hal ini dikarenakan masih adanya trauma akibat gempa bumi yang terjadi pada tanggal 02 September 2009 sehingga kegiatan ini menjadi molor

dari jadwal yang telah dibuat. Masih banyak penduduk yang malas mengelola kotoran sapi untuk di buat menjadi biogas, kebanyakan penduduk desa Parabon membuang kotoran sapinya begitu saja yang

48

Darlis, Minyak Tanah Mahal, Warga Gunakan Biogas Kotoran Sapi, Tempo Interaktif, Jakarta, 21 September 2007, (http://id.scribd.com/doc/301816139/Biogas-Dari-Kotoran-Sapi, diakses tanggal 11 Oktober pukul 23:32 WIB

49Shofian Rinazani, “ Respon Masyarakat Terhadap Pemanfaatan Energi Alternatif (

Biogas ) Di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung.” Skripsi pada UPI Bandung, Bandung 2011, tidak dipublikasikan.

berakibat pada tercemarnya lingkungan. Ditambah lagi kurangnya sosialisasi di lingkungan penduduk akan manfaat biogas.50

3. Penelitian ini dilakukan oleh Alla Asmara, M. Parulian Hutagaol, dan Salundik (Analisis Potensi Produksi dan Persepsi Masyarakat dalam Pengembangan Biogas pada Sentra Usaha Ternak Sapi Perah pada Kabupaten Bogor, Jurnal). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar responden, baik peternak maupun non-peternak menyatakan setuju bahwa kotoran sapi yang tidak diolah akan memberikan dampak yang negatif. Berdasarkan survey diketahui 95% responden setuju bahwa kotoran sapi yang tidak diolah akan menimbulkan bau dan mengakibatkan penyakit. Sementara itu, terkait dengan pernyataan bahwa kotoran sapi yang tidak diolah akan merusak lingkungan pemukiman dijawab setuju oleh 81% responden. Proporsi rumah tangga nonpeternak yang menyatakan setuju mencapai lebih dari 95%, sedangkan responden peternak hanya sekitar 57%. Keseluruhan responden sepakat bahwa pengolahan kotoran sapi menjadi biogas akan memberikan dampak positif kepada masyarakat, sebanyak 87,5% menyatakan setuju atas pernyataan ini.Namun begitu alasan peternak masih belum banyak yang mengguanakan biogas dikarenakan terbatasnya pengolahan biogas yang dilakukan adalah ketidakmampuan menyediakan biaya, ketidaktahuan tentang tekhnologi biogas dan biogas membutuhkan tekhnologi yang canggih. Sebanyak 47,50% menyatakan setuju atas pernyataan ini.51

50

Mamat Ruhimat,dkk, op.cit., h.5-6

51

Alla Asmara, M. Parulian Hutagaol, dan Salundik,Analisis Potensi Produksi dan Persepsi Masyarakat dalam Pengembangan Biogas pada Sentra Usaha Ternak Sapi Perah di Kabupaten Bogor, Jurnal Agribisnis Indonesia. Vol. 1, 2013. h.74

34

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Desa Tarumajaya Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung Jawa Barat. Waktu penelitian dilakukan pada semester VII (ganjil) tahun pelajaran 2014-2015.

Gambar 3.1

Peta Administrasi Desa Tarumajaya

Peneliti mengambil Desa Tarumajaya menjadi tempat penelitian karena Desa Tarumajaya menjadi Desa dengan banyak peternakan sebagai pemasok susu yang dihasilkan peternakan sapi ke PT. Ultra Jaya dan Frisian Flag melalui KPBS Pangalengan.1

1

https://id.wikipedia.org/wiki/Tarumajaya,_Kertasari,_Bandung diakses Minggu 06 September pukul 20:51 WIB.

Belum lagi tahun 2013 tercatat sudah ada 784 petenak sapi di desa ini, kemungkinan peternak sapi masih terus bertambah seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan susu, dan daging sapi.

Desa Tarumajaya merupakan salah satu desa yang telah mengelola kotoran sapi menjadi biogas sejak tahun 2008. Telah ada 100 unit biogas yang ada di desa ini, saat ini tengah direncanakan program pembangunan 150 unit biogas.

Table 3.1 Jadwal Penelitian No Kegiatan Bulan November 2015 Maret 2016 Mei 2016 Juli 2016 Agustus 2016 1. Pengajuan proposal  2. Seminar proposal  3. Penyusunan Bab I-III  4. Penyusunan instrumen penelitian  5. Pengumpulan data  6. Pengolahan data dan analisis data

 7. Pemeriksaan dan keabsahan data  8. Penyerahan hasil penelitian 

B. Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan suatu data dengan tujuan yang ingin dicapai di dalam penelitian ini. Penelitian yang akan dilakukan di desa Tarumajaya ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode grounded research.

Meleong menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena yang dialami oleh objek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain sebagainya. secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.2

Menurut Glaser dan Strauss dalam Syamsir, penelitian grounded merupakan “Penelitian sebagai reaksi tajam atas stagnasi teori dalam ilmu-ilmu sosial. Oleh karenannya, penelitian grounded tidak bertitik tolak dari data atau situasi sosial, melainkan dari konsep, hipotesis dan teori yang sudah mapan yang mungkin sekali tidak relevan dengan situasi sosial yang khas dari masyarakat yang diteliti. Karena sifatnya verifikasi atau pengecekan terhadap teori yang sudah tersedia, maka teori-teori baru tidak tumbuh dan berkembang. Sebaliknya, terkadang timbul teori baru tetapi pula tidak berlandaskan data”.3

Widoyo mengemukakan pengertian grounded research adalah “suatu metode penelitian yang mendasarkan diri pada fakta dan menggunakan analisis perbandingan bertujuan mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep, membuktikan teori dan mengembangkan teori dimana pengumpulan dan analisis data berjalan pada waktu yang sama”.4

Adapun metode-metode yang ada didalam metode grounded research yakni:

a. Tujuan yang berupa generalisasi empiris, menetapkan konsep, membuktikan teori dan mengembangkan teori.

b. Jawaban atas pertanyaan bagaimana (hubungan kausal)

c. Data, fakta, tanpa teori digunakan untuk membangun suatu teori, konsep.

2

Lexy J. Meleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Banudng: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), hal. 6

3

Syamsir Salam dan Jaenal Aripin, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta: UIN Jakarta press), h. 26

4

Widoyo Alfiandi, Epistemologi Geografi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2001) h, 122

d. Membuat klasifikasi melalui metode penelaran induksi (penggolongan/perwilayahan) untuk membedakan dan persamaan antar wilayah, yang merupakan dasar utama analisis.

e. Pengumpulan data dan analisis dilakukan pada waktu bersamaan, pengumpulan data dikuasai oleh pengembangan analisis.5

Berdasarkan pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa metode

grounded research merupakan suatu metode yang bertujuan untuk mengembangkan teori ataupun mencari teori baru selain itu metode ini juga dijadikan sebagai jawaban atas hubungan kausal atara pertanyaan bagaimana. Pengumpulan data dan analisis data pada metode ini dilakukan secara bersamaan saat sedang melaksanakan penelitian.

Secara umum menurut Payne grounded research dapat digunakan untuk:

Dokumen terkait