• Tidak ada hasil yang ditemukan

Digory dan Pamannya Sama-sama dalam Kesulitan

Dalam dokumen Ilustrasi oleh Pauline Baynes (Halaman 190-200)

BAB 11

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.

MR. Collection's

ubannya (kini tampak kian berantakan) tidak kelihatan seperti apa pun yang terdapat pada ketiga manusia lain. Jadi wajar saja kalau para hewan kebingungan. Yang paling buruk, Paman Andrew tampaknya tidak bisa bicara.

Dia berusaha melakukannya. Ketika Bulldog berbicara padanya (atau, seperti yang disangka- nya, pertama menggeram kemudian menggong- gong kepadanya) dia mengulurkan tangannya yang gemetar dan tergagap, "Anjing baik, anjing manis." Tapi para hewan tidak bisa mengerti ucapannya seperti dia tidak bisa me- ngerti ucapan mereka. Mereka tidak mendengar kata-kata apa pun, hanya suara berdesis yang aneh. Mungkin lebih baik kalau mereka tidak mengerti apa-apa, karena tidak ada anjing yang kuketahui, apalagi Anjing yang Bisa Berbicara Narnia, senang dipanggil "Anjing Baik" seperti kau suka bila dipanggil "Pria Kecil".

Kemudian Paman Andrew terjatuh dan ping- san.

"Nah!" kata Babi Hutan. "Ternyata hanya pohon. Sudah kuduga." (Ingat, mereka belum pernah melihat orang pingsan atau bahkan sesuatu terjatuh.)

Bulldog, yang mengendusi seluruh tubuh Paman Andrew, mendongak dan berkata, "Dia

hewan. Tentu saja hewan. Dan mungkin jenis yang sama dengan makhluk-makhluk yang tadi."

"Aku tidak melihat kemiripannya," kata sa- lah satu beruang. "Hewan tidak akan sekadar berbaring seperti itu. Kita kan hewan dan kita tidak berbaring begitu. Kita berdiri. Seperti ini." Dia berdiri dengan kaki belakangnya, mundur selangkah, tersandung cabang rendah dan terjatuh telentang.

"Lelucon ketiga, lelucon ketiga, lelucon ke- tiga!" kata Jackdaw penuh semangat.

"Aku masih berpikir dia sejenis pohon," kata Babi Hutan.

"Kalau dia memang pohon," kata beruang yang lain, "mungkin ada sarang lebah di dalamnya."

"Aku yakin dia bukan pohon," kata Luak. "Kurasa dia berusaha bicara sebelum dia ter- geletak."

"Itu hanya suara angin di antara cabang- cabangnya," kata Babi Hutan.

"Kau tidak bermaksud," kata Jackdaw ke- pada Luak, "bahwa kau berpikir dia hewan yang bisa bicara, kan? Dia bahkan tidak me- ngatakan sepatah kata pun."

"Namun, kalian tahu," kata Gajah (gajah betina tentu saja, karena suaminya, bila kau ingat, telah dipanggil untuk rapat dengan Aslan), "namun, kalian tahu, dia mungkin saja memang sejenis hewan. Bukankah gumpalan putih di bagian ujung sini semacam wajah? Dan bisakah lubang-lubang itu mata dan mu- lut? Tidak ada hidung, tentu saja. Tapi yah— ehem—kita tidak boleh berpikiran sempit. Tidak banyak di antara kita punya sesuatu yang bisa benar-benar disebut sebagai Hidung." Dia me- lirik belalai panjangnya dengan rasa bangga yang pantas dimaklumi.

"Aku sangat keberatan dengan pernyataan itu," kata Bulldog.

"Gajah benar juga," kata Tapir.

"Ah, aku tahu!" kata Keledai ceria. "Mung- kin dia hewan yang tidak bisa bicara tapi mengira dia bisa."

"Bisakah dia dibuat berdiri?" tanya Gajah berpikir keras. Dia meraih lembut sosok lunglai Paman Andrew dengan belalainya dan mendiri- kannya dengan salah satu sisi di atas. Sayang- nya terbalik sehingga dua setengah sovereign, tiga setengah crown, dan enam pence terjatuh dari sakunya. Tapi tidak ada gunanya. Paman Andrew terjatuh lagi.

"Nah kan!" kata beberapa suara. "Dia sama sekali bukan hewan. Dia bahkan tidak hidup." "Aku yakin dia memang hewan," kata Bull- dog. "Cium saja dia sendiri."

"Penciuman bukan segalanya," kata Gajah. "Lho," kata Bulldog, "kalau kita tidak bisa memercayai hidung kita, apa lagi yang bisa dipercayai?"

"Yah, otak mungkin," Gajah menjawab ri- ngan.

"Aku sangat keberatan dengan pernyataan itu," kata Bulldog.

"Yah, kita harus melakukan sesuatu tentang dia," kata Gajah. "Karena mungkin saja dia Kebahatan, dan dia harus ditunjukkan ke

Aslan. Bagaimana pendapat sebagian besar ka- lian? Apakah dia hewan atau sejenis pohon?"

"Pohon! Pohon!" kata lusinan suara.

"Baiklah," kata Gajah. "Kalau begitu, jika dia memang pohon berarti dia akan mau di- tanam. Kita harus menggali lubang."

Dua tikus tanah membereskan masalah itu dengan cukup cepat. Ada sedikit perdebatan tentang ujung Paman Andrew yang mana yang harus dimasukkan ke tanah, dan dia nyaris sekali ditanam dengan kepala di bawah. Be- berapa hewan berkata kaki-kakinya pasti ca- bang dan karena itu benda abu-abu dan ber- bulu lebat (maksudnya kepalanya) pasti akar. Tapi kemudian hewan-hewan lain berkata bah- wa bagian ujung yang bercabang dua lebih kotor berlumpur dan lebih menjulur panjang, seperti selayaknya akar. Jadi akhirnya dia di- tanam dengan kepala di atas. Ketika mereka menutup lubang dengan tanah, badan Paman Andrew terkubur hingga di atas lututnya.

"Dia kelihatan layu sekali," kata Keledai. "Tentu saja dia butuh disiram," kata Gajah. "Kurasa aku bisa bilang (tanpa bermaksud menyinggung siapa pun yang hadir) bahwa mungkin, untuk pekerjaan semacam ini, jenis hidungku—"

"Aku sangat keberatan dengan pernyataan itu," kata Bulldog. Tapi Gajah tetap berjalan perlahan ke sungai, mengisi belalainya dengan air, dan kembali untuk mengurus Paman Andrew. Hewan cerdas itu terus melakukan ini sampai bergalon-galon air telah disemprotkan ke Paman Andrew, dan air mengalir dari bagian buntut jas panjangnya seolah dia mandi dengan pakaian lengkap. Akhirnya semprotan air itu menyadarkannya. Dia terbangun dari pingsan- nya, membuka mata dan melihat. Benar-benar pemandangan yang luar biasa!

Tapi kita harus meninggalkan dia untuk me- renungkan segala perbuatan jahatnya (kalau dia memang mungkin melakukan sesuatu yang begitu masuk akal seperti itu) dan beralih ke hal-hal yang lebih penting.

Strawberry berlari bersama Digory di pung- gungnya sampai suara hewan-hewan lain tidak terdengar lagi, dan kini grup kecil Aslan dan para anggota dewan yang dipilihnya sudah cukup dekat. Digory tahu dia tidak bisa begitu saja mengganggu pertemuan resmi tersebut, tapi tidak perlu melakukan itu. Hanya dengan satu kata dari Aslan, gajah jantan, gagak-gagak, dan para makhluk sisanya menyingkir ke sam- ping. Digory turun dari kuda dan mendapati dirinya bertatapan muka dengan Aslan. Dan Aslan lebih besar, indah, bersinar keemasan, dan mengerikan daripada perkiraannya. Dia tidak berani menatap langsung matanya yang menakjubkan.

"Saya mohon—Pak Singa—Aslan—Sir," kata Digory, "bisakah Anda—bolehkan saya—saya mohon, maukah Anda memberi saya buah ajaib di negeri ini yang bisa menyembuhkan ibu saya?"

Digory benar-benar berharap sang singa akan menjawab "Ya". Dia sangat takut sang singa

akan menjawab "Tidak". Tapi dia terkejut sekali ketika Aslan tidak melakukan keduanya.

"Inilah anak laki-laki itu," kata Aslan, me- natap tidak pada Digory, tapi pada anggota dewannya. "Inilah anak laki-laki yang melaku- kannya."

Astaga, pikir Digory, apa yang telah kulaku- kan?

"Putra Adam," kata sang singa. "Ada pe- nyihir jahat di negeri baruku Narnia. Ceritakan kepada para makhluk agung ini bagaimana dia bisa sampai di sini."

Lusinan hal berbeda yang bisa dia katakan berkelebat di benak Digory, tapi dia punya akal sehat untuk tidak mengatakan apa pun kecuali kejadian yang sebenar-benarnya.

"Aku yang membawanya, Aslan," dia men- jawab dengan suara pelan.

"Untuk tujuan apa?"

"Aku ingin mengeluarkannya dari duniaku sendiri dan mengembalikannya. Aku kira aku sedang membawanya ke negerinya sendiri."

"Bagaimana dia bisa tiba di duniamu, Putra Adam?"

"Dengan—dengan Sihir."

Sang singa tidak mengatakan apa-apa dan Digory tahu ceritanya sudah cukup.

"Sihir pamanku, Aslan," katanya. "Dia me- ngirim kami keluar dari dunia kami dengan cincin-cincin ajaib, setidaknya aku terpaksa per- gi karena dia sudah mengirim Polly tanpa persetujuannya, kemudian kami bertemu sang penyihir di tempat bernama Charn dan dia memegangi kami ketika—"

"Kau bertemu penyihir itu?" tanya Aslan dengan suara rendah yang nyaris mengandung geraman.

"Dia terbangun," kata Digory menyesal. Ke- mudian wajahnya memucat, "Maksudku, aku membangunkannya. Karena aku ingin tahu apa yang akan terjadi kalau aku memukul bel. Polly tidak mau melakukannya. Bukan salahnya. Aku—aku bertengkar dengannya. Aku tahu se- harusnya aku tidak melakukan itu. Kurasa aku agak terkena mantra tulisan di bawah bel itu."

"Benarkah?" tanya Aslan, masih dengan nada sangat rendah dan dalam.

"Tidak," kata Digory. "Sekarang aku tahu aku tidak terkena mantra. Aku hanya berpura- pura."

Ada jeda lama. Dan sepanjang waktu itu Digory berpikir, "Aku sudah mengacaukan se- galanya. Sekarang tidak ada kesempatan mem- bawakan apa pun untuk Ibu."

Ketika sang singa berbicara lagi, kata-katanya bukanlah untuk Digory.

"Kalian lihat, teman-teman," katanya, "bah- kan sebelum dunia baru dan bersih yang ku- berikan kepada kalian berusia tujuh jam, ke- kuatan kejahatan telah memasukinya, dibangun- kan dan dibawa ke sini oleh Putra Adam ini." Para hewan, bahkan Strawberry, memutar mata mereka ke Digory sampai anak itu berharap tanah akan menelannya. "Tapi janganlah kalian menjadi muram," kata Aslan, masih berbicara pada para makhluk Narnia. "Kejahatan akan sampai pada kejahatan, tapi perjalanannya ma- sih sangat jauh, dan aku akan memastikan yang terburuk hanya akan menimpa diriku sendiri. Sementara itu, marilah kita menyusun peraturan sehingga untuk ratusan tahun tanah ini tetap akan menjadi tanah bahagia di dunia yang bahagia. Dan karena ras Adam telah melakukan kerusakan, ras Adam-lah yang akan membantu memperbaikinya. Mendekatlah, ka- lian berdua."

Kata-kata terakhir ditujukan kepada Polly dan si kusir kereta yang kini telah tiba. Mata dan mulut Polly terbuka lebar, dia menatap lekat Aslan sambil menggenggam erat tangan si kusir. Si kusir melihat sekilas ke sang singa,

Dalam dokumen Ilustrasi oleh Pauline Baynes (Halaman 190-200)