KEPONAKAN PENYIHIR
KEPONAKAN PENYIHIR
C.S. Lewis
Ilustrasi oleh Pauline Baynes
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2005
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. [email protected]
THE CHRONICLES OF NARNIA #1 THE MAGICIAN'S NEPHEW Copyright © CS Lewis Pte Ltd 1955, 1950, 1954,
1951, 1952, 1953, 1956
Inside illustrations by Pauline Baynes, copyright © CS Lewis Pte Ltd 1955, 1950, 1954, 1951, 1952, 1953, 1956
Cover art by Cliff Nielsen, copyright © CS Lewis Pte Ltd 2002 The Chronicles of Narnia®, Narnia® and all book titles, characters
and locales original to The Chronicles of Narnia, are trademarks of CS Lewis Pte Ltd Use without permission is strictly prohibited Published by PT Gramedia Pustaka Utama under license from
the CS Lewis Company Ltd All rights reserved
www.narnia.com
THE CHRONICLES OF NARNIA #1 KEPONAKAN PENYIHIR Alih Bahasa: Indah S. Pratidina
GM 106 05 008 Hak Cipta Terjemahan Indonesia:
PT Gramedia Pustaka Utama Jl. Palmerah Barat '33-37
Jakarta 10270 Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama,
Anggota IKAPI, Jakarta, Juni 2005
Cetakan kedua: September 2005
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
LEWIS, C.S.
THE CHRONICLES OF NARNIA: KEPONAKAN PENYIHIR/ C.S. Lewis; alih bahasa: Indah S. Pratidina, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005
280 hlm; ilustrasi; 18 cm
Judul asli: THE CHRONICLES OF NARNIA: THE MAGICIAN'S NEPHEW ISBN 979-22-1457-7
I. Judul II. Pratidina, Indah S.
Kepada Keluarga Kilmer
Untuk KMR, yang slalu menjadi inspirasiku
DAFTAR ISI
1. Pintu yang Salah
2. Digory dan Pamannya 29
3. Hutan di Antara Dunia-Dunia 47
4. Bel dan Palu 64
5. Kata Kemalangan 83
6. Awal Segala Kesusahan
Paman Andrew 101
7. Yang Terjadi di Pintu Depan 119
8. Pertarungan di Lampu Tiang 138
9. Membangkitkan Narnia 154
10. Lelucon Pertama dan Hal-hal Lain 174
11. Digory dan Pamannya
Sama-sama dalam Kesulitan 192
12. Petualangan Strawberry 209
13. Pertemuan Tak Terduga 228
14. Penanaman Pohon 246
15. Akhir Kisah Ini
I
NI kisah tentang sesuatu yang terjadi dulu sekali ketika kakek-nenekmu masih kanak-kanak. Kisah ini penting karena mengungkap-kan bagaimana pertama kali dimulainya berba-gai hal bisa keluar-masuk dari dunia kita sendiri ke tanah Narnia.Di masa-masa itu, Mr Sherlock Holmes ma-sih tinggal di Baker Street dan keluarga Bastable masih mencari harta terpendam di Lewinsham Road. Di masa-masa itu, kalau kau anak laki-laki kau harus mengenakan kerah Eton yang kaku setiap hari, dan sekolah-sekolah biasanya lebih kejam daripada sekarang. Tapi makanan-makanannya lebih lezat, dan kalau bicara soal permen-permennya, aku tidak akan bilang pada-mu betapa pada-murah dan nikmat sepada-mua jenisnya, karena itu hanya akan membuat air liurmu
BAB 1
Pintu yang Salah
menetes percuma. Dan di masa-masa itu, hidup-lah di London anak perempuan bernama Polly Plummer.
Dia tinggal di salah satu rumah di deretan panjang rumah yang berdempetan. Di suatu pagi, dia sedang berada di kebun belakang ketika seorang anak laki-laki datang berlari dari kebun sebelah dan meletakkan kepalanya di atas pagar tembok. Polly sangatlah terkejut karena hingga saat ini belum pernah ada anak-anak di rumah itu, hanya Mr Ketterly dan Miss Ketterley, kakak-beradik, perjaka tua dan perawan tua, tinggal bersama. Jadi Polly men-dongak, penuh rasa ingin tahu. Wajah anak laki-laki asing itu sangat kotor. Nyaris tidak akan bisa lebih kotor lagi bila dia menggosok-kan tangan ke tanah dulu, menangis keras, lalu mengeringkan wajah dengan kedua tangan-nya. Bahkan sebenarnya, bisa dibilang itulah yang baru saja dia lakukan.
"Halo," sapa Polly.
"Halo," sapa anak laki-laki itu. "Siapa nama-mu?"
"Polly," jawab Polly. "Kalau namamu?" "Digory," jawab si anak laki-laki.
"Namamu lebih aneh," kata Polly. "Tidak," kata Digory.
"Yang pasti aku akan mencuci wajahku," kata Polly. "Itu perlu kaulakukan, terutama setelah—" lalu dia berhenti. Dia berniat berkata "Setelah kau menangis lama," tapi dia pikir itu tidak sopan.
Digory dengan suara yang jauh lebih keras, seperti anak lelaki yang saking sedihnya tidak peduli siapa saja yang tahu dia habis menangis. "Tapi kau juga akan begini," dia melanjutkan, "kalau sepanjang umurmu kau hidup di pe-desaan dan memiliki kuda poni, juga sungai di bagian bawah taman, lalu dibawa untuk hidup di gua kumuh mengerikan seperti ini."
"London bukan gua," kata Polly yakin. Tapi anak lelaki itu terlalu marah untuk mendengar-nya, dia pun melanjutkan—
"Dan kalau ayahmu berada jauh di India— dan kau harus tinggal bersama Bibi dan Paman yang gila (siapa yang bakal mau?)—dan kalau alasannya adalah karena mereka harus menjaga ibumu—dan jika ibumu sakit dan akan— akan—meninggal." Kemudian wajahnya mulai membentuk rupa aneh yang biasa muncul bila kau berusaha menahan air mata.
"Aku tidak tahu itu. Maaf ya," kata Polly lembut. Kemudian, karena dia hampir tidak tahu apa yang harus diucapkan dan berusaha mengalihkan pikiran Diggory ke topik-topik menggembirakan, dia bertanya:
"Memangnya Mr Ketterly benar-benar gila, ya?"
"pasti-nya dia menyimpan misteri lain. Dia pu"pasti-nya ruang kerja di lantai atas dan Bibi Letty bilang jangan sekali-kali aku berani ke sana. Nah, itu saja sudah terdengar mencurigakan, kan? Kemu-dian ada satu hal lagi. Setiap kali pamanku berusaha mengatakan apa pun padaku saat makan—dia bahkan tidak pernah berusaha bi-cara pada Bibi—Bibi Letty langsung menyuruh-nya diam. Dia bilang, 'Tidak perlu mencemas-kan anak itu, Andrew' atau 'Aku yakin Digory tidak mau mendengar tentang itu' atau kalau tidak 'Nah, Digory, tidakkah kau ingin main keluar di taman?"'
"Biasanya pamanmu berusaha bicara tentang apa?"
"Aku tidak tahu. Dia tidak pernah bisa bicara banyak. Tapi ada lagi yang lebih mem-buat penasaran. Suatu malam—bahkan sebenar-nya, kemarin malam—waktu aku melewati tangga terbawah menuju loteng, saat mau pergi tidur (dan biasanya aku tidak pernah terlalu peduli saat melewatinya), aku yakin aku men-dengar teriakan."
"Mungkin dia menyekap istrinya yang gila di atas sana."
"Atau mungkin dia sebenarnya pembuat uang palsu."
"Atau dia mungkin dulunya bajak laut, seper-ti pria yang ada di bagian awal buku Treasure Island, yang selalu bersembunyi dari teman-teman sekapalnya."
"Seru sekali!" kata Polly. "Aku tidak pernah menyangka rumahmu begitu menarik."
"Kau mungkin berpendapat rumah itu mena-rik," kata Digory. "Tapi kau tidak bakal me-nyukainya kalau harus tidur di sana. Apakah kau masih akan menyukainya kalau harus se-lalu terbaring dalam keadaan terjaga men-dengarkan langkah kaki Paman Andrew yang mengendap-endap sepanjang koridor menuju rumahmu? Matanya juga mengerikan sekali."
Begitulah ceritanya bagaimana Polly dan Digory bisa saling mengenal. Dan karena saat itu masih permulaan liburan musim panas dan tidak satu pun dari mereka yang pergi ke laut tahun itu, mereka bertemu nyaris setiap hari.
berisi berbagai harta, dan cerita yang sedang ditulisnya, lalu biasanya beberapa apel. Dia sering kali diam-diam meminum bir jahe di sana, botol-botol lamanya membuat tempat itu lebih kelihatan seperti gua penyelundup.
Digory lumayan menyukai gua itu (Polly tidak mengizinkannya melihat cerita yang di-tulisnya) tapi anak lelaki itu lebih suka ber-tualang.
"Polly," kata Digory. "Sepanjang apa tero-wongan ini sebenarnya? Maksudku, apakah terowongan ini berakhir di ujung rumahmu?"
terus memanjang. Aku tidak tahu hingga sejauh apa."
"Kalau begitu kita bisa menjelajah sejauh panjangnya deretan rumah ini."
"Sepertinya begitu," kata Polly. "Dan oh, astaga!"
"Apa?"
"Kita bisa masuk ke rumah-rumah lain." "Ya, dan dianggap perampok! Tidak, terima kasih."
"Jangan sok tahu, dengar dulu. Yang ku-maksud itu rumah di sebelah rumahmu."
"Ada apa di rumah itu?"
"Rumah itu kosong. Daddy bilang rumah itu selalu kosong sejak kami pindah kemari."
"Jadi kita coba pergi ke sana sekarang?" tanya Digory.
"Baiklah," jawab Polly.
"Tidak usah kalau kau tidak ingin," kata Digory.
"Aku mau kalau kau juga mau," kata Polly. "Bagaimana caranya kita bisa tahu kita su-dah ada tepat di rumah sebelah rumahku?"
Mereka memutuskan harus keluar dari ruang kotak dan berjalan menyeberanginya dengan berjalan sebanyak langkah yang dibutuhkan untuk berpindah dari satu kasau ke kasau lain. Tindakan ini akan bisa memberikan me-reka perkiraan ada berapa kasau yang harus dilewati untuk melewati satu ruangan. Kemu-dian mereka akan melebihkan kira-kira empat kasau untuk memperkirakan lorong di antara dua loteng di rumah Polly, kemudian jumlah yang sama dengan ruang kotak untuk kamar tidur pelayan perempuan. Perhitungan ini akan membantu mereka mengira-ngira panjang ru-mah. Kalau mereka sudah melalui jarak itu sejauh dua kalinya, mereka akan berada di ujung rumah Digory. Pintu mana pun yang mereka temui setelah itu akan membawa me-reka ke loteng rumah kosong tersebut.
"Memangnya menurutmu bakal ada apa di sana?"
"Menurutku bakal ada seseorang tinggal se-cara diam-diam di sana, hanya keluar-masuk di malam hari, dengan lentera temaram. Kita mungkin akan menemukan geng penjahat yang putus asa dan mendapatkan hadiah untuk pe-nangkapan mereka. Bisa dibilang mustahil buah rumah kosong selama bertahun-tahun se-perti itu tanpa ada misteri di baliknya."
"Menurut Daddy pasti pipa-pipanya yang tidak beres," kata Polly.
"Huh! Orang dewasa selalu memikirkan pen-jelasan-penjelasan yang tidak menarik," kata Digory. Karena mereka sekarang sedang ber-bicara di loteng dengan cahaya matahari siang dan bukannya dengan sinar lilin di Gua Penye-lundup, semakin tidak tampak adanya kemung-kinan rumah kosong itu ada hantunya.
Ketika selesai mengukur loteng, mereka harus mengambil pensil dan melakukan penjumlahan. Awalnya mereka berdua mendapatkan hasil yang berbeda, dan bahkan ketika akhirnya mereka sependapat, aku masih belum yakin perhitungan mereka benar. Mereka begitu ter-buru-buru ingin segera memulai petualangan.
ke-tika mereka memanjat lagi ke belakang tempat penyimpanan air. Karena ini peristiwa penting, mereka masing-masing membawa lilin (Polly punya banyak persediaan lilin di guanya).
Keadaan begitu gelap, berdebu, dan lembap saat mereka melangkah dari kasau ke kasau tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kecuali ketika mereka saling berbisik, "Kita sudah ada di seberang lotengmu sekarang," atau "Kita pasti sudah setengah jalan melewati rumah kami". Keduartya tidak pernah tersandung dan lilin-lilin mereka tidak pernah padam, lalu akhirnya mereka mencapai suatu tempat mereka bisa melihat pintu kecil di dinding batu bata di sebelah kanan mereka. Tidak ada gembok atau kenop di sisi yang bagian sini tentu saja, karena pintu itu dibuat untuk masuk dan bukan keluar, tapi ada semacam pegangan (se-perti yang biasa ditemukan di pintu lemari) yang mereka yakin bakal bisa diputar.
"Aku buka?" tanya Digory.
dalamnya. Rasa ingin tahu Polly menguasainya. Dia meniup lilinnya hingga padam dan masuk ke ruangan asing itu, nyaris tanpa suara.
terindah yang bisa kaubayangkan. Kalau Polly lebih muda usianya daripada saat itu, dia pasti bakal ingin memasukkan salah satunya ke mulut.
Ruangan itu begitu sepi sehingga kau lang-sung bisa mendengar bunyi detakan jam. Na-mun, seperti yang kini Polly sadari, ruangan itu juga tidak benar-benar sepi. Ada suara berdengung yang samar—amat sangat samar. Kalau mesin penyedot debu sudah ditemukan saat itu, Polly pasti akan berpikir itu suara penyedot debu yang sedang digunakan jauh sekali—terpisah darinya beberapa ruangan di beberapa lantai di bawahnya. Tapi dengungan itu lebih menyenangkan daripada suara mesin, lebih bernada: hanya saja begitu samar sehingga kau nyaris tidak bisa mendengarnya.
"Tidak apa-apa—tidak ada orang di sini," kata Polly ke balik bahunya ke Digory. Seka-rang dia bicara sedikit lebih keras daripada bisikan. Lalu Digory keluar, matanya mengejap-ngejap, dan tubuhnya tampak kotor sekali— pasti Polly juga begitu.
"Menurutmu cincin-cincin apa itu?" kata Polly sambil menunjuk cincin-cincin berwarna tadi.
"Aduh, ayolah," ajak Digory. "Semakin cepat kita—"
Dia tidak pernah menyelesaikan kata-katanya karena tepat pada saat itu sesuatu terjadi. Kursi berpunggung tinggi di depan perapian tiba-tiba bergerak dan berdiri dari bangkunya— seperti iblis pantomim keluar dari pintu bawah panggung—sosok mengejutkan Paman Andrew. Ternyata mereka tidak berada di rumah kosong, mereka berada di rumah Digory dan di ruang kerja yang terlarang dimasuki! Kedua anak itu berucap "O-o-oh" dan menyadari kekeliruan besar mereka. Mereka merasa seharusnya sudah tahu mereka belum pergi cukup jauh.
Paman Andrew bertubuh tinggi dan sangat kurus. Wajahnya bersih bercukur dengan hidung bengkok tajam, matanya luar biasa tajam, dan rambutnya beruban lebat juga berantakan.
menutupnya, dan menguncinya. Lalu dia ber-balik, menatap lekat kedua anak itu dengan matanya yang tajam, dan tersenyum, menunjuk-kan seluruh giginya.
"Nah!" katanya. "Sekarang kakakku yang bodoh tidak akan bisa membantumu!"
Tindakan itu sama sekali bukan tindakan yang kita harapkan bakal dilakukan orang dewasa. Jantung Polly rasanya mau melompat keluar, dia dan Digory pun mulai berjalan mundur ke pintu kecil yang mereka lalui tadi. Tapi Paman Andrew terlalu cepat dibanding mereka. Tahu-tahu dia sudah berada di bela-kang mereka, menutup pintu itu juga, lalu berdiri menghalanginya. Kemudian dia meng-gosok-gosokkan kedua tangannya dan membuat buku-buku jemari tangannya berderak. Jemari-nya sangat panjang, putih, dan bagus.
"Aku senang sekali kalian datang," katanya. "Tepat saat aku membutuhkan dua anak."
"Saya mohon, Mr Ketterly," kata Polly. "Saat ini sudah hampir waktunya makan malam dan saya harus segera pulang. Maukah Anda mem-biarkan kami keluar?"
begini, aku sedang melakukan suatu percobaan besar. Aku sudah mengetesnya pada hamster dan tampaknya berhasil. Tapi masalahnya hamster tidak bisa memberitahumu apa-apa. Dan kau tidak bisa menjelaskan cara kembali kepadanya."
"Begini, Paman Andrew," kata Digory, "seka-rang benar-benar saatnya makan malam dan mereka akan segera mencari kami. Kau harus membiarkan kami keluar."
"Harus?" tanya Paman Andrew.
Digory dan Polly bertukar pandang sekilas. Mereka tidak berani mengatakan apa-apa, tapi pandangan itu berarti "Ini mengerikan sekali" dan "Kita harus membujuknya."
"Kalau Anda membiarkan kami keluar untuk makan malam sekarang," kata Polly, "kami bisa kembali lagi ke sini setelahnya."
"Ah, tapi bagaimana aku bisa yakin kalian akan melakukan itu?" tanya Paman Andrew dengan senyum licik. Lalu tampaknya dia beru-bah pikiran.
mengembus-kan napas dan melanjutmengembus-kan. "Kalian sama sekali tidak akan bisa membayangkan betapa terkadang aku sangat kesepian. Tapi tidak ma-salah. Pergilah makan malam. Tapi aku mem-beri kalian hadiah sebelum kalian pergi. Tidak setiap hari aku bisa melihat gadis kecil di ruang kerjaku yang membosankan ini, terutama, kalau aku boleh berterus terang, wanita muda yang sangat cantik sepertimu."
Polly mulai berpikir bahwa mungkin pria ini tidaklah segila bayangannya.
"Apakah kau mau cincin, sayangku?" tanya Paman Andrew ke Polly.
"Apakah maksudmu salah satu cincin kuning atau hijau itu?" tanya Polly. "Kau baik se-kali!"
"Bukan yang hijau," kata Paman Andrew. "Sayangnya aku tidak bisa memberimu cincin yang hijau. Tapi aku akan senang sekali bila bisa memberimu salah satu cincin kuning itu, bersama rasa cintaku. Ayo, cobalah salah satu-nya."
"Wah! Astaga," katanya. "Suara dengungan itu terdengar lebih keras di sini. Hampir seolah cincin-cincin inilah yang mengeluarkannya."
"Khayalanmu indah sekali, Sayang," kata Paman Andrew sambil tertawa. Suara tawanya terdengar seperti tawa yang sangat biasa, tapi Digory sempat melihat ekspresi bersemangat, hampir serakah, di wajahnya.
"Polly! Jangan ceroboh!" Digory berteriak. "Jangan sentuh cincin-cincin itu."
K
EJADIAN itu begitu tiba-tiba dan men-cekam, tidak seperti apa pun yang pernah dialami Digory, bahkan dalam mimpi buruk sekalipun, sehingga dia menjerit. Tangan Paman Andrew langsung membekap mulutnya. "Henti-kan itu!" desisnya di telinga Digory. "Kalau kau terus membuat keributan, ibumu akan mendengarnya. Dan kau tahu sendiri apa yang bisa terjadi bila dia terlalu terkejut."Seperti yang Digory ceritakan nanti, jenis kemarahan mengerikan yang ingin dilampias-kannya ke pria itu hampir membuatnya muak.
Tapi tentu saja dia tidak menjerit lagi.
"Begitu lebih baik," kata Paman Andrew. "Mungkin kau juga tidak bisa mencegahnya. Memang mengejutkan bila kau melihat sese-orang lenyap untuk pertama kalinya. Aku saja
Digory dan Pamannya
BAB 2
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
shock waktu hamsterku menghilang kemarin malam."
"Apakah itu yang terjadi waktu kau menjerit tempo lalu?" tanya Digory.
"Oh, kau mendengar itu, ya? Kuharap kau tidak sedang memata-mataiku?"
"Tidak, tentu tidak," jawab Digory penuh gengsi. "Tapi apa yang terjadi pada Polly?"
"Beri aku selamat, keponakanku tersayang," kata Paman Andrew, menggosok kedua tangan-nya. "Percobaanku telah berhasil. Gadis kecil itu lenyap—menghilang—keluar dari dunia ini."
"Apa yang telah kaulakukan padanya?" "Mengirimnya ke—yah—ke tempat lain." "Apa maksudmu?" tanya Digory.
Paman Andrew duduk dan menjawab, "Baik-lah, aku akan menceritakan semuanya kepada-mu. Kau sudah pernah dengar kisah tentang Mrs Lefay yang tua?"
"Bukankah dia bibi buyutku atau semacam-nya?" tanya Digory.
"Bukan juga," kata Paman Andrew. "Dia ibu angkatku. Itu dia, di sana, di dinding."
juga pernah melihat foto wajah yang sama di laci tua di rumah, di desanya. Dia telah bertanya kepada ibunya siapa wanita itu dan ibunya tampak tidak terlalu berminat mem-bicarakan topik itu lebih lanjut lagi. Wajahnya sama sekali tidak menyenangkan, pikir Digory, tapi tentu saja dengan foto-foto zaman itu kita tidak akan pernah bisa benar-benar tahu.
"Apakah ada—pernah ada—sesuatu yang sa-lah padanya, Paman Andrew?" tanyanya.
"Yah," kata Paman Andrew sambil terkekeh, "tergantung dengan apa yang kausebut sebagai salah. Orang-orang begitu berpikiran sempit. Dia memang sangat unik di masa hidupnya. Melakukan berbagai tindakan tidak bijaksana. Itulah sebabnya mereka membungkamnya."
"Di rumah sakit jiwa, maksudmu?"
"Oh bukan, bukan, bukan," kata Paman Andrew, nada suaranya terkejut. "Bukan di tempat yang seperti itu. Maksudku hanya pen-jara."
"Astaga!" kata Digory. "Apa yang telah dilakukannya?"
"Tapi tunggu dulu, apa hubungannya semua ini dengan Polly? Kenapa kau tidak langsung saja—"
"Semua ada waktunya, anakku," kata Paman Andrew. "Mereka membiarkan Mrs Lefay keluar sebelum dia meninggal dan aku salah satu dari sedikit orang yang dia izinkan me-nemuinya di hari-hari terakhir sakitnya. Dia begitu membenci orang-orang biasa yang tidak pedulian, kau harus tahu itu. Aku sendiri juga begitu. Aku dan dia memiliki ketertarikan pada hal-hal yang sama. Hanya beberapa hari sebe-lum kematiannya, dia menyuruhku menghampiri meja rias tua di rumahnya, membuka laci rahasia, lalu membawakan kepadanya kotak kecil yang kutemukan di dalamnya. Saat aku mengangkat kotak itu aku bisa menduga dari rasa kesemutan di jemari tanganku bahwa aku sedang memegang rahasia besar di tanganku. Dia memberikan kotak itu kepadaku dan me-maksaku berjanji bahwa segera setelah dia meninggal aku akan membakarnya, tetap dalam keadaan tak pernah terbuka dan dengan upa-cara tertentu. Aku tidak menepati janji itu."
"Yah, kalau begitu, kau jahat sekali," ko-mentar Digory.
bertanya-tanya. "Oh, aku mengerti. Maksudmu, anak-anak lelaki harus menepati janji. Itu sa-ngat benar: yang paling tepat dan pantas di-lakukan, aku yakin, dan aku lega kau sudah diajar untuk bersikap begitu. Tapi tentu saja kau harus memahami bahwa peraturan seperti itu, betapa pun bagusnya untuk anak-anak lelaki—pelayan—wanita—bahkan manusia pada umumnya, tidak bisa diharapkan berlaku pada siswa-siswa luar biasa, para pemikir dan ahli pengetahuan hebat. Tidak, Digory. Para pria seperti aku, yang memiliki kebijakan tersem-bunyi, terbebaskan dari peraturan biasa seperti begitu juga kami terlepaskan dari kesenangan-kesenangan biasa. Takdir kami, anakku, adalah takdir yang tinggi dan sepi."
Andrew pikir dia bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa pun yang diinginkan-nya.
"Tentu saja," kata Paman Andrew, "aku tidak berani membuka kotak itu lama sekali, karena aku tahu bisa saja isinya sesuatu yang sangat berbahaya. Karena ibu angkatku wanita yang amat menakjubkan. Sebenarnya, dia satu dari manusia-manusia terakhir yang memiliki darah peri dalam tubuhnya. (Dia bilang ada dua orang lain di masanya. Salah satunya seorang bangsawan bergelar duchess dan satu lagi wanita tukang bersih-bersih.) Bahkan, Digory, saat ini kau sedang berbicara dengan pria terakhir (mungkin) yang benar-benar me-miliki ibu angkat peri. Nah! Itu akan jadi sesuatu yang bakal kauingat ketika kau sendiri sudah menjadi pria tua."
Aku berani bertaruh dia peri yang jahat, pikir Digory, lalu menambahkan dengan keras,
"Tapi bagaimana dengan Polly?"
yakin kotak tersebut bukan buatan Yunani, Mesir kuno, Babilonia, Hittite, ataupun Cina. Usianya lebih tua daripada negara-negara itu. Ah—benar-benar hari yang indah ketika akhir-nya aku mengetahui kebenaranakhir-nya. Kotak itu buatan bangsa Atlantis, datangnya dari ke-pulauan Atlantis yang hilang. Itu berarti kotak itu jauh lebih tua berabad-abad daripada benda-benda Zaman Batu yang digali di Eropa. Dan benda itu juga tidaklah kasar dan mentah seperti barang Zaman Batu. Karena di awal masa, Atlantis sudah menjadi kota hebat de-ngan istana-istana, kuil-kuil, dan orang-orang terpelajar."
Paman Andrew berhenti sesaat seolah men-duga Digory akan mengatakan sesuatu. Tapi anak itu semakin tidak menyukai pamannya sejalan dengan setiap menit yang berlalu, jadi dia tidak mengucapkan apa-apa.
menyempit-kan berbagai kemungkinan. Aku harus menge-nal beberapa—yah, sejumlah orang jahat aneh, dan melalui berbagai pengalaman yang sangat tidak menyenangkan. Semua itulah yang mem-buat rambutku beruban. Seseorang tidaklah begitu saja menjadi penyihir. Kesehatanku sem-pat ambruk. Tapi aku membaik. Dan aku akhirnya tahu."
Meski tidak ada kemungkinan, walau barang sedikit pun, ada orang lain yang mendengarkan pembicaraan mereka, Paman Andrew mencon-dongkan tubuh ke depan dan hampir berbisik ketika berkata:
"Kotak Atlantis itu berisi sesuatu yang telah dibawa dari dunia lain ketika dunia kita baru saja dimulai."
"Apa?" tanya Digory yang kini jadi sangat tertarik, tanpa bisa menahan diri.
bagus dan kering. Tidak banyak yang bisa dilihat. Bahkan bisa dibilang, tidak banyak yang bisa ditunjukkan setelah kerja keras se-umur hidup. Ah, tapi waktu aku melihat debu itu (aku benar-benar berhati-hati untuk tidak menyentuhnya) dan berpikir bahwa setiap butir pernah berada di dunia lain—maksudku bukan planet lain tentunya, planet-planet itu juga bagian dari dunia kita dan kau bisa mencapai-nya kalau kau pergi cukup jauh—tapi Dunia
Lain sungguhan—Alam Lain— jagat raya lain—suatu tempat yang tidak akan pernah kau-capai walaupun kau menjelajahi luar angkasa jagat raya ini
se-lama-lamanya—dunia yang hanya bisa dicapai dengan sihir—nah!" Saat mengatakan itu Paman Andrew menggosok-gosokkan
ke-dua tangannya sampai buku-buku jemarinya berderak seperti
kembang api.
bisa menemukan bentuk tepatnya maka debu itu bisa menarikmu ke tempat asalnya. Tapi kesulitannya justru terletak pada mencari bentuk tepatnya itu. Pengalaman-pengalaman terdahuluku semua adalah kegagalan. Aku men-cobanya pada hamster. Beberapa di antaranya hanya mati. Beberapa yang lain meledak seperti bom-bom kecil—"
"Itu tindakan yang kejam sekali," kata Digory, yang dulu pernah punya kelinci.
"Kenapa kau selalu bisa mengalihkan topik pembicaraan?" kata Paman Andrew. "Itulah gunanya makhluk-makhluk itu. Aku membeli-nya sendiri. Sekarang sebentar—sampai di mana aku tadi? Ah ya. Akhirnya aku berhasil mem-buat cincin-cincin itu: cincin yang warnanya kuning. Tapi sekarang kesulitan baru muncul. Aku cukup yakin saat ini, bahwa cincin yang kuning bisa mengirimkan makhluk mana pun yang menyentuhnya ke Tempat Lain. Tapi apa-lah gunanya itu semua kalau aku tidak bisa mengembalikan mereka untuk bercerita kepada-ku apa yang telah mereka temukan di sana?"
"Dan bagaimana nasib mereka?" tanya Digory. "Kekacauan yang bakal mereka temui kalau mereka tidak bisa kembali!"
dengan sudut pandang yang salah," kata Paman Andrew dengan ekspresi tidak sabar. "Tidak bisakah kau mengerti semua ini pengalaman hebat? Tujuan utama mengirim siapa pun ke Tempat Lain adalah supaya aku bisa tahu bagaimana rasanya."
"Kalau begitu, kenapa kau tidak pergi saja sendiri ke sana?"
terlalu menakutkan bagimu untuk pergi sen-diri."
"Diam kau!" kata Paman Andrew, sambil memukul meja keras-keras. "Aku tidak akan sudi diceramahi seperti itu oleh anak sekolahan kecil yang kotor. Kau tidak mengerti. Aku ilmuwan besar, sang penyihir, si pakar yang sedang melakukan percobaan. Tentu saja aku membutuhkan seseorang untuk menjadi subjek percobaan. Demi jiwaku, jangan-jangan setelah ini kau akan berkata bahwa seharusnya aku meminta izin pada hamster-hamsterku sebelum aku menggunakan mereka! Tidak ada kebijakan besar yang bisa dicapai tanpa pengorbanan. Tapi gagasan seharusnya aku pergi sendiri ada-lah omong kosong. Itu seperti meminta jenderal berperang seperti prajurit biasa. Seandainya aku terbunuh, apa jadinya kerja keras seumur hidupku?"
"Oh, berhentilah membual," kata Digory. "Kau akan membawa Polly kembali, tidak?"
"Tapi Polly tidak membawa cincin yang hijau."
"Tidak," kata Paman Andrew dengan senyum jahat.
"Kalau begitu dia tidak akan bisa kembali," teriak Digory. "Dan itu sama saja dengan kau sudah membunuhnya."
"Dia bisa saja kembali," kata Paman Andrew, "kalau ada orang yang menyusulnya, mengena-kan cincin kuning sambil membawa dua cincin hijau, satu untuk membawa orang itu sendiri pulang dan yang satu lagi untuk membawa Polly pulang."
Dan saat ini tentu saja Digory sudah bisa melihat jebakan yang menjeratnya. Dia meman-dang Paman Andrew, tanpa mengatakan apa-apa, dengan mulut ternganga lebar. Kedua pipi-nya kini pucat sekali.
menyelamatkan—ngng—lady yang dalam ke-susahan."
"Oh, diamlah!" kata Digory. "Kalau kau punya kehormatan dan segala itu, kau sendiri yang akan pergi. Tapi aku tahu kau tidak akan melakukan itu. Baiklah. Aku mengerti aku harus pergi. Tapi ternyata kau memang monster. Kurasa kau sudah merencanakan se-mua ini supaya Polly pergi tanpa sepenge-tahuannya sehingga kemudian aku harus pergi menjemputnya."
"Tentu saja," kata Paman Andrew dengan senyumnya yang menyebalkan.
"Baiklah. Aku akan pergi. Tapi sebelumnya ada satu hal yang harus kukatakan. Aku tidak pernah percaya pada sihir hingga hari ini. Aku lihat sekarang sihir adalah nyata. Yah, dan kalau sihir memang ada, berarti kurasa segala kisah tua tentang peri juga kurang-lebih benar. Dan kau tidak lain adalah penyihir licik yang kejam seperti yang ada di dalam cerita-cerita. Nah, aku tidak pernah membaca cerita di mana orang-orang seperti itu tidak mendapat ganjaran di akhir kisah, dan aku berani ber-taruh itulah yang juga akan kaualami. Kau pantas menerimanya."
kata-katanya yang ini merupakan yang pertama yang mengenai sasaran. Paman Andrew terkejut kemudian muncul awan ketakutan menaungi wajahnya yang, meskipun dia begitu kejam, nyaris bisa membuatmu mengasihaninya. Tapi sedetik kemudian dia mengusirnya pergi dan berkata ditemani tawa yang agak dipaksakan, "Yah, yah, kurasa itu hal biasa yang bakal muncul di benak seorang anak—terutama ka-rena dibesarkan di antara wanita-wanita, seperti dirimu. Kisah-kisah istri tua, hah? Kurasa kau tidak perlu mencemaskan bahaya yang akan mendatangiku, Digory. Bukankah lebih baik kau mengkhawatirkan bahaya yang mengham-piri teman kecilmu itu? Dia sudah pergi cukup lama. Kalau memang ada bahaya Di Sana— yah, akan sangat disayangkan bila kau tiba terlambat."
"Seolah kau peduli saja," kata Digory penuh amarah. "Tapi aku sudah muak mendengar segala bualan ini. Apa yang harus kulaku-kan?"
"Kau benar-benar harus belajar mengendali-kan emosimu, anakku," kata Paman Andrew tenang. "Kalau tidak kau akan tumbuh menjadi seperti Bibi Letty. Sekarang. Kemarilah."
sepa-sang sarung tangan, lalu berjalan menuju baki tempat cincin-cincin itu berada.
kalau aku jadi kau. Kemungkinan jatuhnya akan lebih kecil bila kaulakukan itu."
Digory hampir saja mengambil cincin kuning ketika tiba-tiba dia berhenti.
"Tunggu dulu," katanya. "Bagaimana dengan Ibu? Bagaimana kalau dia menanyakan ke-beradaanku?"
"Semakin cepat kau pergi, semakin cepat kau akan kembali," kata Paman Andrew ceria.
"Tapi kau bahkan tidak benar-benar yakin aku bisa kembali."
Paman Andrew mengangkat bahunya, ber-jalan menyeberangi ruangan menuju pintu, membuka kunci, membukanya lebar-lebar de-ngan entakan, dan berkata:
"Ya ampun," kata Digory, "aku benar-benar berharap aku sudah cukup besar untuk meninju kepalamu!"
P
AMAN ANDREW dan ruang kerjanya langsung menghilang. Kemudian selama se-saat, segalanya menjadi seolah bertumpuk-tum-puk. Hal selanjutnya yang Digory ketahui ada-lah adanya cahaya hijau lembut yang menyi-narinya dari atas dan kegelapan di bawahnya. Dia tidak tampak seperti sedang berdiri atau apa pun, atau duduk, atau berbaring. Seolah tidak ada yang menyentuhnya. "Sepertinya aku ada di dalam air," kata Digory. "Atau di bawah air." Pemikiran ini sempat membuatnya takut, tapi hampir seketika dia bisa merasakan tubuhnya naik dengan cepat. Lalu kepalanya tiba-tiba keluar di udara dan dia mendapati dirinya berenang ke tepian, menuju daratan berumput lembut di pinggir suatu mata air.Saat bangkit dia menyadari dirinya tidak
Hutan di Antara Dunia-Dunia
BAB 3
sinar hijau yang dirasakannya begitu terang dan hangat. Hutan itu hutan tersunyi yang mungkin bisa kaubayangkan. Tidak ada burung-burung, tidak ada serangga, tidak ada hewan-hewan, dan tidak ada angin. Kau nyaris bisa merasakan pepohonan tumbuh. Mata air tempat Digory baru saja keluar ternyata bukan-lah satu-satunya mata air di sana. Ada lusinan mata air lain—satu mata air di setiap meter sejauh matamu bisa memandang. Kau hampir bisa merasakan pepohonan mengisap air dengan akar-akar mereka. Hutan itu sangat hidup. Ketika berusaha melukiskannya nanti Digory selalu berkata, "Tempat itu begitu kaya, sekaya kue plum.'"
terjadi di sana. Seperti yang diceritakannya lama setelah itu, "Tempat itu bukan jenis tempat di mana banyak hal terjadi. Pepohonan terus bertumbuh, itu saja."
Setelah lama memandangi hutan itu, Digory menyadari ada gadis kecil berbaring telentang di kaki pohon beberapa meter dari dirinya. Mata gadis itu nyaris tertutup tapi tidak ter-pejam, seolah dia sedang berada di antara keadaan tidur dan bangun. Jadi Digory me-natapnya lama sekali dan tidak berkata apa-apa. Dan akhirnya gadis itu membuka mata dan memandangi Digory lama sekali, juga tan-pa berkata atan-pa-atan-pa. Lalu gadis itu bicara, dengan suara yang pelan dan lembut seperti orang mengantuk.
"Sepertinya aku pernah bertemu denganmu sebelumnya," katanya.
"Menurutku juga begitu," kata Digory. "Kau sudah lama berada di sini?"
"Oh, aku selalu ada di sini," kata si gadis. "Setidaknya—entahlah—lama sekali."
"Aku juga," ucap Digory.
"Tidak ah," kata si gadis. "Aku baru saja melihatmu keluar dari mata air itu."
Kemudian untuk beberapa saat yang cukup lama keduanya tidak saling bicara lagi.
"Tunggu dulu," kata si gadis tiba-tiba, "kira-kira kita memang pernah bertemu, tidak ya? Aku punya sejenis bayangan—semacam gam-baran di kepalaku—tentang anak laki-laki dan perempuan seperti kita—tinggal di suatu tempat yang agak berbeda—dan melakukan berbagai hal. Mungkin itu hanya mimpi."
"Aku juga punya mimpi yang sama, seperti-nya," kata Digory. "Tentang anak laki-laki dan perempuan, tinggal bersebelahan—dan se-suatu tentang merangkak di antara kerangka rumah. Aku ingat anak perempuan itu mukanya kotor."
"Sepertinya ingatanmu terbalik? Dalam mim-piku justru si anak laki-laki yang wajahnya kotor."
"Aku tidak bisa mengingat wajah anak lelaki itu," kata Digory kemudian menambahkan, "Wah! Apa itu?"
"Wah! Itu kan hamster," kata si gadis kecil. Dan memang benar—di sana ada hamster gen-dut, mengendus-endus rumput. Tapi di sekeliling perut hamster itu ada tali dan, terikat di tali itu, cincin kuning yang bersinar terang.
Dan lihat! Kau juga me-ngenakan cincin seperti itu di jarimu. Aku juga."
Si gadis kecil itu
kini duduk tegak, akhirnya benar-benar tertarik. Mereka menatap satu sama lain lekat-lekat, berusaha mengingat. Kemudian di saat yang tepat bersamaan, si gadis berteriak, "Mr Ketterley," dan si anak lelaki berseru, "Paman Andrew," lalu mereka pun tahu siapa diri mereka dan mulai mengingat keseluruhan cerita. Setelah banyak berbincang-bincang selama be-berapa menit, akhirnya mereka mengingat semuanya. Digory menjelaskan betapa kejamnya tindakan Paman Andrew.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Polly. "Membawa pulang hamster ini dan kembali ke dunia kita?"
"Tidak perlu terburu-buru," kata Digory, sambil menguap lebar sekali.
"Tapi nyaman sekali berada di sini," kata Digory.
"Ya, memang benar," kata Polly. "Tapi kita harus kembali." Dia berdiri dan mulai berjalan menghampiri si hamster dengan hati-hati. Tapi kemudian dia berubah pikiran.
"Sebaiknya kita biarkan saja si hamster di sini," kata Polly. "Dia tampak begitu bahagia di tempat ini, dan pamanmu hanya akan me-lakukan sesuatu yang buruk padanya kalau kita membawanya pulang."
"Aku yakin dia akan melakukan itu," ko-mentar Digory. "Lihat saja caranya memper-lakukan kita. Omong-omong, bagaimana cara kita pulang?"
"Kurasa sih, lewat mata air itu lagi."
Mereka berjalan mendekati mata air dan berdiri berdampingan di tepinya, menunduk menatap permukaan air yang datar. Pada per-mukaan itu terlihat bayangan cabang-cabang pohon yang hijau penuh dedaunan sehingga tampak sangat dalam.
"Kita tidak punya perlengkapan berenang," kata Polly.
airnya sama sekali tidak membasahi kita ketika kita naik ke sini?"
"Kau bisa berenang?" "Sedikit. Kau bagaimana?" "Yah—tidak terlalu bisa."
"Kurasa kita tidak akan perlu berenang," kata Digory. "Kita kan mau pergi ke bawah-nya, ya kan?"
Tidak satu pun di antara mereka menyukai ide melompat ke mata air itu, tapi tidak ada yang mengatakannya. Mereka bergandengan ta-ngan dan berkata "Satu—Dua—Tiga—Lompat" lalu melompat. Mereka merasakan cipratan be-sar dan tentu saja mereka memejamkan mata. Tapi ketika membuka mata lagi, mereka men-dapati diri mereka masih berdiri, bergandengan tangan di hutan hijau, dan nyaris hanya teren-dam air hingga ke mata kaki. Mata air itu ternyata beberapa sentimeter dalamnya. Mereka berjalan kembali ke daratan kering.
"Apa sebenarnya yang salah?" tanya Polly dengan suara ketakutan, tapi tidaklah setakut seperti yang kaubayangkan, karena sangatlah sulit merasa sangat takut saat berada di hutan itu. Tempat itu terlalu damai.
cincin kuning kita. Cincin-cincin ini kan untuk perjalanan pergi. Cincin-cincin yang hijau akan membawa kita pulang. Kita harus mengganti cincin kita. Kau punya saku? Bagus. Simpan cincin kuningmu di saku kiri. Aku punya dua cincin hijau. Ini satu untukmu."
Mereka mengenakan cincin hijau dan kembali ke mata air. Tapi sebelum mereka mencoba melompat lagi, Digory mengeluarkan "O-o-oh!" yang panjang sekali.
"Ada apa?" tanya Polly.
"Aku baru saja mendapat ide bagus," kata Digory. "Untuk apakah mata air-mata air lain-nya?"
"Apa maksudmu?"
"Begini, kalau kita bisa kembali ke dunia kita sendiri dengan melompat ke mata air yang ini, bukankah berarti kita bisa pergi ke tempat lain dengan melompat ke mata air lain? Mungkin saja ada dunia di bawah setiap mata air."
"Tapi bukankah kita sudah berada di Dunia Lain, Tempat Lain, atau apalah namanya itu yang dibicarakan Paman Andrew? Bukankah kau bilang—"
apa-apa tentang itu. Dia tidak pernah punya ke-beranian untuk datang ke sini sendiri. Dia hanya bicara tentang satu Dunia Lain. Tapi siapa tahu ada lusinan?"
"Maksudmu, hutan ini mungkin hanya salah satunya?"
"Tidak, menurutku hutan ini sama sekali bukan dunia lain. Menurutku tempat ini hanya-lah semacam tempat di antaranya."
Polly tampak bingung.
"Tidakkah kau lihat?" tanya Digory. "Tidak, dengar dulu. Pikirkan terowongan kita di ba-wah papan-papan di rumah. Tempat itu kan bukan ruangan di salah satu rumah. Bisa di-bilang, terowongan itu bahkan bukan benar-benar bagian dari rumah-rumah. Tapi sekalinya kau berada di terowongan, kau bisa berjalan di dalamnya dan datang ke rumah mana pun di deretan rumah kita. Mungkin saja hutan ini juga sama, kan?—tempat yang bukanlah salah satu dunia, tapi sekali kau menemukan tempat ini kau bisa masuk ke dunia mana pun."
"Yah, kalaupun kau bisa—" Polly memulai, tapi Digory melanjutkan seolah tidak mende-ngar kata-katanya.
sepi dan kita selalu merasa mengantuk. Tidak pernah ada kejadian apa pun di sini. Seperti di rumah. Di dalam rumah-rumahlah orang-orang berbicara, atau melakukan hal-hal, juga tempat mereka makan. Tidak ada yang terjadi di tempat-tempat perantara: di belakang din-ding, di atas langit-langit, atau di bawah lantai, juga di dalam terowongan kita. Tapi ketika kau keluar dari terowongan, kau akan men-dapati dirimu berada di rumah mana pun. Kurasa kita bisa keluar dari tempat ini dan menuju tempat mana pun! Kita tidak perlu melompat ke dalam mata air yang sama dengan yang kita lewati. Atau belum saatnya."
"Hutan di Antara Dunia-Dunia," kata Polly menerawang. "Kedengarannya bagus juga."
"Ayo," kata Digory. "Kolam mana yang akan kita coba?"
"Tunggu dulu," kata Polly, "Aku tidak akan mencoba mata air baru sebelum memastikan kita memang bisa pulang melalui mata air yang pertama. Kita bahkan tidak yakin itu cara yang benar."
"Tidak bisakah kita sampai di setengah jalan ke bawah mata air kita?" tanya Polly. "Hanya untuk melihat cara ini benar-benar manjur. Lalu begitu kita tahu itu berhasil, kita ganti cincin dan kembali naik sebelum benar-benar sampai di ruang kerja Mr Ketterly."
"Bisakah kita pergi separo jalan ke bawah?" "Yah, cukup lama waktu yang kita perlukan untuk naik, kurasa bakal memakan waktu se-dikit lama untuk kembali."
Digory agak sulit menyetujui rencana ini, tapi akhirnya dia terpaksa setuju karena Polly sama sekali menolak melakukan penjelajahan ke dunia baru apa pun sebelum memastikan dia bisa kembali ke dunia asalnya. Dia kurang-lebih sama beraninya dengan Digory dalam menghadapi beberapa bahaya (tawon, misal-nya), tapi Polly tidaklah tertarik menemukan hal-hal yang belum pernah didengar siapa pun. Sedangkan Digory tipe orang yang ingin menge-tahui segalanya, dan ketika tumbuh dewasa dia menjadi Profesor Kirke yang terkenal yang akan muncul di buku-buku lain.
mana untuk apa"), lalu mereka bergandengan tangan dan melompat. Tapi segera ketika me-reka tampak akan kembali ke ruang kerja Paman Andrew, atau bahkan dunia mereka sendiri, Polly bertugas untuk berteriak, "Ganti" dan mereka akan membuka cincin hijau lalu memakai cincin kuning lagi. Digory ingin jadi yang bertugas berteriak, "Ganti," tapi Polly tidak juga mau setuju.
kelihatan jelas dan nyata, seolah dia kian men-dekati fokus. Tapi sebelum Paman Andrew menjadi benar-benar nyata, Polly berteriak "Ganti", dan mereka langsung mengganti cin-cin, dunia kita pun mengabur seperti mimpi, kemudian cahaya hijau di atas menjadi kian terang dan terang, hingga kepala mereka keluar dari mata air dan mereka berlari ke tepian. Kini hutan mengelilingi mereka lagi hingga ke atas, masih sehijau dan seterang dulu. Seluruh proses itu hanya mengambil waktu kurang dari satu menit.
"Nah!" kata Digory. "Sudah bisa, kan? Seka-rang mari kita bertualang. Mata air yang mana pun boleh. Ayolah. Ayo kita coba yang satu itu."
"Stop!" kata Polly. "Tidakkah sebaiknya kita tandai mata air yang ini dulu?"
ban-ding satu bagi mereka untuk menemukannya lagi.
Tangan Digory gemetaran saat dia membuka pisau lipatnya dan memotong sebongkah pan-jang rumput di tepian mata air. Tanah hutan itu (yang wangi sekali) berwarna cokelat ke-merahan gembur dan tampak kontras di antara hijau rerumputan. "Untung salah satu di antara kita berakal sehat," kata Polly.
"Yah, kau kan tidak perlu menyombongkan diri hanya gara-gara masalah ini," kata Digory. "Ayolah, aku ingin melihat ada apa di balik mata air-mata air yang lain." Polly membalas ucapan Digory dengan cukup pedas, Digory pun mengucapkan sesuatu yang lebih ketus lagi sebagai balasannya. Pertengkaran itu ber-langsung selama beberapa menit, tapi akan membosankan bila ditulis semuanya. Marilah kita langsung menuju saat ketika mereka berdiri dengan jantung berdebar-debar dan wajah agak ketakutan di pinggir mata air tak dikenal de-ngan cincin-cincin kuning mereka. Keduanya bergandengan dan sekali lagi berkata "Satu— Dua—Tiga—Lompat!"
mereka hanya mendapati kaki mereka basah dan mengotori tungkai kaki mereka untuk ke-dua kalinya pagi itu (kalau memang saat itu pagi: waktu tampak selalu sama di Hutan di Antara Dunia-Dunia).
"Sial!" seru Digory. "Apa lagi yang salah sekarang? Kita sudah mengenakan cincin kuning kita kok. Dia bilang kuning untuk perjalanan pergi."
mengerti, sebagian besar penyihir memang begitu. Tentu saja Digory juga tidak terlalu menyadari kenyataan ini, setidaknya tidak hing-ga nanti. Tapi ketika mereka telah membicara-kannya, mereka memutuskan mencoba cincin hijau mereka ke mata air baru hanya untuk melihat apa yang akan terjadi.
"Aku mau kalau kau juga mau," kata Polly. Tapi sebenarnya dia mengatakan ini karena di hatinya yang paling dalam, dia kini merasa yakin kedua cincin itu tidak akan berfungsi di mata air baru, jadi tidak ada yang perlu lebih ditakutinya selain cipratan air lagi. Aku tidak terlalu yakin Digory punya perasaan yang sama. Bagaimanapun, ketika mereka berdua telah me-makai cincin hijau, kembali ke tepian mata air, dan bergandengan, mereka kini jauh lebih ceria dan tidak muram daripada pada kali pertama.
S
IHIR kali ini tidak perlu diragukan lagi. Ke bawah dan terus ke bawah mereka berkelebat pergi, pertama melalui kegelapan kemudian melewati kumpulan sosok samar yang berputar-putar, yang bisa jadi apa saja. Lalu situasi menjadi lebih terang. Kemudian menda-dak mereka berdiri di atas sesuatu yang padat. Sesaat kemudian segalanya jadi lebih fokus dan mereka mampu melihat ke atas mereka."Tempat ini aneh sekali!" kata Digory. "Aku tidak menyukainya," kata Polly, sambil agak merinding.
Yang pertama kali mereka sadari adalah cahaya. Tidak seperti sinar mentari, tapi juga tidak seperti cahaya listrik, lampu, lilin, atau sumber cahaya apa pun yang pernah mereka lihat. Cahayanya samar, agak kemerahan, sama
Bel dan Palu
BAB 4
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
sekali tidak cerah. Cahaya itu terangnya pasti dan tidak meredup. Mereka sedang berdiri di permukaan datar berlapis bebatuan dan gedung-gedung berdiri di sekeliling mereka. Tidak ada atap di atas mereka, mereka berada di semacam halaman. Langit gelap secara tidak wajar— biru yang nyaris hitam. Kalau kau melihat langit itu kau akan bertanya-tanya apakah memang benar ada cahaya di sana.
"Cuaca tempat ini aneh sekali ya," kata Digory. "Atau mungkin kita tiba tepat pada saat akan datang badai petir, atau gerhana."
"Aku tidak menyukainya," kata Polly. Keduanya, tanpa tahu pasti kenapa, berbicara dengan berbisik. Dan walaupun tidak ada alasan kenapa mereka masih terus bergan-dengan setelah melompat, mereka tidak saling melepaskan tangan.
Batu yang digunakan untuk membangun se-gala hal sepertinya merah, tapi mungkin itu hanya karena cahaya misterius yang menerangi tempat tersebut. Yang pasti rasanya aneh sekali. Banyak di antara bebatuan datar yang melapisi permukaan halaman, retak hingga terbelah. Ti-dak satu pun menempel rapat satu sama lain dan sudut-sudut tajamnya telah cacat semua. Salah satu pintu yang diapit area setengahnya tertutupi reruntuhan. Kedua anak itu terus-menerus membalikkan tubuh untuk melihat ke sudut-sudut berbeda di halaman. Salah satu alasannya adalah karena mereka khawatir sese-orang—atau sesuatu—sedang mengawasi mereka dari jendela-jendela ketika mereka menghadap ke depan.
"Menurutmu ada yang tinggal di sini, tidak?" tanya Digory akhirnya, masih dengan berbisik. "Tidak," jawab Polly. "Semua ini hanya reruntuhan. Kita belum mendengar suara apa pun sejak datang ke sini."
"Ayo kita coba berdiri diam sebentar dan menajamkan pendengaran," saran Digory.
"Ayo pulang," kata Polly.
"Tapi kita belum melihat apa pun," kata Digory. "Berhubung kita sudah sampai di sini, setidaknya kita harus melihat-lihat."
"Aku yakin sama sekali tidak ada yang menarik di sini."
"Tidak ada gunanya menemukan cincin ajaib yang bisa membawamu ke dunia lain kalau kau takut menjelajahi dunia-dunia itii begitu sudah sampai di sana."
"Siapa yang bilang aku takut?" kata Polly, melepaskan tangan Digory.
"Aku hanya mengira kau tampak kurang berminat menjelajahi tempat ini."
"Aku akan pergi ke mana pun kau mau pergi."
"Kita bisa pergi dari sini kapan pun kita mau," kata Digory. "Ayo kita lepas cincin hijau kita dan menyimpannya di saku kanan. Yang perlu kita lakukan hanyalah mengingat bahwa cincin kuning kita ada di saku kiri. Kau bisa meletakkan tangan sedekat yang kau-inginkan dengan saku-saku itu, tapi jangan kaumasukkan tanganmu ke saku karena kau bisa saja menyentuhnya dan lenyap."
yang membawa mereka ke dalam salah satu gedung. Lalu ketika berdiri di depan pintu dan bisa melihat ke dalam, mereka melihat bagian dalam gedung itu tidaklah terlalu gelap seperti dugaan awal mereka. Pintu itu mem-perlihatkan ruang depan berbayang-bayang yang tampaknya kosong, tapi di sisi ruang depan yang lebih jauh tampak sederetan pilar dengan lengkungan di bagian atas tiap dua pilar. Di balik lengkungan tersebut mengalir lebih banyak cahaya temaram aneh yang sama. Mereka me-nyeberangi ruang depan tersebut, berjalan de-ngan sangat hati-hati karena khawatir ada lubang-lubang di lantai atau apa pun yang mungkin tergeletak di sana yang bisa membuat mereka tersandung. Perjalanan itu rasanya lama sekali. Ketika mencapai sisi lain ruang itu, mereka melewati pilar-pilar dan mendapati diri mereka berada di halaman lain yang lebih luas.
disangga apa pun. Tampak jelas, kota itu telah diterlantarkan selama ratusan, bahkan mungkin ribuan, tahun.
"Kalau tempat ini bertahan hingga saat ini, kurasa akan bisa bertahan lebih lama lagi," kata Digory. "Tapi kita harus benar-benar ber-gerak tanpa suara. Kau tahu bukan terkadang suara pelan sekalipun bisa membuat segalanya runtuh—seperti salju longsor di Pegunungan Alpen."
batu lebar untuk menadahi airnya, tapi kini mangkuk itu kering bagaikan padang pasir.
sudah lama mati. Dan tidak ada semut, labah-labah, atau makhluk hidup lain yang kaupikir bisa kautemui di antara reruntuhan. Tanah kering yang terdapat di antara batu lantai-batu lantai pun tidak ditumbuhi rumput atau lumut.
Keadaan di tempat itu begitu mati di seluruh sudutnya hingga bahkan Digory pun mulai berpikir sebaiknya mereka segera mengenakan cincin kuning dan kembali ke hutan hidup yang hangat dan hijau di tempat antara. Pada saat itulah mereka menemukan dua daun pintu raksasa yang terbuat dari sejenis logam yang mungkin saja emas. Salah satu daun pintu itu sedikit terbuka. Jadi tentu saja mereka masuk untuk melihat ke dalam. Keduanya terkejut dan menarik napas panjang: karena di sinilah akhirnya ada sesuatu yang pantas dilihat.
suara embusan napas di antara mereka semua. Orang-orang itu seperti patung lilin terhebat yang pernah kaulihat.
Kali ini Polly yang berjalan duluan. Ada sesuatu di ruangan ini yang menarik rasa ingin tahunya dibanding rasa ingin tahu Digory: semua sosok di sana mengenakan pakaian yang menakjubkan. Kalau kau sedikit saja tertarik pada pakaian, kau tidak akan tahan untuk tidak melihat lebih dekat. Berkas-berkas warna pada p a k a i a n - p a k a i a n ini pun membuat ruangan itu tampak, meski tidak bisa dibilang ceria, begitu kaya dan anggun setelah semua debu dan kekosongan di tempat lain. Ruangan itu juga memiliki lebih banyak jendela dan jauh lebih terang.
mereka, mengintip dari segala tempat semuanya terpasang.
"Kenapa semua pakaian itu tidak lapuk sejak zaman dulu?" tanya Polly.
"Sihir," bisik Digory. "Tidakkah kau bisa merasakannya? Aku berani bertaruh seluruh ruangan ini beku karena mantra sihir. Aku bisa merasakannya sejak detik pertama kita masuk."
"Satu saja pakaian ini bisa berharga ratusan
pound" komentar Polly.
"Mereka orang-orang baik, menurutku," ucap Digory.
paling menarik—wanita yang pakaiannya lebih mewah daripada yang lainnya, sangat tinggi (tapi semua sosok dalam ruangan itu memang lebih tinggi daripada orang-orang di dunia kita), dengan ekspresi wajah yang begitu keras dan penuh kebanggaan sehingga kau akan menahan napas bila melihatnya. Namun wanita itu juga cantik. Bertahun-tahun kemudian, saat telah menjadi pria tua, Digory berkata dia belum pernah melihat orang secantik wanita itu selama hidupnya. Tapi wajar juga bila ditambahkan bahwa Polly berkata dia tidak melihat apa pun yang spesial pada wanita itu.
Wanita ini, seperti yang kukatakan tadi, ada-lah sosok terakhir, tapi ada banyak kursi ko-song setelahnya, seolah ruangan itu telah di-maksudkan untuk lebih banyak lagi koleksi sosok.
"Aku ingin sekali tahu cerita di balik semua ini," kata Digory. "Ayo kembali dan melihat meja di tengah ruangan ini."
"Kira-kira apa ya... Hmmm... Apa ya...," kata Digory.
"Sepertinya ada sesuatu yang tertulis di sini," kata Polly, menundukkan badan dan meman-dangi salah satu pilar tersebut.
"Ya ampun, ternyata memang ada," ucap Digory. "Tapi tentu saja kita tidak akan bisa membacanya."
"Benarkah begitu? Aku tidak yakin," kata Polly.
walaupun puisi itu sendiri, ketika kau mem-bacanya di sana, lebih bagus:
Tentukan pilihan, wahai petualang asing, Bunyikan bel, dan hadapi bahaya genting, Atau teruslah penasaran, hingga lenyap kewarasan, Akan apa yang bakal terjadi
bila saja kaulakukan.
"Apa ini?" seru Polly. "Kita kan tidak mau mendapatkan bahaya apa pun."
"Ah, tapi tidakkah kau sadar tidak ada pilihan lain?" tanya Digory. "Tidak mungkin kita bisa menghindar sekarang. Kita bakal se-lalu bertanya-tanya apa yang akan terjadi kalau saja kita membunyikan bel ini. Aku tidak mau pulang lalu penasaran setengah mati karena selalu mengingatnya. Tidak perlu takut!"
"Jangan konyol begitu," kata Polly. "Me-mangnya bakal ada orang yang mati karena penasaran? Siapa yang peduli apa yang bakal terjadi?"
"Yah, kalau aku tidak," kata Polly ketus. "Dan aku tidak percaya kau merasakannya. Kau hanya mengarang."
"Karena memang hanya itu yang kau-ketahui," kata Digory. "Soalnya kau perem-puan. Perempuan tidak pernah mau tahu apa pun kecuali gosip dan meributkan orang-orang yang bertunangan."
"Kau benar-benar mirip pamanmu waktu berkata begitu, tahu," kata Polly.
"Kenapa kau mengubah topik pembicaraan?" kata Digory. "Kita kan sedang membicara-kan—"
"Benar-benar seperti pria dewasa!" kata Polly dengan suara yang begitu dewasa, tapi dia buru-buru menambahkan, dengan suara biasa-nya, "Dan jangan bilang aku juga bersikap seperti wanita, karena dengan begitu kau hanya peniru yang payah."
"Aku bahkan tidak pernah bermimpi rae-manggil anak kecil sepertimu wanita," kata Digory angkuh.
sudah muak padamu—dasar payah, sombong, keras kepala!"
"Jangan lakukan itu!" kata Digory dengan suara yang lebih galak daripada yang dimak-sudkannya, karena dia melihat tangan Polly bergerak ke saku untuk mengambil cincin ku-ningnya. Aku tidak bisa memaklumi apa yang selanjutnya dia lakukan kecuali dengan me-ngatakan Digory sangat menyesalinya di kemu-dian hari (begitu juga begitu banyak orang baik lainnya). Sebelum tangan Polly sampai di sakunya, Digory mencengkeram pergelangan ta-ngan Polly, menahan tubuh Polly deta-ngan pung-gungnya. Lalu, sambil menghalangi lengan Polly yang satu lagi dengan siku lainnya, Digory membungkuk ke depan, meraih palu, dan mem-bunyikan bel emas itu dengan pukulan pelan tapi pasti. Kemudian dia melepaskan Polly dan mereka berdua terjatuh sambil saling menatap dan terengah-engah keras. Polly mulai me-nangis, bukan karena ketakutan, dan bahkan bukan karena Digory telah menyakiti perge-langan tangannya, tapi karena marah luar biasa. Namun dua detik kemudian, ada sesuatu yang menyita pikiran mereka sehingga pertengkaran itu pun terlupakan.
mendengar sesuatu seperti benda-benda berat berjatuhan. Akhirnya, bersamaan dengan gemu-ruh yang mendadak, dan guncangan yang nya-ris membuat mereka terbang di udara, sekitar seperempat langit-langit di salah satu ujung ruangan mulai runtuh, bongkahan-bongkahan batu besar berjatuhan di sekitar mereka, dan dinding-dinding rontok. Suara bel berhenti. Awan debu menipis dan akhirnya menghilang. Segalanya menjadi sunyi kembali.
Tidak pernah diketahui apakah runtuhnya langit-langit itu disebabkan Sihir, ataukah ka-rena suara keras tak tertahankan dari bel itu kebetulan mencapai not yang memecah perta-hanan dinding-dinding rapuh itu.
"Nah! Kuharap kau puas sekarang," bentak Polly.
"Yah, toh sekarang sudah berakhir," kata Digory.
K
EDUA anak itu berdiri berhadapan di seberang pilar tempat bel tadi tergantung. Benda itu masih bergetar walau tidak lagi mengeluarkan suara apa pun. Mendadak me-reka mendengar suara pelan dari ujung ruangan yang masih tidak rusak. Mereka menoleh se-cepat kilat untuk melihat suara apakah itu. Salah satu sosok berjubah—sosok yang duduk paling jauh, wanita yang menurut Digory cantik sekali—berdiri dari kursinya. Ketika dia berdiri, mereka menyadari wanita itu lebih tinggi dari-pada dugaan mereka. Dan kau bakal bisa langsung melihat, bukan hanya dari mahkota dan jubahnya, tapi dari kilatan mata juga lekuk bibirnya, wanita ini ratu agung. Dia melihat ke sekeliling ruangan dan kerusakan yang terjadi di sana, lalu memandang keduaBAB 5
anak itu, tapi kau tidak bakal bisa menebak dari ekspresi wajahnya apa yang sedang dia pikirkan, apakah dia sedang terkejut atau tidak. Dia berjalan ke depan dengan langkah-langkah panjang dan cepat.
"Siapa yang telah membangunkanku? Siapa yang telah mematahkan mantra?"
pan-dangan sekilas, siapa pun bisa langsung tahu kau tidak memiliki setetes pun darah bang-sawan atau kemuliaan di nadimu. Kenapa anak sepertimu berani memasuki rumah ini?"
"Kami datang dari dunia lain, dengan Sihir," kata Polly, yang berpikir sudah saatnya sang ratu menyadari kehadirannya seperti dia menya-dari keberadaan Digory.
"Apakah ini benar?" tanya sang ratu, masih memandangi Digory dan tidak melihat bahkan sekilas pun ke Polly.
"Ya, itu benar," jawab Digory.
Sang ratu meletakkan tangannya yang lain di bawah dagu Digory dan mengangkatnya supaya bisa lebih jelas melihat wajah anak lelaki itu. Digory berusaha balas menatap, tapi tak lama kemudian dia harus menurunkan pandangannya. Ada sesuatu dalam mata sang ratu yang menguasainya. Setelah sang ratu memerhatikan wajah Digory selama lebih dari semenit, dia melepaskan dagu Digory dan ber-kata:
"Kau bukan penyihir. Tiada tanda penyihir pada dirimu. Kau pasti hanya pelayan penyihir. Karena Sihir lainlah kau bisa sampai di sini."
Tepat pada saat itu—bukan di ruangan tem-pat mereka berada, tapi di suatu temtem-pat yang sangat dekat dari sana—terdengarlah suara run-tuh pertama, kemudian suara sesuatu retak, lalu gemuruh bebatuan rubuh, dan lantai pun bergetar.
"Terlalu berbahaya berada di sini," kata sang ratu. "Seluruh tempat ini akan hancur. Kalau kita tidak keluar dari sini sekarang, dalam hitungan menit kita akan terkubur di dalam reruntuhannya." Dia berbicara dengan tenang seolah hanya sedang memberitahu jam berapa sekarang. "Ayo," dia menambahkan kemudian menjulurkan kedua tangannya ke Digory dan Polly. Polly, yang tidak menyukai sang ratu dan merasa agak merajuk, tidak akan membiarkan tangannya diraih kalau saja dia punya pilihan lain. Tapi walaupun sang ratu berbicara dengan nada yang tenang, ge-rakannya secepat pikiran. Sebelum Polly menya-dari apa yang sedang terjadi, tangan kirinya telah ditangkap tangan yang jauh lebih besar dan kuat daripada miliknya sehingga dia tidak bisa melakukan apa-apa.
karena dia mencengkeram tangan kiriku, aku tidak bisa mengambil cincin kuning. Kalau aku berusaha menjulurkan tangan kananku ke saku kiriku, aku mungkin bakal bisa meraihnya sebelum dia menanyakan apa yang sedang ku-lakukan. Apa pun yang terjadi kami tidak boleh membiarkan dia tahu soal cincin-cincin ini. Kuharap Digory masih berakal sehat dan mampu menutup mulut. Kalau saja aku bisa berbicara hanya berdua dengannya.
Sang ratu membimbing mereka keluar dari Aula Sosok menuju koridor panjang kemudian melalui labirin aula-aula lain, tangga-tangga, dan lapangan. Lagi-lagi mereka mendengar suatu bagian istana besar itu runtuh, terkadang cukup dekat dengan mereka. Pernah sekali, area besar roboh bersamaan bunyi keras hanya beberapa saat setelah mereka berjalan melalui-nya. Sang ratu berjalan cepat—kedua anak itu harus berlari kecil supaya bisa menyamai lang-kahnya—tapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan. Digory berpikir, dia berani sekali. Juga kuat. Ini dia yang namanya ratu! Mudah-mudahan dia mau menceritakan kisah rempat ini.
"Itu pintu menuju penjara bawah tanah," dia akan berkata, atau "Jalan itu menuju ruang-ruang utama penyiksaan", atau "Di sini dulu aula jamuan pesta tempat kakek buyutku menjamu tujuh ratus bangsawan untuk berpesta pora kemudian membunuh mereka semua se-belum mereka menghabiskan minuman mereka. Mereka memiliki pikiran-pikiran memberontak." Akhirnya mereka sampai ke suatu aula yang lebih besar dan lengang daripada yang pernah mereka lihat sebelumnya. Dari ukuran dan bentuk pintu-pintu besar di ujung jauhnya, Digory berpikir akhirnya mereka telah sampai di pintu masuk utama. Dalam kasus ini dia benar. Pintu-pintu itu berwarna hitam kelam, mungkin terbuat dari kayu ebony atau semacam logam hitam yang tidak ditemukan di dunia kita. Pintu-pintu tersebut dipasung dengan palang-palang besar, yang sebagian besarnya terlalu tinggi untuk diraih dan terlalu berat untuk diangkat. Digory bertanya-tanya bagai-mana caranya mereka akan keluar.
dan bergerak seolah melemparkan sesuatu ke pintu-pintu itu. Lalu kedua daun pintu yang tinggi dan berat itu bergetar beberapa detik seolah keduanya terbuat dari sutra, kemudian luluh lantak hingga tidak tersisa apa pun ke-cuali tumpukan debu di ambang pintu.
"Fiuh!" siul Digory.
aku akan tahu sendiri nanti. Sementara itu, ingatlah apa yang telah kaulihat. Inilah yang terjadi pada benda-benda, juga orang-orang, yang menghalangi kehendakku."
Cahaya yang jauh lebih terang daripada yang telah kedua anak itu lihat di negeri ini kini meruah melalui lubang pintu yang terbuka lebar, lalu ketika sang ratu membimbing mereka melewatinya mereka tidak terkejut ketika men-dapati diri mereka berada di udara terbuka. Angin yang menerpa wajah mereka terasa di-ngin, tapi entah kenapa lembap dan tidak segar. Mereka kini berada di teras tinggi, di bawah mereka terbentang daratan luas.
Dan semua kuil, menara, istana, piramid, juga jembatan menciptakan bayangan-bayangan pan-jang yang tampak mengancam di bawah sinar matahari yang melemah itu. Sebuah sungai besar pernah mengalir menembus kota tersebut, tapi airnya telah lama mengering, dan kini yang tersisa tinggal selokan lebar abu-abu ber-debu.
"Pandanglah baik-baik pemandangan yang tidak akan pernah dilihat mata mana pun lagi," kata sang ratu. "Begitulah Charn, kota menakjubkan, kota Raja di antara para Raja, keajaiban dunia, mungkin keajaiban semua du-nia. Apakah pamanmu memerintah kota se-hebat ini, Nak?"
"Tidak," kata Digory. Dia baru berniat men-jelaskan Paman Andrew tidaklah memerintah kota apa pun, tapi sang ratu sudah melanjutkan:
Charn berwarna merah." Dia berhenti sejenak lalu menambahkan, "Dalam satu detik, semua itu telah dihapus oleh seorang wanita untuk selama-lamanya."
"Siapa?" tanya Digory dengan suara pelan, tapi dia telah menebak jawabannya.
"Aku," jawab sang ratu. "Aku, Jadis si ratu terakhir, juga ratu seluruh dunia."
Kedua anak itu berdiri dalam diam, tubuh mereka gemetar dalam angin dingin.
"Apa itu?" tanya Digory.
"Rahasia di antara semua rahasia," kata Ratu Jadis. "Telah lama menjadi pengetahuan semua raja besar ras kami bahwa ada kata yang, kalau diucapkan dengan upacara layak, bisa menghancurkan seluruh makhluk hidup kecuali orang yang mengucapkannya. Tapi para raja zaman dahulu lemah dan berhati lembek. Mereka mengikat diri mereka sendiri dan semua orang yang mendatangi mereka, dengan sumpah besar untuk tidak akan pernah bahkan ber-usaha mencari pengetahuan tentang kata itu. Tapi aku telah mempelajarinya di tempat ra-hasia dan membayar harga mahal untuk mem-pelajarinya. Aku tidak menggunakannya hing-ga saudaraiku memaksaku. Aku bertempur un-tuk mengatasinya dengan berbagai cara lain. Aku menumpahkan darah pasukanku seperti air—"
"Monster!" gumam Polly.
setengah jalan menaiki tangga-tangga besar yang menghubungkan kota dengan teras ini. Kemudian aku menunggu hingga kami begitu dekat supaya kami bisa menatap wajah satu sama lain. Dia membinarkan mata kejamnya yang mengerikan saat memandangku dan ber-kata, 'Kemenangan.' 'Ya,' aku berber-kata, 'Keme-nangan, tapi bukan kemenanganmu.' Kemudian aku mengucapkan Kata Kemalangan. Sedetik kemudian aku adalah makhluk hidup terakhir di bawah matahari."
"Tapi bagaimana dengan orang-orang lain?" Digory terperangah.
"Orang-orang lain apa, Nak?" tanya sang ratu.
"Semua rakyat biasa," kata Polly, "orang-orang yang tidak pernah melukaimu. Dan se-mua wanita, anak-anak, juga hewan-hewan."
"Tidakkah kau mengerti?" tanya sang ratu (masih berbicara pada Digory). "Aku adalah ratu. Mereka semua rakyatku. Untuk apa lagi mereka ada kalau bukan untuk melaksanakan kemauanku?"
"Tetap saja malang benar nasib mereka," kata Digory.
Negeri? Kau harus belajar, Nak, bahwa apa yang mungkin salah bagimu dan rakyat biasa lainnya tidaklah salah bagi ratu besar seperti diriku. Beban dunia berada di bahu kami. Kami harus dibebaskan dari segala peraturan. Jalan nasib kami tinggi dan sepi."
Digory mendadak teringat Paman Andrew pernah menggunakan kata-kata yang persis sama. Tapi kata-kata itu terdengar lebih anggun ketika Ratu Jadis yang mengucapkannya, mung-kin karena Paman Andrew tidaklah setinggi 210 sentimeter dan cantik memesona.
"Kemudian apa yang kaulakukan setelah-nya?" kata Digory.
"Aku telah memasang mantra-mantra kuat di aula tempat patung-patung leluhurku duduk. Dan kekuatan mantra-mantra itu akan mem-buatku tertidur bersama mereka, juga seperti patung dan tidak membutuhkan makanan mau-pun api, walaumau-pun untuk ribuan tahun lama-nya, sampai seseorang datang, memukul bel, dan membangunkanku."
"Apakah Kata Kemalangan yang menjadikan matahari begitu?" tanya Digory.
"Seperti apa?" kata Jadis.