• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tidak Baik Kurang Baik Baik Sangat Baik

B. Pembahasan

Pada analisis deskriptif yang berakaitan dengan karakteristik responden yang menunjukkan bahwa ditinjau dari segi pekerjaan mayoritas pengunjung adalah karyawaan peusahaan dengan persentase terbesar yaitu 39%.

Sedangkan berdasarkan usia konsumen mayoritas dengan rentang usia 26 tahun-hingga 35 tahun. Sementara ditinjau dari segi jenis kelamin pengunjung wanita lebih banyak dibanding dengan pengunjung pria. Sedangkan jika ditinjau dari segi frekuensi kedatangan rata-rata konsumen selama seminggu maka responden berkunjung ke PT Fast Food Indonesia rata-rata kurang dari 5 kali seminggu.

Lebih jauh lagi pada analisis deskriptif mengenai distrbusi jawaban responden memberi gambaran bahwa persepsi konsumen terhadap brand image Hot Chicken Crispy berada pada kategori tinggi dengan persentase tertinggi di antara kategori lainnya yaitu 53, 3%.

Meskipun berdasarkan hasil analisis deskriptif persepsi konsumen terhadap brand image Hot Chicken Crispy sudah baik di mata konsumen. Namun berdasarkan analisis perindikator menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa pernyataan yang berada pada kategori rendah.

Adapun rincian mengenai tiap-tiap butir pernyataan yang membangun indikator persepsi konsumen terhadap brand image adalah sebagai berikut:

Adapun butir pernyataan yang berada pada kategori tidak baik yaitu butir mengenai pelayanan yang diberikan PT Fast Food Indonesia membuat konsumen

merasa nyaman, berdasarkan hasil wawancara lepas mengenai alasan yang diberikan konsumen dapat dinyatakan bahwa yang membuat konsumen merasa kurang nyaman yakni proses antrian dalam memesan menu pada PT Fast Food Indonesia yang harus dilakukan sambil berdiri. Dengan rendahnya pernyataan tersebut akan berimbas pada pernyataan konsumen yaitu kurang setuju terhadap pernyataan yang berbunyi ” Saya lebih memilih ke PT Fast Food Indonesia dibanding ke tempat lain dan PT Fast Food Indonesia adalah tempat makan pavorit saya”.

Sedangkan butir-butir pernyataan yang berada pada kategori baik atau tinggi yaitu, tulisan “KFC” pada logo membuat konsumen lebih mudah menyebutnya. Dan indikator yang berada pada kategori sangat tinggi yaitu, kemasan Hot Chicken Crispy menarik perhatian konsumen, Penyajian produk pada KFC dinilai luar biasa, hal ini terbukti dengan tanggapan konsumen yang mayoritas sangat tidak setuju dengan penyataan yang berbunyi “penyajian produk pada KFC biasa-biasa saja”.

Indikator selanjutnya yang berada pada kategori sangat baik yaitu, semua produk yang ditawarkan oleh PT Fast Food Indonesia dikemas dengan menarik, ukuran produk yang konsisten, logo PT Fast Food Indonesia adalah salah satu logo yang paling terkenal di dunia, logo pada PT Fast Food Indonesia fokus pada kejelasan, keramahan dan kederhanaan, konsumen mengetahui dengan pasti setiap perubahan logo PT Fast Food Indonesia, perpaduan warna merah putih membuat logo PT Fast Food Indonesia semakin hidup, simbol pria tua pada logo sangat mengesankan, merek yang ditawarkan gampang diingat, Merek yang ditawarkan

mudah dikenali, tidak terdapat makanan cepat saji yang memiliki merek yang sama dengan HCC krispi, merek Hot Chicken Crispy telah dipatenkan, merek Hot Chicken Crispy mudah ditiru oleh pihak pesaing, PT Fast Food Indonesia memeliki reputasi yang baik, kehigenisan Hot Chicken Crispy sangat terjamin dan Hot Chicken Crispymemiliki cita rasa yang lezat.

Dalam hal kemasan indikator pertanyaan dijawab dengan seragam dari beberapa informan, dimana makanan cepat saji sangat mengutamakan kepraktisan dan keefesiensian dalam hal penyajian. Kemasan menjadi peringkat tertinggi dalam hal kelebihan makanan cepat saji. Konsumen makanan cepat saji di PT Fast Food Indonesia mengangap bahwa kemasan sangat mempengaruhi mereka karena berhubungan dengan kepraktisan dan kebersihannya. Kondisi restoran yang elit menjadikan konsumennya merasa nyaman dan berpotensi menjadi seseorang masyarakat modern. Berhubungan pula dengan kondisi restoran yang sangat memungkinkan terciptanya suasana nyaman bagi pengunjung. Selain nyaman, PT Fast Food Indonesia memiliki reputasi yang baik. Restoran modern membuat memunculkan pengaruh bersikap jiwa modern bagi konsumennya.

Disamping itu, logo PT Fast Food Indonesia adalah salah satu logo terkenal sehingga akan memeberi nilai kebanggan tersendiri bagi konsumen.

Dari penjelasan di atas, menunjukkan bahwa secara keseluruhan indikator-indikator yang membangun variabel persepsi konsumen berada pada kategori baik atau telah berada pada kategori tinggi.

BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan

1. Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, maka kesimpulan dalam penelitian ini yaitu konsumen memiliki persepsi yang baik terhadap brand image Hot Chicken Crispy dengan persentase sebesar 53,3% atau terdapat 16 responden dari total 30 sampel yang berpendapat bahwa brand image Hot Chicken Crispyberada pada kategori baik.

2. Indikator-indikator yang membangun variabel persepsi konsumen berada pada kategori baik meskipun beberapa butir pernyataan yang masih perlu diperbaiki namun secara keseluruhan berdasarkan tabel 5.2 konsumen memiliki persepsi yang baik.

3. Butir-butir penyataan yang membangun indikator mayoritas berada pada kategori baik.

B. Saran.

Adapun saran dalam penelitian ini yaitu:

1. Diharapkan bagi pihak terkait untuk senantiasa memberi pelayanan yang maksimal kepada konsumen.

2. Diharapkan bagi penelitian selanjutnya untuk lebih memperluas wilayah penelitian yang berkaitan dengan variabel yang telah diteliti.

48

Alamsyah, Yuyun. (2009) Bisnis Fast Food ala Indonesia, cetakan pertama, Elex Jakarta: media Komputindo.

Davis dkk. (2000). Perilaku Dalam Oranisasi. Jakarta: Erlangga.

Dewi Fadila & Ridho, Sari Lestari Zainal. (2013). Prilaku Konsumen . Palembang: Ctrabooks Indonesia.

Kertajaya, H. (2005). Elemen Marketing. Bandung: Mizan.

Kotler, P. (2002). Manajemen Pemasaran. Jakarta: Prehallindo.

Kotler, P. (2009). Manajemen Pemasaran. Jakarta : Erlangga.

Mowen, J. (2002). Prilaku Konsumen. Jakarta: Erlangga.

Philip Kotler & Gary Armstrong. (2001). Prinsip-Prinsp Pemasaran, Jilid 1,Edisi Kedelapan.Jakarta: Erlangga.

Sejarah singkat KFC. (2012, Januari rabu). Dipetik Pebruari Selasa, 2017, dari

Blog Republik Ayam Goreng:

http://kimprasetyo.blogspot.co.id/2012/01/sejarah-singkat-kfc.html

Setiadi, N. (2010). Perilaku Konsumen: Perspektif Kontenporer Pada Motif, Tujuan, dan Keinginan Konsumen.Jakarta: Kencana Prenada Media.

Setiawan. (2007). Analisis Pengaruh Kegiatan Pemasaran Terhadap Ekuitas Merak Pada Customer. Usahawan , 1-3.

Simamora, H. (2000). Akuntansi Basis Pengambilan Keputusan Bisnis. Jakarta : Salemba.

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Suryani, T. (2003). Prilaku Konsumen. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sutisna (2001) Perilaku Konsumen, cetakan pertama, Bandung: PT. Rosda.

Sutrisno Dkk. (2006). Kajian Usaha Mikro Indonesia. Pengkajian Koperasi dan UKM.

Tjiptono, F. (2005). Pemasaran Jasa. Malang: Bayumedia Publishing.

Walgito, B. (2010). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi.

Dokumen terkait