MUHAMMAD PADLI 1057204497 13
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
MAKASSAR 2017
i
MUHAMMAD PADLI 1057204497 13
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi pada jurusan manajemen Fakulatas Ekonmi dan Bisnis
Universitas Muhammadiyah Makassr
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
MAKASSAR 2017
ii Makassar
Nama :Muhammad Fadli
Nim :1057204497 13
Jurusan :Manajemen
Fakultas :Ekonomi dan Bisnis
Perguruan Tinggi :Universitas Muhammadiyah Makassar
Disetujui Oleh:
Pembimbing I
Dra, Hj, Lilly Ibrahim, M.Si
Pembimbing II
Sri Andayaningsih, SE.,MM Mengetahui
Dekan fakultas Ekonomi dan BisnisUniversitas Muhammadiyah Makassar
Ismail Rasulong, SE., MM NBM:903078
Ketua Jursan Manajemen
Moh.Aris Pasigai, SE., MM NBM:1093485
iii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 3
C. Tujuan Penelitian ... 3
D. Manfaat Penelitian ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4
A. Persepsi Konsumen ... 4
B. Brand Image ... 14
C. Kerangka Pikir ... 22
D. Hipotesis Penelitian ... 23
E. Penelitian Terdahulu ... 24
BAB III METODE PENELITIAN ... 25
A. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 25
B. Jenis dan sumber Data ... 25
iv
F. Defenisi Operasional Variabel ... 28
BAB IV GAMBARAN UMUMPERUSAHAAN ... 29
A. Sejarah Singkat PT Fast Food Indonesia ... 29
B. Visi, Misi dan struktur Organisasi PT Fast Food Indonesia.. 31
C. Daftar Menu yang Ditawarkan Pada PT Fast Food Indonesia.. 33
BAB V PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 35
A. Hasil Penelitian ... 35
B. Pembahasan ... 44
BAB VI PENUTUP ... 47
A. Kesimpulan ... 47
B. Saran ... 47
DAFTAR PUSTAKA ... 48 LAMPIRAN
v
4.1 Daftar Menu Pada PT Fast Food Indonesia... 33
5.1 Deskripsi Responden Berdasarkan pekerjaan ... 35
5.2 Deskripsi Responden Berdasarkan Usinya ... 37
5.3 Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelaminnya ... 38
5.4 Deskripsi Responden Berdasarkan Frekuensi Kedatangannya .... 39
5.5 Hasil Deskripsi Persepsi Konsumen ... 41
5.6 Distribusi jawaban Responden ... 42
vi
4.1 Struktur Organisasi PT Fast Food Indonesia... 32
5.1 Persentase Responden Beradasrkan pekerjaannya... 36
5.2 Persentase Responden Beradasrkan Usianya ... 37
5.3 Persentase Responden Beradasrkan Jenis Kelaminnya ... 38
5.4 Persentase Responden Beradasrkan Ferekuensi Kedatangannya.. 40
5.5 Diagram Hasil Analisis Per Indikator ... 43
vii
Dibimbing oleh Lilly Ibrahim dan Sri Andayaningsih.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi konsumen terhadap Brand Image Hot Chicken CrispyDi PT Fast Food Indonesia Kota Makassar.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan survey. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui persepsi konsumen terhadap Brand Image Hot Chicken Crispy Di PT Fast Food Indonesia Kota Makassar. Penelitian dilaksanakan di KFC Jalan Doktor Sam ratulangi Makassar dengan sampel sebanyak 30 responden. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan skala model likert. Data yang diperoleh diolah dengan analisis statistik deskriptif. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 20.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen memiliki persepsi yang baik terhadap brand image Hot Chicken Crispy dengan persentase sebesar 53,3% atau terdapat 16 responden dari total 30 sampel yang berpendapat bahwa brand image Hot Chicken Crispyberada pada kategori baik
Kata Kunci: Persepsi Dan Brand Image
viii
This study aims to determine consumer perceptions of Brand Image Hot Chicken Crispy In PT Fast Food Indonesia Makassar City.
This research is a quantitative research using survey approach. The purpose of this research is to know consumer perception on Brand Image Hot Chicken Crispy At PT Fast Food Indonesia Makassar City. The research was conducted at KFC Jalan Doktor Sam ratulangi Makassar with 30 respondents.
Methods of data collection using questionnaires with Likert model scale. The data obtained were processed by descriptive statistical analysis. Data processing is done by using SPSS version 20.
The results showed that consumers have a good perception of Hot Chicken Crispy brand image with a percentage of 53.3% or there are 16 respondents from a total of 30 samples who think that the brand image Hot Chicken Crispy is in the good category
Keywords: Perception and Brand Image
ix
melimpahkan segala rahmat, nikmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan peyusunan skripsi yang berjudul “Analisis Persepsi Konsumen Tehadap Brand Image Hcc Krispi Di PT Fast Food Indonesia Kota Makassar”
dengan baik. Shalawat dan Salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad Saw sebagai Uswatun Hasanah.
Adapun penyusunan skripsi ini penulis menyusun dengan maksud dan tujuan untuk memenuhi tugas akhir dan melengkapi salah satu syarat kelulusan pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Manajemen, Program Studi Manajemen, Univeristas Muhammadiyah Makassar
Dalam usaha menyelesaikan skripsi ini, penulis menyadari sepenuhnya akan keterbatasan waktu, pengetahuan, dan biaya sehinga tanpa bantuan dan bimbingan dari semua pihak tidaklah mungkin berhasil dengan baik. Untuk itu terimakasih yang sebesar-besarnya penulis persembahkan untuk kedua orang tua tercinta yang telah banyak berkorban untuk penulis dan atas segala curahan kasih sayang, dukungan baik moril maupun materil yang diberikan kepada penulis.
Ucapan terimaksih juga penulis sampaikan kepada saudara-saudara tercinta yang telah memotivasi penulis
Pada kesempatan ini juga tidaklah berlebihan apabila penulis menghaturkan banyak terimakasih kepada yang terhoramat :
x
Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Bapak Moh. Aris Pasigai, SE.,MM selaku ketua jurusan Manajemen Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Ibu Dra, Hj, Lilly Ibrahim, M.Si dan Ibu Sri Andayaningsih,SE.,MM selaku pembimbing I dan pembimbing II yang telah banyakmeluangkan waktunya dalam memberikan arahan dan bimbingan selama proses penyelesaian penulisan ini.
5. Bapak/Ibu dosen Universitas Muhammadiyah Makassar telah banyak memberi ilmu kepada penulis.
6. Teman-teman seperjuangan yang tidak sempat penulis sebut satu persatu atas segala waktu dan kebersamaannya baik dalam suka dan duka selama perkuliahan.
7. Staf Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberi pelayanan yang baik kepada penulis.
8. Kepada Pimpinan KFC Doktor Samratulangi Makassar yang telah memberi ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian.
Mengingat keterbatasan kemampuan yang penulis miliki, maka penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi in masih jauh dari kesempurnaan, walaupun demikian penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pihak-piihak yang membutuhkannya.
xi
Makassar, Mei 2017
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan jaman dan teknologi diikuti dengan berkembangnya kebutuhan konsumen yang semakin beragam. Salah satunya kebutuhan konsumen akan makanan cepat saji. Hal ini dikarenakan makanan cepat saji dapat disajikan secara instan sehingga menghemat waktu serta memiliki rasa yang enak dan gurih, padahal makanan cepat saji merupakan makanan yang tinggi kalori, tinggi lemak,tinggi garam, tinggi kolesterol, dan rendah serat sehingga tidak baik untuk kesehatan yang dapat mengakibatkan kolesterol, darah tinggi, diabetes, bahkan obesitas.
Survei yang dilakukan oleh Nielsen dalam Adawiyah mengemukakan bahwa 69%
masyarakat kota di Indonesia mengkonsumsi Fast Food yaitu:
1. 33% menyatakan makan siang sebagai waktu yang tepat untuk makan di restoran Fast Food.
2. 25% untuk makan malam.
3. 9% menyatakan sebagai makanan selingan.
4. 2% memilih sebagai makan pagi
Hal tersebut diperkirakan akan semakin berkembang sesuai dengan meningkatnya tingkat konsumsi makanan fastfood di Indonesia. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Health Education Authority pada tahun 2002 yaitu usia 15 –
34 tahun merupakan usia dimana memiliki angka tertinggi untuk mengkonsumsi atau memilih menu Fast Food.
Menurut teori yang dikemukakan oleh(Setiadi, 2010), kecenderungan penduduk kota-kota di Indonesia adalah makanan cepat saji masih dinilai memiliki nilai sosial atau gengsi tersendiri, yang mampu mengangkat status sosial dirinya sehingga membawa kesan bagi sebagian orang bahwa citra restoran cepat saji mewah atau bergengsi. Bagi konsumen yang datang dan makan di restoran semacam ini akan terpengaruh dan tidak jarang akan datang kembali untuk melakukan pembelian kembali (repeat buying).
Tingginya persaingan di industri ini membuat perusahaan berlomba-lomba untuk meningkatkan loyalitas konsumen agar tidak berpindah ke produk lainnya.
Banyaknya pemain dalam pasar dengan segala macam keunggulan produk yang ditawarkan membuat perusahaan semakin sulit merebut pasar pesaing. Persaingan yang ketat secara tidak langsung akan mempengaruhi suatu perusahaan dalam mempertahankan pangsa pasar, perusahaan harus bekerja keras dalam mempertahankan loyalitas konsumennya. Karena hal itulah, upaya menjaga loyalitas konsumen merupakan hal penting yang harus selalu dilakukan oleh perusahaan. Mempertahankan semua pelanggan yang ada pada umumnya akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan pergantian pelanggan karena biaya untuk menarik pelanggan baru bisa lima kali lipat dari biaya mempertahankan seorang pelanggan yang sudah ada (Kotler, 2009:139).
Sehubungan hal di atas, penulis tertarik untuk meneliti mengenai “ANALISIS PERSEPSI KONSUMEN TERHADAP BRAND IMAGE HOT CHICKEN CRISPYDI PT FAST FOOD INDONESIA KOTA MAKASSAR”.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu, bagaimana persepsi konsumen terhadap Brand Image Hot Chicken Crispy Di PT Fast Food Indonesia Kota Makassar?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui persepsi konsumen terhadap Brand Image Hot Chicken Crispy Di PT Fast FoodIndonesia Kota Makassar.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan kepada PT. Fastfood Indonesia, Tbk. sebagai pengelola Hot Chicken Crispy Indonesia, yaitu untuk mengetahui persepsi merek (brand image) Hot Chicken Crispy dimata konsumen.
Selain itu, jika penelitian ini terbukti, maka hal ini bisa menjadi saran bagi perusahaan untuk mengembangkan produk maupun jasa dalam meningkatkan citra merek (brand image).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Persepsi Konsumen
1. Pengertian Persepsi
Persepsi adalah suatu proses memilih, mengatur dan menginterpretasikan informasi mengenai suatu produk barang atau jasa oleh konsumen. Persepsi tidak hanya terjadi dalam bentuk rangsangan fisik tapi juga dipengaruhi oleh kondisi pemasaran yang ada. Hal ini selaras dengan yang disampaikan beberapa ahli.
Secara etimologi persepsi berasal dari bahasa latin perceptio yang berarti menerima atau mengambil. Persepsi adalah suatu proses dengan mana berbagai stimuli dipilih, diorganisir, dan diinterpretasi menjadi informasi yang bermakna.
(Mowen, 2002)
Menurut Schiffman dan Kanuk dalam (Setiadi, 2010) menjelaskan bahwa Kurang lebihnya bahwa persepsi merupakan suatu proses yang membuat seseorang untuk memilih, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan rangsangan-rangsangan yang diterima menjadi suatu gambaran yang berarti dan lengkap tentang dunianya, persepsi seseorang terhadap suatu produk dapat berbeda- beda, hal ini disebabkan oleh adanya proses perceptual (berhubungan dengan ransangan sensorik) yaitu atensi selektif, distorsi selektif dan retensi selektif.
Menurut Kotler menyatakan persepsi adalah proses yang digunakan oleh individu untuk memilih, mengorganisasi, dan menginterpretasi masukan informasi guna menciptakan gambaran yang memiliki arti. (Kotler dan Amstrong,2012:62I
Lebih jauh Kotler dan Philip persepsi tidak hanya tergantung pada rangsangan dalam bentuk fisik, tetapi juga tergantung pada rangsangan yang ada disekitarnya dan kondisi yang ada pada seseorang dan persepsi lebih penting dibandingkan realitas dalam pemasaran, karena persepsi yang dapat mempengaruhi konsumen dalam berperilaku, selain itu orang bisa mempunyai persepsi yang berbeda atas objek yang sama.
Persepsi dapat bernilai negatif dan positif. Jika konsumen memiliki kesan positif terhadap produk yang ditawarkan perusahaan maka hal tersebut akan menghasilkan persepsi positif, begitu juga sebaliknya. Persepsi dalam diri seseorang sangat dipengaruhi oleh pikiran dan lingkungan sekitarnya. Selain itu, persepsi secara subtansial dapat sangat berbeda dengan kenyataan atau realitas sebenarnya.
Hal tersebut hampir senada dengan pendapat Mowen menyebutkan tahap pemaparan, perhatian dan pemahaman sebagai persepsi dan persepsi ini bersama dengan memori akan mempengaruhi pengolahan informasi. Persepsi setiap orang terhadap suatu obyek akan berbeda-beda. Oleh karena itu persepsi memiliki sifat yang subyektif. Persepsi yang dibentuk seseorang terhadap sesuatu sangat dipengaruhi oleh pikiran dan lingkungannya (Mowen, 2002).
Setiap konsumen memiliki kesan tertentu terhadap suatu merek.Kesan dapat timbul setelah melihat, mendengar, dan membaca suatu merek atau produk
baik melaui TV, radio maupun media cetak. Brand image adalah persepsi terhadap suatu objek yang digambarkan melalui asosiasi merek yang ada dalam ingatan konsumen. Citra merek mempresentasikan keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan pengalaman masa lalu terhadap merek itu.
Citra terhadap merek berhubungan dengan sikap yang berupa keyakinan dan preferensi terhadap suatu merek. Konsumen dengan citra yang positif lebih memungkinkan untuk melakukan pembelian.
Lestari dan Fadila mengungkapkan bahwa persepsi terdiri dari berbagai aspek yaitu:
1. Seleksi
Seleksi adalah proses dimana konsumen memilih stimulus yang akan diterima oleh panca indranya berdasarkan kebutuhan yang dipengaruhi oleh masa lalu dan kebutuhan yang menjadi motivasinya.
2. Organisasi
Organisasi merupakan proses dimana konsumen mengumpulkan atau mengkategorikan kelompok-kelompok stimulus yang ada menjadi satu kesatuan yang utuh secara menyeluruh. Stimulus yang ada dikelompokkan oleh konsumen ke dalam pola yang bermakna bagi konsumen.
3. Interpretasi
Interpretasi merupakan keadaan yang terjadi ketika seseorang memberikan makna terhadap masukan informasi yang dipengaruhi oleh faktor karakteristik individu, stimulus, situasional dan bagaimana informasi tersebut ditampilkan. Kedekatan interpretasi seseorang atau konsumen dengan realitas
dipengaruhi oleh harapan dan motif dari konsumen tersebut.(Dewi Fadila &
Ridho, Sari Lestari Zainal, 2013).
Selanjutnya adalah Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi ada dua macam yaitu faktor internal dan faktor eksternal sebagai berikut:
a. Faktor Internal
Faktor yang mempengaruhi persepsi berkaitan dengan kebutuhan psikologis, latar belakang pendidikan, alat indera, syaraf atau pusat susunan syaraf, kepribadian dan pengalaman penerimaan diri serta keadaan individu pada waktu tertentu.
b. Faktor Eksternal
Faktor ini digunakan untuk obyek yang dipersepsikan atas orang dan keadaan, intensitas rangsangan, lingkungan, kekuatan rangsangan akan turut menentukan didasari atau tidaknya rangsangan tersebut.Faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi adalah sebagai berikut:
a) Ukuran dan penempatan dari obyek atau stimulus. Faktor ini menyatakan bahwa semakin besarnya hubungan suatu obyek, maka semakin mudah untuk dipahami. Bentuk ini akan mempengaruhi persepsi individu dan dengan melihat bentuk ukuran suatu obyek individu akan mudah untuk perhatian pada gilirannya membentuk persepsi.
b) Warna dari obyek-obyek. Obyek-obyek yang mempunyai cahaya lebih banyak, akan lebih mudah dipahami (to be perceived) dibandingkandengan objek yang memiliki cahaya yang sedikit.
c) Keunikan dan kekontrasan stimulus. Stimulus luar yang penampilannya dengan latar belakang dan sekelilingnya yang sama sekali di luar sangkaan individu yang lain akan banyak menarikperhatian
d) Intensitas dan kekuatan dari stimulus. Stimulus Intensitas dan kekuatan dari stimulus. Stimulus dari luar akan memberi makna lebih bila lebih sering diperhatikan dibandingkan dengan yang hanya sekali dilihat.
Kekuatan dari stimulus merupakan daya dari suatu obyek yang bisa mempengaruhipersepsi.
e) Motion atau gerakan. Individu akan banyak memberikan perhatian terhadap obyek yangmemberikan gerakan dalam jangkauan pandangan dibandingkan obyek yang diam (Walgito, 2010:54)
Sedangkan menurut Simamora, faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi, yaitu:
a. Kinerja, dapat dikarakteristikan sebagai berikut:
a) Kemampuan produk untuk melaksanakan fungsi utama.
b) Karakteristik produk.
c) Kesesuaian dengan spesifikasi, mengenai seberapa dekat produk dengan spesifikasi yang dijanjikan
b. Keandalan
Keandalan merupakan konsistensi kinerja dari satu pembelian hingga ke pembelian berikutnya, dan persen waktu yang dimiliki untuk berfungsi dengan baik.
c. Ketahanan
Kehidupan ekonomis akan suatu produk yang digunakan konsumen.
d. Pelayanan
Suatu hal yang berhubungan dengan kemampuan memberikan layanan kepada pelanggan.
e. Hasil Akhir
Hasil yang menunjukkan pada munculnya atau dirasakannya suatu kualitas (Simamora, 2000)
Selanjutnya Philip Kotler menyatakan bahwa orang dapat memiliki persepsi berbeda atas objek yang sama karena ada tiga proses persepsi yaitu :
1. Perhatian selektif
Pada dasarnya orang akan terlibat banyak rangsangan harian. Sebagian besar rangsangan akan disaring, karena seseorang tidak mungkin dapat menanggapi rangsangan-rangsangan ini. Proses ini disebut perhatian selektif. Perhatian selektif membuat pemasar harus bekerja keras untuk menarik perhatian konsumen. Pesan-pesan mereka akan terbuang pada orang-orang yang berada dalam pasar produk tertentu. Bahkan orang-orang yang berada dalam pasar mungkin tidak memperhatikan suatu pesan kecuali jika pesan itu menonjol dibandingkan rangsangan-rangsangan lain di sekitarnya.
2. Distorsi selektif
Distorsi selektif adalah kecenderungan orang untuk mengubah informasi ke dalam pengertian pribadi dan menginterprestasikan informasi dengan cara yang akan mendukung pra-konsepsi mereka, bukannya yang menentang pra-
konsepsi tersebut. Bahkan rangsangan yang telah mendapatkan perhatian konsumen, belum tentu berada dijalur yang diinginkan.
3. Ingatan Selektif
Orang akan melupakan banyak hal yang mereka pelajari, tapi karena adanya ingatan selektif, orang akan cenderung mengingat hal-hal baik yang disebutkan tentang produk pesaing. (Kotler P. , 2009)
Adapun alur proses pembentukan persepsi menurut Setiadi adalah sebagai berikut:
Gambar 2.1 Proses Persepsi Sumber : Nugroho J Setiadi (2010:161)
a. Seleksi persepsi
Seleksi persepsi terjadi ketika konsumen menangkap dan memilih stimulus berdasarkan psychological set (berbagai informasi yang ada didalam memorinya) yang dimiliki oleh konsumen tersebut. sebelum seleksi persepsi terjadi, terlebih dahulu stimulus harus mendapatkan perhatian dari konsumen. tidak semua
STIMULUS Penglihatan Suara Bau rasa
Indera
penerima seleksi Pengorganisasian
persepsi
persepsi Interprestasi
stimulus yang dipaparkan dan diterima konsumen akan memperoleh perhatian konsumen dikarenakan konsumen memiliki keterbatasan sumberdaya pemikiran untuk mengolah semua informasi yang diperolehnya. Oleh karena itu konsumen melakukan seleksi terhadap setiap informasi dan stimulus yang diterimanya. Dua proses yang sebenarnya terjadi dalam seleksi perceptual ini adalah perhatian (attention) dan seleksi itu sendiri. (Setiadi, 2010)
Perhatian yang dilakukan konsumen dapat terjadi secara disengaja (voluntary attention) yaitu ketika konsumen secara aktif mencari informasi yang mempunyai relevansi baginya. Faktor pribadi merupakan faktor pendorong dari perhatian ini dan berada diluar control pemasar. Konsumen secara sengaja akan memberikan perhatian kepada stimulus yang akan membernya solusi yang dibutuhkannya. Faktor lain adalah harapan konsumen yang dipengaruhi oleh pengalaman masa lalunya terhadap produk. Seleksi perceptual terjadi ketika konsumen melakukan voluntary attention, dimana konsumen memiliki keterlibatan yang tinggi terhadap suatu produk dan secara aktif mencari informasi mengenai produk tersebut dari berbagai sumber. (Setiadi, 2010)
Perhatian yang tidak disengaja (involuntary attention) terjadi ketika kepada konsumen dipaparkan sesuatu yang menarik, mengejutkan atau sesuatu hal yang tidak diperkirakan sebelumnya yang tidak ada relevansinya dengan tujuan dan kepentingan konsumen. Faktor ini dapat dikontrol dan dimanipulasi oleh pemasar dengan tujuan utama untuk menarik perhatian konsumen.
b. Pengorganisasian Persepsi
Pengorganisasian persepsi berarti bahwa konsumen mengelompokkan informasi dari berbagai sumber kedalam pengertian yang menyeluruh untuk memahami lebih baik dan bertindak atas pemahaman itu. Pengorganisasian ini akan memudahkan untuk memproses informasi dan memberikan pengertian yang terintegrasi serta evaluasi terhadap stimulus. (Setiadi, 2010)
c. Interprestasi Persepsi
Proses terakhir dari persepsi adalah memberikan interprestasi atas stimulus yang diterima konsumen. Setiap stimulus yang diterima oleh konsumen baik disadari ataupun tidak disadari akan diinterrprestasikan oleh komsumen.
Interprestasi tersebut didasarkan pada pengalaman penggunaan suatu produk pada masa lalu dan pengalaman itu tersimpan dalam memori jangka panjang. Pada proses ini konsumen membuka kembali berbagai informasi dalam memori jangka panjangnya (long term memory) yang akan membantu konsumen melakukan evaluasi atas berbagai stimulus. Tahaap inilah yang disebut persepsi konsumen terhadap obyek atau citra produk (product images) sebagai output dari penerimaan konsumen terhadap stimulus. Persepsi konsumen bisa berupa persepsi produk, persepsi merek, persepsi pelayanan, persepsi harga, persepsi kualitas produk ataupun persepsi terhadap produsen (Setiadi, 2010)
2. Pengertian Konsumen
Konsumen merupakan faktor penting di dalam perusahaan, karena dengan adanya konsumen maka perusahaan dapat menjual, memasarkan dan menawarkan produknya.
Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Konsumen dapat dikelompokkan yakni konsumen antara dan konsumen akhir. Konsumen antara adalah distributor, agen dan pengecer. Mereka membeli barang bukan untuk dipakai, melainkan untuk diperdagangkan. Sedangkan pengguna barang adalah konsumen akhir. Yang dimaksud konsumen akhir adalah konsumen akhir memperoleh barang atau jasa bukan untuk dijual kembali, melainkan untuk digunakan, baik bagi kepentingan dirinya sendiri, keluarga, orang lain dan makhluk hidup lain. (Suryani, 2003:12).
Sedangkan Kotler & Keller dalam mendefinisikan konsumen sebagai seseorang yang membeli dari orang lain. Banyak perusahaan yang tidak mencapai kesuksesan karena mengabaikan konsep konsumen.Konsumen, saluran distribusi, dan pasar adalah ojek biaya yang memiliki keragaman pada produk. Konsumen dapat mengkonsumsi aktivitas yang digerakkan oleh konsumen yaitu frekuesni pengiriman, penjualan dan dukungan promosi. Sehingga untuk mengetahui biaya yang dikeluarkan untuk melayani konsumen dengan tingkat kebutuhan yang berbeda-beda, perusahaan memperoleh informasi yang berguna dalam penetapan
harga, penentuan bauran konsumen dan peningkatan profitabilitas (Sutrisno Dkk, 2006).
B. Brand Image
Brand (merek) merupakan salah satu bagian terpenting dari suatu produk.
Merek dapat menjadi suatu nilai tambah bagi produk baik itu produk yang berupa barang maupun jasa. Menurut Kotler merek adalah nama, istilah, tanda, symbol, atau desaign atau kombinasi dari semuanya itu yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari seseorang atau sekelompok penjual untuk untuk membedakannya dari produk atau barang pesaing.
Tjiptono (2005: 49), brand image atau brand description, yakni deskripsi tentang keyakinan terhadap merek tertentu. Citra merek dapat dianggap sebagai jenis asosiasi yang muncul dalam benak konsumen ketika mengingat suatu merek tertentu. Asosiasi itu dapat muncul dalam bentuk citra atau pemikiran tertentu yang dikaitkan dengan suatu merek.
Jika merek meliputi atribut, manfaat dan sikap. Atribut terdiri dari atribut yang berhubungan dengan produk misalnya desain, warna, ukuran, dan atribut yang tidak berhubungan dengan produk, misalnya harga, pemakai, dan citra penggunaan. Sedangkan manfaat mencakup manfaat secara fungsional, manfaat simbolis dan manfaat berdasarkan pengalaman. (Tjiptono, 2005)
Persepsi terhadap merek berhubungan dengan sikap. Sikap positif konsumen terhadap sebuah merek lebih mudah mengarahkannya untuk membeli merek dan produk tersebut. Karena itu, tujuan utama strategi pemasaran, baik
melalui iklan, publisitas maupun melalui cara tradisional adalah mengembangkan citra positif terhadap merek (Sutisna, 2001:61)
Secara umum image dapat dideskripsikan dengan karakteristik- karakteristik tertentu seperti manusia, semakin positif deskripsi tersebut semakin kuat brand image dan semakin banyak kesempatan bagi pertumbuhan merek tersebut (Davis dkk, 2000).
Menilai baik-tidaknya suatu merek dapat dilihat dari kriteria-kriteria mengenai merek yang baik. Menurut kriteria merek yang baik diantaranya terlindung dengan baik, mudah diucapkan, mudah diingat, mudah dikenali, menarik, menampilkan manfaat produk, menonjolkan perbadaan produk dibanding produk pesaing (Setiawan, 2007).
Brand Imageadalah representasi dari keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan pengalaman masa lalu terhadap merek itu. Citra terhadap merek berhubungan dengan sikap yang berupa keyakinan dan preferensi terhadap suatu merek. Konsumen yang memiliki citra yang positif terhadap suatu merek, akan lebih memungkinkan untuk melakukan pembelian (Setiadi, 2010).
Dijelaskan dalam bukunya Kottler mendefinisikan brand image sebagai seperangkat keyakinan, ide dan kesan yang dimiliki seorang terhadap suatu merek. Karena itu sikap dan tindakan konsumen terhadap suatu merek sangat di tentukan oleh brand image merupakan syarat dari merek yang kuat. (Kotler P. , 2002)
Pendapat ahli lain menjelaskan bahwa brand image atau brand description, yaknideskripsi tentang asosiasi dan keyakinan terhadap merek
tertentu. Citra merek dapat dianggap sebagai jenis asosiasi yang muncul dalam benak konsumen ketika mengingat suatu merek tertentu. Asosiasi itu dapat muncul dalam bentuk citra atau pemikiran tertentu yang dikaitkan dengan suatu merek (Tjiptono, 2005).
Asosiasi merek meliputi atribut, manfaat dan sikap. Atribut terdiri dari atribut yang berhubungan dengan produk misalnya desain, warna, ukuran, dan atribut yang tidak berhubungan dengan produk, misalnya harga, pemakai, dan citra penggunaan. Sedangkan manfaat mencakup manfaat secara fungsional, manfaat simbolis dan manfaat berdasarkan pengalaman (Yuyun, 2009:2)
Kotler (Simamora, 2000) mendefinisikan brand merek sebagai seperangkat keyakinan, ide, dan kesan yang dimiliki oleh seseorang terhadap suatu merek. Karena itu sikap dan tindakan konsumen terhadap
suatu merek sangat ditentukan oleh citra merek tersebut. Kotler juga menambahkan bahwa citra merek merupakan syarat dari merek yang kuat.Simamora (2003) mengatakan bahwa citra adalah persepsi yang relativekonsisten dalam jangka panjang (enduring perception). Jadi tidak mudah untuk membentuk citra, sehingga bila terbentuk akan sulit untuk mengubahnya.
Citra yang dibentuk harus jelas dan memiliki keunggulan bila dibandingkan dengan pesaingnya. Saat perbedaan dan keunggulan merek dihadapkan dengan merek lain, muncullah posisi merek.
Dari beberapa teori yang dikemukakan para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa brand image adalah seperangkat keyakinan pada suatu nama, symbol / desaign dan kesan yang dimiliki seorang terhadap suatu merek yang diperoleh
berdasarkan informasi tentang fakta-fakta yang kemudian menggunakan merek tersebut, sehingga kesan yang muncul ini relatif jangka panjang yang terbentuk dalam benak konsumen. (Setiawan, 2007) mengemukakan bahwa Brand image terdiri dari komponen-komponen:
1. Attributes (Atribut) Merupakan pendefinisian deskriptif tentang fitur-fitur yang ada dalam produk atau jasa.
a. Product related attributes (atribut produk)
Didefinisikan sebagai bahan-bahan yang diperlukan agar fungsi produk yang dicari konsumen dapat bekerja. Berhubungan dengan komposisi fisik atau persyaratan dari suatu jasa yang ditawarkan, dapat berfungsi.
b. Non-product related attributes (atribut non-produk):
Merupakan aspek eksternal dari suatu produk yang berhubungan dengan pembelian dan konsumsi suatu produk atau jasa. Terdiri dari: informasi tentang harga, kemasan dan desain produk, orang, per group atau selebriti yang menggunakan produk atau jasa tersebut, bagaimana dan dimana produk atau jasa itu digunakan.
2. Benefits (Keuntungan)
Nilai personal yang dikaitkan oleh konsumen pada atribut-atribut produk atau jasa tersebut.
a. Functional benefits : berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar seperti kebutuhan fisik dan keamanan atau pemecahan masalah.
b. Experiental benefits : berhubungan dengan perasaan yang muncul dengan menggunakan suatu produk atau jasa. Benefit ini memuaskan kebutuhan bereksperimen seperti kepuasan sensori.
c. Symbolic benefits : berhubungan dengan kebutuhan akan persetujuan sosial atau ekspresi personal dan self-esteem seseorang. Konsumen akan menghargai nilai-nilai prestise, eksklusivitas dan gaya fashion merek karena hal-hal ini berhubungan dengan konsep diri mereka.
3. Brand Attitude (Sikap merek)
Didefinisikan sebagai evaluasi keseluruhan atas suatu merek, apa yang dipercayai oleh konsumen mengenai merek-merek tertentu sejauh apa konsumen percaya bahwa produk atau jasa tersebut memiliki atribut atau keuntungan tertentu, dan penilaian evaluatif terhadap kepercayaan tersebut bagaimana baik atau buruknya suatu produk jika memiliki atribut atau keuntungan tersebut.
Adapun brand image selalu berkaitan dengan atribut produk karena untuk memberikan kepuasan kepada konsumen dan konsumen bereaksi terhadap atribut produk yang dibelinya. Atribut yang digunakan dalam suatu produk menurut(Kotler P. , 2002) yaitu:
a. Rasa
Rasa dari makanan yang disajikan kepada konsumen merupakan salah satu faktor yang menentukan citra suatu merek dari produk. Rasa makan itu sendiri adalah semua yang dirasakan atau dialami oleh lidah baik itu rasa pahit, manis, asam, dan sebagainya. Biasanya sebelum melakukan pembelian konsumen
akan melihat terlebih dahulu penampilan dari makanan yang disajikan selanjutnya apabila penampilan makanan tersebut menarik hatinya konsumen akan melakukan pembelian.
b. Kemasan
Pengemasan mencakup semua kegiatan merancang dan memproduksi wadah atau pembungkus untuk suatu produk. Kemasan merupakan sarana pemasaran yang penting. Kemasan yang di desaign dengan menarik secara otomatis akan menarik perhatian konsumen pula.
c. Harga
Harga merupakan jumlah uang yang harus konsumen bayarkan sebagai kompensasi produk yang diperoleh dari prusahaan. Setiap perusahaan pada umumnya, akan menghitung biaya yang akan dikeluarkan sebelum menetapkan harga produknya. Perusahaan yang mampu merumuskan strategi harga yang tepat akan memperoleh penghasilan dan keuntungan optimal.
d. Atribut.
Setiap merek memiliki atribut, dimana atribut ini perlu dikelola dan diciptakan agar konsumen dapat mengetahui dengan pasti atribut-atribut apa saja yang terkandung dalam suatu merek.
e. Manfaat
Merek juga memiliki serangkaian manfaat. Konsumen tidak membeli atribut, mereka mambeli manfaat. Produsen harus dapat menterjemahkan antibut menjadi manfaat fungsional maupun manfaat emosional.
f. Kepribadian
Merek juga memiliki kepribadian yaitu kepribadian bagi penggunanya.
Diharapkan dengan menggunakan merek, kepribadian si pengguna akan tercermin bersamaan dengan merek yang digunakannya. (Kotler P. , 2002:82)
Sedangkan menurut (Setiawan, 2007) Faktor-faktor yang membentuk brand imageadalah sebagai berikut:
1. Kualitas atau mutu, berkaitan dengan kualitas produk yang ditawarkan oleh produsen dengan merek tertentu.
2. Dapat dipercaya atau diandalkan, berkaitan dengan pendapat dan kesepakatan yang di bentuk oleh masyarakat tentang suatui produk yang dikonsumsi.
3. Kegunaan atau manfaat, yang terkait dengan fungsi dari suatu produk yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen.
4. Pelayanan, yang berkaitan dangan tugas produsen dalam melayani konsumennya.
5. Resiko berkaitan dengan untung rugi yang dialami oleh konsumen.
6. Harga, dalam hal ini berkaitan dengan tinggi rendahnya atau banyak sedikitnya jumlah uang yang dikeluarkan konsumen untuk mempengaruhi suatu produk, juga dapat mempengaruhi citra jangka panjang.
7. Image, yang dimiliki merek itu sendiri, yaitu berupa pelanggan, kesempatan dan informasi yang berkaitan dengan suatu merek dari produk tertentu.
Berbeda halnya dengan (Kertajaya, 2005)menyebutkan bahwa brand imagedi benak konsumen dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Komunikasi dari sumber lain yang belum tentu sama dengan yang dilakukan pemasar. komunukasi bisa datang dari konsumen lain, pengecer dan pesaing.
2. Pengalaman konsumen melalui suatu eksperimen yang dilakukan konsumen dapat mengubah persepsi yang dimiliki sebelumnya. Oleh sebab itu, junlah berbagai persepsi yang timbul itulah yang akan membentuk total image of brand(citra keseluruhan sebuah merek).
3. Pengembangan produk: posisi brand terhadap produk memang cukup unik.
disatu sisi, merupakan payung bagi produk, artinya dengan dibekali brand tersebut, produk dapat naik nilainya. Di sisi lain, performa ikut membentuk brand image yang memayunginya dan tentunya konsumen akan membangdingkan antara performa produk yang telah dirasakan dengan janji branddalam slogan.
Berdasarkan uraian di atas dapat di simpulkan bahwa faktor-faktor pembentuk brand image yaitu faktor fisik (kemasan, logo, nama merek) dan faktor psikologis (kepercayaan, nilai, kepribadian ), kualitas atau mutu, dapat dipercaya, manfaat dan harga. Brand image sangat erat kaitananyya dengan apa yang orang pikirkan, rasakan terhadap suatu merek tertentu sehingga dalam citra merek faktor psikologis lebih banyak berperan dibandingkan faktor fisik dari merek tersebut.
Evaluasi konsumen terhadap merek tertentu ini di mulai dari sangat jelek sampai sangat bagus . Sikap terhadap merek didasarkan pada skema tentang merek tersebut yang telah tertanam dibenak konsumen. seperti telah disebutkan
diatas bahwa komponen sikap ada 3 yaitu: Kognitif, Afektif dan Konatif maka ketiga komponen sikap ini juga terdapat dalam sikap konsumen terhadap produk, yaitu :
1) Brand believe adalah komponen kognitif (pemikiran).
2) Brand evaluation adalah komponen afektifyang mewakili semua evaluasi terhadap merek oleh konsumen. Kepercayaan terhadap suatu merek adalah multi dimensional karena mereka mewakili atribut merek yang dipersepsikan oleh konsumen.
3) Kecenderungan untuk bertindak adalah komponen konatif (tindakan) dan pada umumnya komponen ini dengan melihat ”maksud untuk membeli” dari seorang konsumen adalah penting dalam mengembangkan strategi pemasaran (Dewi Fadila & Ridho, Sari Lestari Zainal, 2013)
C. Kerangka Pikir
Berdasarkan teori yang telah di uraikan sebelumnya, maka dapat dirumuskan kerangka pemikiran. Bahwasanya brand merek sebagai seperangkat keyakinan, ide, dan kesan yang dimiliki oleh seseorang terhadap suatu merek.
Sedangkan faktor-faktor pembentuk brand image yaitu faktor fisik (kemasan, logo, nama merek) dan faktor psikologis (kepercayaan, nilai, kepribadian ), kualitas atau mutu, dapat dipercaya, manfaat dan harga. Brand image sangat erat kaitanya dengan apa yang orang pikirkan, rasakan terhadap suatu merek tertentu sehingga dalam citra merek faktor psikologis lebih banyak berperan dibandingkan faktor fisik dari merek tersebut.
Adapun Indikator pengukuran persepsi konsumen terhadap brand image Hot Chicken Crispy yaitu kognitif (pemikiran dan pengetahuan konsumen terhadap Hot Chicken Crispy), afektif (perasan positif maupun negatif terhadap brand image Hot Chicken Crispy), dan konatif (keinginan untuk membeli brand image Hot Chicken Crispy).
Gambar 2.2 Kerangka Pikir Penelitian
D. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, maka hipotesis dalam penelitian ini diduga bahwa konsumen memiliki persepsi yang baik terhadap Brand Image Hot Chicken Crispydi PT Fat Fod Indonesia.
PT Fast Food Indenesia
Persepsi Konsumen
Brand Image Hot Chicken Crispy
Hasil
E. Penelitian Terdahulu Tabel 2.1. Penelitian Terdahulu
Judul
Penelitian Nama
Peneliti Model
Peneliti Hasil
Penelitian Hubungan Penelitian Pengaruh Brand
Image terhdap loyalitas pelangga pada McDonald’s Alauddin Makassar
Abd.Rahman (2010)
Analisis
Regresi Brand image berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan padaMcDonald’s Alauddin Makassar
Peneliti sama- sama mengkaji mengenai Brand Image
Analisis tingkat kepuasan konsumen dalam berbelanja pada pada PT Fast Food IndonesiaMakassar
Hasniar
(2008) Analisis
Deskriptif Tingkat kepuasan konsumen dalam berbelanja pada PT Fast Food
Indonesia Makassar
Peneliti sama- samamenggunakan analisis
deskriptif dalam metode analisis data.
Analisis tingkat pelayanan terhadap kepusan konsumen pada PT Fast Food Indonesia Kota Bengkulu
Sriningsih (2011)
Analisis
Regresi Tingkat pelayanan berpengaruh terhadap kepuasan konsumen pada PT Fast Food
IndonesiaKota Bengkulu
Peneliti sama- sama melakukan penelitian yang berhubungan dengan PT Fast Food Indonesia.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Adapun lokasi penelitian ini akan dilaksanakan pada PT Fast Food Indonesia Jalan Sam Ratulangi Makassar. Sedangkan waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan Maret – April 2017.
B. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data kuantitatif yaitu data yang dapat diinput ke dalam skala pengukuran statistik. Sedangkan berdasarkan sumbernya, penelitian ini menggunakan data primer yaitu data yang dikumpulkan oleh peneliti sendiri yakni data yang belum pernah dikumpulkan sebelumnya, baik dengan cara tertentu atau pada periode waktu tertentu.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi merupakan subyek penelitian. Menurut Sugiyono populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah
yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu. Jumlah populasi dalam penelitian sebanyak 100 konsumen yang berkunjung pada restorant cepat saji PT Fast Food Indonesia pada saat penulis melakukan penelitian.
2. Sampel
Pemilihan dan penetapan sampel dilakukan oleh peneliti berdasarkan waktu penelitian peneliti. Hal ini berarti teknik sampling pada penelitian ini menggunakan teknik sampling secara nonprobabilitas, yaitu teknik yang digunakan peneliti jika peneliti memiliki pertimbangan tertentudalam pengambilan sampel atau penentuan sampel dengan kriteria tertentu.
Pertimbangan tersebut yaitu peneliti hanya meneliti konsumen yang bersedia mengisi kuesioner yang diberikan (Sugiyono, 2009). Jumlah sampel minimal 30 orang.
D. Metode Pengumpulan Data
1. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi digunakan untuk pengumpulan data mengenai jumlah populasi dan data lain yang berhubungan dengan penelitian ini.
2. Metode Kuesioner
Kuesioner dalam penelitian ini terdiri dari butir-butir pernyataan yang digunakan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan variabel yang akan diteliti. Kuesioner digunakan untuk mengukur persepsi konsumen terhadap Brand
Image Hot Chicken Crispy. Kuesioner tersebut disusun berdasarkan indikator dari variabel yang akan diteliti. Dalam ha lini, kuesioner yang digunakan adalah kuesioner model tertutup yang terdiri dari pernyataan-pernyatan tertulis dan responden tinggal memilih alternatif yang telah disediakan. Pernyataan terebut menggunakan skala likert yaitu skala yang digunakan untuk mengukur sikap seseorang atau sekelompok orang.Dengan menggunakan skala likert, makas etiap item instrument dilengkapi dengan 5 pilihan, dengan skor yang digunakan dalam skala model Likert adalah 1 – 5.Yaitu:
Sangat Tidak Setuju (STS) =1
Tidak Setuju (TS) =2
Kurang Setuju (KS) =3
Setuju (S) =4
Sangat Setuju (SS) =5
Dan skor sebaliknya untuk pernyataan negatif.
E. Metode Analisis Data
Analisis statistik deskriptif merupakan statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku umum. (Sugiyono, 2009:207)Teknik analisis deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran umum data yang diperoleh dan untuk mendeskripsikan karakteristik responden. Analisis statistik deskriptif yang digunakan meliputi mean, median, modus dan standar deviasi.
Mean merupakan nilai rata-rata yang bisa mewakili sekumpulan data yang representatif. Median adalah salah satu teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai tengah kelompok data yang telah disusun urutannya dari yang terkecil sampai yang terbesar, atau sebaliknya. Modus merupakan teknis penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai yang sering muncul dalam kelompok tersebut. (Sugiyono, 2009:57)
Untuk membantu proses pengolahan data secara cepat dan tepat, maka pengolahan data dilakukan melalui program SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 20
F. Defenisi Operasional Variabel
1. Persepsi adalah tanggapan atau penilaian konsumen mengenai logo dan kemasan yang melekat pada produk Hot Chicken Crispy pada PT Fast Food.
2. Brand Image adalah segala sesuatu yang melekat pada pada produk PT Fast Food yang dapat dinilai langsung oleh konsumen. Brand image tersebut meliputi faktor fisik dan non fisik. Faktor fisik yang terdiri dari: kemasan, logo dan merek. Sedangkan faktor non fisik terdiri dari: kepercayaan dan nilai yang berkesan bagi konsumen.
BAB IV
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
A. Sejarah Singkat PT. Fast Food
PT. Fast Food Indonesia Tbk. beroperasi sebagai pemegang waralaba eksklusif Kentucky Fried Chicken (KFC) di Indonesia. Produk utama adalah resep ayam goreng KFC asli.
KFC (Kentucky Fried Chicken)salah satu restoran rantai terbesar di dunia.
yang berkantor pusat di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat. sebuah “ikon Amerika” dengan lebih 17.000 outlet di 105 negara dan berapa wilayah. KFC didirikan oleh Kolonel Harland Sanders, yang mulai menjual ayam goreng nya dari pinggir jalan restoran di Corbin, Kentucky. (Sejarah singkat KFC, 2012)
Kolonel Sanders atau Harland David Sanders Lahir: 9 September 1890 dan meninggal tanggal 16 December 1980. Lahir dan dibesarkan di Henryville, Indiana. Kolonel Sanders melewati beberapa profesi dalam hidup, dengan keberhasilan yang beragam. (Sejarah singkat KFC, 2012)
Kolonel Sanders menjual ayam goreng buatannya pada tahun 1930 ditengah-tengah Depresi Besar. disebuah pompa bensin milikinya Corbin.
Utara sebuah kota kecil di tepi Pegunungan Appalachian selatan timur Kentucky.
Ruangan makan bernama Sanders Court & Café, yang dibilang cukup berhasil dan dia diberi gelar kehormatan Kentucky Kolonel pada tahun 1936 oleh Gubernur Kentucky Ruby Laffoon.
Tahun berikutnya restorannya diperluas menjadi 142 kursi dan dia mulai menambahkan sebuah motel yang ia beli di seberang jalan. Ketika Sanders mempersiapkan restoran ayam aslinya di North Corbin, ia menyajikan ayam dalam wajan besi, yang memakan waktu sekitar 30 menit memasak (tapi terlalu lama untuk operasi restoran).
Dalam waktu 4 tahun, jumlah tempat jualan ayam goreng Kentucky telah meningkat menjadi 650 restoran dengan omset penjualan per tahun bernilai US$37 juta. Saat ini terdapat hampir 10.000 restoran ayam goreng kentucky di seluruh dunia dengan lebih dari 200.000 karyawan dan omset penjualan per tahun lebih dari US$8.2 milyar. (Goreng, 2014)
Di Indonesia, pemegang hak waralaba tunggal KFC adalah PT. Fast food Indonesia, Tbk yang didirikan oleh Kelompok Usaha Gelael pada tahun 1978, dan terdaftar sebagai perusahaan publik sejak tahun 1994. Restoran KFC pertama di Indonesia dibuka pada bulan Oktober 1979 di Jalan Melawai, Jakarta. (Goreng, 2014) Sementara itu, logo pada KFC telah mengalami perubahan beberapa kali.
(lampiran 5)
B. Visi, Misi dan Stuktur Perusahaan PT Fast Food Indonesia
Sebagai pemegang hak waralaba tunggal untuk merek KFC di Indonesia, PT Fast Food Indonesia Tbk didirikan oleh Keluarga Gelael pada 1978. Pada 1979, Perseroan mendapatkan akuisisi waralaba dengan pembukaan gerai pertama pada bulan Oktober di Jalan Melawai di Jakarta. Pembukaan gerai pertama terbukti sukses dan diikuti dengan pembukaan geraigerai selanjutnya di Jakarta dan ekspansi hingga ke sejumlah kota besar lainnya di Indonesia antara lain Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, dan Manado. Sukses membangun merek ini, menanamkan KFC dalam benak konsumennya sebagai merek waralaba cepat saji yang terkenal dan dominan di Indonesia. (Sejarah singkat KFC, 2012)
a. Visi
Selalu menjadi merek restoran cepat saji Nomor 1 dl Indonesia dan mempertahankan kepemimplnan pasar dengan menjadi restoran yang termodern dan terfavorit dalam segi produk, harga, pelayanan, dan fasilitas.
b. Misi
Semakin memperkuat citra merek KFC dengan strategi-strategi dan ide-ide yang inovatif, terus meningkatkan suasana bersantap yang tiada bandingannya dan konsisten memberikan produk, layanan, serta fasilitas restoran yang selalu berkualitas mengikuti kebutuhan dan selera konsumen yang terus berubah.
(Goreng, 2014)
c. Struktur Organisasi
Mempersembahkan restoran dengan tampilan dan desain termodern dan sesuai dengan tren masa kini, dan memberikan suasana menyenangkan dengan
tempat duduk yang nyaman dengan terus melakukan peremajaan restoran, dan menyajikan produk berkualitas tinggi yang paling digemari oleh pelanggan dengan kecepatan dan keramahan yang tak tertandingi dengan struktur organisasi di bawah ini: (Sejarah singkat KFC, 2012)
Gambar 4.1.Struktur Organisasi KFC
C. Daftar Menu Yang Ditawarkan Pada PT Fast Food Indonesia
Tabel 4.1 Daftar Menu Pada PT Fast Food Indonesia Chaki Kids Meal Sponge Bob
No. Nama Menu Harga
1 Crispy Rp 27,000
2 Original Rp 35,545
Kombo Super Family
No. Nama Menu Harga
1 Crispy Rp 104,182
2 Original Rp 107,000
Kombo Super Star + 2 Puding
No. Nama Menu Harga
1 Crispy Rp 71,818
2 Original Rp 76,636
Menu KFC Super Besar 1
No. Nama Menu Harga
1 Crispy Rp 27,500
2 Original Rp 28,500
Menu KFC Super Besar 2
No. Nama Menu Harga
1 Crispy Rp 39,000
2 Original Rp 41,500
Menu KFC Praktis
No. Nama Menu Harga
1 Chick'n Fillet Rp 9,999
2 Fish Fillet Rp 9,999
3 OR Burger Rp 9,999
4 Oriental Bento Rp 9,999
5 Twisty Rp 9,999
Menu KFC Goceng
No. Nama Menu Harga
1 Krim Soup Rp 5,000
2 KFC Pudding Rp 5,000
3 KFC Soup Rp 5,000
4 Perkedel Rp 5,000
Menu KFC Ala Carte
No. Nama Menu Harga
1 1 Pcs Chicken Crispy Rp 14,000
2 1 Pcs Chicken Original Rp 15,500
3 2 Pcs Chicken Crispy Rp 26,800
4 2 Pcs Chicken Original Rp 28,600
5 Crispy Strip Rp 12,800
6 French Fries Large Rp 17,270
7 KFC Organic Rice Rp 5,999
Menu KFC Whole Chicken
No. Nama Menu Harga
1 Crispy Rp 114,500
2 Original Rp 119,000
Menu KFC Wing Bucket (Sayap Ayam)
No. Nama Menu Harga
1 Crispy Rp 77,500
2 Original Rp 77,500
3 Yakiniku Rp 21,999
Menu KFC Beverages
No. Nama Menu Harga
1 Pepsi Can Rp 9,091
2 Tropicana Twister Rp 5,000
3 Aqua Rp 5,909
4 Frestea Rp 8,182
BAB V
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Responden
Responden dalam penelitian ini adalah konsumen pada PT Fast Food Indonesia yang beralamat Jalan Doktor Sam Ratulangi No. 5/15, Mangkura, Kec.
Makassar yang berjumlah 30 orang dengan karakteristik yang berbeda-beda.
Karakteristik yang dimaksud dalam penelitian ini berdasarkan pekerjaan, usia responden dan jeis kelamin responden.
a. Deskripsi Responden Berdasarkan Pekerjaan
Berdasarkan lampiran 3 bagian a, yang menggambarkan mengenai pekerjaan responden, maka deskripsi mengenai pekerjaan responden dijabarkan pada tabel 5.1 dibawah ini:
Tabel 5.1
Deskripsi Responden Berdasarkan pekerjaan
kategory Frequency Percent Cumulative
Percent
Valid
PNS 5 16,0 16,0
Wirausaha 7 22,0 38,0
Karyawan perusahaan 12 39,0 77,0
Mahasiswa 6 23,0 100,0
30 100,0
Berdasarkan tabel 5.1 di atas menunjukkan bahwa 16% atau dari 30 responden terdapat 5 responden yang berstatus PNS, Wirausaha sebanyak 7 responden atau 22%, karyawan perusahaan 12 responden atau 39% dan mahasiswa sebanyak 6 responden atau 23%. Sehingga dapat digambarkan dengan diagram di bawah ini:
Gambar 5.1
Persentase Responden berdasarkan pekerjaannya
b. Deskripsi Responden Berdasarkan Usia
Berdasarkan lampiran 3 bagian b, yang menggambarkan mengenai usia responden, maka deskripsi mengenai usia responden dijabarkan pada tabel 5.2 dibawah ini:
16%
22%
39%
23%
Persentase Konsumen Berdasarkan Pekerjaanya
PNS Wirausaha
Karyawan Perusahaan Mahsiswa
Tabel 5.2
Deskripsi Responden Berdasarkan Usianya
Usia (tahun) Frequency Percent Cumulative Percent
Valid
16-25 9 30,0 30,0
26-35 15 50,0 80,0
36-45 6 20,0 100,0
Total 30 100,0
Berdasarkan tabel 5.2 di atas menunujukkan bahwa responden terdapat 30% atau 9 responden dengan rentang usia 16 tahun - 25 Tahun, 50% atau 15 responden dengan usia 26 tahun -35 tahun, 20% atau 6 responden dengan rentang usia 36 tahun – 45 tahun. Dari hasil tersebut dapat disajikan dalam bentuk diagram di bawah ini:
Gambar 5.2
Persentase Responden Berdasarkan Usianya
30%
50%
20%
Persentase Konsumen Berdasarkan Usianya
16-25 26-35 36-45
c. Deskripsi Responden Jenis Kelamin
Berdasarkan lampiran 3 bagian c, yang menggambarkan mengenai jenis kelamin responden, maka deskripsi mengenai jenis kelamin responden dijabarkan pada tabel 5.3 dibawah ini:
Tabel 5.3
Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Frequency Percent Cumulative Percent
Valid
Pria 18 60,0 60,0
Wanita 12 40,0 100,0
Total 30 100,0
Berdasarkan tabel 5.3 di atas menunjukkan bahwa dari 30 responden terdapat 18 atau 60% responden pria dan 12 atau 40% responden. Sehinggan dapat disajikan dalam bentuk diagram diagram di bawah ini:
Gambar 5.3
Persentase Responden Berdasarkan Pekerjaannya
60%
40%
Persentase Konsumen Berdasarkan Jenis Kelamin
Pria Wanita
d. Deskripsi Responden Berdasarkan Frekuensi Kedatangan
Berdasarkan lampiran 3 bagian d, yang menggambarkan mengenai jenis kelamin responden, maka deskripsi mengenai jenis kelamin responden dijabarkan pada tabel 5.4 dibawah ini:
Tabel 5.4
Deskripsi Responden Berdasarkan Frekuensi Kedatangannya Frekuensi Kedatangan Frequency Percent Cumulative Percent
Valid
˂ 5 26 87,0 87,0
˃ 5 4 13,0 100,0
Total 30 100,0
Berdasarkan tabel 5.4 menunjukkan bahwa konsumen yang datang ke KFC Doktor Sam Ratulangi dengan frekuensi ˂ 5 dalam seminggu sebanyak 26 responden atau 87% dan yang berkunjung ˃ 5 dalam seminggu sebanyak 4 responden atau 13%. Sehingga diagram persentase dijabarkan pada gambar di bawah ini:
Gambar 5.4
Persentase Responden Berdasarkan Frekuensi Kedatangannya
e. Deskripsi umum Skor Perolehan Variabel Persepsi Konsumen
Gambaran umum dalam penelitian ini mencakup kecendrungan responden dalam hal ini adalah konsumen pada PT Fast Food Indonesia mengenai persepsi mereka terhadap brand image Hot Chicken Crispy yang diukur melalui kuesioner yang mengacu pada skala model likert. Pilihan jawaban untuk pernyataan positif dari sangat tidak setuju dengan nilai 1 (satu) sampai sangat setuju dengan nilai 5 (lima) dan sebaliknya untuk pernyataan negatif. Data yang diperoleh kemudian dideskripsikan dengan menggunakan analisis deskriptif berupa rata-rata, standar deviasi, median modus, skor minimum, skor maksimum dan distribusi frekuensi.
Berdasarkan instrumen persepsi konsumen terhadap brand image Hot Chicken Crispy, maka rangkuman hasil analisis deskriptif di jabarkan pada tabel 5.5
87%
13%
Peresntase Frekuensi Kedatangan Responden dalam Seminggu
˂ 5
˃ 5
Tabel 5.5
Hasil Deskripsi Persepsi Konsumen Terhadap Brand Image Hot Chicken Crispy
Statistics Persepsi Konsumen
N Valid 30
Missing 0
Mean 95,83
Median 95,00
Modus 94,00a
Std. Deviation 3,92
Variance 15,38
Range 18,00
Minimum 86,00
Maximum 104,00
Skor ideal 120,00
Pada tabel 5.5 di atas memberi gambaran bahwa hasil analisis data untuk skor persepsi konsumen yang diukur atas 5 indikator dan berjumlah 24 pernyataan. Skor tertinggi masing-masing butir pernyataan adalah 5 (empat) dan skor terendah adalah 1 (satu), sehingga skor total yang mungkin didapatkan berkisar 24 sampai 120. Tabel 5.5. memberi gambaran bahwa skor total yang diperoleh adalah 86 sebagai skor terendah dan 104 sebagai skor tertinggi. Artinya skor untuk persepsi konsumen terhadap brand image Hot Chicken Crispy bervariasi.
Adapaun data-data lain yang diperoleh yaitu rata-rata skor kuesioner persepsi konsumen sebesar 95,83, median (nilai tengah) sebesar 95,00, modus (nilai yang paling sering muncul) sebesar 94,00, standar deviasi (simpangan baku) sebesar 3,92 dan variansi sebesar 15,38.
Untuk distribusi jawaban responden mengenai persepsi konsumen terhadap brand image Hot Chicken Crispy, menggunakan data interval dengan persamaan:
= −
Sehingga
= (24 5) − (24 1)
4 = 24
dijabarkan pada tabel 5.6. sebagai berikut:
Tabel 5.6
Distribusi Jawaban Responden
Skor Kategori Frekuensi Percent Cumulative
Percent
Valid
24-47 Tidak baik 0 0 0
48-71 Kurang baik 0 0 0
72-95 Baik 16 53,3 53,3
96-119 Sangat baik 14 46,7 100,0
Total 30 30 100,0
Berdasarkan tabel 5.6 di atas menunjukkan bahwa persepsi konsumen terhadap brand image Hot Chicken Crispy diperoleh 53,3% atau 16 konsumen yang mempunyai persepsi baik terhadap brand image Hot Chicken Crispy dan
46,7% atau responden yang mempunyai persepsi sangat baik terhadap brand image Hot Chicken Crispy. Sedangkan 0% untuk kategori tidak baik dan kategori baik.
Sedangkan untuk analisis per butir tiap-tiap indikator berdasarkan lampiran 4, dijabarkan pada diagram dibawah ini:
Gambar 5.5
Diagram Hasil Analisis Per Indikator
Berdasarkan diagram tersebut di atas diperoleh bahwa dari 24 pernyataan yang membangun tiap-tiap indikator masih terdapat beberapa pernyataan yang masih perlu diperbaiki karena masih berada pada kategori tidak baik dan kurang baik.
indikator
1 indikator
2 indikator
3 indikator
4 indikator 5
0 0 0 0
1
0 0 0
2
0 0
1
0 0 0
4
5 5
2
3
Digram Hasil Analisis Per Indikator
Tidak Baik Kurang Baik Baik Sangat Baik
B. Pembahasan
Pada analisis deskriptif yang berakaitan dengan karakteristik responden yang menunjukkan bahwa ditinjau dari segi pekerjaan mayoritas pengunjung adalah karyawaan peusahaan dengan persentase terbesar yaitu 39%.
Sedangkan berdasarkan usia konsumen mayoritas dengan rentang usia 26 tahun-hingga 35 tahun. Sementara ditinjau dari segi jenis kelamin pengunjung wanita lebih banyak dibanding dengan pengunjung pria. Sedangkan jika ditinjau dari segi frekuensi kedatangan rata-rata konsumen selama seminggu maka responden berkunjung ke PT Fast Food Indonesia rata-rata kurang dari 5 kali seminggu.
Lebih jauh lagi pada analisis deskriptif mengenai distrbusi jawaban responden memberi gambaran bahwa persepsi konsumen terhadap brand image Hot Chicken Crispy berada pada kategori tinggi dengan persentase tertinggi di antara kategori lainnya yaitu 53, 3%.
Meskipun berdasarkan hasil analisis deskriptif persepsi konsumen terhadap brand image Hot Chicken Crispy sudah baik di mata konsumen. Namun berdasarkan analisis perindikator menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa pernyataan yang berada pada kategori rendah.
Adapun rincian mengenai tiap-tiap butir pernyataan yang membangun indikator persepsi konsumen terhadap brand image adalah sebagai berikut:
Adapun butir pernyataan yang berada pada kategori tidak baik yaitu butir mengenai pelayanan yang diberikan PT Fast Food Indonesia membuat konsumen
merasa nyaman, berdasarkan hasil wawancara lepas mengenai alasan yang diberikan konsumen dapat dinyatakan bahwa yang membuat konsumen merasa kurang nyaman yakni proses antrian dalam memesan menu pada PT Fast Food Indonesia yang harus dilakukan sambil berdiri. Dengan rendahnya pernyataan tersebut akan berimbas pada pernyataan konsumen yaitu kurang setuju terhadap pernyataan yang berbunyi ” Saya lebih memilih ke PT Fast Food Indonesia dibanding ke tempat lain dan PT Fast Food Indonesia adalah tempat makan pavorit saya”.
Sedangkan butir-butir pernyataan yang berada pada kategori baik atau tinggi yaitu, tulisan “KFC” pada logo membuat konsumen lebih mudah menyebutnya. Dan indikator yang berada pada kategori sangat tinggi yaitu, kemasan Hot Chicken Crispy menarik perhatian konsumen, Penyajian produk pada KFC dinilai luar biasa, hal ini terbukti dengan tanggapan konsumen yang mayoritas sangat tidak setuju dengan penyataan yang berbunyi “penyajian produk pada KFC biasa-biasa saja”.
Indikator selanjutnya yang berada pada kategori sangat baik yaitu, semua produk yang ditawarkan oleh PT Fast Food Indonesia dikemas dengan menarik, ukuran produk yang konsisten, logo PT Fast Food Indonesia adalah salah satu logo yang paling terkenal di dunia, logo pada PT Fast Food Indonesia fokus pada kejelasan, keramahan dan kederhanaan, konsumen mengetahui dengan pasti setiap perubahan logo PT Fast Food Indonesia, perpaduan warna merah putih membuat logo PT Fast Food Indonesia semakin hidup, simbol pria tua pada logo sangat mengesankan, merek yang ditawarkan gampang diingat, Merek yang ditawarkan
mudah dikenali, tidak terdapat makanan cepat saji yang memiliki merek yang sama dengan HCC krispi, merek Hot Chicken Crispy telah dipatenkan, merek Hot Chicken Crispy mudah ditiru oleh pihak pesaing, PT Fast Food Indonesia memeliki reputasi yang baik, kehigenisan Hot Chicken Crispy sangat terjamin dan Hot Chicken Crispymemiliki cita rasa yang lezat.
Dalam hal kemasan indikator pertanyaan dijawab dengan seragam dari beberapa informan, dimana makanan cepat saji sangat mengutamakan kepraktisan dan keefesiensian dalam hal penyajian. Kemasan menjadi peringkat tertinggi dalam hal kelebihan makanan cepat saji. Konsumen makanan cepat saji di PT Fast Food Indonesia mengangap bahwa kemasan sangat mempengaruhi mereka karena berhubungan dengan kepraktisan dan kebersihannya. Kondisi restoran yang elit menjadikan konsumennya merasa nyaman dan berpotensi menjadi seseorang masyarakat modern. Berhubungan pula dengan kondisi restoran yang sangat memungkinkan terciptanya suasana nyaman bagi pengunjung. Selain nyaman, PT Fast Food Indonesia memiliki reputasi yang baik. Restoran modern membuat memunculkan pengaruh bersikap jiwa modern bagi konsumennya.
Disamping itu, logo PT Fast Food Indonesia adalah salah satu logo terkenal sehingga akan memeberi nilai kebanggan tersendiri bagi konsumen.
Dari penjelasan di atas, menunjukkan bahwa secara keseluruhan indikator- indikator yang membangun variabel persepsi konsumen berada pada kategori baik atau telah berada pada kategori tinggi.
BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan
1. Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, maka kesimpulan dalam penelitian ini yaitu konsumen memiliki persepsi yang baik terhadap brand image Hot Chicken Crispy dengan persentase sebesar 53,3% atau terdapat 16 responden dari total 30 sampel yang berpendapat bahwa brand image Hot Chicken Crispyberada pada kategori baik.
2. Indikator-indikator yang membangun variabel persepsi konsumen berada pada kategori baik meskipun beberapa butir pernyataan yang masih perlu diperbaiki namun secara keseluruhan berdasarkan tabel 5.2 konsumen memiliki persepsi yang baik.
3. Butir-butir penyataan yang membangun indikator mayoritas berada pada kategori baik.
B. Saran.
Adapun saran dalam penelitian ini yaitu:
1. Diharapkan bagi pihak terkait untuk senantiasa memberi pelayanan yang maksimal kepada konsumen.
2. Diharapkan bagi penelitian selanjutnya untuk lebih memperluas wilayah penelitian yang berkaitan dengan variabel yang telah diteliti.
48
Alamsyah, Yuyun. (2009) Bisnis Fast Food ala Indonesia, cetakan pertama, Elex Jakarta: media Komputindo.
Davis dkk. (2000). Perilaku Dalam Oranisasi. Jakarta: Erlangga.
Dewi Fadila & Ridho, Sari Lestari Zainal. (2013). Prilaku Konsumen . Palembang: Ctrabooks Indonesia.
Kertajaya, H. (2005). Elemen Marketing. Bandung: Mizan.
Kotler, P. (2002). Manajemen Pemasaran. Jakarta: Prehallindo.
Kotler, P. (2009). Manajemen Pemasaran. Jakarta : Erlangga.
Mowen, J. (2002). Prilaku Konsumen. Jakarta: Erlangga.
Philip Kotler & Gary Armstrong. (2001). Prinsip-Prinsp Pemasaran, Jilid 1,Edisi Kedelapan.Jakarta: Erlangga.
Sejarah singkat KFC. (2012, Januari rabu). Dipetik Pebruari Selasa, 2017, dari
Blog Republik Ayam Goreng:
http://kimprasetyo.blogspot.co.id/2012/01/sejarah-singkat-kfc.html
Setiadi, N. (2010). Perilaku Konsumen: Perspektif Kontenporer Pada Motif, Tujuan, dan Keinginan Konsumen.Jakarta: Kencana Prenada Media.
Setiawan. (2007). Analisis Pengaruh Kegiatan Pemasaran Terhadap Ekuitas Merak Pada Customer. Usahawan , 1-3.
Simamora, H. (2000). Akuntansi Basis Pengambilan Keputusan Bisnis. Jakarta : Salemba.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Suryani, T. (2003). Prilaku Konsumen. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sutisna (2001) Perilaku Konsumen, cetakan pertama, Bandung: PT. Rosda.
Sutrisno Dkk. (2006). Kajian Usaha Mikro Indonesia. Pengkajian Koperasi dan UKM.
Tjiptono, F. (2005). Pemasaran Jasa. Malang: Bayumedia Publishing.
Walgito, B. (2010). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi.