DIMENSI-DIMENSI SIKAP ILMIAH DALAM KONTEKS PENDIDIKAN
3.4 Dimensi Rasa
Transformasi sikap yang terjadi di kalangan warga masyarakat Indramayu muncul ungkapan dimensi rasa. Rasa yang dimaksud dalam konteks ini diungkapkan dengan “kata hati” atau dengan “hati” saja. Komunikasi “dengan hati”
dilakukan dengan metode kekeluargaan, ternyata hal ini juga unik, karena predikat orang yang sekolah pun belum mampu melakukan hal ini termasuk kiyai yang selama ini oleh sebagian kalangan masih diakui keberadaannya karena perilaku dan moralitasnya. Tetapi, dalam konteks menurunkan atau memberikan contoh dan kebiasaan maupun sikap terhadap lingkungan tidak semua kiyai dapat dijadikan rujukan. Pengalaman dan pengakuan informan terkait hal ini adalah;
Orang kadang sudah sekolah doktor sekolah di mana-mana bahkan kiyai tapi tidak ada juga perubahan pada masyarakat kan mesitnya membawa orang supaya orang dapat berkomunikasi dengan ia tapi ini bisa membawa orang terbawa sama orang apa yang harus menanya ada apa dengan bapak itu, kan tidak tiba-tiba akan saya terapkan ilmu ini untuk yang lain meniuru saya tidak apa denga hati saya pernah takut dalam kondisi tertentu dalam hal manarik nafas sendiri, narik nafas bahwa yang saya isap itu benar tidak misalnya ada caranya pada diri saya..akhirnya jadi kepikikiran juga sebaik-baiknya orang dicari dibutuhkan orang lain menempatkan diri pada posisi dibutuhkan orang lain yang Alhamdulillah saya merasa sudah dibutuhkan orang temen-temen itu alhamdulilah kalau mau ada acara apapun kalau saya belum datang belum jalan selain komunikasi cerita-erita masalah solusinya, banyak masalah atau seputar itu mungikin ada hal-hal yang lain (AL; Okt 2015)
Ungkapan informan sangat sarat dengan konsep sikap yang berdimensi rasa, seperti pengakuan melakukan pendekatan menggunakan “hati”, sebaik-baik jadi orang adalah yang “dicari”, sampai-sampai informan mengatakan bahwa saya pernah tidak nyaman dalam hidup, ketidak nayaman itu sebenarnya khawatir
“kehawatiran dalam menarik nafas hanya karena takut tidak halal”. Hal ini menunjukkan bahwa ungkapan informan tentang “rasa” perlu mendapat posisi dalam mengungkap gagasan informan dalam penelitian ini, seperti;
32
……kita sudah masuk ke ranah ekonomi kita coba kaya bidada, kita buat sirop rasanya tidak kalah…bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Pendekatan budaya, pendekatan ekonomi, pendekatan proyek, pendekatan kearifan local, pendekatan kegiatan, pendekatan spiritual. Mendekati orang yang sedikit preman juga biasa…..sederhana kan dulu kalau mangrove itu kan tumbuhan hidup, maka kita harus dengan hati. Karena ada yang ngurus di atas sana saja. Dengan hati itu, orang ada yang punya lagi ada yang kuasa, ada Allah yang mahas kuasa, jika kita ngasih anak yatim maka kita dapat ATM, kalau kita berbuat baik tehadap alam maka alam akan berbuat baik kepada kita, itu sudah saya buktikan bertahun-tahun. Saya punya gerbong harus kita dorong, kalau ada orang yang mau ikut silahkan, jika ada orang yang lebih hebat silahkan, kalau kkita ikut seperti preman bagaimana, kita tidak amanah. Itulah yang harus dengan hati, memiliki sikap positif terhadap alam. Sikap itu ditularkan kepada yang lain dengan pendekatan, budya, ekonomi, sosialnya, bukan memojokan, temen saya yang sudah mendapat pengahrgaan, sempet tidur juga, satu saat timbul kejenuhan, membangunkan dengan cara saya…(AL;
Okt 2015)
Temuan menarik ungkapan di atas, bahwa pendekatan yang digunakan informan dengan dimensi rasa diintegrasikan dengan berbagai pendekatan yang sifatnya akademik, yaitu “pendekatan budaya, pendekatan ekonomi, pendekatan proyek, pendekatan kearifan lokal, pendekatan kegiatan, pendekatan spiritual. Mendekati orang yang sedikit preman juga biasa…..sederhana kan dulu kalau mangrove itu kan tumbuhan hidup, maka kita harus dengan hati” (AL; Nop 2015). Tema pembicaraan ini merupakan hasil trianggulasi sehingga muncul seperti simpulan, di mana sebelumnya banyak sekali ungkapan-ungkapan yang dapat dikategorikan kepada pendekatan-pendekatan ini.
Ada yang menarik di sini, bahwa “mendekati orang yang sedikit preman juga biasa”, ini menunjukkan bahwa pendekatan yang digunakan maksudnya pendekatan sosial, atau pendekatan kemanusiaan karena kalimat seterusnya ada kata “kalau mangrove itu kan tumbuhan hidup, maka kita harus dengan hati”, tetapi hal itu belum muncul kata itu dalam wawancara.
Dalam konteks ini transformasi sikap yang dilakukan kepada masyarakat tampaknya positif, jika menggunakan berbagai pendekatan selain pendekatan ilmu pendidikan, pendekatan pembelajaran, bahkan di sini ada pendekatan rasa merupakan hal yang sangat sesuai. Pendekatan-pendekatan lain, adalah biasa digunakan dalam pendidikan. Atinya bahwa bahwa melalui penelitian studi kasus tentang sikap ini dapat digunakan dalam pendidikan untuk mengajarkan sikap.
Nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dapat diambil kemudian dijadikan model konsep untuk kepentingan pengajaran di sekolah.
33 3.5 Dimensi Pola Berpikir
Pengalaman informan melakukan pendekatan terhadap warga masyarakat dalam melaksanakan transformasi sikap tehadap lingkungan sangat variatif. Hal ini disebabkan karena memang kondisi warga pesisir umumnya lulusan SD.
Pendekatan dengan memperhatikan dimensi pola berpikir sangatlah bijak. Informan melakukan pendekatan dalam transpormasi dengan “mengikuti” dahulu alur pikir masyarakat, kemudian pelan-pelan diarahkan sampai semuanya diatur oleh informan sebagi tokoh mangrove. Tidak melakukan pemaksaan terhadap masyarakat dalam hal memelihara kelestarian lingkungan. Misalnya, dalam pemahaman terhadap tanaman mangrove, kegunaan, kelebihan dan kekurangan, termasuk dalam hal nilai-nilai kebaikan tanaman mangrove untuk kehidupan. Jika dipaksa, tentu masyarakat akan menolak, maka pendekatan pola pikir yang digunakan adalah dengan pendekatan kelompok, pendekatan ekonomi, pendekatan pemahaman dan kemudian baru muncul sikap terhadap lingkungan setelah mereka faham. Berikut adalah pandagangan informan;
Mengajak masyarakat untuk melakukan perbaikan dan mengurus lingkungan itu tidak gampang dialawali dengan mengkaji dan melihat pola berpikirnya. Caranya adalah apa yang mereka inginkan diikuti saja dahulu, biasanya dia akan mau mengikuti kalau mereka sudah paham.
Prsoes pembentukan pemahaman, kita harus mengerti lawan bicara masing-masing. Kadang-kadang memiliki pendapat yang berbeda, ada orang yang posisinya sudah tidak mau. Pola komunikasi sebisa mungkin kita untuk saling tahu karakter masing-masing. Membangun pertemananan itu kan dengan komunikasi yang baik, yang saya bangun itu dengan rasa kekeluargaan (AL;Nop 2015).
Dimensi pola berpikir tenyata sangat diperhatikan oleh informan dalam kerangka membawa masyarakat kepada kebiasaan yang baik. Temuan dalam wawancara dengan informan, dinyatakan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan pola berpikir masyarakat yaitu; pola berpikir, perilaku, budaya, substansi tanaman mangrove, faktor rasa, kearifan lokal, pendekatan ekonomi, pendekatan projek, pendekatan spiritual, pendekatan sedikit preman, pendekatan kegiatan, dan alam merupakan bagian yang sangat penting. Artinya bahwa, pola berpikir atau mindset yang muncul dalam masyarakat dibangun oleh beragam komponen yang semuanya mempengaruhi mindset orang dan masyarakat. Pertama pola berpikir, jelas bahwa tingkat intelektual menentukan seseorang berpikir secara benar, bukan itu saja walaupun tingkat intelektual tinggi, jika otaknya tidak dimanfaatkan untuk kebaikan, ini juga bermasalah dalam kehidupan.
Kedua, perilaku, bahwa perilaku dibangun oleh mindset, jika mindset-Nya salah, maka akan terpancar dari perilakunya yang bertentangan dengan perilaku orang sehat. Sebaik apapun dukungan dan sosialisasi yang disampaikan tidak akan mempengaruhi perilaku, karena mindset-Nya sudah tidak sama dengan kebaikan yang dituntut masyarakat.
34
Ketiga, budaya, bahwa perilaku masyarakat yang sudah permanen memang sulit dirubah, walaupun bisa dirubah tetapi dalam waktu yang sangat lama. Budaya, memang bisa mendukung dan bisa juga menghambat proses perubahan. Budaya memang ada dalam masyarakat, yang dibangun oleh masyarakat itu sendiri, jadi tidak berpisah dengan proses berpikir dan perilaku yang ada. Sehingga, ketika ada sesuatu yang baru seperi berlawanan dengan budaya yang ada, maka wajar terjadi penolakan. Hanya orang-orang yang cerdas saja yang mudah mengalami perubahan perilaku dan akhirnya pelan-pelan budayanya juga berubah.
Keempat, substansi yaitu tanaman mangrove itu sendiri, bahwa masyarakat mengalami kesulitan mengikuti aktivitas memelihara lingkungan melalui tanaman mangrove, disebabkan oleh belum faham saja. Tetapi, proses memahamkan masyarakat juga tidak sederhana, karena tidak ada projek, tidak ada anggaran Negara, tidak ada investor untuk melakukan gerakan memberikan pemahaman kepada mereka, tetapi betul-betul dibangun oleh masyarakat sendiri secara mandiri, jadi pemahaman menentukan perilaku masyarakat terhadap lingkungan.
Kelima faktor rasa, bahwa informan melakukan transformasi sikap kepada warga masyarakat, melalui rasa. Ungkapan informan saat dilakukan trianggulasi menyatakan bahwa “Saya melakukannya dengan hati, karena yang kita tanam adalah juga benda hidup, jadi kalau bicara dengan hati mudah-mudahan akan nyambung juga. Ibaratnya jika kita berbuat baik kepada tanaman, maka tanaman akan bebuat baik kepada kita” (Al;
2015). Rasa dalam konteks ini meupakan kseluruhan gerakan lahir dan bathin dalam menyatukan diri dengan masyarakat dan alam. Rasa merupakan bagian yang sangat halus, sangat peka terhadap lingkungan, rasa mampu menjadi “thermostats” bagi tubuh kita, maksudnya adalah pengawal dan pemutus aliran arus listrik dari syaraf otak ke syaraf yang lainnya dalam tubuh.
Rasa juga meupakan indikator dan pemandu komunikasi kita dengan alam, rasa merupakan guide diri kita kepada kebaikan, rasa merupakan bobot nilai kemanusiaan, rasa merupakan penyempurna kehidupan secara utuh. Maka, ketika informan melakukan komunikasi dan intervensi membangun sikap dan kesadaran terhadap lingkungan sewajarnya berhasil, karena rasa merupakan strategi pendidikan yang paling tinggi nilainya. Berikut adalah paparan informan;
Membawa masyarakat kepada sebuah kebiasaan yang baik, selain dengan pola berpikir juga memperhatikan faktor perilaku yaitu faktor budaya…hal ini juga dibarengi dengan masalah substanti yang dibicarakan tentang mangrove dikenalkan kepada mereka. Khusus masalah tanaman mangrove itu sendiri, faktor rasa merupakan bagian yang sangat penting. Saya melakukannya dengan hati, karena yang kita tanam adalah juga benda hidup, jadai kalau bicara dengan hati mudah-mudahan akan nyambung juga. Ibaratnya jika kita berbuat baik kepada tanaman, maka tanaman akan bebuat baik kepada kita. Kalau kita mengurusi dan memaafkan orang yang lain, maka orang lain itu juga akan manfaatkan kita, begitu pula alam sama kepada kita (AL;
Nop 2015).
35 Dalam melakukan transformasi sikap dan juga nilai-nilai lokal, merupakan bagian yang penting untuk diadopsi kedalam pendidikan. Hal itu, ditunjukkan oleh informan, bahwa mendewasakan atau meningkatkan intelektual masyarakat tidak dengan cara kekerasan, karena jika masyarakat itu sudah mencapai titik balik, artinya jika tingkat pemikirannya sudah sama masyarakat akan dengan sendirinya mengikuti budaya, perilaku, bahkan kebiasaanya akan dirubah. Jadi tergantung dari strategi dan pendekatan yang digunakan. Hal ini sesuai dengan pandangan informan sebagai berikut;
Melihat dari cara berpikir, sederhana hehehe…..banyak pengalaman saya juga tentang hal ini. Karena, setiap orang atau desa kadang berbeda budaya dan kebiasaannya jadi ada tergantung pendekatan yang kita gunakan. Ya, kita ikutin dulu saja, kan orang kalau sudah mencapai titik tertentu bebas ditarik dan ikut ke kita lalu, biasanya seperti itu, tidak dengan cara kekerasan (AL; Nop 2015).
Keenam, kearifan lokal yang ada digunakan untuk menjadi jembatan pemikiran dan transformasi sikap dan pemahaman terhadap lingkungan hidup.
Kondisi setiap daerah yang beragam, potensi alam, manusia, keyakinan, sejarah baik fisik maupun non fisik yang menjadi bagian dari kekuatan tertentu dan menjungjung tinggi nilai-nilai untuk melanggengkan kehidupan komunitas manusia. Termasuk di dalamnya mungkin orang percaya pada yang ghaib. Selain itu, keyakinan pada kekuatan ketokohan, kekuatan pada “animis”, kekuatan pada kebiasaan, saling menghormati para seniornya. Bahkan ada juga kebiasaan-kebiasaan yang terjadi sangat beragam, baik bermotif budaya, bermotif agama maupun bermotif pada kebiasaan personal.
Kearifan lokal juga termasuk kebiasaan, keperayaan, dan budaya lokal (nilai-nilai dasar, dan nilai-nilai budaya) yang merupakan potensi dan dapat menjadi pendukung nilai-nilai kehidupan. Kearifan lokal dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi, sumber kekuatan, sumber energy dan menjadi sumber ide untuk dimanfaatkan menjadi sesuatu yang Semua kearifan lokal yang menjadi kekuatan terhadap upaya mempertahankan kehidupan, mempengaruhi pola berpikir manusia. Kearifan lokal menjadi bagian yang melatarbelakangi seseorang dan menentukan pemikirannya. Sehingga kearifan lokal menjadi bagian yang membangu mindset seseorang yang menentukan keputusan.
Ketujuh, pendekatan ekonomi, yang bermanka bahwa pemikiran seseorang dapat dipengaruhi oleh pendekatan ekonomi. Dari aspek tanaman mangrove, dikatakan bahwa “keperluan” sehari-hari masyarakat pesisir pantai Indramayu, adalah makanan. Sebagian kecil saja masyarakat pesisir yang tidak tertarik dimensi ekonomi, karena budaya petani nelayan tidak begitu bagus, karena petani nelayan rutinitasnya adalah mengambilikan, terus dijual, dan uangnya digunakan untuk senang-senang. Hanya sebagian kecil bahwa nelayan yang memiliki budaya investasi, seperti menabung untuk masa depan. Oleh karena itu, pola berpikir seseorang dalam mengelola tanaman mangrove dapat dipengauhi oleh psikologi termasuk untuk pendekatan yang digunakan oleh tokoh mangrove.
36
Kedelapan, pendekatan projek, pendekatan yang digunakan dikaitkan dengan kegiatan atau program. Mindset yang digunakan ada program kerja, jika tidak ada program, maka tidak kerja. Program identik dengan uang. Artinya bahwa, orang mau melakukan suatu kegiatan disebabkan karena ada program yang di dalamnya ada uangnya. Jadi sebenarnya orang melakukan kegiatan didasari oleh uang.
Informan jelas di sini mengungkapkan, bahwa pemahanan seseorang terhadap tanaman mangrove awalnya dari terpenuhinya kebutuhan ekonomi keluarganya.
Setelah kebutuhan ekonomi keluarga itu terpenuhi oleh produk dari mangrove ketika itulah ia faham bahwa mangrove bermanfaat. Biasanya PT Pertamina menyelenggaran program penanaman mangrove, atau program sosialisasi pemeliharaan tanaman mangrove, maka aktivitas itu terjadi karena adanya projek yang dikeluarkan oleh PT Pertamina atau Kementerian Perindustrian dan sebagainya.
Kesembilan, pendekatan spiritual, pendekatan ini paling menarik karena lebih besar kontribusinya dalam membangu kesadaran terhadap lingkungan. Informan mengungkapkan bahwa, pada satu saat, menghisap udara saja khawatir karena tidakhalal, atau disebabkan pencemaran atau kondisi udara yang tidak jelas. Mindset tentang kelestarian lingkungan yang didasarkan kepada spiritualitas seseorang.
Spiritualitas dapat menjadi pendorong dan ide-ide untuk menyelesaikan berbagai hal dalam kehidupan, termasuk juga tentang masalah lingkungan. Mindset melakukan upaya melestarikan lingkungan hidup didasari dengan keyakinan agama adalah ibadah. Pandangan bahwa menanam mangrove merupakan ibadah karena mangrove akan menghasilkan oksigen yang beguna bagi kehdupan.
Kesepuluh, pendekatan sedikit “preman” juga dilakukan informan dalam mengajak warga mendukung program pelestarian lingkungan hidup karena didasarkan pada fenomena yang terjadi. Sekelompok orang yang tergabung dalam kelompok petani udang tambak, menginginkan lahan digunakan untuk tambak.
Sementara pihak yang berpikiran sebaliknya bahwa lahan itu ditanami mangrove.
Perbedaan pandangan ini tekadang menimbulkan polemic dalam masyarakat. Pada kondisi seperti itu, muncul pahlawan dari kedua belah pihak, memberikan kenyamanan kepada program masing-masing. Informan menjelaskan bahwa terkadang kita harus menggunakan pendekatan “preman” untuk menuntaskan perbedaan kedua belah pihak itu. Akhirnya melalui pendekatan dan pemahaman tentang kepentingan jangka panjang terhadap ekologi, dengan ada alasan bahwa buah mangrove dapat diproduksi menjadi bernilai ekonomi, maka penyelesian konflik relative lebih efektif. Transformasi sikap dan kesadaran lingkungan menggunakan pendekatan “preman” ternyata lebih berdampak luas kepada masyarakat, karena menjangkau hampir semua lapisan masyarakat, khususnya masyarakat kalanga muda dan masyarakat awam lebih mudah menerima pandangan, karena pola berpikir “preman” sesuai dengan pandangan kalangan
“bawah” yang ada dalam masyarakat.
37 3.6 Dimensi Material (Substansi) sebagai media pembelajaran sikap (dalam kajian
ini pemahaman tentang tanaman mangrove)
Transformasi sikap terhadap lingkungan dipengaruhi oleh substansi (materi) yang menjadi objek pembicaraan lingkungan itu sendiri. Objek kajian yang menjadi
“bahan” pembicaraan atau yang biasa menjadi bahan kerja masyarakat merupakan bagian sangat penting difahami terlebih dahulu oleh masyarakat. Jika tidak, maka selama itu pulan objek akan menjadi sesuatu yang asing bagi masyarakat.
Ketika tanaman mangrove menjadi bagian yang asing bagi masyarakat, ketika itu pula masyarakat tidak akan menyentuh mangrove. Tetapi, jika faham, maka dengan sendirinya ia akan menyatu dengan objek itu. Sebagai contoh, ketika buah mangrove udah dapat diolah menjadi puluhan produk yang bisa dijual dan menghasilkan nilai ekonomi, maka tanaman mangrove menjadi bagian yang sangat popular di masyarakat dan masyarakat dengan sendirinya ingin memelihara mangrove, walaupun dengan biaya sendiri. Sekarang buah mangrove sudah diketaui banyak kalangan masyarakat bahwa
“produk buah mangrove dapat diolah menjadi bahan makanan, minuman dan bahan untuk kesehatan seperti; untuk obat asam urat, lulur, masker, teh, kopi, kecap, sirop dua bidadai, coklat,dodol, dan sebagainya” (AL; Okt 2015).
Tingkat pemahaman masyarakat teradap tanaman mangrove, sangat menentukan terhadap perubahan sikap masyarakat terhadap lingkungan. Karena, perilaku yang muncul sebagai refleksi sikapnya sangat relevan dengan pemahaman masyarakat. Penolakan terhadap kebijakan kelompok masyarkat dan perubahan yang terjadi dalam masyarakat terhadap keinginan untuk tidak merusak tanaman mangrove menjadi terkurangi akibat masyarakat juga menyayangi tanaman mangrove. Tingkat pemahaman terhadap tanaman mangrove sangat mendukung terhadap perubahan sikap, perilaku, kebiasaan dan kesadaran terhadap lingkungan.
Pemahaman ini, tentu bukan sekedar paham dalam arti ilmu biologi seperti struktur tumbuhan mangrove, jenis mangrove, nama-nama latin, sifat-sifat tanaman mangrove, dan sebagainya tetapi faham dalam arti pragmatis juga tidak jadi masalah. Pemahaman bahwa buah mangrove dapat dijadikan bahan produksi yang bernilai ekonomi juga sudah sangat memadai.
Pemahaman terhadap tanaman mangrove diharapkan masyarakat menjadi menyayangi tanaman mangrove, mengetahui bagaimana melakukan penyemaian, melakukan penanaman, pemeliharaan, tahu bahwa kayu mangrove dapat dijadikan bahan bangunan tetapi jangan ditebang habis, paham bahwa tanaman mangrove menghasilkan oksigen yang baik, paham bahwa tanaman mangrove menjaga abrasi oleh gelombang air laut, paham bahwa dengan tanaman mangrove meningkatkan perikanan laut, dan hutan mangrove dapat menjadi objek ekowisata yang bernilai ekonomi secara lebih luas. Akibat pemahaman yang lebih luas dan juga teknis ini masyarakat tebentuk kesadarannya untuk melakukan kegiatan terkait dengan lingkungan. Pada konteks Indramayu, sebenarnya beberapa kalangan masyarakat sudah lebih maju dengan adanya inovasi tehadap tanaman dan buah mangrove. Ia mengatakan bahwa
38
“Kajian tentang mangrove telah lama saya lakukan, bergaul dengan tanaman itu siang malam sudah lima belas tahun. Ternyata mangrove tidak akan habis digali, kami mencoba melakukan inovasi dengan buah mangrove”(AL;Okt 2015).
Pernyataan ini menunjukkan bahwa sebagian kalangan masyarakat sudah memiliki tingkat pengetahuan yang sangat memadai, teknik yang digunakan untuk melakukan transformasi pemahaman, sikap, perilaku dan kebiasaan terhadap kelestarian lingkungan pesisir pantai Indramayu melalui rekayasa tanaman mangrove adalah sangat memadai. Hal ini diungkapkan informan sebagai berikut;
Kajian tentang mangrove telah lama saya lakukan, bergaul dengan tanaman itu siang malam sudah lima belas tahun. Ternyata mangrove tidak akan habis digali, kami mencoba melakukan inovasi dengan buah mangrove jadi kami terus berpikir produk mangrove digali bareng-bareng, tenyata menghasilkan sesuatu yang paling berharga yaitu kebersamaan tanggung jawab. Produk buah mangrove dapat diolah menjadi bahan makanan, minuman dan bahan untuk kesehatan seperti; untuk obat asam urat, lulur, masker, teh, kopi, kecap, sirop dua bidadai, coklat, dodol, dan sebagainya (AL; Nop 2015).