• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Dimensi tanaman

Dimensi tanaman yang diamati pada penelitian ini meliputi: diameter pangkal, diameter setinggi dada, tinggi total, tinggi bebas cabang, tinggi tajuk, panjang tajuk serta lebar tajuk.

Diameter pangkal

Pengaruh jarak tanam dan jenis sorgum terhadap diameter pangkal disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3 Hasil uji Duncan pengaruh jarak tanam dan jenis sorgum terhadap diameter pangkal

Jarak tanam (m) Jenis sorgum Rata-rata diameter pangkal sentang (mm) 2,5 x 2,5 Sweet sorghum 34,93a 2,5 x 2,5 Grain sorghum 33,20a 2,5 x 5 Grain sorghum 33,23a 2,5 x 5 Sweet sorghum 31,83a 2,5 x 5 No sorghum 26,38b 2,5 x 2,5 No sorghum 22,64c

Huruf sama di belakang angka menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5 %

Berdasarkan hasil uji Duncan, diameter pangkal sentang tertinggi ditemukan pada perlakuan sweet sorghum dan grain sorghum pada ke dua jarak tanam.

Diamater setinggi dada (dbh)

Pengaruh jarak tanam dan jenis sorgum terhadap diameter setinggi dada (dbh) disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4 Hasil uji Duncan pengaruh jarak tanam dan jenis sorgum terhadap diameter setinggi dada (dbh)

Jarak tanam (m) Jenis sorgum Rata-rata diameter sentang (mm) 2,5 x 2,5 Sweet sorghum 24,64a 2,5 x 2,5 Grain sorghum 23,29a 2,5 x 5 Grain sorghum 22,85a 2,5 x 5 Sweet sorghum 22,42a 2,5 x 5 No sorghum 17,03b 2,5 x 2,5 No sorghum 14,16c

Huruf sama di belakang angka menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5 %

Berdasarkan hasil uji Duncan, diameter setinggi dada (dbh) sentang tertinggi ditemukan pada perlakuan sweet sorghum dan grain sorghum pada ke dua jarak tanam.

Tinggi total

Pengaruh jarak tanam dan jenis sorgum terhadap tinggi total tanaman sentang disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5 Hasil uji Duncan pengaruh jarak tanam dan jenis sorgum terhadap tinggi total

Jarak tanam (m) Jenis sorgum Rata-rata tinggi total sentang (cm) 2,5 x 2,5 Sweet sorghum 246,00a 2,5 x 2,5 Grain sorghum 239,40a 2,5 x 5 Grain sorghum 233,53a 2,5 x 5 Sweet sorghum 229,36a 2,5 x 5 No sorghum 192,27b 2,5 x 2,5 No sorghum 172,38c

Huruf sama di belakang angka menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5 %

Berdasarkan hasil uji Duncan, tinggi total sentang tertinggi ditemukan pada perlakuan sweet sorghum dan grain sorghum pada ke dua jarak tanam.

Tinggi bebas cabang

Pengaruh jarak tanam dan jenis sorgum terhadap tinggi bebas cabang disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6 Hasil uji Duncan pengaruh jarak tanam dan jenis sorgum terhadap tinggi bebas cabang

Jarak tanam (m) Jenis sorgum Rata-rata tinggi bebas cabang sentang (cm) 2,5 x 2,5 Grain sorghum 142,91a 2,5 x 5 Sweet sorghum 141,73a 2,5 x 2,5 Sweet sorghum 135,04ab 2,5 x 5 Grain sorghum 128,87b 2,5 x 2,5 No sorghum 127,87b 2,5 x 5 No sorghum 127,20b Huruf sama di belakang angka menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5 %

Berdasarkan hasil uji Duncan, tinggi bebas cabang sentang tertinggi ditemukan pada perlakuan grain sorghum pada jarak tanam 2,5 x 2,5 m dan sweet sorghum pada jarak tanam 2,5 x 5 m.

Tinggi tajuk

Pengaruh jarak tanam dan jenis sorgum terhadap tinggi tajuk disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7 Hasil uji Duncan pengaruh jarak tanam dan jenis sorgum terhadap tinggi tajuk

Jarak tanam (m) Jenis sorgum Rata-rata tinggi tajuk sentang (cm) 2,5 x 2,5 Sweet sorghum 110,02a 2,5 x 5 Grain sorghum 104,67a 2,5 x 2,5 Grain sorghum 96,76ab 2,5 x 5 Sweet sorghum 87,62b 2,5 x 5 No sorghum 59,71c 2,5 x 2,5 No sorghum 44,56c Huruf sama di belakang angka menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5 %

Berdasarkan hasil uji Duncan, tinggi tajuk sentang tertinggi ditemukan pada perlakuan sweet sorghum pada jarak tanam 2,5 x 2,5 m dan grain sorghum pada jarak tanam 2,5 x 5 m.

Panjang tajuk

Pengaruh jarak tanam dan jenis sorgum terhadap panjang tajuk disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8 Hasil uji Duncan pengaruh jarak tanam dan jenis sorgum terhadap panjang tajuk

Jarak tanam (m) Jenis sorgum Rata-rata panjang tajuk sentang (cm) 2,5 x 2,5 Sweet sorghum 136,16a 2,5 x 2,5 Grain sorghum 127,16a 2,5 x 5 Grain sorghum 127,16a 2,5 x 5 Sweet sorghum 126,22a 2,5 x 5 No sorghum 104,96b 2,5 x 2,5 No sorghum 93,84c

Huruf sama di belakang angka menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5 %

Berdasarkan hasil uji Duncan, panjang tajuk sentang tertinggi ditemukan pada perlakuan sweet sorghum dan grain sorghum pada ke dua jarak tanam.

Lebar tajuk

Pengaruh jarak tanam dan jenis sorgum terhadap lebar tajuk disajikan pada Tabel 9.

Tabel 9 Hasil uji Duncan pengaruh jarak tanam dan jenis sorgum terhadap lebar tajuk

Jarak tanam (m) Jenis sorgum Rata-rata lebar tajuk sentang (cm) 2,5 x 2,5 Sweet sorghum 146,07a 2,5 x 2,5 Grain sorghum 136,27ab 2,5 x 5 Sweet sorghum 136,20ab 2,5 x 5 Grain sorghum 131,51ab 2,5 x 5 No sorghum 105,82b 2,5 x 2,5 No sorghum 95,20c Huruf sama di belakang angka menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5 %

Berdasarkan hasil uji Duncan, lebar tajuk sentang tertinggi ditemukan pada perlakuan sweet sorghum pada jarak tanam 2,5 x 2,5 m.

Persen penutupan tajuk

Tabel rekapitulasi persen penutupan tajuk disajikan pada Tabel 10. Tabel 10 Tabel rekapitulasi persen penutupan tajuk

A. Blok 1

No Arah Persen penutupan tajuk (%)

1 Utara 10,5 2 Timur 10,3 3 Selatan 31,5 4 Barat 9,3 Rata-rata 15,4 B. Blok 2

No Arah Persen penutupan tajuk (%)

1 Utara 0 2 Timur 39,8 3 Selatan 42,3 4 Barat 22,5 Rata-rata 26,1 C.Blok 3

No Arah Persen penutupan tajuk (%)

1 Utara 18,5 2 Timur 5,3 3 Selatan 9,5 4 Barat 36,0 Rata-rata 17,3 4.1.2 Sistem perakaran

Sistem perakaran yang diamati pada penelitian ini meliputi panjang akar horisontal searah larikan, kedalaman akar searah larikan, panjang akar horisontal tegak lurus larikan serta kedalaman akar tegak lurus larikan.

Panjang akar horisontal searah larikan

Adapun rata-rata panjang akar horisontal searah larikan disajikan pada Tabel 11.

Tabel 11 Rata-rata panjang akar horisontal searah larikan pada setiap perlakuan Jarak tanam (m) Jenis sorgum Panjang akar horisontal searah larikan

sentang (cm) 2,5 x 5 Sweet sorghum 73,90 2,5 x 2,5 Sweet sorghum 73,35 2,5 x 2,5 Grain sorghum 64,05 2,5 x 5 Grain sorghum 63,65 2,5 x 5 No sorghum 53,35 2,5 x 2,5 No sorghum 51,00 Berdasarkan Tabel 11, panjang akar horisontal searah larikan sentang terpendek ditemukan pada perlakuan no sorghum pada jarak tanam 2,5 x 2,5 m, yaitu sebesar 51,00 cm.

Kedalaman akar searah larikan

Adapun rata-rata kedalaman akar searah larikan disajikan pada Tabel 12. Tabel 12 Rata-rata kedalaman akar searah larikan pada setiap perlakuan

Jarak tanam (m) Jenis sorgum Kedalaman akar searah larikan sentang (cm) 2,5 x 2,5 Sweet sorghum 17,35 2,5 x 5 Grain sorghum 16,85 2,5 x 2,5 No sorghum 16,80 2,5 x 5 Sweet sorghum 16,75 2,5 x 2,5 Grain sorghum 15,05 2,5 x 5 No sorghum 12,85

Berdasarkan Tabel 12, kedalaman akar searah larikan sentang terdalam ditemukan pada perlakuan sweet sorghum pada jarak tanam 2,5 x 2,5 m, yaitu sebesar 17,35 cm.

Panjang akar horisontal tegak lurus larikan

Pengaruh jarak tanam dan jenis sorgum terhadap panjang akar horisontal tegak lurus larikan sentang disajikan pada Tabel 13.

Tabel 13 Hasil uji Duncan pengaruh jarak tanam dan jenis sorgum terhadap panjang akar horisontal tegak lurus larikan

Jarak tanam (m) Jenis sorgum

Panjang akar horisontal tegak lurus larikan sentang (cm) 2,5 x 2,5 Sweet sorghum 91,09a 2,5 x 5 Grain sorghum 69,27b 2,5 x 5 Sweet sorghum 68,50b 2,5 x 2,5 Grain sorghum 65,14b 2,5 x 2,5 No sorghum 53,50bc 2,5 x 5 No sorghum 46,55c Huruf sama di belakang angka menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5 %

Berdasarkan hasil uji Duncan, panjang akar horisontal tegak lurus larikan sentang terpendek ditemukan pada perlakuan no sorghum pada jarak tanam 2,5 x 2,5 m.

Kedalaman akar tegak lurus larikan

Adapun rata-rata kedalaman akar tegak lurus larikan disajikan pada Tabel 14.

Tabel 14 Rata-rata kedalaman akar tegak lurus larikan pada setiap perlakuan Jarak tanam (m) Jenis sorgum Kedalaman akar tegak lurus

larikan sentang (cm) 2,5 x 5 Grain sorghum 16,18 2,5 x 2,5 Sweet sorghum 15,86 2,5 x 5 Sweet sorghum 15,32 2,5 x 2,5 Grain sorghum 14,23 2,5 x 2,5 No sorghum 11,82 2,5 x 5 No sorghum 11,46

Berdasarkan Tabel 14, kedalaman akar tegak lurus larikan sentang terdalam ditemukan pada perlakuan grain sorghum pada jarak tanam 2,5 x 5 m sebesar 16,18 cm.

4.2 Pembahasan

4.2.1 Dimensi tanaman

Kombinasi antara tanaman berkayu dan tanaman tidak berkayu menyebabkan adanya interaksi dan kompetisi. Interaksi yang positif pada pola agroforestri akan menghasilkan peningkatan produksi dari semua komponen tanaman yang ada pada pola tersebut, akan tetapi apabila bentuk interaksi yang terjadi adalah negatif maka peningkatan produksi salah satu jenis tanaman akan menyebabkan penurunan produksi tanaman yang lain (Hairiah et al. 2002). Untuk meminimalisir dampak dari kompetisi yang dihasilkan dapat dilakukan

pengelolaan lahan agroforestri seperti pengaturan jarak tanam, pengaturan pola tanam serta pemilihan tanaman semusim.

Jenis tanaman berkayu yang digunakan dalam penelitian ini adalah sentang. Variabel dimensi tanaman yang diamati dalam penelitian ini adalah diameter pangkal, diameter setinggi dada (dbh), tinggi total, tinggi bebas cabang, tinggi tajuk, panjang tajuk serta lebar tajuk. Semua variabel dimensi tanaman dipengaruhi oleh interaksi antara jarak tanam dan jenis sorgum. Hasil uji Duncan dari perlakuan jarak tanam dan jenis sorgum menunjukkan bahwa perlakuan yang terbaik untuk dimensi tanaman ditemukan pada perlakuan sweet sorghum dan grain sorghum pada ke dua jarak tanam. Tanaman sentang yang tidak ditumpangsarikan dengan sorgum (no sorghum) pada jarak tanam 2,5 x 2,5 m memiliki nilai rata-rata dimensi tanaman yang paling rendah dibandingkan dengan kelima perlakuan lainnya.

Hal yang diduga mempengaruhi pertumbuhan dimensi pada ke dua perlakuan tersebut karena pada saat awal penanaman, perlakuan sweet sorghum dan grain sorghum diberikan pupuk sedangkan no sorghum tidak diberi pupuk. Sentang yang diberikan pupuk pertumbuhannya akan lebih cepat dibandingkan dengan sentang yang tidak diberi pupuk. Selain itu, plot sentang yang tidak ditumpangsarikan dengan sorgum (no sorghum) ditumbuhi alang-alang, sehingga terjadi kompetisi antara sentang dengan alang-alang dalam memperoleh cahaya, nutrisi maupun hara. Faktor lain yang mempengaruhi adalah topografi yang lebih curam di plot dengan perlakuan no sorghum yang berlokasi di ujung setiap blok, sehingga tingkat kerentanan erosinya besar yang mengakibatkan mudahnya hara tercuci oleh air hujan.

Simorangkir (2000) menyatakan bahwa pengaruh cahaya terhadap pembesaran sel dan diferensiasi sel berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi, ukuran daun serta batang. Tinggi tanaman lebih cepat naik di tempat teduh sementara diameter tanaman lebih cepat naik di tempat tanpa naungan. Pertumbuhan tanaman pada jarak tanam yang rapat dan tajuknya tidak saling bersinggungan lebih cepat dibandingkan dengan jarak tanam yang lebar. Hal ini karena cahaya matahari tidak langsung menyentuh tanah dan penguapan yang terjadi pada tanah tersebut lebih sedikit, sehingga kadar air pada tanah tersebut

tinggi. Kondisi kadar air yang cukup tinggi ini mendukung tanaman dalam kegiatan fotosintesis sehingga aktifitas tanaman untuk tumbuh dan bereproduksi lebih baik.

Berdasarkan hasil uji Duncan, perlakuan yang terbaik untuk variabel panjang tajuk dan lebar tajuk adalah sweet sorghum pada jarak tanam 2,5 x 2,5 m. Pertambahan luas tajuk berbanding lurus dengan diameter dan tinggi tanaman. Bertambahnya luas tajuk akan mengakibatkan cahaya yang jatuh ke permukaan tanah berkurang. Ukuran tajuk dapat dimanfaatkan untuk menentukan kompetisi antar tanaman. Kompetisi ruang untuk mendapatkan unsur hara dan cahaya akan berpengaruh pada bentuk dan luas tajuk. Kekuatan tanaman untuk bersaing memperebutkan sumberdaya lingkungan diasumsikan sama dengan ukuran pohon itu sendiri. Tanaman yang mempunyai ukuran yang lebih besar, tajuk yang luas dan akar yang lebih banyak, diduga lebih mampu memperebutkan faktor lingkungan seperti cahaya, unsur hara dan air (Raharjo dan Sadono 2008).

Hairiah et al. (2002) mengatakan bahwa persen penutupan tajuk diukur untuk menduga besarnya jumlah radiasi sinar matahari yang menembus sampai ke tanah. Pengaruh dari radiasi matahari pada pertumbuhan tanaman dapat dilihat sangat jelas pada tanaman yang tumbuh di bawah naungan. Pertumbuhan tanaman di bawah naungan semakin terhambat bila tingkat naungan semakin tinggi. Besar atau kecilnya ukuran tajuk biasa digunakan untuk menduga besarnya laju fotosintesis dan respirasi yang terjadi pada tanaman. Hasil fotosintesis ini sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman untuk membuat makanan yang penting untuk pertumbuhan. Semakin baik proses fotosintesis semakin baik pula pertumbuhan tanaman (Omon dan Adman 2007).

Berdasarkan hasil dari Tabel 9, blok yang paling besar nilai rata-rata persen penutupan tajuknya adalah blok 2. Hal ini karena pertumbuhan sentang di blok 2 yang paling baik daripada di blok 1 dan 3 sehingga penutupan tajuknya juga yang paling besar. Persen penutupan tajuk sentang diblok 1, 2 dan 3 berturut- turut adalah 15,4%, 26,1% dan 17,3%. Kelas kerapatan tajuk pada ketiga blok tergolong jarang karena terdapat kurang dari 40% penutupan tajuk. Tanaman sela yang digunakan pada penelitian ini adalah sorgum, dimana sorgum merupakan jenis tanaman C-4. Tanaman C-4 adalah tanaman yang tumbuh di daerah panas

dan membutuhkan cahaya matahari penuh. Kerapatan tajuk yang masih tergolong jarang tersebut membuat tanaman selanya dapat berkembang dengan baik karena cahaya yang dibutuhkan untuk proses fotosintesis dapat diperoleh secara penuh.

4.2.2 Sistem perakaran

Berdasarkan Mahendra (2009) bagi tanaman, akar adalah salah satu faktor penting bagi pertumbuhan, tanpa akar proses fotosintesis untuk memproduksi karbohidrat dan energi tidak akan bisa berjalan. Adapun fungsi akar bagi tanaman yaitu membantu tumbuhan agar dapat berdiri kokoh di dalam tanah, menyerap air dari tanah serta menyerap unsur hara dari tanah.

Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah panjang akar horisontal searah larikan, kedalaman akar searah larikan, panjang akar horisontal tegak lurus larikan serta kedalaman akar tegak lurus larikan. Semua variabel sistem perakaran tidak dipengaruhi oleh interaksi antara jarak tanam dan jenis sorgum, kecuali panjang akar horisontal tegak lurus larikan. Panjang akar horisontal searah larikan terpendek ditemukan pada pelakuan no sorghum pada jarak tanam 2,5 x 2,5 m sedangkan untuk kedalaman akar searah larikan yang terdalam ditemukan pada perlakuan sweet sorghum pada jarak tanam 2,5 x 2,5 m. Panjang akar horisontal tegak lurus larikan terpendek ditemukan pada perlakuan no sorghum pada jarak tanam 2,5 x 5 m sedangkan untuk kedalaman akar tegak lurus larikan terdalam ditemukan pada perlakuan grain sorghum pada jarak tanam 2,5 x 5 m.

Panjang akar yang paling pendek ditemukan pada perlakuan no sorghum, dimana perlakuan ini merupakan perlakuan yang memiliki rata-rata nilai paling kecil untuk semua variabel baik dimensi tanaman maupun sistem perakaran. Sistem perakaran sweet sorghum dan grain sorghum lebih baik daripada no sorghum karena pengelolaan tanah diawal, yaitu pemberian pupuk kepada perlakuan sweet sorghum dan grain sorghum. Unsur-unsur yang terkandung di dalam pupuk membantu akar dalam mengambil hara dari dalam tanah.

Panjang akar yang pendek memungkinkan akar antara tanaman tidak saling tumpang tindih sehingga kompetisi antara sentang dan sorgum kecil. Selain panjang akar, kedalaman juga berpengaruh terhadap pertumbuhan. Kedalaman akar yang paling dalam ditemukan pada perlakuan sweet sorghum pada jarak tanam 2,5 x 2,5 m dan grain sorghum pada jarak tanam 2,5 x 5 m. Kedalaman

perakaran sangat berpengaruh pada porsi air yang dapat diserap. Makin panjang dan dalam akar menembus tanah makin banyak air yang dapat diserap bila dibandingkan dengan perakaran yang pendek dan dangkal dalam waktu yang sama (Jumin 1989). Pada tanah yang dalam, aerasinya baik, tanaman sorgum dapat tumbuh sampai kedalaman 2 m dan penyebaran kearah horisontal lebih dari 1 m (Kramer 1977).

Perkembangan perakaran berhubungan erat dengan kesuburan tanah. Dampak nutrisi terhadap perkembangan akar terlihat dalam perkembangan optimal perakaran di lapisan atas, lapisan tanah yang paling subur, dan juga dalam peningkatan perkembangan akar di sekitar penempatan pupuk (Daniel et al. 1987). Tekstur tanah di lokasi penelitian adalah lempung berliat. Salah satu indikator kesuburan tanah adalah pH, kandungan N dan K serta Kapasitas Tukar Kation (KTK). pH di di lokasi penelitian termasuk kategori sangat masam, kandungan N dan K termasuk kategori sangat rendah. KTK di blok 1 dan blok 2 termasuk kategori tinggi sedangkan di blok 3 termasuk kategori rendah. Secara umum, tanah di lokasi penelitian miskin hara sehingga perlu dilakukan kegiatan pengelolaan tanah untuk meningkatkan pH dan bahan organik tanah. Salah satu pengelolaan tanah yaitu dengan pengapuran dan pemupukan secara rutin.

Faktor lain yang mempengaruhi sistem perakaran adalah bentuk tajuk dari tanaman pokoknya. Sentang yang memiliki tajuk kerucut sesuai dengan perakarannya yang tidak terlalu dalam. Banyaknya akar mempengaruhi pertumbuhan tajuk sedangkan sebaran tajuk menentukan kedalaman dan luas sebaran perakaran tanaman. Pada pola tanam tumpang sari, jarak tanam menjadi hal yang sangat penting, karena jarak tanam berkaitan dengan ketersediaan cahaya matahari yang dapat menembus kanopi tanaman utama dan ketersediaan ruang untuk perakaran (Sukandi et al. 2002).

Pengaturan sifat-sifat perakaran sangat perlu untuk menghindari persaingan unsur hara, air yang berasal dari dalam tanah. Sistem perakaran yang dalam ditumpang sarikan dengan tanaman yang berakar dangkal. Tanaman monokotil yang pada umumnya mempunyai sistem perakaran yang dangkal, sedangkan tanaman dikotil pada umumnya mempunyai sistem perakaran yang dalam, karena memiliki akar tunggang.

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Tanaman sentang yang ditumpangsarikan dengan sweet sorghum dan grain sorghum pada ke dua jarak tanam memiliki dimensi tanaman yang paling baik. 2. Interaksi antara jarak tanam dan jenis sorgum tidak berpengaruh nyata pada sistem perakaran, kecuali pada variabel panjang akar horisontal tegak lurus larikan.

3. Sistem agroforestri memberikan pengaruh positif untuk pertumbuhan sentang, karena sentang yang ditumpangsarikan dengan sorgum memiliki nilai dimensi tanaman yang lebih tinggi dibandingkan dengan sentang yang tidak ditumpangsarikan dengan sorgum.

5.2 Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai pertumbuhan sentang.

2. Perlu dilakukan penelitian mengenai sentang dengan tanaman kombinasi selain sorgum.

3. Perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh sentang terhadap produktivitas sorgum.

4. Perlu dilakukan penelitian mengenai arsitektur sistem perakaran sentang dan sorgum

DAFTAR PUSTAKA

Andayani W. 2005. Ekonomi Agroforestri. Yogyakarta: Debut Press.

Daniel TW, Helms JA, Baker FS. 1987. Prinsip-Prinsip Silvikultur. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

De Foresta H, Michon G. 1997. The Agroforest alternative to Imperata Grassland: When Smallholder Agriculture and Forestry Reach Sustainability. Agroforestry Systems 36:105−120.

De Foresta H, Kusworo A, Michon G, Djatmiko WA. 2000. Ketika Kebun Berupa Hutan - Agroforest Khas Indonesia - Sebuah Sumbangan Masyarakat. Bogor: ICRAF.

Florido, Mesa. 2001. Marango: Azadirachta excelsa (Jack) Linn. Research Information Series on Ecosystem Vol. 13 No.3.

Hairiah K, Widianto, Utami SR, Lusiana B. 2002. Wanulcas: Model Simulasi untuk Sistem Agroforestri. Bogor: International Centre for Research in Agroforestry.

Jumin HB. 1989. Ekologi Tanaman Suatu Pendekatan Fisiologis. Jakarta: CV. Rajawali.

Joker D. 2000. Azadirachta excelsa (Jack) M. Jacobs. Seed leaflet No. 13 (September 2000). Denmark: Danida Forest seed Centre.

Joker D. 2002. Informasi Singkat Benih No. 18 Azadirachta excelca (Jack) M. Jacobs [seed leaflet]. Bandung: Indonesia Forest Seed Project.

Kramer PJ. 1977. Plant and Social Water Relationship. London: Mc.Graw Hill Book Co.

Mahendra F. 2009. Sistem Agroforestri dan Aplikasinya. Yogyakarta: GrahaIlmu.

Mattjik AA, Sumertajaya IM. 2006. Perancangan Percobaan dengan Aplikasi SAS dan Minitab. Bogor: IPB Press.

Nair PKR, editor.1989. Agroforestry Systems in the Tropics. The Netherlands: Kluwer Academic Publishers/ICRAF.

Omon RM, Adman B. 2007. Pengaruh jarak tanam dan teknik pemeliharaan terhadap pertumbuhan kenuar (Shorea johorensis Foxw.) di hutan semak belukar wanariset samboja, Kalimantan timur. J Penelitian Dipterokarpa 1(1): 47−54.

Pramono AA. 2001. Bertanam sentang (Azadirachta excelsa), jenis lokal yang potensial namun kurang dikenal. Duta Rimba 7:375-376.

Prawira SA, Oetja, editor. 1978. Pengenalan Jenis-jenis Tanaman Ekspor Serie ke VIII. Bogor: Lembaga Penelitian Hutan.

Raharjo JT, Sadono R. 2008. Model tajuk jati (Tectona grandis) dari berbagai famili pada uji keturunan umur 9 tahun. J Ilmu Kehutanan 2(2):89−95. Simorangkir. 2000. Analisis Riap Dryobalanopslanceolata Burck pada Jalur yang

Berbeda di Hutan Koleksi Universitas Mulawarman Lempake. Kalimantan Timur: Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai.

Sukandi T, Sumarhani, Murniati. 2002. Informasi Teknis Pola Wanatani (Agroforestri). Bogor: Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bogor.

Supriyanto dan Irawan U.S. 2001. Teknik Pengukuran Penutupan Tajuk dan Pembukaan Tajuk Tegakan dengan Menggunakan Spherical Densiometer. Bogor: Laboratorium Silvikultur SEAMEO-BIOTROP.

Wiersum. 1982. Tree gardening and taungya on Java Examples of agroforestry techniques in the humid tropics. Agroforestry Systems 1:53−70.

Winarto B. 2006. Kamus Rimbawan. Jakarta: Yayasan Bumi Indonesia Hijau.

Zuhaidi YA, Noor MM. 2000. A manual for forest plantation establishment in Malaysia. Malayan Forest Records 45:199−204.

Lampiran 1 Pengolahan data diameter pangkal

Source DF Type III SS Mean Square F Value Pr > F Keterangan

F1 1 0.340623 0.340623 0.01 0.9386 F2 2 4850.905550 2425.452775 42.27 <.0001 F1*F2 2 546.596110 273.298055 4.76 0.0093 Significant Blok 2 763.939694 381.969847 6.66 0.0015 Error 262 15033.11517 57.37830 Total 269 21194.89715

Duncan Grouping Mean N SP

A 34.925 45 aSS A 34.058 45 aGS A 33.203 45 bGS A 31.828 45 bSS B 26.384 45 bTS C 22.645 45 aTS

Lampiran 2 Pengolahan data diameter setinggi dada (dbh)

Source DF Type III SS Mean Square F Value Pr > F Keterangan

F1 1 0.332151 0.332151 0.01 0.9270 F2 2 3566.411481 1783.205740 45.15 <.0001 F1*F2 2 300.812303 150.406151 3.81 0.0234 Significant Blok 2 213.499414 106.749707 2.70 0.0689 Error 262 10346.77350 39.49150 Total 269 14427.82885

Duncan Grouping Mean N SP A 24.642 45 aSS A 23.290 45 aGS A 22.850 45 bGS A 22.416 45 bSS B 17.043 45 bTS C 14.164 45 aTS

Lampiran 3 Pengolahan data tinggi total

Source DF Type III SS Mean Square F Value Pr > F Keterangan

F1 1 51.5704 51.5704 0.03 0.8704 F2 2 179919.7556 89959.8778 46.50 <.0001 F1*F2 2 15856.4519 7928.2259 4.10 0.0177 Significant blok 2 5799.2667 2899.6333 1.50 0.2253 Error 262 506826.4222 1934.4520 Total 269 708453.4667

Duncan Grouping Mean N SP

A 246.000 45 aSS A 239.400 45 aGS A 233.533 45 bGS A 229.356 45 bSS B 192.267 45 bTS C 172.378 45 aTS

Lampiran 4 Pengolahan data tinggi bebas cabang

Source DF Type III SS Mean Square F Value Pr > F Keterangan

F1 1 482.670370 482.670370 0.58 0.4455 F2 2 5817.251852 2908.625926 3.52 0.0310 F1*F2 2 4972.051852 2486.025926 3.01 0.0511 Significant Blok 2 1382.140741 691.070370 0.84 0.4346 Error 262 216577.8148 826.6329 Total 269 229231.9296

Duncan Grouping Mean N SP

A 142.911 45 aGS A 141.733 45 bSS B A 135.044 45 aSS B 128.867 45 bGS B 127.867 45 aTS B 127.200 45 bTS

Lampiran 5 Pengolahan data tinggi tajuk

Source DF Type III SS Mean Square F Value Pr > F Keterangan

F1 1 3.3333 3.3333 0.00 0.9613 F2 2 136296.6222 68148.3111 48.32 <.0001 F1*F2 2 17862.4889 8931.2444 6.33 0.0021 Significant Blok 2 11670.4889 5835.2444 4.14 0.0170 Error 262 369503.7333 1410.3196 Total 269 535336.6667

Duncan Grouping Mean N SP A 110.022 45 aSS A 104.667 45 bGS B A 96.756 45 aGS B 87.622 45 bSS C 59.711 45 bTS C 44.556 45 aTS

Lampiran 6 Pengolahan data panjang tajuk

Source DF Type III SS Mean Square F Value Pr > F Keterangan

F1 1 10.40370 10.40370 0.01 0.9031 F2 2 53915.16296 26957.58148 38.52 <.0001 F1*F2 2 4987.47407 2493.73704 3.56 0.0297 Significant Blok 2 3613.11852 1806.55926 2.58 0.0776 Error 262 183364.2148 699.8634 Total 269 245890.3741

Duncan Grouping Mean N SP

A 136.156 45 aSS A 127.156 45 aGS A 127.156 45 bGS A 126.222 45 bSS B 104.956 45 bTS C 93.844 45 aTS

Lampiran 7 Pengolahan data lebar tajuk

Source DF Type I SS Mean Square F Value Pr > F Keterangan

F1 1 112.13333 112.13333 0.12 0.7290 F2 2 82433.88889 41216.94444 44.22 <.0001 F1*F2 2 7193.62222 3596.81111 3.86 0.0223 Significant Blok 2 32736.35556 16368.17778 17.56 <.0001 Error 262 244219.4667 932.1354 Total 269 366695.4667

Duncan Grouping Mean N SP

A 146.067 45 aSS B A 136.267 45 bGS B A 136.200 45 aGS B 131.511 45 bSS C 105.822 45 bTS C 95.200 45 aTS

Lampiran 8 Pengolahan data panjang akar horisontal searah larikan

Source DF Type III SS Mean Square F Value Pr > F Keterangan

F1 1 20.833333 20.833333 0.06 0.8111 F2 2 9226.116667 4613.058333 12.71 <.0001 F1*F2 2 39.016667 19.508333 0.05 0.9477 Not Significant blok 2 5102.915278 2551.457639 7.03 0.0013 Error 112 40661.48472 363.04897 Total 119 55050.36667

Duncan Grouping Mean N SP A 73.900 20 bSS A 73.350 20 aSS B A 64.050 20 aGS B A 63.650 20 bGS B C 53.350 20 bTS C 51.000 20 aTS

Lampiran 9 Pengolahan data kedalaman akar searah larikan

Source DF Type III SS Mean Square F Value Pr > F Keterangan

F1 1 25.2083333 25.2083333 0.61 0.4374 F2 2 99.0166667 49.5083333 1.19 0.3071 F1*F2 2 166.8166667 83.4083333 2.01 0.1388 Not significant blok 2 421.9250000 210.9625000 5.08 0.0077 Error 112 4647.625000 41.496652 Total 119 5360.591667

Duncan Grouping Mean N SP

A 17.350 20 aSS A 16.850 20 bGS A 16.800 20 aTS A 16.750 20 bSS A 15.050 20 aGS A 12.850 20 bTS

Lampiran 10 Pengolahan data panjang akar horisontal tegak lurus larikan

Dokumen terkait