• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dimensi Teologis dalam Kepemimpinan dan Manajemen Pendidikan

A. Hubungan Penelitian dengan Penelitian Sebelumnya yang Relevan

6. Dimensi Teologis dalam Kepemimpinan dan Manajemen Pendidikan

Tinggi Islam

Keunikan konsep kepemimpinan dan manajemen proses pendidikan tinggi Islam, hanya pada aspek teologisnya. Hal ini disebabkan oleh karena kepemimpinan dan manajemen merupakan sebuah proses untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yang mana kepemimpinan dan manajemen tersebut

119

Ibid., h. 5.

merupakan faktor terpenting yang menentukan out put lembaga pendidikan tinggi Islam. Sementara itu filosofi pendidikan tinggi Islam serta konsep kepemimpinan dan manajemennya bertolak dari al-Qur`an. Inti ajaran al-Qur`an adalah tauhid yang diharapkan mewujud pada perilaku akhlak yang mulia dalam praktik kehidupan. Kepemimpinan dan manajemen perlu ditinjau dalam perspektif tersebut, agar implementasi kepemimpinan dan manajemen pendidikan tinggi Islam berkorelasi dengan konsep pendidikan tinggi Islam, yakni bertolak dari al-Qur`an yang intinya adalah tauhid sebagai inti kajian teologis (baca: teologi Islam).

Islam terbuka dalam arti dapat mengadopsi sistem manajemen pendidikan tinggi dari mana pun sumbernya, sepanjang sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Meski demikian oleh karena konsep pendidikan Islam berdimensi dunia akhirat,121 maka konsep kepemimpinan dan manajemen harus relevan dengan konsep pendidikan tinggi Islam yang berdimensi dunia akhirat tersebut. Di sinilah letak urgensi konsep kepemimpinan dan manajemen dalam perspektif teologi

Islam yang terfokus pada “tauhid” dirumuskan, kemudian diimplementasikan

dalam praktik kepemimpinan dan pengelolaan pendidikan tinggi Islam. Jadi dalam memimpin dan mengelola sebuah lembaga pendidikan tinggi Islam, bertolak dari filosofi pendidikan dan filosofi kepemimpinan yang berlandaskan al-Qur`an yang

terfokus pada “tauhid” tersebut.

Untuk memahami dimensi teologis perspektif manajemen, maka konsep Islam tentang dunia dan akhirat perlu diperjelas. Doa yang diajarkan dalam

Qur`an yang menegaskan bahwa “Ya Allah berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat”. Doa ini menunjukkan bahwa tidak ada dikotomi antara

kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat. Jadi kepemimpinan dan manajemen,

baik kearifan, seni, maupun sebagai ilmu, jika dilihat dalam perspektif “teologis-quranik”, maka pola konsep kepemimpinan dan manajemen dalam perspektif

teologi Islam idealnya mengacu pada tampilan bagan 2.10.122

Bagan 2.10: Pola Konsep Kepemimpinan dan

Manajemen dalam Perspektif “Teologis-Quranik”

Pada bagan tersebut di atas terlihat aqidah (akidah tauhid) merupakan intinya yang diwujudkan pada aspek akhlâq al-karîmah dituntun oleh

syari’ah/ijtihad dijabarkan dalam bentuk kepemimpinan dan manajemen.

Aqidah adalah wilayah teologi, akhlak adalah wilayah sikap, tutur bahasa, dan tindakan nyata, sekaligus aktualisasi dari aqidah (baca: teologi Islam), sementara syari’ah dan atau ijtihad adalah standar yang menentukan apakah akidah itu sudah sesuai sebagaimana ditentukan al-Qur`an atau tidak. Terakhir

122Bandingkan Thahir Azhari, “Penelitian Agama Islam: Tinjauan Ilmu Hukum” dalam

Mastuhu dan Dede Ridwan (ed.), Tradisi Baru Penelitian Agama Islam, Tinjauan Antardisiplin (Bandung: Nuansa Kerjasama Puslat, 1998), h.84.

aqidah akhlak

Syari’ah dan atau ijtihad

kepemimpinan dan manajemen adalah implementasi dari syari’ah dan atau ijtihad

secara utuh.

Menurut Naceur Jabnoun bahwa efektif tidaknya sebuah kepemimpinan dan manajemen ataupun organisasi sangat ditentukan oleh faktor budaya.123 Jabnoun memandang bahwa akidah ketauhidan itu adalah esensi sebuah

kebudayaan, sebagaimana ia kemukakan sebagai berikut “In fact, this component

of unity of God is the essence of a culture.”124 (secara faktual, faktor keesaan Tuhan adalah esensi dari sebuah budaya). Konsep keesaan Tuhan menurut

al-Qur`an disebut dengan istilah tauhid. “Tauhid means full comitmen to Allah but

non but Allah”125 (tauhid adalah komitmen sungguh-sungguh kepada Allah dan sama sekali tidak ada yang lain selain Allah). Faktor kultur organisasi yang berbasis teologis atau ketauhidan, merupakan faktor yang sangat penting sebab faktor-faktor ini menentukan efektif tidaknya sebuah organisasi, khususnya organisasi yang berbasis atau bernafaskan Islam. Kultur tersebut telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dalam praktek kepemimpinannya untuk dijadikan suri teladan dalam memimpin sebuah lembaga yang berbasis aqidah Islam (baca: aqidah tauhid).

Effendy dalam Mulyono mengemukakan bahwa manajemen sebagai ilmu dan teknik untuk mengurus atau mengelola dalam perspektif teologi Islam tidak lepas dari fungsi-fungsi dan kewajiban manusia yang telah ditetapkan Allah, antara lain: (1) fungsi manusia sebagai khalifah, (2) kewajiban manusia

123Naceur Jabnoun, Islam and Management (Saudi Arabia: International Islamic Publishing House (IIPH), 2008), h. 34.

124Ibid., h. 37. Perlu segera dicatat bahwa aqidah bukanlah budaya akan tetapi budaya

yang Islami harus berbasis aqidah tauhid serta humanis.

pengemban amanah Allah, (3) perjanjian manusia dengan penciptanya, dan (4) hakikat eksistensi manusia di muka bumi. Sementara prinsip dan teknik manajemen menurut perspektif teologi Islam adalah, pertama, prinsip amar

ma’rûf nahîy munkar yang maknanya setiap orang berkewajiban menegakkan

kemaslahatan dan berusaha meninggalkan kejahatan. Kedua, kewajiban menegakkan kebenaran. Ketiga, menegakkan keadilan. Adil dalam menimbang, bertindak, dan adil dalam menghukum. Keempat, keadilan menyampaikan amanah. Dalam lingkup Perguruan Tinggi, baik pimpinan puncak (top manager), pimpinan menengah (middle manager) maupun dosen dan karyawan (operative manager), semuanya adalah pemegang amanah yang wajib ditunaikan atau disampaikan kepada orang-orang yang berhak.126

Jadi letak keunikan kepemimpinan dan manajemen dalam perspektif teologi tersebut, di antaranya adalah bahwa kepemimpinan adalah amanah dari Allah swt., yang sejak awal mula manusia diciptakan, ia mendapatkan amanah

dari Sang Pencipta sebagai “khalifah” di dunia ini.127Berikut ini dikutip pendapat M. Quraish Shihab:

Perlu dicatat bahwa kata … khalifah pada mulanya berarti yang

menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Atas dasar inilah ada yang memahami kata khalifah di sini dalam arti menggantikan Allah swt. dalam menegakkan kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya, tetapi bukan karena Allah tidak mampu atau menjadikan kedudukan sebagai Tuhan, namun karena Allah bermakskud menguji manusia dan memberi penghormatan...

Betapapun, ayat ini menunjukkan bahwa kekhalifahan terdiri dari wewenang yang dianugerahkan oleh Alah swt., makhluk yang diserahi tugas, yakni Adam as. dan anak cucunya, serta wilayah tempat bertugas yakni bumi yang terhampar ini.

126

Mulyono, op.cit., h. 30-31.

Jika demikian, kekhalifahan mengharuskan makhluk yang diberi tugas itu melaksanakan tugasnya sesuai petunjuk Allah yang memberinya tugas dan wewenang. Kebijakan yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya adalah pelanggaran terhadap makna dan tugas kekhalifahan.128

Berdasarkan wewenang yang diberikan oleh Allah swt. untuk menjalankan tugas kekhalifahan di muka bumi, secara filosofis khalifah di sini mengandung makna kepemimpinan dan manajemen dalam arti luas. Setidaknya ada dua fungsi utama umat manusia menurut al-Qur`an, yang merupakan amanah dari Allah swt., yaitu pertama sebagai khalifah129 dan kedua sebagai hamba Allah swt.130 Keduanya itu diharapkan mewujud pada praktik hidup dan kehidupan dalam segala aspeknya.

Khalifah berarti penguasa131 atau pemimpin sebab penguasa itu memiliki kewenangan terhadap apa yang dikuasainya itu. Presiden misalnya, sebagai seorang kepala negara adalah penguasa dalam negara yang dipimpinnya, dan sebagai penguasa memiliki kewenangan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku dalam negara yang dipimpinnya itu dan ia disebut sebagai

“pemimpin.” Kewenangan yang diperolehnya bersumber dari pemberi wewenang

yaitu rakyat. Tetapi khalifah dalam arti pemimpin, kewenangannya bersumber dari Allah swt. sehingga khalifah sebagai pemimpin dalam arti khalifah dalam tataran ideal, hanya bersifat normatif,132 dalam arti bahwa ia akan mempertanggung jawabkan kepemimpinannya itu kepada Allah swt. di akhirat

128

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur`an,vol. 1 (Cet.IV; Ciputat, Tangerang: Lentera Hati, 2005), h.142.

129Q.S. Al-A’raaf (7) :129; Q.S. An-Nur (24): 55.

130Q.S. Az-Zariyaat (51): 56.

131

M. Quraish Shihab, Tafsiral-Misbah, vol.5, h.217 dan vol.9, op.cit., h.388.

kelak,133 namun secara praktikal di dunia ini juga dituntut agar setiap pemimpin dapat mempertanggung jawabkan kepemimpinannya sebagai amanah baik yang bersumber dari Allah swt. maupun sebagai amanah dari masyarakat yang dipimpinnya.

Dalam konteks kontemporer dan ke-Indonesiaan,134 konsep kepemimpinan yang berkaitan dengan kepemimpinan dalam perspektif teologis diterjemahkan secara operasional oleh Bacharuddin Yusuf Habibi melalui filsafat dasar ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) menjadi lima prinsip. Di antaranya ada empat prinsip sangat relevan, yaitu: pertama, kualitas berpikir. Kedua, Kualitas bekerja. Kualitas berpikir dan kualitas bekerja sangat erat kaitannya. Orang yang bekerja itu berpikir dan melaksanakan pekerjaan sesuai peraturan yang berlaku. Ketiga, meningkatkan kualitas berkarya. Orang yang berkarya mengembangkan pemikiran-pemikiran baru. Kalau perlu merubah peraturan-peraturan yang berlaku untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia itu sendiri. Jadi manusia dapat meningkatkan kualitasnya sepanjang masa. Sementara itu orang yang bekerja, hanya melaksanakan aturan-aturan yang berlaku. Keempat, meningkatkan kualitas iman dan takwa (imtak) sekaligus meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia sepanjang masa tidak boleh berhenti meningkatkan kualitas imtak dan seimbang kualitas Ipteknya.135

133

Kepemimpinan sebagai amanah dari Allah swt. secara teologis harus dipertanggung

-jawabkan. Dalam lafal sebuah hadis antara lain berbunyi “... al-imâmu râ’ing wa hua masûlun ‘an ra’iyyahtihî,” maksudnya adalah bahwa pemimpin sebuah institusi atau lembaga akan

mempertanggungjawabkan kepemimpinannya itu dihadapan Allah swt. di akhirat kelak. Al Imam

Aby ‘Adillah Muhammad Ibn Ismail Ibn Irahim bin al Mugirah al Bukhary, al

Ju’fy’shahihBukhāriy (Juz I; Beirut Lebanon, Dār al-Kutub al Iliyah, t.th.), h. 268.

134Maksudnya ialah bahwa konsep ini digagas oleh salah seorang cendekiawan Muslim Indonesia di era kontemporer.

Inti dari gagasan Habibie dapat dilihat dalam konteks kekinian dinyatakan sebagai berikut:

Yang dihadapi sekarang adalah dominasi dari Iptek atas beban

pengorbanan Imtak. Karena itu, kehidupan di dunia mengalami ‘krisis nilai’ atau crisis of value. Krisis nilai moral dan etika yang mengakibatkan

manusia-manusia yang berada di mana pun, apakah sebagai kepala keluarga, kepala cabang perusahaan dan bahkan sampai sebagai Presiden, kalau tidak hati-hati dan hanya melihat keuntungan Iptek dan keuntungan ekonomisnya saja, menghalalkan segala cara untuk mendapakan sesuatu, maka akan membahayakan implementasi dalam arti keadilan yang tidak dapat dilepaskan dari etik dan nilai-nilai moral.136

Jadi gagasan ini dilihat dari segi kepemimpinan dan manajemen dalam pandangan teologis, konsep ini benar-benar merupakan implementasi dari firman Allah swt., yaitu:                         137 Terjemahannya:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,

menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.“138

M. Quraish Shihab menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut:

“Kamu wahai seluruh umat Muhammad dari generasi ke generasi

berikutnya, sejak dahulu dalam pengetahuan Allah adalah umat yang

136Ibid, h. 151-152.

137Q.S. Ali Imrân (3): 110.

138

Departemen Agama Republik Indonesia, al-Qur`an dan Terjemahannya; Edisi Revisi (Jakarta: CV. Al Waah, 2004), h. 80.

terbaik karena adanya sifat-sifat yang menghiasi diri kalian. Umat yang dikeluarkan, yakni diwujudkan dan dinampakkan untuk manusia seluruhnya sejak Adam hingga akhir zaman. Ini karena kalian adalah umat yang terus-menerus tanpa bosan menyuruh kepada yang makruf, yakni apa yang dinilai baik oleh masyarakat selama sejalan dengan nilai-nilai Ilahi dan mencegah yang munkar, yakni bertentangan dengan nilai-nilai luhur, pencegahan yang sampai pada batas menggunakan kekuatan dan karena kalian beriman kepada Allah, dengan iman yang benar sehingga atas dasarnya kalian percaya dan mengamalkan tuntunan-Nya dan tuntunan Rasul-Nya, serta melakukan amar makruf dan nahi munkar itu sesuai dengan cara dan kandungan yang diajarkannya. Inilah yang menjadikan kalian meraih kebajikan, tapi jangan duga Allah pilih kasih, sebab sekiranya Ahl al-Kitâb, yakni orang Yahudi dan Nasrani beriman, sebagaimana keimanan kalian dan mereka tidak bercerai berai tentulah itu baik juga bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, sebagaimana iman kalian, sehingga dengan demikian mereka pun meraih kebajikan itu dan menjadi pula bagian dari sebaik-baik umat, tetapi jumlah mereka tidak banyak kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. Yakni keluar dari ketaatan kepada tuntunan-tuntunan Allah swt.”139

Berdasarkan penafsiran M. Quraish Shihab tersebut, faktor dominan yang menentukan sesuatu kaum agar menjadi umat terbaik adalah faktor iman, sebab andaikata kaum ahli kitab juga semuanya beriman, maka mereka juga akan dapat menjadi umat terbaik, sementara iman itu intinya adalah mengakui keesaan Allah swt., dan pengakuan itu diimplementasikan pada sikap, tutur bahasa dan tindakan yang bertujuan utnuk meraih keridaan Allah swt.

Jadi dimensi teologis dalam kepemimpinan dan manajemen pendidikan tinggi Islam terletak pada Imtaknya, sementara iman dan takwa itu implementasinya hanya dapat dilihat dalam wujud perilaku akhlak yang mulia sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. Jadi kepemimpinan dan

139

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbâh; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur`an, vol. 2 (Cet.IV; Ciputat, Tangerang: Lentera Hati, 2005), h. 184 dan 185.

manajemen pendidikan tinggi Islam,140 keunikannya hanyalah pada aspek ini, sebab hal ini terkait dengan hal yang sifatnya sakral141 dan Maha Agung yakni Allah swt. Dimensi yang sifatnya nonsakral tentang teori-teori kepemimpinan dan manajemen pada umumnya, –khususnya kepemimpinan dan manajemen pendidikan tinggi– semuanya dapat diterapkan bahkan secara konseptual dapat dikembangkan secara berkesinambungan seirama dengan dinamika perkembangan Iptek serta sesuai tuntutan perubahan dalam segala sektor kehidupan sebagai akibat dari perkembangan Iptek tersebut dengan syarat seirama dengan pengembangan Imtak.

Jadi dalam pengembangan kepemimpinan dan manajemen pendidikan tinggi Islam baik sebagai ilmu maupun sebagai seni ataupun sebagai kearifan, tidak ada batasnya dalam arti dapat dikembangkan secara terus-menerus. Hal ini sejalan dengan apa yang dikehendaki Allah swt. dengan firman-Nya:

     142 Terjemahannya:

“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah yang sebenar-benarnya.”143

Jihad pada ayat ini dalam kaitannya dengan kepemimpinan dan manajemen dapat diartikan sebagai berjuang yang sungguh-sungguh dalam peningkatan kualitas kepemimpinan dan manajemen, pengembangan sistemnya,

140Pendidikan tinggi Islam dengan perguruan tinggi Islam di sini diidentikkan karena pendidikan tinggi Islam diselenggarakan pada perguruan tinggi Islam. Lihat PP 60 tahun 1999 pasal 1 ayat 1 dan 2.

141Yang dimaksud dengan sakral adalah ikatan-ikatan religius yang dipercayai sebagai hal yang berkaitan dengan kebenaran mutlak karena dipercayai sebagai wahyu Ilahi. Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, op.cit., h. 393.

142

Q.S. al-Hâj (22): 78.

kualitas sumber daya manusia, dan seterusnya secara berkesinambungan tanpa henti, termasuk pengembangan Imtak dalam waktu yang sama.

Di dalam mengakhiri pembahasan dimensi teologis terurai di atas berkaitan dengan kesuksesan seorang pemimpin, maka peran keimanan dalam mendukung kesuksesan seseorang, baik pemimpin, pengusaha, bahkan siapapun yang ingin meraih sukses dalam praktik hidup dan kehidupan yang konkret, ditegaskan oleh Merry Riana sebagai berikut:

“Aku menyatakan dengan tegas bahwa tanpa iman, kita tidak akan kuat.

Iman merupakan fondasi yang mengendalikan emosi dan ketangguhan mental kita. Iman pula yang akan menjaga gerak kita untuk selalu berjalan di atas norma-norma yang baik. Iman membuat kita tabah dan berpengharapan. Iman membuat kita mampu melihat hari esok sebagai kesempatan indah yang dijanjikan Tuhan. Iman membuat kita tidak berhenti memproduksi pikiran-pikiran yang baik.

Iman yang teguh merupakan tongkat dan lentera yang sangat berpengaruh dalam kelancaran langkah-langkah kita.

Siapapun kita, kepercayaan apapun yang kita anut, sertakan Tuhan sebagai bagian atau patner kerja kita. Hidupkanlah rasa syukur dalam setiap pencapaian kasih dan berharaplah itu akan merujuk pada kesempatan

besar.”144

Pada intinya ialah bahwa iman yang kokoh-kuat akan memberi inspirasi dan motivasi yang kuat dan tangguh bagi kesuksesan seseorang, teristimewa bagi seorang pemimpin dalam perspektif teologis (baca: teologi Islam).

C. Konflik