E. Kepemimpinan dan Konflik dalam Budaya Lokal dan Konsep Amar Ma’rûf
1. Kepemimpinan dan Konflik dalam Budaya Lokal
Berkenaan dengan kepemimpinan dan konflik dalam budaya lokal di Sulawesi Tenggara secara garis besarnya dapat dipetakan menjadi dua wilayah, yaitu: pertama, wilayah Buton dan Muna;287 dan kedua, wilayah Konawe dan Mekongga.288Dari kedua wilayah tersebut dapat tergambar secara sekilas tentang kepemimpinan dan konflik dalam budaya daerah Sulawesi Tenggara.
Kepemimpinan di Buton sebelum Islam, didasarkan pada falsafah pobinci-binciki kuli yang secara harfiah diartikan sebagai dua orang yang saling mencubit dirinya sendiri, apabila terasa sakit maka berarti sakit pula bagi orang lain. Artinya semua manusia mempunyai perasaan yang sama, harga diri yang sama, dan hak asasi yang sama. Kemudian falsafah ini dijabarkan menjadi empat pola perilaku dasar, yakni: pertama, pomae-maeka (saling takut menakuti sesama anggota masyarakat). Intinya ialah bahwa rasa takut yang bersifat timbal balik ini menunjukkan bahwa setiap orang dalam masyarakat diakui hak asasinya, harga dirinya, kehormatannya, perasaannya, harta bendanya, keluarganya, dan lain-lain
287Ruslan Rahman, op.cit., h. 151.
288Haslita, “Komunikasi Budaya Kalo Sara dalam Penyelesaian Konflik pada Masyarakat Tolaki di Provinsi Sulawesi Tenggara” (Disertasi Doktor, Program Pasca Sarjana Universitas
yang wajib dipelihara dan dilindungi sehingga tercipta rasa aman dan damai. Kedua, pomaa-maasiaka (saling menyayangi antarsesama anggota masyarakat). Intinya ialah sesama anggota masyarakat saling menyayangi secara timbal balik. Hal ini dimaksudkan agar terjadi keharmonisan dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat. Ketiga, popia-piara (saling memelihara antarsesama anggota masyarakat). Pada intinya ialah mereka berkewajiban saling memelihara dan saling melindungi baik moril maupun materil termasuk kedudukan seseorang dalam masyarakat dan selanjutnya dijauhkan dari sifat saling menjatuhkan atau saling menghancurkan antarsesama masyarakat agar terwujud kestabilan dalam kehidupan masyarakat. Keempat, poangka-angkataka (saling mengangkat-angkat derajat sesama anggota masyarakat). Intinya ialah diharapkan agar semua warga masyarakat memiliki rasa keinginan berkorban untuk kepentingan umum.289
Falsafah hidup pobinci-binciki kuli setelah Islam dimodifikasi dalam bahasa yang dapat menggugah semangat jiwa untuk berkorban sebagai berikut, yaitu: pertama, bolimu arataa somanamo karo (jangankan harta, yang penting diri). Yang pada intinya ialah bahwa mendahulukan kepentingan diri daripada kepentingan harta. Semua harta baik pemilikan perorangan, kelompok, maupun milik negara wajib dijaga, namun demikian harta tersebut dapat saja dikorbankan demi untuk melindungi hal yang lebih penting yaitu karo atau diri manusia baik sebagai perorangan maupun kelompok. Kedua, bolimo karo somanamo lipu (jangankan diri, yang penting negeri). Ini mengandung arti bahwa setiap orang siap untuk mengorbankan dirinya demi mempertahankan negara. Ketiga, Bolimu
lipu somanamo sara (janganlah negeri, yang penting pemerintah). Maksudnya ialah bahwa apabila musuh terlalu kuat maka dapat saja bala tentara mundur dari wilayah-wilayah kita yang dikuasai musuh, tetapi yang terpenting pemerintahan harus tetap ada dan dipertahankan. Hal ini dimaksudkan bahwa apabila pemerintahan masih ada maka ada kemungkinan untuk menyusun kekuatan dan menyerang balik musuh sehingga dapat memperoleh kemenangan dalam arti mengusir musuh dalam wilayah kekuasaan tersebut. Keempat, bolima sara somanamo agama (janganlah pemerintah, yang penting agama). Ini mengandung arti bahwa jika pemerintahan tidak bisa dipertahankan lagi, maka pemerintah bolehlah dikorbankan yang penting keyakinan kita pada agama dalam hal ini agama Islam, haruslah tetap sampai akhir hayat.290
Berkaitan dengan kepemimpinan di Buton pada masa kesultanan (kedaulatan kesultanan Buton berlangsung dari tahun1597-1851),291 maka calon pemimpin yang akan menduduki jabatan di kesultanan harus memiliki kriteria sebagai (berikut: Pertama, bersifat “ṣiddîq”, yaitu berkata benar dan jujur dalam
segala hal, rela menjalankan kebenaran dan tidak boleh bohong. Kedua, bersifat
“tablîg”, yaitu menyampaikan perkataan yang memberi mamfaat untuk
kepentingan umum. Ketiga, bersifat “amânah”, yaitu memiliki rasa ketepercayaan bagi masyarakat untuk kepentingan umum. Keempat, bersifat “faṭonah”, yaitu
cerdas dan fasih lidah dalam berbicara.292 Selain itu profil kepemimpinan masyarakat Buton adalah kharismatik dengan kriteria sebagai berikut: Pertama,
290Ibid, h. 134-139.
291Mustafa P., et.al., Sejarah Perkembangan Pendidikan Islam di Sulawesi Tenggara (Kendari: Universitas Muhammadiyah Kendari, 2009), h. 45.
amembali, maksudnya sakti, kuat, kuasa, dipercaya dan ditaati oleh masyarakat yang dipimpinnya. Kedua, atomaeka, yaitu memiliki kewibawaan dan disegani. Ketiga, aumane, yaitu pemberani sebagai sifat seorang lelaki sejati. Keempat, akoadati, yaitu dalam berprilaku berdasarkan atas adat dan hukum yang berlaku. Kelima, atomasiaka, yaitu disenangi oleh masyarakat yang dipimpinnya. Keenam, atobungkale, yaitu bersifat terbuka dalam kepemimpinannya. Ketujuh, akosabara, yaitu bersifat dingin dan sabar, tidak cepat emosi.293
Di dalam budaya Tolaki tentang kepemimpinan, Haslita mengemukakan bahwa menurut orang Tolaki, dahulu untuk mengatur segala kegiatan dalam suatu komunitas, maka ditunjuk salah seorang sebagai pemimpin dalam satu komunitas. Pemimpin tersebut merupakan penghulu yang dipandang tertua, berani, berilmu, dan dipilih dari keluarga yang dianggap masih keturunan langsung dari orang yang pertama-tama mendirikan komunitas tersebut.294
Lebih lanjut menurut Haslita bahwa sifat seorang pemimpin bagi orang Tolaki ialah harus memiliki sifat kharismatik, selalu menjadi teladan, pemberani dan tegas, serta berani mengambil resiko dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang diambil.295
Tentang masalah konflik menurut orang Tolaki, terjadi karena perselisihan, kesalahpahaman baik disengaja maupun tidak disengaja yang menyebabkan terjadinya pertengkaran, perkelahian dan berakhir terputusnya tali silaturrahmi, terputusnya komunikasi antara individu yang satu dengan individu
293Ruslan Rahman, op.cit., h. 140.
294
Haslita, op.cit., h. 141.
lainnya. Konflik di kalangan orang Tolaki adalah sesuatu yang sangat tidak diinginkan dalam kehidupan masyarakat Tolaki.296
Menurut Haslita bahwa semua jenis konflik di kalangan masyarakat Tolaki terjadi disebabkan karena salah dalam proses komunikasi. Untuk lebih jelasnya ia kemukakan sebagai berikut:
Konflik tersebut disebabkan karena kesalahan dalam mengkomunikasikan sesuatu atau kesalahan dalam menyampaikan pesan yang tidak benar, sebab konflik tersebut terjadi menurut orang Tolaki disebabkan karena menyampaikan sesuatu yang belum jelas terjadi atau menyampaikan sesuatu yang tidak pantas diketahui oleh orang banyak, sehingga orang Tolaki mengatakan jagalah biacara anda sebelum mengeluarkan kata-kata.297
Selian itu, menurut Haslita bahwa:
Konflik dapat saja terjadi dalam kehidupan manusia, termasuk pada orang Tolaki, bukan saja pada harta benda yang tidak bergerak yang menjadi sumber konflik bahkan binatang yang secara akal sehat tidak akan menimbulkan konflik, namun karena kesalahan dalam memaknai kepemilikan dan penempatan simbol yang tidak dimanfaatkan sehingga konflik yang pantasnya tidak akan terjadi akhirnya dapat saja menimbulkan konflik. Menurut hukum adat dan budaya orang Tolaki untuk menyelesaikan sebuah konflik harus melihat sumber dan jenis konfliknya, jika melihat dari sumbernya maka konflik bisa diselesaikan dengan menganalisis kenapa konflik tersebut terjadi, jika diketahui sumber konfliknya, maka proses penyelesaiannya akan lebih tuntas, namun jika konflik dilihat dari jenisnya menurut orang Tolaki setiap jenis konflik yang terjadi dalam kehidupannya akan berbeda pula cara penyelesaiannya.298
Oleh karena itu menurut Haslita bahwa konflik di kalangan orang Tolaki akan dapat diselesaikan secara tuntas dan tidak akan berlarut-larut dan berkepanjangan, apabila dalam menyelesaikan konflik tersebut dapat dipahami
296Ibid, h. 224.
297
Ibid., h. 231.
akar penyebabnya atau sumbernya.299 Lebih lanjut Haslita menjelaskan bahwa salah satu penyebab konflik adalah perilaku yang tidak sesuai dengan tata aturan, norma, etika, dan adat istiadat yang berlaku dalam kehidupan orang Tolaki.300
Tentang konflik yang berkaitan dengan budaya Buton, khususnya konflik antara parabela dengan perangkat formalnya, dan konflik antara sesama parabela, dikemukakan oleh Ruslan Rahman melalui sebuah kasus sebagai berikut: (1) Konflik parabela dengan perangkatnya: kasus tersebut terjadi pada tanggal 15 Maret 2004 pagi hari, telah berkumpul semua dewan Rongi di baruga. Mereka bermaksud mengadakan doa selamat setelah setahun berlalu musim acara pesta panen akan segera dilaksanakan. Doa selamat ini akan dipimpin oleh moji. Namun sampai siang ditunggu sang moji belum juga datang, tak lama kemudian salah seorang anggota masyarakat datang melaporkan bahwa ia melihat sang moji di desa tetangga berbelanja di pasar. Hal ini membuat marah para pejabat-pejabat sara. Parabela sangat tersinggung dengan kelakuan sang moji ini. Hal ini ditafsirkan sebagai pelecehan terhadap sara. Maka pertemuan yang seharusnya acara doa selamat berubah menjadi rapat membicarakan perilaku sang moji tersebut. Keputusan yang diambil adalah melakukan rapat kembali satu minggu kemudian untuk melihat perkembangan yang terjadi. Seminggu kemudian kembali diadakan rapat di baruga, diputuskan untuk memecat moji dari jabatannya. Pada saat itu pula diadakan pemilihan moji baru, dan yang tepilih sebagai moji adalah la Kawundu. (2) Konflik parabela dengan perangkat formal, adalah konflik secara terbuka antara parabela dengan perangkat formal yang
299
Ibid., h. 245.
menurut Rahman sangat jarang terjadi, namun demikian persaingan keduanya dalam merebut pengaruh akan nampak bila kita hidup bersama dengan mereka selama beberapa saat lamanya. Barulah beberapa lama Ruslan Rahman hidup bersama mereka dan mencermati pernyataan mereka maka ia dapat mengetahui bahwa sesungguhnya mereka dalam situasi konflik. Kedua pemimpin ini secara diam-diam mengklaim diri sebagai orang yang berpengaruh di masyarakatnya.301
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka kepemimpinan dan konflik di Sulawesi Tenggara dalam perspektif budaya lokal, meskipun agak bervariasi namun terlihat benang-benang merahanya bahwa kepemimpinan itu adalah sebuah kebutuhan di dalam mewujudkan kehidupan yang rukun dan damai di wilayah Sulawesi Tenggara sejak mulai terbentuknya komunitas di daerah. Namun demikian disebabkan oleh berbagai faktor antara lain pelanggaran terhadap adat dan aturan yang berlaku dan diskomunikasi, sehingga konflik itu sewaktu-waktu dapat terjadi di kalangan masyarakat di Sulawesi Tenggara berdasarkan budaya lokal atau adat yang berlaku. Cara menyelesaikannya adalah mengadakan analisis terhadap akar penyebab konflik, lalu mencari solusinya agar konflik tersebut dapat diselesaikan secara tuntas.