BAB II DINAMIKA DAN STRUKTUR KEPRIBADIAN
2.4 Dinamika dan Struktur Kepribadian Hiroshi
Hiroshi Masakuni adalah mahasiswa jurusan Antropologi sedang melakukan penelitian budaya di desa Tenganan–desa tua di Bali yang tidak beragama Hindu. Hiroshi bertemu dengan Keke di rumah makan Kotaro ketika ia hendak mencari hiburan di Surabaya. Pertama kali melihat Keke, Hiroshi langsung tertarik dengan Keke. Hiroshi mengenal Keke sebagai Keiko, wanita Jepang yang bekerja menjadi geisha di rumah makan Kotaro. Hiroshi mengenalkan dirinya sebagai lelaki Jepang yang baik dan sopan. Oleh karena itu, ia memperlakukan Keke dengan sopan layaknya wanita terhormat. Hiroshi terkesan dengan kecantikan dan kepintaran Keke. Hal ini tampak pada kutipan sebagai berikut.
(16) Setelah itu, ia menikmati seluruh kesenian yang saya lakukan untuknya. Ia menunjukan rasa puas dan senang pada saya, dan itu dibuktikan dengan memberikan uang sebanyak yang ia miliki di saku (Sylado, 2003: 98). Hiroshi mampu melupakan sejenak kepenatannya selama menjalani penelitian di Bali dengan bersama Keke. Terbukti Hiroshi memberi uang banyak untuk menunjukkan bahwa ia puas dengan pelayanan Keke. Pelayanan Keke
membuat Hiroshi merasa ketagihan dan ingin datang kembali mencari Keke. Terlihat pada kutipan (17).
(17) Ia bilang, ingin jumpa lagi jika ia kembali ke Hindia Belanda (Sylado, 2003: 99).
Hiroshi datang kembali ke Indonesia sebagai komandan tentara Jepang di Surabaya di mana waktu itu Jepang berhasil menduduki Indonesia. Hiroshi bertemu kembali dengan Keke yang sudah bersuami. Hiroshi menyanggupi membebaskan suami Keke, asalkan Keke bersedia menjadi istri Hiroshi.
(18) “Saya tidak ingin kita berpisah lagi. Kalau perang terkutuk ini selesai, saya akan minta kau jadi istri saya, dan kita tinggal di Osaka, membangun rumah tangga di sana.” (Sylado, 2003: 199)
Kutipan (18) terlihat Hiroshi menginginkan Keke menjadi istrinya. Hiroshi mengikuti id-nya untuk memilih Keke karena Keke mampu menggantikan ibu yang diidealkan Hiroshi selama ini.
(19) Lingkungan saya ini, mulai dari ibu kandung Hiroshi Masakuni sampai saudara-saudara kandungnya tergolong manusia beku. Yang mereka pikirkan melulu pekerjaan melaut, menjaring ikan, membersihkannya, lalu memasarkannya (Sylado, 2003: 245)
Kutipan (19) menunjukkan bahwa Hiroshi dibesarkan pada keluarga kaku dan pekerja keras. Ibunya sibuk bekerja tidak pernah mempunyai waktu untuk bersamanya. Hiroshi merasa tidak diperdulikan dan kesepian. Hiroshi mengharapkan figur ibu yang selalu ada mendampinginya. Penemuan libido awal pada ibu muncul kembali pada saat ia dewasa ketika ia bertemu Keke. Figur ibu ideal, ia temukan dalam diri Keke yang lembut dan selalu ada di saat ia membutuhkan. Alasan itu membuat Hiroshi memenuhi ego-nya untuk menikahi Keke, agar ia dapat memiliki kasih sayang Keke seutuhnya. Hiroshi mengacuhkan
superego-nya bahwa tidak sepantasnya ia menikahi wanita yang telah beristri. Hiroshi mengalami sikap oedipus kompleks terhadap figur ibu ideal terbukti pada (Sylado, 2003: 97-250)
Semasa menjadi komandan tentara Jepang, Hiroshi dikenal sebagai tokoh tanpa iba. Ini tampak pada kutipan sebagai berikut.
(20) Hiroshi Masakuni tenang saja berdiri di hadapan Tjak Broto, mewakili perasaannya yang kehilangan sifat iba, dan sebaliknya di penuhi dengan sifat-sifat haus akan kekejaman sesuatu yang bertentangan dengan sikapnya terhadap saya yang lembek dan cengeng (Sylado, 2003: 224). Kutipan (20) menjelaskan gambaran sosok Hiroshi yang kejam dan tanpa iba. Hiroshi mengalami tahap anal karena orang tuanya keras dan kaku membuatnya menahan segala keinginannya. Daya tahan ini lepas ketika ia dewasa. Ia mengikuti ego-nya untuk melepas ketegangan dengan bersikap kejam tanpa memperdulikan superego bahwa bersikap kejam terhadap orang lain tidak sesuai perikemanusiaan. Ia pun akan melakukan hal yang sama seperti orang tuanya. Keinginan yang tertekan akan keluar juga dan menjadi perilaku yang sulit dikontrol. Didikan orang tua yang keras membuat Hiroshi mengalami tahap anal dan mempengaruhi perilakunya ketika dewasa. Hal itu dapat dibuktikan pada (Sylado, 2003: 198-250). Menurut Yusuf dan Nurihsan (2007: 59-60), dalam tahap anal orang tua memberikan latihan kebersihan pada anak dengan bersikap keras akan memberikan dampak tersendiri terhadap perkembangan anak yaitu sikap berlebihan dalam ketertiban atau kebersihan, bersikap kikir, kurang kreatif, bersikap kejam atau keras atau sikap memusuhi, penakut dan bersikap kaku.
Jepang kalah oleh sekutu. Hiroshi pun membawa serta Keke dipulangkan kembali ke tanah airnya. Hiroshi mengenalkan Keke sebagai istrinya. Ibu Hiroshi
tidak senang kepada Keke karena Keke tidak segera mempunyai anak. Alasan tersebut membuat Keke mengalami perilaku kekerasan baik itu fisik maupun non fisik dari ibu Hiroshi. Bahkan, Hiroshi juga ikut menyiksanya. Ini dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut.
(21) Anehnya Hiroshi Masakuni, pada malam harinya, setelah menyiksa saya seperti terhadap militer, mencoba membujuk saya. Ia minta maaf dan berbicara sesuatu yang saya tidak pernah mengerti.
“Maaf soal tadi pagi. Saya cinta kau, jadi saya cemburu kalau hatimu masih terbagi buat suamimu,” katanya (Sylado, 2003: 245).
Kutipan (21) memberi gambaran Hiroshi memiliki sifat yang labil. Hiroshi menyiksa Keke seperti tawanannya tapi cepat juga ia bersikap manis dan manja terhadap Keke. Sikap ini memang lumrah terjadi bagi orang yang baru saja pulang dari perang. Ia bisa saja melakukan tindakan kekerasan seperti yang biasanya ia lakukan semasa ia masih perang. Tapi, sekejap juga ia akan berubah ke sifat semula menjadi orang normal yang berusaha untuk mengasihi dan menggunakan cemburu sebagai alasan untuk menghindar dari pernyataan bahwa ia mengalami akibat dari masa perang. Mengenai orang yang baru mengalami trauma perang, Freud sendiri pernah menulis dan menyebutkan sebagai orang yang menderita perubahan psikis akibat tekanan realita yang berlebihan: ketakutan dan ketegangan yang terus-menerus atau dalam waktu yang lama (Djokosujatno, 2003: 112-113).