• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dinamika Hubungan antara Sikap terhadap Matematika dan

BAB II. LANDASAN TEORI

E. Dinamika Hubungan antara Sikap terhadap Matematika dan

Sikap adalah salah satu faktor internal yang memengaruhi prestasi (Syah,

2008) yang merupakan kecenderungan mental mengenai objek dan situasi

tertentu untuk merespon dengan cara tertentu. Sikap terhadap matematika

berisi aspek kognitif, afektif, dan konatif yang saling berkaitan dengan

pembelajaran matematika, serta mengarahkan pada cara merespon matematika.

Aspek kognitif sikap terhadap matematika terdiri dari pengetahuan

matematika, keyakinan dan konsep diri pada matematika, keyakinan mengenai

kegunaan matematika, dan keyakinan mengenai ekspektasi kemampuan

matematika. Siswa dengan aspek kognitif yang positif mampu membangun

keyakinan dan konsep diri matematika positif, memiliki keyakinan bahwa

matematika berguna, serta keyakinan mengenai ekspektasi kemampuan

matematika yang positif (Singh, Granville, & Dika, 2002). Keyakinan-

keyakinan positif tersebut membuat siswa mampu membangun keyakinan diri

yang tinggi dan akan berkonsentrasi untuk mengembangkan pengetahuan dan

keterampilan matematikanya. Siswa akan memusatkan pikiran saat

mempelajari matematika, sehingga prestasi matematikanya tinggi (McLeod,

1992 dalam Papanastasiou, 2002).

Aspek afektif dari sikap terhadap matematika berisi emosi positif atau

negatif dan kecemasan matematika. Siswa dengan aspek afektif positif

memiliki evaluasi yang positif terhadap matematika, sehingga memiliki emosi

positif dan kecemasan rendah saat mempelajari matematika (Aiken, 1979).

memunculkan antusiasme (Corell, 2000 dalam Tezer, 2010; Rounds & Hendel,

1980 dalam Tezer, 2010) dan rasa percaya bahwa dirinya (Kögce, Yildiz,

Aydin, & Altindag, 2009) mampu memahami materi matematika. Hal tersebut

membuat siswa tidak mudah terpengaruh terhadap gangguan selama

mempelajari matematika, sehingga siswa tidak mengalami kesulitan dalam

menyelesaikan persoalan matematika dan memperoleh prestasi matematika

tinggi (Ashcraft, 2002; Ashcraft & Kirk, 2001; Lyons & Beilock, 2012 dalam

Ramirez et al., 2016; Park, Ramirez, & Beilock, 2014).

Aspek konatif dari sikap terhadap matematika terdiri dari kecenderungan

berperilaku pada saat belajar matematika dan motivasi dalam mempelajari

matematika (Aiken, 1979). Siswa dengan aspek konatif positif memiliki

kecenderungan berperilaku positif saat mempelajari matematika dan motivasi

tinggi terhadap matematika. Siswa melakukan berbagai upaya belajar

matematika (Coleman, 2009), seperti menciptakan, mengembangkan, dan

mempertahankan ketertarikan dalam mempelajari matematika (Marks, Hiatt, &

Neufeld, 1988), serta memunculkan dorongan untuk mengelola kegiatan

belajar matematikanya secara aktif. Hal tersebut memampukan siswa untuk

mengumpulkan materi matematika secara efektif, sehingga materi menjadi

menyeluruh dan dapat diproses dengan baik. Siswa juga mampu memanipulasi

ritme dan situasi belajarnya menjadi kondusif dan sesuai dengan gaya

belajarnya, sehingga memperoleh prestasi matematika yang tinggi.

Organisasi dari aspek kognitif, afektif, dan konatif mengarahkan siswa

organisasi positif dari ketiga aspek tersebut mampu membentuk sikap yang

positif terhadap matematika. Sikap positif terhadap matematika ditandai

dengan adanya keyakinan-keyakinan dan konsep diri mengenai matematika

yang positif, keinginan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan

matematika, serta evaluasi positif terhadap matematika, sehingga memiliki

emosi positif terhadap matematika dan tidak memiliki kecemasan yang berarti

saat mempelajari matematika. Adanya sikap terhadap matematika yang positif

juga membuat siswa memiliki kecenderungan perilaku yang konstruktif saat

mempelajari matematika, serta memiliki ketertarikan yang tinggi untuk

menguasai matematika. Hal tersebut akan memunculkan respon positif dalam

mempelajari matematika, seperti berkonsentrasi, yakin dan percaya diri pada

kemampuan matematikanya, antusias dan mendorong dirinya untuk mengelola

kegiatan belajar matematikanya. Respon positif tersebut mengembangkan

kemampuan siswa untuk mengingat dan memahami materi matematika

(Ruseffendi, 1991 dalam Heruman, 2008), serta upaya untuk terus berlatih

dengan konsep-konsep matematika (Sani & Amin, 2009), sehingga mampu

mencapai prestasi matematika yang tinggi (Hart & Walker, 1993 dalam

Michelli, 2013).

Siswa dengan organisasi aspek kognitif, afektif, dan konatif yang negatif

memiliki sikap yang negatif terhadap matematika. Sikap negatif terhadap

matematika terdiri dari keyakinan-keyakinan dan konsep mengenai matematika

yang negatif, rendahnya keinginan untuk mengembangkan pengetahuan

mempelajari matematika. Siswa dengan sikap terhadap matematika yang

negatif memiliki kecenderungan perilaku yang negatif saat mempelajari

matematika, serta tidak tertarik untuk mempelajari matematika. Hal tersebut

akan memunculkan respon negatif dalam mempelajari matematika, seperti

tidak mampu berkonsentrasi, meragukan kemampuan matematikanya (Kögce,

Yildiz, Aydin, & Altindag, 2009), malas mempelajari matematika, dan

memiliki pengelolaan kegiatan belajar matematika yang buruk (Michelli,

2013). Pada akhirnya, siswa akan mengalami kesulitan dan banyak membuat

kesalahan dalam menyelesaikan soal matematika (Guttbezahl, 1995 dalam

Bramlett & Herron, 2009), sehingga prestasi matematikanya rendah. Dinamika

hubungan antara sikap terhadap matematika dan prestasi matematika secara

Bagan 1.

Bagan Dinamika Hubungan Antara Sikap Terhadap Matematika dan Prestasi Matematika.

Sikap terhadap matematikapositif: - Kognitif

memunculkan konsentrasi dan keyakinan diri tinggi dalam mempelajari matematika

- Afektif

memunculkan antusiasme dan kepercayaan diri yang tinggi dalam mempelajari matematika

- Konatif

memunculkan ketertarikan dan dorongan kuat terarah untuk mempelajari matematika

Sikap terhadap matematikanegatif: - Kognitif

memunculkan konsentrasi dan keyakinan diri rendah dalam mempelajari matematika

- Afektif

memunculkan antusiasme dan kepercayaan diri yang rendah dalam mempelajari matematika

- Konatif

memunculkan ketertarikan dan dorongan rendah terarah untuk mempelajari matematika

Tercapainya komponen-komponen prestasi matematika yang tercermin dalam soal tugas, ulangan harian, dan UTS matematika:

- Operasi hitung bilangan bulat - Faktor prima

- Operasi hitung campuran - Perpangkatan dan akar sederhana - Operasi hitung satuan ukur - Operasi hitung bangun datar - Operasi hitung bangun ruang - Operasi hitung pecahan

- Sifat-sifat bangun datar dan bangun ruang

Tidak tercapainya komponen-komponen prestasi matematika yang tercermin dalam soal tugas, ulangan harian, dan UTS matematika:

- Operasi hitung bilangan bulat - Faktor prima

- Operasi hitung campuran - Perpangkatan dan akar sederhana - Operasi hitung satuan ukur - Operasi hitung bangun datar - Operasi hitung bangun ruang - Operasi hitung pecahan

- Sifat-sifat bangun datar dan bangun ruang

Prestasi Matematika Tinggi Prestasi Matematika Rendah Sikap Terhadap Matematika

Dokumen terkait