• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONDISI UMUM LOKAS

4.5. Dinamika Penggunaan Lahan

Landuse (penggunaan lahan) dan landcover (penutupan lahan) sering digunakan secara bersama-sama, namun kedua terminologi tersebut berbeda. Menurut Lillesand dan Kiefer (1979), penutupan lahan berkaitan dengan jesis kenampakan yang ada di permukaan bumi, sedangkan penggunaan lahan berkaitan dengan kegiatan manusia pada obyek tersebut. Townshend dan Justice (1981), juga berpendapat bahwa penutupan lahan adalah perwujudan secara fisik (visual) dari vegetasi, benda alam, dan unsur-unsur budaya yang ada di permukaan bumi tanpa memperhatikan kegiatan manusia terhadap obyek tersebut. Sedangkan Barret dan Curtis (1982), mengatakan bahwa permukaan bumi sebagian terdiri dari kenampakan alamiah (penutupan lahan) seperti vegetasi, salju, dan lain sebagainya, serta sebagian lagi berupa kenampakan hasil aktivitas manusia (penggunaan lahan).

Dari beberapa tinjauan pustaka tersebut di atas tersirat bahwa penggunaan lahan adalah klasifikasi lahan berdasarkan aktifitas manusia, sedangkan penutupan lahan adalah karakteristik alamiah dari lahan tersebut. Penutupan lahan bisa dianggap sebagai kondisi saat ini, sedangkan penggunaan lahan berkaitan dengan status lahan. Penekanan di sini adalah bahwa analisis lahan seperti hidrologi,

lanskap, dan lain-lain harus menggunakan penutupan lahan. Namun, penutupan lahan itu sendiri akan dipengaruhi oleh status penggunaan. Contohnya, suatu lahan berhutan jika berada dalam penggunaan lahan pertambangan akan tidak tepat dianalisis menggunakan penutupan lahan jika rentang studi cukup lebar karena aktifitas pertambangan akan mengubah penutupan lahan berhutan tersebut dalam kisaran waktu analisis

Sebagian besar lahan di Kota Medan pada umumnya dimanfaatkan untuk pemukiman. Penggunaan lahan untuk kawasan terbangun seperti perumahan dan pemukiman, perdagangan dan jasa, perkantoran dan fasilitas umum lainnya hampir tersebar diseluruh wilayah Kota Medan. Penggunaan lahan di Kota Medan adalah hutan manggrove sekunder, perkebunan, permukiman, tanah terbuka/instalasi prasarana, pertanian lahan kering, pertanian lahan kering bercampur semak, sawah, semak belukar/rawa, dan tambak. Keseluruhan jenis penggunaan lahan yang ada di Kota Medan yang paling besar adalah pemukiman. Dimana hampir di seluruh wilayah kecamatan memiliki jenis penggunaan lahan untuk pemukiman. Dari kenyataan yang ada, dapat diketahui bahwa Kota Medan memiliki jenis penggunaan lahan yang tinggi. Ini pada umumnya disebabkan oleh jumlah penduduk yang semakin meningkat, dimana ketika jumlah penduduk meningkat, maka jenis penggunaan lahan pasti akan berubah fungsi. Penggunaan lahan di Kota Medan dapat dilihat pada Gambar 5 dan Tabel 4.5.

Tabel 4.5. Penggunaan lahan dan luas guna lahan Kota Medan

No Guna Lahan Luas Lahan(ha)

1 Air (Danau) 636,697

2 Hutan Mangrove Sekunder 473,103

3 Perkebunan 320,707

4 Permukiman 20.009,647

5 Tanah Terbuka/Instalasi Prasarana 302,940

6 Pertanian Lahan Kering 2.918,415

7 Pertanian Lahan Kering Bercampur Semak 10,106

8 Sawah 827,924

9 Semak Belukar/Rawa 2.166,654

10 Tambak 1.294,435

Jumlah 28.960,628

Sumber: BPDAS Kota Medan, 2010 4.6. Karakteristik Struktur Kota Medan

Yunus (2000), mengemukakan bahwa terdapat 3 model klasik berkaitan dengan struktur kota yang dibedakan menjadi teori zona konsentris, teori sektoral dan konsep multiple-nuclei. Berdasarkan data-data pembentuk struktur kota Medan yaitu data kependudukan, tata guna lahan berupa pemikiman, pendidikan, perdagangan, jasa dan industri serta jaringan jalan, maka dapat disimpulkan bahwa kota Medan memiliki struktur kota dengan tipe teori zona konsentris atau struktur kota dengan pusat kegiatan yang berpusat pada satu kawasan saja (Gambar 4.2)

Aplikasi dari teori atau konsep tersebut dituangkan dalam bentuk identifikasi cluster-cluster (kelompok perkembangan yang saling terkait). Cluster- cluster yang diidentifikasikan dan diprioritaskan pengembangannya adalah : a) Cluster pusat kota dengan fungsi utama sebagai : pusat perdagangan dan

jasa;

b) Cluster kawasan utara dengan fungsi utamanya sebagai: kawasan industri, pelabuhan, pariwisata dan perikanan; dan

c) Cluster kawasan selatan dengan fungsi utamanya sebagai ruang terbuka hijau Gambar 4.2. Stadia perkembangan Kota Medan

Dalam konteks rencana struktur ruang Kota Medan perlu disusun rencana sistem pusat-pusat pelayanan yang terdiri pusat pelayanan kota dan subpusat pelayanan kota. Sub-pusat pelayanan kota harus terintegrasi dengan pusat pelayanan kota. Pengembangan struktur ruang Kota Medan dilakukan dengan beberapa pertimbangan antara lain :

1. Mengembangkan kawasan utara Kota Medan menjadi kawasan strategis kota (KSK) dengan memperhatikan potensi dan peranan kawasan utara yang memiliki pelayanan regional dan internasional, antara lain :

 Pelabuhan Belawan merupakan outlet-inlet point utama yang memegang peranan penting dalam sistem perhubungan laut antara Sumatera Utara dengan wilayah lainnya

 Peran penting pelabuhan Belawan dalam pergerakan arus barang dari dan ke wilayah Sumatera Utara yang melayani sekitar 84,5 persen arus masuk dan 77 persen arus keluar Sumatera Utara;

 Dalam rangka mengembangkan perdagangan dalam skala regional, nasional, dan internasional ditempuh dengan meningkatkan kemampuan Pelabuhan Belawan menjadi pelabuhan internasional.

2. Berdasarkan arahan kebijakan kawasan perkotaan Mebidangro, kawasan utara diarahkan sebagai pengembangan :

 Pelabuhan penumpang (TOD= transit oriented development), pelabuhan laut peti kemas internasional, kawasan industri, pergudangan dan ekspedisi, Export Processing Zone (EPZ) dan pusat permukiman; dan

 Pusat perdagangan (TOD), pusat pelayanan kawasan industri, kawasan industri high technology, pusat permukiman industri, perlindungan kawasan dan bangunan bersejarah, water front city, dan theme park. 3. Kawasan utara berperan sebagai kawasan yang memiliki pelayanan regional

dan internasional, maka perlu adanya suatu pusat pelayanan di utara yang juga memiliki skala pelayanan regional (primer), yang disebut dengan istilah Pusat Pelayanan Kota;

4. Pusat kota tetap dipertahankan fungsinya sebagai pusat pelayanan perdagangan dan jasa skala regional.

5. Kawasan bekas bandara polonia seluas 590 Ha, merupakan kawasan bernilai jual tinggi karena lokasinya yang berada dipusat kota. Mengingat tingginya harga lahan dan lokasinya yang strategis, daerah ini sesuai untuk dikembangkan sebagai pusat kegiatan komersial atau untuk perumahan kelas menengah atau menengah atas dengan kepadatan tinggi. Disamping bernilai jual tinggi, kawasan ini juga merupakan paru-paru Kota Medan mengingat makin padatnya pembangunan di dalam Kota Medan sendiri dan kurangnya fasilitas taman dan rekreasi dalam kota. Pada lokasi ini akan dibangun dan dikembangkan sebagai pusat keuangan bertaraf nasional dan regional. Untuk mencapai hal ini pusat keuangan ini dirancang dengan kombinasi pengembangan sarana perkantoran, perbelanjaan, konvensi, rekreasi dan hiburan sehingga menjadi pusat baru yang hidup dan menarik (CBD). Pada kawasan ini dapat juga dikembangkan kawasan perkantoran pemerintahan provinsi dan pemerintah kota untuk mengurangi arus pergerakkan menuju ke kawasan pusat kota dan sekaligus mempermudah

akses penduduk untuk memperoleh pelayanan di satu kawasan.

6. Pada wilayah pusat kota dan CBD Polonia yang juga memiliki pelayanan regional juga akan dilayani oleh satu pusat pelayanan regional yang wilayah pelayanannya lebih besar dari pusat primer utara, yang disebut dengan pusat pelayanan kota; Dengan demikian maka di Kota Medan akan memilikin dua pusat pelayanan kota, 1 (satu) pusat pelayanan kota di utara dan 1 (satu) pusat pelayanan kota di pusat kota. Untuk menghubungkan wilayah utara (pusat pelayanan kota di Utara) dan wilayah pusat kota (pusat pelayanan kota di Kota) akan dikembangkan transportasi multimoda dengan tulang punggung transportasi massal kereta api.

Ditinjau dari zona keruangannya dapat dikelompokkan sebagai berikut : Zona 1 (Central Bussines District)

Zona ini terdapat pada kawasan kecamatan Medan Kota, yang merupakan pusat kota yang menampung sebagian besar kegiatan kota

Zona 2 (Wholesale Light Manufacturing)

Zona ini terdapat pada kawasan kecamatan Medan Denai, dimana pada daerah ini terletak dekat dengan zona 1 dan memiliki tenaga kerja paling banyak. (Yunus, 1999:50).

Zona 3 (Daerah Pemukiman Kelas Rendah)

Zona ini terdapat pada kawasan kecamatan Medan Marelan. Dimana pada kawasan ini pada umumnya terdiri dari penduduk golongan rendah dan letaknya dekat dengan pabrik-pabrik. (Yunus, 1999:50)

Zona ini terdapat pada kawasan kecamatan Medan Helvetia. Pada umumnya penduduk yang tinggal di kawasan ini mempunyai penghasilan yang lebih tinggi dari penduduk di zona 3.

Zona 5 (Daerah Pemukiman Kelas Tinggi)

Zona ini terdapat pada kawasan kecamatan Medan Baru, yang memiliki kondisi paling baik untuk pemukiman dalam artian fisik maupun penyediaan fasilitas. Kawasan ini lokasinya relatif jauh dari daerah industri berat, memiliki nilai lahan yang cukup tinggi. Oleh karena itu hanya golongan penduduk berpenghasilan tinggi yang mampu memiliki lahan dan pemukiman di kawasan ini.

Zona 6 (Heavy Manufacturing)

Zona ini terdapat pada kawasan kecamatan Medan Deli yang merupakan daerah pusat perindustrian yang paling banyak.

Zona 7 (Pusat Business District Lainnya)

Zona ini terdapat pada kawasan kecamatan Medan Petisah, yang merupakan kawasan dengan pusat perdagangan terbanyak selain kecamatan Medan Kota. Zona ini muncul untuk memnuhi kebutuhan penduduk zona 4 dan zona 5.

Zona 8 (Zona Pemukiman Daerah Pinggiran)

Zona ini terdapat pada kawasan Medan Denai. Dimana pada kawasan ini penduduknya sebagian besar bekerja di pusat kota, dan di kawasan ini merupakan daerah yang memiliki penduduk bekerja terbanyak.

Zona ini terdapat pada kawasan Medan Amplas. Kawasan ini terletak di daerah pinggiran dan dijangkau jalur transportasi yang memadai.

Dokumen terkait