3.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Kota ini merepresentasikan tingginya tingkat pertumbuhan penduduk sebagaimana kota-kota metropolitan lainnya. Pertumbuhan penduduk tersebut memicu laju perubahan penggunaan lahan yang sangat pesat di perkotaan menjadi perumahan/permukiman, perdagangan, jasa, dan perindustrian. Waktu penelitian selarna 1,5 tahun dirnulai dari bulan Januari 2013 - Juni 2014, yang terdiri atas tiga tahap yaitu tahapan pengumpulan data dan klasifikasi data, analisis dan sintesis serta konsep dan perencanaan.
3.2 Alat dan Data Penelitian
3.2.1. Alat Penelitian
Alat yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat komputer beserta perlengkapannya yang berguna untuk proses pengolahan dan analisis data. Peralatan yang digunakan adalah :
- Peralatan laboratorium : perangkat keras komputer, dengan perangkat lunak GIS (ArcGIS) dan software pengolah citra (Er Mapper), Software
Arc View beserta extension, software SPSS Statistics 17.0, software
Powersim Constructor 2.5d dan Criterium decision plus 3.0
- Global Positioning System (GPS), kompas, dan alat penunjang lainnya
- Peta Rupa Bumi Indonesia dari Badan Informasi Geospasial (BIG) 3.2.2. Data Penelitian
Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dilaksanakan melalui wawancara mendalam dengan stakeholders berkaitan dengan arahan prioriras kebijakan.
Tabel 3.1. Jenis, unit, dan sumber data
Peubah Unit Sumber data
Peta Penggunaan lahan Tahun 2003, dan 2013 (Analisis Citra Ikonos dengan resolusi 30 Meter) dan Peta Rupa Bumi Indonesia daerah Kota Medan dengan skala 1:25.000.
BPS Kota Medan, Bappeda Kota Medan, dan dinas terkait dilingkungan Kota Medan
BPN Kota Medan, BPS Kota Medan, Bappeda Kota Medan, BLH Kota Medan dan dinas terkait dilingkungan Kota Medan
BPS Kota Medan, Bappeda Kota Medan, BLH Kota Medan dan dinas terkait
Data sekunder meliputi data kependudukan, sarana utilitas kota/lahan terbangun dan lahan bervegetasi, suhu, kelembaban dan pendapatan daerah dan data hasil olahan lainnya. Seluruh data tersebut digunakan untuk analisis regresi dan pola hubungan dinamis. Peubah yang digunakan dan sumber data disajikan pada Tabel 3.1.
3.3. Rancangan Penelitian
1) Tahap studi literatur
Pada studi literatur dimulai dengan mencari dan merangkum kepustakaan yang dapat menunjang pengerjaan penelitian, serta mendapatkan standar RTH dan kriteria konsep kota hijau yang ideal.
2) Tahapan pengumpulan data
Pada tahapan ini, dilakukan pengumpulan data yang berkaitan dengan penelitian berupa data primer dan data skunder. Data primer dilakukan melalui wawancara kepada stakeholders. Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah RTH yang dimanfaatkan baik secara individu, kelompok, organisasi, swasta, instansi pemerintah di lokasi penelitian. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik ini digunakan karena responden yang dipilih adalah responden yang memenuhi kriteria :
a. Memiliki keahlian atau menguasai secara akademik bidang yang diteliti; b. Memiliki reputasi kedudukan atau jabatan dan sebagai ahli pada bidang
c. Memiliki pengalaman dalam bidang kajian yang diteliti. Kriteria
stakeholders tersebut diidentifikasi dengan rincian seperti tertera pada
Tabel 3.2.
Tabel 3.2. Kriteria stakeholder, instansi dan jumlah responden No Kriteria stakeholders Asal Intsnasi/Lembaga
dan Bidang Keahlian
Jumlah Responden 1. Kedudukan/Jabatan Sekda Kota Medan 1
Bappeda Kota Medan 1
BLH Kota Medan 1
Dinas Pertamanan 1
Dinas Permukiman 1
DPRD 3
Camat 21
2. Tokoh Masyarakat Peduli Lingkungan 10
3 LSM Peduli Lingkungan 5
4. Akademisi Pusat Penelitian
Lingkungan Hidup 5
Jumlah 60
3) Tahap pembahasan hasil olahan data, merupakan tahap pembahasan dan perumusan hasil analisis untuk menjawab tujuan penelitian.
4) Tahap penulisan disertasi, pada tahap ini dilakukan penyusunan disertasi yang merupakan hasil akhir kegiatan yang dilakukan selama penelitian.
Rancangan penelitian dengan analisis spasial terhadap perubahan penggunaan lahan multi waktu dari tahun 2003 - 2013, didapatkan dinamika dan polanya serta ketersediaan lahan RTH saat ini. Wawancara dan penyebaran kuesioner (lampiran 9), kepada stakeholders untuk menetapkan kriteria dan pemilihan prioritas kebijakan dengan model AHP. Intisari masing-masing bagian yang meliputi tujuan penelitian, peubah, sumber data, teknik analisis dan output
3.6. Terminologi
Guna menghindari pemahaman yang berbeda pada penelitian ini maka disusun batasan operasional sebagaimana diuraikan di bawah ini.
1. Pengelolaan adalah suatu proses yag dimulai dari perencanaan, pengaturan, pengawasan, penggerak sampai dengan proses terwujudnya tujuan.
2. Industri adalah komplek bangunan yang utamanya dimaksudkan sebagai tempat perusahaan (seperti pabrik, kilang dan sebagainya)
3. Lahan jasa adalah komplek bangunan yang utamanya dimaksudkan untuk kegiatan sosial seperti rumah sakit, instansi pemerintahan, terminal, pasar, bank
4. Kebun campuran adalah areal yang ditanami rupa-rupa jenis tanaman keras atau kombinasi tanaman keras dan tanaman semusim dengan tidak jelas jenis mana yang meninjol
5. Sawah adalah areal pertanian tanah basah atau sering digenangi air. Fisiknya tampak seperti apa yang lazim di Indonesia dikenal sebagai tanah sawah serta serta periodik atau terus menerus ditanamai padi. Termasuk dalah hal ini sawah-sawah yang ditanami tebu, tembakau, rosela dan sayur-sayuran 6. Lahan terbuka adalah : areal terbuka karena hanya ditanam tanaman rendah
dari keluarga rumput dan semak rendah
8. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratifdan/ atau aspek fungsional (UU No.24 Tahun 1992). 9. Wilayah perkotaan adalah suatu pusat permukiman dan kegiatan penduduk
yang mempunyai batas administratif yang diatur dalam peraturan perundangan serta pemukiman yang telah memperlihatkan watak dan ciri perkotaan (Inmendagri No.14 Tahun 1988).
10. Ruang terbuka adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur dimana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan. Ruang terbuka terdiri atas RTH dan ruang terbuka non hijau.
11. Taman lingkungan, adalah lahan terbuka hijau yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif, edukasi atau kegiatan lain pada tingkat lingkungan.
12. Taman kurang dari 100 pohon adalah lahan terbuka hijau yang terbentuk oleh geometris jalan seperti pada persimpangan tiga atau bundaran jalan. Sedangkan median berupa jalur pemisah yang membagi jalan menjadi dua lajur atau lebih.
14. Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH) adalah ruang terbuka non hijau adalah ruang terbuka di wilayah perkotaan yang tidak termasuk dalam kategori RTH, berupa lahan yang diperkeras maupun yang berupa badan air.
15. RTH milik publik adalah RTH yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah atau publik/swasta dan untuk kepentingan publik dalam upaya peningkatan kualitas lingkungan dan kenyamanan warga kota.
16. Kota hijau adalah kota yang secara ekologis dikatakan kota yang sehat. Artinya adanya keseimbangan antara pembangunan dan perkembangan kota dengan kelestarian lingkungan.
17. Kriteria kota hijau
a. Pembangunan kota harus sesuai peraturan UU yang berlaku, seperti UU 24/2007: Penanggulangan Bencana (Kota hijau harus menjadi kota waspada bencana), UU 26/2007: Penataan Ruang, UU 32/2009: Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
b. RTH seluas 30% dari luas kota (RTH Publik 20%, RTH Privat 10%) c. Partisispasi Masyarakat (Komunitas Hijau)
18. Penginderaan Jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan obyek, daerah, atau fenomena yang dikaji (Lillesand dan Kiefer 1997).
19. Geographic Information System (GIS) merupakan suatu sistem berbasiskan
20. Penganggaran daerah adalah mekanisme stakeholders untuk berkontribusi terhadap keputusan yang dibuat mengenai kebijakan penganggaran melalui tahapan pembahasan APBD secara partisipatif (bottom up planning).
21. Green community adalah suatu konsepsi untuk membangun perhatian dan
atau kepedulian masyarakat serta upaya menyamakan platform pengembangan industri pertamanan di masa mendatang
22. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai dasar bangunan gedung dan luas lahan/tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan.
23. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka di luar bangunan gedung yang diperuntukkan bagi pertamanan/penghijauan dan luas tanah perpetakan/daerah perencanan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan.
3.5. Analisa Dinamika Perubahan Penggunaan Lahan di Kota Medan
benda yang memiliki pengaruh terhadap pengguanan lahan. Termasuk di dalamnya kegiatan manusia di masa lalu dan sekarang (Arsyad,1989).
Penggunaan lahan adalah penggunaan lahan utama atau kedua (apabila merupakan penggunaan lahan berganda) dari sebidang lahan pertanian, lahan hutan, padang rumput dan sebagainya. Jadi penggunaan lahan lebih mengarah dalam pengertian tingkat pemanfaatan oleh masyarakat. Penggunaan lahan
(landuse) merupakan suatu bentuk campur tangan manusia terhadap lahan dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya baik materil maupun spiritual. Menurut Arsyad (1989) penggunaan lahan dibagi atas dua golongan besar yaitu, penggunaan lahan pertanian dan penggunaan lahan non pertanian. Penggunaan lahan pertanian dibagi kembali berdasarkan atas penyediaan air dan komoditi yang diusahakan, dimanfaatkan atau yang terdapat di atas lahan tersebut, seperti pengunaan lahan sawah, tegalan, hutan lindung, kebun karet dan sebagainya. Sedangkan penggunaan lahan non pertanian dapat dibedakan ke dalam penggunaan lahan kota atau desa (permukiman), industri, rekreasi, pertambangan dan sebagainya.
Penggunaan lahan merupakan salah satu produk kegiatan manusia di permukaan bumi yang memiliki berbagai macam variasi bentuk. Perubahan penggunaan lahan merupakan kombinasi dari hasil interaksi faktor sosial ekonomi, politik dan budaya. Manusia menjadi faktor utama terbentuknya berbagia macam pola penggunaan lahan serta terhadap perubahan-perubahan sebagai akibat aktivitasnya di atas permukaan bumi.
penutupan lahan adalah perubahan keanekaragaman biotik, produktifitas yang utama dan aktual, kualitas tanah, alieran permukaan serta kecepatan sedimentasi (Zain, 2002).
Kajian ini dilakukan dengan teknik analisis spasial untuk menentukan alokasi lahan yang dapat dikembangkan sebagai RTH di Kota Medan. Pengamatan perubahan penggunaan lahan dilakukan pada tahun 2003 dan 2013. Pada selang waktu tersebut, diprediksi telah terjadi pengalihan fungsi lahan sehingga dapat dilihat perubahan- perubahan yang terjadi dengan jelas. Tujuan dilakukannya analisis perubahan tutupan lahan kota Medan ini adalah untuk lebih memudahkan mengetahui perubahan yang terjadi selama dua (2) periode pengamatan yaitu dari tahun 2003 - tahun 2013. Analisis perubahan penutupan lahan dilakukan dengan membandingkan peta penggunaan lahan tahun 2003 dan tahun 2013 dengan cara mengoverlay peta tersebut.
Metode yang digunakan adalah dengan change detection. Menurut Sumantri (2006), change detection adalah suatu analisis deteksi perubahan yang dilakukan untuk menentukan laju/tingkat perubahan lahan setiap waktu dimana menggunakan teknologi penginderaan jauh (remote sensing) dalam menentukan perubahan di obyek studi khusus di antara dua atau lebih periode waktu. Analisis dan evaluasi penggunaan lahan yang dilakukan adalah evaluasi laju perubahan penggunaan lahan tahun 2003 - tahun 2013.
perumahan, industri, dan sarana terbangun lainnya. Setiap aktivitas tersebut mengakibatkan perubahan tata ruang dari waktu ke waktu. Sampai pada tingkat tertentu, aktivitas sosial dan ekonomi pada akhirnya akan dibatasi oleh kemampuan daya dukung biofisik kawasan. Variabel dalam kajian ini adalah perubahan penggunaan lahan terhadap rencana jenis penggunaan lahan dalam peta penggunaan lahan Kota Medan mewakili delapan klaster yaitu:
a. Klaster 1, dicirikan oleh luas areal permukiman/bangunan b. Klaster 2, dicirikan oleh luas areal kawasan industri c. Klaster 3, dicirikan oleh luas areal jasa
d. Klaster 3, dicirikan oleh luas areal sawah
e. Klaster 4, dicirikan oleh luas areal kebun campuran f. Klaster 5, dicirikan oleh luas areal hutan rawa g. Klaster 6, dicirikan oleh luas areal tegalan h. Klaster 7, dicirkan oleh luas areal lahan terbuka
Dalam menganalisis perubahan penggunaan lahan dan menghitung kondisi RTH dilakukan dengan kegiatan pengolahan citra Ikonos menggunakan perangkat lunak GIS (ArcGIS) dan software pengolah citra (Er-Mapper), Software Arc View
beserta extension Pengolahan citra ikonos meliputi layer stack, koreksi geometrik, pemotongan citra, klasifikasi penutupan lahan, uji akurasi untuk hasil klasifikasi penutupan
1. Layer stack
digabungkan adalah band 1, 2, 3, 4, 5, dan 7, sedangkan untuk band 6 hanya dikonversi dari bentuk .Tiff menjadi .Img.
2. Koreksi Geometrik
Data citra yang telah dilayer stack kemudian di koreksi berdasarkan koordinat geografisnya yang disebut dengan koreksi geometrik. Proses koreksi geometrik dilakukan dengan dua cara yaitu koreksi citra ke peta acuan atau koreksi citra ke citra acuan yang telah terkoreksi. Pada penelitian kali ini koordinat yang digunakan adalah Universal Transverse Mercator (UTM) dan sebagai acuan adalah citra tahun 2003 yang telah terkoreksi. Penggunaan koordinat UTM dimaksudkan untuk mempermudah proses analisis. Koreksi geometrik citra menggunakan titik ikat medan (GCP) pada citra Ikonos yang akan dikoreksi dengan peta atau citra acuan. Pada penelitian ini yang digunakan adalah citra Tahun 2013 yang telah terkoreksi (proses geo-referensi dari citra ke citra), dari citra yang akan dikoreksi diambil koordinat file-nya, dan citra acuan diambil koordinat lintang dan bujur pada lokasi yang sama.
3. Pemotongan Citra
Pemotongan citra dilakukan sesuai dengan daerah penelitian. Pada penelitian ini citra yang telah terkoreksi dipotong dengan peta batas administratif Kota Medan yang diperoleh dari Bappeda Kota Medan.
4. Klasifikasi Penutupan Lahan
Adapun langkah yang dilakukan adalah : 1. Pengambilan sampel
Sebelum dilakukan proses klasifikasi peta diambil daerah latihan (training
sample areas) dengan menggunakan peta rupa bumi tahun 2003 sebagai
acuan. Pengambilan sampel berdasarkan pada kenampakan warna yang terdapat pada citra atau pengamatan visual. Sampel dibagi dalam kelas lahan bervegetasi pohon, ladang, sawah, semak dan rumput, lahan terbangun, lahan terbuka dan badan air.
2. Proses klarifikasi
Klasifikasi dilakukan terhadap hasil sampling dengan menggunakan metode pengkelas kemiripan maksimum (maximum likehoodclassification). Metode klasifikasi pengkelas kemiripan maksimum yaitu metode mempertimbangkan kemiripan spektral dengan spektral maksimum suatu objek yang dominan akan dimasukkan menjadi satu kelas dan jika nilai spektralnya jauh dari maksimum akan dimasukkan kedalam kelas lain. Pada proses klasifikasi ini akan diperoleh citra kelas pentupan lahan dan presentase penutupan lahan dari masing-masing kelas.
3. Uji akurasi
klasifikasi/interpretasi minimum dengan menggunakan penginderaan jauh harus tidak kurang dari 85 persen (Lillesand & Kiefer 1990).
4. Pewarnaan ulang
Hasil dari pengklasifikasian diwarnai ulang (recode). Pewarnaan ulang ini ditujukan untuk mempermudah dalam mengenali kelas-kelas dalam penutupan lahan
5. Hasil
Hasil dari semua proses pengolahan citra dihasilkan jenis peta penggunaan lahan yang terdiri dari 2 peta yaitu peta tahun 2003 dan tahun 2013. Semua peta yang dihasilkan akan dihitung luasannya. Hasil dari perhitungan luasan digunakan untuk proses analisis yaitu dengan membandingkan luasan berdasarkan tahun.
3.6. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Penggunaan Lahan Bervegetasi Menjadi Lahan Terbangun
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan luas lahan bervegtasi yang terjadi di Kota Medan dilakukan melalui analisis regresi berganda. Regresi berganda adalah suatu metode analisis yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara variabel tujuan (dependent variable) dengan bebrapa variabel penduga (independent variable). Sasaran dari metode regresi berganda adalah penggunaan variabel penduga untuk memprediksi variabel tujuan. Dengan kata lain analisis regrasi berganda digunakan untuk menduga nilai suatu parameter regresi berdasarkan data yang diamati. Model yang dihasilkan dapat digunakan sebagai penduga yang baik jika asumsi-asumsi berikut dapat dipenuhi:
b. Kov (ei,ej) = 0, i ≠ j, artinya kovarian pengamatan ke-i dan ke-j = 0, dengan kata lain tidak ada autokorelasi antara galat pengamatan yang satu dengan yang lain.
c. Var (ei2) = σ2; untuk setiap i dimana i = 1,2,...,n; artinya setiap galat pengamatan memiliki ragam yang sama.
d. Kov (ei,x1i) = Kov (ei,x2i) = 0; artinya kovarian setiap galat pengamatan dengan setiap variabel bebas yang tercakup dalam persamaan linier berganda sama dengan nol.
e. Tidak ada multikolinearitas; artinya tidak ada hubungan linier yang eksak antara variabel-variabel penjelas, atau variabel penjelas harus saling bebas. f. Ei ≈ N (0;σ), galat pengamatan menyebar normal dengan rata-rata nol dan
ragam σ2.
Persamaan (model) yang akan dihasilkan adalah: Y= a+ b
1X1 + b2X2 + b3X3 + … + bnXn
dimana
Y : Variabel terikat (dependent variable) yaitu perubahan lahan RTH b
1 b2 b3 : Koefisien Regresi
X
1 X2 X3 : Variabel bebas (independent variable)
Uji serempak (Uji F) pada model regresi berganda
1. Perumusan hipotesis H
0 : β1 = β2 = β3 = β4 = 0, berarti secara bersama-sama tidak ada pengaruh
variabel bebas terhadap variabel terikat. Dalam konteks penelitian ini, dapat dinyatakan bahwa variabel perubahan penggunaan lahan RTH tidak dipengaruhi secara bersama-sama oleh variabel sosial ekonomi dan biofisiknya (penduduk, bangunan/pemukiman, perluasan infrastruktur kota, dan sebagainya)
H
1 : β1 ≠ β2 ≠ β3 ≠ β4 ≠ 0, berarti secara bersama-sama terdapat pengaruh
variabel bebas terhadap variabel terikat. 2. Penentuan taraf nyata/ level of significance = α
Taraf nyata / derajat keyakinan yang digunakan sebesar α = 10%. Derajat
bebas atau degree of freedom (df) dalam distribusi F ada dua, yaitu : dbregresi = dbr = db1 = k – 1
dbgalat/error = dbg = db2 = n – k dimana:
df = degree of freedom / derajad bebas (db)
n = Jumlah sampel dan k = banyaknya koefisien regresi
3. Penentuan daerah keputusan, yaitu daerah dimana hipotesis nol diterima atau tidak. H
0 diterima apabila F hitung ≤ F tabel, artinya semua variabel bebas
secara bersama-sama bukan merupakan variabel penjelas yang signifikan terhadap variabel terikat. H
0 ditolak apabila F hitung > F tabel, artinya
4. Penentuan uji statistik nilai F
Bentuk distribusi F selalu bernilai positif 5. Pengambilan keputusan
Keputusan bisa menolak Ho atau menerima Ha. Nilai F tabel yang diperoleh dibandingkan dengan nilai F hitung. Apabila F hitung lebih besar dari F tabel, maka Ho ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara variabel independent dengan variabel dependent.
Variabel-variabel yang digunakan dalam analisis regresi berganda adalah: perubahan luas lahan bervegtasi sebagai variabel dependen, dan pertambahan areal lahan terbangun terdiri atas: pertambahan jumlah penduduk, pertambahan jumlah permukiman, pertambahan jumlah industri. sebagai variabel independent. 3.7. Menyusun dan Mensimulasi Model Dinamis Yang Mengkaitkan Faktor
Biofisik, Sosial, Ekonomi, dan Ketersediaan RTH.
Sesuai dengan tujuan penelitian, maka sebagai hasil penelitian dibuat rumusan arahan pengembangan kota hijau di Kota Medan. Sistem Informasi Geografis digunakan untuk menganalisis arahan pengembangan kota hijau yang dilakukan didasarkan pada hasil analisis penutupan lahan, Rencana Umum Tata Ruang (RUTR), dan proyeksi kebutuhan RTH pada tahun 2028, dengan mempertimbangkan preferensi masyarakat terhadap bentuk dan fungsi RTH yang diharapkan.
Arahan pengembangan RTH dilakukan untuk memenuhi kebutuhan RTH maksimum yang masih mungkin dicapai berdasarkan kondisi penutupan lahan
eksisting, RUTR dalam luas wilayah pada masing-masing kecamatan. Sebaran
didominasi oleh penghijauan (vegetasi) dalam bentuk apapun. Sebaran RTH menurut kebutuhan penduduk ditujukan untuk meningkatkan kenyamanan penduduk yang berbentuk taman umum, jalur hijau, hutan kota, dan/atau kawasan perlindungan setempat (selanjutnya disebut RTH kenyamanan).
Bentuk RTH disesuaikan dengan ketersediaan lahan yang ada, namun sebisa mungkin mengakomodasikan preferensi masyarakat. Bila ketersediaan lahan di suatu kecamatan tidak mencukupi, maka pemenuhan kebutuhan diperoleh dari subsidi dari kecamatan lain. Pada prinsipnya seluruh RTH ditujukan untuk menyangga ekologi Kota Medan, namun beberapa diantaranya perlu ditekankan pada fungsi tertentu. Fungsi estetika antara lain ditekankan pada RTH taman dan jalur hijau tepi jalan. Fungsi ekologi ditekankan pada hutan kota, kawasan resapan air, kawasan sempadan situ dan jalur hijau sempadan sungai. Sedangkan kawasan pertanian menekankan pada fungsi ekonomi.
Pendekatan sistem dinamik dimaksudkan dalam rangka menjaga proporsi RTH kota mengantisipasi cepatnya perubahan penggunaan lahan sebagai akibat tekanan penduduk dan kegiatan ekonomi kota. Model ini diharapkan akan diperoleh keseimbangan aspek-aspek ekologi, ekonomi, dan sosial untuk mendukung keberlanjutan pembangunan kota. Adapun tahapan penelitian hingga diperoleh rumusan arahan kawasan kota hijau disajikan dalam Gambar 3.1.
Pendekatan sistem umumnya ditandai oleh dua hal, yaitu (1) mencari semua faktor penting yang ada dalam rangka mendapatkan solusi yang baik untuk menyelesaikan masalah, dan (2) penyusunan suatu model kuantitatif untuk membantu keputusan secara rasional. Tahapan analisis dengan metode pendekatan sistem meliputi analisis kebutuhan, formulasi masalah, identifikasi sistem, pemodelan sistem, verifikasi dan validasi, serta implementasi/opereasi sistem. (Suwarli, 2011)
Langkah ini dimaksudkan untuk memberikan hipotesis tentang interaksi-interaksi perilaku yang mendasar pola referensi. Beberapa interasi dari formulasi, perbandingan dengan bukti empiris dan reforrmulasi akan diperlukan untuk sampai pada satu hipotesa yang logis dan sahih secara empiris.
1 Analisis Kebutuhan
Analisis ini diperlukan untuk mengetahui kebutuhan dari setiap aktor
(stakeholder) yang terkait dengan kota hijau di Kota Medan. Untuk mengetahui
kebutuhan dari masing-masing stakeholder dilakukan dengan berdiskusi atau wawancara langsung kepada masing-masing stakeholder, yang dalam ha1 ini diwakili oleh pihak pemerintah daerah dan masyarakat seternpat. Penentuan responden dilakukan dengan cara purposive sampling.
2 Formulasi Permasalahan
Formulasi permasalahan merupakan pembahasan permasalahan yang dihadapi berdasarkan beberapa kriteria yang kemudian dievaluasikan. Dalam tahap ini, situasi atau isu yang ada digambarkan dan dibatasi oleh studi identifikasi. Hal ini adalah langkah pertama yang biasa dilakukan pada sebagian besar pendekatan untuk menyelesaikan masalah. Strukturisasi masalah dari tahap ini terdiri dari tahap-tahap sebagai berikut (Maani dan Cavana, 2000):
1. Mengidentifikasi isu kebijakan yang menjadi fokus penelitian yaitu marginalisasi RTH dan pengelolaannya. Tahap ini memerlukan kepastian dalam menentukan sasaran hasil, mempertimbangkan sudut pandang
stakeholders.
Formulasi masalah ditentukan atas dasar penentuan informasi melalui identifikasi sistem yang dilakukan secara bertahap (Eriyatno, 1999). Berdasarkan analisis kebutuhan dan adanya perbedaan kepentingan antar stakeholders dalam sistem manajemen pengelolaan RTH di Kota Medan.
3 . Identifikasi Permasalahan
menyelesaikan masalah. Untuk mendapatkan inti permasalahan tersebut ada beberapa ha1 yang perIu diungkapkan, yaitu :
1. Pola referensi
Dalam langkah ini diidentifikasi pola historis atau pola hipotesis yang menggambarkan perilaku persoalan (problem behavior). Pola referensi ini merupakan gambaran perubahan variabel-variabel penting dan variabel lain yang terkait dari waktu ke waktu. Dengan pola historis variabel-variabel ini akan dihasilkan inti masalah untuk suatu kajian sistern dinamik.
2. Hipotesis dinamik
Langkah ini dimaksudkan untuk memberikan hipotesis awd tentang interaksi-interaksi perifaku yang mendasari pola refexensi. Beberapa interaksi-interaksi dari fomulasi, perbandingan dengan bukti empiris dan reformulasi dan diperlukan untuk menampilkan pada satu hipotesa yang logis dan sahih secara empiris. 3. Batas model
4 Konseptualisasi Sistem
Pada tahap ini tercakup langkah-langkah untuk mengenali sistem (system
identification). Identifikasi sistem bertujuan untuk memberikan gambaran
terhadap system yang dikaji dalam bentuk diagram. Diagam yang digunakan adalah diagram lingkar sebab-akibat (causal loop diagram) yang kemudian diinterpretasikan kedalam diagram-diagram input-output sistem.
5. Perumusan Model
Perumusan model merupakan proses untuk mengubah konsep sistem atau struktur model yang telah disusun kedalam bentuk persamaan-persamaan atau bahasa komputer. Perumusan model rnerupakan transformasi dari suatu pandangan konseptual informal ke pandangan konseptual formal atau representasi memugkinkan model tersebut disimulasikan untuk rnenentukan perilaku dinamis yang diakibatkan oleh asumsi-asumsi dari model.
Perumusan model sistem penataan RTH Kota Medan dibagi ke dalam tiga subrnodel yaitu 1) Submodel RTH, 2) submodel penduduk, 3) submodel ekonomi. Secara umum persamaan yang digunakan pada ketiga submodel untuk masing-masing variabel yang diarnati dapat dijabarkan sebagai berikut (Achsan 2009): 1. Sub Model RTH
Y1( t =T) =Y1 (t= 0) + 1 masuk dt –X1 keluar dt
Keterangan :
Y1( t =T) : luas RTH pada saat T
Y1 (t= 0) : luas RTH pada saat mula-mula (t = 0)
X1 masuk dt : Pertambahan luas RTH
X1 keluar dt : Pengurangan luas RTH
2. Sub Model Penduduk
Y2( t =T) =Y2 (t= 0) + 2 masuk dt –X2 keluar dt
Keterangan :
Y2( t =T) : Jumlah penduduk pada saat T
X2 masuk dt : Pertambahan jumlah penduduk
X2 keluar dt : Pengurangan jumlah penduduk
3. Sub Model Ekonomi Y3 = X3A + X3B
Keterangan :
Y3 : Total PDRB
X3A : PDRB sektor non RTH
X3B : PDRB sektor RTH
6. Analisis Perilaku Model
Analisis perilaku model adalah aktivitas untuk memahami perilaku sistem yang diakibatkan oleh asumsi-asumsi dalam model, sehingga dapat menjadi dasar untuk menyempurnakan model. Usaha pemahaman model dengan variabel multi temporal ini dibantu dengan simulasi komputer, sehingga menghasilkan gambaran bagaimana perilaku sistem terhadap waktu.
7. Pengujian
Setelah model diformulasikan, langkah selanjutnya dilakukan pengujian model untuk mendapatkan keyakinan atas kesahihan model dan prediksi terhadap tendensi-tendensi internal sistem. Hal ini diperlukan dalam upaya memodifikasi dan memperbaiki struktur model. Model dapat dikatakan baik jika mudah dikomunikasikan, dapat memberikan pemahaman terhadap perilaku model, dan masih terbuka untuk perbaikan sistem. Uji validasi kinerja dilakukan untuk mengetahui apakah model yang dibangun layak secara akademik dan juga untuk menghindari model yang salah.
8. Validasi Model
memeriksa kesesuaian antara perilaku model matematik dengan perilaku sistem yang diwakili (Eriyatno dan Sofyar 2006). Validasi bertujuan untuk proses yang ditirukan. Dalam validasi model dapat dilakukan dua pengujian yaitu uji validasi struktur dan uji validasi kinerja. Uji validasi struktur lebih menekankan padakeyakinan pada pemeriksaan kebenaran logika pemikiran, sedangkan uji validasi
Cara pengujian yang umum dilakukan adalah dengan memvalidasi output model menggunakan uji statistik yang dikembangkan oleh Muhammadi et al.
(2001) yaitu uji statistik penyimpangan antara nilai rata-rata simulasi terhadap aktual (absolut mean error, AME) dan uji penyimpangan nilai variasi simulasi terhadapaktual (absolut variation error, AVE) dengan kisaran nilai maksimal 10%. Lebih lanjut dikatakan bahwa uji validitas kinerja dapat dilakukan terhadap satu atau lebih variabel yang dominan baik pada main model maupun co model
Adapun rumus untuk menghitung AME dan AVE adalah sebagai berikut: AME = (Si – Ai)/Ai x 100%
AVE = (Ss – Sa)/Sa x 100% dimana :
Si = Si/N S = Nilai simulasi
Ai = Ai/N A = Nilai aktual
SS = (Si – Si)/2/N) Ss = Deviasi nilai simulasi Sa = (Ai-Ai) 2/N Sa = Deviasi nilai aktual
N = Interval waktu pengamatan
diperbolehkan yaitu 10 persen sehingga model yang dibangun memiliki kinerja yang baik, relatif tepat dan dapat diterima secara ilmiah. (Wigena, 2009).
3.8. Merumuskan Kebijakan Yang Dapat Direkomendasikan Untuk Pembangunan Kota Hijau di Kota Medan
Dalam percepatan perbaikan lingkungan perkotaan diperlukan adanya persamaan persepsi antar pemangku kepentingan baik dalam membangun kesadaran masyarakat secara umum maupun dalam upaya membangun model dan langkah-langkah pembangunan kota di masa yang akan datang. Di Kota Medan dapat ditelusuri bahwa bentuk RTH yang ada berjumlah 6 (enam) bentuk yang dipecah dari 3 (tiga) kelompok besar, yaitu
1. Kelompok Kawasan yang terdiri dari 2 (dua) bentuk yaitu bentuk taman kota dan lapangan olah raga,
2. Kelompok Simpul terdiri dari 2 (dua) bentuk yaitu bentuk taman dengan kurang dari 100 pohon dan bentuk jalan,
3. Kelompok Jalur, yang terdiri dari sepadan sungai dan jalur hijau yang hampir keseluruhannya berpusat di pusat Kota/Pemerintahan Kota. (Lampiran 5)
Arahan kebijakan Pengalokasian Kota Hijau digunakan pendekatan Analisis Hierarkhi Proses (AHP). AHP digunakan dalam pengambilan keputusan atas permasalahan yang dilakukan secara kelompok dan permasalahan yang belum. AHP yang dikembangkan oleh Saaty (1993), merupakan suatu metode dalam memecahkan situasi kompleks dan tidak berstruktur ke dalam bagian komponen yang tersusun secara hierarki baik struktural maupun fungsional. Proses sistemik dalam AHP memungkinkan pengambil keputusan mempelajari interaksi secara simultan dari komponen dalam hirarki yang telah disusun. Keharusan nilai numerik pada setiap variabel masalah membantu pengambil keputusan mempertahankan pola pikiran yang kohesif dan mencapai suatu kesimpulan.
Penyusunan secara hirarki dalam AHP mencerminkan pemikiran untuk memilahkan elemen sistem dalam berbagai tingkat berlainan dan mengelompokkan unsur yang serupa pada tiap tingkat. Tingkat puncak yang disebut fokus hanya satu elemen yaitu sasaran keseluruhan yang sifatnya luas. Tingkat berikutnya masing–masing dapat memiliki beberapa elemen. Dikarenakan elemen dalam suatu tingkat akan dibandingkan satu dengan yang lainnya terhadap suatu kriteria yang berada di tingkat atas, maka elemen dalam setiap tingkat harus dari derajat besaran yang sama (Gambar 3.5).
pertimbangan tersebut untuk menetapkan variabel yang memiliki prioritas tertinggi dalam mempengaruhi hasil.
Prinsip dasar penyelesaian persoalan dengan metode AHP adalah
decomposition, comparative judgement, synthesis of priority, dan logical
consistency.
1) Decomposition
Decomposition adalah proses pemecahan persoalan menjadi unsur-unsurnya.
Pemecahan dilanjutkan terhadap unsur-unsurnya sampai tidak dapat dilakukan pemecahan lebih lanjut, sehingga didapatkan beberapa tingkatan dari persoalan tersebut untuk mendapatkan hasil yang akurat
2) Comparative judgement
Comparative judgement adalah membuat penilaian tentang kepentingan relatif
dua elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkat di atasnya. Penilaian ini merupakan inti dari AHP, karena akan berpengaruh terhadap prioritas elemen-elemen. Hasil penilaian dapat disajikan dalam bentuk matriks pairwise comparition.
3) Synthesis of Priority
Synthesis of priority adalah menentukan peringkat elemen-elemen menurut
relatif pentingnya. Penentuan peringkat dilakukan dengan cara mencari
eigenvector pada setiap matrik pairwise comparison untuk mendapatkan local
priority. Karena matrik pairwise comparison terdapat pada setiap tingkat, maka
untuk mendapatkan global priority harus dilakukan sintesis diantara local
priority. Pengurutan elemen-elemen menurut kepentingan relatif melalui
4) Logical Consistency
Konsistensi memiliki dua makna. Pertama adalah bahwa obyek-obyek yang serupa dapat dikelompokkan sesuai dengan keseragaman dan relevansi. Kedua adalah menyangkut tingkat hubungan antara obyekobyek yang didasarkan pada kriteria tertentu. Konsistensi logis menjamin bahwa semua elemen dikelompokkan secara logis dan diperingkatkan secara konsisten sesuai dengan suatu kriteria yang logis.
5) Komparasi berpasangan
Penentuan tingkat kepentingan (bobot) dari elemen-elemen keputusan pada setiap tingkat hirarki dilakukan dengan judgement melalui pembandingan. Nilai tingkat kepentingan ini dinyatakan dalam bentuk kualititif dengan membandingkan antara satu elemen dengan elemen lainnya. Untuk mengkuantifikasikan digunakan skala penilaian. Menurut Saaty (1993), skala penilaian 1 sampai 9 merupakan yang terbaik berdasarkan nilai Root Mean
Square Deviation (RMS) dan Median Absolute Deviation atau MAD
(Tabel 3.4).
Tabel 3.4. Skala perbandingan berpasangan
Nilai Keterangan
1 Kedua elemen sama penting
3 Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yang lainnya
5 Elemen yang satu lebih penting daripada elemen yang lainnya 7 Satu elemen jelas lebih mutlak penting daripada elemen lainnya 9 Satu elemen mutlak penting daripada elemen lainnya
2,4,6,8 Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan-pertimbangan yang berdekatan
Responden bisa seorang ahli atau bukan, tetapi terlibat dan mengenal baik permasalahan tersebut. Jika responden merupakan kelompok, maka seluruh anggota diusahakan memberikan pendapat (judgement).
Gambar 3.3. Hirarki pembangunan kota hijau
Langkah-langkah berikut menjadi arahan prioritas kebijakan dan strategi pengalokasian kota hijau berbasis komunitas hijau, yaitu :
I. Fokus : Menyusun konsep kota pembangunan kota hijau II. Aktor :
1) Pemerintah daerah, yaitu badan dan dinas-dinas pada pemerintahan daerah Kota Medan yang terkait dengan upaya penganggaran dan pengendalian pemanfaatan RTH;
3) Swasta (pengusaha), yaitu orang-orang yang berkontribusi dalam program-program pembangunan di Kota Medan dalam hal ini yang masuk dalam keanggotaan Kadin Kota Medan; 4) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yaitu lembaga dibentuk
oleh masyarakat yang perduli dengan masalah tata ruang kota; 5) Perguruan tinggi, yaitu perguruan tinggi baik negeri maupun
swasta yang peduli dan meneliti masalah perencanaan dan pembangunan kota
III. Alternatif
a) Kawasan berbentuk non-linier, zonal atau areal, dengan luas
minimal satu hektar, seperti : taman kota, hutan kota, kawasan konservasi, lapangan bola, alun-alun kota, kawasan fungsional (perdagangan, industri, permukiman, pertanian) dan sebagainya.
b) Simpul berbentuk non-linier, zona atau areal dengan luas
kurang dari satu hektar, seperti : pekarangan, taman RT, Taman RW, dan sebagainya
c) Jalur Hijau berbentuk koridor, linier, memanjang. Termasuk
BAB IV
KONDISI UMUM LOKASI
4.1. Kondisi Geografis dan Sumberdaya Alam
Pemahaman terhadap kondisi fisik dasar wilayah penelitian yang akan dikemukakan adalah meliputi letak geografis dan batas administrasi, aspek topografi/kemiringan lereng, kondisi geologi/jenis tanah, klimatologi, hidrologi, dan pola penggunaan tanah. Aspek tersebut akan menentukan daya dukung lahan serta daya tampung ruang fisik lahan terhadap arah pengembangan kota pada masa mendatang.
Berdasarkan peta topografi lembar Kota Medan skala 1 : 50.000 lembar 0619-61 dan 0610-63 daerah penelitian secara astronomis terletak antara 20 29’30” Lintang Utara dan 980 41’30” Bujur Timur, dengan luas daerah penelitian secara keseluruhan 265,10 Km2. Secara administrasi daerah ini dibatasi oleh :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang - Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang - Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang
jelasnya mengenai luas wilayah administrasi Kota Medan dapat dilihat pada Gambar 4.1. Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Luas wilayah dan rasio terhadap luas Kota Medan menurut kecamatan tahun 2013
No Kecamatan Luas (Ha) Persentase Kelurahan Lingkungan
1 Medan Tuntungan 2.068 7,80 9 75
Sumber BPS Kota Medan Tahun 2013
4.2. Keadaan Iklim dan Cuaca
4.3. Keadaan Hidrologi
Sungai-sungai yang membentang di Kota Medan memiliki pengaruh yang cukup besar pada perkembangan Kota Medan. Sungai-sungai ini digunakan sebagai sumber air untuk masyarakat yang menduduki daerah sekitar sungai, untuk mengatasi banjir serta tempat pembuangan air hujan. Kota Medan secara hidrologi dipengaruhi dan dikelilingi oleh beberapa sungai besar dan anak sungai seperti Sungai Percut, Sungai Deli, Sungai Babura, Sei Belawan dan sungai-sungai lainnya.
4.4. Kependukan dan Sosial Ekonomi Kota Medan
4.4.1. Kependukan Kota Medan
Tabel 4.2. Jumlah, laju pertumbuhan dan kepadatan penduduk Kota Medan tahun 2003 – 2013
Tahun Laki-Laki Perempuan Jumlah Penduduk
Sumber : BPS Kota Medan Tahun 2003 - 2013
Berdasarkan Tabel 4.2 di atas diketahui bahwa sejak tahun 2003-2013 terjadi peningkatan jumlah penduduk Kota Medan yakni dari 1.993.602 jiwa pada tahun 2003 menjadi 2.135.516 jiwa tahun 2013. Selama kurun waktu 10 tahun (2003 – 2013), pertambahan penduduk Kota Medan bertambah sebesar 141.914 jiwa, namun laju pertumbuhan penduduk periode tahun 2003-2013 terjadi penurunan jumlah penduduk namun 0,10 persen pada tahun 2013. Diketahui, faktor alami yang mempengaruhi peningkatan/penurunan laju pertambahan penduduk adalah tingkat kelahiran, kematian, dan arus urbanisasi. Oleh karenanya, upaya-upaya pengendalian kelahiran melalui program Keluarga Berencana (KB) harus terus dipertahankan untuk menekan angka kelahiran.
dengan semakin menyempitnya luas lahan yang ada sehingga berpeluang terjadi ketidak seimbangan antara daya dukung dan daya tampung lingkungan yang ada. Kombinasi antara kepadatan, commuters (penglaju), para pencari kerja dan peran Pemerintah Kota Medan sebagai pusat pelayanan regional menyebabkan tuntutan akan pelayanan dasar menjadi terus meningkat.
4.4.2. Sosial Ekonomi Kota Medan
Kegiatan perekonomian merupakan aspek yang sangat penting untuk perkembangan Kota Medan. Kota Medan sebagai pusat pemerintahan Propinsi Sumatera Utara berfungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi dan sosial baik dalam lingkup wilayah Kota Medan itu sendiri maupun lingkup wilayah propinsi Sumatera Utara. Adanya fungsi regional yang luas tersebut menjadikan Kota Medan dapat menyelenggarakan aktivitas ekonomi dalam volume yang besar. Kapasitas perekonomian yang besar tersebut ditunjukan oleh laju pertumbuhan ekonomi yang dicapai Kota Medan, yang selalu berada di atas pertumbuhan ekonomi daerah-daerah sekitarnya.
Tabel 4.3. Produk domestik regional bruto Kota Medan atas dasar harga berlaku tahun 2009 – 2013 (miliyar rupiah)
Sektor 2009 2010 2011 2012 2013
SEKTOR PRIMER
1. Pertanian 2.023,06 2.225,32 2.340,77 2.579,18 2.719,58 2. Pertambangan dan
penggalian 2,98 2,95 2,91 2,93 2,92
SEKTOR SEKUNDER
3. Industri pengolahan 10.860,50 12.475,53 13.464,88 14.567,46 16.046,20 4. Listrik, gas, dan air
minum 1.244,80 1.415,44 1.579,10 1.618,51 1.811,08
5. Bangunan 6.927,19 8.149,94 9.830,51 11.355,36 13.154,79 SEKTOR TERSIER
6. Perdagangan, hotel,
dan restoran 19.502,96 22.431,93 24.263,41 26.892,99 30.163,11 7. Pengangkutan dan
komunikasi 14.255,72 15.786,32 17.804,02 20.315,43 24.325,83 8. Keuangan,
persewaan, dan jasa perusahaan
10.062,91 11.893,13 14.142,27 17.334,78 18.477.63
9. Jasa-jasa 7.750,09 8.933,95 10.182,88 11.733,88 13.034,64 PDRB 72.630,20 83.315,02 93.610,76 106.400,44 119.715,48
Sumber : PDRB Kota Medan Tahun 2009-2013
bersih, industri pengolahan dan hotel berbintang dan restoran di kota Medan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perekonomian Kota Medan digerakkan oleh seluruh kelompok sektor yaitu primer, sekunder dan tersier secara simultan.
PDRB atas dasar harga konstan berguna untuk menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan maupun sektoral dari tahun ketahun. Adapun PDRB atas dasar harga konstan Kota Medan tahun 2009 - 20113 dapat diuraikan pada Tabel 4.4.berikut.
Tabel 4.4. Produk domestik regional bruto Kota Medan menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku tahun 2009 – 2013 (miliyar rupiah)
3. Industri pengolahan 4.691,60 4.792,16 4.960,71 5.144,02 5.332,92 4. Listrik, gas, dan air
minum 464,92 497,66 519,21 532,92 555,27
5. Bangunan 3.748,68 4.006,47 4.308,77 4.612,72 4.962,40 SEKTOR TERSIER
6. Perdagangan, hotel,
dan restoran 8.824,16 9.584,51 10.415,33 11.320,12 12.361,90 7. Pengangkutan dan
komunikasi 6.866,78 7.346,13 7.914,67 8.673,81 7.866,49 8. Keuangan,
persewaan, dan jasa perusahaan
4.729,54 5.133,72 5.599,45 6.085,01 6.649,09
9. Jasa-jasa 3.446,55 3.690,68 4.065,04 4.442,71 4.760,33
PDRB 33.430,06 35.822,23 38.076,33 41.619,31 43.303,96
Sumber : PDRB Kota Medan 2013
pendapatan penduduk kota Medan signifikan cukup meningkat terlihat dari PDRB kota Medan atas dasar harga konstan yang terus mengalami peningkatan. Dari data di atas diketahui bahwa perkembangan PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000, selama periode Tahun 2009-2013 mengidentifikasikan adanya peningkatan, yang menggambarkan kondisi tetap tumbuhnya sektor produksi, sektor perdagangan dan jasa secara riil.
4.5. Dinamika Penggunaan Lahan
Landuse (penggunaan lahan) dan landcover (penutupan lahan) sering digunakan secara bersama-sama, namun kedua terminologi tersebut berbeda. Menurut Lillesand dan Kiefer (1979), penutupan lahan berkaitan dengan jesis kenampakan yang ada di permukaan bumi, sedangkan penggunaan lahan berkaitan dengan kegiatan manusia pada obyek tersebut. Townshend dan Justice (1981), juga berpendapat bahwa penutupan lahan adalah perwujudan secara fisik (visual) dari vegetasi, benda alam, dan unsur-unsur budaya yang ada di permukaan bumi tanpa memperhatikan kegiatan manusia terhadap obyek tersebut. Sedangkan Barret dan Curtis (1982), mengatakan bahwa permukaan bumi sebagian terdiri dari kenampakan alamiah (penutupan lahan) seperti vegetasi, salju, dan lain sebagainya, serta sebagian lagi berupa kenampakan hasil aktivitas manusia (penggunaan lahan).
lanskap, dan lain-lain harus menggunakan penutupan lahan. Namun, penutupan lahan itu sendiri akan dipengaruhi oleh status penggunaan. Contohnya, suatu lahan berhutan jika berada dalam penggunaan lahan pertambangan akan tidak tepat dianalisis menggunakan penutupan lahan jika rentang studi cukup lebar karena aktifitas pertambangan akan mengubah penutupan lahan berhutan tersebut dalam kisaran waktu analisis
Tabel 4.5. Penggunaan lahan dan luas guna lahan Kota Medan
No Guna Lahan Luas Lahan(ha)
1 Air (Danau) 636,697
2 Hutan Mangrove Sekunder 473,103
3 Perkebunan 320,707
4 Permukiman 20.009,647
5 Tanah Terbuka/Instalasi Prasarana 302,940
6 Pertanian Lahan Kering 2.918,415
7 Pertanian Lahan Kering Bercampur Semak 10,106
8 Sawah 827,924
9 Semak Belukar/Rawa 2.166,654
10 Tambak 1.294,435
Jumlah 28.960,628
Sumber: BPDAS Kota Medan, 2010
4.6. Karakteristik Struktur Kota Medan
Aplikasi dari teori atau konsep tersebut dituangkan dalam bentuk identifikasi cluster-cluster (kelompok perkembangan yang saling terkait). Cluster-cluster yang diidentifikasikan dan diprioritaskan pengembangannya adalah : a) Cluster pusat kota dengan fungsi utama sebagai : pusat perdagangan dan
jasa;
b) Cluster kawasan utara dengan fungsi utamanya sebagai: kawasan industri, pelabuhan, pariwisata dan perikanan; dan
Dalam konteks rencana struktur ruang Kota Medan perlu disusun rencana sistem pusat-pusat pelayanan yang terdiri pusat pelayanan kota dan subpusat pelayanan kota. Sub-pusat pelayanan kota harus terintegrasi dengan pusat pelayanan kota. Pengembangan struktur ruang Kota Medan dilakukan dengan beberapa pertimbangan antara lain :
1. Mengembangkan kawasan utara Kota Medan menjadi kawasan strategis kota (KSK) dengan memperhatikan potensi dan peranan kawasan utara yang memiliki pelayanan regional dan internasional, antara lain :
Pelabuhan Belawan merupakan outlet-inlet point utama yang memegang peranan penting dalam sistem perhubungan laut antara Sumatera Utara dengan wilayah lainnya
Peran penting pelabuhan Belawan dalam pergerakan arus barang dari dan ke wilayah Sumatera Utara yang melayani sekitar 84,5 persen arus masuk dan 77 persen arus keluar Sumatera Utara;
Dalam rangka mengembangkan perdagangan dalam skala regional, nasional, dan internasional ditempuh dengan meningkatkan kemampuan Pelabuhan Belawan menjadi pelabuhan internasional.
2. Berdasarkan arahan kebijakan kawasan perkotaan Mebidangro, kawasan utara diarahkan sebagai pengembangan :
Pusat perdagangan (TOD), pusat pelayanan kawasan industri, kawasan industri high technology, pusat permukiman industri, perlindungan kawasan dan bangunan bersejarah, water front city, dan theme park. 3. Kawasan utara berperan sebagai kawasan yang memiliki pelayanan regional
dan internasional, maka perlu adanya suatu pusat pelayanan di utara yang juga memiliki skala pelayanan regional (primer), yang disebut dengan istilah Pusat Pelayanan Kota;
4. Pusat kota tetap dipertahankan fungsinya sebagai pusat pelayanan perdagangan dan jasa skala regional.
akses penduduk untuk memperoleh pelayanan di satu kawasan.
6. Pada wilayah pusat kota dan CBD Polonia yang juga memiliki pelayanan regional juga akan dilayani oleh satu pusat pelayanan regional yang wilayah pelayanannya lebih besar dari pusat primer utara, yang disebut dengan pusat pelayanan kota; Dengan demikian maka di Kota Medan akan memilikin dua pusat pelayanan kota, 1 (satu) pusat pelayanan kota di utara dan 1 (satu) pusat pelayanan kota di pusat kota. Untuk menghubungkan wilayah utara (pusat pelayanan kota di Utara) dan wilayah pusat kota (pusat pelayanan kota di Kota) akan dikembangkan transportasi multimoda dengan tulang punggung transportasi massal kereta api.
Ditinjau dari zona keruangannya dapat dikelompokkan sebagai berikut : Zona 1 (Central Bussines District)
Zona ini terdapat pada kawasan kecamatan Medan Kota, yang merupakan pusat kota yang menampung sebagian besar kegiatan kota
Zona 2 (Wholesale Light Manufacturing)
Zona ini terdapat pada kawasan kecamatan Medan Denai, dimana pada daerah ini terletak dekat dengan zona 1 dan memiliki tenaga kerja paling banyak. (Yunus, 1999:50).
Zona 3 (Daerah Pemukiman Kelas Rendah)
Zona ini terdapat pada kawasan kecamatan Medan Marelan. Dimana pada kawasan ini pada umumnya terdiri dari penduduk golongan rendah dan letaknya dekat dengan pabrik-pabrik. (Yunus, 1999:50)
Zona ini terdapat pada kawasan kecamatan Medan Helvetia. Pada umumnya penduduk yang tinggal di kawasan ini mempunyai penghasilan yang lebih tinggi dari penduduk di zona 3.
Zona 5 (Daerah Pemukiman Kelas Tinggi)
Zona ini terdapat pada kawasan kecamatan Medan Baru, yang memiliki kondisi paling baik untuk pemukiman dalam artian fisik maupun penyediaan fasilitas. Kawasan ini lokasinya relatif jauh dari daerah industri berat, memiliki nilai lahan yang cukup tinggi. Oleh karena itu hanya golongan penduduk berpenghasilan tinggi yang mampu memiliki lahan dan pemukiman di kawasan ini.
Zona 6 (Heavy Manufacturing)
Zona ini terdapat pada kawasan kecamatan Medan Deli yang merupakan daerah pusat perindustrian yang paling banyak.
Zona 7 (Pusat Business District Lainnya)
Zona ini terdapat pada kawasan kecamatan Medan Petisah, yang merupakan kawasan dengan pusat perdagangan terbanyak selain kecamatan Medan Kota. Zona ini muncul untuk memnuhi kebutuhan penduduk zona 4 dan zona 5.
Zona 8 (Zona Pemukiman Daerah Pinggiran)
Zona ini terdapat pada kawasan Medan Denai. Dimana pada kawasan ini penduduknya sebagian besar bekerja di pusat kota, dan di kawasan ini merupakan daerah yang memiliki penduduk bekerja terbanyak.
Zona ini terdapat pada kawasan Medan Amplas. Kawasan ini terletak di daerah pinggiran dan dijangkau jalur transportasi yang memadai.
4.7. RTH Kota Medan
Ruang terbuka hijau Kota Medan di kelaskan menjadi dua kelompok yaitu RTH publik dan RTH privat. RTH publik adalah RTH yang penyediaan dan pemeliharaannya menjadi tanggungjawab pemerintah kabupaten/kota. Contoh dari RTH publik adalah taman kota, tempat pemakaman umum, jalur hijau sepanjang jalan sungai dan pantai. RTH privat adalah RTH yang penyediaan dan pemeliharaannya menjadi tanggungjawabpihak/lembaga swasta, perseorangan dan masyarakat yang dikendalikan melalui izin pemanfaatan ruang oleh pemerintah kabupaten/kota,
Penggunaan lahan untuk kawasan RTH tersebar di wilayah Kota Medan yang berupa kawasan mangrove/hutan rawa, kebun campuran, sawah, tegalan, lahan terbuka dan sempadan sungai/ (Sungai Deli, Sungai Babura, dan Sungai Belawan), dan beberapa kawasan yang dikelola oleh Dinas Pertamanan Kota seperti : hutan kota, taman kota, tempat pemakaman umum.
4.8. Penilaian dan Preferensi Masyarakat terhadap RTH Kota
masyarakat menilainya lebih tinggi dibandingkan dengan nilai dari fungsi ekonomi (Nurisjah, 2005). Penilaian dan apresiasi masyarakat ini dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, latar belakang yang berbasis lingkungan dan gender. Semakin meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap RTH, maka pihak perencana dan pengelola kota harus memiliki metode konseptual untuk dapat mengendalikan Kualitas lingkungan wilayah perkotaan dari sudut pandang masyarakat sebagai pengguna, terutama terkait dengan fungsi dan bentuk RTH kota.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Dinamika Perubahan Penggunaan Lahan di Kota Medan
Kota Medan merupakan ibukota provinsi dimana pertumbuhan dan perkembangan kota terjadi sangat pesat yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor terutama dalam hal penggunaan lahan. Alih fungsi lahan selalu terjadi terutama dalam hal pemenuhan aktivitas sosial ekonomi yang menyertai pertumbuhan dan perkembangan suatu kota. Menurut Soetomo (2002:19) perkembangan kota tidak akan pernah lepas dari dua aspek penting yang saling mengisi yaitu aspek fisik sebagai wujud ruang dengan elemen-elemen pembentuk di dalamnya, serta aspek manusia sebagai subyek dan pengguna ruang kota.
Keberadaan Kota Medan sebagai kota metropolitan menjadi pusat konsentrasi penduduk dimana pertambahan penduduk akan jauh lebih pesat dibandingkan dengan wilayah disekitarnya sesuai dengan pernyataan Pontoh dan Kustiawan ( 2009), bahwa kota adalah tempat dengan konsentrasi penduduk lebih padat dari wilayah sekitarnya karena terjadi pemusatan kegiatan fungsional yang berkaitan dengan kegiatan atau aktivitas penduduknya. Hal ini mengakibatkan adanya peningkatan kebutuhan akan lahan untuk pemenuhan kesejahteraan penduduk. Keadaan tersebut akan menimbulkan terjadinya perubahan penggunaan lahan yang kadangkala tidak mengikuti kaedah konservasi alam. Oleh karena itu, faktor dominan yang menyebabkan perubahan penggunaan lahan di Kota Medan perlu diketahui sehingga dampak positif dan negatif dari perubahan dapat direspon dengan baik.
perubahan penggunaan lahan yang sangat dinamis (lampiran 1 dan lampiran 2). Penggunaan lahan yang paling besar perubahannya adalah lahan terbangun (RTB) seperti lahan industri bertambah seluas 122,24 Ha, lahan jasa bertambah seluas 257,45 Ha, dan lahan permukiman bertambah seluas 763,38 Ha, sedangkan untuk lahan yang bervegetasi (RTH), seperti hutan rawa berkurang 160,03 Ha, kebun campuran berkurang seluas 7,45 Ha, lahan sawah berkurang seluas 130,68 Ha, lahan terbuka berkurang seluas 852,04 Ha, dan lahan tegalan bertambah seluas 6,91 Ha. (lampiran 1 dan 2).
Secara keseluruhan. dinamika perubahan penggunaan lahan Kota Medan tahun 2003-2013 disajikan pada Gambar 5.1 dan sebaran spasial hasil interpretasi penggunaan lahan Kota Medan disajikan pada Gambar : 5.2, 5.3. dan 5.4.
(Sumber : hasil pengolahan citra ikonos 2003-2013)
Sunggal berkurang 15,71 persen, Kecamatan Medan Johor berkurang 13,2 persen, Kecamatan Medan Belawan berkurang 9,67 persen, Kecamatan Medan Tuntungan berkurang 8,89 persen, Kecamatan Medan Labuhan berkurang 8,05 persen, Kecamatan Medan Deli berkurang 7,72 persen, Kecamatan Medan Marelan berkurang 7,05 persen, Kecamatan Medan Denai berkurang 5,87 persen, Kecamatan Medan Polonia berkurang 5,76 persen, Kecamatan Medan Selayang berkurang 3,86 persen, Kecamatan Medan Helvetia berkurang 3,55 persen, Kecamatan Medan Timur berkurang 3,26 persen, Kecamatan Medan Tembung berkurang 2,73 persen, Kecamatan Medan Maimun berkurang 1.55 persen, Kecamatan Medan Barat berkurang 1.39 persen, Kecamatan Medan Baru berkurang 0,65 persen, Kecamatan Medan Perjuangan berkurang 0.62 persen, Kecamatan Medan Area berkurang 0,19 persen, Kecamatan Medan Kota berkurang 0,14 persen, Kecamatan Medan Amplas berkurang 0,02 persen, Kecamatan Medan Petisah berkurang 0,01 persen.
Tingginya dinamika perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Medan Sunggal diduga karena kecamatan tersebut jauh berada di luar pusat kota dan memiliki luas kecamatan yang paling potensial untuk merubah lahan RTH menjadi lahan terbangun. Kecamatan yang laju perubahan penggunaan lahannya yang relatif kecil adalah Kecamatan Medan Petisah, berkurang 0,01 persen, hal ini disebabkan karena sebagian besar penggunaan lahan di kecamatan tersebut sangat di dominasi oleh permukiman dan industri kecil. Untuk mengetahui laju luasan perubahan penggunaan lahan di masing-masing kecamatan di Kota Medan dapat dilihat pada Tabel 5.1. dibawah ini.
Kebutuhan kawasan terbangun di Kota Medan semakin meningkat sejalan dengan tingginya pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi masyarakatnya. Implikasi beragamnya. fungsi budidaya kawasan perkotaan menekan lahan RTH sebagai kawasan lindung ekologis kota. Hal ini disebabkan aksesibilitas infrastruktur kota yang mampu menarik berbagai kegiatan yang dapat merubah penggunaan lahan bervegetasi menjadi kawasan terbangun. Sehingga akibatnya perkembangan kota cenderung mengalami pergeseran fungsi-fungsinya ke daerah pinggiran kota (urban fringe) atau Bagian Wilayah Kota (BWK) kecamatan. Fenomena inilah yang disebut sebagai proses perembetan kenampakan fisik kekotaan ke arah luar (urban sprawl). sebagai bagian dari konsekuensi dinamika perubahan penggunaan lahan perkotaan yang cepat.
Kebutuhan lahan RTH menjadi lahan RTB di Kota Medan cenderung terus meningkat dari 15679,99 Ha (tahun 2003) menjadi 16814 Ha (tahun 2013), hal ini ditandai dengan peningkatan jumlah penduduk dan berkembangnya struktur perekonomian. Alih fungsi lahan RTH menjadi lahan RTB sulit dihindari akibat kecenderungan tersebut. Beberapa kasus menunjukkan jika disuatu lokasi terjadi perubahan penggunaan lahan, maka dalam waktu yang tidak lama lahan disekitarnya juga beralih fungsi secara progresif. (Gambar 5.5.).
10830,06
15679,99
RTH
RTB
9695,23
16814,66
RTH
RTB
Perubahan RTH menjadi RTB disebabkan oleh dua faktor. Pertama, sejalan dengan pembangunan kawasan perumahan dan industri mengakibatkan aksesibilitas di lokasi tersebut menjadi semakin kondusif untuk pengembangan perumahan dan industri yang akhirnya mendorong meningkatnya permintaan lahan oleh investor atau spekulan tanah sehingga harga lahan di sekitarnya meningkat. Kedua, peningkatan harga lahan selanjutnya dapat merangsang penduduk lain disekitarnya untuk menjual lahan (Irawan, 2008). Pelaku pembelian tanah biasanya bukan penduduk setempat, sehingga mengakibatkan terbentuknya lahan-lahan gantai yang secara umum rentan terhadap proses alih fungsi lahan (Wibowo, 1996).
Proses lahan RTH menjadi lahan RTB juga disebabkan faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal yang disebabkan oleh adanya dinamika pertumbuhan perkotaan, demografi maupun ekonomi. Faktor internal disebabkan oleh kondisi sosial-ekonomi rumah tangga petani, Faktor kebijakan yaitu aspek regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat maupun daerah yang berkaitan dengan perubahan fungsi lahan pertanian (Lestari, 2009).
Sejalan dengan kebijaksanaan pembangunan yang menekankan terhadap aspek pertumbuhan melalui kemudahan fasilitas investasi, baik kepada investor lokal maupun luar negeri dalam penyediaan tanahnya, maka perubahan penggunaan lahan dari pertanian ke non pertanian terjadi secara meluas. Tiga kebijakan nasional yang berpengaruh langsung terhadap alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian adalah:
keleluasaan bagi pihak swasta untuk melakukan investasi dalam pembangunan kawasan industri dan memilih lokasinya sesuai dengan mekanisme pasar. Dampak kebijakan ini sangat berpengaruh terhadap peningkatan kebutuhan lahan sejak tahun 1989, yang telah berorientasi pada lokasi subur dan menguntungkan dari ketersediaan infrastruktur ekonomi.
2. Kebijakan pembangunan pemukiman skala besar dan kota baru, maka muncullah spekulan yang mendorong minat para petani menjual lahannya. 3. Kebijakan deregulasi dalam penanaman modal dan perizinan sesuai
dengan Paket Kebijaksanaan Oktober Nomor 23 Tahun 1993 memberikan kemudahan dan penyederhanaan dalam pemrosesan dan perizinan lokasi, yang kemudian terjadi peningkatan sangat nyata dalam hal permohonan izin lokasi baik untuk kawasan industri, pemukiman skala besar, maupun kawasan pariwisata (Widjanarko, dkk, 2006).
Dinamika dan arah perubahan penggunaan lahan RTH menjadi ruang terbangun (RTB) cenderung bersifat irreversible artinya sulit untuk kembali seperti semula, kalaupun dapat kembali ke penggunaan lahan awal, perlu energi yang besar untuk mengatasinya seperti biaya, waktu dan kemungkinan munculnya konflik sosial dan budaya.
5.2. Pola Perubahan Penggunaan Lahan
industri, sedangkan lahan hutan rawa yang terdapat di Kecamatan Medan Amplas dan Medan Tuntungan berubah menjadi lahan terbuka terlebih dahulu dan dibiarkan saja sehingga menjadi lahan jasa.
Lahan sawah yang terdapat di Kecamatan Medan Belawan, Kecamatan Medan Deli, Kecamatan Medan Helvetia, Kecamatan Medan Johor, Kecamatan Medan Labuhan, Kecamatan Medan Marelan, Kecamatan Medan Petisah, Kecamatan Medan Selayang, Kecamatan Medan Sunggal, Kecamatan Medan Tembung, Kecamatan Medan Timur dan Kecamatan Medan Tutungan berubah menjadi lahan permukiman.
Penggunaan lahan sawah di Kecamatan Medan Amplas, Kecamatan Medan Barat, Kecamatan Medan Baru, Kecamatan Medan Belawan, Kecamatan Medan Deli, Kecamatan Medan Denai, Kecamatan Medan Helvetia, Kecamatan Medan Johor, Kecamatan Medan Labuhan, Kecamatan Medan Marelan, Kecamatan Medan Selayang, Kecamatan Medan Sunggal, Kecamatan Medan Tembung, Kecamatan Medan Timur dan Kecamatan Medan Tuntungan berubah menjadi lahan permukiman.
Berdasarkan bukti empirik, arah perubahan penggunaan lahan yang terjadi dapat disimpulkan memiliki 8 (delapan) pola urutan perubahan penggunaan lahan yaitu:
Gambar 5.6. Pola Perubahan Penggunaan Lahan Kota Medan
5.3. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Penggunaan Lahan Bervegetasi Menjadi Lahan Terbangun
Perubahan RTH menjadi kawasan terbangun di Kota Medan diduga disebabkan beberapa faktor penyebab. Analisis regresi berganda merupakan salah satu pendekatan untuk menduga faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan tersebut. Dalam menggunakan model analisis ini terlebih dahulu ditentukan beberapa variabel yang diduga mempengaruhi perubahan RTH. Variabel-variabel tersebut antara lain jumlah penduduk (tahun 2003 – 2013, dalam satuan jiwa), jumlah permukiman (tahun 2003 – 2013, dalam satuan unit), jumlah industri (tahun 2003 – 2013, dalam satuan unit). Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 3 (tiga) variabel penduga terdapat 1 (satu) variabel yang
berpengaruh nyata terhadap variabel tujuan (α ≤0.05) yaitu jumlah permukiman,
dan dinyatakan dalam bentuk persamaan :
Y = 9182,213 - 0,004 X1– 0.16 X2– 0.24 X3
Residual 156405.169 7 22343.596
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig. B Std. Error Beta
1 (Constant) 9182.213 5768.289 1.592 .155
Penduduk -004 .004 .469 .870 .413
Permukiman -.016 .006 -1.392 -2.609 .035
Industri -.024 .561 -.006 -.042 .968
Nilai R square sebesar 0,89 (Tabel 5.2) menunjukkan bahwa sekitar 89 persen variabel-variabel tersebut dapat menjelaskan tingkat pengaruhnya terhadap perubahan RTH menjadi kawasan terbangun, sedangkan sisanya atau sebesar 0,11 persen di pengaruhi oleh variabel lain (penduduk dan industri). Variabel yang berpengaruh nyata terhadap perubahan RTH menjadi kawasan terbangun adalah jumlah permukiman memiliki p-level kurang dari 0.05. Besarnya pengaruh faktor jumlah permukiman dapat dilihat dari besarnya koefisien regresi yang dimiliki. Nilai koefisien yang bertanda negatif berarti faktor tersebut berpengaruh searah dimana mengurangi perubahan RTH menjadi kawasan terbangun (lampiran 6).
Secara lebih rinci, faktor- faktor yang mempengaruhi perubahan luas RTH di Kota Medan adalah sebagai berikut:
1. Permukiman
2. Penduduk
Hasil regresi yang bernilai positif dengan koefisiensi 0,024 menunjukkan bahwa setiap penambahan satu orang penduduk maka potensi pengurangan luas RTH sebesar 0,024 Ha.
3. Industri
Hasil regresi yang bernilai positif dengan koefisiensi 0,04 menunjukkan bahwa setiap penambahan satu industri maka potensi pengurangan luas RTH sebesar 0,004 Ha. Hal ini diduga karena setiap penambahan satu industri akan menambah pembangunan fasilitas industri yang tidak disertai dengan pengalokasian sebagian lahannya untuk RTH.
Tingkat kepadatan permukiman yang tinggi tentu saja akan berdampak pada peningkatan kebutuhan ruang, terutama kebutuhan sarana dan prasarana penunjang lainnya. Peningkatan tersebut tidak mungkin diikuti oleh ketersediaan lahan yang pada dasarnya bersifat tetap sehingga proses konversi RTH menjadi kawasan terbangun dianggap sebagai alternatif yang paling mudah untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Pola penggunaan lahan Kota Medan 52,32 persen dimanfaatkan untuk kawasan terbangun seperti perumahan dan permukiman. Kawasan perumahan yang terdapat di Kota Medan, meliputi :
1. Kawasan permukiman kumuh
Belawan dan di sekitar bantaran sungai Deli. Di wilayah pusat kota terdapat kawasan permukiman liar (squatter) yang terletak di bantaran sungai dan rel kereta api.
2. Perumahan kepadatan tinggi
Perumahan dengan tingkat kepadatan tinggi adalah dengan jumlah rumah rumah per ha adalah 54 – 97 rumah. adalah Kecamatan Medan Perjuangan, Kecamatan Medan Denai, Kecamatan Medan Area (Kecamatan Medan Kota, Kecamatan Medan Maimum, dan Kecamatan Medan Amplas.
3. Perumahan kepadatan sedang
Tingkat kepadatan sedang adalah dengan jumlah rumah rumah per ha 24 – 53 rumah. Tingkat kepadatan perumahan sedang tersebar di Kecamatan Medan Belawan, Kecamatan Medan Timur, Kecamatan Medan Petisah Kecamatan Medan Helvetia.
4. Perumahan kepadatan rendah