STRATEGI PENGELOLAAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) TAMAN REKREASI LAMALAKA
KECAMATAN BANTAENG KABUPATEN BANTAENG
ANDI ALMUGIRAH 105 950 027011
PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015
STRATEGI PENGELOLAAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) TAMAN REKREASI LAMALAKA KECAMATAN
BANTAENG KABUPATEN BANTAENG
ANDI ALMUGIRAH 105950027011
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan Strata Satu (S-1)
PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2015
ii
iii
iv
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini dengan judul:
STRATEGI PENGELOLAAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) TAMAN REKREASI LAMALAKA KECAMATAN BANTAENG KABUPATEN BANTAENG
Adalah benar merupakan hasil karya yang belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Makassar, 2015
ANDI ALMUGIRAH
105950027011
v
ABSTRAK
ANDI ALMUGIRAH 105 950 027011. Strategi Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Rekreasi Lamalaka di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng.Di bimbing oleh HIKMAH dan MUH.DAUD.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Strategi Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Rekreasi Lamalaka di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng.Penelitian ini dilaksanakan diKecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng sebagai tempat mendapatkan informasi penelitian. Penelitian ini dilakukan selama dua bulan yaitu dari bulan Juni sampai dengan Juli 2015.
Penentuan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara observasi atau pengamatan langsung dilapangan dan melakukan wawancara. Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder, sedangkan analisis data yang dipakai adalah analisis SWOT. Penelitian menunjukkan proses pengelolaan Ruang Terbuka Hijau sudah memenuhi standar dalam penataan Ruang Terbuka Hijau Taman Rekreasi Lamalaka yang mempunyai luas 1,2 Ha dan sudah terkelola dengan baik.
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas Rahmat dan Ridho-Nyalah sehingga penulisan skripsi dengan judul “Strategi Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Rekreasi Lamalaka Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng”, dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa dalam skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan. Berkat bimbingan dan dorongan dari semua pihak akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan sesuai dengan tenggang waktu yang telah ditentukan dan Penulis berharap agar proposal ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan khususnya bagi Penulis pribadi. Oleh karena itu Penulis menghaturkan ucapan terimakasih yang tak terhingga kepada Ayahanda, Ibunda dan segenap keluarga serta pihak yang telah memberikan dorongan dan motivasi hingga selesainya skripsi ini. Serta Penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Ketua Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar atas bantuan kelengkapan administrasi yang penulis butuhkan, segala jerih payahnya bernilai ibadah disisiNya.
2. Para Dosen Kehutanan dengan berbagai pengetahuan yang telah diberikan kepada penulis , semoga segala amalan yang dilakukan, diberi pahala yang setimpal dan mendapat rahmat dan Hidayah dalam melakukan tugas- tugasnya.
vii
3. Rekan-rekan mahasiswa dan rekan kerja yang membantu penulis dalam menyelesaikan tugas akhir, semoga Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang membalasnya.
4. Terima kasih kepada ayah dan ibuku, adik, kakaserta saudara- saudaraku,dan seluruh keluarga besar penulis memberikan bantuan materi dan spiritual bagi penulis, semoga segala jerih payahnya mendapat amalan disisi Allah SWT.
5. Demikian pula kepada suami yang telah banyak membantu Penulis dalam menyelesaikan skripsi dengan tepat waktu.
Akhirnya penulis berharap semoga tulisan ini bermamfaat untuk pengembangan ilmu kehutanan dimasa yang akan datang.
Makassar, 2015
Penulis
viii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
HALAMAN PKOMISI PENGUJI ... iii
PERYATAAN MENGENAI SKIRPSI ... iv
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1.Latar Belakang 1
1.2.Rumusan Masalah 3
1.3.Tujuan Penelitian ... 4
1.4.Kegunaan penelitian ... 4
II. TINJAUAN PUSTAKA 5 2.1 Pengertian Strategi 5 2.2 Pengertian Pengelolaan ... 7
2.3 Ruang Terbuka Hijau 8
2.4 Kerangka Fikir 15
III. METODE PENELITIAN 16
3.1 Waktu dan TempatPenelitian 16
ix
3.2 Objek dan Alat Penelitian 16
3.3Jenis dan Sumbar Data 16
3.4Pengumpulan Data 17
3.5Analisis Data 17
IV. KEADAAN UMUM LOKASI 19
1.1. Keadaan Geografis Kecamatan 19
1.2. Keadaan Sosial Ekonomi 21
1.3. Sarana dan Prasarana 21
V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 22
5.1.Rencana fasilitas Taman Rekreasi 22
5.2.Strategi Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau 22
5.3.RTH Publik di Kabupaten Bantaeng 23
5.4.Pengelolaan RTH Taman Rekreasi 25
5.5.Pengelompokkan Data 25
5.6.Pembahasan 27
VI. PENUTUP 29
6.1.Kesimpulan 29
6.2.Saran 29
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
x
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
Teks
1. Matrik Analisis SWOT ... 18
2. Jumlah Penduduk RT dan RW ... 20
3. Sarana dan Prasarana... 21
4. Jenis Ruang Terbuka Hijau Publik ... 24
xi
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
Teks
1. Kerangka Pikir ... 15 2. Kawasan Taman Rekreasi Lamalaka ... 33 3. Wawancara dengan Pengunjung ... 34
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
Teks
1. Peta Kecamatan Bantaeng ... 32 2. Dokumentasi Penelitian ... 33
xiii
Hak cipta milik Universitas Muhammadiyah Makasassar, Tahun 2015
Hak cipta dilindungi Undang-undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar Universitas Muhammadiyah Makassar
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk laporan apapun tanpa izin Universitas Muhammadiyah Makassar.
xiv
RIWAYAT HIDUP PENULIS
Penulis dilahirkan di Kindang pada tanggal 28 Januari 1993 dari ayah Andi Baharuddin dan ibu Andi Hasni. Penulis merupakan anak keempat dari empat bersaudara. Pendidikan formal yang dilalui Penulis adalah SMKN 2 Bulukumba dan lulus tahun 2011. Ditahun yang sama, Penulis lulus seleksi masuk program studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar.
Selama mengikuti perkuliahan, Penulis pernah magang di kantor Kehutanan Kabupaten Bantaeng. Tugas akhir dalam pendidikan tinggi diselesaikan dengan menulis skripsi yang berjudul “ Strategi Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Taman Rekreasi Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng.
37
1
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan sebuah Negara besar yang sangat kaya akan sumberdaya, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia yang dapat bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Dalam upaya mewujudkannya Negara Kesatuan Republik Indonesia berupaya melakukan serangkaian pembangunan dalam rangka pengembangan dan kemajuan daerah. Pembangunan yang dilakukan dapat terwujud dalam berbagai bentuk salah satunya adalah di bidang lingkungan.
Dalam melakukan pembangunan harus memperhatikan aspek lingkungan dan diperlukannyapenataan kota yang baik di masing-masing daerah. Salah satu bentuk intervensi pemerintah dalam mengelola kota dan wilayah untuk mencapai keseimbangan alokasi sumberdaya secara adil adalah dalam bentuk perencanaan tata ruang dan wilayah.
Permasalahan tipikal yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia adalah tingginya tingkat pertumbuhan penduduk akibat arus urbanisasiyang menyebabkan pengelolaan ruang kota menjadi semakin beratdan penurunan daya dukung lingkungan, adanya permasalahan alih fungsi lahan mengakibatkan rendahnya kualitas lingkungan perkotaan. Rendahnya kesadaran masyarakat serta lemahnya penegakan hukum dalam penataan kota menimbulkan berbagai masalah diantaranya kemacetan di ruas jalan-jalan tertentu, beban prasarana kota yang melebihi kapasitas, masalah sosial ekonomi, dan sebagainya.
2 Ruang terbuka hijau merupakan salah satu bentuk dari ruang terbuka yang berperan sebagai penyeimbang antara daerah terbangun dengan daerah terbuka.
Daerah terbangun misalnya pemukiman ataupun gedung. Ruang terbuka hijau memiliki berbagai peran diantaranya dapat menyediakan kualitas lingkungan udara sehat,ruang untuk kenyamanan hidup dan interaksi sosial serta mempercantik estetika lingkungan kota.
Penyediaan dan pemanfaatan RTH dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota/RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) Kota/RTR (Rencana Tata Ruang) Kawasan Strategis Kota/RTR Kawasan Perkotaan dimaksudkan untuk menjamin tersedianya ruang yang cukup bagi kawasan konservasi untuk kelestarian hidrologis, area pengembangan keanekaragaman hayati, area penciptaan iklim mikro dan produksi polutan di kawasan perkotaan. Ruang terbuka hijau adalah kawasan atau areal permukaan tanah yang didominasi oleh tumbuhan yang dibina untuk fungsi perlindungan habitattertentu, dan atau sarana lingkungan/kota, dan atau pengamanan jaringan prasarana, dan atau budidayapertanian. Selain untuk meningkatkan kualitas atmosfer, menunjang kelestarian air dan tanah, Ruang Terbuka Hijau(Green Openspaces)di tengah -tengah ekosistem perkotaan juga berfungsi untuk meningkatkan kualitas disekitar kota.
Menurut ketentuan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan RuangdanPeraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05/PRT/M/2008 tentang PedomanPenyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaandisebutkan bahwa pengertian RTH adalah area memanjang/jalur dan ataumengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh
3 tanaman, baik yang tumbuh tanaman secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Dan dalam undang-undang ini disyaratkan luas RTH minimal 30% dari luas wilayah (negara, provinsi, kota/kabupaten). Namun pada kenyataannya, hanya kurang lebih 10% untuk Ruang Terbuka Hijau yaitu milik institusi tertentu (Privat) dan 20% untuk Ruang Terbuka Hijau yang di kelola oleh Pemerintah Daerah Kota/Kabupaten (Publik) dari keseluruhan luas perkotaan yang dapat dipertahankan sebagai RTH. Dapatdi lihat, bahwa daerah perkotaan telah menjadi daerah komersil yang setiap jengkalnya dimanfaatkan untuk usaha dan pembangunan lainnya.
Kabupaten Bantaeng merupakan salah satu Kabupaten di Sulawesi Selatan yang aktif dalam melakukan pembangunan sehingga akan menyebabkan terjadinya Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) oleh karena itu untuk mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca maka diperlukan Ruang Terbuka Hijau. Pembangunan RTH selama ini belum optimal oleh karena itu diperlukan Strategi Pengembangan RTH khususnya di Taman Rekreasi Lamalaka Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Strategi pengelolaan Ruang Terbuka Hijau khususnya Taman Rekreasi Lamalaka Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng.
4 1.2 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah untuk merumuskan Strategi dalam Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Taman Rekreasi Lamalaka Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng.
1.4 Kegunaan Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai berikut : 1. Bahan informasi bagi instansi Pemerintah yang terkait.
2. Sebagai bahan informasi dan acuan bagi peneliti-peneliti yang akan datang yang mempunyai relevansi dengan penelitian ini.
5
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Strategi
Strategi adalah cara untuk mencapai tujuan jangka panjang. Strategi berupa perluasan geografis, diversifikasi, akusisi, pengembangan produk penetrasi pasar, rasionalisasi karyawan, divestasi, likuidasi dan joint venture (David, p.15, 2004). Pengertian strategi adalah Rencana yang disatukan, luas, dan berintegrasi yang menghubungkan keunggulan strategis perusahaan dengan tantangan lingkungan, yang dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama dari perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi, (Glueck dan Jauch, 1989).
Pengertian umum Strategi adalah proses penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi, disertai penyusunan suatu cara atau upaya bagaimana cara tujuan tersebut dicapai.
Pengertian khusus Strategi adalah merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus-menerus, serta dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan di masa depan.
Strategi merupakan proses penyusunan langkah-langkah ke depan yang dimaksudkan untuk membangun visi dan misi organisasi, menetapkan tujuan strategis dan keuangan perusahaan, serta merancang strategi untuk mencapai tujuan yang terbaik.Tingkat-tingkatStrategidengan merujuk pada pandangan.
Menjelaskan adanya empat tingkatan strategi. Strategi ini berkaitan dengan respons masyarakat. Setiap organisasi mempunyai hubungan dengan masyarakat.
6 Masyarakat adalah kelompok yang berada di luar organisasi yang tidak dapat dikontrol. Di dalam masyarakat yang tidak terkendali itu, ada pemerintah dan kelompok sosial lainnya. Jadi dalam strategi enterprise terlihat relasi antara organisasi dan masyarakat luar, sejauh interaksi itu akan dilakukan sehingga dapat menguntungkan organiasi.
Ada tiga jenis Strategi functional yaitu:
1. Strategi functional ekonomi yaitu mencakup fungsi-fungsi yang memungkinkan organisasi hidup sebagai satu kesatuan ekonomi yang sehat, antara lain yang berkaitan dengan keuangan, pemasaran, sumber daya, penelitian dan pengembangan.
2. Strategi functional manajemen, mencakup fungsi-fungsi manajemen, yaitu planning, organizing, implementating, controlling, staffing, leading, motivating, communicating, decisionmaking, representing, dan integrating.
3. Strategi isu stratejik, fungsi utamanya ialah mengontrol lingkungan, baik situasi lingkungan yang sudah diketahui maupun situasi yang belum diketahui atau yang selalu berubah. Tingkat-tingkat strategi itu merupakan kesatuan yang bulat dan menjadi isyarat bagi setiap pengambil keputusan tertinggi bahwa mengelola organisasi tidak boleh dilihat dari sudut kerapian administratif semata,tetapi juga hendaknya memperhitungkansoal
“kesehatan” organisasi dari sudut ekonomi.
7 2.2 Pengertian Pengelolaan
Pengertian pengelolaan ialah pengendalian dan pemanfaatan semua faktor sumberdaya yang menurut suatu perencana diperlukan untuk penyelesaian suatu tujuan kerja tertentu.Pengelolaan merupakan upaya untuk mengurangi terjadinya kemungkinan risiko terhadap lingkungan hidup berupa terjadinya pencemaran atau perusakan lingkungan hidup, mengingat bahan berbahaya dan beracun mempunyai potensi yang cukup besar untuk menimbulkan efek negatif.
Tidak sedikit orang yang mengartikan pengelolaan sama dengan arti manajemen. Karena antara manajemen dan pengelolaan memiliki tujuan yang sama yaitu tercapainya tujuan organisasi lembaga. Pengelolaan merupakan sebuah bentuk bekerja dengan orang-orang secara pribadi dan kelompok demi tercapainya tujuan organisasi lembaga satu yang perlu diingat bahwa pengelolaan berbeda dengan kepemimpinan. Usaha melestarikan lingkungan dari pengaruh dampak pembangunan adalah salah satu usaha yang perlu dijalankan. Pengelolaan lingkungan yang baik dapat mencegah kerusakan lingkungan akibat suatu proyek pembangunan. Pengelolaan yang baik menjaga ekosistem dengan mencegah berlangsungnya pembangunan, sebab pembangunan itu perlu untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Jadi, yang penting disini adalah membangun dengan berdasarkan wawasan lingkungan bukan membangun yang berwawasan ekonomi semata. Sesuai dengan dampak yang diduga akan terjadi, maka ditetapkan cara pengelolaan yang bagaimana yang akan di lakukan agar tepat guna. Teknologi yang akan digunakan, ditetapkan berdasarkan prinsip efektif, efisien dengan biaya
8 murahan agar dapat ditanggulangi dari hasil proyek tanpa harus menderita kerugian. proyek berjalan dengan baik disertai keuntungan yang tetap utuh.
2.3. Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Ruang terbuka (open spaces) merupakan ruang yang direncanakan karena kebutuhan akan tempat-tempat pertemuan dan aktivitas bersama di udara terbuka. Ruang terbuka (openspaces), Ruang Terbuka Hijau (RTH), Ruang publik (publicspaces) mempunyai pengertian yang hampir sama. Secara teoritis yang dimaksud dengan ruang terbuka (open spaces) adalah Ruang yang berfungsi sebagai wadah (container) untuk kehidupan manusia, baik secara individu maupun berkelompok, serta wadah makhluk lainnya untuk hidup dan berkembang secara berkelanjutan (UUPR no.24/1992).
Suatu wadah yang menampung aktivitas manusia dalam suatu lingkungan yang tidak mempunyai penutup dalam bentuk fisik.
Ruang yang berfungsi antara lain sebagai tempat bermain aktif untuk anak-anak dan dewasa, tempat bersantai pasif untuk orang dewasa, dan sebagai areal lingkungan hijau. Ruang yang berdasarkan fungsinya sebagai ruang terbuka hijau yaitu dalam bentuk taman, lapangan atletik dan taman bermain.Lahan yang belum dibangun atau sebagian besar belum dibangun di wilayah perkotaan yang mempunyai nilai untuk keperluan taman dan rekreasi; konservasi lahan dan sumber daya alam lainnya; atau keperluan sejarah dan keindahan. Beberapa pengertian tentang Ruang Terbuka Hijau (RTH) diantaranya adalah Ruang yang
9 didominasi oleh lingkungan alami di luar maupun didalam kota, dalam bentuk taman, halaman, areal rekreasi kota dan jalur hijau.
Ruang-ruang di dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur yang dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan yang berfungsi sebagai kawasan pertamanan kota, hutan kota, rekreasi kota, kegiatan Olah Raga, pemakaman, pertanian, jalur hijau dan kawasan hijau pekarangan.Fasilitas yang memberikan kontribusi penting dalam meningkatkan kualitas lingkungan permukiman, dan merupakan suatu unsur yang sangat penting dalam kegiatan rekreasi. Dan pengertian ruang publik (public spaces) adalah suatu ruang dimana seluruh masyarakat mempunyai akses untuk menggunakannya.
Ciri-ciri utama dari public spaces adalah: terbuka mudah dicapai oleh masyarakat untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelompok dan tidak selalu harus ada unsur hijau, bentuknya berupa malls, plazas dan taman bermain.
Ruang Terbuka Hijau (RTH) lebih menonjolkan unsur hijau (vegetasi)dalam setiap bentuknya sedangkan public spaces dan ruang terbuka hanya berupa lahan terbuka belum dibangun yang tanpa tanaman. Public spaces adalah ruang yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat sedangkan RTH dan ruang terbuka tidak selalu dapat digunakan dan dinikmati oleh seluruh masyarakat.Ruang terbuka hijau membutuhkan perencanaan yang lebih baik lagi untuk menjaga keseimbangan kualitas lingkungan perkotaan. Mempertahankan lingkungan perkotaan agar tetap berkualitas merupakan penjabaran dari GBHN 1993 dengan asas trilogi pembangunannya yaitu pertumbuhan ekonomi,
10 pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, dan stabilitas nasional melalui pembangunan berkelanjutan (sustainabledevelopment) dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup.
Sementara klasifikasi RTH menurut Inmendagri No.14 tahun 1988, yaitu:
taman kota, lapangan olahraga, kawasan hutan kota, jalur hijau kota, perkuburan, pekarangan, dan RTH produktif.Bentuk RTH yang memiliki fungsi paling penting bagi perkotaan saat ini adalah kawasan hijau taman kota dan kawasan hijau lapangan olah raga. Taman kota dibutuhkan karena memiliki hampir semua fungsi RTH, sedangkan lapangan olah raga hijau memiliki fungsi sebagai sarana untuk menciptakan kesehatan masyarakat selain itu bisa difungsikan sebagian dari fungsi RTH lainnya.
a. Fungsi Ruang Terbuka Hijau
Kegiatan–kegiatan manusia yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan hijau mengakibatkan perubahan pada lingkungan yang akhirnya akan menurunkan kualitas lingkungan perkotaan. Kesadaran menjaga kelestarian lingkungan hijau pasti akan lebih baik jika setiap orang mengetahui fungsi RTH bagi lingkungan perkotaan. fungsi dari RTH bagi kota yaitu: untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan dalam kota dengan sasaran untuk memaksimumkan tingkat kesejahteraan warga kota dengan menciptakan lingkungan yang lebih baik dan sehat.
Berdasarkan fungsinya menurut Rencana Pengembangan Ruang terbuka hijau tahun 1989 yaitu :
11 a. RTH yang berfungsi sebagai tempat rekreasi dimana penduduk dapat melaksanakan kegiatan berbentuk rekreasi, berupa kegiatan rekreasi aktif seperti lapangan olahraga, dan rekreasi pasif seperti taman.
b. RTH yang berfungsi sebagai tempat berkarya, yaitu tempat penduduk bermata pencaharian dari sektor pemanfaatan tanah secara langsung seperti pertanian pangan, kebun bunga dan usaha tanaman hias.
c. RTH yang berfungsi sebagai ruang pemeliharaan, yaitu ruang yang memungkinkan pengelola kota melakukan pemeliharaan unusur-unsur perkotaan seperti jalur pemeliharaan sepanjang sungai dan selokan sebagai koridor kota.
d. RTH yang berfungsi sebagai ruang pengamanan, yaitu untuk melindungi suatu objek vital atau untuk mengamankan manusia dari suatu unsur yang dapat membahayakan seperti jalur hijau disepanjang jaringan listrik tegangan tinggi, jalur sekeliling instalasi militer atau pembangkit tenaga atau wilayah penyangga
e. RTH yang berfungsi sebagai ruang untuk menunjang pelestarian dan pengamanan lingkungan alam, yaitu sebagai wilayah konservasi atau preservasi alam untuk mengamankan kemungkinan terjadinya erosi dan longsoran pengamanan tepi sungai, pelestarian wilayah resapan air.
f. RTH yang berfungsi sebagai cadangan pengembangan wilayah terbangun kota di masa mendatang.
b. Fungsi RTH kota berdasarkan Inmendagri no.14/1998 yaitu sebagai:
12 a. Areal perlindungan berlangsungnya fungsi ekosistem dan penyangga
kehidupan.
b. Sarana untuk menciptakan kebersihan, kesehatan, keserasian dan keindahan lingkungan.
c. Sarana rekreasi.
d. Pengaman lingkungan hidup perkotaan terhadap berbagai macam pencemaran baik darat, perairan maupun udara.
e. Sarana penelitian dan pendidikan serta penyuluhan bagi masyarakat untuk membentuk kesadaran lingkungan.
f. Tempat perlindungan plasma nutfah.
g. Sarana untuk mempengaruhi dan memperbaiki iklim mikro.
h. Pengatur tata air
Melihat beberapa fungsi tersebut diatas bisa disimpulkan pada dasarnya RTH kota mempunyai 3 fungsi dasar yaitu:
1. Berfungsi secara sosial yaitu fasilitas untuk umum dengan fungsi rekreasi, pendidikan dan olahraga. Dan menjalin komunikasi antar warga kota.
2. Berfungsi secara fisik yaitu sebagai paru-paru kota, melindungi sistem air, peredam bunyi, pemenuhan kebutuhan visual, menahan perkembangan lahan terbangun/sebagai penyangga, melindungi warga kota dari polusi udara.
3. Berfungsi sebagai estetika yaitu pengikat antar elemen gedung dalam kota, pemberi ciri dalam membentuk wajah kota dan unsur dalam penataan arsitektur perkotaan.
13 Pemanfaatan lahan kotayang terus tumbuh dan bersifat akseleratif untuk pembangunan berbagai fasilitas perkotaan, termasuk kemajuan teknologi, industri dan transportasi serta pemukiman. Selain sering mengubah konfigurasi alami lahan/bentang alam perkotaan juga menyita lahan-lahan tersebut untukberbagai bentukan Ruang Terbuka lainnya, kedua hal ini umumnya merugikan keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH)yang sering dianggap sebagai lahan cadangan dan tidak ekonomis. Di lain pihak, kemajuan alat dan pertumbuhan jalur transportasi dan sistem utilitas sebagai bagian dari peningkatan kesejahteraan warga kota, juga telah menambah jumlah bahan-bahan pencemar dan telah menimbulkan berbagai ketidaknyamanan di lingkungan perkotaan, untuk mengatasi kondisi lingkungan kota seperti ini sangat diperlukan Ruang Terbuka Hijau sebagai suatu teknik yang relatif lebih murah, aman, sehat dan menyamankan.
Ruang Terbuka Hijau (RTH) di wilayah perkotaan merupakan bagian dari penataan ruang kawasan perkotaan yang memilki manfaat kehidupan yang sangat tinggi, tidak saja dapat menjaga dan mempertahankan kualitas lingkungan tapi juga dapat menjadi nilai kebanggan identitas kota.Pentingnya keberadaan Ruang Terbuka Hijau perkotaan ditunjukkan oleh adanya kesepakatan dalam Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) dan Ruang Terbuka Hijau (RTH)minimal 30% dari total luas kota, di samping itu, sejumlah peraturan perundangan yang bersifat nasional maupun lokal mengatur hal-hal yang terkait dengan pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH)sehingga biasa menjadi dasar pijakan pemerintah kota dalam mengembangkan Ruang Terbuka Hijau (RTH).
14 Peraturan perundangan mulaidari Undang-Undang yang bersifat payung seperti Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan. Ruang Terbuka Hijau(RTH)hingga peraturan pelaksanaannya berupa Keputusan Menteri atau Peraturan Menteri, antara lain instruksi Mendagri No. 14 Tahun 1988 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di perkotaan, Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau(RTH), Kepres No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Hutan Lindung, Kepmen LH No. 197 Tahun 2004 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang LH di Daerah Kabupaten dan Kota serta beberapa Peraturan Perundangan lainnya yang keseluruhannya memuat fungsi, kriteria, jenis, pengelolaan, standar luas Ruang Terbuka Hijau (RTH)dan berbagai hal yang terkait dengan Ruang Terbuka Hijau perkotaan. Peraturan Perundangan yang ada tersebut dikeluarkan oleh berbagai sektor antara lain : Sektor Tata Ruang, Pekerjaan Umum,Kehutanan, Pemukiman dan Lingkungan Hidup. Hal ini memberikan gambaran betapa RTHsesungguhnya berkaitan erat dengan berbagai aspek pembangunan yang dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat kota sehingga sangat beralasan jika pengelolaannya diatur dalam berbagai peraturan perundangan.
15 2.4.Kerangka Pikir
Gambar 1. Kerangka pikir penelitian Strategi
pengembangan Ruang Terbuka
Hijau
Umum Privat
Analisis Swot
Faktor Internal Faktor Eksternal Potensi
Pengembangan
16 III.METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan mulai Bulan Juni sampai dengan Bulan Juli 2015, penelitian dilakukan di Taman Rekreasi Lamalaka Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng.
3.2. Objek dan Alat Penelitian 1. Objek Penelitian
Adapun objek penelitian ini adalah Taman Rekreasi Lamalaka Kecamatan BantaengKabupaten Bantaeng.
2. Alat Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a. Alat tulis
b. Daftar pertanyaan c. Kamera
3. Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan menggunakan Analisis SWOT.
3.3 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang dikumpulkan yaitu Data Primer dan Data Sekunder.
Data Primer adalah data yang diperoleh dengan melakukan pengamatan dan wawancara langsung di Kelurahan Lamalaka tempat penelitian dan berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah disiapkan. Sedangkan Data
17 Sekunder adalah data yang berhubungan dengan data primer dan data diperoleh peneliti yang terkait dengan penelitian ini.
3.4. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan metode observasi yaitu dengan meninjau dan mengamati langsung di lapangan. Selain itu digunakan juga metode kuesioner yaitu dengan melakukan wawancara langsung di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng.
3.5. Analisis SWOT
Teknik analisis yang akan digunakan dalam penyusunan strategi pengembangan dalam Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Taman Rekreasi Lamalaka di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng yaitu dengan menelaah semua data- data yang diperoleh dari berbagai sumber, baik dari hasil wawancara langsung maupun pengamatan di lapangan.
Data-data yang ada diproses melalui pengelompokan data, diklasifikasikan menurut urutan permasalahan dan klasifikasi faktor–faktor internal dan eksternal.
Setelah itu melakukan penyusunan strategi dengan menggunakan analisis SWOT.
1. Analisis SWOT
Pola kerja analisis SWOT adalah membandingkan dan menginterpretasikan hal yang harus dilakukan dalam penanganan faktor internal yang berupa kekuatan dan kelemahan dan faktor eksternal berupa peluang dan ancaman. Terdapat empat tipe strategi yang ada dalam analisis SWOT yaitu strategi SO (Strength – Opportunity), strategi WO (Weakness-Opportunity),
18 Strategi ST (Strength-Threat) dan Strategi WT (Weakness-Threat). Adapun tabel penyusunan analisis SWOT adalah sebagi berikut :
Tabel 3. Matrik analisis SWOT
IFAS Strengths (S)
Menentukan faktor kekuatan internal
Weaknesses (W) Menentukan faktor kelemahan internal
EFAS
Oppurtunities
(O)
Strategi SO
Strategi WO Menentukan
faktor peluang eksternal
Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan
untuk memanfaatkan peluang
Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan
untuk memanfaatkan peluang
Threats (T) Menentukan
faktor ancaman eksternal
Strategi ST Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman
Strategi WT Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman Sumber : Rangkuti, 2011
Hasil akhir dari analisis SWOT pada Tabel 3, yang menjabarkan strategi – strategi alternatif dalam Strategi Pengelolaan RTH di lokasi penelitian.
19
IV. KEADAAN UMUM WILAYAH
4.
1 Keadaan Geografis KecamatanLokasi penelitian dilaksanakan di Kecamatan Bantaeng merupakan salah satu bagian dari Kabupaten Bantaeng yang mempunyai batas wilayah administrasif yaitu antara lain:
a. Batas Wilayah
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Pa’jukukang dan Kecamatan Eremerasa
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Bisappu dan Kecamatan Sinoa
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Uluere dan Kecamatan Tompobulu
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Flores
b.
Luas WilayahKecamatan Bantaeng mempunyai luas sekitar 28,86 km2 yang mempunyai kemiringan 15-40% serta mencapai ketinggian dari permukaan laut yaitu sekitar 100-200 mdpl sebagai bagian dari pemerintahan Kabupaten Bantaeng dan memiliki letak dataran rendah.
Kecamatan Bantaeng berada di dalam wilayah Kabupaten Bantaeng yang mayoritasnya jumlah penduduknya beragama islam.
c. Keadaan Topografi
Secara umum keadaan topografi di Kecamatan Bantaeng adalah daerah dataran rendah yang wilayah Kecamatan Bantaeng secara garis besar berada dekat dengan pengunungan serta dekat dengan Laut Flores.
20 d. Iklim
Iklim Kecamatan Bantaeng yang ada di Kabupaten Bantaeng beriklim tropis dengan dua musim, yakni Kemarau dan Hujan.
e. Wilayah Administrasi Pemerintahan Kecamatan Bantaeng
Kecamatan Bantaeng memiliki sembilan Kelurahan yang terdiri atas luas wilayah, jumlah penduduk serta jumlah rukun warga dan rukun tetangga.
Tabel 1. Jumlah Penduduk, luas, RW dan RT di Kecamatan Bantaeng.
No
Desa/Kelurahan Luas Jumlah Penduduk
Rukun Warga Rukun Tetangga 1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8’
9.
Tappanjeng Pallantikang Letta
Lembang Malilingi Lamalaka Karatuang Onto Kayu loe
0,83 0,93 0,79 2,97 0,84 2,00 7,07 4,69 8,74
3.579 7.633 2.659 6.181 3.822 4.437 2.476 4.235 1.612
12 11 7 7 8 7 6 14
6
22 33 25 12 25 25 19 28 12 Sumber :Data Kantor Kecamatan Bantaeng 2015
21 4.2 Keadaan Sosial Ekonomi
1. Jumlah Penduduk
Penduduk Kecamatan Bantaeng terdiri atas 9167kk dengan total jumlah jiwa 36.634 orang dari jumlah keseluruhan sembilan Kelurahan yang termasuk Kecamatan Bantaeng. Dengan perbandingan jumlah laki-laki 20.000 jiwa dan jumlah perempuan 16.634jiwa jumlah keseluruhan yaitu 36.634 jiwa.
4.3 Sarana dan Prasarana
Berikut ini sarana dan prasarana yang ada di Kecamatan Bantaeng a. Sarana umum
Tabel 3. Sarana dan Prasarana yang Tersedia di Kecamatan Bantaeng
No Sarana Jumlah (Buah)
1.
2.
3.
4.
5.
Sekolah Pasar Kantor Masjid Kost/Hotel
1 31 41 56 36/1 Sumber : Data Kantor Kecamatan Bantaeng 2014
22
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Rencana Fasilitas Taman Rekreasi Kelurahan Lamalaka Kecamatan Bantaeng
Dalam rencana pembangunan dan pengembangan Ruang Terbuka Hijau yang fungsional suatu wilayah perkotaan ada 4 (empat) hal utama yang harus di perhatikan yaitu :
1. Luas Ruang Terbuka Hijau minimum yang diperlukan dalam suatu wilayah perkotaan di tentukan secara komposi
2. Kapasitas daya dukung alami wilayah
3. Kebutuhan perkapita ( kenyamanan, kesehatan, dan bentuk pelayanan lainya) 4. Arah dan tujuan pembangunan kota.
Taman rekreasi mempunyai RT/RW 19 dan jumlah taman yaitu 2 serta luasnya yaitu 1,2 Ha.
5.2 Strategi Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Strategi ini melalui konsep identifikasi persoalan Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota, konsep partisipasi, dan konsep kebijakan institusi yang terkait.
Strategi peningkatan pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kecamatan Bantaengadalah dengan melibatkan masyarakat mulai dari penentuan jenis tanaman sampai pada pemeliharaan, demikian juga penegakan hukum dan peran pemerintah mulai dari pemerintah kabupaten sampai ke kepala desa, bahkan sampai ke tingkat RT/RW. Untuk itu kepada instansi terkait, aparat pemerintah mulai dari tingkat RT/RW dan masyarakat agar satu persepsi dalam pengelolaan Ruang Terbuka Hijau melalui koordinator serta partisipasinya.
23 Strategi yang dapat diterapkan menuju ruang terbuka hijau 30% adalah merencanakan rencana induk Ruang Terbuka Hijau dan melegalisasi perda Ruang Terbuka Hijau, menentukan daerah yang tidak boleh dibangun, menghijaukan bangunan,meningkatkan kualitas Ruang Terbuka Hijau kota, meningkatkan peran serta masyarakat.
5.3 Ruang Terbuka Hijau Publik di Kabupaten Bantaeng
Jenis Ruang Terbuka Hijau dapat dibedakan menjadi dua yaitu sebagai berikut :
1. Ruang terbuka hijau publik, adalah RTH yang dimiliki dan dikelola oleh Pemerintah Daerah Kota/Kabupaten yang digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum.
2. Ruang terbuka hijau privat, adalah Ruang Terbuka Hijau milik institusi tertentu atau orang perseorangan yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas antara lain berupa kebun atau halaman rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan.
Ruang Terbuka Hijau di Kabupaten Bantaeng dengan jumlah luas secara keseluruhan dari 10 jenis Ruang Terbuka Hijau yaitu 411,28 Ha dan yang termasuk Ruang Terbuka Hijau di Kecamatan Bantaeng yaitu : Taman Rekreasi Lamalaka Kelurahan lamalaka dengan luas 1,2 Ha dan Hutan Kota yang berada di Kelurahan Pallantikang dengan luas 15 Ha,(1,2+15=16,2 Ha) dari jumlah penduduk dengan luas Ruang Terbuka Hijau yaitu ( 0,2 km2x36.634=7,3268 km2).
Berikut ini tabel Ruang Terbuka Hijau Publik dapat dilihat pada Tabel 4.
24 Tabel. 4 Jenis dan luas Ruang Terbuka Hijau Publik
Sumber : Kantor Bapedalda Kabupaten Bantaeng NO Jenis RTH Publik Luas Keterangan
1 Jalur Hijau/
Penghijauan Jalan
159 Dalam wilayah perkotaan Bantaeng
2 Taman Rekreasi 1,2 - Pantai Seruni - Pantai Lamalaka
3 Taman Hijau 0,2 - Swalayan Jl. Monginsidi - Jl. A.Manappiang - Jl. Ratulangi - Ujung Labbu 4 Taman Kota 0,87 - Jl. Kartini
- Jl. Elang 5
Taman Pemakaman
6 - Taman Pahlawan - Taman Bahagia
- Pemakaman dalam kota Bantaeng
6 Hutan Kota 15 - Sasayya - Panaikang - Kayu Lompoa - Bonto Rita - Be’lang
- Eks Lapangan Bawakaraeng - Pallantikang
7 Taman Lingkungan 212,81 - Pemukiman dalam kota Bantaeng
8 Lapangan Olahraga 2 - Stadion Mini 9 Lapangan Upacara 1 - Lompo Battang
10 Lapangan 13,2 - Reklamasi Pantai Seruni
25 5.4 Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Taman Rekreasi Lamalaka
Dalam pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Taman Rekreasi Lamalaka di KecamatanBantaeng pengelolaan pada area Taman Rekreasi dengan penataan tanaman yang ada disekitarnya, dan juga dalam menjaga kebersihan taman.
Adapun luas Taman Rekreasi dan jenis tanaman, dari pengumpulan data yang diperoleh bahwa luas dari Taman Rekreasi Lamalaka yaitu 1,2 Ha. Jenis Tanaman yang terdapat di Taman Rekreasi Lamalaka yaitu :
a. Trembesi(Samanea saman) b. Tanjung(Mimusops elengi) c. Palem(Mascarena sp)
d. Ketapang (Terminalia catappa) e. Tanaman bunga
f. Tanaman bongsai dan Tanaman sela.
g. Asam (Tamarindus indica)
Di kawasan Taman Rekreasi Lamalaka tersebut di lengkapi tempat- tempat istirahat dimana para pengujung bisa menikmati pemandangan yang indah.
Ditaman ini hampir setiap hari dikunjungi oleh masyarakat karena tempatnya yang sejuk dan indah dengan pemandangan laut dan juga akses untuk ke taman tersebut sangat mudah karena berada ditengah-tengah kota Bantaeng.
5.5 Pengelompokan Data
Dalam penyusunan Strategi Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau ( RTH ) yaitu dengan mengumpulkan semua data-data yang di peroleh dari berbagai
26 sumber, baik dari hasil wawancara dari kantor Kecamatan secara langsung maupun pengamatan di lapangan.
Menentukan faktor internal yang berupa kekuatan dan kelemahan dan faktor eksternal berupa peluang dan ancaman yaitu sabagai berikut:
1. Lingkungan Internal a. Kekuatan (strenght)
1. Memiliki berbagai macam jenis tanaman yang ditanam diareal taman 2. Taman rekreasi tersebut masih alami
3. Udara disekitar taman masih segar
4. Letak lokasi taman yang sangat strategis dan mudah dijangkau b. Kelemahan (weaknees)
1. Terbatasnya fasilitas sarana dan prasarana taman
2. Tidak adanya kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan
3. kurangnya akses informasi dan komunikasi 2. Lingkungan Eksternal
a. Peluang (opportunities)
1. Salah satu tempat wisata di Kabupaten Bantaeng
2. Adanya pengembangan taman tersebut oleh pemerintah setempat 3. Peran serta masyarakat dalam pengelolaanya.
b. Ancaman (threat)
1. Banyaknya tempat wisata lain yang ada di Kabupaten Bantaeng
27 2. Umumnya hanya masyarakat yang berminat yang datang kelokasi taman rekreasi tersebut.
5.6 Pembahasan
Objek wisata taman rekreasi terletak di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng merupakan lokasi wisata yang sangat sesuai untuk rekreasi keluarga. Pada saat hari-hari biasa maupun hari libur banyak masyarakat ataupun wisatawan yang datang ketaman baik itu untuk bersantai sambil melihat pemandangan laut maupun kegiatan lain seperti lari-lari sore. Konsep taman ini yaitu tanaman daun, pohon dan tanaman bunga.
Terdapat empat tipe strategi yang ada dalam analisis SWOT yaitu strategi SO (Strength - Opportunity), strategi WO (Weakness - Opportunity), Strategi ST (Strength - Threat) dan Strategi WT (Weaknes - Threat).
1. Kekuatan (Strategi S-O)
Taman wisata taman rekreasi ini memiliki banyak tanaman yang dapat menghiasi taman agar lebih menarik dan indah serta menyegarkanpengunjung yang datang.
Dengan banyaknya tanaman ini taman akan menjadi lebih asri, tanaman-tanaman yang ditanam dapat meneduhkan lingkungan dan menambah keindahan kota.
Kelebihan lainya adalah letak lokasi yang mudah dijangkau baik itu masyarakat kota Bantaeng ataupun wisatawan dari luar kota Bantaeng.
2. Kelemahan (Strategi W-O)
Selain terdapat kelebihan, taman ini juga memiliki kelemahan. Sebuah taman rekreasi yang tidak cukup hanya tersedianya fasilitas-fasilitas seperti kurang lampu-lampu pada saat malam hari dan juga tidak adanya papan nama pengenal
28 pada Taman tersebut sehingga masih banyak masyarakat yang belum mengetahui serta adanya yang memadai perawatan taman maupun fasilitas yang ada juga merupakan hal yang sangat penting dilakukan demi kenyamanan pengunjung taman serta adanya kesadaran masyarakat dalam menjaga taman agar lebih lestari.
Dapat dikatakan juga bahwa sebagian masyarakat masih belum mengetahui tentang keberadaan taman dikarenakan kurangnya informasi dan komunikasi.
3. Peluang (Strategi S-T)
Peluang yang dimiliki taman ini adalah merupakan salah satu tempat wisata yang ada di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng. Dengan adanya pengembangan taman rekreasi ini akan menjadikan jauh lebih baik serta dengan penataan yang lebih indah sehingga diharapkan dapat mengembangkan tempat wisata taman rekreasi agar diminati oleh pengunjung. Peluang lainya yaitu adanya peran serta masyarakat dalam menjaga serta melestarikan taman rekreasi tersebut.
4. Ancaman (Strategi W-T)
Ancaman yang dimiliki oleh taman ini yaitu sudah banyaknya tempat-tempat wisata lainya diKabupaten Bantaeng sehingga dapat menjadi pesaing dalam mengembangkan taman rekreasi ini, selain itu tempat wisata ini untuk mengembangkan kearah yang lebih baik termasuk sulit mendapatkan dana untuk pengelolaan agar taman rekreasi selalu terawat dan akan diminati oleh pengunjung. Ancaman lainya yaitu karena masih banyaknya masyarakat yang kurang tertarik dengan taman rekreasi sehingga hanya sebagian masyarakat yang tertarik saja untuk datang ketaman tersebut.
29 VI. PENUTUP
6.1.Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan sebagai berikut:
1. Strategi Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Rekreasi Lamalaka di Kecamatan Bantaeng adalah dengan melibatkan masyarakat sekitar Taman Rekreasi di dalam pemeliharan tanaman yang ada ditaman tersebut dan juga menjaga kebersihannya.
2.
Taman Rekreasi Lamalaka sangat bermamfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.3.
Taman rekreasi Lamalaka terletak di Kecamatan Bantaeng dan merupakan lokasi yang sesuai untuk rekreasi keluarga dan juga taman ini memiliki banyak tanaman yang dapat menghiasi taman agar lebih menarik pengunjung.6.2 Saran
1. Perlu adanya pemeliharaan lanjutan terhadap Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Rekreasi Lamalaka, tapi lebih memperhatikan kualitas dan fungsi ekologis Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Rekreasi tersebut.
2. Perlu adanya dialog antar masyarakat sekitar dengan pemerintah dalam pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Rekreasi.
30
DAFTAR PUSTAKA
Aca, S. 2000. Penataan Ruang dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Anonimous, 1992. Undang-Undang RI Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang
Anonimous, 1992. Daya Dukung Lingkungan dan Komunikasi Massa dalam Pembangunan Berkelanjutan.
Dahlan, E.N. 1992. Hutan Kota untuk Pengelolaan dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup. Asosiasi Pengusaha Hutan. Bogor.
Haeruman. Herman JS. Ning Purnomohadi. 1998. Kebijakan dan Peranan Pemerintah dalam Pengembangan dan Pemanfaatan RTH di Perkotaan sebagai Wahana Pengembangan Keanekaragaman Puspa dan Satwa.
Jakarta.
Hariadi, B. 2005. Strategi manajemen: Strategi Memenangkan Perang Bisnis.
Bayumedia Publishing, Surabaya
J. Salusu. 2006. Pengambilan Keputusan Strategik Untuk Organisasi Publik dan Organisasi Non Profit. Grasindo, Jakarta
Jauch R. & G.F. William. 1989. ‘Manajemen Dan Strategis Kebijakan Perusahaan. Erlangga, Jakarta.
Purnomohadi, Ning. 2006. Ruang Terbuka Hijau Sebagai Unsur Utama Tata Ruang Kota. Jakarta.
31
LAMPIRAN
32 Lampiran 1.Peta Kecamatan Bantaeng
33 Lampiran 3. Foto Dokumentasi Penelitian
Gambar 1. Taman Rekreasi Lamalaka
34 Gambar 2. Pengambilan Data di Kantor Kecamatan Bantaeng
35 Gambar 3. Wawancara dengan masyarakat sekitar Taman Rekreasi Lamalaka
36 Gambar 4. Mengetahui Jenis-Jenis Tanaman yang ada di Taman Rekreasi
Lamalaka