• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dinamika Psikologis Tingkat Stres Siswa SMA Kelas XII Dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

D. Dinamika Psikologis Tingkat Stres Siswa SMA Kelas XII Dalam

Salah satu sumber stres adalah adanya perubahan yang mengganggu

kontinuitas dan kestabilan hidup individu yang bersangkutan. Oleh karena itu,

perubahan yang muncul dapat menimbulkan stres apabila individu yang

bersangkutan tidak mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan

tersebut.

Menurut Slemon (dalam Baldwin, 2002) dalam menghadapi pelajaran

yang berat di sekolah dapat menimbulkan stres pada siswa, terutama bagi

siswa SMA, karena pada saat itu mereka mengalami tekanan untuk

mendapatkan nilai yang baik dan bisa masuk universitas favorit. Siswa SMA

yang akan menghadapi Ujian Nasional dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi

Negeri sering mengalami ketegangan dan kecemasan. Mereka takut tidak

lulus universitas negeri yang mereka inginkan.

Penyebab stres pada siswa SMA yang duduk di kelas XII adalah saat

menghadapi Ujian Nasional, dimana Ujian Nasional merupakan penentu

kelulusan siswa. Memberitahukan kepada siswa bahwa sebuah ujian adalah

untuk mengukur kemampuan bisa mengiring mereka menjadi gelisah karena

merisaukan hasil ujian mereka. Beberapa siswa kehilangan kepercayaan diri

dan konsentrasinya ketika menghadapi serangkaian soal-soal ujian yang

tampak sangat sulit bagi mereka (Wlodkowski & Jaynes, 2004). Pemerintah

akan meningkatkan kriteria standar kelulusan untuk meningkatkan mutu

26

akan diujian-nasionalkan. Untuk SMA akan menjadi 6 mata pelajaran,

sementara tahun sebelumnya hanya 3 mata pelajaran.

Kondisi ini membuat siswa SMA kelas XII merasa cemas, tegang,

takut tidak lulus, gemetar, konsentrasi hilang dan mules. Penambahan mata

pelajaran tersebut terkesan mendadak. Akibatnya tidak sedikit siswa yang

resah. Sementara itu, siswa SMA kelas XII juga mendapat tuntutan dari

orangtua, guru dan sekolah agar lulus. Kelelahan fisik dan psikis yang dialami

siswa dalam mempersiapkan Ujian Nasional juga mempengaruhi dalam

menghadapi ujian.

Kegelisahan menghadapi ujian didefenisikan sebagai perasaan tidak

menyenangkan atau keadaan emosional yang mempengaruhi sisi psikologis

serta perilaku dan hal tersebut dialami saat menghadapi ujian-ujian formal

atau situasi evaluatif lain (Wlodkowski & Jaynes, 2004). Menurut penelitian

Ray Hembree (dalam Wlodkowski & Jaynes, 2004) mengatakan bahwa siswa

yang terlalu gelisah dalam menghadapi ujian menempatkan diri mereka dalam

penghargaan yang lebih rendah dibandingkan siswa yang hanya memiliki

sedikit kegelisahan menghadapi ujiannya. Mereka kesulitan dalam

berkonsentrasi, menyelesaikan tugas-tugasnya, dan mengingat konsepnya.

Rasa cemas, resah, tegang menghadapi ujian dan ketakutan tidak

lulus yang dihadapi siswa memunculkan tindakan mencontek, pembelian

kunci jawaban, isak tangis, pingsan akibat tidak bisa mengerjakan soal ujian,

melakukan pendekatan diri kepada Tuhan dan permintaan doa restu kepada

27

Pada penelitian Aswandi (2008) kegagalan menghadapi ujian setelah

diteliti, ternyata tidak hanya disebabkan oleh ketidaksiapan siswa dalam

penguasaan materi pembelajaran yang diujikan, melainkan lebih disebabkan

oleh adanya stres, rasa takut gagal, dan takut tidak lulus. Rasa takut ini

mempengaruhi hasil penilaian [Roger Kaufman dan Susan Thomas (1980)

dalam Aswandi 2008].

Keadaan seperti itu dapat saja terjadi pada setiap siswa, terutama

bagi siswa yang tidak mempersiapkan diri melalui pembelajaran efektif,

mempersiapkan mental-psikologis, menjaga jasmani agar tetap sehat dan

kurang lengkapnya sarana prasarana sekolah untuk mendukung proses belajar

dan mengajar.

Stres mempengaruhi setiap orang bahkan anak-anak. Sarwono

(2005), mengatakan stres adalah kondisi kejiwaan ketika jiwa itu mendapat

beban. Stres ringan dapat merangsang dan memberikan gairah nyata dalam

kehidupan yang setiap harinya menjenuhkan. Menurut Santrock (2003),

faktor lingkungan yaitu gangguan sehari-hari dan beban yang terlalu berat

dapat menyebabkan subyek mengalami frustrasi dan konflik. Lingkungan

keluarga dapat menjadi sumber stres. Harapan orang tua yang berlebihan dan

tidak realistik membuat mereka merasa tertekan. Lingkungan sekolah berupa

harapan yang terlalu tinggi dari sekolah dan guru, terlalu banyaknya

pekerjaan rumah dan tugas-tugas, serta ujian dan tes dapat menyebabkan

28

Selain itu, faktor kognitif yaitu keseimbangan antara penilaian

primer dan penilaian skunder adalah faktor yang dapat menyebabkan stres.

Ketika bahaya dan ancaman tinggi, sementara tantangan dan sumber daya

yang dimiliki rendah, stres cenderung akan menjadi berat. Bila bahaya dan

ancaman rendah dan tantangan serta sumber daya yang dimiliki tinggi, maka

stres akan cenderung menjadi ringan atau sedang. Santrock (2003)

mengemukakan bahwa remaja dapat menggunakan lebih dari satu strategi

untuk menangani stres yang dialami. Kemampuan mengembangkan strategi

yang efektif akan membantu remaja dalam menangani stres.

Ketidakseimbangan antara tuntutan yang datang dari luar seperti

orang tua, guru, sekolah untuk bisa lulus, menghadapi penambahan mata

pelajaran yang diujiankan, tingginya standar kelulusan dengan kemampuan

berbeda-beda yang dimiliki siswa untuk mengatasi tuntutan tersebut,

membuat siswa stres. Jika ketidakseimbangan tersebut direaksi siswa dengan

ketegangan yang sangat tinggi baik itu rasa cemas, khawatir dan ketakutan

yang terlalu besar akan membuat siswa mengalami stres yang tinggi dan

kemungkinan besar akan membuat gagal menghadapi ujian karena stres

berpengaruh secara signifikan pada menurunnya hasil tes kognitif.

Sedangkan jika siswa bereaksi terhadap ketidakseimbangan tersebut

dengan rasa yakin dan percaya bahwa mereka mampu menghadapi ujian dan

menjawab soal dengan benar, maka ketegangan menghadapi ujian berkurang.

Rasa takut menghadapi Ujian Nasional berganti menjadi rasa penuh harapan

29

berbagai aktivitas persiapan menghadapi ujian dan melakukan kegiatan lain

yang disukai atau rutinitas sehari-hari dapat menenangkan siswa dari rasa

bosan karena siswa tidak dipaksa untuk terus berhadapan dengan materi Ujian

30

Menghadapi Ujian Nasional

Siswa SMA kelas XII

Reaksi siswa menghadapi stressor : -Takut tidak lulus, takut gagal dan

tidak dapat mengerjakan soal -Cemas, resah dan tegang -Pesimis, tidak percaya diri -Gugup, khawatir

-Harapan akan keberhasilan tinggi -Keyakinan akan lulus besar -Menanamkan rasa optimisme -Percaya diri

Rendah Sedang

Tinggi

Stres

Faktor-faktor yang mempengaruhi stres :

1. Faktor lingkungan yaitu gangguan sehari-hari dan beban yang terlalu berat. Lingkungan keluarga, harapan orang tua yang menginginkan anaknya bisa lulus. Lingkungan sekolah, tuntutan untuk bisa lulus, banyaknya pekerjaan rumah dan tugas-tugas yang diberikan, serta adanya ujian evaluatif dan tes lainnya

2. Faktor kognitif, keseimbangan antara penilaian primer dan penilaian skunder

3. Strategi coping Stressor Ujian Nasional :

-Kriteria standar kelulusan dinaikkan

-Penambahan mata pelajaran yang diujiankan menjadi 6 mata pelajaran

-Tuntutan dari orangtua, guru dan sekolah agar lulus

Gambar 2. Skema Tingkat Stres Siswa SMA Kelas XII Dalam Menghadapi Ujian Nasional

Dokumen terkait