TINGKAT STRES SISWA SMA KELAS XII
DI YOGYAKARTA
DALAM MENGHADAPI UJIAN NASIONAL
Skripsi
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat Memperoleh gelar sarjana psikologi
Program studi psikologi
Oleh
Veronika Dwiasih Wulandari NIM : 049114006
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
TINGKAT STRES SISWA SMA KELAS XII
DI YOGYAKARTA
DALAM MENGHADAPI UJIAN NASIONAL
Skripsi
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat Memperoleh gelar sarjana psikologi
Program studi psikologi
Oleh
Veronika Dwiasih Wulandari NIM : 049114006
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
2009
Apapun yang kita lakukan, tanpa izin Tuhan, tidak ada artinya...
Tuhan selalu berada di dalam hati, di dekat orang-orang yang percaya dan
yakin pada-Nya... Maka akan ada ujian selalu..
They said,
Even in the storm,
we’ll find some lights.
So, here I am trying to find
my own light in my stormy days
Keinginan dan kepasrahan hati
akan terkabul doa di tangan-Nya,
Percaya Dia mendengar dan akan diberikan
oleh-Nya
jika waktunya sudah tepat,
Kesabaran, akan memberikan hasil yang terbaik
bahkan hasil yang tak pernah terpikirkan
sebelumnya,
membuat semuanya menjadi indah,
karena
Dia akan memberikan sesuatu kepada manusia
sesuai dengan kadar usaha dan
kerja keras manusia tersebut.
Karya sederhana ini, aku persembahkan untuk orang-orang
yang sangat berarti buatku dalam melewati hari demi hari
perjalanan hidupku
♦
Tuhan Yang Esa, penuntun jalan hidupku
♦
Papa dan Mama tercinta
♦
Adik-adikku terkasih Sabeth, Niko, dan Agus
♦
Kakakku tersayang yang jauh di sana
♦
Semua orang yang telah mengajariku tentang arti kehidupan
ABSTRAK
Veronika Dwiasih Wulandari (2009). Tingkat Stres Siswa SMA Kelas XII Di Yogyakarta Dalam Menghadapi Ujian Nasional: Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang tingkat stres siswa SMA kelas XII di Yogyakarta dalam menghadapi ujian nasional.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Subyek penelitian adalah 91 siswa SMA kelas XII semua jurusan. Sampel diperoleh dengan teknik purposive sampling.
Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan skala tingkat stres secara langsung kepada reponden. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian adalah skala tingkat stres yang disusun oleh peneliti sendiri. Daya diskriminasi dalam penelitian ini menggunakan batasan nilai rix > 0,30. Pada skala
tingkat stres terdapat 28 item yang gugur dan 68 item yang sahih. Koefisien reliabilitas skala tingkat stres sebesar 0,911. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik statistik deskriptif persentase.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa SMA kelas XII mengalami stres pada kategori sedang dan rendah: 58 subyek (63,74%) berada pada tingkat stres sedang dan 33 subyek (36,26%) berada pada tingkat stres rendah.
Kata kunci : Tingkat stres, Ujian Nasional
ABSTRACT
Veronika Dwiasih Wulandari (2009). Stress Level of 12th-Grade of Senior High Schools Students in Yogyakarta in Facing National Final Examination: Psychology Study Program, Faculty of Psychology, Sanata Dharma University, Yogyakarta.
This study aimed describe the stress levels of 12th-grade students of senior high schools in Yogyakarta in facing national final examination.
This research is a quantitative descriptive research. The research subjects were 91 students from all branches of study. Research samples were obtained by the means of purposive sampling.
In data gathering, the researcher distributed a set of stress scale directly to the respondents. This research measuring instrument was a set of self-made scale of stress levels. The discrimination control in this research used a value limit of rix > 0.30. Twenty-eight items from the original stress levels scale were
eliminated, and the remaining 68 items were claimed as valid. Reliability coefficient of the stress levels scale was 0.911. This research employed the percentage descriptive statistical technique in its data analysis.
The research results show that the 12th-grade students of senior high schools experienced stress at the medium and low levels: 58 subjects (63.74%) were at the medium stress level and 33 others (36.26%) at the low stress level.
Key words : Stress level, National Final Examination
KATA PENGANTAR
Puji Tuhan akhirnya selesai juga karya ilmiah ini. Rasa syukur yang tak
henti-hentinya penulis ungkapkan karena berkat dan bimbingan-Nya sehingga
karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Pada proses penyelesaian karya ilmiah ini,
banyak pihak yang memberikan bantuan, doa, semangat, dan motivasi tiada
hentinya kepada penulis. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, penulis ingin
mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada :
1. Tuhan Yang Esa atas berkat dan karunia-Nya, tumpuan hidupku saat aku
dalam badai hidup, menangis, dan tertawa. Usaha, kesabaran, dan
kepasrahan ternyata membuat semuanya jadi indah.
2. Bapak P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
3. Ibu ML. Anantasari, S.Psi., M.Si. selaku dosen pembimbing. Terima kasih
atas kesabaran ibu menghadapi saya selama bimbingan. Terima kasih juga
atas saran dan masukan yang telah ibu berikan selama ini sehingga karya
ilmiah ini dapat diselesaikan dengan lancar.
4. Rm. Dr. A. Priyono Marwan, SJ. Selaku dosen penguji. Terima kasih atas
segala saran, masukan dan perbaikan yang telah diberikan untuk karya
ilmiah ini.
5. Ibu MM. Nimas Eki Suprawati, S.Psi., Psi., M.Si. selaku dosen penguji.
Terima kasih atas segala saran, masukan dan perbaikan yang telah diberikan
kepada penulis.
6. Ibu Dra. Lusia Pratidarmanastiti, S.Psi., M.Si. selaku dosen pembimbing
akademik. Terima kasih atas bimbingan dan semangat yang diberikan.
7. Seluruh dosen Fakultas Psikologi. Terima kasih karena telah memberikan
ilmu, wawasan, dan pengetahuan selama penulis kuliah.
8. Pak Giyanto, Mas Gandung, Mbak Nanik, Mas Muji, Mas Doni. Terima
kasih atas semua bantuannya di sekretariat psikologi, laboratorium, dan
ruang baca selama penulis kuliah.
9. Teman-teman SMA kelas XII. Terima kasih atas waktu luang dan
kesediaannya untuk mengisi kuisioner dengan iklas hati. Tanpa bantuan dan
kesediaan teman-teman karya ilmiah ini tidak akan selesai.
10. Papa Mama. Terima kasih buat dukungan, perhatian, doa dan kesabaran
selama penulis mengerjakan skripsi dan dalam situasi apapun. Terima kasih
atas rasa sayang dan kebaikan hati, memberikan kesempatan kepada penulis
menjadi lebih dewasa dengan pengalaman-pengalaman dan kepercayaan
yang papa mama berikan.
11. Adik-adikku Sabeth, Niko, dan Agus. Terima kasih atas semangat dan
bantuan yang telah diberikan untuk menyelesaikan karya ilmiah ini.
12. Sr. Aufrida, CB, Rini, Rury & Bakti, Ranti PBSID & Japiz, Heri PBI &
adiknya. Terima kasih banyak atas kesediannya telah meluangkan waktu dan
tenaga untuk membantu menyebarkan kuisioner penelitian sehingga
penelitian ini bisa berjalan dengan lancar. Maaf sudah merepotkan.
13. Mas Dodon (Yusufku) terima kasih banyak atas kesediaannya mau
meluangkan waktu untuk membantu penulis, atas kemurahan hati
meminjamkan printer untuk ngeprint karya ilmiah ini, dan membantu
menerjemahkan abstrak. Kak Pedy, terima kasih sudah memperbolehkan
penulis untuk ngeprint di kost.
14. Kakak ndut (Ijonk/Ance/Bang ndut). Terima kasih atas kesediaanya mau
membantu mencarikan orang untuk menyebarkan kuisioner dan meluangkan
waktu untuk mengantar penulis mengambil kuisioner meskipun hujan deras,
sampai motornya mogok di jalan. Terima kasih banyak kak..
15. Kakakku tersayang yang jauh di sana. Terima kasih atas segala rasa yang
boleh adek rasakan selama ini, rasa nyaman, sayang, doa, perhatian,
pengertian yang telah kakak berikan buat adek dari jauh. Adek akan selalu
dukung kakak karena adek ingin kakak bisa mendapatkan yang terbaik dan
ingin kakak bahagia. Kakak tetap jadi kakak yang terbaik buat adek.
16. Fr. Oslan yang tidak pernah bosan bertanya, “gimana skripsinya? Kapan
lulus? Koq lama banget.. mau jadi mahasiswi abadi ya?” Terima kasih ter,
buat semangat dan ejekan-ejekannya, walaupun sebel tapi bisa menambah
semangat penulis untuk cepat selesai. Terima kasih atas kepercayaan yang
telah frater berikan kepada penulis, mau berbagi cerita, pengalaman dan
menunjukkan sikap yang dewasa. Terima kasih sobat...
17. Mas Didit Gandroeng, Arma, Fr. Martin, Fr. Tomi, Fr. Beni, Pak Pane.
Terima kasih buat bantuan, semangat, masukan dan perhatian yang telah
diberikan selama penulis menyelesaikan karya ilmiah ini. Semuanya sangat
berarti. Teman-teman Cana Community (komunitas Kapel Mrican). Terima
kasih atas pengalaman, kebersamaan, dan rasa indah yang membuat penulis
banyak belajar sehingga dapat mengubah diriku menjadi lebih baik.
18. Aa dan Yetti. Terima kasih sudah mau menjadi sahabat, teman dan saudara
yang selalu ada buat penulis dalam situasi apapun. Memberi masukan,
semangat, membantu penulis untuk menjadi lebih baik, dewasa, tegar, sabar,
kuat dan membuat penulis percaya bahwa semuanya ada waktunya.
Akhirnya banyak yang penulis mengerti. Dedek Nabil, Cepat besar ya..
19. Tinul & Chizka. Terima kasih sobat atas kebersamaannya selama kuliah,
mau mendengar keluh kesah penulis, mengerti dan memberikan masukan
buat penulis. Skripsinya di kerjakan donk... jangan malas..
20. Iwan Nababan. Perjalanan dan cerita kita memang panjang tapi tidak bisa
sepanjang usia kita untuk bersama. Terima kasih atas rasa sayang dan cinta
yang telah kamu berikan selama ini, membuatku menjadi orang yang tegar,
kuat, sabar, dan mengerti kalau hidup itu penuh dengan rintangan.
Perjalanan 5 tahun lebih ini tidak mudah tapi semuanya harus dikorbankan
untuk menjadi lebih baik. Terima kasih sampai sekarang tetap memberikan
perhatian dalam menyelesaikan skripsiku. Jadilah lebih baik.
21. Teman-teman psikologi 2004. Sasa, Mita, Ndaru, Nice, Mita Pandu dan
teman yang lain. Terima kasih sudah mau memberikan masukan tentang
skripsiku. Teman-teman selama kuliah, terima kasih buat dukungan dan
kebersamaannya.
22. Semua pihak yang belum disebutkan satu persatu. Penulis mengucapkan
terima kasih atas semua dukungan dan bantuannya.
Penulis menyadari bahwa hasil karya ini jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, dengan penuh kerendahan hati penulis menerima semua saran dan kritikan
dari semua pihak. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja.
Yogyakarta, Maret 2009 Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN MOTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiv
DAFTAR TABEL ... xvii
DAFTAR GAMBAR ... xviii
DAFTAR LAMPIRAN ... xix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A.Latar Belakang ... 1
B.Rumusan Masalah ... 6
C.Tujuan Penelitian ... 6
D.Manfaat Penelitian ... 6
1. Manfaat Teoretis ... 6
2. Manfaat Praktis ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8
A.Stres ... 8
1. Pengertian Stres ... 8
2. Bentuk-bentuk Stres ... 11
3. Stres dan Kinerja ... 12
B.Ujian Nasional ... 14
2. Alasan Pelaksanaan Ujian Nasional ... 14
3. Mata Pelajaran dan Standar Kompetensi Lulusan Ujian Nasional Tahun 2008 ... 15
4. Sisi Positif dan Negatif Ujian Nasional ... 16
C.Stres Siswa SMA Kelas XII Dalam Menghadapi Ujian Nasional ... 20
1. Pengertian Stres Menghadapi Ujian Nasional dan Pengertian Siswa SMA Kelas XII ... 20
2. Ujian Nasional Sebagai Stressor ... 20
3. Aspek-aspek Stres Ujian Nasional ... 21
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stres Siswa Dalam Menghadapi Ujian Nasional ... 23
D.Dinamika Psikologis Tingkat Stres Siswa SMA Kelas XII Dalam Menghadapi Ujian Nasional ... 25
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 31
A.Jenis Penelitian ... 31
B.Variabel Penelitian ... 31
C.Definisi Operasional ... 32
D.Subyek Penelitian ... 34
E. Metode dan Alat Pengumpulan Data ... 34
F. Uji Coba Alat Ukur ... 36
G.Pertanggungjawaban Mutu ... 37
1. Validitas ... 37
2. Seleksi Item ... 39
3. Reliabilitas ... 43
H.Metode Analisis Data ... 44
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 47
A.Pelaksanaan Penelitian ... 47
B.Hasil Penelitian ... 48
1. Deskripsi Data subyek Penelitian ... 48
2. Uji Normalitas ... 50
3. Deskripsi Data Penelitian ... 51
4. Kategorisasi Tingkat Stres Siswa SMA Kelas XII ... 52
C.Pembahasan ... 53
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 59
A.Kesimpulan ... 59
B.Saran ... 59
DAFTAR PUSTAKA ... 62
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 : Skor Penilaian Skala Stres ... 35
Tabel 3.2 : Blue Print Skala Stres (sebelum uji coba) ... 36
Tabel 3.3 : Hasil Korelasi Item Total Skala Stres ... 40
Tabel 3.4 : Item yang Sahih dan Gugur pada Skala Stres ... 41
Tabel 3.5 : Distribusi Item Skala Stres Untuk Penelitian ... 43
Tabel 3.6 : Kategori skala stres ... 46
Tabel 4.1 : Identitas Subyek penelitian ... 49
Tabel 4.2 : Deskriptif statistik ... 51
Tabel 4.3 : Kategorisasi Tingkat Stres Siswa SMA Kelas XII ... 52
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Stres dan Kinerja ... 13 Gambar 2. Skema Tingkat Stres Siswa SMA Kelas XII Dalam Menghadapi
Ujian Nasional ... 30
xix
DAFTAR LAMPIRAN
Skala Uji Coba ... 65
Data Uji Coba Penelitian ... 77
Reliabilitas uji coba ... 93
Data Item Sahih ... 100
Reliabilitas Alpha Item Sahih ... 112
Uji Normalitas Data Hasil Penelitian ... 118
Statistic Descriptive ... 119
Skala Penelitian ... 120
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Stres muncul dari berbagai sumber yang tidak terhitung dan di setiap
saat dalam kehidupan manusia. Stres adalah bagian yang tidak terhindarkan
dari keberadaan kita. Tekanan sehari-hari meskipun kecil jika
bertumpuk-tumpuk dapat pula mengakibatkan stres. Stres adalah bagian penting dan
perlu dari kehidupan kita, sebagai akibat yang tidak terhindarkan dari
interaksi antara kita dan lingkungan.
Kita membutuhkan stres untuk mampu beradaptasi dengan
perubahan-perubahan yang berkesinambungan dalam lingkungan kita dan
untuk berdiri tegak dalam rangka bertahan hidup (Looker & Gregson, 2004).
Stres dapat terjadi dimana dan kapan saja. Stres dapat menyerang siapa saja
dan bukan selalu terjadi pada orang dewasa tapi juga anak sekolah yang justru
banyak berhadapan dengan tuntutan-tuntutan lingkungan.
Beberapa peristiwa selama hidup kita hampir selalu penuh dengan stres.
Semua ini diacu sebagai peristiwa-peristiwa kehidupan, sebagian besar tidak
terhindarkan dan kita harus beradaptasi atau menyesuaikan hidup untuk
mengatasinya. Peristiwa-peristiwa kehidupan tersebut harus dihadapi,
misalnya sakit, kehilangan seseorang, ketidakharmonisan perkawinan,
masalah anak, kesulitan keuangan, pindah rumah dan salah satunya adalah
Ujian Nasional yang dapat menjadi stressor bagi siswa yang tengah berada
2
pada tahap akhir jenjang pendidikan. Siswa yang dimaksud dalam hal ini
adalah siswa SMA.
Sekolah Menengah Atas ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari
kelas X sampai kelas XII. Pada akhir tahun ketiga yakni kelas XII, siswa
diwajibkan untuk mengikuti Ujian Nasional yang akan mempengaruhi
kelulusan. Awal dan akhir sekolah, masing-masing merupakan sesuatu yang
terukur sebagai stres dalam kehidupan manusia (Sarafino dalam Smet, 1994).
Cranwell-Ward (dalam Iswinarti & Rahyu Siti, 1999) mengatakan
stres adalah reaksi fisiologis dan psikologis yang terjadi jika seseorang
merasakan ketidakseimbangan antara tuntutan yang dihadapi dengan
kemampuannya untuk mengatasi tuntutan tersebut.
Kehidupan yang penuh stres pada saat ini terjadi ketika adanya nilai
standar Ujian Nasional yang telah dimulai sejak tahun 2002/2003 terus
menglami peningkatan. Cemas, panik dan stres dialami ribuan siswa SMA di
Yogyakarta menjelang pelaksanaan Ujian Nasional. Kecemasan ini
disebabkan karena adanya peningkatan standar minimal kelulusan dan jumlah
mata pelajaran yang diujikan juga bertambah. Penambahan mata pelajaran
dari tiga menjadi enam mata pelajaran terkesan mendadak sehingga
memberatkan siswa terutama dari sisi psikologis. Akibatnya tidak sedikit
siswa yang resah dan stres menghadapi ujian (Jawa Pos, 19 April 2008).
Perasaan stres atau tegang yang dialami oleh siswa ketika akan
menghadapi ujian merupakan respon yang berupa perasaan tidak nyaman atau
3
Siswa yang mengalami ketegangan saat akan menghadapi Ujian Nasional
disebabkan karena takut tidak lulus, takut soalnya susah, takut tidak bisa
masuk keperguruan tinggi favorit dan takut tidak mendapatkan hasil yang
tidak memuaskan walaupun lulus ujian (Jalaludin, 2008). Stres yang dihadapi
diperparah dengan adanya tekanan dari orang tua serta guru, yang secara
langsung maupun tidak langsung memaksa siswa harus lulus (Pamadhi,
2005).
Fakta di lapangan sampai saat ini menunjukkan bahwa banyaknya
siswa kelas XII dituntut belajar untuk memenuhi standar kelulusan, ikut les
tambahan untuk mata pelajaran yang diujian nasionalkan, waktu akhir pekan
yang digunakan untuk bersantai, dipakai untuk les yang diadakan sekolah dan
harus mengikuti latihan mengerjakan soal-soal ujian (Kompas, 31 Januari
2007).
Hasil penelitian terkait tentang kondisi stres dan kinerja secara
kognitif oleh pakar dan direktur pusat Kecerdasan Pembelajaran Terapan,
Seatle University John J. Medina (2008), ditemukan bahwa manusia dalam
kondisi stres berpengaruh secara signifikan pada menurunnya hasil tes
kognitif, bahkan sampai 50 % (Djuwari, 2008).
Kegagalan menghadapi ujian setelah diteliti, ternyata tidak hanya
disebabkan oleh ketidaksiapan siswa dalam penguasaan materi pembelajaran
yang diujikan sebagaimana terdapat pada kurikulum yang telah ditetapkan,
melainkan lebih disebabkan oleh adanya stres dan rasa takut menghadapi
4
Berbagai upayadilakukan oleh pihak sekolah untuk mempersiapkan
anak didiknya agar berhasil dalam Ujian Nasional. Hampir seluruh sekolah
menggelar pendalaman materi Ujian Nasional dengan latihan soal dan
mengundang lembaga bimbingan belajar untuk membimbing anak didik
mereka. Salah satunya adalah SMA N 11 Yogyakarta. Pendalaman materi
sudah dilakukan sejak 6 bulan terakhir dan dilakukan di luar jam sekolah.
Selain pendalaman materi, juga memberikan bimbingan mental dan
psikologis dengan mendatangkan pihak luar seperti Ustad, Suster dan Pendeta
untuk memberikan dorongan secara spiritual dan semangat untuk menghadapi
Ujian Nasional (Jawa pos, 19 April 2008). Hal yang sama dilakukan SMAN 3
Yogyakarta dan SMA Stella Duce II Yogyakarta. Sekolah melakukan
persiapan secara optimal untuk menghadapi Ujian Nasional seperti latihan
soal, persiapan fisik dan mental, doa bersama yang dilakukan di sekolah
(Kompas, 10 Mei 2007).
Yogyakarta sebagai kota pendidikan mengalami penurunan tingkat
kelulusan Ujian Nasional SMA di tahun 2007/2008 dibandingkan Ujian
Nasional tahun sebelumnya. Siswa SMA tahun 2006/2007 yang lulus
mencapai 94,43%, sedang tahun 2007/2008 turun menjadi 93,81%. Jika
dilihat dari posisi daerah kelulusan, persentase tertinggi SMA secara
berturut-turut diawali dari Bantul, Sleman, Kulonprogo, Yogyakarta, dan
Gunungkidul. Daerah kabupaten atau kota yang cukup signifikan mencapai
5
secara cukup berarti dari 94% di tahun 2006/2007 menjadi 97,05% di tahun
2007/2008 (Wahab, 2008).
Penurunan persentase kelulusan tidak dapat dilepaskan dari banyak
faktor, di antaranya adalah tambahan mata ujian dari 3 menjadi 6 mata ujian
untuk SMA, peningkatan passing grade, dan pelaksanaan dua mata ujian
dalam sehari (Wahab, 2008).Oleh karena itu, untuk memberikan pemahaman
yang sesuai tentang tingkat stres siswa SMA kelas XII, melihat penyebab
penurunan persentase kelulusan di atas maka penelitian tentang stres pada
siswa SMA kelas XII menjadi penting dilakukan.
Yogyakarta dipilih peneliti sebagai tempat penelitian karena hasil
Ujian Nasional pada tahun 2006 menunjukkan bahwa SMA di Yogyakarta
tidak masuk 10 besar secara nasional tapi sekolah yang ada di kabupaten yang
memegang peringkat 10 besar tersebut (Kompas, 26 Mei 2007). Tahun 2008
sekolah SMA di Yogyakarta kembali mengalami tingkat penurunan kelulusan
jika dibandingkan dengan SMA yang ada di kabupaten (Wahab, 2008).
Melihat fakta yang terjadi pada sekolah SMA di Yogyakarta di atas,
menyebabkan peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang stres yang
dihadapi oleh siswa SMA yang ada di Yogyakarta. Oleh karena itu peneliti
mengambil judul “Tingkat Stres Siswa SMA Kelas XII di Yogyakarta Dalam
6
B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah gambaran tingkat stres siswa SMA kelas XII di Yogyakarta
dalam menghadapi ujian nasional?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang tingkat stres
siswa SMA kelas XII di Yogyakarta dalam menghadapi ujian nasional.
D. Manfaat Penelitian
1. Secara teoretik, penelitian ini dapat memberikan sumbangan ilmiah dalam
bidang psikologi khususnya psikologi pendidikan. Dengan adanya
penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan gambaran
tentang tingkat stres siswa khususnya siswa SMA kelas XII saat
menghadapi sistem pendidikan yang diberlakukan di Indonesia.
2. Secara praktis
a. Bagi peneliti yang berminat dengan topik seperti ini, dapat dijadikan
referensi untuk penelitian yang serupa dan dapat dijadikan referensi
dalam hal pembuatan alat tes.
b. Bagi orangtua, dengan adanya penelitian ini maka dapat digunakan
sebagai referensi dan dapat memberikan gambaran tentang stres yang
dihadapi anak khususnya untuk orangtua yang memiliki anak SMA
kelas XII, sehingga dapat mendampingi anak dalam belajar dengan
7
c. Bagi para guru serta pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan.
Dengan melihat hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan
informasi dan memberikan gambaran kepada para guru atau pendidik
tentang stres yang dihadapi siswa-siswi akibat tekanan-tekanan dari
sekolah dan sistem-sistem pendidikan yang diberlakukan sehingga
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Stres merupakan bagian dari kehidupan. Stres dapat mengenai semua
orang dan semua usia. Stres bukan selalu terjadi pada orang dewasa tetapi anak
sekolah juga (termasuk SMA) bisa membuat mereka stres bila ada keadaan yang
terus menekannya. Begitu juga saat siswa SMA tersebut (khususnya kelas XII)
harus menghadapi Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan. Oleh karena itu, di
bab II ini, penulis ingin menjelaskan tentang stres, Ujian Nasional, stres siswa
SMA kelas XII itu sendiri dalam menghadapi Ujian Nasional dimana Ujian
Nasional dapat memberikan stressor kepada siswa, dan dinamika psikologis stres
siswa kelas XII dalam menghadapi Ujian Nasional.
A. Stres
1. Pengertian Stres
Looker & Gregson (2004) mendefinisikan stres sebagai sebuah
keadaan yang dialami individu ketika terjadi sebuah ketidaksesuaian
antara tuntutan-tuntutan yang diterima dan kemampuan untuk
mengatasinya.
Menurut Cranwell-Ward (dalam Iswinarti & Rahyu Siti, 1999) stres adalah
reaksi fisiologis dan psikologis yang terjadi jika seseorang merasakan
ketidakseimbangan antara tuntutan yang dihadapi dengan
kemampuannya untuk mengatasi tuntutan tersebut. Sedangkan Santrock
9
(2003) mendefenisikan stres sebagai respon individu terhadap keadaan
atau kejadian yang memicu stres (stressor), yang mengancam dan
mengganggu kemampuan sesorang untuk menanganinya (coping).
Atkinson (2000) mengemukakan bahwa stres mengacu pada
peristiwa yang dirasakan membahayakan kesejahteraan fisik dan
psikologis seseorang. Situasi ini disebut sebagai penyebab stres dan reaksi
individu terhadap situasi stres ini disebut sebagai respon stres. Stres adalah
keadaan tertekan baik secara fisik maupun psikologis (Chaplin, 2001).
Sarafino (dalam Smet, 1994) mengkonseptualisasikan stres ke
dalam tiga pendekatan yaitu :
a. Stres sebagai stimulus.
Pendekatan ini memiliki fokus pada lingkungan. Sumber stres hadir
dalam bentuk keadaan yang mengancam dan membahayakan sehingga
menimbulkan ketegangan. Sumber stres ini disebut stressor.
b. Stres sebagai respon.
Fokus dari pendekatan ini adalah reaksi seseorang terhadap stressor.
Reaksi ini muncul dalam dua bentuk yaitu psikologis dan fisiologis.
Bentuk psikologis meliputi tingkah laku, pola pikir, dan emosi, seperti
saat tegang. Bentuk fisiologis mencakup gerakan tubuh yang
meningkat detak jantung, mulut terasa kering, perut terasa tegang dan
berkeringat. Respon psikologis dan fisiologis seseorang terhadap
10
c. Stres sebagai proses.
Proses yang dimaksud meliputi stressor dan starin, ditambah dimensi
yang penting yaitu hubungan antara individu dengan lingkungan.
Termasuk dalam proses ini adalah interaksi dan penyesuaian diri yang
berlangsung secara berkesinambungan dinamakan transaksi antara
individu dan lingkungan, yang satu mempengaruhi dan dipengaruhi
oleh yang lain. Stres tidak hanya sebuah stimulus dan sebuah respon
tetapi lebih dari sebuah proses yaitu individu sebagai perantara yang
aktif dapat mempengaruhi tekanan stressor melalui tingkah laku,
pikiran, dan strategi emosional, sehingga pada tiap individu akan
muncul reaksi terhadap stres yang berbeda pada stressor yang sama.
Sarafino (dalam Smet, 1994) mendefinisikan stres sebagai suatu
kondisi yang disebabkan oleh transaksi antara individu dengan lingkungan
yang menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal dari
situasi dengan sumber-sumber daya sistem biologis, psikologis dan sosial
seseorang.
Berdasarkan beberapa defenisi di atas, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa stres adalah respon individu terhadap keadaan yang
memicu stres (stressor) yang mengancam sehingga individu merasa
tertekan dan individu akan bereaksi secara fisiologis maupun psikologis.
Stres yang dialami individu dinyatakan dalam suatu derajat yang
11
2. Bentuk-bentuk Stres
Menurut Looker & Gregson (2004) bentuk-bentuk stres dibedakan
menjadi 2 bagian yaitu :
1. Eustress (stres positif)
Eustress merupakan pengalaman yang menyenangkan dan bersifat
menyenangkan. Eustress dapat dialami ketika kemampuan yang kita
rasakan untuk mengatasi, melebihi tuntutan-tuntutan yang dirasakan.
Situasi eustres membangkitkan rasa percaya diri, menjadi terkontrol
dan mampu mengatasi dan menangani tugas-tugas, tantangan-tantangan
dan tuntutan-tuntutan, meningkatkan kesiagaan mental, kewaspadaan,
dan dapat meningkatkan motivasi individu untuk menciptakan sesuatu.
Respon stres ini diaktifkan oleh sejumlah kebenaran untuk memberi
kewaspadaan, kinerja mental, dan fisik yang dibutuhkan untuk menjadi
produktif dan kreatif.
2. Distress (stres negatif)
Distress merupakan stres yang merusak atau bersifat tidak
menyenangkan. Stres dirasakan sebagai suatu keadaan dimana individu
mengalami rasa cemas, ketakutan, khawatir atau gelisah. Sehingga
individu mengalami keadaan psikologis yang negatif sehingga timbul
keinginan untuk menghindarinya. Distress dapat muncul karena terlalu
sedikitnya tuntutan yang merangsang, yang menyebabkan kebosanan
dan frustrasi. Dalam kasus ini, kemampuan yang dirasakan untuk
12
terlampau sedikit hal untuk dikerjakan atau terlampau sedikit tugas
yang menuntut bisa menjadi sama menyedihkannya dengan memiliki
terlampau banyak tugas atau menangani pekerjaan-pekerjaan yang
kompleks.
3. Stres dan Kinerja
Hidup akan menjadi membosankan dan tidak menyenangkan jika
tidak mengalami eustress yang merangsang yang ditimbulkan oleh
tantangan dalam penampilan fisik dan pengujian keahlian-keahlian dan
kemampuan mental. Tuntutan yang terlampau sedikit atau tuntutan yang
terlalu berlebihan dapat melemahkan kemampuan untuk mengatasinya
dengan efektif.
Menurut Looker & Gregson (2004), rangsangan yang terlalu kecil,
tuntutan dan tantangan yang terlampau sedikit dapat menyebabkan
kebosanan, frustrasi, dan perasaan bahwa kita tidak sedang menggunakan
kemampuan-kemampuan kita secara penuh. Demikian juga,
tuntutan-tuntutan yang banyak sekali dapat menjadi sangat menyengsarakan
misalnya beban kerja yang berlebihan, tekanan waktu ekstrem, tuntutan
yang tidak bisa dihindari dan terlampau banyak peristiwa hidup yang
membuat kita stres. Kita mulai meragukan kemampuan kita sendiri untuk
13
EUSTRES
Bekerja keras di bawah tekanan tinggi yakni banyak tuntutan untuk
mengerjakan segala sesuatunya tidak selalu menjadi strategi yang benar
seperti terlihat pada gambar 1.
Gambar 1. Stres dan Kinerja
Baik Tinggi
Rendah
K
INER
J
A
DISTRES
end
R ah
Buruk Tinggi
Rendah TUNTUTAN-TUNTUTAN Tinggi
Kinerja maksimum dicapai di atas bagian puncak lekuk ke atas dari
kurva kinerja dimana kita merasa terangsang, waspada saat membuat
keputusan, lebih kreatif, dan efektif dalam mencapai hasil-hasilnya.
Kinerja puncak dicapai ketika kita menghadapi jumlah dan tipe tuntutan
dan tantangan yang benar dan kita yakin dan sangat mampu menanganinya
(Looker & Gregson, 2004).
Jika tuntutan dan tekanan terus menerus meningkat di atas titik ini,
sumber daya penanggulangan kita diperlemah terus menerus dan kinerja
kita mulai merosot. Kita menghantam lekuk kurva ke bawah. Jika ini terus
14
licin di zona distress yang akan mengalami kecemasan, kelelahan,
kecapekan, dan kemacetan yang sering disebut dengan ”pemadaman”
(Looker & Gregson, 2004).
Terlalu sedikitnya stres sama bahayanya dengan stres yang terlalu
banyak. Stres memang meningkatkan tekanan darah dan stres yang
berlebihan bisa mendatangkan malapetaka yang fatal. Mereka memerlukan
tekanan-tekanan untuk memperoleh energi yang dibutuhkan guna upaya
mencari sasaran-sasaran mereka. Dan rangsangan mental serta intelektual
semacam ini tiada lain adalah stres (Anoraga & Suyati, 1995).
B.Ujian Nasional
1. Pengertian Ujian Nasional
Berdasarkan peraturan menteri pendidikan tentang ujian nasional
tahun 2008, Ujian Nasional adalah kegiatan pengukuran dan penilaian
kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah.
2. Alasan Pelaksanaan Ujian Nasional
Alasan diselenggarakan Ujian Nasional berdasarkan peraturan
menteri pendidikan tentang ujian nasional tahun 2008 adalah :
a. Pemetaan mutu satuan dan atau program pendidikan
15
c. Penentuan kelulusan peserta didik dari program dan atau satuan
pendidikan
d. Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam
upaya peningkatan mutu pendidikan.
3. Mata Pelajaran dan Standar Kompetensi Lulusan Ujian Nasional Tahun 2008
Mata Pelajaran Ujian Nasional SMA dan MA :
a. Program IPA, meliputi : Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,
Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi
b. Program IPS, meliputi : Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,
Matematika, Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi
c. Program Bahasa meliputi : Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,
Matematika, Bahasa Asing lain yang diambil, Sejarah Budaya
(Antropologi), dan Sastra Indonesia
d. Program Keagamaan meliputi : Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,
Matematika, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, dan Tasawuf/Ilmu Kalam
Peserta Ujian Nasional dinyatakan lulus jika memenuhi standar
kelulusan Ujian Nasional sebagai berikut :
a. Memiliki nilai rata-rata minimal 5,25 untuk seluruh mata pelajaran yang
diujikan, dengan tidak ada nilai di bawah 4,25
b. Memiliki nilai minimal 4,00 pada salah satu mata pelajaran dan nilai
16
4. Sisi Positif dan Negatif Ujian Nasional
Ujian Nasional sebagai bentuk evaluasi pembelajaran menjadi
kontroversi. Terdapat dua sisi dilaksanakannya Ujian Nasional yaitu sisi
positif dan sisi negatif. Sisi positif dari Ujian Nasional diantaranya adalah :
a. Sebagai langkah mengevaluasi hasil belajar seorang siswa selama
menempuh salah satu jenjang pendidikan tertentu.
b. Mendongkrak semangat siswa untuk lebih termotivasi untuk belajar lebih
giat karena ada target yang harus dipenuhi.
c. Ujian Nasional akan menciptakan generasi-generasi yang berkompeten.
d. Mendukung pekembangan pendidikan sebagai upaya untuk memperbaiki
mutu pendidikan Indonesia.
e. Mengetahui daya pencapaian target dari standar nasional yang ditetapkan
sehingga dapat diketahui daerah yang sudah mampu atau belum
memenuhi target dan kedepannya perlu ditingkatkan.
f. Ujian Nasional telah menyumbangkan kontribusi dalam rangka
penyamaan mutu pendidikan terhadap dunia internasional.
g. Memacu kreativitas dan daya pikir siswa sehingga menjadikan anak lebih
maju.
h. Siswa tidak menyepelekan pelajaran pada saat kegiatan belajar
mengajar.
Dampak negatif yang nyata terjadi di sekolah sebagai akibat
diterapkannya Ujian Nasional di sekolah, diantaranya (Khaerudin, 2008 &
17
a. Terjadinya disorientasi pendidikan di sekolah
Pembatasan mata pelajaran menyebabkan terjadinya diskriminasi dan
pengabaian terhadap mata pelajaran lain. Para siswa dan bahkan orang
tua lebih memusatkan perhatiannya terhadap mata pelajaran yang akan
diujian nasionalkan. Dengan adanya Ujian Nasional, maka pembelajaran
cenderung hanya mengembangkan ranah kognitif, pada penguasaan
pengetahuan dan mengesampingkan ranah afektif dan psikomotorik.
b. Proses pembelajaran yang tidak bermakna
Para guru menggunakan metode pembelajaran drill dalam
mempersiapkan Ujian Nasional, dimana para siswa dilatih untuk
mengerjakan sejumlah soal yang diduga akan keluar dalam ujian, agar
siswa terbiasa menghadapi soal ujian dan menguasai teknik-teknik dan
trik mengerjakan soal. Pembelajaran seperti ini tidak bermakna, karena
apa yang dipelajari bersifat mekanistik. Pembelajaran seperti ini tidak
dapat mengembangkan kemampuan berpikir dalam memecahkan
masalah, yang menjadi indikator kecerdasan sebagaimana yang
diharapkan dicapai melalui pembelajaran.
c. Upaya-upaya yang tidak fair
Sekolah yang mampu meluluskan siswanya dengan prosentase yang
tinggi, dinilai sebagai sekolah yang berkualitas dan unggul. Tidak sedikit
oknum guru dan kepala sekolah melakukan upaya-upaya yang tidak
terpuji untuk mencapai target kelulusan yang setinggi-tingginya. Guru
18
jawaban kepada siswa, dinas pendidikan melakukan usaha untuk
menggelembungkan (mark-up) hasil ujian, dengan cara membuat tim
untuk membetulkan jawaban-jawaban siswa. Kondisi seperti ini jelas
jauh dari nilai-nilai kejujuran dalam pendidikan yang seharusnya menjadi
bagian yang harus dikembangkan secara serius di sekolah.
d. Hanya ranah kognitif yang terukur
Ujian Nasional yang menggunakan bentuk soal multiple choise hanya
akan dapat mengukur hasil belajar pada ranah kognitif. Mengacu pada
ranah kognitif dari Bloom, soal multiple choise hanya mampu mengukur
sampai pada tingkat berpikir aplikasi. Kondisi seperti ini mendorong para
siswa belajar dengan menghafal. Ranah afektif dan psikomotorik yang
merupakan bagian dari tujuan pembelajaran yang harus diukur, tidak
dilakukan di Ujian Nasional.
e. Keputusan yang tidak fair
Proses belajar yang dilakukan siswa selama 3 tahun ditentukan oleh hasil
ujian yang dilakukan beberapa jam saja. Ketidakadilan juga terlihat dari
proses pembelajaran yang dialami siswa di satu sekolah dengan sekolah
lainnya yang jauh berbeda. Para siswa diuji dengan cara dan alat yang
sama.
f. Ujian Nasional membawa efek psikologis yang cukup berat. Secara
umum siswa yang akan menghadapi ujian mengalami ketakutan
berlebihan karena pemerintah telah mematok standar nilai kelulusan.
19
dalam proses belajarnya sehingga hasil ujiannya tidak akan berhasil
dengan baik.
g. Aspek yuridis. UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003
telah dilanggar, misalnya pasal 35 ayat 1 yang menyatakan bahwa
standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi
lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan,
pembiayaan, dan penilaian pendidikan, yang harus ditingkatkan secara
berencana dan berkala. Ujian Nasional hanya mengukur kemampuan
pengetahuan dan penentuan standar pendidikan yang ditentukan secara
sepihak oleh pemerintah. Selain itu, pada pasal 59 ayat 1 dinyatakan,
pemerintah dan pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap
pengelola, satuan jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Tapi dalam Ujian
Nasional pemerintah hanya melakukan evaluasi terhadap hasil belajar
siswa yang sebenarnya merupakan tugas pendidik.
h. Aspek ekonomi. Secara ekonomis, pelaksanaan Ujian Nasional
memboroskan biaya. Selain itu, belum dibuat sistem yang jelas untuk
menangkal penyimpangan finansial dana Ujian Nasional. Kondisi ini
20
C. Stres Siswa SMA Kelas XII Dalam Menghadapi Ujian Nasional
1. Pengertian Stres Menghadapi Ujian Nasional dan Pengertian Siswa SMA Kelas XII
Stres menghadapi Ujian Nasional adalah respon individu terhadap
keadaan yang memicu perasaan tidak nyaman baik secara fisik maupun
psikologis akibat tuntutan dari luar berupa keharusan untuk lulus,
peningkatan standar kelulusan, dan penambahan mata pelajaran yang
diujikan sehingga memunculkan ketegangan, ketakutan dan tekanan.
Siswa SMA kelas XII adalah individu yang berada pada tahap
akhir atau tahun ketiga dijenjang pendidikan sekolah menengah atas yang
harus menghadapi Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan.
2. Ujian Nasional Sebagai Stressor
Penyebab stres pada siswa SMA yang duduk di kelas XII adalah
saat menghadapi Ujian Nasional, dimana Ujian Nasional merupakan
penentu kelulusan siswa. Stressornya berupa (Khaerudin, 2008 & Irawan,
2005) :
a. Peningkatan kriteria standar kelulusan
b. Penambahan mata pelajaran yang diujikan
c. Sebagai seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya
d. Sebagai instrumen penentu kelulusan
e. Pengukuran hanya pada ranah kognitif dan mengesampingkan ranah
21
f. Pembelajaran bersifat mekanistik karena menggunakan metode drill.
g. Memusatkan perhatian pada mata pelajaran yang akan diujian
nasionalkan, mata pelajaran lain sebagai pelengkap
h. Jumlah siswa yang lulus berdampak pada citra dan prestise sebuah
sekolah.
i. Siswa yang menghadapi Ujian Nasional mengalami ketakuan yang
berlebihan
j. Kondisi sekolah yang berbeda diuji dengan alat ukur yang sama
k. Proses belajar 3 tahun ditentukan oleh hasil ujian yang dilakukan
beberapa jam saja
l. Penentuan standar pendidikan ditentukan secara sepihak oleh
pemerintah
m.Pemerintah melakukan evaluasi hasil belajar siswa yang sebenarnya
tugas pendidik.
3. Aspek-aspek Stres Ujian Nasional
Stres merupakan reaksi alami tubuh terhadap berbagai tekanan,
tegangan dan perubahan dalam kehidupan, begitu juga dalam
menghadapi Ujian Nasional. Siswa yang mengalami stres (melakukan
reaksi terhadap stres) termanifestasi dalam gejala emosional, kognitif,
22
a. Gejala Emosional
Secara emosional, individu yang mengalami stres akan merasa takut
dan kawatir, mudah marah, kehilangan rasa ketertarikan terhadap
hal-hal di sekitarnya, ketidakmampuan untuk menikmati dirinya sendiri,
membenci sekolah, tidak bergairah, gugup, gelisah, merasa tidak aman,
pesimis dan was-was.
b. Gejala Kognitif atau Mental
Manifestasi stres dapat berupa ketidakmampuan dalam berpikir, daya
konsentrasi kurang, sering melamun, mudah lupa, pikiran kacau,
produktivitas atau prestasi belajar menurun, sering melakukan
kesalahan dalam bekerja.
c. Gejala Fisiologis
Keluhan-keluhan fisik yang timbul seperti pusing atau sakit kepala,
sakit perut, mual dan muntah, susah bernapas, jantung berdegup cepat,
selera makan berubah (kehilangan nafsu makan atau makan
berlebihan), sering ke kamar mandi, susah tidur, mimpi buruk, bangun
terlalu awal, telapak tangan keringat, dan mudah lelah.
d. Gejala Perilaku
Stres termanifestasi dalam perilaku seperti suka menyerang, menarik
diri dari pergaulan dan berdiam diri, merusak dan mengganggu,
membolos sekolah, berbohong, menarik-narik rambut atau pakaian,
menggigit kuku, mengigau, memaksa, menggertakkan gigi,
23
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stres Siswa Dalam Menghadapi Ujian Nasional
Menurut Santrock (2003) faktor yang menyebabkan stres
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor lingkungan, kognitif dan
strategi penanganan stres/coping. Begitu juga faktor di atas dapat
mempengaruhi stres pada siswa yang menghadapi Ujian Nasional.
a. Faktor lingkungan
Apabila situasi saat siswa menghadapi Ujian Nasional dirasakan
begitu berat maka kemampuan siswa untuk bisa beradaptasi akan sulit.
Pada saat itulah terjadi burnout yaitu perasaan yang tidak berdaya dan
tidak memiliki harapan akibat tuntutan yang terlalu berat. Harapan
orang tua yang menginginkan anaknya bisa lulus, merupakan faktor
stres yang berasal dari lingkungan keluarga. Sedangkan dari
lingkungan sekolah adalah tuntutan untuk bisa lulus, terlalu
banyaknya pekerjaan rumah dan tugas-tugas yang diberikan, serta
ujian evaluatif dan tes lainnya. Ini semua dapat menyebabkan stres.
b. Faktor kognitif
Stres yang dialami siswa tergantung pada bagaimana mereka membuat
penilaian secara kognitif dan menginterpretasikan suatu kejadian.
Pengalaman stres adalah keseimbangan antara penilaian primer dan
skunder. Ketika bahaya dan ancaman dari Ujian Nasional tinggi,
sementara tantangan dan sumber daya yang dimiliki siswa untuk
24
bahaya dan ancaman dari Ujian Nasional rendah, dan tantangan serta
sumber daya yang dimiliki siswa untuk menghadapinya tinggi, maka
stres akan cenderung menjadi ringan atau sedang.
c. Strategi coping
Beberapa strategi menghadapi stres yang dapat digunakan
siswa dalam menghadapi Ujian Nasional adalah coping yang berfokus
pada masalah, strategi mendekat, berpikir positif, sistem dukungan,
dan menggunakan berbagai strategi coping.
Lazarus (dalam Santrock, 2003) menyatakan bahwa coping
yang berfokus pada masalah, merupakan strategi kognitif yang
digunakan individu untuk menghadapi masalah dan berusaha
menyelesaikannya. Siswa yang menggunakan strategi mendekat untuk
menghadapi stres adalah mereka yang berusia lebih tua, lebih aktif,
menilai stressor utama dari Ujian Nasional yang muncul sebagai
sesuatu yang dapat dikendalikan dan sebagai suatu tantangan.
Penggunaan lebih dari satu strategi untuk menangani stres yang
dialami siswa dalam menghadapi Ujian Nasional merupakan
kemampuan mengembangkan strategi yang efektif sehingga dapat
25
D. Dinamika Psikologis Tingkat Stres Siswa SMA Kelas XII Dalam Menghadapi Ujian Nasional
Salah satu sumber stres adalah adanya perubahan yang mengganggu
kontinuitas dan kestabilan hidup individu yang bersangkutan. Oleh karena itu,
perubahan yang muncul dapat menimbulkan stres apabila individu yang
bersangkutan tidak mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan
tersebut.
Menurut Slemon (dalam Baldwin, 2002) dalam menghadapi pelajaran
yang berat di sekolah dapat menimbulkan stres pada siswa, terutama bagi
siswa SMA, karena pada saat itu mereka mengalami tekanan untuk
mendapatkan nilai yang baik dan bisa masuk universitas favorit. Siswa SMA
yang akan menghadapi Ujian Nasional dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi
Negeri sering mengalami ketegangan dan kecemasan. Mereka takut tidak
lulus universitas negeri yang mereka inginkan.
Penyebab stres pada siswa SMA yang duduk di kelas XII adalah saat
menghadapi Ujian Nasional, dimana Ujian Nasional merupakan penentu
kelulusan siswa. Memberitahukan kepada siswa bahwa sebuah ujian adalah
untuk mengukur kemampuan bisa mengiring mereka menjadi gelisah karena
merisaukan hasil ujian mereka. Beberapa siswa kehilangan kepercayaan diri
dan konsentrasinya ketika menghadapi serangkaian soal-soal ujian yang
tampak sangat sulit bagi mereka (Wlodkowski & Jaynes, 2004). Pemerintah
akan meningkatkan kriteria standar kelulusan untuk meningkatkan mutu
26
akan diujian-nasionalkan. Untuk SMA akan menjadi 6 mata pelajaran,
sementara tahun sebelumnya hanya 3 mata pelajaran.
Kondisi ini membuat siswa SMA kelas XII merasa cemas, tegang,
takut tidak lulus, gemetar, konsentrasi hilang dan mules. Penambahan mata
pelajaran tersebut terkesan mendadak. Akibatnya tidak sedikit siswa yang
resah. Sementara itu, siswa SMA kelas XII juga mendapat tuntutan dari
orangtua, guru dan sekolah agar lulus. Kelelahan fisik dan psikis yang dialami
siswa dalam mempersiapkan Ujian Nasional juga mempengaruhi dalam
menghadapi ujian.
Kegelisahan menghadapi ujian didefenisikan sebagai perasaan tidak
menyenangkan atau keadaan emosional yang mempengaruhi sisi psikologis
serta perilaku dan hal tersebut dialami saat menghadapi ujian-ujian formal
atau situasi evaluatif lain (Wlodkowski & Jaynes, 2004). Menurut penelitian
Ray Hembree (dalam Wlodkowski & Jaynes, 2004) mengatakan bahwa siswa
yang terlalu gelisah dalam menghadapi ujian menempatkan diri mereka dalam
penghargaan yang lebih rendah dibandingkan siswa yang hanya memiliki
sedikit kegelisahan menghadapi ujiannya. Mereka kesulitan dalam
berkonsentrasi, menyelesaikan tugas-tugasnya, dan mengingat konsepnya.
Rasa cemas, resah, tegang menghadapi ujian dan ketakutan tidak
lulus yang dihadapi siswa memunculkan tindakan mencontek, pembelian
kunci jawaban, isak tangis, pingsan akibat tidak bisa mengerjakan soal ujian,
melakukan pendekatan diri kepada Tuhan dan permintaan doa restu kepada
27
Pada penelitian Aswandi (2008) kegagalan menghadapi ujian setelah
diteliti, ternyata tidak hanya disebabkan oleh ketidaksiapan siswa dalam
penguasaan materi pembelajaran yang diujikan, melainkan lebih disebabkan
oleh adanya stres, rasa takut gagal, dan takut tidak lulus. Rasa takut ini
mempengaruhi hasil penilaian [Roger Kaufman dan Susan Thomas (1980)
dalam Aswandi 2008].
Keadaan seperti itu dapat saja terjadi pada setiap siswa, terutama
bagi siswa yang tidak mempersiapkan diri melalui pembelajaran efektif,
mempersiapkan mental-psikologis, menjaga jasmani agar tetap sehat dan
kurang lengkapnya sarana prasarana sekolah untuk mendukung proses belajar
dan mengajar.
Stres mempengaruhi setiap orang bahkan anak-anak. Sarwono
(2005), mengatakan stres adalah kondisi kejiwaan ketika jiwa itu mendapat
beban. Stres ringan dapat merangsang dan memberikan gairah nyata dalam
kehidupan yang setiap harinya menjenuhkan. Menurut Santrock (2003),
faktor lingkungan yaitu gangguan sehari-hari dan beban yang terlalu berat
dapat menyebabkan subyek mengalami frustrasi dan konflik. Lingkungan
keluarga dapat menjadi sumber stres. Harapan orang tua yang berlebihan dan
tidak realistik membuat mereka merasa tertekan. Lingkungan sekolah berupa
harapan yang terlalu tinggi dari sekolah dan guru, terlalu banyaknya
pekerjaan rumah dan tugas-tugas, serta ujian dan tes dapat menyebabkan
28
Selain itu, faktor kognitif yaitu keseimbangan antara penilaian
primer dan penilaian skunder adalah faktor yang dapat menyebabkan stres.
Ketika bahaya dan ancaman tinggi, sementara tantangan dan sumber daya
yang dimiliki rendah, stres cenderung akan menjadi berat. Bila bahaya dan
ancaman rendah dan tantangan serta sumber daya yang dimiliki tinggi, maka
stres akan cenderung menjadi ringan atau sedang. Santrock (2003)
mengemukakan bahwa remaja dapat menggunakan lebih dari satu strategi
untuk menangani stres yang dialami. Kemampuan mengembangkan strategi
yang efektif akan membantu remaja dalam menangani stres.
Ketidakseimbangan antara tuntutan yang datang dari luar seperti
orang tua, guru, sekolah untuk bisa lulus, menghadapi penambahan mata
pelajaran yang diujiankan, tingginya standar kelulusan dengan kemampuan
berbeda-beda yang dimiliki siswa untuk mengatasi tuntutan tersebut,
membuat siswa stres. Jika ketidakseimbangan tersebut direaksi siswa dengan
ketegangan yang sangat tinggi baik itu rasa cemas, khawatir dan ketakutan
yang terlalu besar akan membuat siswa mengalami stres yang tinggi dan
kemungkinan besar akan membuat gagal menghadapi ujian karena stres
berpengaruh secara signifikan pada menurunnya hasil tes kognitif.
Sedangkan jika siswa bereaksi terhadap ketidakseimbangan tersebut
dengan rasa yakin dan percaya bahwa mereka mampu menghadapi ujian dan
menjawab soal dengan benar, maka ketegangan menghadapi ujian berkurang.
Rasa takut menghadapi Ujian Nasional berganti menjadi rasa penuh harapan
29
berbagai aktivitas persiapan menghadapi ujian dan melakukan kegiatan lain
yang disukai atau rutinitas sehari-hari dapat menenangkan siswa dari rasa
bosan karena siswa tidak dipaksa untuk terus berhadapan dengan materi Ujian
30
Menghadapi Ujian Nasional
Siswa SMA kelas XII
Reaksi siswa menghadapi stressor : -Takut tidak lulus, takut gagal dan
tidak dapat mengerjakan soal -Cemas, resah dan tegang -Pesimis, tidak percaya diri -Gugup, khawatir
-Harapan akan keberhasilan tinggi -Keyakinan akan lulus besar -Menanamkan rasa optimisme -Percaya diri
1. Faktor lingkungan yaitu gangguan sehari-hari dan beban yang terlalu berat. Lingkungan keluarga, harapan orang tua yang menginginkan anaknya bisa lulus. Lingkungan sekolah, tuntutan untuk bisa lulus, banyaknya pekerjaan rumah dan tugas-tugas yang diberikan, serta adanya ujian evaluatif dan tes lainnya
2. Faktor kognitif, keseimbangan antara penilaian primer dan penilaian skunder
3. Strategi coping Stressor Ujian Nasional :
-Kriteria standar kelulusan dinaikkan
-Penambahan mata pelajaran yang diujiankan menjadi 6 mata pelajaran
-Tuntutan dari orangtua, guru dan sekolah agar lulus
BAB III
METODE PENELITIAN
Pada bab III ini, penulis akan menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan
metode atau cara untuk menjawab atau menyelesaikan masalah penelitian dan
penulis juga akan menjelaskan tentang prosedur, alat penelitian yang digunakan
dan pertanggung jawaban mutu alat tes yang telah dibuat.
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan
kuantitatif. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengangkat fakta, keadaan,
variabel, dan fenomena-fenomena yang terjadi saat sekarang dan menyajikan
apa adanya.
Penelitian deskriptif menjelaskan dan menafsirkan data yang
berkenaan dengan situasi yang terjadi dan dialami sekarang, sikap dan
pandangan yang menggejala saat sekarang. Hubungan antar variabel,
pengaruh terhadap suatu kondisi, dan lain-lain (Subana, 2001).
B. Variabel Penelitian
Penelitian ini hanya menggunakan satu variabel saja. Variabel utama dalam
penelitian ini adalah tingkat stres.
32
C. Defenisi Operasional
Secara operasional tingkat stres didefenisikan sebagai tinggi rendahnya
respon individu terhadap keadaan yang memicu stres (stressor) sehingga
menyebabkan perubahan-perubahan emosi, kognitif, fisiologis dan perilaku.
Pada penelitian ini stres akan diukur berdasarkan skala tingkat stres. Skala
tersebut dibatasi dengan aspek-aspek stres, antara lain :
a. Gejala Emosional
Tinggi rendahnya respon individu terhadap keadaan yang memicu stres
(stressor) sehingga memunculkan reaksi berupa rasa takut dan kawatir,
mudah marah, kehilangan rasa ketertarikan terhadap hal-hal di
sekitarnya, ketidakmampuan untuk menikmati dirinya sendiri,
membenci sekolah, tidak bergairah, gugup, gelisah, merasa tidak aman,
pesimis dan was-was.
b. Gejala Kognitif
Tinggi rendahnya respon individu terhadap keadaan yang memicu stres
(stressor) sehingga memunculkan reaksi berupa ketidakmampuan
dalam berpikir, daya konsentrasi kurang, sering melamun, mudah lupa,
pikiran kacau, produktivitas atau prestasi belajar menurun, dan sering
melakukan kesalahan dalam bekerja.
c. Gejala Fisiologis
Tinggi rendahnya respon individu terhadap keadaan yang memicu stres
(stressor) sehingga memunculkan reaksi berupa keluhan-keluhan fisik
33
muntah, susah bernapas, jantung berdegup cepat, selera makan berubah
(kehilangan nafsu makan atau makan berlebihan), sering ke kamar
mandi, susah tidur, mimpi buruk, bangun terlalu awal, telapak tangan
keringat, dan mudah lelah.
d. Gejala Perilaku
Tinggi rendahnya respon individu terhadap keadaan yang memicu stres
(stressor) sehingga memunculkan reaksi dalam bentuk perilaku seperti
suka menyerang, menarik diri dari pergaulan dan berdiam diri,
merusak dan mengganggu, membolos sekolah, berbohong,
menarik-narik rambut atau pakaian, menggigit kuku, mengigau, memaksa,
menggertakkan gigi, mencari-cari kesalahan orang lain, dan tidak
percaya pada orang lain.
Skala ini menggunakan konsep stres yang mengarah pada besarnya
tuntutan. Skala tidak menggunakan konsep eustress distress.
Tingkat stres diukur dengan skor total skala tingkat stres yang
didasarkan pada reaksi yang muncul akibat stres. Semakin tinggi skor total
yang diperoleh individu pada skala tingkat stres yang disusun oleh peneliti,
semakin tinggi tingkat stres individu tersebut. Sebaliknya semakin rendah
skor total yang diperoleh individu pada skala tingkat stres, semakin rendah
34
D. Subyek Penelitian
Subyek penelitian diperoleh dengan menggunakan metode purposive
sampling, artinya kelompok subyek tersebut dipilih berdasarkan ciri-ciri atau
sifat-sifat khusus yang dipandang mempunyai sangkut paut erat dengan
ciri-ciri atau sifat-sifat subyek penelitian yang telah diketahui sebelumnya (Hadi,
2004). Adapun kriteria subyek yang dijadikan responden dalam penelitian ini
adalah Siswa SMA kelas XII semua jurusan. Alasannya karena siswa yang
menghadapi Ujian Nasional adalah semua siswa kelas XII tanpa membedakan
jurusan.
E. Metode dan Alat Pengumpulan Data
Metode pengambilan data dilakukan dengan cara menyebarkan skala
kepada responden secara langsung. Alat yang digunakan dalam penelitian ini
adalah skala tingkat stres. Skala tingkat stres disusun oleh peneliti sendiri.
Pembuatan item-item dalam skala tingkat stres ini mengacu pada indikator
stres yang meliputi aspek emosional, fisiologis, kognitif dan perilaku. Metode
yang digunakan dalam proses penskalaan pada penelitian ini adalah metode
rating yang dijumlahkan (method of summated ratings) atau terkenal dengan
nama penskalaan model Likert.
Metode ini merupakan pengukuran sikap yang mengusahakan respon
subyek sebagai dasar penentuan nilai skalanya. Mengikuti penyekalaan model
Likert, respon yang digunakan dalam skala ini terdiri dari empat kategori
35
jawaban : Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat
Tidak Sesuai (STS). Setiap jawaban dari subyek pada masing-masing sumber
pernyataan akan diberikan skor sesuai dengan yang telah ditetapkan.
Item-item skala tingkat stres ini akan dibuat dalam dua tipe
pernyataan, yaitu mendukung (favorable) dan tidak mendukung
(unfavorable). Item pernyataan mendukung adalah item-item yang bersifat
positif atau mendukung indikator-indikator dari variabel yang diukur,
sedangkan item dari pernyataan yang tidak mendukung adalah item-item yang
bersifat negatif atau tidak mendukung indikator-indikator dari variabel yang
diukur.
Tidak ada jawaban Netral (N) pada pilihan jawaban. Alasannya, jika
ada pilihan tengah maka responden cenderung untuk menjawab pilihan
tersebut sehingga peneliti tidak mendapatkan informasi yang diinginkan
(Hadi, 2000). Skor penilaian dijabarkan sebagai berikut :
Tabel 3.1 Skor Penilaian Skala Stres
Alternatif Jawaban Skor Favorabel
Skor Unfavorabel
Sangat Sesuai (SS) 4 1
Sesuai (S) 3 2
Tidak Sesuai (TS) 2 3
Sangat Tidak Sesuai (STS) 1 4
Sebaran nomer item dan jumlahnya dapat dilihat pada tabel 3.2
36
Tabel 3.2 Blue Print Skala Stres (sebelum uji coba)
Aspek
Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti menguji coba alat ukur
dengan tujuan agar skala yang digunakan benar-benar mewakili
variabel-variabel yang akan diukur. Skala diuji cobakan pada sekelompok responden
yang memiliki kriteria yang sama dengan responden yang digunakan dalam
penelitian yaitu siswa SMA kelas XII semua jurusan.
Skala uji coba dilaksanakan pada tanggal 5-11 Desember 2008 di kota
Yogyakarta dengan menyebarkan skala uji coba pada beberapa siswa SMA
kelas XII dari berbagai sekolah yang berbeda. Skala yang diujicobakan
meliputi 96 item yang terdiri dari 48 item favorable dan 48 item unfavorable.
Penyebaran item dilakukan secara bertahap karena siswa SMA kelas
37
sehingga tidak bisa diganggu sehingga skala disebar diluar jam belajar di
beberapa tempat SMA. Penyebaran skala dilakukan dengan cara pendekatan
personal, dimana peneliti langsung mendatangi subyek satu persatu.
Subyek uji coba alat ukur penelitian berjumlah 55 orang, yang terdiri
dari siswa SMA N 3, SMA N 9, SMA Stela Duce 1, SMA N 8, dan SMA N 6
yang semuanya berada di kota Yogyakarta. Pada skala uji coba ini, peneliti
menyebarkan skala stres sebanyak 60 eksemplar. Dari 60 eksemplar skala stres
tersebut yang dikembalikan dan memenuhi syarat untuk dianalisis hanya 55
eksemplar sedangkan 5 eksemplar lagi subyek tidak mengisi dengan lengkap
skala stres dan identitas diri.
G.Pertanggungjawaban Mutu
1. Validitas
Validitas alat ukur menunjukkan sejauh mana alat tes tersebut
dapat mengukur atribut yang ingin diukur (Suryabrata, 1998). Validitas
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu validitas isi. Validitas isi
mengukur sejauh mana seperangkat soal-soal pada alat tes tersebut
mencerminkan ciri atribut yang hendak diukur. Jadi, alat tes tersebut harus
komprehensif isinya dengan memuat isi yang relevan dan tidak keluar dari
batasan tujuan ukur (Azwar, 2005).
Cara menentukan validitas isi tersebut melalui pendapat profesional
38
analisis rasional. Pendapat profesional pada penelitian ini ialah dosen
pembimbing skripsi. Validitas isi ini terbagi dalam dua tipe yaitu :
a. Validitas tampang
Validitas tampang berdasarkan penilaian terhadap format
penampilan tes. Penampilan tes harus meyakinkan dan memberikan
kesan mampu mengungkap apa yang hendak diukur. Penampilan yang
meyakinkan tersebut akan memancing motivasi individu yang akan
dites untuk mengerjakan tes dengan sungguh-sungguh (Azwar, 2005).
Skala yang dibuat peneliti cukup sederhana. Skala dibuat dalam
bentuk buku dan dikemas secara rapi serta pengetikan yang jelas. Hal
tersebut bertujuan agar individu yang diteliti mempunyai motivasi
untuk mengerjakan skala dengan sungguh-sungguh sehingga
menghasilkan data yang valid.
b. Validitas logis
Validitas logis mengukur sejauh mana isi tes merepresentasikan
ciri-ciri atribut yang hendak diukur. Skala dirancang sedemikian rupa
agar tes hanya berisi item-item yang relevan saja. Cara yang digunakan
untuk mencapai hal tersebut adalah menggunakan blue-print yang
memuat cakupan isi yang hendak diungkap (Azwar, 2005).
Peneliti dalam membuat alat ukur sebelumnya telah membuat
blue-print. Blue-print dibuat dalam bentuk tabel yang berisi uraian
aspek-aspek atribut yang harus dibuat aitemnya serta proporsi item
39
gambaran mengenai isi skala serta acuan bagi peneliti untuk tetap
berada dalam batasan yang hendak diukur (Azwar, 2005).
2. Seleksi Item
Seleksi item pertama diambil dari data hasil uji coba item pada
subyek yang memiliki karakteristik setara dengan subyek yang akan
diteliti. Item-item tersebut dievaluasi dengan analisis butir menggunakan
parameter daya beda item atau daya diskriminasi item yang berupa
koefisien korelasi item total yang memperlihatkan adanya kesesuaian
antara fungsi item dengan fungsi skala dalam mengungkap perbedaan
individual.
Teknik yang dipakai dalam menyeleksi item dalam penelitian ini
adalah penggunaan koefisien korelasi dengan mengkorelasikan skor item
dengan skor item total. Pengkorelasian antara skor item dengan skor item
total akan menghasilkan koefisien korelasi item total (rix). Koefisien
korelasi yang baik adalah ≥ 0.30, jadi item yang memiliki koefisien
korelasi kurang dari 0.30 dinyatakan gugur (Azwar, 2008). Untuk seleksi
item dilakukan dengan komputer menggunakan program SPSS for
windows 16.
Semakin tinggi koefisien korelasi positif antara skor item dengan
skor skala berarti semakin tinggi konsistensi item tersebut dengan skala
secara keseluruhan. Artinya, semakin tinggi daya bedanya. Begitu juga
40
Skala stres yang diuji cobakan berjumlah 96 item yang terdiri dari
48 item favorable dan 48 item unfavorable. Skala stres diujicobakan pada
55 subyek. Setelah memperoleh data-data, dilakukan pengolahan data
dengan menggunakan program SPSS for windows 16. Dari pengolahan
data tersebut diperoleh skor korelasi item berkisar antara -0.018 sampai
0.783.
Berikut ini disajikan tabel perhitungan korelasi item total pada
skala stres.
Tabel 3.3 Hasil Korelasi Item Total Skala Stres
Rix Item Total
≥ 0.300 1, 2, 3, 4, 5, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 17, 19, 20, 21, 23, 24, 28, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 48, 49, 51, 52, 54, 55, 56, 57, 59, 60, 63, 65, 66, 67, 68, 69, 71, 72, 73, 74, 76, 77, 78, 79, 80, 81, 83, 84, 85, 86, 87, 88, 89, 90, 91, 93, 94, 95, 96
75
≤0.300 6, 7, 9, 16, 22, 25, 26, 27, 29, 38, 50, 58, 62, 64, 70, 75, 82 17
Negatif 18, 53, 61, 92 4
Total 96
Dari hasil perhitungan korelasi item total, maka diperoleh 75 item
skala stres yang sahih untuk penelitian dan 21 item yang gugur. Berikut ini
41
Tabel 3.4 Item yang Sahih dan Gugur Pada Skala Stres
No Aspek
No.Item Sahih No.Item Gugur Jumlah Item
Dari 75 item yang lolos, peneliti melakukan penyetaraan jumlah
item. Item yang diikutkan sebagai bagian skala dalam bentuk final untuk
penelitian adalah 68 item dengan reliabilitas yang diperoleh lebih tinggi.
Item yang sengaja digugurkan tersebut dipilih berdasarkan nilai korelasi
item total (rit) yang paling rendah per aspeknya. Penyetaraan jumlah item
ini dilakukan agar jumlah item pada tiap aspek menjadi seimbang dan
proporsional. Asumsinya ialah masing-masing aspek menyumbangkan
nilai yang sama untuk mengukur stres sehingga jumlah itemnya harus
42
terlalu banyak, yang memungkinkan subyek mengeluh atau merasa bosan
saat mengisi kuisioner.
Menyetarakan jumlah item dilihat dari aspek yang mempunyai
jumlah item terkecil. Aspek yang memiliki jumlah item terkecil yaitu 17
berarti semua aspek hanya diambil 17 item saja. Jadi jumlah item yang
digunakan dalam penelitian ini sejumlah yaitu 17x4 = 68.
Peneliti kemudian mengolah lagi 68 item yang akan dipakai dalam
penelitian untuk melihat apakah koefisien korelasi telah diatas 0.30. Hasil
menunjukkan bahwa tidak ada lagi item yang memiliki koefisien korelasi
dibawah 0.30. Artinya, 68 item ini yang akan dipakai pada skala
penelitian. Dari pengolahan data tersebut diperoleh skor korelasi item
berkisar antara 0.330 – 0.769. Distribusi item skala stres setelah uji coba
43
Tabel 3.5 Distribusi Item Skala Stres Kerja Untuk Skala Penelitian
No. Aspek No.Item Valid Jumlah
Keterangan : () no item pada skala uji coba
3. Reliabilitas
Reliabilitas pada alat ukur menunjukkan sejauh mana alat ukur
tersebut dapat dipercaya atau konsisten. Reliabilitas tersebut diperoleh
melalui konsistensi skor subyek yang diukur dengan cara yang sama atau
di ukur dengan alat setara pada kondisi yang berbeda (Suryabrata, 1998).
Reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas yang angkanya