• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat stres siswa SMA Kelas XII di Yogyakarta dalam menghadapi ujian nasional - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Tingkat stres siswa SMA Kelas XII di Yogyakarta dalam menghadapi ujian nasional - USD Repository"

Copied!
171
0
0

Teks penuh

(1)

TINGKAT STRES SISWA SMA KELAS XII

DI YOGYAKARTA

DALAM MENGHADAPI UJIAN NASIONAL

Skripsi

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat Memperoleh gelar sarjana psikologi

Program studi psikologi

Oleh

Veronika Dwiasih Wulandari NIM : 049114006

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

(2)

TINGKAT STRES SISWA SMA KELAS XII

DI YOGYAKARTA

DALAM MENGHADAPI UJIAN NASIONAL

Skripsi

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat Memperoleh gelar sarjana psikologi

Program studi psikologi

Oleh

Veronika Dwiasih Wulandari NIM : 049114006

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

2009

(3)
(4)
(5)

Apapun yang kita lakukan, tanpa izin Tuhan, tidak ada artinya...

Tuhan selalu berada di dalam hati, di dekat orang-orang yang percaya dan

yakin pada-Nya... Maka akan ada ujian selalu..

They said,

Even in the storm,

we’ll find some lights.

So, here I am trying to find

my own light in my stormy days

Keinginan dan kepasrahan hati

akan terkabul doa di tangan-Nya,

Percaya Dia mendengar dan akan diberikan

oleh-Nya

jika waktunya sudah tepat,

Kesabaran, akan memberikan hasil yang terbaik

bahkan hasil yang tak pernah terpikirkan

sebelumnya,

membuat semuanya menjadi indah,

karena

Dia akan memberikan sesuatu kepada manusia

sesuai dengan kadar usaha dan

kerja keras manusia tersebut.

(6)

Karya sederhana ini, aku persembahkan untuk orang-orang

yang sangat berarti buatku dalam melewati hari demi hari

perjalanan hidupku

Tuhan Yang Esa, penuntun jalan hidupku

Papa dan Mama tercinta

Adik-adikku terkasih Sabeth, Niko, dan Agus

Kakakku tersayang yang jauh di sana

Semua orang yang telah mengajariku tentang arti kehidupan

(7)
(8)

ABSTRAK

Veronika Dwiasih Wulandari (2009). Tingkat Stres Siswa SMA Kelas XII Di Yogyakarta Dalam Menghadapi Ujian Nasional: Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang tingkat stres siswa SMA kelas XII di Yogyakarta dalam menghadapi ujian nasional.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Subyek penelitian adalah 91 siswa SMA kelas XII semua jurusan. Sampel diperoleh dengan teknik purposive sampling.

Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan skala tingkat stres secara langsung kepada reponden. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian adalah skala tingkat stres yang disusun oleh peneliti sendiri. Daya diskriminasi dalam penelitian ini menggunakan batasan nilai rix > 0,30. Pada skala

tingkat stres terdapat 28 item yang gugur dan 68 item yang sahih. Koefisien reliabilitas skala tingkat stres sebesar 0,911. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik statistik deskriptif persentase.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa SMA kelas XII mengalami stres pada kategori sedang dan rendah: 58 subyek (63,74%) berada pada tingkat stres sedang dan 33 subyek (36,26%) berada pada tingkat stres rendah.

Kata kunci : Tingkat stres, Ujian Nasional

(9)

ABSTRACT

Veronika Dwiasih Wulandari (2009). Stress Level of 12th-Grade of Senior High Schools Students in Yogyakarta in Facing National Final Examination: Psychology Study Program, Faculty of Psychology, Sanata Dharma University, Yogyakarta.

This study aimed describe the stress levels of 12th-grade students of senior high schools in Yogyakarta in facing national final examination.

This research is a quantitative descriptive research. The research subjects were 91 students from all branches of study. Research samples were obtained by the means of purposive sampling.

In data gathering, the researcher distributed a set of stress scale directly to the respondents. This research measuring instrument was a set of self-made scale of stress levels. The discrimination control in this research used a value limit of rix > 0.30. Twenty-eight items from the original stress levels scale were

eliminated, and the remaining 68 items were claimed as valid. Reliability coefficient of the stress levels scale was 0.911. This research employed the percentage descriptive statistical technique in its data analysis.

The research results show that the 12th-grade students of senior high schools experienced stress at the medium and low levels: 58 subjects (63.74%) were at the medium stress level and 33 others (36.26%) at the low stress level.

Key words : Stress level, National Final Examination

(10)
(11)

KATA PENGANTAR

Puji Tuhan akhirnya selesai juga karya ilmiah ini. Rasa syukur yang tak

henti-hentinya penulis ungkapkan karena berkat dan bimbingan-Nya sehingga

karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Pada proses penyelesaian karya ilmiah ini,

banyak pihak yang memberikan bantuan, doa, semangat, dan motivasi tiada

hentinya kepada penulis. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, penulis ingin

mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada :

1. Tuhan Yang Esa atas berkat dan karunia-Nya, tumpuan hidupku saat aku

dalam badai hidup, menangis, dan tertawa. Usaha, kesabaran, dan

kepasrahan ternyata membuat semuanya jadi indah.

2. Bapak P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Ibu ML. Anantasari, S.Psi., M.Si. selaku dosen pembimbing. Terima kasih

atas kesabaran ibu menghadapi saya selama bimbingan. Terima kasih juga

atas saran dan masukan yang telah ibu berikan selama ini sehingga karya

ilmiah ini dapat diselesaikan dengan lancar.

4. Rm. Dr. A. Priyono Marwan, SJ. Selaku dosen penguji. Terima kasih atas

segala saran, masukan dan perbaikan yang telah diberikan untuk karya

ilmiah ini.

5. Ibu MM. Nimas Eki Suprawati, S.Psi., Psi., M.Si. selaku dosen penguji.

Terima kasih atas segala saran, masukan dan perbaikan yang telah diberikan

kepada penulis.

6. Ibu Dra. Lusia Pratidarmanastiti, S.Psi., M.Si. selaku dosen pembimbing

akademik. Terima kasih atas bimbingan dan semangat yang diberikan.

(12)

7. Seluruh dosen Fakultas Psikologi. Terima kasih karena telah memberikan

ilmu, wawasan, dan pengetahuan selama penulis kuliah.

8. Pak Giyanto, Mas Gandung, Mbak Nanik, Mas Muji, Mas Doni. Terima

kasih atas semua bantuannya di sekretariat psikologi, laboratorium, dan

ruang baca selama penulis kuliah.

9. Teman-teman SMA kelas XII. Terima kasih atas waktu luang dan

kesediaannya untuk mengisi kuisioner dengan iklas hati. Tanpa bantuan dan

kesediaan teman-teman karya ilmiah ini tidak akan selesai.

10. Papa Mama. Terima kasih buat dukungan, perhatian, doa dan kesabaran

selama penulis mengerjakan skripsi dan dalam situasi apapun. Terima kasih

atas rasa sayang dan kebaikan hati, memberikan kesempatan kepada penulis

menjadi lebih dewasa dengan pengalaman-pengalaman dan kepercayaan

yang papa mama berikan.

11. Adik-adikku Sabeth, Niko, dan Agus. Terima kasih atas semangat dan

bantuan yang telah diberikan untuk menyelesaikan karya ilmiah ini.

12. Sr. Aufrida, CB, Rini, Rury & Bakti, Ranti PBSID & Japiz, Heri PBI &

adiknya. Terima kasih banyak atas kesediannya telah meluangkan waktu dan

tenaga untuk membantu menyebarkan kuisioner penelitian sehingga

penelitian ini bisa berjalan dengan lancar. Maaf sudah merepotkan.

13. Mas Dodon (Yusufku) terima kasih banyak atas kesediaannya mau

meluangkan waktu untuk membantu penulis, atas kemurahan hati

meminjamkan printer untuk ngeprint karya ilmiah ini, dan membantu

menerjemahkan abstrak. Kak Pedy, terima kasih sudah memperbolehkan

penulis untuk ngeprint di kost.

(13)

14. Kakak ndut (Ijonk/Ance/Bang ndut). Terima kasih atas kesediaanya mau

membantu mencarikan orang untuk menyebarkan kuisioner dan meluangkan

waktu untuk mengantar penulis mengambil kuisioner meskipun hujan deras,

sampai motornya mogok di jalan. Terima kasih banyak kak..

15. Kakakku tersayang yang jauh di sana. Terima kasih atas segala rasa yang

boleh adek rasakan selama ini, rasa nyaman, sayang, doa, perhatian,

pengertian yang telah kakak berikan buat adek dari jauh. Adek akan selalu

dukung kakak karena adek ingin kakak bisa mendapatkan yang terbaik dan

ingin kakak bahagia. Kakak tetap jadi kakak yang terbaik buat adek.

16. Fr. Oslan yang tidak pernah bosan bertanya, “gimana skripsinya? Kapan

lulus? Koq lama banget.. mau jadi mahasiswi abadi ya?” Terima kasih ter,

buat semangat dan ejekan-ejekannya, walaupun sebel tapi bisa menambah

semangat penulis untuk cepat selesai. Terima kasih atas kepercayaan yang

telah frater berikan kepada penulis, mau berbagi cerita, pengalaman dan

menunjukkan sikap yang dewasa. Terima kasih sobat...

17. Mas Didit Gandroeng, Arma, Fr. Martin, Fr. Tomi, Fr. Beni, Pak Pane.

Terima kasih buat bantuan, semangat, masukan dan perhatian yang telah

diberikan selama penulis menyelesaikan karya ilmiah ini. Semuanya sangat

berarti. Teman-teman Cana Community (komunitas Kapel Mrican). Terima

kasih atas pengalaman, kebersamaan, dan rasa indah yang membuat penulis

banyak belajar sehingga dapat mengubah diriku menjadi lebih baik.

18. Aa dan Yetti. Terima kasih sudah mau menjadi sahabat, teman dan saudara

yang selalu ada buat penulis dalam situasi apapun. Memberi masukan,

semangat, membantu penulis untuk menjadi lebih baik, dewasa, tegar, sabar,

(14)

kuat dan membuat penulis percaya bahwa semuanya ada waktunya.

Akhirnya banyak yang penulis mengerti. Dedek Nabil, Cepat besar ya..

19. Tinul & Chizka. Terima kasih sobat atas kebersamaannya selama kuliah,

mau mendengar keluh kesah penulis, mengerti dan memberikan masukan

buat penulis. Skripsinya di kerjakan donk... jangan malas..

20. Iwan Nababan. Perjalanan dan cerita kita memang panjang tapi tidak bisa

sepanjang usia kita untuk bersama. Terima kasih atas rasa sayang dan cinta

yang telah kamu berikan selama ini, membuatku menjadi orang yang tegar,

kuat, sabar, dan mengerti kalau hidup itu penuh dengan rintangan.

Perjalanan 5 tahun lebih ini tidak mudah tapi semuanya harus dikorbankan

untuk menjadi lebih baik. Terima kasih sampai sekarang tetap memberikan

perhatian dalam menyelesaikan skripsiku. Jadilah lebih baik.

21. Teman-teman psikologi 2004. Sasa, Mita, Ndaru, Nice, Mita Pandu dan

teman yang lain. Terima kasih sudah mau memberikan masukan tentang

skripsiku. Teman-teman selama kuliah, terima kasih buat dukungan dan

kebersamaannya.

22. Semua pihak yang belum disebutkan satu persatu. Penulis mengucapkan

terima kasih atas semua dukungan dan bantuannya.

Penulis menyadari bahwa hasil karya ini jauh dari sempurna. Oleh karena

itu, dengan penuh kerendahan hati penulis menerima semua saran dan kritikan

dari semua pihak. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja.

Yogyakarta, Maret 2009 Penulis

(15)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiv

DAFTAR TABEL ... xvii

DAFTAR GAMBAR ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang ... 1

B.Rumusan Masalah ... 6

C.Tujuan Penelitian ... 6

D.Manfaat Penelitian ... 6

1. Manfaat Teoretis ... 6

2. Manfaat Praktis ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

A.Stres ... 8

1. Pengertian Stres ... 8

2. Bentuk-bentuk Stres ... 11

3. Stres dan Kinerja ... 12

B.Ujian Nasional ... 14

(16)

2. Alasan Pelaksanaan Ujian Nasional ... 14

3. Mata Pelajaran dan Standar Kompetensi Lulusan Ujian Nasional Tahun 2008 ... 15

4. Sisi Positif dan Negatif Ujian Nasional ... 16

C.Stres Siswa SMA Kelas XII Dalam Menghadapi Ujian Nasional ... 20

1. Pengertian Stres Menghadapi Ujian Nasional dan Pengertian Siswa SMA Kelas XII ... 20

2. Ujian Nasional Sebagai Stressor ... 20

3. Aspek-aspek Stres Ujian Nasional ... 21

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stres Siswa Dalam Menghadapi Ujian Nasional ... 23

D.Dinamika Psikologis Tingkat Stres Siswa SMA Kelas XII Dalam Menghadapi Ujian Nasional ... 25

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 31

A.Jenis Penelitian ... 31

B.Variabel Penelitian ... 31

C.Definisi Operasional ... 32

D.Subyek Penelitian ... 34

E. Metode dan Alat Pengumpulan Data ... 34

F. Uji Coba Alat Ukur ... 36

G.Pertanggungjawaban Mutu ... 37

1. Validitas ... 37

2. Seleksi Item ... 39

3. Reliabilitas ... 43

H.Metode Analisis Data ... 44

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 47

A.Pelaksanaan Penelitian ... 47

B.Hasil Penelitian ... 48

1. Deskripsi Data subyek Penelitian ... 48

2. Uji Normalitas ... 50

(17)

3. Deskripsi Data Penelitian ... 51

4. Kategorisasi Tingkat Stres Siswa SMA Kelas XII ... 52

C.Pembahasan ... 53

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 59

A.Kesimpulan ... 59

B.Saran ... 59

DAFTAR PUSTAKA ... 62

(18)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 : Skor Penilaian Skala Stres ... 35

Tabel 3.2 : Blue Print Skala Stres (sebelum uji coba) ... 36

Tabel 3.3 : Hasil Korelasi Item Total Skala Stres ... 40

Tabel 3.4 : Item yang Sahih dan Gugur pada Skala Stres ... 41

Tabel 3.5 : Distribusi Item Skala Stres Untuk Penelitian ... 43

Tabel 3.6 : Kategori skala stres ... 46

Tabel 4.1 : Identitas Subyek penelitian ... 49

Tabel 4.2 : Deskriptif statistik ... 51

Tabel 4.3 : Kategorisasi Tingkat Stres Siswa SMA Kelas XII ... 52

(19)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Stres dan Kinerja ... 13 Gambar 2. Skema Tingkat Stres Siswa SMA Kelas XII Dalam Menghadapi

Ujian Nasional ... 30

(20)

xix

DAFTAR LAMPIRAN

Skala Uji Coba ... 65

Data Uji Coba Penelitian ... 77

Reliabilitas uji coba ... 93

Data Item Sahih ... 100

Reliabilitas Alpha Item Sahih ... 112

Uji Normalitas Data Hasil Penelitian ... 118

Statistic Descriptive ... 119

Skala Penelitian ... 120

(21)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Stres muncul dari berbagai sumber yang tidak terhitung dan di setiap

saat dalam kehidupan manusia. Stres adalah bagian yang tidak terhindarkan

dari keberadaan kita. Tekanan sehari-hari meskipun kecil jika

bertumpuk-tumpuk dapat pula mengakibatkan stres. Stres adalah bagian penting dan

perlu dari kehidupan kita, sebagai akibat yang tidak terhindarkan dari

interaksi antara kita dan lingkungan.

Kita membutuhkan stres untuk mampu beradaptasi dengan

perubahan-perubahan yang berkesinambungan dalam lingkungan kita dan

untuk berdiri tegak dalam rangka bertahan hidup (Looker & Gregson, 2004).

Stres dapat terjadi dimana dan kapan saja. Stres dapat menyerang siapa saja

dan bukan selalu terjadi pada orang dewasa tapi juga anak sekolah yang justru

banyak berhadapan dengan tuntutan-tuntutan lingkungan.

Beberapa peristiwa selama hidup kita hampir selalu penuh dengan stres.

Semua ini diacu sebagai peristiwa-peristiwa kehidupan, sebagian besar tidak

terhindarkan dan kita harus beradaptasi atau menyesuaikan hidup untuk

mengatasinya. Peristiwa-peristiwa kehidupan tersebut harus dihadapi,

misalnya sakit, kehilangan seseorang, ketidakharmonisan perkawinan,

masalah anak, kesulitan keuangan, pindah rumah dan salah satunya adalah

Ujian Nasional yang dapat menjadi stressor bagi siswa yang tengah berada

(22)

2

pada tahap akhir jenjang pendidikan. Siswa yang dimaksud dalam hal ini

adalah siswa SMA.

Sekolah Menengah Atas ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari

kelas X sampai kelas XII. Pada akhir tahun ketiga yakni kelas XII, siswa

diwajibkan untuk mengikuti Ujian Nasional yang akan mempengaruhi

kelulusan. Awal dan akhir sekolah, masing-masing merupakan sesuatu yang

terukur sebagai stres dalam kehidupan manusia (Sarafino dalam Smet, 1994).

Cranwell-Ward (dalam Iswinarti & Rahyu Siti, 1999) mengatakan

stres adalah reaksi fisiologis dan psikologis yang terjadi jika seseorang

merasakan ketidakseimbangan antara tuntutan yang dihadapi dengan

kemampuannya untuk mengatasi tuntutan tersebut.

Kehidupan yang penuh stres pada saat ini terjadi ketika adanya nilai

standar Ujian Nasional yang telah dimulai sejak tahun 2002/2003 terus

menglami peningkatan. Cemas, panik dan stres dialami ribuan siswa SMA di

Yogyakarta menjelang pelaksanaan Ujian Nasional. Kecemasan ini

disebabkan karena adanya peningkatan standar minimal kelulusan dan jumlah

mata pelajaran yang diujikan juga bertambah. Penambahan mata pelajaran

dari tiga menjadi enam mata pelajaran terkesan mendadak sehingga

memberatkan siswa terutama dari sisi psikologis. Akibatnya tidak sedikit

siswa yang resah dan stres menghadapi ujian (Jawa Pos, 19 April 2008).

Perasaan stres atau tegang yang dialami oleh siswa ketika akan

menghadapi ujian merupakan respon yang berupa perasaan tidak nyaman atau

(23)

3

Siswa yang mengalami ketegangan saat akan menghadapi Ujian Nasional

disebabkan karena takut tidak lulus, takut soalnya susah, takut tidak bisa

masuk keperguruan tinggi favorit dan takut tidak mendapatkan hasil yang

tidak memuaskan walaupun lulus ujian (Jalaludin, 2008). Stres yang dihadapi

diperparah dengan adanya tekanan dari orang tua serta guru, yang secara

langsung maupun tidak langsung memaksa siswa harus lulus (Pamadhi,

2005).

Fakta di lapangan sampai saat ini menunjukkan bahwa banyaknya

siswa kelas XII dituntut belajar untuk memenuhi standar kelulusan, ikut les

tambahan untuk mata pelajaran yang diujian nasionalkan, waktu akhir pekan

yang digunakan untuk bersantai, dipakai untuk les yang diadakan sekolah dan

harus mengikuti latihan mengerjakan soal-soal ujian (Kompas, 31 Januari

2007).

Hasil penelitian terkait tentang kondisi stres dan kinerja secara

kognitif oleh pakar dan direktur pusat Kecerdasan Pembelajaran Terapan,

Seatle University John J. Medina (2008), ditemukan bahwa manusia dalam

kondisi stres berpengaruh secara signifikan pada menurunnya hasil tes

kognitif, bahkan sampai 50 % (Djuwari, 2008).

Kegagalan menghadapi ujian setelah diteliti, ternyata tidak hanya

disebabkan oleh ketidaksiapan siswa dalam penguasaan materi pembelajaran

yang diujikan sebagaimana terdapat pada kurikulum yang telah ditetapkan,

melainkan lebih disebabkan oleh adanya stres dan rasa takut menghadapi

(24)

4

Berbagai upayadilakukan oleh pihak sekolah untuk mempersiapkan

anak didiknya agar berhasil dalam Ujian Nasional. Hampir seluruh sekolah

menggelar pendalaman materi Ujian Nasional dengan latihan soal dan

mengundang lembaga bimbingan belajar untuk membimbing anak didik

mereka. Salah satunya adalah SMA N 11 Yogyakarta. Pendalaman materi

sudah dilakukan sejak 6 bulan terakhir dan dilakukan di luar jam sekolah.

Selain pendalaman materi, juga memberikan bimbingan mental dan

psikologis dengan mendatangkan pihak luar seperti Ustad, Suster dan Pendeta

untuk memberikan dorongan secara spiritual dan semangat untuk menghadapi

Ujian Nasional (Jawa pos, 19 April 2008). Hal yang sama dilakukan SMAN 3

Yogyakarta dan SMA Stella Duce II Yogyakarta. Sekolah melakukan

persiapan secara optimal untuk menghadapi Ujian Nasional seperti latihan

soal, persiapan fisik dan mental, doa bersama yang dilakukan di sekolah

(Kompas, 10 Mei 2007).

Yogyakarta sebagai kota pendidikan mengalami penurunan tingkat

kelulusan Ujian Nasional SMA di tahun 2007/2008 dibandingkan Ujian

Nasional tahun sebelumnya. Siswa SMA tahun 2006/2007 yang lulus

mencapai 94,43%, sedang tahun 2007/2008 turun menjadi 93,81%. Jika

dilihat dari posisi daerah kelulusan, persentase tertinggi SMA secara

berturut-turut diawali dari Bantul, Sleman, Kulonprogo, Yogyakarta, dan

Gunungkidul. Daerah kabupaten atau kota yang cukup signifikan mencapai

(25)

5

secara cukup berarti dari 94% di tahun 2006/2007 menjadi 97,05% di tahun

2007/2008 (Wahab, 2008).

Penurunan persentase kelulusan tidak dapat dilepaskan dari banyak

faktor, di antaranya adalah tambahan mata ujian dari 3 menjadi 6 mata ujian

untuk SMA, peningkatan passing grade, dan pelaksanaan dua mata ujian

dalam sehari (Wahab, 2008).Oleh karena itu, untuk memberikan pemahaman

yang sesuai tentang tingkat stres siswa SMA kelas XII, melihat penyebab

penurunan persentase kelulusan di atas maka penelitian tentang stres pada

siswa SMA kelas XII menjadi penting dilakukan.

Yogyakarta dipilih peneliti sebagai tempat penelitian karena hasil

Ujian Nasional pada tahun 2006 menunjukkan bahwa SMA di Yogyakarta

tidak masuk 10 besar secara nasional tapi sekolah yang ada di kabupaten yang

memegang peringkat 10 besar tersebut (Kompas, 26 Mei 2007). Tahun 2008

sekolah SMA di Yogyakarta kembali mengalami tingkat penurunan kelulusan

jika dibandingkan dengan SMA yang ada di kabupaten (Wahab, 2008).

Melihat fakta yang terjadi pada sekolah SMA di Yogyakarta di atas,

menyebabkan peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang stres yang

dihadapi oleh siswa SMA yang ada di Yogyakarta. Oleh karena itu peneliti

mengambil judul “Tingkat Stres Siswa SMA Kelas XII di Yogyakarta Dalam

(26)

6

B. Rumusan Masalah

Bagaimanakah gambaran tingkat stres siswa SMA kelas XII di Yogyakarta

dalam menghadapi ujian nasional?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang tingkat stres

siswa SMA kelas XII di Yogyakarta dalam menghadapi ujian nasional.

D. Manfaat Penelitian

1. Secara teoretik, penelitian ini dapat memberikan sumbangan ilmiah dalam

bidang psikologi khususnya psikologi pendidikan. Dengan adanya

penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan gambaran

tentang tingkat stres siswa khususnya siswa SMA kelas XII saat

menghadapi sistem pendidikan yang diberlakukan di Indonesia.

2. Secara praktis

a. Bagi peneliti yang berminat dengan topik seperti ini, dapat dijadikan

referensi untuk penelitian yang serupa dan dapat dijadikan referensi

dalam hal pembuatan alat tes.

b. Bagi orangtua, dengan adanya penelitian ini maka dapat digunakan

sebagai referensi dan dapat memberikan gambaran tentang stres yang

dihadapi anak khususnya untuk orangtua yang memiliki anak SMA

kelas XII, sehingga dapat mendampingi anak dalam belajar dengan

(27)

7

c. Bagi para guru serta pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan.

Dengan melihat hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan

informasi dan memberikan gambaran kepada para guru atau pendidik

tentang stres yang dihadapi siswa-siswi akibat tekanan-tekanan dari

sekolah dan sistem-sistem pendidikan yang diberlakukan sehingga

(28)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Stres merupakan bagian dari kehidupan. Stres dapat mengenai semua

orang dan semua usia. Stres bukan selalu terjadi pada orang dewasa tetapi anak

sekolah juga (termasuk SMA) bisa membuat mereka stres bila ada keadaan yang

terus menekannya. Begitu juga saat siswa SMA tersebut (khususnya kelas XII)

harus menghadapi Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan. Oleh karena itu, di

bab II ini, penulis ingin menjelaskan tentang stres, Ujian Nasional, stres siswa

SMA kelas XII itu sendiri dalam menghadapi Ujian Nasional dimana Ujian

Nasional dapat memberikan stressor kepada siswa, dan dinamika psikologis stres

siswa kelas XII dalam menghadapi Ujian Nasional.

A. Stres

1. Pengertian Stres

Looker & Gregson (2004) mendefinisikan stres sebagai sebuah

keadaan yang dialami individu ketika terjadi sebuah ketidaksesuaian

antara tuntutan-tuntutan yang diterima dan kemampuan untuk

mengatasinya.

Menurut Cranwell-Ward (dalam Iswinarti & Rahyu Siti, 1999) stres adalah

reaksi fisiologis dan psikologis yang terjadi jika seseorang merasakan

ketidakseimbangan antara tuntutan yang dihadapi dengan

kemampuannya untuk mengatasi tuntutan tersebut. Sedangkan Santrock

(29)

9

(2003) mendefenisikan stres sebagai respon individu terhadap keadaan

atau kejadian yang memicu stres (stressor), yang mengancam dan

mengganggu kemampuan sesorang untuk menanganinya (coping).

Atkinson (2000) mengemukakan bahwa stres mengacu pada

peristiwa yang dirasakan membahayakan kesejahteraan fisik dan

psikologis seseorang. Situasi ini disebut sebagai penyebab stres dan reaksi

individu terhadap situasi stres ini disebut sebagai respon stres. Stres adalah

keadaan tertekan baik secara fisik maupun psikologis (Chaplin, 2001).

Sarafino (dalam Smet, 1994) mengkonseptualisasikan stres ke

dalam tiga pendekatan yaitu :

a. Stres sebagai stimulus.

Pendekatan ini memiliki fokus pada lingkungan. Sumber stres hadir

dalam bentuk keadaan yang mengancam dan membahayakan sehingga

menimbulkan ketegangan. Sumber stres ini disebut stressor.

b. Stres sebagai respon.

Fokus dari pendekatan ini adalah reaksi seseorang terhadap stressor.

Reaksi ini muncul dalam dua bentuk yaitu psikologis dan fisiologis.

Bentuk psikologis meliputi tingkah laku, pola pikir, dan emosi, seperti

saat tegang. Bentuk fisiologis mencakup gerakan tubuh yang

meningkat detak jantung, mulut terasa kering, perut terasa tegang dan

berkeringat. Respon psikologis dan fisiologis seseorang terhadap

(30)

10

c. Stres sebagai proses.

Proses yang dimaksud meliputi stressor dan starin, ditambah dimensi

yang penting yaitu hubungan antara individu dengan lingkungan.

Termasuk dalam proses ini adalah interaksi dan penyesuaian diri yang

berlangsung secara berkesinambungan dinamakan transaksi antara

individu dan lingkungan, yang satu mempengaruhi dan dipengaruhi

oleh yang lain. Stres tidak hanya sebuah stimulus dan sebuah respon

tetapi lebih dari sebuah proses yaitu individu sebagai perantara yang

aktif dapat mempengaruhi tekanan stressor melalui tingkah laku,

pikiran, dan strategi emosional, sehingga pada tiap individu akan

muncul reaksi terhadap stres yang berbeda pada stressor yang sama.

Sarafino (dalam Smet, 1994) mendefinisikan stres sebagai suatu

kondisi yang disebabkan oleh transaksi antara individu dengan lingkungan

yang menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal dari

situasi dengan sumber-sumber daya sistem biologis, psikologis dan sosial

seseorang.

Berdasarkan beberapa defenisi di atas, maka dapat diambil

kesimpulan bahwa stres adalah respon individu terhadap keadaan yang

memicu stres (stressor) yang mengancam sehingga individu merasa

tertekan dan individu akan bereaksi secara fisiologis maupun psikologis.

Stres yang dialami individu dinyatakan dalam suatu derajat yang

(31)

11

2. Bentuk-bentuk Stres

Menurut Looker & Gregson (2004) bentuk-bentuk stres dibedakan

menjadi 2 bagian yaitu :

1. Eustress (stres positif)

Eustress merupakan pengalaman yang menyenangkan dan bersifat

menyenangkan. Eustress dapat dialami ketika kemampuan yang kita

rasakan untuk mengatasi, melebihi tuntutan-tuntutan yang dirasakan.

Situasi eustres membangkitkan rasa percaya diri, menjadi terkontrol

dan mampu mengatasi dan menangani tugas-tugas, tantangan-tantangan

dan tuntutan-tuntutan, meningkatkan kesiagaan mental, kewaspadaan,

dan dapat meningkatkan motivasi individu untuk menciptakan sesuatu.

Respon stres ini diaktifkan oleh sejumlah kebenaran untuk memberi

kewaspadaan, kinerja mental, dan fisik yang dibutuhkan untuk menjadi

produktif dan kreatif.

2. Distress (stres negatif)

Distress merupakan stres yang merusak atau bersifat tidak

menyenangkan. Stres dirasakan sebagai suatu keadaan dimana individu

mengalami rasa cemas, ketakutan, khawatir atau gelisah. Sehingga

individu mengalami keadaan psikologis yang negatif sehingga timbul

keinginan untuk menghindarinya. Distress dapat muncul karena terlalu

sedikitnya tuntutan yang merangsang, yang menyebabkan kebosanan

dan frustrasi. Dalam kasus ini, kemampuan yang dirasakan untuk

(32)

12

terlampau sedikit hal untuk dikerjakan atau terlampau sedikit tugas

yang menuntut bisa menjadi sama menyedihkannya dengan memiliki

terlampau banyak tugas atau menangani pekerjaan-pekerjaan yang

kompleks.

3. Stres dan Kinerja

Hidup akan menjadi membosankan dan tidak menyenangkan jika

tidak mengalami eustress yang merangsang yang ditimbulkan oleh

tantangan dalam penampilan fisik dan pengujian keahlian-keahlian dan

kemampuan mental. Tuntutan yang terlampau sedikit atau tuntutan yang

terlalu berlebihan dapat melemahkan kemampuan untuk mengatasinya

dengan efektif.

Menurut Looker & Gregson (2004), rangsangan yang terlalu kecil,

tuntutan dan tantangan yang terlampau sedikit dapat menyebabkan

kebosanan, frustrasi, dan perasaan bahwa kita tidak sedang menggunakan

kemampuan-kemampuan kita secara penuh. Demikian juga,

tuntutan-tuntutan yang banyak sekali dapat menjadi sangat menyengsarakan

misalnya beban kerja yang berlebihan, tekanan waktu ekstrem, tuntutan

yang tidak bisa dihindari dan terlampau banyak peristiwa hidup yang

membuat kita stres. Kita mulai meragukan kemampuan kita sendiri untuk

(33)

13

EUSTRES

Bekerja keras di bawah tekanan tinggi yakni banyak tuntutan untuk

mengerjakan segala sesuatunya tidak selalu menjadi strategi yang benar

seperti terlihat pada gambar 1.

Gambar 1. Stres dan Kinerja

Baik Tinggi

Rendah

K

INER

J

A

DISTRES

end

R ah

Buruk Tinggi

Rendah TUNTUTAN-TUNTUTAN Tinggi

Kinerja maksimum dicapai di atas bagian puncak lekuk ke atas dari

kurva kinerja dimana kita merasa terangsang, waspada saat membuat

keputusan, lebih kreatif, dan efektif dalam mencapai hasil-hasilnya.

Kinerja puncak dicapai ketika kita menghadapi jumlah dan tipe tuntutan

dan tantangan yang benar dan kita yakin dan sangat mampu menanganinya

(Looker & Gregson, 2004).

Jika tuntutan dan tekanan terus menerus meningkat di atas titik ini,

sumber daya penanggulangan kita diperlemah terus menerus dan kinerja

kita mulai merosot. Kita menghantam lekuk kurva ke bawah. Jika ini terus

(34)

14

licin di zona distress yang akan mengalami kecemasan, kelelahan,

kecapekan, dan kemacetan yang sering disebut dengan ”pemadaman”

(Looker & Gregson, 2004).

Terlalu sedikitnya stres sama bahayanya dengan stres yang terlalu

banyak. Stres memang meningkatkan tekanan darah dan stres yang

berlebihan bisa mendatangkan malapetaka yang fatal. Mereka memerlukan

tekanan-tekanan untuk memperoleh energi yang dibutuhkan guna upaya

mencari sasaran-sasaran mereka. Dan rangsangan mental serta intelektual

semacam ini tiada lain adalah stres (Anoraga & Suyati, 1995).

B.Ujian Nasional

1. Pengertian Ujian Nasional

Berdasarkan peraturan menteri pendidikan tentang ujian nasional

tahun 2008, Ujian Nasional adalah kegiatan pengukuran dan penilaian

kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan dasar dan

menengah.

2. Alasan Pelaksanaan Ujian Nasional

Alasan diselenggarakan Ujian Nasional berdasarkan peraturan

menteri pendidikan tentang ujian nasional tahun 2008 adalah :

a. Pemetaan mutu satuan dan atau program pendidikan

(35)

15

c. Penentuan kelulusan peserta didik dari program dan atau satuan

pendidikan

d. Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam

upaya peningkatan mutu pendidikan.

3. Mata Pelajaran dan Standar Kompetensi Lulusan Ujian Nasional Tahun 2008

Mata Pelajaran Ujian Nasional SMA dan MA :

a. Program IPA, meliputi : Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,

Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi

b. Program IPS, meliputi : Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,

Matematika, Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi

c. Program Bahasa meliputi : Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,

Matematika, Bahasa Asing lain yang diambil, Sejarah Budaya

(Antropologi), dan Sastra Indonesia

d. Program Keagamaan meliputi : Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,

Matematika, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, dan Tasawuf/Ilmu Kalam

Peserta Ujian Nasional dinyatakan lulus jika memenuhi standar

kelulusan Ujian Nasional sebagai berikut :

a. Memiliki nilai rata-rata minimal 5,25 untuk seluruh mata pelajaran yang

diujikan, dengan tidak ada nilai di bawah 4,25

b. Memiliki nilai minimal 4,00 pada salah satu mata pelajaran dan nilai

(36)

16

4. Sisi Positif dan Negatif Ujian Nasional

Ujian Nasional sebagai bentuk evaluasi pembelajaran menjadi

kontroversi. Terdapat dua sisi dilaksanakannya Ujian Nasional yaitu sisi

positif dan sisi negatif. Sisi positif dari Ujian Nasional diantaranya adalah :

a. Sebagai langkah mengevaluasi hasil belajar seorang siswa selama

menempuh salah satu jenjang pendidikan tertentu.

b. Mendongkrak semangat siswa untuk lebih termotivasi untuk belajar lebih

giat karena ada target yang harus dipenuhi.

c. Ujian Nasional akan menciptakan generasi-generasi yang berkompeten.

d. Mendukung pekembangan pendidikan sebagai upaya untuk memperbaiki

mutu pendidikan Indonesia.

e. Mengetahui daya pencapaian target dari standar nasional yang ditetapkan

sehingga dapat diketahui daerah yang sudah mampu atau belum

memenuhi target dan kedepannya perlu ditingkatkan.

f. Ujian Nasional telah menyumbangkan kontribusi dalam rangka

penyamaan mutu pendidikan terhadap dunia internasional.

g. Memacu kreativitas dan daya pikir siswa sehingga menjadikan anak lebih

maju.

h. Siswa tidak menyepelekan pelajaran pada saat kegiatan belajar

mengajar.

Dampak negatif yang nyata terjadi di sekolah sebagai akibat

diterapkannya Ujian Nasional di sekolah, diantaranya (Khaerudin, 2008 &

(37)

17

a. Terjadinya disorientasi pendidikan di sekolah

Pembatasan mata pelajaran menyebabkan terjadinya diskriminasi dan

pengabaian terhadap mata pelajaran lain. Para siswa dan bahkan orang

tua lebih memusatkan perhatiannya terhadap mata pelajaran yang akan

diujian nasionalkan. Dengan adanya Ujian Nasional, maka pembelajaran

cenderung hanya mengembangkan ranah kognitif, pada penguasaan

pengetahuan dan mengesampingkan ranah afektif dan psikomotorik.

b. Proses pembelajaran yang tidak bermakna

Para guru menggunakan metode pembelajaran drill dalam

mempersiapkan Ujian Nasional, dimana para siswa dilatih untuk

mengerjakan sejumlah soal yang diduga akan keluar dalam ujian, agar

siswa terbiasa menghadapi soal ujian dan menguasai teknik-teknik dan

trik mengerjakan soal. Pembelajaran seperti ini tidak bermakna, karena

apa yang dipelajari bersifat mekanistik. Pembelajaran seperti ini tidak

dapat mengembangkan kemampuan berpikir dalam memecahkan

masalah, yang menjadi indikator kecerdasan sebagaimana yang

diharapkan dicapai melalui pembelajaran.

c. Upaya-upaya yang tidak fair

Sekolah yang mampu meluluskan siswanya dengan prosentase yang

tinggi, dinilai sebagai sekolah yang berkualitas dan unggul. Tidak sedikit

oknum guru dan kepala sekolah melakukan upaya-upaya yang tidak

terpuji untuk mencapai target kelulusan yang setinggi-tingginya. Guru

(38)

18

jawaban kepada siswa, dinas pendidikan melakukan usaha untuk

menggelembungkan (mark-up) hasil ujian, dengan cara membuat tim

untuk membetulkan jawaban-jawaban siswa. Kondisi seperti ini jelas

jauh dari nilai-nilai kejujuran dalam pendidikan yang seharusnya menjadi

bagian yang harus dikembangkan secara serius di sekolah.

d. Hanya ranah kognitif yang terukur

Ujian Nasional yang menggunakan bentuk soal multiple choise hanya

akan dapat mengukur hasil belajar pada ranah kognitif. Mengacu pada

ranah kognitif dari Bloom, soal multiple choise hanya mampu mengukur

sampai pada tingkat berpikir aplikasi. Kondisi seperti ini mendorong para

siswa belajar dengan menghafal. Ranah afektif dan psikomotorik yang

merupakan bagian dari tujuan pembelajaran yang harus diukur, tidak

dilakukan di Ujian Nasional.

e. Keputusan yang tidak fair

Proses belajar yang dilakukan siswa selama 3 tahun ditentukan oleh hasil

ujian yang dilakukan beberapa jam saja. Ketidakadilan juga terlihat dari

proses pembelajaran yang dialami siswa di satu sekolah dengan sekolah

lainnya yang jauh berbeda. Para siswa diuji dengan cara dan alat yang

sama.

f. Ujian Nasional membawa efek psikologis yang cukup berat. Secara

umum siswa yang akan menghadapi ujian mengalami ketakutan

berlebihan karena pemerintah telah mematok standar nilai kelulusan.

(39)

19

dalam proses belajarnya sehingga hasil ujiannya tidak akan berhasil

dengan baik.

g. Aspek yuridis. UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003

telah dilanggar, misalnya pasal 35 ayat 1 yang menyatakan bahwa

standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi

lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan,

pembiayaan, dan penilaian pendidikan, yang harus ditingkatkan secara

berencana dan berkala. Ujian Nasional hanya mengukur kemampuan

pengetahuan dan penentuan standar pendidikan yang ditentukan secara

sepihak oleh pemerintah. Selain itu, pada pasal 59 ayat 1 dinyatakan,

pemerintah dan pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap

pengelola, satuan jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Tapi dalam Ujian

Nasional pemerintah hanya melakukan evaluasi terhadap hasil belajar

siswa yang sebenarnya merupakan tugas pendidik.

h. Aspek ekonomi. Secara ekonomis, pelaksanaan Ujian Nasional

memboroskan biaya. Selain itu, belum dibuat sistem yang jelas untuk

menangkal penyimpangan finansial dana Ujian Nasional. Kondisi ini

(40)

20

C. Stres Siswa SMA Kelas XII Dalam Menghadapi Ujian Nasional

1. Pengertian Stres Menghadapi Ujian Nasional dan Pengertian Siswa SMA Kelas XII

Stres menghadapi Ujian Nasional adalah respon individu terhadap

keadaan yang memicu perasaan tidak nyaman baik secara fisik maupun

psikologis akibat tuntutan dari luar berupa keharusan untuk lulus,

peningkatan standar kelulusan, dan penambahan mata pelajaran yang

diujikan sehingga memunculkan ketegangan, ketakutan dan tekanan.

Siswa SMA kelas XII adalah individu yang berada pada tahap

akhir atau tahun ketiga dijenjang pendidikan sekolah menengah atas yang

harus menghadapi Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan.

2. Ujian Nasional Sebagai Stressor

Penyebab stres pada siswa SMA yang duduk di kelas XII adalah

saat menghadapi Ujian Nasional, dimana Ujian Nasional merupakan

penentu kelulusan siswa. Stressornya berupa (Khaerudin, 2008 & Irawan,

2005) :

a. Peningkatan kriteria standar kelulusan

b. Penambahan mata pelajaran yang diujikan

c. Sebagai seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya

d. Sebagai instrumen penentu kelulusan

e. Pengukuran hanya pada ranah kognitif dan mengesampingkan ranah

(41)

21

f. Pembelajaran bersifat mekanistik karena menggunakan metode drill.

g. Memusatkan perhatian pada mata pelajaran yang akan diujian

nasionalkan, mata pelajaran lain sebagai pelengkap

h. Jumlah siswa yang lulus berdampak pada citra dan prestise sebuah

sekolah.

i. Siswa yang menghadapi Ujian Nasional mengalami ketakuan yang

berlebihan

j. Kondisi sekolah yang berbeda diuji dengan alat ukur yang sama

k. Proses belajar 3 tahun ditentukan oleh hasil ujian yang dilakukan

beberapa jam saja

l. Penentuan standar pendidikan ditentukan secara sepihak oleh

pemerintah

m.Pemerintah melakukan evaluasi hasil belajar siswa yang sebenarnya

tugas pendidik.

3. Aspek-aspek Stres Ujian Nasional

Stres merupakan reaksi alami tubuh terhadap berbagai tekanan,

tegangan dan perubahan dalam kehidupan, begitu juga dalam

menghadapi Ujian Nasional. Siswa yang mengalami stres (melakukan

reaksi terhadap stres) termanifestasi dalam gejala emosional, kognitif,

(42)

22

a. Gejala Emosional

Secara emosional, individu yang mengalami stres akan merasa takut

dan kawatir, mudah marah, kehilangan rasa ketertarikan terhadap

hal-hal di sekitarnya, ketidakmampuan untuk menikmati dirinya sendiri,

membenci sekolah, tidak bergairah, gugup, gelisah, merasa tidak aman,

pesimis dan was-was.

b. Gejala Kognitif atau Mental

Manifestasi stres dapat berupa ketidakmampuan dalam berpikir, daya

konsentrasi kurang, sering melamun, mudah lupa, pikiran kacau,

produktivitas atau prestasi belajar menurun, sering melakukan

kesalahan dalam bekerja.

c. Gejala Fisiologis

Keluhan-keluhan fisik yang timbul seperti pusing atau sakit kepala,

sakit perut, mual dan muntah, susah bernapas, jantung berdegup cepat,

selera makan berubah (kehilangan nafsu makan atau makan

berlebihan), sering ke kamar mandi, susah tidur, mimpi buruk, bangun

terlalu awal, telapak tangan keringat, dan mudah lelah.

d. Gejala Perilaku

Stres termanifestasi dalam perilaku seperti suka menyerang, menarik

diri dari pergaulan dan berdiam diri, merusak dan mengganggu,

membolos sekolah, berbohong, menarik-narik rambut atau pakaian,

menggigit kuku, mengigau, memaksa, menggertakkan gigi,

(43)

23

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stres Siswa Dalam Menghadapi Ujian Nasional

Menurut Santrock (2003) faktor yang menyebabkan stres

dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor lingkungan, kognitif dan

strategi penanganan stres/coping. Begitu juga faktor di atas dapat

mempengaruhi stres pada siswa yang menghadapi Ujian Nasional.

a. Faktor lingkungan

Apabila situasi saat siswa menghadapi Ujian Nasional dirasakan

begitu berat maka kemampuan siswa untuk bisa beradaptasi akan sulit.

Pada saat itulah terjadi burnout yaitu perasaan yang tidak berdaya dan

tidak memiliki harapan akibat tuntutan yang terlalu berat. Harapan

orang tua yang menginginkan anaknya bisa lulus, merupakan faktor

stres yang berasal dari lingkungan keluarga. Sedangkan dari

lingkungan sekolah adalah tuntutan untuk bisa lulus, terlalu

banyaknya pekerjaan rumah dan tugas-tugas yang diberikan, serta

ujian evaluatif dan tes lainnya. Ini semua dapat menyebabkan stres.

b. Faktor kognitif

Stres yang dialami siswa tergantung pada bagaimana mereka membuat

penilaian secara kognitif dan menginterpretasikan suatu kejadian.

Pengalaman stres adalah keseimbangan antara penilaian primer dan

skunder. Ketika bahaya dan ancaman dari Ujian Nasional tinggi,

sementara tantangan dan sumber daya yang dimiliki siswa untuk

(44)

24

bahaya dan ancaman dari Ujian Nasional rendah, dan tantangan serta

sumber daya yang dimiliki siswa untuk menghadapinya tinggi, maka

stres akan cenderung menjadi ringan atau sedang.

c. Strategi coping

Beberapa strategi menghadapi stres yang dapat digunakan

siswa dalam menghadapi Ujian Nasional adalah coping yang berfokus

pada masalah, strategi mendekat, berpikir positif, sistem dukungan,

dan menggunakan berbagai strategi coping.

Lazarus (dalam Santrock, 2003) menyatakan bahwa coping

yang berfokus pada masalah, merupakan strategi kognitif yang

digunakan individu untuk menghadapi masalah dan berusaha

menyelesaikannya. Siswa yang menggunakan strategi mendekat untuk

menghadapi stres adalah mereka yang berusia lebih tua, lebih aktif,

menilai stressor utama dari Ujian Nasional yang muncul sebagai

sesuatu yang dapat dikendalikan dan sebagai suatu tantangan.

Penggunaan lebih dari satu strategi untuk menangani stres yang

dialami siswa dalam menghadapi Ujian Nasional merupakan

kemampuan mengembangkan strategi yang efektif sehingga dapat

(45)

25

D. Dinamika Psikologis Tingkat Stres Siswa SMA Kelas XII Dalam Menghadapi Ujian Nasional

Salah satu sumber stres adalah adanya perubahan yang mengganggu

kontinuitas dan kestabilan hidup individu yang bersangkutan. Oleh karena itu,

perubahan yang muncul dapat menimbulkan stres apabila individu yang

bersangkutan tidak mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan

tersebut.

Menurut Slemon (dalam Baldwin, 2002) dalam menghadapi pelajaran

yang berat di sekolah dapat menimbulkan stres pada siswa, terutama bagi

siswa SMA, karena pada saat itu mereka mengalami tekanan untuk

mendapatkan nilai yang baik dan bisa masuk universitas favorit. Siswa SMA

yang akan menghadapi Ujian Nasional dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi

Negeri sering mengalami ketegangan dan kecemasan. Mereka takut tidak

lulus universitas negeri yang mereka inginkan.

Penyebab stres pada siswa SMA yang duduk di kelas XII adalah saat

menghadapi Ujian Nasional, dimana Ujian Nasional merupakan penentu

kelulusan siswa. Memberitahukan kepada siswa bahwa sebuah ujian adalah

untuk mengukur kemampuan bisa mengiring mereka menjadi gelisah karena

merisaukan hasil ujian mereka. Beberapa siswa kehilangan kepercayaan diri

dan konsentrasinya ketika menghadapi serangkaian soal-soal ujian yang

tampak sangat sulit bagi mereka (Wlodkowski & Jaynes, 2004). Pemerintah

akan meningkatkan kriteria standar kelulusan untuk meningkatkan mutu

(46)

26

akan diujian-nasionalkan. Untuk SMA akan menjadi 6 mata pelajaran,

sementara tahun sebelumnya hanya 3 mata pelajaran.

Kondisi ini membuat siswa SMA kelas XII merasa cemas, tegang,

takut tidak lulus, gemetar, konsentrasi hilang dan mules. Penambahan mata

pelajaran tersebut terkesan mendadak. Akibatnya tidak sedikit siswa yang

resah. Sementara itu, siswa SMA kelas XII juga mendapat tuntutan dari

orangtua, guru dan sekolah agar lulus. Kelelahan fisik dan psikis yang dialami

siswa dalam mempersiapkan Ujian Nasional juga mempengaruhi dalam

menghadapi ujian.

Kegelisahan menghadapi ujian didefenisikan sebagai perasaan tidak

menyenangkan atau keadaan emosional yang mempengaruhi sisi psikologis

serta perilaku dan hal tersebut dialami saat menghadapi ujian-ujian formal

atau situasi evaluatif lain (Wlodkowski & Jaynes, 2004). Menurut penelitian

Ray Hembree (dalam Wlodkowski & Jaynes, 2004) mengatakan bahwa siswa

yang terlalu gelisah dalam menghadapi ujian menempatkan diri mereka dalam

penghargaan yang lebih rendah dibandingkan siswa yang hanya memiliki

sedikit kegelisahan menghadapi ujiannya. Mereka kesulitan dalam

berkonsentrasi, menyelesaikan tugas-tugasnya, dan mengingat konsepnya.

Rasa cemas, resah, tegang menghadapi ujian dan ketakutan tidak

lulus yang dihadapi siswa memunculkan tindakan mencontek, pembelian

kunci jawaban, isak tangis, pingsan akibat tidak bisa mengerjakan soal ujian,

melakukan pendekatan diri kepada Tuhan dan permintaan doa restu kepada

(47)

27

Pada penelitian Aswandi (2008) kegagalan menghadapi ujian setelah

diteliti, ternyata tidak hanya disebabkan oleh ketidaksiapan siswa dalam

penguasaan materi pembelajaran yang diujikan, melainkan lebih disebabkan

oleh adanya stres, rasa takut gagal, dan takut tidak lulus. Rasa takut ini

mempengaruhi hasil penilaian [Roger Kaufman dan Susan Thomas (1980)

dalam Aswandi 2008].

Keadaan seperti itu dapat saja terjadi pada setiap siswa, terutama

bagi siswa yang tidak mempersiapkan diri melalui pembelajaran efektif,

mempersiapkan mental-psikologis, menjaga jasmani agar tetap sehat dan

kurang lengkapnya sarana prasarana sekolah untuk mendukung proses belajar

dan mengajar.

Stres mempengaruhi setiap orang bahkan anak-anak. Sarwono

(2005), mengatakan stres adalah kondisi kejiwaan ketika jiwa itu mendapat

beban. Stres ringan dapat merangsang dan memberikan gairah nyata dalam

kehidupan yang setiap harinya menjenuhkan. Menurut Santrock (2003),

faktor lingkungan yaitu gangguan sehari-hari dan beban yang terlalu berat

dapat menyebabkan subyek mengalami frustrasi dan konflik. Lingkungan

keluarga dapat menjadi sumber stres. Harapan orang tua yang berlebihan dan

tidak realistik membuat mereka merasa tertekan. Lingkungan sekolah berupa

harapan yang terlalu tinggi dari sekolah dan guru, terlalu banyaknya

pekerjaan rumah dan tugas-tugas, serta ujian dan tes dapat menyebabkan

(48)

28

Selain itu, faktor kognitif yaitu keseimbangan antara penilaian

primer dan penilaian skunder adalah faktor yang dapat menyebabkan stres.

Ketika bahaya dan ancaman tinggi, sementara tantangan dan sumber daya

yang dimiliki rendah, stres cenderung akan menjadi berat. Bila bahaya dan

ancaman rendah dan tantangan serta sumber daya yang dimiliki tinggi, maka

stres akan cenderung menjadi ringan atau sedang. Santrock (2003)

mengemukakan bahwa remaja dapat menggunakan lebih dari satu strategi

untuk menangani stres yang dialami. Kemampuan mengembangkan strategi

yang efektif akan membantu remaja dalam menangani stres.

Ketidakseimbangan antara tuntutan yang datang dari luar seperti

orang tua, guru, sekolah untuk bisa lulus, menghadapi penambahan mata

pelajaran yang diujiankan, tingginya standar kelulusan dengan kemampuan

berbeda-beda yang dimiliki siswa untuk mengatasi tuntutan tersebut,

membuat siswa stres. Jika ketidakseimbangan tersebut direaksi siswa dengan

ketegangan yang sangat tinggi baik itu rasa cemas, khawatir dan ketakutan

yang terlalu besar akan membuat siswa mengalami stres yang tinggi dan

kemungkinan besar akan membuat gagal menghadapi ujian karena stres

berpengaruh secara signifikan pada menurunnya hasil tes kognitif.

Sedangkan jika siswa bereaksi terhadap ketidakseimbangan tersebut

dengan rasa yakin dan percaya bahwa mereka mampu menghadapi ujian dan

menjawab soal dengan benar, maka ketegangan menghadapi ujian berkurang.

Rasa takut menghadapi Ujian Nasional berganti menjadi rasa penuh harapan

(49)

29

berbagai aktivitas persiapan menghadapi ujian dan melakukan kegiatan lain

yang disukai atau rutinitas sehari-hari dapat menenangkan siswa dari rasa

bosan karena siswa tidak dipaksa untuk terus berhadapan dengan materi Ujian

(50)

30

Menghadapi Ujian Nasional

Siswa SMA kelas XII

Reaksi siswa menghadapi stressor : -Takut tidak lulus, takut gagal dan

tidak dapat mengerjakan soal -Cemas, resah dan tegang -Pesimis, tidak percaya diri -Gugup, khawatir

-Harapan akan keberhasilan tinggi -Keyakinan akan lulus besar -Menanamkan rasa optimisme -Percaya diri

1. Faktor lingkungan yaitu gangguan sehari-hari dan beban yang terlalu berat. Lingkungan keluarga, harapan orang tua yang menginginkan anaknya bisa lulus. Lingkungan sekolah, tuntutan untuk bisa lulus, banyaknya pekerjaan rumah dan tugas-tugas yang diberikan, serta adanya ujian evaluatif dan tes lainnya

2. Faktor kognitif, keseimbangan antara penilaian primer dan penilaian skunder

3. Strategi coping Stressor Ujian Nasional :

-Kriteria standar kelulusan dinaikkan

-Penambahan mata pelajaran yang diujiankan menjadi 6 mata pelajaran

-Tuntutan dari orangtua, guru dan sekolah agar lulus

(51)

BAB III

METODE PENELITIAN

Pada bab III ini, penulis akan menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan

metode atau cara untuk menjawab atau menyelesaikan masalah penelitian dan

penulis juga akan menjelaskan tentang prosedur, alat penelitian yang digunakan

dan pertanggung jawaban mutu alat tes yang telah dibuat.

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan

kuantitatif. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengangkat fakta, keadaan,

variabel, dan fenomena-fenomena yang terjadi saat sekarang dan menyajikan

apa adanya.

Penelitian deskriptif menjelaskan dan menafsirkan data yang

berkenaan dengan situasi yang terjadi dan dialami sekarang, sikap dan

pandangan yang menggejala saat sekarang. Hubungan antar variabel,

pengaruh terhadap suatu kondisi, dan lain-lain (Subana, 2001).

B. Variabel Penelitian

Penelitian ini hanya menggunakan satu variabel saja. Variabel utama dalam

penelitian ini adalah tingkat stres.

(52)

32

C. Defenisi Operasional

Secara operasional tingkat stres didefenisikan sebagai tinggi rendahnya

respon individu terhadap keadaan yang memicu stres (stressor) sehingga

menyebabkan perubahan-perubahan emosi, kognitif, fisiologis dan perilaku.

Pada penelitian ini stres akan diukur berdasarkan skala tingkat stres. Skala

tersebut dibatasi dengan aspek-aspek stres, antara lain :

a. Gejala Emosional

Tinggi rendahnya respon individu terhadap keadaan yang memicu stres

(stressor) sehingga memunculkan reaksi berupa rasa takut dan kawatir,

mudah marah, kehilangan rasa ketertarikan terhadap hal-hal di

sekitarnya, ketidakmampuan untuk menikmati dirinya sendiri,

membenci sekolah, tidak bergairah, gugup, gelisah, merasa tidak aman,

pesimis dan was-was.

b. Gejala Kognitif

Tinggi rendahnya respon individu terhadap keadaan yang memicu stres

(stressor) sehingga memunculkan reaksi berupa ketidakmampuan

dalam berpikir, daya konsentrasi kurang, sering melamun, mudah lupa,

pikiran kacau, produktivitas atau prestasi belajar menurun, dan sering

melakukan kesalahan dalam bekerja.

c. Gejala Fisiologis

Tinggi rendahnya respon individu terhadap keadaan yang memicu stres

(stressor) sehingga memunculkan reaksi berupa keluhan-keluhan fisik

(53)

33

muntah, susah bernapas, jantung berdegup cepat, selera makan berubah

(kehilangan nafsu makan atau makan berlebihan), sering ke kamar

mandi, susah tidur, mimpi buruk, bangun terlalu awal, telapak tangan

keringat, dan mudah lelah.

d. Gejala Perilaku

Tinggi rendahnya respon individu terhadap keadaan yang memicu stres

(stressor) sehingga memunculkan reaksi dalam bentuk perilaku seperti

suka menyerang, menarik diri dari pergaulan dan berdiam diri,

merusak dan mengganggu, membolos sekolah, berbohong,

menarik-narik rambut atau pakaian, menggigit kuku, mengigau, memaksa,

menggertakkan gigi, mencari-cari kesalahan orang lain, dan tidak

percaya pada orang lain.

Skala ini menggunakan konsep stres yang mengarah pada besarnya

tuntutan. Skala tidak menggunakan konsep eustress distress.

Tingkat stres diukur dengan skor total skala tingkat stres yang

didasarkan pada reaksi yang muncul akibat stres. Semakin tinggi skor total

yang diperoleh individu pada skala tingkat stres yang disusun oleh peneliti,

semakin tinggi tingkat stres individu tersebut. Sebaliknya semakin rendah

skor total yang diperoleh individu pada skala tingkat stres, semakin rendah

(54)

34

D. Subyek Penelitian

Subyek penelitian diperoleh dengan menggunakan metode purposive

sampling, artinya kelompok subyek tersebut dipilih berdasarkan ciri-ciri atau

sifat-sifat khusus yang dipandang mempunyai sangkut paut erat dengan

ciri-ciri atau sifat-sifat subyek penelitian yang telah diketahui sebelumnya (Hadi,

2004). Adapun kriteria subyek yang dijadikan responden dalam penelitian ini

adalah Siswa SMA kelas XII semua jurusan. Alasannya karena siswa yang

menghadapi Ujian Nasional adalah semua siswa kelas XII tanpa membedakan

jurusan.

E. Metode dan Alat Pengumpulan Data

Metode pengambilan data dilakukan dengan cara menyebarkan skala

kepada responden secara langsung. Alat yang digunakan dalam penelitian ini

adalah skala tingkat stres. Skala tingkat stres disusun oleh peneliti sendiri.

Pembuatan item-item dalam skala tingkat stres ini mengacu pada indikator

stres yang meliputi aspek emosional, fisiologis, kognitif dan perilaku. Metode

yang digunakan dalam proses penskalaan pada penelitian ini adalah metode

rating yang dijumlahkan (method of summated ratings) atau terkenal dengan

nama penskalaan model Likert.

Metode ini merupakan pengukuran sikap yang mengusahakan respon

subyek sebagai dasar penentuan nilai skalanya. Mengikuti penyekalaan model

Likert, respon yang digunakan dalam skala ini terdiri dari empat kategori

(55)

35

jawaban : Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat

Tidak Sesuai (STS). Setiap jawaban dari subyek pada masing-masing sumber

pernyataan akan diberikan skor sesuai dengan yang telah ditetapkan.

Item-item skala tingkat stres ini akan dibuat dalam dua tipe

pernyataan, yaitu mendukung (favorable) dan tidak mendukung

(unfavorable). Item pernyataan mendukung adalah item-item yang bersifat

positif atau mendukung indikator-indikator dari variabel yang diukur,

sedangkan item dari pernyataan yang tidak mendukung adalah item-item yang

bersifat negatif atau tidak mendukung indikator-indikator dari variabel yang

diukur.

Tidak ada jawaban Netral (N) pada pilihan jawaban. Alasannya, jika

ada pilihan tengah maka responden cenderung untuk menjawab pilihan

tersebut sehingga peneliti tidak mendapatkan informasi yang diinginkan

(Hadi, 2000). Skor penilaian dijabarkan sebagai berikut :

Tabel 3.1 Skor Penilaian Skala Stres

Alternatif Jawaban Skor Favorabel

Skor Unfavorabel

Sangat Sesuai (SS) 4 1

Sesuai (S) 3 2

Tidak Sesuai (TS) 2 3

Sangat Tidak Sesuai (STS) 1 4

Sebaran nomer item dan jumlahnya dapat dilihat pada tabel 3.2

(56)

36

Tabel 3.2 Blue Print Skala Stres (sebelum uji coba)

Aspek

Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti menguji coba alat ukur

dengan tujuan agar skala yang digunakan benar-benar mewakili

variabel-variabel yang akan diukur. Skala diuji cobakan pada sekelompok responden

yang memiliki kriteria yang sama dengan responden yang digunakan dalam

penelitian yaitu siswa SMA kelas XII semua jurusan.

Skala uji coba dilaksanakan pada tanggal 5-11 Desember 2008 di kota

Yogyakarta dengan menyebarkan skala uji coba pada beberapa siswa SMA

kelas XII dari berbagai sekolah yang berbeda. Skala yang diujicobakan

meliputi 96 item yang terdiri dari 48 item favorable dan 48 item unfavorable.

Penyebaran item dilakukan secara bertahap karena siswa SMA kelas

(57)

37

sehingga tidak bisa diganggu sehingga skala disebar diluar jam belajar di

beberapa tempat SMA. Penyebaran skala dilakukan dengan cara pendekatan

personal, dimana peneliti langsung mendatangi subyek satu persatu.

Subyek uji coba alat ukur penelitian berjumlah 55 orang, yang terdiri

dari siswa SMA N 3, SMA N 9, SMA Stela Duce 1, SMA N 8, dan SMA N 6

yang semuanya berada di kota Yogyakarta. Pada skala uji coba ini, peneliti

menyebarkan skala stres sebanyak 60 eksemplar. Dari 60 eksemplar skala stres

tersebut yang dikembalikan dan memenuhi syarat untuk dianalisis hanya 55

eksemplar sedangkan 5 eksemplar lagi subyek tidak mengisi dengan lengkap

skala stres dan identitas diri.

G.Pertanggungjawaban Mutu

1. Validitas

Validitas alat ukur menunjukkan sejauh mana alat tes tersebut

dapat mengukur atribut yang ingin diukur (Suryabrata, 1998). Validitas

yang digunakan dalam penelitian ini yaitu validitas isi. Validitas isi

mengukur sejauh mana seperangkat soal-soal pada alat tes tersebut

mencerminkan ciri atribut yang hendak diukur. Jadi, alat tes tersebut harus

komprehensif isinya dengan memuat isi yang relevan dan tidak keluar dari

batasan tujuan ukur (Azwar, 2005).

Cara menentukan validitas isi tersebut melalui pendapat profesional

(58)

38

analisis rasional. Pendapat profesional pada penelitian ini ialah dosen

pembimbing skripsi. Validitas isi ini terbagi dalam dua tipe yaitu :

a. Validitas tampang

Validitas tampang berdasarkan penilaian terhadap format

penampilan tes. Penampilan tes harus meyakinkan dan memberikan

kesan mampu mengungkap apa yang hendak diukur. Penampilan yang

meyakinkan tersebut akan memancing motivasi individu yang akan

dites untuk mengerjakan tes dengan sungguh-sungguh (Azwar, 2005).

Skala yang dibuat peneliti cukup sederhana. Skala dibuat dalam

bentuk buku dan dikemas secara rapi serta pengetikan yang jelas. Hal

tersebut bertujuan agar individu yang diteliti mempunyai motivasi

untuk mengerjakan skala dengan sungguh-sungguh sehingga

menghasilkan data yang valid.

b. Validitas logis

Validitas logis mengukur sejauh mana isi tes merepresentasikan

ciri-ciri atribut yang hendak diukur. Skala dirancang sedemikian rupa

agar tes hanya berisi item-item yang relevan saja. Cara yang digunakan

untuk mencapai hal tersebut adalah menggunakan blue-print yang

memuat cakupan isi yang hendak diungkap (Azwar, 2005).

Peneliti dalam membuat alat ukur sebelumnya telah membuat

blue-print. Blue-print dibuat dalam bentuk tabel yang berisi uraian

aspek-aspek atribut yang harus dibuat aitemnya serta proporsi item

(59)

39

gambaran mengenai isi skala serta acuan bagi peneliti untuk tetap

berada dalam batasan yang hendak diukur (Azwar, 2005).

2. Seleksi Item

Seleksi item pertama diambil dari data hasil uji coba item pada

subyek yang memiliki karakteristik setara dengan subyek yang akan

diteliti. Item-item tersebut dievaluasi dengan analisis butir menggunakan

parameter daya beda item atau daya diskriminasi item yang berupa

koefisien korelasi item total yang memperlihatkan adanya kesesuaian

antara fungsi item dengan fungsi skala dalam mengungkap perbedaan

individual.

Teknik yang dipakai dalam menyeleksi item dalam penelitian ini

adalah penggunaan koefisien korelasi dengan mengkorelasikan skor item

dengan skor item total. Pengkorelasian antara skor item dengan skor item

total akan menghasilkan koefisien korelasi item total (rix). Koefisien

korelasi yang baik adalah ≥ 0.30, jadi item yang memiliki koefisien

korelasi kurang dari 0.30 dinyatakan gugur (Azwar, 2008). Untuk seleksi

item dilakukan dengan komputer menggunakan program SPSS for

windows 16.

Semakin tinggi koefisien korelasi positif antara skor item dengan

skor skala berarti semakin tinggi konsistensi item tersebut dengan skala

secara keseluruhan. Artinya, semakin tinggi daya bedanya. Begitu juga

(60)

40

Skala stres yang diuji cobakan berjumlah 96 item yang terdiri dari

48 item favorable dan 48 item unfavorable. Skala stres diujicobakan pada

55 subyek. Setelah memperoleh data-data, dilakukan pengolahan data

dengan menggunakan program SPSS for windows 16. Dari pengolahan

data tersebut diperoleh skor korelasi item berkisar antara -0.018 sampai

0.783.

Berikut ini disajikan tabel perhitungan korelasi item total pada

skala stres.

Tabel 3.3 Hasil Korelasi Item Total Skala Stres

Rix Item Total

≥ 0.300 1, 2, 3, 4, 5, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 17, 19, 20, 21, 23, 24, 28, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 48, 49, 51, 52, 54, 55, 56, 57, 59, 60, 63, 65, 66, 67, 68, 69, 71, 72, 73, 74, 76, 77, 78, 79, 80, 81, 83, 84, 85, 86, 87, 88, 89, 90, 91, 93, 94, 95, 96

75

≤0.300 6, 7, 9, 16, 22, 25, 26, 27, 29, 38, 50, 58, 62, 64, 70, 75, 82 17

Negatif 18, 53, 61, 92 4

Total 96

Dari hasil perhitungan korelasi item total, maka diperoleh 75 item

skala stres yang sahih untuk penelitian dan 21 item yang gugur. Berikut ini

(61)

41

Tabel 3.4 Item yang Sahih dan Gugur Pada Skala Stres

No Aspek

No.Item Sahih No.Item Gugur Jumlah Item

Dari 75 item yang lolos, peneliti melakukan penyetaraan jumlah

item. Item yang diikutkan sebagai bagian skala dalam bentuk final untuk

penelitian adalah 68 item dengan reliabilitas yang diperoleh lebih tinggi.

Item yang sengaja digugurkan tersebut dipilih berdasarkan nilai korelasi

item total (rit) yang paling rendah per aspeknya. Penyetaraan jumlah item

ini dilakukan agar jumlah item pada tiap aspek menjadi seimbang dan

proporsional. Asumsinya ialah masing-masing aspek menyumbangkan

nilai yang sama untuk mengukur stres sehingga jumlah itemnya harus

(62)

42

terlalu banyak, yang memungkinkan subyek mengeluh atau merasa bosan

saat mengisi kuisioner.

Menyetarakan jumlah item dilihat dari aspek yang mempunyai

jumlah item terkecil. Aspek yang memiliki jumlah item terkecil yaitu 17

berarti semua aspek hanya diambil 17 item saja. Jadi jumlah item yang

digunakan dalam penelitian ini sejumlah yaitu 17x4 = 68.

Peneliti kemudian mengolah lagi 68 item yang akan dipakai dalam

penelitian untuk melihat apakah koefisien korelasi telah diatas 0.30. Hasil

menunjukkan bahwa tidak ada lagi item yang memiliki koefisien korelasi

dibawah 0.30. Artinya, 68 item ini yang akan dipakai pada skala

penelitian. Dari pengolahan data tersebut diperoleh skor korelasi item

berkisar antara 0.330 – 0.769. Distribusi item skala stres setelah uji coba

(63)

43

Tabel 3.5 Distribusi Item Skala Stres Kerja Untuk Skala Penelitian

No. Aspek No.Item Valid Jumlah

Keterangan : () no item pada skala uji coba

3. Reliabilitas

Reliabilitas pada alat ukur menunjukkan sejauh mana alat ukur

tersebut dapat dipercaya atau konsisten. Reliabilitas tersebut diperoleh

melalui konsistensi skor subyek yang diukur dengan cara yang sama atau

di ukur dengan alat setara pada kondisi yang berbeda (Suryabrata, 1998).

Reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas yang angkanya

Gambar

Gambar 1. Stres dan Kinerja
Gambar 2. Skema Tingkat Stres Siswa SMA Kelas XII Dalam Menghadapi Ujian Nasional
Tabel 3.1 Skor Penilaian Skala Stres
Tabel 3.2 Blue Print  Skala Stres (sebelum uji coba)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sikap GM dalam persiapan ujian nasional mata pelajaran matematika bisa dilihat dari kerajinan dia yang selalu mengerjakan soal dari guru matematika. GM tidak

Diharapkan siswa lebih aktif lagi dalam mengerjakan soal, biasakan bertanya jika mengalami kesulitanu untuk sekedar fokus dalam menghadapi ujian nasional setidaknya

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesulitan belajar matematika yang dialami oleh siswa untuk menyelesaikan soal-soal Ujian Nasional berada pada kategori sedang;

Ujian Nasional merupakan alat untuk mengukur seberapa jauh penguasaan siswa atas materi pelajaran yang telah dipelajari selama kurun waktu tertentu, selain itu

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membuktikan adanya pengaruh kecerdasan spiritual terhadap kesiapan belajar menghadapi Ujian Nasional pada siswa kelas

Seringkali siswa kelas XII memiliki anggapan bahwa siswa tidak memiliki kompetensi dan pengetahuan yang cukup untuk mengerjakan soal – soal ujian dengan baik dan mendapatkan nilai

Terdapat hubungan antara tipe kepribadian introvert dan ekstrovert dengan tingkat kecemasan pada siswa kelas XII SMA Negeri 01 Capkala dalam menghadapi ujian

Ujian Nasional merupakan alat untuk mengukur seberapa jauh penguasaan siswa atas materi pelajaran yang telah dipelajari selama kurun waktu tertentu, selain itu