BAB II KAJIAN TEOR
B. Dinamika Kehidupan Mahasiswa
2. Dinamika Sosial
Individu atau remaja pada dasarnya berada dalam situasi sosial. Situasi sosial yang merangsang individu sehingga individu bertingkah laku (Siti Partini, 1984:16). Siti Partini (1984:18) mengungkapkan bahwa hubungan manusia satu dengan manusia yang lain berada dalam
suatu situasi yang disebut “situasi sosial”. Dalam situasi sosial terdapat
empat jenis hubungan antara individu dengan lingkungan sosialnya, Yaitu individu dapat bertentangan dengan lingkungan sosialnya, individu dapat menggunakan lingkungan sosialnya, individu dapat berpartisipasi dengan lingkungan sosialnya, individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya (Abu Ahmadi, 2002:77).
Situasi sosial merupakan suatu kondisi tertentu dimana berlangsung hubungan antara individu satu dengan individu lain atau saling terjadi hubungan antara dua individu atau lebih (Siti Partini, 1984:18). Situasi sosial ini dapat dibedakan atas:
a. Togetherness situation atau situasi kebersamaan yaitu situasi dimana sejumlah individu berkumpul. Situasi ini berupa situasi dimana sejumlah individu berkumpul pada suatau tempat dan waktu tertentu.
b. Group situation disebut juga situasi kelompok atau kelompok sosial. Ini merupakan bentuk situasi sosial dimana terdiri dari dua atau lebih kindividu yang mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga diantara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur, dan norma-norma tertentu yang khas bagi kelompok itu.
Menurut Rita Eka Izzaty, dkk. (2008:137) pada usia remaja pergaulan dan interaksi sosial dengan teman sebaya sudah bertambah luas dan komplek dibandingkan dengan masa sebelumnya. Perluasan intelektual juga banyak didapat remaja dari interaksinya dalam berdiskusi, berdebat memecahkan masalah denga kelompoknya. Rita, dkk. menambahkan dalam bahwa dalam pergaulan agar seorang remaja dapat diterima kelompok sosialnya dengan baik diperlukan kompetensi sosial berupa kemampuan dan keterampilan dalam berhubungan dengan orang lain.
Keberhasilan dalam hubungan kelompok sosial akan menambah rasa percaya diri pada diri remaja, dan ditolak dalam kelompok merupakan hukuman yang paling berat bagi remaja, oleh karenanya setiap remaja akan berusaha untuk selalu diterima dengan baik oleh kelompok sosialnya. Menurut Rita Eka Izzaty, dkk. (2008:138) penerimaan sosial kelompok sangat tergantung oleh: kesan pertama perkenalan, penampilan yang menarik, partisipasi sosialnya, perasaan humor yang dimiliki, keterampilan berbicarqa dan kecerdasan seseorang.
Dalam kehidupan sosial remaja, perkembangan pola orientasi sosialnya mengikuti suatu pola tertentu. Broson (Rita Eka Izzaty, dkk. 2008:138) menyimpulkan adanya tiga pola orientasi sosial, yaitu:
a. Withdrawal vs. Expansive
Anak yang tergolong withdrawal adalah anak yang memiliki kecenderungan menarik diri dalam kehidupan sosial, sehingga dia lebih senang hidup menyendiri. Sebaliknya anak yang expansive suka menjelajah, mudah bergaul dengan orang lain sehingga pergaulanya luas.
b. Reactive vs Aplacidity
Anak yang reactive pada umumnya memiliki kepekaan sosial yang tinggi sehingga mereka banyak kegiatan, sedangkan anak yang aplacidity mempunyai sifat acuh tak acuh bahkan tak peduli dengan kegiatan sosial. Akibatnya mereka terisolir dalam pergaulan sosial.
c. Passivity vs Dominant
Anak yang berorientasi passivity sebenarnya banyak mengikuti kegiatan sosial namun mereka cukup puas sebagai anggota kelompok saja, sebaliknya anak yang dominant mempunyai kecenderungan menguasai dan mempengaruhi teman-temannya sehingga memiliki motivasi yang tinggi untuk menjadi pemimpin.
Perkembangan sosial anak telah dimulai sejak bayi, kemudian pada masa kanak-kanak dan selanjutnya pada masa remaja (Rita Eka
Izzaty, dkk. 2008:139). Rita Eka Izzaty, dkk. menambahkan tugas perkembangan sosial remaja memiliki tujuan antara lain:
a. Memperluas kontak sosial
Remaja cenderung memilih teman yang memiliki nilai-nilai yang sama, yang dapat memahami, membuiat rasa aman, dan mereka dapat mempercayakan pembicaraan yang tidak dapat mereka ungkapkan kepada orang tua
b. Mengembangkan identitas diri
Dalam kehidupan remaja, pola pikir seorang remaja cenderung ingin menjawab pertanyaan tentang jati diri dan bagaimana dirinya menjadi diri yang diharapkan.
c. Menyesuaikan dengan kematangan seksual
d. Belajar menjadi orang dewasa
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari tugas perkembangan sosial remaja adalah untuk memperluas kontak dengan sosial sehingga remaja dapat mengembangkan identitas dirinya agar dapat menjadi diri yang diharapkan sesuai dengan kematangan sosial guna belajar untuk menjadi orang dewasa yang mampu diterima dengan baik pada lingkungan atau kelompok sosialnya.
Dalam kehidupan bersosial remaja, sikap merupakan masalah yang dipandang sebagai gambaran tindakan atau jawaban tertentu dari
seseorang yang merupakan keseluruhan dari interaksi seseorang terhadap orang lain atau objek tertentu yang saling berhubungan (Siti Partini, 1984:74). Dijelaskannya lagi sikap terbentuk dari berbagai macam faktor dan didalamnya faktor lingkungan sosial dan kebudayaan memberikan pengaruh besar terhadap masisng-masing individu, sehingga lingkungan sosial dan kebudayaan yang berbeda akan menghasilkan tingkahlaku ataupun sikap yang berbeda pula.
Sikap merupakan kesiapan merespon secara konsisten dalam bentuk positif atau negatif terhadap objek atau situasi (John Harvey dan William Smith, dalam Abu Ahmadi 2002:164). Sikap merupakan tingkatan kecenderungan yang bersifat positif atau negatif yang berhubungan dengan objek psikologi seperti: simbol, kata-kata, slogan, orang, lembaga, ide, dsb. orang dikatakan memiliki sikap positif terhadap objek apabila dia suka atau memiliki sikap yang favorable. Dan sebaliknya apabila individu tidak suka maka dia akan memiliki sikap negatif atau unfavorable terhadap objek (Thurstone, dalam Abu Ahmadi, 2002:163).
Zimbarbo dan Ebbesen (Abu Ahmadi, 2002:163) menerangkan bahwa sikap adalah suatu predisposisi (keadaan mudah terpengaruh) terhadap seseorang, ide atau objek yang berisi komponen-komponen cognitive, affective, dan behavior. Sedangkan menurut D. Krech dan RS. Crutchfield (Abu Ahmadi, 2002) menjelaskan bahwa sikap adalah
organisasi yang tetap dari proses motifasi, emosi, persepsi, atau pengamatan atas suatu aspek dari kehidupan individu.
Menurut Siti Partini sikap bukan pembawaan dari lahir melainkan hasil pengaruh dari lingkungan yang berarti sikap ini dapat dipelajari. Pengaruh lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan kebuidayaan, lingkungan sosial, lingsungan pendidikan dan sebagainya. Siti Partini (1984:82) menjelaskan pembentukan dan perubahan sikap timbul karena stimulus, terbentuknya sikap itu banyak dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan kebudayaan misalnya: keluarga, norma kelompok, golongan agama, dan adat istiadat.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sikap merupakan pembawaan dari interaksi dengan individu lain atau kelompok sosial berupa respon dalam bentuk positif dan negatif yang dipengaruhi oleh objek tertentu seperti cognitive, affective dan behavior yang mempengaruhi emosi, motifasi, serta persepsi individu sehingga menghasilkan tingkah laku yang disebut sikap.
Dalam diri individu ada sesuatu yang menentukan perilaku yang bekerja dengan cara tertentu untuk mempengaruhi perilaku tersebut, penentu perilaku ini disebut dengan motif (Siti Partini, 1984:105). Siti Partini menambahkan lagi motif merupakan sesuatu yang menimbulkan perilaku pada organisme, motif tidak sealalu dapat diamati dari perilaku, atau dapat dikatakan bahwa perilaku yang nampak tidak selalu menggambarkan motif seseorang. Oleh karena itu seseorang bisa
memahami mengapa orang lain melakukan suatu hal kalau seseorang itu mampu memahami motif yang mendasarinya.
Menurut Landzey Hall dan Thomson (Siti Partini, 1984:105) motif adalah sesuatu yang menimbulkan tingkah laku. Menurut Atkinson (Siti Partini, 1984:105) motif adalah disposisi laten yang berusaha dengan sekuat tenaga menuju ke tujuan tertentu, tujuan ini bisa berupa prestasi, ifiliasi ataupun kekuasaan.
Gerungan (Siti Partini, 1984:105) menerangkan bahwa motif adalah penggerak atau pendorong dalam diri seseorang manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu. Abu Ahmadi (2002:191) menjelaskan motif sebagai dorongan yang sudah terikat pada suatu tujuan, motif menunjuk hubungan sistematik antara suatu respon atau suatu himpunan respon dengan keadaan dorongan tertentu, dan apabila dorongan dasar itu bersifat bawaan maka motif itu hasil proses belajar.
Melihat pengertian motif dari beberapa ahli diatas dapat disimpulkan bahwa motif adalah sesuatu yang mampu membentuk tujuan seseorang sehingga mengakibatkan seseorang memiliki tingkah laku tertentu untuk mewujudkan tujuannya. Motif timbul karna adanya kebutuhan kebutuhn sosial ataupun kebutuhan prinadi. Kebutuhan sosial ini meliputi interaksi denga kelompok lain, organisasi, dan lain lain.
Dalam menjalin hubungan sosial tentunya seseorang tidak ingin mengalami kendala atau masalah sosial, masalah sosial ini bisa disebut
dengan prasangka sosial. Prasangka sosial adalah suatu sikap negatif yang diperlihatkan individu atau kelompok terhadap individu lain atau kelompok lain (Siti Partini, 1984:120). Lebih lanjut Siti Partini (1984) mengatakan prasangka timbul dari adanya dimana perbedaan ini menimbulkan perasaan superior. Perbedaan yang dimaksud meliputi: perbedaan fisik, lingkungan geografis, kekayaan, status sosial, kepercayaan/agama, dan norma sosial. Prasangka juga timbul karena kesan menyakitkan atau pengalaman yang tidak menyenangkan. Prasangka juga timbul karena adanya anggapan yang sudah menjadi pendapat umum atau kebiasaan di dalam lingkungan tertentu.
Menurut Siti Partini (1984:129) prasangka pada diri seseorang atau kelompok itu dapat dihilangkan sesuai derajat atau tebal tipisnya prasangka. Karena sebenarnya prasangka itu adalah salah sangka atau miss komunikasi. Oleh karena itu prasangka dapat dikurangi atau dihilangkan dengan beberapa cara berikut:
a. Usaha preventif: usaha dimana kita mencegah agar diri sendiri atau kelompok terkena prasangka dari orang lain atau melakukan prasangka pada orang lain. Menciptakan suasana yang damai, tenteram, dan jauh dari rasa permusuhan.
b. Usaha curatif: usaha untuk menyembuhkan orang lain yang terkena prasangka. Usaha disini berupa menyadarkan orang yang terkena prasangka maupun orang yang memiliki prasangka.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahawa prasangka atau perilaku prasangka itu dapat kita cegah dan kita hilangkan, terutama semuanya harus melalui kesadaran oleh setiap manusia yang mengerti akan kaidah hidup bersosialisasi atau hidup bersosial.
Dalam kehidupan remaja, penerimaan diri pada komunitas atau kelompok sisoal merupakan hal yang penting. Penolakan terhadap remaja oleh lingkungan sosial atau kelompok merupakan kegagalan dalam membina hubungan baik remaja dengan kelompoknya. Menurut Hurlock (Rita Eka Izzaty, dkk. 2008:142) faktor yang mempengaruhi penerimaan sosial remaja adalah:
a. Kesan pertama yang menyenangkan sebagai akibat dari penampilan yang menarik perhatian, sikap yang tenang dan gembira.
b. Memiliki reputasi sebagai orang yang suportif, menyenangkan. c. Penampilan diri sesuai dengan penampilan teman sebaya.
d. Perilaku sosial yang ditandai oleh kerjasama, tanggung jawab, panjang akal, kesenangan dengan orang lain, bijaksana serta berperilaku sopan.
e. Matang, terutama dalam pengendalian emosi serta kemauan untuk mengikuti peraturan kelompok.
f. Memiliki sikap kepribadian yang menimbulkan penyesuaian sosial yang baik seperti sifat-sifat jujur, setia, tidak mementingksn diri sendiri dan terbuka.
g. Status ekonomi yang sama atau sedikit diatas anggota lain dalam kelompok dan hubungan yang baik dengan anggota-anggota keluarga.
h. Tempat tinggal yang dekat dengan anggota kelompok sehingga mempermudah hubungan dan partisipasi dalam berbagai kegiatan kelompok.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahawa faktor yang mempengaruhi penerimaan seorang remaja dalam lingkungan sosial
adalah seorang remaja hendaknya memiliki sikap yang menyenangkan, matang dalam pengendalian diri atau pengendalian emosinya, jujur dan bertanggung jawab atas dirinya dan kelompok sosialnya, serta mempunyai penyesuaian diri terhadap lingkungan sosialnya sehingga menimbulkan rasa aman dan menyenangkan bagi lingkungan atau kelompok sosialnya.
Kehidupan sosial bukan hanya terjadi dalam lingkup organisasi ataupun kelompok saja. Kehidupan sosial yang banyak ditemui dalam ruang lingkup kehidupan sosial remaja adalah kehidupan sosial dengan lawan jenis, atau bisa disebut dengan ketertarikan antar pribadi atau ketertarikan antar lawan jenis atau persahabatan. Masa remaja adalah masa dimana seseorang mulai mengenal lawan jenis sebagai teman akrabnya baik yang sebagai teman akrab atau teman yang mereka sukai. Dalam kehidupan remaja kebanyakan orang sudah mengalami masa dimana ketertarikan kepada lawan jenis yang menumbuhkan rasa cinta ataupun sebaliknya dimana pada masa remaja mengalami penolakan atau dibenci.
Persahabatan merupakan konsep sosial yang murni, dimana persahabatan atau hubungan sosial antar remaja menuntut pemeliharaan dalam semua interaksinya, interaksi yang mengabaikan pemeliharaan akan mempengaruhi keharmonisan persahabatan atau hubungan (Siti Partini, 1984:140). Siti Partini (1984:14) menerangkan bahwa persahabatan timbul oleh adanya persamaan, dua orang yang semula
hanya berhubungan sebagai teman biasa akan berkembang menjadi persahabatan karena adanya persamaan diantara keduanya, misalnya: hoby, pola berfikir yang sama, keinginan atau cita-cita, nasib, dsb.
Persahabatan dan hubungan pertemanan sebenarnya hampir sama, Menurut Suzanne Kurth (Siti Partini, 1984:14) Persahabatan adalah suatu hubungan antar pribadi yang akrab atau intim yang melibatkan setiap individu sebagai suatu kesatuan. Sedangkan hubungan pertemanan adalah hasil dari suatu hubungan formal dan suatu tingkat permulaan didalam perkembangan suatu persahabatan. Artinya hubungan pertemanan merupakan permulaan dari lahirnya hubungan persahabtan, dan hubungan pertemanan hanya bersifat formal dalam ruang lingkup sosial yang luas dan tidak masuk pada hubungan intim antar individu.
Tak hanya sebatas hubungan antar sosial dan kelompok saja, kehidupan sosial remaja juga terdiri dari kehidupan sosial dalam keluarga. Keluarga merupankan unit sosial terkecil dari kehidupan sosial dalam masyarakat. Dalam keluarga terdiri dari ayah sebagai kepala keluarga, ibu sebagai ibu rumah tangga, anak sebagai anggota keluarga. Keluarga merupakan unit sosial terkecil sebagai landasan seorang individu belajar dalam hidup bersosial dalam interaksi sosial kecil antar sesama anggota keluarga.
Dalam lingkungan keluarga tugas orang tua yang paling utama adalah mendidik anaknya. Sedangkan tugas utama seorang anak adalah untuk membanggakan orang tuanya. Faktor yang mempengaruhi
keberhasilan anak dalam karirnya salah satunya adalah dukungan orang tua. Dukungan yang baik dan doa yang baik kepada anak akan memberi motifasi dan semangat belajar bagi anak. Menurut J. Verkuyl (Siti Partini, 1984:152) Keluarga yang memberikan rasa aman, damai, kasih sayang, cinta dan kemesraan kepada anggota keluarganya akan mempengaruhi anak dalam perkembangan pendidikan dan karirinya. Karena anak akan merasa tentram dan damai serta tidak merasa kesepian apabila mengalami masalah dengan lingkungan belajarnya.
Perkembangan anak sangat dipengaruh oleh peran orang tua dalam memperlakukan anak. Abu Ahmadi (2002:247) menjelaskan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan remaja.
a. Perimbangan perhatian
Yang dimaksud perimbangan perhatian adalah perimbangan perhatian dari orang tua atas tugas- tugasnya. Tugas yang diberikan pada anak harus seimbang dan sesuai dengan porsinya. Artinya anak membutuhkan staabilitas keluarga, pendidikan, serta pemeliharaan psikis dan religiusitas.
b. Keutuhan keluarga
Kecenderungan keluarga broken home perhatian terhadap anaknya kurang. Sehingga anak kurang kasih sayang dari keluarganya hal ini dapat menyebabkan kenakalan pada remaja.
c. Status sosial
Status sosial mempengaruhi tingkah laku dan pengalaman anak. Status sosial adalah kedudukan orang tua dalam kelompok atau lingkungan masyarakat. Secara sederhana status sosial di indonesia dapat dibagi menjadi petani, pegawai, angkatan bersenjata, pedagang. Dalam hal ini memiliki kaitan dengan keadaan ekonomi keluarga. Keluarga yang memiliki penghasilan cukup akan lebih mampu memberikan kebutuhan bagi anaknya, begitu sebaliknya.
d. Besar kecilnya keluarga
Besar kecilnya keluarga berpengaruh terhadap perkembangan anak. Pada keluarga besar anak sudah biasa bergaul dengan orang lain, sudah biasa memperlakukan dan diperlakukan orang lain. Daan sikap toleransi berkembang sejak kecil.