BAB II TINJAUAN TEORI
2.5 Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak Dan
a. Visi yaitu menjadi Kota Masa Depan yang Multikultural, Berdaya Saing, Humanis, Sejahtera dan Religius
b. Misi
1. Kerjasama dengan menumbuh kembangkan stabilitas, kemitraan, partisipasi dan kebersamaan dari seluruh pemangku kepentingan pembangunan kota.
2. Kreatifitas dan Inovasi dengan meningkatkan efisiensi melalui deregulasi dan debirokratisasi sekaligus penciptaan iklim investasi yang semakin kondusif termasuk pengembangan kreatifitas dan inovasi daerah guna meningkatkan kemampuan kompetitif serta komparatif daerah.
3. Kebhinekaan dengan mengembangkan kepribadian masyarakat kota bersarakan etika dan moralitas keberagaman agama dalam bingkai kebhinekaan.
4. Penanggulangan Kemiskinan dengan meningkatkan percepatan dan perluasan program penanggulangan kemiskinan.
5. Multikulturalisme dengan menumbuhkembangkan harmonisasi, kerukunan, solidaritas, perstuan dan kesatuan serta keutuhan sosial, berdasarkan kebudayaan daerah dan identitas lokal multikulturalisme.
6. Tata Ruang Kota yang Konsisten dengan menyelenggarakan tata ruang kota yang konsisten serta didukung oleh ketersediaan infrastruktur dan utilitas kota yang semakin modern dan berkelanjutan.
7. Peningkatan Kesempatan Kerja dengan mendorong peningkatan kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat melalui peningkatan taraf pendidikan dan kesehatan masyarakat secara merata dan berkeadilan.
8. Smart City dengan mengembangkan Medan sebagai smart city.
(https://dp3apm.pemkomedan.go.id/site/ )
2.5 Definisi Konsep
Melalui konsep, peniliti diharapkan akan mnyederhanakan pemikirannya dengan menggunakan satu istilah untuk beberapa kejadian yang berkaitan satunbdengan yang lainnya.oleh karena itu, untuk mendapatkan batasan yang jelas dari masing-masing konsep yang akan di teliti, maka penulis mengemukakan definisi konsep dari penelitian, yaitu:
1. Efektivitas adalah kemampuan organisasi dalam hal ini Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak Dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Medan untuk mencapai tujuannya yang meliputi: tujuan yang rasional, hubungan manusia dalam organisasi, model system terbuka dan model proses internal (informasi dan komunikasi).
2. Tindakan kekerasan terhadap perempuan adalah segala tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan yang berakibat atau kecenderungan untuk mengakibatkan, kerugian dan penderitaan fisik, seksual, maupun psikologis terhadap perempuan. Termasuk didalamnya ancaman, pemaksaan maupun secara sengaja
membatasi kebebasan perempuan. Tindakan kekerasan ini dapat terjadi dalam domestik ataupun publik.
2.6. Hipotesis Kerja
Hipotesis kerja adalah hipotesis yang sebenarnya asli bersumber dari kesimpulan teoritik (Tatang 2000:184). Hipotesis kerja disusun berdasarkan atas teori yang dipandang sangat menentukaan jawaban sementara terhadap penelitian yang akan dilakukan. Dalam penelitian ini, lebih jelasnya penulis merumuskan hipotesis kerja sesuai dengan teori Quinn dan Rorhbaugh, yaitu “Efektivitas Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak Dan Pemberdayaan Masyarakat Dalam Penanganan Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan Di Kota Medan “ terkait dengan tujuan yang rasional,hubungan manusia dalam organisasi, model sistem terbuka dan model proses internal (informasi dan komunikasi).
BAB III
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini peneliti memakai Penelitian deskriptif. Jenis ini adalah suatu cara yang digunakan untuk memecahkan masalah yang ada pada masa sekarang berdasarkan fakta dan data-data yang ada. Penelitian ini dibuat untuk memberikan gambaran yang lebih detail mengenai suatu gejala atau fenomena.
Tujuan dasar penelitian deskriptif ini adalah membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta- fakta, sifat-sifat, serta hubungan antara fenomena yang diselidiki. Jenis penelitian ini tidak sampai mempersoalkan jalinan hubungan antara variabel yang ada, tidak dimaksudkan untuk menarik generalisasi yang menjelaskan variable-variabel yang menyebabkan suatu gejala atau kenyataan sosial. Karenanya pada penelitian deskriptif tidak menggunakan atau tidak melakukan pengujian hipotesa seperti yang dilakukan pada penelitian ekspalanatif berarti tidak dimaksudkan untuk membangun dan mengembangkan perbendaharaan teori.
3.1 Bentuk Penelitian
Studi ini pada dasarnya bertumpu pada penelitian kualitatif. Aplikasi penelitian kualitatif ini adalah konsekuensi metodologi dari penggunaan metode deskriptif.
Menurut Patton (dalam Wirawan, 2011:154) data kualitatif adalah:
“data yang terdiri dari deskripsi rinci mengenai situasi, kejadian- kejadian, orang, interaksi-interaksi dan perilaku-perilaku terobservasi, kutipan-kutipan langsung dari orang mengenai pengalaman mereka, sikap, kepercayaan, dan pikiran; kutipan atau
keselurushan bagian dari dokumen- dokumen, koresponden, rekaman, dan kasus-kasus sejarah.”
Deskripsi rinci, kutipan-kutipan langsung, dan dokumentasi kasus kualitatif merupakan data dari pengalaman peneliti sendiri. Data dikumpulkan sebagai narasi terbuka tanpa berupaya menyesuaikan dengan aktivitas program atau pengalaman orang disesuaikan dengan kategori-kategori atau standar-standar yang ditentukan sebelumnya seperti pilihan-pilihan informan. Penelitian deskripsi ini akan membatu peneliti untuk mendeskripsikan ke-efetivitasan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak Dan Pemberdayaan Masyarakat Dalam Penanganan Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan Di Kota Medan dengan melihat model sistem rasional yang menekankan pada birokrasi dan manajemen ilmiah; rumusan tujuan, perencanaan, dan evaluasi;
terakhir produktivitas dan efisiensi.
3.2 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian merupakan tempat dimana peneliti melakukan penelitian menangkap fenomena atau peristiwa yang sebenarnya terjadi dari objek yang diteliti dalam rangka mendapatkan data-data yang akurat. Lokasi penelitian ini yakni :
3.2. 1. Letak geografis yaitu di Kota Medan. Penulis mengambil lokasi penelitian ini dikarenakan di Kota Medan tindak kekerasan terhadap perempuan tergolong cukup tinggi dan kasus tindak kekerasan perempuan semakin meluas pada saat ini. Dalam hal ini Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Medan. Dinas P3APM menyampaikan beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh pemerintahan Kota Medan yaitu, masih tingginya kekerasan perempuan dan anak serta pelayanan yang belum optimal bagi perempuan dan anak korban kekerasan; masih rendahnya ketersediaan data informasi gender dan anak;
masih rendahnya perwakilan perempuan di legislative; rendahnya koordinasi antar instansi atau lembaga terkait baik ditingkat pusat maupun daerah, masih rendahnya penintegrasian PUG dan PUH dalam perencanaan penganggaran; pelaksanaan, monitoring dan evaluasi terhadap program pembangunan.
Maka Peneliti berfokus pada bagaimana Efektivitas Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak Dan Pemberdayaan Masyarakat Dalam Penanganan Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan Di Kota Medan sebagai kajian penelitan ( Wawancara Dan Prapenelitian 20 Maret 2020 ).
3.2. 2. Unit penelitian yaitu di Dinas pemberdayaan perempuan, perlindungan anak dan pemberdayaan masyarakat Kota Medan yang beralamat di jalan Jenderal Besar A.H.
Nasution No. 112, Kwala Bekala, Kec. Medan Johor,. Penulis mengambil lokasi penelitian ini tidak bisa digunakan salah satu badan pemerintah yang melakukan pemberdayaan perempuan tingkat Kota Medan adalah Dinas PP & PA. Dinas ini memegang peranan yang sangat menentukan dalam hal pemberdayaan perempuan khususnya di Kota Medan.
3.3 Informan Penelitian
Menurut Bungin (2011:50) “informan adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan luas dan mendalam mengenai masalah penelitian”. Informan berfungsi untuk membantu menjaring sebanyak-banyaknya data dan informasi yang akan bermanfaat bagi bahan analisis. Pemilihan informan pada penelitian difokuskan pada representasi atas masalah yang diteliti. Informan harus benar-benar melalui pemilihan yang selektif, informan juga harus mengetahui atau sebagai pelaku yang terlibat langsung dalam permasalahan penelitian.
Untuk mendapatkan data-data dan informasi yang akan dibutuhkan dalam suatu penelitian, dapat diperoeh melalui informan penelitian. Dalam penelitian kualitatif subjek penelitian yang telah tercermin dalam fokus penelitian ditentukan secara
sengaja. Subyek penelitian inilah yang menjadi informan yang akan memberikan berbagai informasi yang akan diperlukan selama proses penelitian (Suyanto, 2005:108)
Untuk memperoleh informasi yang jelas mengenai masalah yang sedang dibahas, maka dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dalam menentukan informan penelitiannya, sehingga dapat diperoleh informasi yang jelas dan dapat dipercaya berupa pernyataan-pernyataan, keterangan ataupun data-data yang dapat membantu dalam mengatasi permasalahan tersebut. Kemudian, menurut Hendarsono (dalam Suyanto 2005: 171-172), adapun informan dalam penelitian ini adalah:
1. Informan kunci (key informan), yaitu mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian. Informan kunci dalam penelitian ini adalah Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Sumatera Utara
2. Informan utama, yaitu mereka yang terlibat secara langsung dalam interaksi sosial yang diteliti. Informan utama dalam penelitian ini adalah Masyarakat dan perempuan korban kekerasan di beberapa wilayah di kota Medan
3. Informan Tambahan, yaitu mereka yang dapat memberikan informasi walaupun tidak terlibat secara lanngsung dalam interaksi sosial yang diteliti. Informan tambahan dalam penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di wilayah yang banyak terjadi kekerasan.
Selanjutnya,untuk menentukan sampel penelitian,selain menggunakan teknik purposive sampling, peneliti juga akan menggunakan teknik snowball sampling.
Menurut Nurdiani (dalam Fitrah & Luthfiah 2017 : 162), “Teknik snowball sampling adalah suatu metode untuk mengidentifikasi, memilih dan mengambil sampel dalam suatu jaringan atau rantai hubungan yang menerus ”. Dengan teknik ini peneliti mendapatkan informasi dari satu informan ke informan lainnya ,sehingga data yang diproleh akan semakin lengkap dan mendalam. Hal tersebut akan membantu peneliti
untuk mendapatkan semakin banyak informasi yang dibutuhkan sehingga data yang didapatkan akan semakin akurat.
Tabel 3.1. Matriks Informan Penelitian N
o
Informan Informasi yang di butuhkan Jumlah 1. Kepala Dinas
Informasi pelaksanaan Teknis yang meliputi model sistem rasional yang berdasarkan produktivitas dan efisiensi di dalamnya tentang aturan-aturan, prosedur-prosedur yang dipakai dan juga kualitas sumber daya Aparatur Sipil Negara apakah mengerti tentang tugas, pokok, dan fungsinya masing-masing serta bertanggung jawab untuk mengerjakan tupoksi yang diberikan, terakhir bagaimana perumusan tujuan, rencana, dan evaluasi dilakukan.
Informasi pelaksanaan Teknis yang meliputi model sistem rasional yang berdasarkan produktivitas dan efisiensi di dalamnya tentang aturan-aturan, prosedur-prosedur yang dipakai dan juga kualitas sumber daya Aparatur Sipil Negara apakah mengerti tentang tugas, pokok, dan fungsinya masing-masing serta bertanggung jawab untuk mengerjakan tupoksi yang diberikan, terakhir bagaimana perumusan tujuan, rencana, dan evaluasi dilakukan.
5
3. Masyarakat dan perempuan korban kekerasan di beberapa wilayah Kota Medan
Informasi mengenai kepuasan penerimaan pelayanan ,pengaduan, pemberdayaan dan pendampingan terhadap korban kekerasan
5
4. Masyarakat yang tinggal di wilayah yang banyak terjadi kekerasan
Informasi mengenai kepuasan penerimaan pelayanan, pengaduan, pemberdayaan dan pendampingan terhadap korban kekerasan
4
Jumlah 15
3.4 Data dan Teknik Pengumpulan Data
3.4.1 Jenis Data
Data merupakan informasi yang dikumpulkan untuk mendukung sebuah penelitian.
Data adalah rekaman atau gambaran atau keterangan suatu hal atau fakta. Data penelitian kualitatif diperoleh dari sumber data dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu metode yang bersifat interaktif dan non-interaktif (Mantja, 2007:52). Teknik interaktif terdiri dari wawancara dan pengamatan berperan serta, sedangkan non interaktif meliputi pengamatan tak berperan serta, analisis isi dokumen, dan arsip. Sumber data penelitian kualitatif adalah manusia dengan perilakunya, peristiwa, arsip, dan dokumen. Adapun data yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu:
1. Data primer yaitu data yang diperoleh peneliti langsung dari obyek yang diteliti.
Data primer dalam penelitian ini dihasilkan melalui wawancara dengan pihak-pihak yang peneliti yakin mampu memberikan informasi sesuai dengan tujuan penelitian
2. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari dokumen, publikasi yang sudah dalam bentuk jadi ataupun melalui bahan kepustakaan.
3.4.2 Teknik Pengumplan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena bertujuan untuk mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan
data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang diharapkan (Sugiyono, 2016:
101). Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan observasi, wawancara, angket dan dokumentasi. Namun dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan melalui tiga metode, yaitu :
1. Observasi
Observasi bertujuan untuk mengamati subjek dan objek penelitian, sehingga peneliti dapat memahami kondisi yang sebenarnya.Pengamatan bersifat non-partisipatif, yaitu peneliti berada di luar sistem yang diamati. Oleh karena itu, peneliti menyusun pedoman observasi sesuai dengan konsep atau variabel yang ada dalam teori yang digunakan dalam membahas permasalahan penelitian.
2. Wawancara
Dengan wawancara, maka peneliti akan mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang informan dalam menginterpretasikan situasi dan fenomena yang terjadi, dimana hal ini tidak dapat ditemukan melalui observasi. Dalam melakukan wawancara, peneliti mempersiapkan pedoman wawancara terstruktur berupa pedoman wawancara yang di susun secara terperinci agar dapat menggali semua informasi yang lengkap dan mendalam.
3. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental seseorang (Sugiyono, 2016:213). Hasil penelitian dari observasi atau wawancara akan lebih kredibel
kalau didukung oleh dokumen-dokumen yang bersangkutan dengan menggunakan pedoman dokumentasi.
3.5 Teknik Analisis Data
Sesuai dengan metode penelitian, teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisa data kualitatif. Teknik analisa data kualitatif dilakukan dengan menyajikan data yang dimulai dengan menelaah seluruh data yang terkumpul, menyusunnya dalam satuan-satuan, yang kemudian dikategorikan pada tahap berikutnya, dan memeriksa keabsahan data serta menafsirkannya dengan analisis sesuai dengan kemampuan daya nalar peneliti untuk membuat kesimpulan penelitian (Moleong, 2007:247). Menurut Miles dan Huberman (1992:16) terdapat beberapa langkah dalam melakukan analisis data yaitu:
1. Reduksi Data
Reduksi data dilakukan dengan merangkum, memilih hal-hal yang pokok, dan menfokuskan pada hal-hal yang penting tentang penelitian dengan mencari tema dengan pola hingga memberikan gambaran yang lebih jelas serta mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data dan selanjutnya mencarinya bila diperlukan.
2. Penyajian Data
Bermakna sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan penarikan tindakan. Setelah langkah pertama selesai, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data dalam penelitian dengan teks yang bersifat naratif, bagan maupun dalam bentuk table sehingga memudahkan peneliti memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami.
3. Penarikan Kesimpulan
Kesimpulan awal yang dikemukakaan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat pada tahap pengumpulan data berikutnya.
Namun, apabila kesimpulan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.
Dengan demikian, peneliti melakukan analisis data dengan terstruktur dengan menyajikan data yang dimulai dengan menelaah seluruh data serta menafsirkannyadengan analisis sesuai dengan kemampuan nalar peneneliti agar data
yang terkumpul dari hasil observasi, wawancara, ataupun kelengkapan dokumen teruji kevalidannya untuk penarikan kesimpulan penelitan.
3.6 Teknik Keabsahan Data
3.6.1 Triangulasi
Dalam Wirawan (2012:156) untuk memastikan data/informasi lengkap dan validitasnya dan reliabilitasnya tinggi, penelitian kualitatif mempergunakan teknik triangulasi (triangulation). Triangulasi adalah suatu pendekatan riset yang memakai suatu kombinasi lebih dari satu strategi dalam satu penelitian untuk menjaring data/informasi. Triangulasi adalah suatu metode yang dipakai dalam metode yang dipakai dalam penelitian kualitatif-sering juga dipakai dalam metode kuantitaif- untuk mengukur validitas dan reabilitas dalam penelitian kualitatif. Triangulasi merupakan sintesis dan integrasi data dari berbagai sumber-sumber melalui pengumpulan, eksaminasi, perbandingan. dan interprestasi. Triangulasi membantu untuk meniadakan ancaman bagi setiap validitas dan reabilitas data, triangulasi tidak hanya membandingkan data dari berbagai sumber data, akan tetapi juga mempergunakan berbagai teknik dan metode untuk meneliti dan menjaring data/informasi dari fenomena yang sama.
Dalam penelitian dapat dipergunakan lima jenis triangulasi,menurut Wirawan (2012: 156-157), yaiitu :
1. Triangulasi data adalah mempergunakan berbagai sumber data/informasi.
Dalam teknik triangulasi ini adalah mengelompokkan para pemangku kepentingan program dan mempergunakannya sebagai sumber/data informasi.
2. Triangulasi peneliti. Teknik triangulasi ini digunakan oleh evaluator atau tim evaluator dalam satu proyek evaluasi. Para evaluator mempergunakan metode kualitatif yang sama, misalnya wawancara, observasi, studi kasus, kelompok kunci atau informan kunci. Temuan dari setiap evaluator dibandingkan, jika temuan dari berbagai evaluator berbeda Satu dama lain maka diperlukan studi lebih lanjut untuk menentukan perbedaan tersebut. Apakah ada kemungkinan perbedaan tersebut dapat diperkecil ?
3. Triangulasi teori. triangulasi teori adalah penelitian dengan mempergunakan berbagai profesional dengan berbagai latar belakang ilmu pengetahuan untuk menilai suatu set data/informasi.
4. Triangulasi metode. Triangulasi metode adalah pemakaian berbagai metode-metode kuantitatif dan /atau metode-metode kualitatif untuk mengevaluasi program.
Jika kesimpulan dari setiap metode sama, maka validitas penelitian ditetapkan.
5. Triangulasi lingkungan. Triangulasi jenis ini mempergunakan berbagai lokasi yang berbeda, altar dan faktor-faktor lainnya yang berhubungan dengan lingkungan dimana penelitian mengambil tempat seperti waktu suatu hari, hari suatu suatu minggu atau musim dalam satu tahun.
Dalam penelitan ini penulis menggunakan jenis triangulasi data. Teknik triangulasi data dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh melalui wawancara antara subjek penelitian yang satu dengan yang lain, kemudian dibandingkan dengan studi dokumentasi yang berhubungan dengan penelitian, metode wawancara dengan metode observasi dan metode dokumentasi.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
4.1.1 Profil DP3APM Kota Medan
Awal dibentuk Kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Dinas Medan adalah pada tahun 2017 yaitu pembangunan sebuah gedung yang berlokasi di Jalan A.H. Nasution No 112 Medan. Yang diresmikan oleh Bapak Dzulmi Eldin selaku Walikota Medan.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 18 tahun 2016 tentang perangkat daerah, maka pemerintah daerah Kota Medan membentuk Peraturan Pemerintah Kota Medan nomor 15 tahun 016 tentang pembentukan perangkat daerah Kota Medan. Turunan dari Peraturan Pemerintah tersebut maka Walikota membuat Peraturan Walikota nomor 1 tahun 2017 tentang kedudukan, susunan organisasi, tugas dan fungsi serta tata kerja perangkat daerah, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Walikota Medan nomr 40 tahun 2017 tentang perubahan atas peraturan Walikota Medan nomor 1 tahun 2017.
Efek dari dikeluarkannya peraturan tersebut adalah gabungan beberapa satuan perangkat kerja daerah (SKPD) salah satunya yaitu Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Medan yang mana dulunya berasal dari 2 (dua) Badan yaitu Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana dan Badan Pemberdayaan Masyarakat.
4.1.2 Visi, Misi Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Medan
a. Visi
Dengan berpedoman pada visi Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Medan dan memperhatikan tugas pokok dan fungsi dalam mendukung pencapaian tujuan dan sasaran RPJMD. Maka visi Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Medan ditetapkan sebagai berikut:
“ Terwujudnya Kesetaraan Gender, Perlindungan Perempuan dan Anak, sert terwujudnya Masyarakat Berdaya, Mandiri, dan Sejahtera”
Kesetaraan gender bermakna setara dan seimbang dan sederajat dalam hubungan peran, kedudukan, fungsi hak dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan. Berarti sederajat dalam perbedaan dan keikutsertaan laki-laki dan perempuan di seluruh bidang kehidupan (public private).
b. Misi
Sejalan dengan visi tersebut, maka misi Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Medan ditetapkan sebagai berikut:
1. Meningkatkan kapasitas kelembagaan di Bidang Pembangunan Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Kesejahteraan Keluarga (capacity building)
2. Membangun jaringan kerja di Bidang Pembangunan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kesejahteraan Keluarga (networking building)
3. Meningkatkan Kesadaran Masyarakat di Bidang Pembangunan Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Kesejahteraan Keluarga (public awearness)
4. Pemantapan Kelembagaan dan Pengembangan Partisipasi Masyarakat 5. Pengembangan Usaha Ekonomi Masyarakat Yang Berdaya Saing.
4.1.3 Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi DP3APM Kota Medan
Sesuai dengan pasal 40 Peraturan Wali Kota Medan Nomor 1 Tahun 2017 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi, dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kota Medan, telah diatur tugas dan fungsi Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Medan.
Tugas Pokok dan Fungsi tertuang dalam Peraturan Wali Kota Medan Nomor 57 Tahun 2017 Tentang Rincian Tugas dan Fungsi Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Medan sebagai berikut :.
Susunan organisasi Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Medan, terdiri atas:
a. Kepala Dinas
b. Sekretaris, membawahi:
a) Sub Bagian Umum b) Sub Bagian Keuangan
c) Sub Bagian penyusun program
c. Bidang kualitas hidup perempuan dan kualitas keluarga, data, dan informasi, membawahkan:
a) Seksi pelembagaan pengarustamaan gender dan pemberdayaan perempuan bidang ekonomi.
b) Seksi pelembagaan pengarustamaan gender dan pemberdayaan perempuan bidang sosial politik dan hukum; dan
c) Seksi pelembagaan pengarustamaan gender dan pemberdayaan perempuan bidang kualitas keluarga, data, dan informasi.
d. Bidang Perlindungan hak perempuan dan perlindungan khusus anak, membawahkan:
a) Seksi Perlindungan hak perempuan b) Seksi Perlindungan khusus anak dan c) Seksi data kekerasan perempuan dan anak.
e. Bidang pemenuhan hak anak,membawahkan:
a) Seksi lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif dan pendidikan ; pemfaatan waktu luang, dan kegiatan budaya;
b) Seksi hak sipil informasi , dan paartisipasi c) Seksi kesehatan dasar dan kesejahteraan.
f. Bidang Pemberdayaan masyarakat, membawahkan : a) Seksi Partisipasi dan lembaga kemasyarakatan
b) Seksi pemberdayaan usaha ekonomi masyarakat dan teknologi tepat guna
c) Seksi pemberdayaan sosial budaya masyarakat dan kesejahteraan keluarga.
g. UPT.
h. kelompok
Tugas Pokok dan Fungsi tertuang dalam Peraturan Wali Kota Medan Nomor 57 Tahun 2017 Tentang Rincian Tugas dan Fungsi Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Medan sebagai berikut :
I. KEDUDUKAN
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Medan merupakan unsur pelaksana Pemerintah Daerah, yang dipimpin oleh kepala dinas yang berkedudukan dibawah dan bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah.
II. TUGAS
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan