• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA"

Copied!
192
0
0

Teks penuh

(1)

EFEKTIVITAS DINAS PEMBERDAYAAN PEREMPUAN, PERLINDUNGAN ANAK DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PEMERINTAH KOTA

MEDAN DALAM PENANGANAN TINDAK KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Pada Program Studi Ilmu Administrasi Publik

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

Disusun Oleh : PUTRI RIZKI

160903023

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2020

(2)
(3)

UNIYTRSITAS SU1UATEUA UTARA

FAKULTAS

IIMU

$OSIAL DAN ILMU

}OLTrIK TEffiAAM $T{PI

ILMTT AI}*IINI$TEASI

r$SLIK

EALAI\&TN PENGESAIIAN

Skripsi ini ielah di pertahankan di depan Panitia Penguji Skripsi Pragram Studi

Ilmu Administrasi Publik Fakullas

llmu

Sosial dan llmu Politik Universitas .lumatera Utara oieh .

Nama : Pulri Rizki

NlM 160903023

irrograir: Studi : Ihilu Administrasi Publik

iudul

:trfektivitas Dinas Pernberdal,-aan Perempuan, perlindungan Llan PemberdaS'aan Masyarakat Pemerintah

Kota

Medan Dalam Penanganan Tindak Kekerasan Terlladap per*mpuan

Yang dilaksanakan pada :

Hari

. Kamis

Tanggal

: i4 Januari}A}l

Waltu : 15.00

-

17.CI0 WIB

Tempat

. Via Apiikasi Zoom lvleeting

P*nitia penguji

Ketua

:

Dr. R. Sally Marisa Sihombing.

M.Sr

(

NrP. 1 9770s052008 12200 1

Anggota

i :

Dr. Tunggul sihombing, M.A

(

..

NrP. i96:03Si 1986S31C27

A*ggota

1I :

Dr. Sirnson Ginting,

S.Sas,l,4PA

(

NIP. 1971 1004200501 1001

i

)

(4)

t

flit L* lUAl{ Pf, RIi Y$,T'{,l,

f

Fexgsn ini s*ya ffi€rtyet*k*& hfuwa :

I.

H*rya trilia *ayq skrip*i

ini

adalah asli ds* ktr.utr psrnnh di*juk*n uatuk mead,*ptk*n g*lnr akad*mil-c {mrj*rs},

kik di

UuivErsitas Sunrstera Utar*

maupun di perguruan tinggr lain

2"

Herya tulis

i*i

edelah aru:ai gsse**fti nrmusen dari prmlitian *ay* w.ndiri

t*nls

ba$tusn Fih*k lain, k**uali ffinlmrr sorea Ferubimbing dan B*r*ea F**guji.

3.

Dal*rn karya

t*li*

ini tida& t*rdapt karya atax pemd*pt yang tetafo ditutris *teu ,lipublikasii:eu slsfu orsrlg

iaie,

keculai s€cana tertutis dengan

j*l*s

{,iseiltrunka$ uobagni fieryIil dal** *askah d*ngan disebutkar ru$$* pmrgnm*g drrn dieantun:karr dalam dsfter purtakn.

4" Pernyutmr ini *rya huat dcngan smu*gguh*ya den apabila dikemudian

kri

tcr&pt pyirnpgasr

dall k*id*kbmrara* datarn pernyatsefl

ini

maka mya b*rs*dia menerirma $enk$i sk&derldl{ benrp* pnc*foutan gelar yang teXah

diproleh karenc ksq,ra tni, $$rte sanksi tainnya sesu*i d**gelr nsilil& yertg beri*ku pdn pergurumr tinggi"

Medan.

It

Januari ?01I Yang Membuat Pernvatann-

(5)

ABSTRAK

Kasus kekerasan terhadap perempuan masih tinggi di Sumut. Lembaga yang ada di mitra FK PUSPA Sumut sepanjang tahun 2019, sedikitnya telah menerima dari jumlah tersebut, daerah yang banyak melaporkan kasus kekerasan terhadap perempuan (KTP ) dan kekerasan terhadap anak (KTA) adalah Kota Medan sebanyak 88 kasus.

Berdasarkan data dari DP3APM pemko Medan ,jumlah kasus kekerasan pada tahun 2020 ada 36 kasus. Dari data tersebut terlihat bahwa pada tahun 2020 kasus kekerasan terhadap perempuan yang ada di Kota Medan mengalami penurunan ,ini terbukti bahwa masih ada kasus yang tersembunyi atau yang belum di laporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan secara rinci Efektivitas Dinas Pemberdayaan Perempuan,Perlindungan Anak Dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Medan Dalam Penanganan Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Dalam mendeskripsikan secara rinci Efektivitas Dinas Pemberdayaan Perempuan,Perlindungan Anak Dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Medan Dalam Penanganan Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan, yaitu menggunakan teori Quinn dan Rorhbough seperti tujuan yang rasional, hubungan manusia dalam organisasi, model sistem terbuka dan model proses internal. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan dokumentasi.

Sebelum ke lapangan peneliti terlebih dahulu menyiapkan dan menggunakan pedoman wawancara, pedoman observasi dan pedoman dokumentasi terlampir.

Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa Efektivitas Dinas Pemberdayaan Perempuan,Perlindungan Anak Dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Medan Dalam Penanganan Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan sudah efektif terkait dengan Model sistem terbuka terlihat dari Dinas P3APM mampu beradaptasi dengan lingkungannya dan juga model proses internal sudah berjalan efektif dalam pertukaran informasi dan komunikasi di DP3APM pemko Medan. Akan tetapi di lihat dari model proses internal dan model hubungan manusia belum efektif, dasar kebijakan sudah jelas tertera di undang-undang dan di laksanakan sesuai SOP dan SPP namun ada beberapa program yang belum terlaksanakan juga dalam pencapaian tujuan sarana dan prasarana kurang termasuk sumber daya manusia. Model hubungan manusia dalam instansi pemerintahan dalam pelayanan yang diberikan kepada masyarakat belum efektif dimana kolaborasi antar bidang dalam penanganan kasus penanganan kekerasan terhadap perempuan belum optimal.

Kata Kunci : Efektivitas, Pelayanan Publik, tindak kekerasan terhadap perempuan

(6)

ABSTRACT

Cases of violence against women are still high in North Sumatra. In 2019, at least this number has received from this number, the area that reports many cases of violence against women (KTP) and violence against children (KTA) is Medan City with 88 cases. Based on data from the DP3APM of the Medan city government, the number of cases of violence in 2020 was 36 cases. From this data, it can be seen that in 2020 cases of violence against women in Medan City have decreased, this is evident that there are still cases that are hidden or that have not been reported. This study aims to determine and describe in detail the effectiveness of the Office of Women's Empowerment, Child Protection and Community Empowerment of the Medan City Government in Handling Violence Against Women.

The research method used is a qualitative research method with a descriptive approach. In describing in detail the effectiveness of the Office of Women's Empowerment, Child Protection and Community Empowerment of the Medan City Government in Handling Violence Against Women, namely using Quinn and Rorhbough's theories such as rational goals, human relations in organizations, open systems models and internal process models. The data collection technique was done by means of interviews, observation and documentation. Before going to the field, the researchers prepared and used the interview guidelines, observation guidelines and attached documentation guidelines.

From the research results, it can be seen that the effectiveness of the Office of Women's Empowerment, Child Protection and Community Empowerment of the Medan City Government in Handling Violence Against Women has been effective in relation to the open system model seen from the P3APM Office being able to adapt to its environment and also the internal process model that has been effective in exchange of information and communication at DP3APM Pemko Medan. However, it is seen from the internal process model and the human relations model that it is not yet effective, the basic policy is clearly stated in the law and implemented according to the SOP and SPP but there are several programs that have not been implemented as well in achieving the goals of facilities and infrastructure, including lack of human resources.

. The model of human relations in government agencies in the services provided to the community has not been effective where collaboration between fields in handling cases of handling violence against women has not been optimal.

Keywords : Effectiveness, Public Services, acts of violance against women

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Efektivitas Dinas Pemberdayaan Perempuan,Perlindungan Anak Dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Medan Dalam Penanganan Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan”.

Adapun penulisan skripsi ini diselesaikan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Strata Satu (S1) pada Program Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Namun, penulis mengharapkan kritik serta saran yang membangun demi perbaikan skripsi ini. Penyusunan dan penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan bimbingan serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada yang terhormat:

1. Bapak Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum. selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Husni Thamrin, S.Sos., M.SP, selaku Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Dr. Tunggul Sihombing, M.A., selaku Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, dan sekaligus sebagai Dosen Pembimbing Skripsi yang telah memberikan masukan bagi penulis untuk menghasilkan penulisan yang terbaik.

(8)

5. Ibu Dra. Asima Yanty Sylvania Siahaan, M.A., Ph.D selaku Dosen Penguji Seminar Proposal Skripsi penulis yang telah memberikan masukan bagi penulis dalam melakukan penulisan skripsi ini.

6. Seluruh dosen pada Program Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang telah memberikan ilmu-ilmu yang relevan selama masa perkuliahan.

7. Pegawai administrasi pada Program Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang telah membantu pengurusan administrasi penulis selama masa perkuliahan.

8. Seluruh Pegawai Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak Dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Medan atas dukungan dan bantuannya dalam membantu penulis untuk melengkapi data dan informasi yang dibutuhkan.

9. Seluruh informan yang sudah bersedia untuk diwawancarai dan membantu penulis dalam proses menyelesaikan penulisan Skripsi ini.

10. Orang tua tercinta Papa dan Mama, yang selalu memberikan semangat, nasihat, doa dan dukungan baik dari segi moril dan materil.

11. Terimakasih kepada senior yaitu Johannes Felix sitompul, Irna Putri yang telah banyak memberikan nasehat dan saran kepada penulis.

12. Kepada teman seperjuangan di Administrasi Publik Fany Aurellya, Anisa Adiba, Reza Irfanka, Karuniaman Halawa, dan terkhusus untuk Garin Nugroho yang menjadi teman untuk berdiskusi dan bertukar pikiran.

(9)

Terimakasih untuk kalian yang menjadi tempat berbagi cerita dan selalu mendukung.

13. Teman-teman seperjuangan AP 2016 yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah menemani masa-masa perkuliahan ini dan juga banyak membantu dalam penyusunan skripsi terima kasih.

Medan, 27 Desember 2020 Penulis

Putri Rizki

(10)

DAFTAR ISI

ABSTRAK... i

ABSTRACT... ii

KATA PENGANTAR... iii

DAFTAR ISI... vi

DAFTAR DIAGRAM... viii

DAFTAR TABEL... ix

DAFTAR GAMBAR... x

DAFTAR LAMPIRAN... xi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang……….………... 1

1.2 Rumusan Masalah………...………...8

1.3 Tujuan Penelitian………...………….………... ... 8

1.4 Manfaat Penelitian………...……….………... ... 8

1.4.1 Bagi Penulis...……….………...8

1.4.2 Bagi Kalangan masyarakat……….……..…...………... 9

1.4.3 Bagi dinas pemberdayaan perempuan……..………...…………...…...9

BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 Konsep Efektivitas…………..….………...10

2.1.1 Definisi Efektivitas...………..…….………...10

2.1.2 Pendekatan-pendekatan Efektivitas...………...12

2.1.3 Faktor-faktor yang terkait efektivitas…………...………...14

2.2 Kekerasan ...………...………...18

2.2.1 Kekerasan Di Dalam KUHP…...………...20

2.2.2 Pengertian Kekerasan Perempuan………….………...23

2.2.3 Bentuk-bentuk Kekerasan terhadap perempuan………...26

2.3 Pengertian Gender...28

2.4 Pemberdayaan Perempuan……….………...………. …...29

2.4.1 Tujuan Pemberdayaan...31

2.4.2 Langkah-Langkah Pemberdayaan Perempuan...32

2.4.3 Program-Program Pemberdayaan Perempuan ...33

2.4.4 Indikator Pemberdayaan Perempuan...33

2.5 Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak Dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Medan...………...………...34

2.6 Definisi Konsep……….………...35

(11)

2.7 Hipotesis Kerja…………..………... …...36

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Bentuk Penelitian……….………...37

3.2 Lokasi Penelitian………... ...38

3.3 Informan Penelitian………..………...39

3.4 Data dan Teknik Pengumpulan Data………...42 3.4.1 Jenis Data………...42

3.4.2 Teknik Pengumpulan Data………......42

3.5 Teknik Analisis Data…..………...44

3.6 Teknik Keabsahan Data..………... ...45

3.6.1 Triangulasi..………...45

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian...47

4.1.1 Profil DP3APM Kota Medan...47

4.1.2 Visi, Misi DP3APM Kota Medan...48

4.1.3 Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi DP3APM Kota Medan...49

4.1.4 Sarana dan Prasarana DP3APM Kota Medan...53

4.1.5 SOP DP3APM Kota Medan...56

4.1.6 SPP DP3APM Kota Medan...58

4.2 Efektivitas DP3APM dalam penanganan tindak kekerasan terhadap perempuan...63

4.2.1 Model Tujuan Rasional...64

4.2.2 Model Hubungan Manusia...73

4.2.3 Model Sistem Terbuka...82

4.2.4 Model Proses Internal...90

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan...98

5.2 Saran...103

DAFTAR PUSTAKA...106

(12)

Daftar Diagram

Diagram 1.1 Data Korban Kekerasan Terhadap Perempuan di Kota

Medan...5

(13)

Daftar Tabel

Tabel 3.1 Matriks Informan Penelitian...40 Tabel 4.1 Jumlah sarana dan prasarana DP3APM Kota Medan...53

(14)

Daftar Gambar

Gambar 4.1 Struktur organisasi DP3APM Kota Medan...51

Gambar 4.2 Ruang Tunggu...60

Gambar 4.3 Ruang Pelaporan ...61

Gambar 4.4 Contoh SOP DP3APM Kota Medan...68

Gambar 4.5 SPP DPAPM Kota Medan...69

Gambar 4.6 Molin...70

Gambar 4.7 Proses Pelaporan pengaduan kasus kekerasan ...78

Gambar 4.8 Daftar Hadir PNS DP3APM...79

Gambar 4.9 Korban Yang Di Dampingi ke PORLESTABES Medan ...85

Gambar 5.0 kerjasama antara DPPPA Provinsi Sumut dengan DP3APM kota Medan...86

Gambar 5.1 Sosialisasi DP3APM Bersama Lembaga Masyarakat ...86

Gambar 5.2 Contoh SOP DP3APM Kota Medan...92

Gambar 5.3 Komunikasi antara Pegawai dalam Pendampingan...93

(15)

Daftar Lampiran Lampiran 1. Pedoman Wawancara

Lampiran 2. Pedoman Observasi Lampiran 3. Pedoman Dokumentasi Lampiran 4. Transkrip Observasi Lampiran 5. Transkrip Dokumentasi Lampiran 6. Transkrip Wawancara

Lampiran 7. Berita Acara Seminar Proposal Lampiran 8. Surat Izin Penelitian

Lampiran 9. Surat Keterangan Selesai Penelitian

(16)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kekerasan terhadap perempuan masih terjadi di berbagai belahan dunia, seperti di Amerika, Kanada, maupun Indonesia. Hal ini merupakan suatu tindak kriminalitas bagi masyarakat luas dikarenakan masih kentalnya kebudayaan yang membuat para perempuan tidak dapat memperjuangkan hak-hak nya. Kekerasan dalam rumah tangga sudah sering terjadi akan tetapi masih menjadi hal yang tabu dalam lingkungan masyarakat. Tindakan kekerasan terhadap perempuan dapat terjadi dimana saja, kapan saja,dan oleh siapa saja. Dalam hal ini kekerasan banyak terjadi di dalam keluarga dan dari status sosial yang beragam.

Perempuan di berbagai penjuru Eropa dan tempat-tempat lainnya, Senin (25/11) berdemonstrasi untuk menuntut tindakan pemerintah dalam menghadapi penganiayaan terhadap perempuan dewasa dan anak-anak yang meluas. PBB menyatakan sepertiga kaum perempuan mengalami kekerasan fisik atau seksual dalam hidup mereka. Separuh perempuan yang tewas akibat kekerasan adalah korban dari mitra atau anggota keluarga mereka. Badan dunia itu telah menetapkan 25 November sebagai "Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan".

Perempuan di Seluruh Dunia Tuntut Pemerintah Bertindak Akhiri Penganiayaan terhadap Perempuan, sejumlah negara memperingati hari tersebut dengan mengumumkan langkah-langkah untuk melindungi perempuan, sementara yang

(17)

lainnya berusaha membungkam suara perempuan. Berbagai kegiatan untuk menandai

"Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan" berkisar mulai dari protes di jalan-jalan hingga acara renungan serta pameran. Di Belgia, panitia memamerkan sepatu-sepatu merah, perlambang perempuan yang tewas akibat kekerasan. PBB memperingatkan bahwa kekerasan terhadap perempuan harus dihapuskan karena hal tersebut mengancam perdamaian dan keamanan global.

Kekerasan terhadap sesama manusia telah memiliki sumber atau alasan yang bermacam-macam, seperti politik, keyakinan agama, rasisme dan ideologi gender.

Salah satu sumber kekerasan yang diyakini penyebab kekerasan dari laki-laki terhadap perempuan adalah ideologi gender. Sejarah perbedaan gender (gender differences) antara manusia jenis kelamin laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang, oleh karena itu, terbentuknya perbedaan-perbedaan gender disebabkan banyak hal diantaranya, dibentuk, disosialisasi, diperkuat bahkan dikonstruksi secara sosial dan kultural baik melalui ajaran keagamaan maupun negara.

Perbedaan gender tersebut akhirnya dianggap ketentuan Tuhan seolah-olah bersifat biologis yang tidak bisa diubah lagi sehingga perbedaan gender dianggap dan dipahami sebagai kodrat laki-laki dan kodrat perempuan, misalnya masyarakat sering menganggap bahwa, kodrat perempuan adalah mendidik anak, merawat anak, dan mengelola kebersihan dan keindahan rumah tangga.

Saraswati(2006:14-15), mengatakan bahwa perbedaan gender sesungguhnya tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender, namun yang menjadi persoalan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, bagi kaum perempuan. Ketidakadilan gender terwujud dalam berbagai bentuk ketidakadilan, seperti marginalisasi atau peroses pemiskinan ekonomi, subordinasi atau anggapan tidak penting dalam urusan politik, pembentukan sterotip atau pelabelan negatif, kekerasan (violence). Beban kerja lebih panjang dan lebih banyak (burden).

(18)

Pada kenyataanya selama lebih dari tujuh puluh tahun Indonesia merdeka, penegakan Hak Asasi Manusia masih jauh dari kata memuaskan. Hal ini tercermin dari kejadian tindak kekerasan terhadap perempuan yang merupakan salah satu fenomena paling krusial saat ini, seperti halnya banyaknya perempuan yang dilecehkan dan diremahkan seperti penyiksaan terhadap perempuan sampai merenggut nyawa.

Komnas Perempuan juga mencatat kasus kekerasan terhadap perempuan 2019 meningkat 14 persen yakni menembus 406.178 kasus, dari tahun sebelumnya 348.466 ratusan ribu kekerasan dan pelecahan seksual terhadap perempuan itu di catat hanya dari kasus yang di laporkan. Perempuan sulit berharap pada perlindungan negara.

Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual hingga kini belum disahkan. Perempuan juga masih terancam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) yang hanya di tunda pembahasannya. Sementara, konvensi yang melindungi perempuan seperti Konvensi ILO 190 tentang penghapusan kekerasan dan pelecahan di dunia kerja belum di lirik untuk diratifikasi. Perempuan indonesia justru akan di seret mundur keurusan domestic belaka lewat RUU ketahanan keluarga (https://www.bantuanhukum.or.id/web/aksi-hari-perempuan-internasional-2020- melawan-kekerasan-sistematis-terhadap-perempuan/)

Berdasarkan situs Sumutcyber.com Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih tinggi di Sumut. Selama tahun 2019, tercatat ada 651 kasus. Lembaga yang ada di mitra FK PUSPA Sumut sepanjang tahun 2019, sedikitnya telah menerima dari jumlah tersebut, daerah yang banyak melaporkan kasus kekerasan terhadap perempuan (KTP ) dan kekerasan terhadap anak (KTA) adalah Kota Medan sebanyak 88 kasus, Deli Serdang 75 kasus, Labuhan Batu 37 kasus, Serdang Bedagai 37 kasus, dan Batu Bara 34 kasus, untuk Wilayah Sumatera Utara, data yang ada bersumber dari lembaga layanan perempuan dan anak mitra FK PUSPA Sumut dan data laporan

(19)

SIMFONI KPPPA RI untuk wilayah pengaduan dan memberikan pelayanan bantuan hukum, konseling dan bentuk pendampingan lainnya kepada 584 korban yang terdiri dari perempuan dan anak anak.Senin (30/12/2019).

Dengan masih banyaknya kekerasan yang terjadi baik terhadap perempuan dan anak saat ini diharapkan DPR-RI di periode yang baru saat ini segera mengesahkan Rancangan Undang-undang tentang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) yang selama ini menjadi kontroversi agar menjadi UUD.

Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang jaminan perlindungan terhadap kaum perempuan belum juga membawa hasil. Hal itu disebabkan karena belum diimplementasikan secara maksimal, bahkan akhir-akhir ini wacana yang membahas tentang kekerasan terhadap perempuan semakin banyak ditemukan diberbagai media, baik media massa ataupun media elektronika. Kekerasan itu tidak hanya terjadi diluar rumah, namun kekerasan itu terjadi di dalam rumah tangga.

Dinas Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak Masyarakat memiliki wujud nyata dalam melakukan perubahan dalam menanggapi masalah diskriminasi terhadap perempuan (kekerasan terhadap perempuan) dibuktikan tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Untuk mewujudkan perempuan dan anak yang sejahtera, perlu dukungan dari semua pihak. Karena, saat ini perempuan dan anak adalah merupakan kelompok rentan yang sering kali mengalami kekerasan dan diskriminasi. Berdasarkan data Survey Kekerasan terhadap Anak (SktA) tahun 2013, 1 dari 3 anak mengalami kekerasan, demikian pula dengan angka kekerasan terhadap perempuan yang juga menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Dimana, berdasarkan Survey Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) Tahun 2016, angka kekerasan terhadap perempuan adalah 33,4%.

Selain itu, besarnya tantangan yang akan dihadapi oleh pemerintah dalam pemberdayaan perempuan menjadi sesuatu hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah dalam hal ini Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Medan. Dinas P3APM menyampaikan beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh pemerintahan Kota Medan yaitu, masih tingginya

(20)

kekerasan perempuan dan anak serta pelayanan yang belum optimal bagi perempuan dan anak korban kekerasan; masih rendahnya perwakilan perempuan di legislatif;

rendahnya koordinasi antar instansi atau lembaga terkait baik di tingkat pusat maupun daerah, masih rendahnya penintegrasian PUG dan PUH dalam perencanaan penganggaran; pelaksanaan, monitoring dan evaluasi terhadap program pembangunan; masih rendahnya ketersediaan data informasi gender dan anak.

Diagram 1.1 Data korban kekerasan terhadap perempuan di Kota Medan

(Sumber : Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak Dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Medan, Pra Penelitian, tahun 2020)

(21)

Berdasarkan diagram di atas tindak kekerasan perempuan di Kota Medan berjumlah 192 orang perempuan yang terdiri dari usia 0-5 tahun berjumlah 39 orang ; usia 6-12 tahun berjumlah 47 orang; usia 13-17 tahun berjumlah 51 orang ; usia 18-24 tahun berjumlah 13 orang ; usia 25-44 tahun berjumlah 35 orang ; usia 45-59 tahun berjumlah 7 orang. Melihat hal ini, adanya perbedaan yang cukup signifikan golongan usia menjadi masalah kompleks yang belum bisa diatasi oleh pemerintah kota Medan.

Begitu banyaknya korban kekerasaan yang terjadi di bawah usia 17 mengakibatkan adanya gangguan skeptis yang terjadi kepada anak dan remaja yang seharusnya diberikan perlindungan hukum dan bantuan pendidikan yang layak. Tindakan kekerasan yang terjadi terhadap perempuan kebanyakan pada usia 17 tahun ke bawah hal ini juga diakibatkan kurangnya pengawasan di lingkungan keluarga dan pemerintah. Hal tersebut harus mendapat perhatian khusus karena bagaimanapun juga tindak kekerasan tidak di benarkan dan bukan perbuatan yang manusiawi.

Hal ini sejalan belum adanya informasi terbuka ataupun sosialisasi program yang dilakukan oleh dinas P3APM tentang penanganan permasalahan pemberdayaan perempuan, anak dan masyarakat. Penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan, dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Pihak yang terkait dalam kasus kekerasan terhadap perempuan meliputi aparat penegak hukum, unsur medis, masyarakat, maupun relawan pendamping yang nantinya diharapkan mampu untuk membantu menyelesaikan kasus terhadap perempuan.

(22)

Berdasarkan data dari DP3APM pemko Medan ,jumlah kasus kekerasan pada tahun 2020 ada 36 kasus, kasus tersebut sudah di tangani dari bulan Januari sampai Juni 2020. Terhitung pada bulan Januari menangani 11 kasus, Februari 6 kasus, Maret 5 kasus, April 4 kasus masih dalam proses, Mei tidak ada kasus di karenakan adanya covid dan Juni 6 kasus tapi 3 kasus masih dalam proses karena ketidakhadiran yang di laporkan. Dari data tersebut terlihat bahwa pada tahun 2020 kasus kekerasan terhadap perempuan yang ada di Kota Medan terus mengalami penurunan ,ini terbukti bahwa masih ada kasus yang tersembunyi atau yang belum di laporkan. Hal ini melihat bagaimana kinerja dari DP3PAM menjadi masalah tersendiri bahwa kasus yang terjadi melonjak tetapi banyak yang belum di laporkan.

Perempuan korban kekerasan sebagian besar memerlukan pendamping yang bisa mengerti dan melindungi serta mampu membantu mereka dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Dalam melaksanakan tugasnya, tidak adanya informasi terbuka tentang program perlindungan perempuan, perlindungan anak, dan pemberdayaan masyarakat dalam situs resmi dinas P3APM menjadi pertanyaan bagaimana perhatian pemerintah terhadap pemberdayaan masyarakat di kota Medan sebagaimana tugas utama dari Dinas P3APM. Hal tersebut merupakan permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian sehingga peneliti tertarik untuk mengangakat dan membahasnya dalam proposal yang berjudul: “Efektivitas Dinas Pemberdayaan Perempuan,Perlindungan Anak Dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Medan Dalam Penanganan Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan”.

(23)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis menentukan perumusan masalah dalam penelitian ini , yakni Bagaimana efektivitas Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak Dan Pemberdayaan Masyarakat pemerintah kota Medan dalam Penanganan tindak kekerasan terhadap perempuan?

1.3 Tujuan Penelitian

Setiap penelitian yang diajukan mempunyai sasaran yang hendak dicapai atau apa yang menjadi tujuan penelitian. Suatu riset khusus dalam pengetahuan empiris pada umumnya bertujuan untuk menemukan, mengembangkan dan mendeskripsikan kebenaran ilmu pengetahuan itu sendiri. Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan secara rinci efektivitas Dinas Pemberdayaan Perempuan, perlindungan anak dan pemberdayaan masyarakat pemerintah Kota Medan dalam penanganan tindak kekerasan terhadap perempuan.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun penelitian yang dilakukan penulis di harapkan dapat memberikan manfaat antara lain:

1.4.1 Bagi penulis, peneltian ini dapat menambah pengetahuan tentang bagaimana dinas pemberdayaan perempuan dalam menangani tindakan kekerasaan pada perempuan

(24)

1.4.2 Bagi kalangan masyarakat, sebagai sumber pendidikan dan informasi bagi masyarkat tentang pentingya menjaga dan melindungi perempuan dari tindakan kekerasaan

1.4.3 Bagi dinas pemberdayaan perempuan, penelitian bertujuan sebagai bahan agar lebih memperkuat peranya dalam melindungi perempuan dari tindakan kekerasaan di kota Medan

(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Efektivitas

Kata efektif berasal dari bahasa Inggris yaitu effective yang berarti berhasil atau sesuatu yang dilakukan berhasil dengan baik. Kamus ilmiah populer mendefinisikan efetivitas sebagai ketepatan penggunaan, hasil guna atau menunjang tujuan.

Sedarmayanti (2009 :59) mendefinisikan konsep efektivitas sebagai suatu ukuran yang memberikan gambaran seberapa jauh target dapat tercapai. Pengertian efektivitas ini lebih berorientasi kepada keluaran sedangkan masalah penggunaan masukan kurang menjadi perhatian utama. Apabila efisiensi dikaitkan dengan efektivitas maka walaupun terjadi peningkatan efektivitas belum tentu efisiensi meningkat.

Makmur (2011: 5) mengungkapkan efektivitas berhubungan dengan tingkat kebenaran atau keberhasilan dan kesalahan. Ia berpendapat bahwa untuk menentukan tingkat efektivitas keberhasilan seseorang, kelompok, organisasi bahkan sampai kepada negara kita harus melakukan perbandingan antara kebenaran atau ketepatan dengan kekeliruan atau yang dilakukan. Semakin rendah tingkat kekeliruan atau kesalahan yang terjadi, tentunya akan semakin mendekati ketepatan dalam pelaksanaan setiap aktivitas atau pekerjaan (tugas) yang dibebankan setiap orang.

Pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa efektivitas merupakan ukuran yang menunjukkan seberapa jauh program atau kegiatan mencapai hasil dan manfaat yang di harapkan.

2.1.1 Definisi Efektivitas

Efektivitas adalah hubungan antara output dan tujuan. Dalam artian efektivitas merupakan ukuran seberapa jauh tingkat output, kebijakan dan prosedur dari organisasi mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam pengertian teorits dan praktis, tidak ada persetujuan yang universal mengenai apa yang dimaksud dengan efektivitas. Berbagai

(26)

pandangan yang dikemukakan oleh para ahli berbeda-beda tentang pengertian dan konsep efektivitas dipengaruhi oleh latar belakang dari keahlian yang berbeda pula.

Menurut Ravianto (dalam Masruri 2014:11): “Efektivitas adalah seberapa baik pekerjaan yang dilakukan, sejauh mana orang menghasilkan keluaran sesuai dengan yang diharapkan. Ini berarti bahwa apabila suatu pekerjaan dapat diselesaikan dengan perencanaan, baik dalam waktu, biaya mau pun mutunya, maka dapat dikatakan efektif.”

Menurut Gibson (dalam Herbani Pasolong, 2010:4) efektivitas adalah pencapaian sasaran menunjukkan derajat efektivitas.

Menurut Siagian (2002:151) efektivitas adalah tercapainya suatu sasaran yang telah di tentukan pada waktunya menggunakan sumber-sumber data tertentu yang di alokasikan untuk menjalankan kegiatan-kegiatan organisasi tertetu.

Berdasarkan berbagai pengertian tersebut, ada empat hal yang merupakan unsur-unsur efektifitas yaitu sebagai berikut:

1. Pencapaian tujuan, suatu kegiatan dikatakan efektif apabila dapat mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan sebelumnya.

2. Ketepatan waktu, sesuatu yang dikatakan efektif apabila penyelesaian atau tercapainya tujuan sesuai atau bertepatan dengan waktu yang telah ditentukan.

3. Manfaat, sesuatu yang dikatakan efektif apabila tujuan itu memberikan manfaat bagi masyarakat sesuai dengan kebutuhannya.

4. Hasil, sesuatu kegiatan dikatakan efektif apabila kegiatan itu memberikan hasil.

(27)

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan efektifitas adalah tercapainya tujuan yang telah di tetapkan. Adanya ketentuan waktu dalam memberikan pelayanan serta adanya manfaat yang dirasakan oleh masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan padanya.

2.1.2 Pendekatan-Pendekatan Efektivitas Pendekatan Quinn dan Rorhbaugh

Pendekatan Quinn dan Rorhbaugh ( dalam Azhar Kasim, 1981,1983 : 86) mengajukan beberapa model teori organisasi sebagai acuan untuk mendeskripsikan efektivitas yang akan dibahas berikut ini:

a. Model Tujuan Rasional Model ini menganggap bahwa organisasi adalah suatu alat untuk mencapai tujuan secara rasional. Untuk mencapai tujuan itu diperlukan aturan-aturan, prosedur, dan birokrasi dengan memperhatikan keahlian (expertise) setiap orang untuk menjalankan tugas masing-masing sesuai tata kerja, lingkup wewenang, dan tanggung jawab baik fungsional maupun struktural. Dengan penekanan dimensi rasionalitas dalam pencapaian tujuan, maka model ini menekankan perumusan tujuan, penjabaran kegiatan, dan evaluasi sebagai komponen organisasi yang strategis dan adanya produktivitas dan efisiensi. Dalam model rasional itu, tujuan organisasi ditentukan oleh pemilik organisasi, yaitu orang-orang yang mempunyai hak atau legitimasi terhadap organisasi itu.

Max Weber mengatakan bahwa konsep birokrasi yang rasional mengandalkan pada peraturan-peraturan (rules) dan prosedur yang semuanya bermuara pada tercapainya tujuan organisasi. Ciri-ciri birokrasirasional birokrasi adalah : pegawai birokrat adalah tunduk pada peraturan dan prosedur resmi, adanya kejelasan hierarki antar satuan organisasi,pejabat diangkat atas dasar kontrak dan kualifikasi profesional, adanya struktur karir dan promosi berdasarkan senioritas, merit, dan pertimbangan atasan, dan pejabat tidak boleh memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi. Model rasional menekankan pada perumusan tujuan, perencanaan, evaluasi, dan produktivitas. Kelebihan dari model ini adalah penilaian keberhasilan organisasi dilakaukan atas dasar kringinan organisasi, bukan berdasarkan peniliaian atas dasar kriteria pribadi ( value judgement ).

b. Model Hubungan Manusia Dalam model hubungan manusia, model ini menekankan pada moril karyawan, kepemimpinan, pengembangan sumber daya manusia, dan aspek peran informasi dari perilaku organisasi. Pembahasan tersebut tertuang dalam beberapa teori, diantaranya adalah hierarki kebutuhan

(28)

manusia, proses motivasi, dan teori pengelolaan konflik. Teori pertama tentang hubungan hierarkis manusia sebagai mana dikemukakan oleh Maslow (1954) bahwa motivasi pegawai disebabkan oleh adanya kebutuhan yang harus dipenuhinya seperti kebutuhan fisiologis, keamanan, afiliasi, penghargaan diri, dan kebutuhan pengembangan diri. Teori kedua adalah teori proses motivasi, teori ini memusatkan perhatian pada penjelasan mengapa berperilaku tertentu untuk mencapai sebuah tujuanyang berhubungan dengan pekerjaan. Terakhir adalah teori pengelolaan konflik dalam organisasi, keberhasilan menangani konflik dalam perusahaan adalah keberhasilan dalam menjaga tingkat konflik yang optimal untuk efektivitas dan keberlangsungan organisasi. Ada beberapa metode dalam mengatasi unttuk mengatasi konflik organisasi diantaranya adalah : Arbitrasi langsung, menciptakan peraturan, mengurangi ketergantungan, realokasi sumberdaya, merubah sistem balas jasa,merubah pola komunikasi,dan juga penggunaan integrator.

c. Model Sistem Terbuka, model ini didasarkan pada asumsi bahwa organisasi tergantung pada pertukaran antara pelayanan atau barang yang dihasilkan oleh organisasi tersebut dengan lingkungan agar bisa bertahan ( survival) (Silverman,1978). Katz dan Kahn (1966) mengatakan bahwa paradigma dasar dari model sistem ini terdiri dari: input, throughput, dan output. Para penganut pendekatan population ecology berpendapat bahwa lahir dan matinya suatu organisasi dipengaruhi oleh kondisi lingkungan ( Aldrick, 1979). Teori ini mendasarkan gagasannya pada asumsi bahwa semakin kompleks tugas organisasi maka semakin beragam (complicated) unit-unit organisasi yang bersangkutan, dan tiap unit organisasi berhubungan dengan segmen lingkungan yang berbeda pula. Akibatnya, organisasi mau tidak mau harus menghadapi masalah pengintegrasian beragam tugas yang dilakukan oleh unit organisasi yang berbeda. kontingensi yang merupakan pengaruh unsur lingkungan terhadap hasil usaha organisasi ini lebih jelas peranannya dalam suatu organisasi publik. Menurut teori kontingensi, efektivitas organisasi tergantung kepada kecocokan struktur organisasi dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan dan kondisi lingkungannya. Sebagai sistem terbuka, suatu organisasi publik dengan sendirinya akan menghadapi problematik dalam hubungan dengan struktur, penataan, dan manajemen kegiatan.

d. Model Proses Internal, model ini memusatkan perhatian pada proses pengelolaan informasi dan pembuatan keputusan dalam organisasi. Daft dan Lengel (1986) mempertanyakan mengapa organisasi perlu memproses informasi. Faktor ketidakpastian ( Uncertainty) dan faktor ketidakjelasan (equivocality) yaitu suatu keadaan yang semrawut (messy). Adanya pemrosesan informasi diharapkan dapat mengurangi derajat ketidakpastian dan derajat ketidakjelasan dalam pelaksanaan organisasi. Selain itu aspek lain dari proses internal adalah komunikasi. Van de Ven, Delbecg, and Koening (1976) mengatakan bahwa komunikasi antar bagian organisasi meningkat apabila saling ketergantungan diantara anggota meningkat. Ada

(29)

beberpa pola komunikasi dialam organisasi diantaranya adalah : komunikasi kebawah (komunikasi yang berasal dari pimpinan tertinggi kepada pimpinan menengah, dan tingkat rendah, komunikasi keatas (komunikasi yang berasal dari bawahan dan ditunjukan kepada atasan), dan komunikasi lateral, (komunikasi terjadi antara orang-orang yang menduduki jabatan-jabatan yang setingkat dalam struktur organisasi.

Dalam penelitian ini peneliti memakai teori dari Quinn dan Rohrbaugh yaitu Model Tujuan Rasional , model hubungan manusia dalam organisasi, model sistem terbuka dan model proses internal (informasi dan komunikasi) untuk menjawab masalah tentang penanganan tindak kekerasan perempuan indikator yang ditawarkan oleh teori ini diharapkan mampu menjawab permasalahan yang terjadi di Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak Dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Medan menjalankan tugas pokok dan fungsi mereka dan bertangung jawab akan tupoksi yang diberikan sehingga menghasilkan produktivitas dan Efisiensi.

2.1.3 Faktor-faktor Yang Terkait Efektivitas

Efektivitas dapat dilihat melalui berhasil tidaknya suatu organisasi mencapai tujuan-tujuannya. Apabila suatu organisasi berhasil mencapai tujuan, maka organisasi tersebut dapat dikatakan telah berjalan dengan efektif. Hal terpenting adalah efektifitas tidak menyatakan tentang berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk mencapai tujuan tersebut. Efektivitas hanya melihat apakah proses program atau kegiatan tersebut telah mencapai tujuan yang telah di tetapkan. Untuk itu perlu diketahui indikator efektivitas kinerja, menurut steers (steers. M. Richad, 1985:46) yang meliputi :

1) Kemampuan Menyesuaikan Diri

(30)

Kemampuan manusia terbatas dalam segala hal, sehingga dengan keterbatasannya itu menyebabkan manusia tidak dapat mencapai pemenuhan kebutuhannya tanpa melalui kerjasama dengan orang lain. Kunci keberhasilan organisasi adalah kerjasama dalam pencapaian tujuan. Setiap orang yang masuk dalam organisasi dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan orang yang bekerja di dalam organisasi tersebut maupun dengan pekerjaan dalam organisasi tersebut.

2) Prestasi Kerja

Prestasi kerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepada seseorang yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, kesungguhan dan waktu. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan kecakapan, pengalaman, kesungguhan dan waktu yang dimiliki oleh seorang pegawai maka tugas yang diberikan dapat dilaksanakan sesuai dengan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya.

3) Kepuasan Kerja

Kepuasan kerja yang dimaksud adalah tingkat kesenangan yang dirasakan seseorang atas peranan atau pekerjaannya dalam organisasi. Tingkat rasa puas individu bahwa mereka mendapat imbalan yang setimpal, dari bermacam-macam aspek situasi pekerjaan dan organisasi tempat mereka berada.

4) Kualitas

Kualitas dari jasa atau produk primer yang dihasilkan oleh organisasi menentukan efektivitas kinerja dari organisasi itu. Kualitas mungkin mempunyai banyak bentuk operasional, terutama ditentukan oleh jenisproduk atau jasa yang dihasilkan oleh organisasi tersebut.

5) Penilaian Oleh Pihak Luar

Penilaian mengenai organisasi atau unit organisasi diberikan oleh mereka (individu atau organisasi) dalam lingkungan organisasi itu sendiri, yaitu pihak-pihak dengan siapa organisasi ini berhubungan. Kesetiaan, kepercayaan dan dukungan yang diberikan kepada organisasi oleh kelompok-kelompok seperti para petugas dan masyarakat umum.

Organisasi akan berjalan terarah jika memiliki tujuan yang jelas. Adanya tujuan akan memberikan motivasi untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Tujuan organisasi adalah memberikan pengarahan dengan cara menggambarkan keadaan yang akan datang yang senantiasa dikejar dan diwujudkan oleh organisasi. Struktur dapat

(31)

mempengaruhi efektifitas dikarenakan struktur yang menjalankan organisasi. Struktur yang baik adalah struktur yang kaya akan fungsi dan sederhana. Selanjutnya, tanpa ada dukungan dan partisipasi serta sistem nilai yang ada maka akan sulit untuk mewujudkan organisasi yang efektif. Faktor-faktor yang mempengaruhi organisasi harus mendapat perhatian yang serius apabila ingin mewujudkan suatu efektifitas.

Steers (dalam Khaerul Umam 2012:351) menyebutkan empat faktor yang terkait dengan efektivitas yaitu:

a. Karakteristik Organisasi

Karakteristik Organisasi adalah hubungan yang sifatnya relative tetap seperti susunan sumber daya manusia yang terdapat dalam organisasi. Struktur merupakan cara yang unik menempatkan manusia dalam rangka menciptakan sebuah organisasi.

Dalam struktur, manusia ditempatkan sebagai bagian dari suatu hubungan yang relatif tetap yang akan menentukan pola interaksi dan tingkah laku yang berorientasi pada tugas.

b. Karakteristik Lingkungan

Karakteristik Lingkungan mencakup dua aspek. Aspek pertama adalah lingkungan ekstern yaitu lingkungan yang berada di luar batas organisasi dan sangat berpengaruh terhadap organisasi, terutama dalam pembuatan keputusan dan pengambilan tindakan. Aspek kedua adalah lingkungan intern yang dikenal sebagai iklim organisasi yaitu lingkungan yang secara keseluruhan dalam lingkungan organisasi

Pengaruh faktor semacam ini terhadap dinamika organisasi pada umumnya dianggap meliputi derajat kestabilan yang relatif dari lingkungan, derajat kompleksitas lingkungan dan derajat ketidak pastian lingkungan. Sedangkan lingkungan dalam yang pada umumnya disebut iklim organisasi, meliputi macam-macam atribut lingkungan kerja yang mempunyai hubungan dengan segi-segi tertentu dari efektivitas, khususnya atribut-atribut yang diukur pada tingkat individual. Keberhasilan hubungan organisasi dengan lingkungan tampaknya amat tergantung pada tingkat variabel kunci yaitu tingkat keterdugaan keadaan lingkungan, ketepatan persepsi atas keadaan lingkungan dan tingkat rasionalisme organisasi.

c. Karakteristik Pekerja

Karakteristik Pekerja merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap efektivitas. Di dalam diri setiap individu akan ditemukan banyak perbedaan, akan tetapi

(32)

kesadaran individu akan perbedaan itu sangat penting dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Jadi apabila suatu organisasi menginginkan keberhasilan, organisasi tersebut harus dapat mengintegrasikan tujuan individu dengan tujuan organisasi.

d. Karakteristik Manajemen

Karakteristik Manajemen adalah strategi dan mekanisme kerja yang dirancang untuk mengkondisikan semua hal yang ada didalam organisasi sehingga efektifitas tercapai. Kebijakan dan praktek manajemen merupakan alat bagi pimpinan untuk mengarahkan setiap kegiatan guna mencapai tujuan organisasi. Dalam melaksanakan kebijakan dan praktek manajemen harus memperhatikan manusia, tidak hanya mementingkan strategi dan me kanisme kerja saja. Mekanisme ini meliputi penyusunan tujuan strategis, pencarian dan pemanfaatan atas sumber daya, penciptaan lingkungan prestasi, proses komunikasi, kepemimpinan dan pengambilan keputusan, Serta adaptasi terhadap, perubahan lingkungan inovasi organisasi.

Menurut pendapat para ahli di atas penulis mengambil kesimpulan bahwa:

1. Organisasi terdiri atas berbagai unsur yang paling berkaitan, jika salah satu unsur memiliki kinerja yang buruk, maka akan mempengaruhi kinerja organisasi secara keseluruhan;

2. Keefektifan membutuhkan kesadaran dan interaksi yang baik dengan lingkungan;

3. Kelangsungan hidup organisasi membutuhkan pergantian sumber daya secara terus-menerus. Suatu perusahaan yang tidak memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas organisasi akan mengalami kesulitan dalam mencapai tujuannya, tetapi apabila suatu perusahaan memperhatikan faktor- faktor tersebut maka, tujuan yang ingin dicapai dapat lebih mudah tercapai hal itu dikarenakan efektifitas akanq selalu dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut.

(33)

2.2 Kekerasan

Kekerasan atau bahasa lnggris: violence berasal dari (bahasa Latin: violentus yang berasal dari kata vi atau vis berarti kekuasaan atau berkuasa). Kekerasan dalam prinsip dasar dalam hukum publik dan privat Romawi yang merupakan sebuah ekspresi baik yang dilakukan secara fisik ataupun secara verbal yang mencerminkan pada tindakan agresi dan penyerangan pada kebebasan atau martabat seseorang yang dapat dilakukan oleh perorangan atau sekelompok orang umumnya berkaitan dengan kewenangannya yakni bila diterjemahkan secara bebas dapat diartikan bahwa semua kewenangan tanpa mengindahkan keabsahan. Penggunaan atau tindakan kesewenang- wenangan itu dapat pula dimasukan dalam rumusan kekerasan ini. Akar kekerasan:

kekayaan tanpa bekerja, kesenangan tanpa hati nurani, pengetahuan tanpa karakter, perdagangan tanpa moralitas, ilmu tanpa kemanusiaan, ibadah tanpa pengorbanan, politik tanpa prinsip. (Sianturi 1983: 608)

Kekerasan mempunyai beberapa dimensi ,antara lain:

1. Bentuk kekerasan (fisik, psikologis, seksual, finansial, spiritual, dan fungsional)

2. Efek kekerasan (negatif atau positif) 3. Partisipasi kekerasan (subjek dan objek)

4. Motif kekerasan dan sumber kekerasan (sturuktural atau personal) (windhu, 1992:67-79)

Tindakan kekerasan merupakan perbuatan atau tingkah laku kejahatan. Dimana dalam sudut pandang kriminologi perbuatan tingkah laku yang menimbulkan tingkah laku kejahatan merupakan tindakan kriminalitas. Adapun definisi kriminalitas dipandang dari berbagai aspek yaitu sebagai berikut:

(34)

a. Kriminalitas ditinjau dari aspek yuridis ialah jika seseorang melanggar peraturan atau undang-undang pidana dan ia dinyatakan bersalah oleh pengadilan serta dijatuhkan hukuman.

b. Kriminalitas ditinjau dari aspek sosial ialah jika seseorang mengalami kegagalan dalam menyesuaikan diri atau berbuat menyimpang dengan sadar atau tidak sadar dari norma-norma yang berlaku didalam masyarakat sehingga perbuatannya tidak dapat dibenarkan oleh masyarakat yang bersangkutan (Suwarno dan Pairul Syah, 2014:12-13)

Dari pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa kriminalitas adalah perbuatan atau tingkah laku yang melanggar hukum, selain merugikan penderita atau korban juga sangat merugikan masyarakat yaitu berupa hilangnya keseimbangan ketentraman dan ketertiban.

Penggunaan kekerasan dalam suatu tindakan tidak selamanya harus dipandang bersifat tidak sah (illegitimate), oleh karena banyak hal yang terjadi dalam bentuk perbuatan kekerasan yang dianggap sah. Dasar penelitian terhadap sah tidaknya suatu perbuatan dalam bentuk kekerasan itu tergantung pada siapa pelakunya, dimana perbuatan dilakukan, sasaran dan tujuan yang ingin dicapai oleh pembuatnya serta dalam rangka apa perbuatan itu dilakukan.

Sistem nilai atau norma-norma yang hidup dalam masyarakat dimana perbuatan kekerasan itu dilakukan, akan menentukan apakah perbuatan kekerasan itu dianggap baik atau tidak. Misalnya dalam perang atau konfiik bersenjata, kekerasan pada dasarnya diterima sebagai suatu tindak kekerasan yang dianggap sah oleh kedua belah pihak yang bertikai atau bersengketa.

Menurut Idris (1988:452), kekerasan adalah: perihal yang berciri atau bersifat keras dan atau perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang

(35)

menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain".

R. Sianturi (1983: 610) memberi arti kekerasan atau tindak kekerasan yaitu

"melakukan suatu tindak badaniah yang cukup berat sehingga menjadikan orang dikerasi itu kesakitan, atau tidak berdaya".

Pasal 89 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) merumuskan bahwa:

Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan kekerasan. Sehubungan dengan ketentuan dalam Pasal 89 KUHP, Soesilo (1996: 98) memberi penjelasan bahwa:

"Melakukan kekerasan artinya rnempergunakan tenaga atau kekuatan jasmani yang tidak kecil secara tidak sah misalnya memukul dengan tenaga atau dengan segala macam senjata, menyepak, menendang, dan sebagainya".

Berdasarkan uraian di atas maka kekerasan merupakan suatu perbuatan dengan penggunaan kekuatan fisik ataupun alat secara tidak sah dan melanggar hukum yang membuat akibat-akibat sesorang pingsan, tidak berdaya lagi atau menyebabkan matinya seseorang.

2.2.1 Kekerasan Di Dalam KUHP

Tindak pidana kekerasan dapat juga dilakukan secara kolektif, karena dalam melakukan tindak pidana para pelaku dalam hal ini dengan jumlah yang banyak atau lebih dari satu orang dimana secara langsung maupun tidak langsung, baik direncanakan ataupun tidak direncanakan, telah terjalin kerjasama baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri, dalam satu rangkaian peristiwa kejadian

(36)

yang menimbulkan tindak pidana, atau lebih spesifik menimbulkan atau mengakibatkan terjadinya kerusakan baik fisik maupun non fisik.

Di dalam buku kedua KUHP, penganiayaan dapat dibedakan atas 5(lima) jenis (Rayhan A. 2008: 119-120), yaitu:

1. Penganiayaan Biasa

Jenis penganiayaan ini diatur di dalam Pasal 351 KUHP.Bentuk penganiayaan ini dapat dikatakan sebagai penganiayaan biasa apabila menimbulkan perasaan tidak enak (penderitaan), rasa sakit, atau luka. Termasuk pula penganiayaan yang sengaja merusak kesehatan orang lain. Penganiayaan ini diancam dengan hukuman berat apabila penganiayaan yang dilakukan mengakibatkan luka berat atau mati. Percobaan melakukan ini tidak dapat dihukum.

2. Penganiayaan Ringan

Jenis penaaniayaan ini diatur dalam Pasal 352 KUHP.

Bentuk penganiayaan ini disebut sebagai penganiayaan ringan apabila penganiayaan tersebut tidak menjadikan sakit atau terhalang untuk melakukan pekerjaan sehari-hari.

3. Penganiayaan yang direncanakan terlebih dahulu.

Jenis penaaniayaan ini diatur di dalam Pasal 353 KUHP.

Pasal ini dapat dikenakan si pembuat apabila penganiayaan yang dilakukan direncanakan terlebih dahulu. Jika berakibat luka berat atau mati maka hukumnya lebih berat. Percobaan melakukan penganiayaan ini dapat dikenakan hukuman. Pengertian luka berat dapat dilihat pada Pasal 90 KUHP, yaitu:

1. Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak dapat diharapkan akan sembuh secara sempurna, atau yang menimbulkan bahaya maut;

2. Untuk selamanya tidak mampu menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan yang merupakan mata pencaharian;

3. Kehilangan salah satu panca indera;

4. Mendapat cacat berat;

(37)

5. Menderita sakit lumpuh;

6. Terganggunya daya pikir selama Lebih dari empat minggu;

7. Gugurnya atau terbunuhnya kandungan seseorang perempuan

4. Penganiayaan berat

Jenis penganiayaan berat ini diatur dalam Pasal 354 KUHP.

Pasal ini dapat dikenakan apabila niat pembuat memang ditujukan pada melukai berat .Apabila tidak dimaksud dan luka berat itu hanya merupakan akibat saja, maka perbuatan itu termasuk penganiayaan biasa yang berakibat luka berat (dikenakan Pasal 351 KUHP).Percobaan melakukan kejahatan ini dapat dikenakan hukuman.

5. Penganiayaan berat yang direncanakan terlebih dahulu.

Diatur dalam Pasal 355 KUHP. Bahwa yang dimaksud di dalam pasal ini adalah penganiayaan dalam Pasal 354 yang dilakukan dengan direncanakan terlebih dahulu. Percobaan melakukan kejahatan ini dapat dikenakan.

Dilihat dari penjelasan yang telah ada tentang kejahatan yang berupa penganiayaan berencana, dan penganiayaan berat, maka penganiayaan berat berencana ini merupakan bentuk gabungan antara penganiayaan berat (Pasal 354 ayat 1 KUHP) dengan penganiyaan berencana (Pasal 353 ayat 1 KUHP).

Dengan kata lain, suatu penganiayaan berat yang terjadi dalam penganiayaan berencana, kedua bentuk penganiayaan ini haruslah terjadi secara serentak/bersama.

Oleh karena harus terjadi secara bersama, maka harus terpenuhi baik unsur penganiayaan berat maupun unsur penganiayaan berencana.

(38)

2.2.2 Pengertian kekerasan perempuan

Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan-penderitaan pada perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum atau dalam lingkungan kehidupan pribadi. Seringkali kekerasan pada perempuan terjadi karena adanya ketimpangan atau ketidakadilan gender. Ketimpangan gender adalah perbedaan peran dan hak perempuan dan laki-laki di masyarakat yang menempatkan perempuan dalam status lebih rendah dari laki-laki. “Hak istimewa” yang dimiliki laki-laki ini seolah-olah menjadikan perempuan sebagai “barang” milik laki-laki yang berhak untuk diperlakukan semena-mena, termasuk dengan cara kekerasan.

Menurut Soeroso (2010:178) gender based violence atau kekerasan berbasis gender adalah istilah yang merujuk kepada kekerasan yang melibatkan laki-laki dan perempuan, biasanya yang menjadi korban adalah perempuan, sebagai akibat adanya distribusi kekuasaan yang timpang antara laki-laki dan perempuan.

Dalam Undang-undang RI Nomor 23 Tahun 2004 pasal 1 ayat 1, tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Adapun telah di atur dalam Undang-undang RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga bahwa lingkup rumah tangga, Samadani (2013:29) yaitu, meliputi :

a. Suami, istri, dan anak.

b. Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud pada nomer 1 karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian yang menetap dalam rumah tangga.

c. Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah

(39)

tangga tersebut

Kekerasan dapat terjadi di dalam lingkup anggota rumah tangga secara keseluruhan, bukan hanya kekerasan suami terhadap istri. Namun dari data yang di peroleh dari Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR dan beberapa sumber lainnya menunjukan bahwa mayoritas kasus dalam rumah tangga adalah suami terhadap istri.

Selain itu meskipun telah memberikan perlindungan terhadap korban kekerasan namun kasus yang terjadi terus meningkat. Dilihat dari segi subyek dan obyeknya, kekerasan dalam rumah tangga dapat terjadi pada beberapa konteks yaitu kekerasan pada suami terhadap istri, kekerasan istri terhadap suami, kekerasan orang tua kepada anak-anak, kekerasan anak-anak terhadap orang tua dan kekerasan terhadap pembantu rumah tangga (Khinanty Gebi Pradipta, 2013:36-43).

Pelaku maupun korban kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga dapat dilihat dari ciri-ciri pelaku maupun korban menurut Rifka Anissa, 1997 (Moerti Hadiati Soeroso, 2010:85) yaitu:

1. Mempunyai penghargaan terhadap diri sendiri (self-esteem) yang tinggi sehingga memunculkan sikap yang sangat berkuasa.

2. Tradisionalis, percaya pada superioritas laki-laki, stereotipe, sifat maskulin.

3. Menyalahkan orang lain sebagai pemicu kemarahannya.

4. Memiliki kecemburuan yang berlebihan, sehingga mudah curiga.

5. Menjadikan stress sebagai alasan untuk mengkasari pasangannya.

6. Menggunakan seks sebagai bentuk agresi yang seringkali digunakan untuk mengatasi ketidakberdayaannya.

Pelaku biasanya menganggap bahwa kekerasan sebagai bentuk luapan emosi seseorang, merupakan bentuk penyelesaian konflik yang biasa dan dapat diterima.

Tidak mudah untuk menjelaskan karakteristik pelaku kekerasan perempuan jika dilihat secara kasat mata. Karena hal tersebut lebih pada sifat seseorang, tetapi setidaknya dalam penelitian ini akan menganalisis secara kondisi sosialnya. Adapun ciri dari korban kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga yaitu merasa bertanggung jawab atas kelakuan suaminya, bersikap pasrah dan mengalah, berwajah tidak berdaya namun dapat menyembunyikan keadaan yang sebenarnya.

(40)

Berbagai tindakan kekerasan terhadap perempuan di dalam rumah tangga tentunya mempunyai pengaruh. Seperti halnya pengaruh kekerasan dalam rumah tangga berakibat sangat buruk dan merusak korbannya sebagaimana pusat penelitian komunikasi dan informasi perempuan (1999), menjelaskan bahwa akibat perlakuan kejam, korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kebanyakan bercirikan antara lain (Khinanty Gebi Pradipta, 2013:9):

a) Menderita ketegangan atau stress tingkat tinggi

b) Menderita kecemasan, depresi dan sakit kejiwaan tingkat tinggi c) Berkemungkinan untuk bunuh diri

d) Resiko keguguran dua kali lebih tinggi dibandingkan yang bukan korban kekerasan

e) Kemampuan menghadapi dan menyelesaikan masalah lebih rendah f) Lebih terpencil secara sosial

g) Lebih berkemungkinan bertindak kejam terhadap anak h) Lebih sensitif atau mudah terserang penyakit karena stress

Secara tidak langsung jika tindakan kekerasan terhadap perempuan terus meneurus meningkat, yang terjadi di dunia maupun di Indonesia akan berdampak buruk bagi kehidupan. Baik di rumah tangga maupun di masyarakat masalah yang timbul dari adanya tindakan kekerasan perempuan akan semakin berdampak negatif.

Dapat disimpulkan bahwa karaketristik yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mengenai pelaku dan korban kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga berdasarkan yaitu dapat dilihat dari usia, pekerjaan dan jenis kelamin.

(41)

2.2.3 Bentuk-Bentuk kekerasan terhadap perempuan

Kekerasan yang menimpa perempuan hadir dalam seluruh jenis hubungan sosial yang dijalaninya, termasuk dalam hubungan keluarga, perkawanan dekat, dalam hubungan kerjanya, maupun hubungan sosial kemasyarakatannya. Kekerasan itu pun dapat menimpa perempuan dimana saja, baik itu berada di ruang publik ataupun ruang rumah tangga. Adapun jenis-jenis kekerasan terhadap perempuan menurut Nurdjunaida (dalam Harnoko 2010:184) dapat terjadi dalam bentuk:

a. Kekerasan Fisik

Yaitu tindakan yang bertujuan untuk melukai, menyiksa atau menganiaya orang lain, dengan menggunakan anggota tubuh pelaku (tangan, kaki) atau dengan alat-alat lain.

Bentuk kekerasan fisik yang dialami perempuan, antara lain: tamparan, pemukulan, penjambakan, mendorong secara kasar, penginjakan, penendangan, pencekikan, pelemparan benda keras, penyiksaan menggunakan benda tajam, seperti: pisau, gunting, setrika serta pembakaran. Tindakan tersebut mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit dan luka berat.

b. Kekerasan Psikologis/Nonfisik

Yaitu tindakan yang bertujuan merendahkan citra seorang perempuan, baik metalui kata-kata maupun perbuatan (ucapan menyakitkan, kata-kata kotor, bentakan, penghinaan, ancaman) yang menekan emosi perempuan. Tindakan tersebut mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kernampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya dan penderitaan psikis berat pada seseorang.

c. Kekerasan Seksual

Yaitu kekerasan yang bernuansa seksual, termasuk berbagai perilaku yang tak diinginkan dan mempunyai makna seksual yang disebut pelecehan seksual, maupun berbagai bentuk pemaksaan hubungan seksual yang disebut sebagai perkosaan.

Tindakan kekerasan ini bisa diklasifikasikan dalam bentuk kekerasan fisik maupun psikologis. Tindak kekerasan seksual meliputi perkosaan, pelecehan seksual.

d. Penelantaran Rumah Tangga

Yaitu dalam bentuk penelantaran ekonomi dimana tidak diberi nafkah secara rutin atau dalarn jumlah yang cukup, membatasi atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah, sehingga korban di bawah kendati orang tersebut.

Dalam UU penghapusan kekerasan dalam rumah tangga (pasal 9) tindakan kekerasan

(42)

enonomi ini yakni penelantaran rumah tangga yang juga dimasukan dalam pengertian kekerasan. Karena setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangga, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan penghidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut.

Menurut peneliti saya dari berbagai bentuk kekerasan sebagaimana disebutkan di atas baik fisik, psikologis, maupun pelantaran . Dari keterangan tentang berbagai macam bentuk kekerasan dalam rumah tangga tersebut dapat diketahui bahwa kekerasan tersebut adalah suatu tindakan yang out of control yang dapat menjadi kebiasaan jahat yang dapat merugikan pasangan ataupun kelompok.

Selain itu, menurut Harkrisnowo (dalam Samadani (2013:31) kekerasan terhadap perempuan dapat dibagi ke dalam beberapa bentuk kekerasan yang meliputi:

a. Kekerasan fisik (physical abuse) seperti tamparan, menendang, pukulan, menjambak, meludah, menusuk, mendorong, memukul dengan senjata.

b. Kekerasan psikis/ emosional (emotional abuse) seperti rasa cemburu atau rasa memiliki yang berlebihan, merusak barang-barang milik pribadi, mengancam untuk bunuh diri, melakukan pengawasan dan manipulasi, mengisolasi dari kawan-kawan dan keluarganya, dicaci maki, mengancam kehidupan pasangannya atau melukai orang yang dianggap dekat atau menganiaya binatang peliharaannya, menanamkan perasaan takut melalui. intimidasi, ingkar janji, merusak hubungan orang tua anak atau saudara dan sebagainya.

c. Kekerasan ekonomi (economic abuse) seperti membuat tergantung secara ekonomi, melakukan control terhadap penghasilan, pembelanjaan. Kekerasan seksual (sexual abuse) seperti memaksa hubungan seks, mendesak hubungan seks setelah melakukan penganiayaan, menganiaya saat berhubungan seks, memaksa menjadi pelacur, menggunakan binatang untuk hubungan seks.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa bentuk tindakan kekerasan terhadap perempuan meliputi kekerasan fisik, kekerasan psikis dan penelantaran rumah tangga.

(43)

2.3 Pengertian Gender

Untuk memahami konsep gender harus dibedakan antara kata gender dan seks ( jenis kelamin ). Pengertian jenis kelamin merupakan pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Misalnya manusia jenis laki-laki adalah manusia yang memiliki atau bersifat seperti berikut ini memiliki penis, memiliki jakala atau kalamenjing dan memproduksi sperma. Sedangkan perempuan memiliki alat reproduksi seperti rahim, dan saluran untuk melahirkan, memproduksi telur, memiliki vagina, dan mempunyai alat menyusui. Alat-alat tersebut secara biologis melekat pada manusia jenis perempuan dan laki-laki selamanya. Artinya secara biologis alat-alat tersebut tidak bisa dipertukarkan antara alat biologis yang melekat pada manusia laki-laki dan perempuan.

Secara permanen tidak berubah dan merupakan ketentuan biologis atau sering dikatakan sebagai ketentuan Tuhan atau Kodrat ( Fakih, 2010 ). Gender sering juga dipahami sebagai pemberian dari Tuhan atau kodrat Ilahi, padahal gender tidak semata- mata demikian. Menurut Echols dan Shadily, secara etimologis kata “gender” berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin ( Echols dan Shadily, 1983:265).

Sedangkan menurut Victoria Neufeldt, kata gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dalam hal nilai dan tingkah laku ( Neufeldt, (ed.)1984:561) . Lebih tegas lagi disebutkan dalam Women‟s Studies Encyclopedia bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang dipakai untuk membedakan peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat (Mulia, 2004: 4).

Gambar

Diagram 1.1 Data korban kekerasan terhadap perempuan di Kota Medan
Gambar 4.1 Struktur Organisasi DP3APM Kota Medan
Tabel : 4.1 Jumlah Sarana dan Prasarana DP3APM Kota Medan  NO  Jenis Sarana dan Prasarana  Jumlah  Satuan
Gambar 4.3 Ruang  Kabid Perlindungan Hak  Perempuan Dan  Anak  (yang di jadikan tempat pelaporan korban kekerasan terhadap perempuan)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Untuk itu, peneliti membuat rancangan sistem Customer Relationship Management yang sesuai untuk Shianna Salon sehingga dapat meningkatkan kepuasan pelanggan

Adapun perbedaan penelitian peneliti dengan ketiga kajian terdahulu terdapat pada tujuan analisis, yakni dimana peneliti ingin menganalisis lebih dalam mengenai

Selama PT.P2W-KSS masih berlangsung di Kelurahan Sunggal saya selalu mengingatkan kepada seluruh warga binaan agar apa yang mereka dapatkan dari program bisa

Mahasiswa mampu menguasai prinsip-prinsip dan kaidah sistem informasi manajemen, hukum administrasi negara, pengembangan organisasi, manajemen sumber daya manusia,

Untuk mencapai tujuan tersebut peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif, dimana dalam analisisnya peneliti menggunakan teori indikator

Berkaitan dengan kualitas kinerja aparatur desa dalam penyusunan APBDes di Desa Siringan-ringan Kecamatan Ujung Padang Kabupaten Simalungun yang masih belum berjalan dengan baik

Maka dari itu melalui latar belakang tersebut yang telah dijabarkan diatas peneliti dalam penelitian ini bermaksud untuk melihat bagaimana perilaku kepemimpinan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan daya dukung sumberdaya ditinjau dari aspek staff, wewenang, informasi, dan fasilitas terhadap Sumber Daya Di Dinas