• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

Evaluasi Kebijakan Tata Kelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Sebagai Destinasi Pariwisata Alam Di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli Desa Sibaganding Kecamatan Girsang Kabupaten Simalungun

SKRIPSI

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Menyelesaikan Pendidikan Sarjana (S1) Ilmu Administrasi Publik

OLEH :

FADHILAH NUR YUSLIMA ALFARISI SARAGIH 140903039

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(2)

ABSTRAK

Evaluasi Kebijakan Tata Kelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Sebagai Destinasi Pariwisata Alam Di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup

Dan Kehutanan Aek Nauli Desa Sibaganding Kecamatan Girsang Kabupaten Simalungun

Tata kelola kawasan hutan dengan tujuan khusus merupakan upaya untuk menata lahan atau hutan menggunakan proses, mekanisme cara, dan aturan untuk pemanfaatan hutan lebih lanjut yang digunakan untuk sarana penelitian. Adanya proses kegiatan pariwisata atau ekowisata di dalam kawasan hutan tentu menyebabkan persinggungan antara manusia dengan lingkungan hutan yang menimbulkan dampak yang positif dan negatif. Dampak dari adanya ekowisata mulai terlihat dari pembangunan area-area wisata sebagai tempat berlangsungnya kegiatan tersebut. Pembangunan area ekowisata dibangun di atas lahan pemanfaatan hutan. Kegiatan ekowisata bertujuan untuk memberikan pembelajaran kepada pengunjung melalui cara bermain, berintekasi secara langsung di dalam kegiatan ekowisata yang ada.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif yang menjelaskan fenomena secara mendalam melalui pengumpulan data. Penelitian ini menggunakan teori William Dunn dengan indikator yang meliputi efektivitas, efisiensi, kecukupan, pemerataan, responsivitas dan ketepatan.

Dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa Evaluasi kebijakan tata kelola kawasan hutan dengan tujuan khusus sebagai destinasi pariwisata alam di balai penelitian pengembangan lingkungan hidup dan kehutanan Aek Nauli Desa Sibaganding Kecamatan Girsang Kabupaten Simalungun belum efektif di dalam meningkatkan kualitas dan kelestarian sumber daya alam. Balai penelitian pengembangan lingkungan hidup dan kehutanan Aek Nauli telah berupaya mengelola kawasan hutan dengan tujuan khusus menggunakan konsep edutainment yang bertujuan untuk untuk penelitian, pengembangan riset dan pengembangan kawasan dengan menimalkan kerusakan-kerusakan yang terjadi pada hutan. Tata kelola kawasan hutan dengan tujuan khusus yang belum efektif terjadi karena efiensi, kecukupan, dan ketepatan pengelolaan kawasan untuk meningkatkan kualitas dan kelestarian sumber daya alam masih rendah dari pengawasan petugas di lapangan. Tidak adanya lembaga yang mengelola kawasan ekowisata konservasi gajah menjadi kendala petugas dalam meningkatkan kualitas dan kelestarian sumberdaya alam lingkungan hutan.

Kata Kunci : Tata Kelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus, Pariwisata, Evaluasi

(3)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan rasa syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala kasih, nikmat dan karuniaNya yang melimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Evaluasi Kebijakan Tata Kelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Sebagai Destinasi Pariwisata Alam di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli Desa Sibaganding Kecamatan Girsang Kabupaten Simalungun.” Penyusunan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Program Sarjana (S1) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Program Studi Ilmu Administrasi Publik.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih mempunyai banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun segi bahasa dan penulisan yang digunakan karena masih terbatasnya kemampuan dan pengetahuan penulis.Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan skripsi ini. Banyak masukan, motivasi, dan doa yang diberikan kepada penulis hingga akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini.

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua tercinta, Ayahanda Salman Alfarisi Saragih dan Ibunda Suherni yang tiada henti mendo’akan, memberi motivasi dan semangat kepada penulis. Terima kasih atas semua pengorbanan dan kerja keras Ayahanda dan Ibunda untuk membesarkan dan mendidik penulis sehingga sehingga penulis dapat menyelesaikan program sarjana, skripsi ini penulis persembahkan untuk Ayahanda dan Ibunda tercinta :*. Terimah kasih kepada Adik tersayang Aldo Albir Ghani Alfarisi Saragih dan Anggi Nur Uswatun Hasanah Alfarisi Saragih yang selalu mendukung dan mendo’akan penulis. Semangat adek-adek kakak, kita pasti bisa mewujudkan semua cita-cita dan keinginan kita selama ini :*. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si.

2. Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara, Bapak Dr. Tunggul Sihombing, MA sekaligus sebagai Dosen Pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dengan penuh kesabaran dalam proses penyelesaian skripsi ini.

3. Seketaris Departemen Ilmu Administrasi Publik,Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

(4)

4. Seluruh dosen Program Studi Ilmu Administrasi Publik FISIP USU yang telah memberikan begitu banyak ilmu kepada penulis selama masa perkuliahan.

5. Kepala Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek NauliBapak Pratiara, S.Hut, M.Si yang telah meluangkan waktunya dalam melaksanakan wawancara dengan penulis.

6. Seketaris Kepala Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli Kak Pratiwi Tarigan yang telah banyak membantu penulis dalam melaksanakan penelitian.

7. Kepada seluruh informan penulis yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Kepada Kak Dian yang selalu bersedia membantu penulis.

9. Kepada seseorang yang selalu membantu dan menemani penulis baik selama perkualihan dan penelitian, yang menempuh jarak jauh dan sering kehujanan :D.

Terima kasih buat kasih sayang dan pengorbanan yang telah diberikan untuk penulis :*. Tetap seperti ini selamanya Muhammad Khairuddin .

10. Untuk partner kuliah dan seperjuangan dari semester awal hingga akhir yang selalu sama walaupun terkadang sering berselisih paham :D terima kasih buat cerita dan kenangan selama kuliah ini Indah Permatasari Rai (Cika Gimbal) terlalu cepat waktu berlalu, hingga tak terasa kita juga akan berpisah. i’ll miss you cikaa!

11. Untuk bunda ri yang selalu saling menasehati dan selalu ngebet untuk nikah, terima kasih buat cerita kita selama ini. semoga selalu dipermudah urusan kita didunia dan akhirat nanti :*

12. Untuk si kocik Marlia (ikan teri) yang kecil-kecil cabe rawit. Semangat terus kejar cita-citanya mer.

13. Untuk Never End Squad PKL : Indah, Mer, Ziah grandma, Dumsek, Vinka, Murni kerucut, Udin ndut, Adong, Azis, Evan, terima kasih buat cerita singkat kita di kucingan.

14. Untuk tim TOEFL : Indah, aulia, izi, arum joshua yang telah membawa penulis hingga mendapat skor yang diinginkan

15. Untuk teman-teman stambuk 2014 yang tidak bisa penulissebutkan satu persatu.

Sukses untuk kita semua!

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyusunan skripsi ini yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh sebab itu penulis

(5)

sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan skripsi ini.Terima kasih.

Medan, 2 Juli 2018 Penulis

Fadhilah Nur Yuslima Alfarisi Saragih

(6)

DAFTAS ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 8

1.3 Tujuan Penelitian ... 8

1.4 Fokus Penelitian ... 9

1.5 Manfaat Penelitian ... 9

BAB IITIJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1 Kerangka Teori ... 11

2.2 Konsep Kebijakan ... 11

2.2.1 Pengertian Kebijakan ... 11

2.2.2 Komponen-Komponen Kebijakan ... 12

2.3 Evaluasi Kebijakan ... 13

2.3.1 Pengertian Evaluasi Kebijakan ... 13

2.3.2 Fungsi Evaluasi Kebijakan ... 16

2.3.3 Tujuan Evaluasi Kebijakan... 16

2.3.4 Kriteria Evaluasi Kebijakan ... 17

2.3.4.1 Kriteria Evaluasi Kebijakan Menurut Dunn ... 17

2.3.4.2 Kriteria Evaluasi Kebijakan Menurut Hatry ... 19

2.3.5 Pedekatan Evaluasi Kebijakan... 20

2.4 Hutan ... 21

(7)

2.4.1 Pengertian Hutan ... 21

2.4.2 Klasifikasi Hutan Berdasarkan Fungsi ... 23

2.5 Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus ... 24

2.6 Pariwisata ... 24

2.6.1 Pengertian Pariwisata ... 24

2.6.2 Ekowisata ... 24

2.7 Hipotesis Kerja ... 25

BAB III METODE PENELITIAN ... 26

3.1 Bentuk Penelitian ... 26

3.2 Lokasi Penelitian ... 27

3.3 Informan Penelitian ... 27

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 29

3.5 Teknik Analisi Data ... 30

3.6 Teknik Keabsahan Data ... 31

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 33

4.1 Tata Kelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Sebagai Destinasi Pariwisata Alam Di Balai Penelitian Pengembangan Lingukungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli Desa Sibaganding Kecamatan Girsang Kabupaten Simalungun ... 33

4.1.1 Dasar Hukum Tata Kelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Sebagai Destinasi Pariwisata Alam Di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli ... 34

4.1.2 Sasaran Pengelolaan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus dengan Konsep Edutainment ... 36

4.2 Efektivitas (effektiveness) ... 36

4.3 Efisiensi (efficiency) ... 47

4.4 Kecukupan (adequancy) ... 53

4.5 Pemerataan (equity) ... 60

4.6 Responsivitas (responsiveness)... 66

4.7 Ketepatan (appropriateness) ... 72

BAB V HASIL DAN KESIMPULAN ... 81

(8)

5.1 Kesimpulan ... 81 5.2 Saran ... 83 DAFTAR PUSTAKA ... 86

(9)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Pendekatan Evaluasi ... 20

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Lahan tanaman bunga sebagai pakan budidaya lebah madu ... 44 Gambar 4.2 Atraksi gajah sebagai media pembelajaran serta hiburan

kepada wisatawan. ... 45 Gambar 4.3 Jelajah hutan sebagai media pembelajaran untuk menjaga

hutan. ... 45 Gambar 4.4 Papan larangan untuk tidak membuang sampah

dikawasan hutan... 51 Gambar 4.5 Wisatawan yang membawa makanan meskipun ada

larangan untuk tidak membawa makanan kedalam area konservasi ... 52 Gambar 4.6 Kandang penangkaran rusa. ... 52 Gambar 4.7 Panggung atraksi gajah. ... 52 Gambar 4.8 Area tanam pakan bunga yang semula ditumbuhi oleh

pepohonan ... 52 Gambar 4.9 Wisatawan yang membawa makanan area konservasi. ... 58 Gambar 4.10 Daftar jumlah tenaga kerja di BP2LHK Aek Nauli ... 59 Gambar 4.11 Antusias masyarakat pada sesi berfoto bersama gajah

dengan didampingi oleh pelatih dan tenaga pengawas. ... 63 Gambar 4.12 Peta akses untuk menuju KHDTK Aek Nauli. ... 64 Gambar 4.13 Salah satu alat trasnportasi pendukung sarana dan

prasarana kegiatan ekowisata yaitu ojek petugas yang membatu

wisatawan untuk mencapai tempat atraksi gajah. ... 65 Gambar 4.14 Kunjungan wisatawan pada hari libur lebaran meningkat

dari hari minggu biasanya. ... 70 Gambar 4.15 Antusias masyarakat pada saat memberi pakan gajah dan

berfoto secara langsung. ... 70 Gambar 4.16 Stand penjual makanan yang dikelola oleh masyarakat

sekitar yang berada di depan kampus BP2LHK Aaek Nauli. ... 71 Gambar 4.17 Penebangan pohon yang dilakukan pihak BP2LHK Aek

Nauli untuk membangun kandang penangkaran rusa ... 76 Gambar 4.18 Panggung atraksi gajah yang tidak dilengkapi dengan

sistem keamaan untuk keselamatan para pengunjung... 79

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 RP KHDTK Aek Nauli Konsep Edutainment ... 1

Lampiran 2 Pedoman Wawancara ... 56

Lampiran 3 Pedoman Observasi ... 60

Lampiran 4 Pedoman Dokumentasi ... 61

Lampiran 5 Transkrip Wawancara, Observasi Dan Dokumentasi ... 62

(12)

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Hutan sebagai sumber daya alam yang digunakan untuk kehidupan bersama sebagai penyangga kehidupan mempunyai peranan penting. Berbagai manfaat diperoleh dari hutan, mulai dari hasil kayu, udara bersih serta lingkungan yang sejuk. Akan tetapi yang terjadi saat ini hutan telah mengalami berbagai kerusakan yang disebabkan oleh manusia untuk kepentingan individu. Salah satu penyebab kerusakan hutan yaitu: pembalakan liar, kebakaran hutan, dan lain-lain.

Keberadaan hutan dalam kehidupan bersama mempunyai peranan terhadap segala aspek kehidupan manusia, satwa dan tumbuhan sangat ditentukan pada tinggi rendahnya kesadaran manusia akan arti pentingnya menjaga hutan di dalam pemanfaatan dan pengelolaannya. Kerusakan hutan yang terjadi beberapa tahun lalu menjadi tanda bahwa kurangnya perhatian, serta pengawasan pemerintah dalam menjaga hutan di Indonesia. Masyarakat mempunyai peranan penting dalam menjaga kelestarian hutan, permasalahan yang sering terjadi dalam tata kelola hutan yaitu kurangnya kesadaran seluruh aspek masyarakat, pemerintah, serta pemangku kepentingan tentang sangat pentingnya fungsi utama hutan sebagai penyangga kehidupan bersama. Dampak yang timbul akibat dari kerusakan hutan sudah mulai dirasakan oleh masyarakat mulai dari tanah longsor, banjir dan lainnya. Bencana alam yang disebabkan oleh kerusakan hutan memungkinkan terjadi kapan saja tanpa melihat lapisan dan golongan masyarakat.

(13)

Kerusakan hutan selain karena keserakahan sekolompok manusia serta karena adanya tuntutan kebutuhan lahan bagi penduduk yang terus bertambah dari tahun-ketahun. Jumlah permintaan yang besar terhadap lahan pemukiman menyebabkan hutan beralih fungsi sebagai daerah pemukiman masyarakat.

Kerusakan-kerusakan akibat pembukaan lahan menjadi area pemukiman menyebabkan kerusakan lingkungan yang terlampaui daya tahan dukungnya terhadap lingkungan itu sendiri untuk keberlangsungan hidup disekitar hutan.

Pemanfaatan hutan tidak hanya berupa udara bersih yang dihasilkan, melainkan juga dari oksigen yang kita nikmati.

Perbaikan tata kelola hutan dimulai dari aspek pendukungnya seperti, teknik pengelolaan hutan, sumberdaya manusia, tingkat pengamanan serta pengawasan fungsi hutan. Pengelolaan hutan bertujuan memelihara sistem hutan untuk memenuhi kebutuhan manusia bukan hanya dari segi produksi melainkan jasa pelayanan dalam jangka panjang.

Beberapa kajian tentang tata kelola hutan menghasilkan kesimpulan antara lain: peraturan perundangan tentang kehutanan di Indonesia cenderung simpangsiur dan tumpang tindih, terdapat perbedaan persepsi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah mengenai pengelolaan hutan lestari sehingga menimbulkan ketidaksinkronan dan inkonsistensi antara peraturan pusat dengan peraturan daerah (Indah, 2010:196). Permasalahan pengelolan hutan yang terjadi saat ini yaitu tumpang tindihnya pengelolaan hutan dengan kegiatan pariwisata guna menunjang jumlah wisatawan yang datang. Sebelum kebijakan-kebijakan tersebut di sahkan perlu adanya kajian-kajian tentang dampak yang akan timbul jika kawasan hutan dikelola sebagai area wisata untuk menambah PNBP.

(14)

Hutan merupakan tempat keberlangsungan hidup berbagai aspek kehidupan. Dalam UU No. 40 Tahun 1999 pasal(1) hutan di artikan sebagai satu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan yang bersumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuannya, yang satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan. Hutan dapat dikategorikan berdasarkan satu :

1. Hutan berdasarkan statusnya , meliputi hutan negara dan hutan hak 2. Hutan berdasarkan fungsinya, meliputi hutan konservasi, hutan

lindung dan hutan konservasi.

Berdasarkan pemisahan fungsi serta status hutan, hutan mempunyai tugasnya masing-masing di dalam menjaga kelestariannya. Hutan konservasi berfungsi untuk melindungi kawasan dan jenis tumbuhan dan satwa, hutan lindung berfungsi sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, dan hutan produksi berfungsi untuk menghasilkan hasil kayu.

Tata kelola hutan dan lahan yang baik menjadi faktor penentu berhasil atau tidaknya pencapaian target tersebut. Tata kelola yang baik di tandai dengan transparansi yang menjamin kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan informasi, partisipasi masyarakat yang substansial dan signifikan, akuntabilitas yang tinggi dan bisa dipertanggungjawabkan, serta koordinasi yang berjalan efektif dan efisien dalam setiap pengambilan keputusan.

Tata kelola hutan sangatlah berperan dalam berlangsungnya kehidupan berbagai jenis fauna dan flora. Salah satunya yaitu di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Aek Nauli selanjutnya akan disingkat menjadi KHDTK Aek Nauli. Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Aek Nauli berfungsi sebagai

(15)

bagian Daerah Tangkapan Air (DTA) bagi Danau Toba, habitat beragam jenis tumbuhan dan satwaliar yang dilindungi, dan kawasan ekowisata. Berdasarkan fungsi pokok yang merupakan fungsi utama yang diemban oleh suatu hutan, pemerintah juga menetapkan kawasan hutan dengan tujuan khusus. Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus atau yang selanjutnya disingkat dengan KHDTK merupakan suatu kawasan hutan yang ditetapkan oleh pemerintah untuk kepentingan penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan serta kepentingan religi dan budaya. Pembentukan KHDTK merupakan amanat UndangUndang No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, dimana pemerintah dapat menetapkan kawasan hutan tertentu untuk tujuan khusus dengan tidak mengubah fungsi pokok kawasan hutan yang meliputi fungsi konservasi, fungsi lindung, dan fungsi produksi.

KHDTK Aek Nauli merupakan salah satu KHDTK yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 39/Menhut-II/2005, tanggal 7 Februari 2005 (Pratiara, 2017:1). Kawasan yang terletak di Aek Nauli, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara memiliki luas 1.900 Ha. Sebagai pemangku kawasan, ditunjuk Kepala Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli. Sebagian besar KHDTK Aek Nauli merupakan hutan pinus dan hutan sekunder yang di tumbuhi beragam jenis tumbuhan. KHDTK Aek Nauli merupakan wujud pemenuhan kawasan hutan sebagai wahana penelitian dan pengembangan IPTEK, termasuk pendidikan dan pelatihan, religi dan budaya, untuk dapat berkembang secara dinamis. Dari 30 KHDTK di Indonesia yang dikelola oleh BalaiLitbang Kehutanan salah satunya adalah KHDTK Aek Nauli. Melihat fungsi dan

(16)

peruntukan KHDTK Aek Nauli sebagai Balai Litbang Kehutanan tentunya memberikan konsekuensi bahwa segala potensi di dalamnya perlu dikaji secara lengkap, terutama tata kelola hutan sebagai destinasi pariwisata alam yang diharapkan tidak mengganggu keberlangsungan hidup ekosistem di dalamnya.

Secara geografis KHDTK Aek Nauli terletak diantara 2˚ 41’ – 2˚ 44’ LU dan 98˚ 57’ – 98˚ 58’ BT dan secara administratif termasuk pada Desa Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun.

Kawasan ini merupakan daerah pegunungan pada ketinggian sekitar 1100 – 1250 meter dari permukaan laut dengan kemiringan antara 3 – 65 %. Curah hujan bulanan rata-rata sebesar 206,5 mm dan curah hujan tahunan rata-rata sebesar 2452 mm dengan jumlah hari hujan sekitar 151 hari/tahun (Sumber lainnya ).

Tata kelola kawasan hutan dengan tujuan khusus Aek Nauli sebagai destinasi pariwisata yang berbasis ekowisata (pengetahuan dan alam) bertujuan untuk mengusahakan terwujudnya pelestarian sumberdaya hayati dan keseimbangan ekosistemnya melalui pengembangan hasil-hasil riset kehutanan dan lingkungan yang dipadukan dengan berbagai kegiatan menyenangkan sehingga dapat mendukung pengembangan iptek, peningkatan kesejahteraan dan optimalisasi fungsi KHDTK sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati dan pemanfaatan secara lestari sumberdaya hutan dan ekosistem hutan dataran tinggi serta program pengembangan nasional Danau Toba (Pratiara 2017:23). Dengan tujuan pengelolaan KHDTK Aek Nauli dengan konsep edutainment diharapkan mampu menjaga ekosistem serta habibat di dalamnya serta tidak menghilangkan fungsi hutan sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan.

(17)

Perlunya kajian-kajian yang dilakukan dalam tata kelola kawasan hutan dengan tujuan khusus sebagai destinasi pariwisata untuk menimalkan dampak- dampak yang terjadi dalam jangka panjang. Kegiatan ekowisata tidak hanya memerlukan lahan yang terbuka melaikan memerlukan tenaga pengawas yang bertugas mendampingi wisatawan untuk menimalkan kerusakan lingkungan akibat perilaku wisatawan. Tata kelola hutan dengan menggunakan konsep edutainment bertujuan untuk mengusahakan terwujudnya pelestarian sumberdaya alam hayati dan keseimbangan ekosistemnya. Diharapkan kegiatan ekowisata yang ditawarkan dapat memberikan pengalaman dan pendidikan melalui kegiatan bermain sambil belajar. Dengan sistem pengelolaan tersebut dapat memberikan dampak paling negatif paling rendah terhadap lingkungannya dan tidak bersifat konsumtif serta berorientasi pada lokal yakni dalam hal kontrol, manfaat yang dapat diambil dari kegiatan usaha.

Melalui Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan hidup kehutanan atau yang disingkat dengan BP2LHK Aek Nauli pada beberapa bulan lalu bekerja sama Vesswic untuk mengembangakan kawasan KHDTK Aek Nauli dengan mendatangkan 4 ekor gajah untuk mendukung kegiatan pariwisata Danau Toba serta untuk menjaga satwa tersebut yang keberadaannya sekarang terancam kepunahan. Gajah merupakan salah satu satwa yang sekarang ini jumlah dan keberadaanya semakin sedikit dan termasuk dalam hewan yang terancam kepunahannya. Kawasan konservasi gajah tersebut berdiri di atas lahan pemanfaatan hutan. Konservasi gajah bertujuan memberikan edukasi kepada wisatawan tentang seberapa pentingnya menjaga satwa serta kelestarian tumbuhan-tumbuhan yang ada di dalam wilayah KHDTK. BP2LHK berkeyakinan

(18)

bahwa dengan dibukanya kawasan konservasi gajah akan lebih meningkatkan daya tarik masyarakat untuk berkunjung ke area Danau Toba sehingga wisatawan yang akan berkunjung akan terus meningkat .

Dampak negatif yang timbul dengan dibukanya konservasi gajah yaitu pepohonan yang harus ditebang guna membangun kawasan konservasi yang digunakan untuk jalan setapak bagi para pengunjung area wisata , penangkarang gajah, podok-pondok kecil untuk pengunjung, panggung atraksi untuk gajah, kandang pengkaran rusa serta kebun bunga untuk pakan budidaya lebah madu.

Semakin banyaknya wisatawan yang berkunjung maka semakin banyak pula sampah-sampah yang akan timbul di wilayah tersebut. Kurangnya kesadaran pengunjung serta petugas menyebabkan hal ini sering terjadi dimana saja . Sampah-sampah yang ditimbulkan oleh wisatawan lama-kelaman akan bertumpuk dan semakin banyak, maka beralih fungsilah hutan sebagai tempat pembuangan sampah wisatawan.

Di dalam pemanfaatan hutan sebagai area wisata perlu memperhatikan cara-cara guna menjaga kelestarian lingkungannya. Dengan pengelolaan sumber daya alam yang lebih terarah dan lebih baik akan mencegah timbulnya dampak negatif terhadap lingkungan sekitar serta dapat digunakan untuk jangka panjang agar generasi-generasi selanjutnya merasakan manfaat hutandalam kehidupan.

Dalam menjaga keanekaragaman jenis tumbuhan tidak bisa hanya memberikan tanggung jawab hanya kepada pemerintah, melaikan kepada seluruh wisatawan dan masyarakat sekitar harus mempunyai tanggungjawab bersama dalam menjaga kelestarian hutan. Perlu adanya aturan-aturan yang tegas dengan sanksi-sanksi yang berat agar wisatawan dan masyarakat enggan untuk merusak hutan. Demi

(19)

terwujudnya kelestarian sumberdaya hayati serta fungsi hutan perlu dilakukannya perencanaan pengelolaan, pengawasan yang dilaksanakan oleh petugas BP2LHK dalam mendampingi para wisatawan.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis merasa tertarik untuk meneliti dan membahas mengenai “Evaluasi KebijakanTata Kelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Sebagai Destinasi Pariwisata Alam Di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup Kehutanan Aek Nauli Desa Sibaganding, Kecamatan. Girsang Kabupaten. Simalungun”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan yang menjadi permasalahan yaitu : “Bagaimana Evaluasi KebijakanTata Kelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Sebagai Destinasi Pariwisata Alam Di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup Kehutanan Aek Nauli Desa Sibaganding, Kecamatan. Girsang Kabupaten. Simalungun?”

1.3 Tujuan Penelitian

Setiap penelitian yang diajukan mempunyai sasaran yang ingin dicapai atau apa yang menjadi tujuan penelitian. Suatu riset khusus dalam pengetahuan empiris pada umumnya bertujuan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran ilmu pengetahuan itu sendiri. Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Evaluasi Kebijakan Tata Kelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Sebagai Destinasi Pariwisata

(20)

Alam Di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli Desa Sibaganding, Kecamatan. Girsang Kabupaten. Simalungun.

1.4 Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini bertujuan untuk memfokuskan penelitian agar tidak terlalu lebar dalam melakukan penelitian. Maka fokus penelitian ini untuk melihat efektivitas, efisiensi, kecukupan, perataan, responsivitas, serta ketepatan dalam Evaluasi Kebijakan Tata Kelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Sebagai Destinasi Pariwisata Alam Di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli Desa Sibaganding, Kecamatan.

Girsang Kabupaten. Simalungun.Penggunaan hutan sebagai tempat wiasata harus melihat dampak positif dan negatif yang nantinya akan timbul jika program tersebut berjalan dalam jangka panjang.

1.5 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :

1. Secara Subjektif, sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan berfikir secara ilmiah dan sistematis, serta membuat karya ilmiah sesuai dengan teori yang dipe roleh dari Departemen Ilmu Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

2. Secara Praktis, sebagai masukan kepada Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli dalam Tata Kelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Sebagai Destinasi Pariwisata Alam Di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan

(21)

Hidup dan Kehutanan Aek Nauli Desa Sibaganding, Kec. Girsang Kab. Simalungun.

3. Secara Akademis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi pemikiran, informasi dan pengetahuan bagi kepustakaan studi Ilmu Administrasi Publik .

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kerangka Teori

Dalam sebuah penelitian diperlukan adanya teori yang akan menjadi landasan teoritis dan menjadi pedoman dalam melaksanakan penelitian. Teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstruk, definisi, dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara mengonstruksi hubungan antara konsep dan proposisi dengan menggunakan asumsi dan logika tertentu (Effendi , 2014: 35).

Kerangka Teori adalah bagian dari penelitian, tempat penelitian memberikan penjelasan tentang hal-hal yang berhubungan dengan variabel pokok, sub variabel atau pokok masalah yang ada dalam penelitian.

2.2 Konsep Kebijakan

2.2.1 Pengertian Kebijakan

Menurut Easton 1969(dalam Tangkilisan 2003:2) kebijakan publik adalah pengalokasian nilai-nilai kekuasaan untuk seluruh masyarakat yang keberadaannya mengikat . Sehingga cukup pemerintah yang dapat melakukan sesuatu tindakan kepada masyarakatdan tindakan tersebut merupakan bentuk dari sesuatu yang dipilih oleh pemerintah yang merupakan bentuk dari pengalokasian nilai-nilai kepada masyarakat .

Menurut Santoso, A. (1988) mendefinisikan kebijakan bermakna politik, dan didefenisikan “Kebijakan publik terdiri dari rangkaian keputusan yang dibuat

(23)

oleh suatu pemerintahan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dan juga petunjuk- petunjuk yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut terutama dalam bentuk peraturan-peraturan atau dekrit-dekrit pemerintah”( Badan Pembinaan Hukum nasional Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia RI, 2011: 10).

2.2.2. Komponen-komponen Kebijakan

Menurut Jones (dalam Tangkilisan, 2003:3) kebijakan publik terdiri komponen-komponen sebagai berikut :

1. Goals atau tujuan yang diinginkan.

2. Plans atau proposal, yaitu pengertian yang spesifik untuk mencapai tujuan .

3. Program, yaitu upaya yang berwenang untuk menentukan tujuan . 4. Decision atau keputusan, yaitu tindakan-tindakan untuk menuntukan

tujuan, membuat rencana, melaksanakan dan mengevaluasi program dan

5. Efek, yaitu akibat-akibat dari program (baik disengaja atau tidak, primer atau sekunder).

Adapun proses kebijakan publik menurut James Anderson dalam Subarsono (2005:12) yaitu :

1. Formulasi masalah (problem formulation) : Apa masalahnya ? Aapa yang membuat hal tersebut menjadi masalah kebijakan? Bagaimana masalah tersebut dapat masuk dalam agenda pemerintah ?

2. Formulasi kebijakan (formulation) :Bagaimana mengembangkan pilihan-pilihan atau alternatif-alternatif untuk memecahkan masalah tersebut ? Siapa saja yang berpartisipasi dalam formulasi kebijakan ? 3. Menentukan kebijakan (adoption) :Bagaimana alternatif ditetapkan ?

Persyaratan atau kriteria apa yang harus dipenuhi ? Siapa yang akan melaksanakan kebijakan ? Bagaimana proses atau strategi untuk melaksanakan kebijakan ? Apa isi dari kebijakan yang telah ditetapkan

?

4. Implementasi (implementation): Siapa yang terlibat dalam implementasi kebijakan ? Apa yang mereka kerjakan ? Apa dampak dari isi kebijakan ?

5. Evaluasi (evaluation): Bagaimana tingkat keberhasilan atau dampak kebijakan diukur ? Siapa yang mengevaluasi kebijakan ? Apa konsekuensi dari adanya evaluasi kebijakan ? Adakah tuntutan untuk melakukan perubahan atau pembatalan.

(24)

2.3. Evaluasi Kebijakan

2.3.1 Pengertian Evaluasi Kebijakan

Evaluasi dalam penggunaannya yang paling umum adalah suatu proses yang dilakukan untuk menentukan nilai (value). Akan tetapi, evaluasi dalam hal ini tidak berhubungan dengan waktu yang telah berlalu, karena tujuannya adalah untuk menyarankan suatu perubahan dalam alokasi sumber daya, memperbaiki pelaksanaan, atau merencakan kegiatan-kegiatan untuk waktu yang akan datang (Moekijat, 1995:180). Evaluasi tidak hanya menghasilkan kesimpulan mengenai seberapa jauh masalah telah terselesaikan; tetapi juga menyumbang pada klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai yang mendasari kebijakan, membantu dalam penyesuaian dan perumusan kembali masalah (dalam Dunn, 2003:29).

Dalam arti yang lebih spesifik, evaluasi berkenaan dengan produksi informasi mengenai nilai atau manfaat hasil kebijakan.

Menurut Dunn (2003:608) evaluasi mempunyai arti yang berhubungan, masing-masing menunjuk pada aplikasi beberapa skala nilai terhadap hasil kebijakan dan program. Secara umum istilah evaluasi dapat disamakan dengan penaksiran (appraisal), pemberian angka (rating) dan penilaian (assssment), kata- kata yang menyatakan usaha untuk menganalisis hasil kebijakan dalam arti satuan nilainnya. Dalam arti yang lebih spesifik, evaluasi berkenaan dengan produksi informasi mengenai nilai atau manfaat hasil kebijakan.

Evaluasi adalah kegiatan untuk menilai tingkat kinerja suatu kebijakan (Subarsono, 2005 :119). Menurut James P. Lester dan Joseph Stewart (dalam Winarno 2002), evaluasi kebijakan ditujukan untuk melihat sebab-sebab

(25)

kegagalan suatu kebijakan atau untuk mengetahui apakah kebijakan publik yang telah dijalankan meraih dampak yang diinginkan. Evaluasi dibedakan kedalam dua tugas yang berbeda, yaitu :

1. Menentukan konsekuensi-konsekuensi apa yang ditimbulkan oleh suatu kebijakan dengan cara menggambarkan dampaknya. Tugas ini merujuk pada usaha untuk melihat apakah program kebijakan publik mencapai tujuan atau dampak yang diinginkan atau tidak. Bila tidak, faktor-fakor apa yang menjadi penyebabnya .

2. Menilai keberhasilan atau kegagalan dari suatu kebijakan berdasarkan standart atau kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Tugas ini berkaitan erat dengan tugas pertama. (Winarno, 2002 : 166)

Jones 1977 (dalam Tangkilisan 2003 : 25) mengemukakan bahwa evaluasi suatu kebijakan publik berarti dilakukan peninjauan ulang untuk mendapatkan perbaikan dari dampak yang tidak diinginkan. Pertanyaan mendasar yang muncul pada proses dilakukannya evaluasi kebijakan, yaitu : apakah akibat-akibat dari suatu program, apakah akibat-akibat itu memang diinginkan ; bagaimana hasilnya

;bagaimana respons yang muncul dari berbagai kelompok yang ada dalam masyarakat; baagaimana lokasi dan kondisi di lapangan; bagaimana dukungan peraturan-perundangannya; dan terakhir bagaimana sikap dari kelompok- kelompok yang ada.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi merupakan kegiatan atau proses untuk mengukur seberapa jauh program atau

(26)

kebijakan itu berjalan serta untuk menilai apakah program atau kebijakan berjalan sesuai dengan yang telah dirumuskan.

Menurut Dunn (2003:608) evaluasi kebijakan mempunyai sejumlah karakteristik yang membedakannya dari merode-metode analisis kebijakan lainnya :

1. Fokus nilai .

Evaluasi berbeda dengan pemantauan, dipusatkan pada penilaian menyangkut keperluan atau nilai dari suatu kebijakan dan program. Evaluasi terutama merupakan usaha untuk menetukan manfaat atau kegunaan sosial kebijakan atau program, dan bukan sekedar usaha untuk mengumpulkan informasi mengenai hasil aksi kebijakan yang terantisipasi dan tidak terantisipasi. Karena ketetapan tujuan dan sasaran kebijakan dapat selalu dipertanyakan, evaluasi mencakup prosedur untuk mengevaluasi tujuan-tujuan dan sasaran itu sendiri.

2. Interdependensi Fakta-Nilai.

Tuntutan evaluasi tergantung baik “fakta” maupun “nilai”. Untuk menyatakan bahwa kebijakan atau program tertentu telah mencapai tingkat kinerja tertinggi (atau rendah) diperlukan tidak hanya bahwa hasil-hasil kebijakan berharga bagi sejumlah individu, kelompok atau seluruh msyarakat; untuk menyatakan demikian, harus didukung oleh bukti bahwa hasil-hasil kebijakan secara aktual merupakan konsekuensi dari aksi-aksi yang dilakukan untuk memecahkan masalah tertentu .

3. Orientasi Masa Kini dan Masa Lampau.

Tuntutan evaluatif, berbeda dengan tuntutan advokatif , diarahkan pada hasil sekarang dan masa lalu, ketimbang hasil di masa depan. Evaluasi bersifat retrospektif dan setelah aksi-aksi dilakukan (ex post). Rekomendasi yang juga mencakup-mencakup premis nilai, bersifat prospektif dan dibuat sebelum aksi- aksi dilakukan (ex ante)

4. Dualitas Nilai.

Nilai-nilai yang mendasari tuntutan evaluasi mempunyai kualitas ganda, karena mereka dipandang sebagai tujuan dan sekaligus cara. Evaluasi sama dengan rekomendasi sejauh berkenaan dengan nilai yang ada (misalnya, kesehatan) dapat dianggap sebagai intrinsik(diperlukan bagi dirinya ) ataupun ekstrinsik (diperlukan karena hal itu mempengaruhi pencapaian tujuan-tujuan lain). Nilai-nilai sering ditata di dalam suatu hirarki yang merefleksikan kepentingan relatif dan saling ketergantungan latar tujuan dan sasaran.

(27)

2.3.2 Fungsi Evaluasi Kebijakan

Menurut Dunn (2003:609) Evaluasi memainkan fungsi utama dalam analisis kebijakan, yaitu :

1. Pertama dan paling penting, evaluasi memberi informasi yang valid dan dapat dipercaya mengenai kinerja kebijakan, yaitu seberapa jauh kebutuhan, nilai dan kesempatan telah dapat dicapai melalui tindakan publik. Dalam hal ini evaluasi mengungkapkan seberapa jauh tujuan- tujuan telah dicapai.

2. Evaluasi memberikan sumbangan pada klarifikasi atau kritik terhadap nilai-nilai yang mendasari pemilihan tujuan dan target. Nilai diperjelas dengan mendefinisikan dan mengoperasikan tujuan dan target.

Dalam Wibawa(1994:10) secara keseluruhan, evaluasi kebijakan memiliki empat fungsi berikut:

a. Eksplanasi. Pemantauan juga menghimpun informasi yang dapat menjelaskan mengapa hasil-hasil kebijakan dan program berbeda.

b. Kepatuhan. Melalui evaluasi dapat diketahui apakah tindakan yang dilakukan oleh para pelaku, baik birokrasi, staf maupun pelaku lain, sesuai dengan standar dan prosedur yang ditetapkan oleh pemerintah dan lembaga profesional.

c. Auditing . Melalui evaluasi dapat diketahui apakah sumberdaya dan pelayanan yang dimaksudkan untuk kelompok sasaran maupun konsumen (individu, keluarga, kota , negara bagian, wilayah) memang telah sampai kepada mereka.

d. Akunting. Dengan evaluasi dapat diketahui apa akibat sosial-ekonomi dari kebijakan setelah dilaksanakan sejumlah kebijakan publik dari waktu ke waktu.

2.3.3 Tujuan Evaluasi Kebijakan

Selanjutnya Subarsono (2005: 120-121), menyatakan bahwa evaluasi memiliki beberapa tujuan sebagai berikut :

(28)

a. Menentukan tingkat kinerja suatu kebijakan . Melalui evaluasi maka dapat diketahui derajad pencapaian tujuan dan sasaran kebijakan.

b. Mengukur tingkat efisiensi suatu kebijakan. Dengan evaluasi juga dapat diketahui berapa biaya dan manfaat dari suatu kebijakan.

c. Mengukur tingkat keluaran (outcome) suatu kebijakan. Salah satu tujuan evaluasi adalah mengukur berapa besar dan kualitas pengeluaran atau output dari suatu kebijakan.

d. Mengukur dampak suatu kebijakan. Pada tahap lebih lanjut, evaluasi ditujukan untuk melihat dampak dari suatu kebijakan, baik dampak positif maupun dampak negatif.

e. Untuk mengetahui apabila ada penyimpangan . Evaluasi juga bertujuan untuk mengetahui adanya penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi, dengan cara membandingkan antara tujuan dan sasaran dengan pencapaian target.

f. Sebagai bahan masukan (input) untuk kebijakan yang akan datang. Tujuan akhir dari evaluasi adalah untuk memberikan masukan bagi proses kebijakan ke depan agar dihasilkan kebijakan yang lebih baik .

2.3.4 Kriteria Evaluasi Kebijakan

2.3.4.1 Kriteria Evaluasi Kebijakan Menurut Dunn

Menurut Dunn (2003:429-438), kriteria-kriteria evaluasi kebijakan dibedakan dalam enam tipe utama :

1. Efektivitas (effectiveness)

Berkenaan dengan apakah suatu alternatif mencapai hasil (akibat) yang diharapkan atau mencapai tujuan dari diadakannya tindakan . Efektivitas, yang secara dekat berhubungan dengan rasionalitas teknis, selalu diukur dari unit produk atau layanan atau nilai moneternya.

2. Efisiensi (efficiency)

Berkenaan dengan jumlah usaha yang diperlukan untuk menghasilkan tingkat efektivitas tertentu. Efisiensi yang merupakan sinonim dari rasionalitas ekonomi adalah, merupakan hubungan antara efektivitas dan usaha, yang terakhir umumnya diukur dari ongkos moneter.

(29)

3. Kecukupan, (adequacy)

Berkenaan dengan seberapa jauh suatu tingkat efektivitas memuaskan kebutuhan, nilai, atau kesempatan yang menumbuhkan adanya masalah. Kriteria kecukupan menekankan pada kuatnya hubungan antara alternatif kebijakan dan hasil yang diharapkan .

4. Kesamaan (equity)

Erat hubungan dengan rasionalitas legal dan sosial dan menunjuk pada distribusi akibat dan usaha antara kelompok-kelompok yang berbeda dalam masyarakat.

5. Responsivitas (responsiveness)

Berkenaan dengan seberapa jauh suatu kebijakan dapat memuaskan kebutuhan, preferensi, atau nilai kelompok-kelompok masyarakat tertentu.

Kriteria responsivitas adalah penting karena analisis yang dapat memuaskan semua kriteria lainnya seperti efektivitas, efesiensi, kecukupan, kesamaan masih gagal jika belum menanggapi kebutuhan aktual dari kelompok yang semestinya diuntungkan dari adanya suatu kebijakan.

6. Ketepatan (appropriateness)

Kriteria ketepatan secara dekat berhubungan dengan rasionalitas substansi, karena pertanyaan tentang ketepatan kebijakan berkenaan dengan suatu kriteria individu tetapi dua atau lebih kriteria secara bersama-sama.

(30)

2.3.4.2 Kriteria Evaluasi Kebijakan Menurut Hatry

Menurut Hatry dan kawan-kawwannya menyarakan lima pendekatan untuk mengindetifikasikan dan mengukur pengaruh-pengaruh yang disebabkan oleh adanya program :

1. Perbandingan sebelum dan sesudah program . Membandingkan hasil- hasil program dari yuridiksi yang sama diukur pada dua titik tepat pada waktunya segera sebelum program dilaksanakan dan pada waktu yang layak setelah pelaksanaan.

2. Proyeksi kecenderungan waktu dari data sebelum program dengan data sesudah program yang sesungguhnya. Membandingkan data sesudah program yang sesungguhnya dengan data yang diperkirakan yang diproyeksikan dari sejumlah periode waktu sebelum program.

3. Perbandingan-perbandingan dengan yurisdiksi-yurisdiksi atau bagian- bagian populasi yang tidak dilayani oleh program. Membandingkan data dari yurisdiksi dimana program dijalankan dengan data dari yurisdiksi-yurisdiksi lain dimana program tidak dapat dijalankan.

4. Pelaksanaan suatu percobaan yang diawasi. Membandingkan kelompok-kelompok yang hampir sama, yang dipilih sebelumnya, beberapa diantaranya mendapatkan bantuan dan beberapa diantaranya yang lain tidak (atau mendapat bantuan dengan cara-cara yang berlainan).

(31)

5. Perbandingan pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan dengan pelaksanaan pekerjaan yang sesungguhnya . Membandingkan data sesudah program yang sesungguhnya dengan sasaran yang ditentukan dalam tahun-tahun sebelumnya-baik sebelum pelaksanaan program maupun pada beberapa waktu sejak pelaksanaan.

2.3.5 Pendekatan Evaluasi Kebijakan

Ada tiga jenis pendekatan terhadap evaluasi menurut Dunn (2003:613-619) yaitu sebagai berikut :

Tabel 2.1 Pendekatan Evaluasi

Pendekatan Tujuan Asumsi Metodologi

Evaluasi Semu Menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang valid tentang hasil

kebijakan

Ukuran manfaat atau nilai terbukti dengan sendirinya atau tidak kontroversial

1.Eksperimentasi sosial 2.Akuntansi sistem sosial.

3. Pemeriksaan sosial.

4. Sintesis riset dan praktik.

Evaluasi Formal

Menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil kebijakan yang secara formal diumumkan sebagai sasaran program kebijakan.

Tujuan dan sasaran dari pengambilan kebijakan dan administrator yang secara resmi diumumkan merupakan ukuran yang tepat dari manfaat atau nilai.

1.Evaluasi perkembangan 2.Evaluasi eksperimen 3.Evaluasi proses restrospektif 4.Evaluasi hasil retrospektif

Evaluasi keputusan teoritis

Menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang

Tujuan dan sasaran dari berbagai pelaku yang secara formal diumumkan atau

1.Penilaian tentang dapat tidaknya dievaluasi.

2.Analisis utilitas

(32)

2.4 Hutan

2.4.1 Pengertian Hutan

Berdasarkan UU No.41 Tahun 1999 menyatakan bahwa hutan adalah kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi olehpepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia RI, 2011 :62).

Menurut Irwan (dalam Agustina), sistem ekologi di dalam ekosistem hutan merupakan suatu sistem yang dinamis yaitu suatu sistem yang salng terkait dan saling membutuhkan antara vegetasi dan hewan yang berinteraksi.

Menurut Rahardjanto (2004), fungsi hutan secara umum adalah : terpercaya dan valid

mengenai hasil kebijakan yang secara eksplisit diinginkan oleh berbagai pelaku kebijakan.

didiamkan merupakan ukuran yang tepat dari manfaat atau nilai.

multiatribut.

Sumber : Dunn, 2003:612

1. Evaluasi semu, adalah pendekatan evaluasi yang menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil-hasil kebijakan, tanpa berusaha untuk menanyakan tentang manfaat atau nilai dari hasil – hasil tersebut terhadap individu, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan.

2. Evaluasi formal, adalah pendekatan evaluasi yang menggunakan metode desktiptif untuk menghasilkan informasi yang valid dan cepat dipercaya mengenai hasil-hasil kebijakan tetapi mengevaluasi hasil tersebut atas dasar tujuan program kebijakan yang telah diumumkan secara formal oleh pembuat kebijakan dan administrastor program.

3. Evaluasi proses keputusan teoritis, adalah pendekatan yang menggunakan metode- metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang dapat dipertanggung- jawabkan dan valid mengenai hasil-hasil kebijakan yang secara eksplisit dinilai oleh berbagaimacam pelaku kebijakan.

(33)

a. Hutan merupakan penyimpanan tumbuhan dan hewan yang teruji keberadaanya, dengan demikian hutan merupakan gudang gen, yang sewaktu-waktu dapat diambil untuk pemuliaan tanaman.

b. Hutan merupakan penyangga penyakit dan hama. Jika pada suatu waktu timbul ledakan suatu penyakit atau hama, maka akibatnya bisa diperkecil karena penampungan oleh hutan.

c. Hutan atau vegetasi pada umumnya dapat menyerap CO2 disuatu lingkungan yang sedang tercemar oleh asap kendaraan bermotor pabrik atau instalansi dengan gas pembuangan berupa karbon monoksida mapun karbon dioksida. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa hutan sebagai penyaring udara .

d. Hutan merupakan pelindung terhadap angin. Lebatnya vegetasi disuatu hutan mengurangi atau mencegah kencangnya tiupan angin yang terlalu kuat bagi tanaman budidaya ataupun bagi daerah pemukiman.

e. Hutan merupakan pengatur siklus hidrologi.

f. Hutan merupakan pengatur suhu lingkungan. Sinar matahari yang langsung memancar ke permukaan bumi sebagian diserap oleh tumbuhan, sehingga lingkungan tidak langsung dan cepat menjadi panas.

g. Hutan merupakan suatu ekosistem yang relatif stabil sehingga dapat diperhitungkan dalam perencanaan pemukiman, persawahan, perladangan.

h. Hutan sebagai sumber kekayaan alam baik nabati maupun hewani yang mendukung kesejahteraan manusia.

Menurut Simon (1998) secara ekologi hutan berperan penting terhadap aliran, kualitas, kuantitas, dan prilaku air sehingga hutan daat dimanfaatkan sebagai berikut :

1) Pengatur tata air.

Perputaran air dibumi, pada saat terjadi hujan di suatu daratan, air hujan akan menyirami permukaan bumi. Air hujan yang jatuh di permukaan bumi ini sebagian akan diuapkan kembali ke udara, sebagian lagi meresap ke dalam tanah dan sisahnya mengalir di atas permukaan tanah.

2) Pelindung kesuburan

Tingkat kesuburan tanah dipengaruhi banyak faktor. Kesuburan tanah tidak hanya tergantung pada kandungan unsur hara di dalam tanah saja, tetapi juga dipengaruhi oleh sifat fisik tanah, keadaan air dalam tanah, organisme mikro dan sebagainya.

3) Perlindungan sumber genetik

Karena sifat dan arealnya yag luas, hutan berisi banyak sekali jenis tanaman dan binatang, baik besar maupun kecil. Jenis tanaman yang dianggap

(34)

mengganggu atau binatang yang merusak tersebut sebenarnya merupakn sumber genetik yang dikemudian hari sangat bermanfaat bagi pengembangan usaha produksi.

4) Sebagai penyegar udara

Menurut Soemarwoto dan Simon (1983) dalam Simon (1998) Udara merupakan komponen yang amat sangat penting bagi lingkungan hidup dibumi.

Peranan hutan dalam menyegarkan udara memang hanya terbatas pada mengubah CO2 menjadi O2 melalui fotosintesis .

2.4.2 Klasifikasi hutan berdasarkan fungsi

Menurut Djajapertunda (2001), kawasan hutan dibedakan menjadi beberapa kelompok berdasarkan fungsinya yaitu :

1. Hutan Produksi

Hutan yang ditumbuhi oleh jenis-jenis pohon yang dapat dipungut kayunya secara komersial untuk digunakan sebagai bahan berbagai keperluan seperti bahan baku bagi industri perkayuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan ekspor.

Menurut Direktorat Bina Program Kehutanan(1981) dalam Indriyanto (2008), hutan produksi dibedakan menjadi tiga, yaitu :

a) Hutan produksi terbatas adalah hutan produksi yang hanya dapat dieksploitasi dengan cara tebang pilih.

b) Hutan produksi tetap atau hutan produksi bebas adalah hutan produksi yang dapat dieksploitasi baik dengan cara tebang pilih maupun dengan cara tebang habis.

c) Hutan konversi adalah hutan produksi bebas atau tetap yang dapat diubah peruntukannya untuk memenuhi kebutuhan perluasan pengembangan wilayah diluar bidang kehutanan, misalnya pertanian, perkebunan industri dan pemukiman.

2. Hutan Lindung

Hutan yang berperan dalam pengaturan siklos hidrologi, mengurangi erosi, mencegah bahaya banjir dan memelihara kesuburan tanah. Kawasan hutan lindung memerlukan pengawasan yang intensif karena jika terjadi pengurangan kawasan hutan lindung akan menyebabkan hilangnya fungsi kawasan hutan lindung sebagai daerah resapan air.

3. Hutan Suaka Alam

Hutan yang keadaan alamnya memiliki sifat yang khas dan dapat diperuntukan secara khusus untuk perlindungan alam hayati atau pemanfaatan lainnya.

(35)

2.5 Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus

KHDTK Aek Nauli merupakan suatu kawasan yang ditetapkan oleh pemerintah untuk kepentingan penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan serta kepentingan religi dan budaya. KHDTK Aek Nauli berfungsi sebagai bagian Daerah Tangkapan Air (DTA) memiliki beberapa tipe ekosistem yang menjadi habitat beragam jenis tumbuhan dan satwaliar dilindungi.

2.6 Pariwisata

2.6.1 Pengertian Pariwisata

Istilah pariwisata berasal dari kata wisata. Di dalam UU No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepaiwisaan, pengertian wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.

Pariwisata menurut Yoeti adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain, dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah ditempat dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna bertamasya dan berekreasi untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam ( Nandi, 2015:1).

2.6.2 Ekowisata

Ekowisata atau ekoturisme merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek

(36)

pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan(sumber lainnya). Berikut ini jenis-jenis ekowisata :

1. Wisata pemandangan:

Objek-objek alam (pantai, air terjun, terumbu karang)

Flora (hutan, tumbuhan langka, tumbuhan obat-obatan)

Fauna (hewan langka dan endemik)

Perkebunan (teh, kopi)

2. Wisata petualangan:

Kegiatan alam bebas (lintas alam, berselancar)

Ekstrem (mendaki gunung, paralayang)

Berburu (babi hutan)

3. Wisata kebudayaan dan sejarah:

Suku terasing (orang Rimba, orang Kanekes)

Kerajinan tangan (batik, ukiran)

Peninggalan bersejarah (candi, batu bertulis, benteng kolonial)

4. Wisata penelitian:

Pendataan spesies (serangga, mamalia dan seterusnya)

Pendataan kerusakan alam (lahan gundul, pencemaran tanah)

Konservasi (reboisasi, lokalisasi pencemaran)

5. Wisata sosial, konservasi dan pendidikan:

Pembangunan fasilitas umum di dekat objek ekowisata (pembuatan sarana komunikasi, kesehatan)

Reboisasi lahan-lahan gundul dan pengembang biakan hewan langka

Pendidikan dan pengembangan sumber daya masyarakat di dekat objek ekowisata (pendidikan bahasa asing, sikap)

2.7 Hipotesis Kerja

Berdasarkan konsep-konsep evaluasi yang telah penulis dikemukakan, penulis merumuskan hipotesis kerja terkait Evaluasi Kebijakan Tata Kelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Sebagai Destinasi Pariwisata Alam Di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli Desa Sibaganding Kecamatan Girsang Kabupaten Simalungun terkait dengan kriteria, efektivitas (effectiveness), efisiensi (efficiency), kecukupan (adequancy), kesamaan (equity), responsivitas (responsiveness), ketepatan (appropriateness) evaluasi kebijakan.

(37)

BAB III

METODE PENELITIAN

Dalam melaksanakan suatu penelitian, metode penelitian merupakan bagian yang sangat penting dan menentukan berhasilnya suatu penelitian tersebut.

Metode penelitian merupakan cara ilmiah yang digunakan dalam mencapai tujuan penelitian. Dalam bab ini peneliti menggunakan bentuk penelitian, teknik pengumpulan data, serta teknik analisis data sebagai berikut :

3.1 Bentuk Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian jenis kualitatif. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang yang berbeda. Dengan demikian pengertian penelitian kualitatif tersebut merupakan penelitian yang digunakan untuk meneliti objek. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif, yaitu penelitian yang memberi gambaran secara cermat mengenai individu atau kelompok dan gejala yang terjadi (koentjaraningrat, 1993 :89)

Selanjutnya penelitian kualitatif menurut Moeleong (2005:6) adalah penelitian yang dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll, secara holistic, dan dengan suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.

Penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif bertujuan untuk memahami dan mempelajari realitas sosial atau gejala sosial dengan cara pandang

(38)

yang objektif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang mengumpulkan data yang sudah tersedia melalui buku-buku yang didukung oleh pendapat ahli.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini mengambil lokasi di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli Desa Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun. Peneliti memilih lokasi tersebut karena kawasan hutan dengan tujuan khusus menjadi salah satu destinasi pariwisata alam yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Pengelolaan kawasan hutan sebagai tempat wisata harus melihat dampak-dampak apa saja yang nantinya akan timbul jika hutan dibuka sebagai tempat wisata. Kurang nya kesadaran pengunjung maupun petugas untuk menjaga kelestarian dan ekosistem hutan yang akan menyebabkan hilangnya fungsi hutan tersebut. Penebangan-penebangan pohon yang dilakukan untuk terciptanya destinasi pariwisata baru di kawasan hutan dengan tujuan khusus perlu diperhatikan lebih serius dampak apa saja yang akan timbul jika kawasan tersebut dikelola tidak hanya dalam jangka pendek melainkan dalam jangka panjang. Dampak yang timbul tidak hanya dari kebijakan yang diambil melainkan dari kegiatan ekowisata yang akan terjadi.

3.3 Informan Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, tidak menggunakan istilah populasi ataupun sampel. Bungin (2007:76) mengatakan bahwa informan penelitian adalah subjek yang memahami informasi objek penelitian sebagai pelaku maupun orang lain yang memahami objek penelitian. Adapun informan penelitian ini, yaitu :

(39)

No. Informan Penelitian Informasi yang dibutuhkan

Jumlah

1. Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli.

1. Efektivitas.

2. Efisiensi.

3. Kecukupan.

4. Perataan.

5. Responsivitas.

6. Ketepatan.

1

2. Staff Seksi Program dan Evaluasi Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli.

1. Efektivitas.

2. Efisiensi.

3. Kecukupan.

4. Perataan.

5. Responsivitas.

6. Ketepatan

1

3. Peneliti Madya Bidang Sumber Daya Hutan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli.

1. Efektivitas.

2. Efisiensi.

3. Kecukupan.

4. Perataan.

5. Responsivitas.

6. Ketepatan.

1

4. Peneliti Muda Bidang Silvikultur Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli.

1. Efektivitas.

2. Efisiensi.

3. Kecukupan.

4. Perataan.

5. Responsivitas.

6. Ketepatan

1

5. Peneliti Utama Bidang Sumber Daya Hutan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli.

1. Efektivitas.

2. Efisiensi.

3. Kecukupan.

4. Perataan.

5. Responsivitas.

6. Ketepatan

1

6. Kepala Seksi Sarana Penelitian Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli.

1. Efektivitas.

2. Efisiensi.

3. Kecukupan.

4. Perataan.

5. Responsivitas 6. Ketepatan

1

(40)

7. Pegawai Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli.

1. Efektivitas.

2. Efisiensi.

3. Kecukupan.

4. Pemerataan.

5. Responsivitas 6. Ketepatan

1

8. Wisatawan yang berkunjung 1. Efektivitas.

2. Efisiensi.

3. Kecukupan.

4. Pemerataan.

5. Responsivitas 6. Ketepatan

8

15

3.4 Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena bertujuan untuk mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang diharapkan (Sugiyono, 2016:101). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

Teknik pengumpulan data primer adalah pengumpulan data yang dilakukan secara langsung pada lokasi penelitian . Pengumpulan data primer dapat dilakukan melalui, yaitu :

a. Wawancara, yaitu proses pengumpulan data yang dilakukan secara langsung dengan pihak terkait untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dengan cara melakukan tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan. Metode ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara langsung dan terbuka

(41)

kepada informan atau pihak yang berhubungan dengan penelitian.

Sebelum turun ke lapangan peneliti terlebih dahulu menyusun pedoman wawancara.

b. Observasi, yaitu pengumpulan data dengan pengamatan secara langsung objek penelitian dengan cara mencatat segala gejala yang ditemukan dilapangan untuk mempelajari data-data yang diperlukan sebagai acuan yang berkenaan dengan topic penelitian. sebelum turun ke lapangan peneliti menyusun pedoman observasi.

c. Dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan catatan-catatan atau dokumentasi-dokumentasi yang ada di lokasi penelitian atau sumber lain yang terkait dengan objek penelitian.

Sebelum turun ke lapangan peneliti terlebih dahulu menyusun pedoman observasi.

3.5 Teknik Analisis Data

Sesuai dengan metode penelitian, teknik analisa data yang dipergunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan analisis kualitatif. Menurut Farid (1997:152) bahwa analisis kualitatif adalah analisis terhadap data yang diperoleh yang diperoleh berdasarkan kemampuan nalar peneliti dalam menghubung- hubungkan fakta dan informasi, data dan informasi . Jadi analisis data kualitatif yaitu dengan menyajikan hasil wawancara, hasil kusioner, serta studi kepustakaan dan dokumentasi dengan melakukan analisis terhadap masalah yang ditemukan di lapangan. Sehingga diperoleh gambaran yang jelas tentang objek yang diteliti dan menarik kesimpulan.

Dalam melakukan analisis data, terdapat beberapa tahapan antara lain :

(42)

1. Reduksi data

Proses pemilihan, pemusatan pada penyederhanaan transformasi data kasar yang muncul dari cacatan-catatan di lapangan , melakukan transkrip data untuk memilih informasi mana yang dianggap sesuai dan tidak sesuai dengan masalah yang menjadi pusat penelitian dilapangan.

2. Penyajian data

Sekumpulan informasi berbentuk naratif atau uraian teks, grafik jaringan , tabel, dan bagan yang bertujuan mempertajam pemahaman penelitian terhadap informasi yang dipilih kemudian disajikan dalam tabel maupun uraian penjelasan.

3. Penarikan kesimpulan

Mencari arti pola-pola penjelasan, konfigurasi yang mungkin, alur sebab- akibat, dan proposisi. Penarikan kesimpulan dilakukan secara cermat dengan melakukan verifikasi berupa tinjauan ulang pada catatan-catatan di lapangan sehingga data-data dapat diuji validitasnya.

3.6 Teknik Keabsahan Data

Dalam Wirawan (2012:156) Untuk memastikan data/ informasi lengkap dan validitasnya dan reliabilitasnya tinggi penelitian kualitatif mempergunakan teknik triangulasi (triangulation). Triangulasi adalah suatu pendekatan riset yang memakai suatu kombinasi lebih dari satu strategi dalam satu penelitian untuk menjaring data/informasi. Triangulasi adalah suatu metode yang dipakai dalam metode yang dipakai dalam penelitian kualitatif-sering juga dipakai dalam metode kuantitaif- untuk mengukur validitas dan reabilitas dalam penelitian kualitatif.

(43)

Dalam penelitian dapat dipergunakan lima jenis triangulasi, yaiitu :

1. Triangulasi data adalah mempergunakan berbagai sumber data/informasi.

Dalam teknik triangulasi ini adalah mengelompokkan para pemangku kepentinganprogramm dan mempergunakannya sebagai sumber/data informasi.

2. Triangulasi peneliti. Teknik triangulasi ini digunakan oleh evaluator atau tim evaluator dalam satu proyek evaluasi. Para evaluator mempergunakan metode kualitatif yang sama, misalnya wawancara, observasi, studi kasus, kelompok kunci atau informan kunci. temuan dari setiap evaluator dibandingkan, jika temuan dari berbagai evaluator berbeda datu dama lain maka diperlukan studi lebih lanjut untuk menentuksn perbedaan tersebut.

Apakah ada kemungkinan perbedaan tersebut dapat diperkecil ?

3. Triangulasi teori . triangulasi teori adalah penelitian dengan mempergunakan berbagai profesional dengan berbagai latar belakang ilmu pengetahuan untuk menilai suatu set data/informasi.

4. Triangulasi metode. Triangulasi metode adalah pemakaian berbagai metode-metode kuantitatif dan /atau metode kualitatif untuk mengevaluasi program. Jika kesimpulan dari setiap metode sama, maka validitas penelitian ditetapkan.

5. Triangulasi lingkungan. Triangulasi jenis ini mempergunakan berbagai lokasi yang berbeda, altar dan faktor-faktor lainnya yang berhubungan dengan lingkungan dimana penelitian mengambil tempat seperti waktu suatu hari, hari suatu suatu minggu atau musim dalam satu tahun.

` Dalam penelitan ini penulis menggunakan jenis triangulasi data dan triangulasi metode. Teknik triangulasi data dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh melalui wawancara antara subjek penelitian yang satu dengan yang lain. Teknik triangulasi metode digunakan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari hasil wawancara terhadap informan dengan hasil pengamatan penelitian terkait Evaluasi Kebijakan Tata Kelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Sebagai Destinasi Pariwisata Alam di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli Desa Sibaganding Kecamatan Girsang Kabupaten Simalungun.

(44)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Tata Kelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Sebagai Destinasi Pariwisata Alam di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli Desa Sibaganding Kecamatan Girsang Kabupaten Simalungun.

Tata kelola hutan adalah kegiatan atau upaya untuk menata suatu lahan atau hutan melalui proses, mekanisme, aturan untuk pemanfaatan hutan lebih lanjut.

Tata kelola hutan disini tidak hanya sebatas mekanisme, atau pemanfaatan lahan akan tetapi bagaimana instansi atau organisasi yang mengelola memiliki sifat transparansi, akuntabilitas serta koordinasi di dalam mengelola hutan.

Tata kelola KHDTK Aek Nauli saat ini terlihat tidak terencana dengan baik, hal ini terlihat dari organisasi yang mengelola kawasan konservasi gajah tersebut.

Kawasan konservasi gajah terletak di dalam KHDTK Aek Nauli dan sebagai pemangku KHDTK ditunjuk Kepala Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup Kehutanan Aek Nauli. Kawasan konservasi gajah adalah program pendukung kegiatan pariwisata Danau Toba yang menjadi Agenda (Nawa Cita) Presiden Joko Widodo dalam pengembangan kawasan strategis pariwisata Nasional Danau Toba. Konservasi gajah merupakan salah satu tema ekowisata dengan konsep edutaiment yang ditawarkan oleh KHDTK Aek Nauli dalam mengembangkan pariwisata Nasional Danau Toba.

Tata kelola ekowisata yang masih belum terencana dengan baik menjadi permasalahan yang akan diuraikan di dalam pembahasan. Kawasan konservasi

(45)

gajah didirikan oleh tiga lembaga yang bekerja sama untuk terciptanya wisata baru yang diminati masyarakat tanpa harus merusak hutan. Akan tetapi setelah konservasi gajah resmi dibuka untuk umum, organisasi yang bertanggungjawab dalam mengelola konservasi gajah belum terbentuk hingga saat ini.

4.1.1 Dasar Hukum Tata Kelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Sebagai Destinasi Pariwisata Alam di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli

Dasar hukum pengelolaan KHDTK Aek Nauli sebagai destinasi pariwisata dengan konsep edutainment :

1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

2. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan.

3. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 jo. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2008 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Kerja Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan.

4. Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 2010 tentang Penelitian dan Pengembangan Serta Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan.

5. Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor P. 6/Menhut- Ii/2010 Tentang Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) pada ataukah Dan Kesatuan Pengelolaan Huta Produksi (KPHP).

Gambar

Tabel 2.1   Pendekatan Evaluasi
Gambar 4.1 Lahan tanaman bunga sebagai pakan budidaya lebah madu.
Gambar  4.2  Atraksi  gajah  sebagai  media  pembelajaran  serta  hiburan  kepada  wisatawan
Gambar 4.4 Papan larangan untuk tidak membuang sampah dikawasan hutan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hukum adat adalah sistem hukum yang dikenal dalam sistem kehidupan sosial di Indonesia dan di negara lain, sumbernya adalah peraturan2 hukum tidak tertulis yang tumbuh dan

Berdasarkan judul penelitian yang penulis angkat yaitu “Kajian Visual Desain Pada Kaos Pariwisata Pantai Pangandaran” maka metode yang digunakan adalah deskriptif-analitis,

Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 1, tujuan perkawinan adalah “Untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan

Fase tes, evaluasi dan revisi ( test, evaluation and revision ), bertujuan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran IPA berbasis pemecahan masalah yang valid dan

Manfaat yang diperoleh dari praktikum Mutu dan Keamanan Hasil Ternak yaitu dapat mengetahui bahan pangan yang mengandung Formalin dan Boraks.. Waktu

penelitian ini, soal open ended yang diberikan adalah soal yang memiliki lebih. dari satu jawaban atau cara penyelesaian

Gambar 1.2 Data NPL Perusahaan Pembiayaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2012-2016... Sumber:Bursa Efek Indonesia, data diolah

Arikunto (2002), setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data, perlu dilakukan pengolahan data untuk kemudian dilakukan analisis, adapu langkah analisis