BAB I PENDAHULUAN
2.3 Evaluasi Kebijakan
2.3.4 Kriteria Evaluasi Kebijakan
2.3.4.2 Kriteria Evaluasi Kebijakan Menurut Hatry
Menurut Hatry dan kawan-kawwannya menyarakan lima pendekatan untuk mengindetifikasikan dan mengukur pengaruh-pengaruh yang disebabkan oleh adanya program :
1. Perbandingan sebelum dan sesudah program . Membandingkan hasil-hasil program dari yuridiksi yang sama diukur pada dua titik tepat pada waktunya segera sebelum program dilaksanakan dan pada waktu yang layak setelah pelaksanaan.
2. Proyeksi kecenderungan waktu dari data sebelum program dengan data sesudah program yang sesungguhnya. Membandingkan data sesudah program yang sesungguhnya dengan data yang diperkirakan yang diproyeksikan dari sejumlah periode waktu sebelum program.
3. Perbandingan-perbandingan dengan yurisdiksi-yurisdiksi atau bagian-bagian populasi yang tidak dilayani oleh program. Membandingkan data dari yurisdiksi dimana program dijalankan dengan data dari yurisdiksi-yurisdiksi lain dimana program tidak dapat dijalankan.
4. Pelaksanaan suatu percobaan yang diawasi. Membandingkan kelompok-kelompok yang hampir sama, yang dipilih sebelumnya, beberapa diantaranya mendapatkan bantuan dan beberapa diantaranya yang lain tidak (atau mendapat bantuan dengan cara-cara yang berlainan).
5. Perbandingan pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan dengan pelaksanaan pekerjaan yang sesungguhnya . Membandingkan data sesudah program yang sesungguhnya dengan sasaran yang ditentukan dalam tahun-tahun sebelumnya-baik sebelum pelaksanaan program maupun pada beberapa waktu sejak pelaksanaan.
2.3.5 Pendekatan Evaluasi Kebijakan
Ada tiga jenis pendekatan terhadap evaluasi menurut Dunn (2003:613-619) yaitu sebagai berikut :
Tabel 2.1 Pendekatan Evaluasi
Pendekatan Tujuan Asumsi Metodologi
Evaluasi Semu Menggunakan
2.4 Hutan
2.4.1 Pengertian Hutan
Berdasarkan UU No.41 Tahun 1999 menyatakan bahwa hutan adalah kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi olehpepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia RI, 2011 :62).
Menurut Irwan (dalam Agustina), sistem ekologi di dalam ekosistem hutan merupakan suatu sistem yang dinamis yaitu suatu sistem yang salng terkait dan saling membutuhkan antara vegetasi dan hewan yang berinteraksi.
Menurut Rahardjanto (2004), fungsi hutan secara umum adalah : terpercaya dan valid
1. Evaluasi semu, adalah pendekatan evaluasi yang menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil-hasil kebijakan, tanpa berusaha untuk menanyakan tentang manfaat atau nilai dari hasil – hasil tersebut terhadap individu, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan.
2. Evaluasi formal, adalah pendekatan evaluasi yang menggunakan metode desktiptif untuk menghasilkan informasi yang valid dan cepat dipercaya mengenai hasil-hasil kebijakan tetapi mengevaluasi hasil tersebut atas dasar tujuan program kebijakan yang telah diumumkan secara formal oleh pembuat kebijakan dan administrastor program.
3. Evaluasi proses keputusan teoritis, adalah pendekatan yang menggunakan metode-metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang dapat dipertanggung-jawabkan dan valid mengenai hasil-hasil kebijakan yang secara eksplisit dinilai oleh berbagaimacam pelaku kebijakan.
a. Hutan merupakan penyimpanan tumbuhan dan hewan yang teruji keberadaanya, dengan demikian hutan merupakan gudang gen, yang sewaktu-waktu dapat diambil untuk pemuliaan tanaman.
b. Hutan merupakan penyangga penyakit dan hama. Jika pada suatu waktu timbul ledakan suatu penyakit atau hama, maka akibatnya bisa diperkecil karena penampungan oleh hutan.
c. Hutan atau vegetasi pada umumnya dapat menyerap CO2 disuatu lingkungan yang sedang tercemar oleh asap kendaraan bermotor pabrik atau instalansi dengan gas pembuangan berupa karbon monoksida mapun karbon dioksida. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa hutan sebagai penyaring udara .
d. Hutan merupakan pelindung terhadap angin. Lebatnya vegetasi disuatu hutan mengurangi atau mencegah kencangnya tiupan angin yang terlalu kuat bagi tanaman budidaya ataupun bagi daerah pemukiman.
e. Hutan merupakan pengatur siklus hidrologi.
f. Hutan merupakan pengatur suhu lingkungan. Sinar matahari yang langsung memancar ke permukaan bumi sebagian diserap oleh tumbuhan, sehingga lingkungan tidak langsung dan cepat menjadi panas.
g. Hutan merupakan suatu ekosistem yang relatif stabil sehingga dapat diperhitungkan dalam perencanaan pemukiman, persawahan, perladangan.
h. Hutan sebagai sumber kekayaan alam baik nabati maupun hewani yang mendukung kesejahteraan manusia.
Menurut Simon (1998) secara ekologi hutan berperan penting terhadap aliran, kualitas, kuantitas, dan prilaku air sehingga hutan daat dimanfaatkan sebagai berikut :
1) Pengatur tata air.
Perputaran air dibumi, pada saat terjadi hujan di suatu daratan, air hujan akan menyirami permukaan bumi. Air hujan yang jatuh di permukaan bumi ini sebagian akan diuapkan kembali ke udara, sebagian lagi meresap ke dalam tanah dan sisahnya mengalir di atas permukaan tanah.
2) Pelindung kesuburan
Tingkat kesuburan tanah dipengaruhi banyak faktor. Kesuburan tanah tidak hanya tergantung pada kandungan unsur hara di dalam tanah saja, tetapi juga dipengaruhi oleh sifat fisik tanah, keadaan air dalam tanah, organisme mikro dan sebagainya.
3) Perlindungan sumber genetik
Karena sifat dan arealnya yag luas, hutan berisi banyak sekali jenis tanaman dan binatang, baik besar maupun kecil. Jenis tanaman yang dianggap
mengganggu atau binatang yang merusak tersebut sebenarnya merupakn sumber genetik yang dikemudian hari sangat bermanfaat bagi pengembangan usaha produksi.
4) Sebagai penyegar udara
Menurut Soemarwoto dan Simon (1983) dalam Simon (1998) Udara merupakan komponen yang amat sangat penting bagi lingkungan hidup dibumi.
Peranan hutan dalam menyegarkan udara memang hanya terbatas pada mengubah CO2 menjadi O2 melalui fotosintesis .
2.4.2 Klasifikasi hutan berdasarkan fungsi
Menurut Djajapertunda (2001), kawasan hutan dibedakan menjadi beberapa kelompok berdasarkan fungsinya yaitu :
1. Hutan Produksi
Hutan yang ditumbuhi oleh jenis-jenis pohon yang dapat dipungut kayunya secara komersial untuk digunakan sebagai bahan berbagai keperluan seperti bahan baku bagi industri perkayuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan ekspor.
Menurut Direktorat Bina Program Kehutanan(1981) dalam Indriyanto (2008), hutan produksi dibedakan menjadi tiga, yaitu :
a) Hutan produksi terbatas adalah hutan produksi yang hanya dapat dieksploitasi dengan cara tebang pilih.
b) Hutan produksi tetap atau hutan produksi bebas adalah hutan produksi yang dapat dieksploitasi baik dengan cara tebang pilih maupun dengan cara tebang habis.
c) Hutan konversi adalah hutan produksi bebas atau tetap yang dapat diubah peruntukannya untuk memenuhi kebutuhan perluasan pengembangan wilayah diluar bidang kehutanan, misalnya pertanian, perkebunan industri dan pemukiman.
2. Hutan Lindung
Hutan yang berperan dalam pengaturan siklos hidrologi, mengurangi erosi, mencegah bahaya banjir dan memelihara kesuburan tanah. Kawasan hutan lindung memerlukan pengawasan yang intensif karena jika terjadi pengurangan kawasan hutan lindung akan menyebabkan hilangnya fungsi kawasan hutan lindung sebagai daerah resapan air.
3. Hutan Suaka Alam
Hutan yang keadaan alamnya memiliki sifat yang khas dan dapat diperuntukan secara khusus untuk perlindungan alam hayati atau pemanfaatan lainnya.
2.5 Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus
KHDTK Aek Nauli merupakan suatu kawasan yang ditetapkan oleh pemerintah untuk kepentingan penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan serta kepentingan religi dan budaya. KHDTK Aek Nauli berfungsi sebagai bagian Daerah Tangkapan Air (DTA) memiliki beberapa tipe ekosistem yang menjadi habitat beragam jenis tumbuhan dan satwaliar dilindungi.
2.6 Pariwisata
2.6.1 Pengertian Pariwisata
Istilah pariwisata berasal dari kata wisata. Di dalam UU No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepaiwisaan, pengertian wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.
Pariwisata menurut Yoeti adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain, dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah ditempat dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna bertamasya dan berekreasi untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam ( Nandi, 2015:1).
2.6.2 Ekowisata
Ekowisata atau ekoturisme merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek
pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan(sumber lainnya). Berikut ini jenis-jenis ekowisata :
1. Wisata pemandangan:
Objek-objek alam (pantai, air terjun, terumbu karang)
Flora (hutan, tumbuhan langka, tumbuhan obat-obatan)
Fauna (hewan langka dan endemik)
Perkebunan (teh, kopi)
2. Wisata petualangan:
Kegiatan alam bebas (lintas alam, berselancar)
Ekstrem (mendaki gunung, paralayang)
Berburu (babi hutan)
3. Wisata kebudayaan dan sejarah:
Suku terasing (orang Rimba, orang Kanekes)
Kerajinan tangan (batik, ukiran)
Peninggalan bersejarah (candi, batu bertulis, benteng kolonial)
4. Wisata penelitian:
Pendataan spesies (serangga, mamalia dan seterusnya)
Pendataan kerusakan alam (lahan gundul, pencemaran tanah)
Konservasi (reboisasi, lokalisasi pencemaran)
5. Wisata sosial, konservasi dan pendidikan:
Pembangunan fasilitas umum di dekat objek ekowisata (pembuatan sarana komunikasi, kesehatan)
Reboisasi lahan-lahan gundul dan pengembang biakan hewan langka
Pendidikan dan pengembangan sumber daya masyarakat di dekat objek ekowisata (pendidikan bahasa asing, sikap)
2.7 Hipotesis Kerja
Berdasarkan konsep-konsep evaluasi yang telah penulis dikemukakan, penulis merumuskan hipotesis kerja terkait Evaluasi Kebijakan Tata Kelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Sebagai Destinasi Pariwisata Alam Di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli Desa Sibaganding Kecamatan Girsang Kabupaten Simalungun terkait dengan kriteria, efektivitas (effectiveness), efisiensi (efficiency), kecukupan (adequancy), kesamaan (equity), responsivitas (responsiveness), ketepatan (appropriateness) evaluasi kebijakan.
BAB III
METODE PENELITIAN
Dalam melaksanakan suatu penelitian, metode penelitian merupakan bagian yang sangat penting dan menentukan berhasilnya suatu penelitian tersebut.
Metode penelitian merupakan cara ilmiah yang digunakan dalam mencapai tujuan penelitian. Dalam bab ini peneliti menggunakan bentuk penelitian, teknik pengumpulan data, serta teknik analisis data sebagai berikut :
3.1 Bentuk Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian jenis kualitatif. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang yang berbeda. Dengan demikian pengertian penelitian kualitatif tersebut merupakan penelitian yang digunakan untuk meneliti objek. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif, yaitu penelitian yang memberi gambaran secara cermat mengenai individu atau kelompok dan gejala yang terjadi (koentjaraningrat, 1993 :89)
Selanjutnya penelitian kualitatif menurut Moeleong (2005:6) adalah penelitian yang dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll, secara holistic, dan dengan suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.
Penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif bertujuan untuk memahami dan mempelajari realitas sosial atau gejala sosial dengan cara pandang
yang objektif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang mengumpulkan data yang sudah tersedia melalui buku-buku yang didukung oleh pendapat ahli.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli Desa Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun. Peneliti memilih lokasi tersebut karena kawasan hutan dengan tujuan khusus menjadi salah satu destinasi pariwisata alam yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Pengelolaan kawasan hutan sebagai tempat wisata harus melihat dampak-dampak apa saja yang nantinya akan timbul jika hutan dibuka sebagai tempat wisata. Kurang nya kesadaran pengunjung maupun petugas untuk menjaga kelestarian dan ekosistem hutan yang akan menyebabkan hilangnya fungsi hutan tersebut. Penebangan-penebangan pohon yang dilakukan untuk terciptanya destinasi pariwisata baru di kawasan hutan dengan tujuan khusus perlu diperhatikan lebih serius dampak apa saja yang akan timbul jika kawasan tersebut dikelola tidak hanya dalam jangka pendek melainkan dalam jangka panjang. Dampak yang timbul tidak hanya dari kebijakan yang diambil melainkan dari kegiatan ekowisata yang akan terjadi.
3.3 Informan Penelitian
Dalam penelitian kualitatif, tidak menggunakan istilah populasi ataupun sampel. Bungin (2007:76) mengatakan bahwa informan penelitian adalah subjek yang memahami informasi objek penelitian sebagai pelaku maupun orang lain yang memahami objek penelitian. Adapun informan penelitian ini, yaitu :
No. Informan Penelitian Informasi yang dibutuhkan
Jumlah
1. Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli.
1. Efektivitas. dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli. Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli. dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli. Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli. Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli.
7. Pegawai Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli.
1. Efektivitas.
3.4 Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena bertujuan untuk mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang diharapkan (Sugiyono, 2016:101). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
Teknik pengumpulan data primer adalah pengumpulan data yang dilakukan secara langsung pada lokasi penelitian . Pengumpulan data primer dapat dilakukan melalui, yaitu :
a. Wawancara, yaitu proses pengumpulan data yang dilakukan secara langsung dengan pihak terkait untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dengan cara melakukan tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan. Metode ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara langsung dan terbuka
kepada informan atau pihak yang berhubungan dengan penelitian.
Sebelum turun ke lapangan peneliti terlebih dahulu menyusun pedoman wawancara.
b. Observasi, yaitu pengumpulan data dengan pengamatan secara langsung objek penelitian dengan cara mencatat segala gejala yang ditemukan dilapangan untuk mempelajari data-data yang diperlukan sebagai acuan yang berkenaan dengan topic penelitian. sebelum turun ke lapangan peneliti menyusun pedoman observasi.
c. Dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan catatan-catatan atau dokumentasi-dokumentasi yang ada di lokasi penelitian atau sumber lain yang terkait dengan objek penelitian.
Sebelum turun ke lapangan peneliti terlebih dahulu menyusun pedoman observasi.
3.5 Teknik Analisis Data
Sesuai dengan metode penelitian, teknik analisa data yang dipergunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan analisis kualitatif. Menurut Farid (1997:152) bahwa analisis kualitatif adalah analisis terhadap data yang diperoleh yang diperoleh berdasarkan kemampuan nalar peneliti dalam menghubung-hubungkan fakta dan informasi, data dan informasi . Jadi analisis data kualitatif yaitu dengan menyajikan hasil wawancara, hasil kusioner, serta studi kepustakaan dan dokumentasi dengan melakukan analisis terhadap masalah yang ditemukan di lapangan. Sehingga diperoleh gambaran yang jelas tentang objek yang diteliti dan menarik kesimpulan.
Dalam melakukan analisis data, terdapat beberapa tahapan antara lain :
1. Reduksi data
Proses pemilihan, pemusatan pada penyederhanaan transformasi data kasar yang muncul dari cacatan-catatan di lapangan , melakukan transkrip data untuk memilih informasi mana yang dianggap sesuai dan tidak sesuai dengan masalah yang menjadi pusat penelitian dilapangan.
2. Penyajian data
Sekumpulan informasi berbentuk naratif atau uraian teks, grafik jaringan , tabel, dan bagan yang bertujuan mempertajam pemahaman penelitian terhadap informasi yang dipilih kemudian disajikan dalam tabel maupun uraian penjelasan.
3. Penarikan kesimpulan
Mencari arti pola-pola penjelasan, konfigurasi yang mungkin, alur sebab-akibat, dan proposisi. Penarikan kesimpulan dilakukan secara cermat dengan melakukan verifikasi berupa tinjauan ulang pada catatan-catatan di lapangan sehingga data-data dapat diuji validitasnya.
3.6 Teknik Keabsahan Data
Dalam Wirawan (2012:156) Untuk memastikan data/ informasi lengkap dan validitasnya dan reliabilitasnya tinggi penelitian kualitatif mempergunakan teknik triangulasi (triangulation). Triangulasi adalah suatu pendekatan riset yang memakai suatu kombinasi lebih dari satu strategi dalam satu penelitian untuk menjaring data/informasi. Triangulasi adalah suatu metode yang dipakai dalam metode yang dipakai dalam penelitian kualitatif-sering juga dipakai dalam metode kuantitaif- untuk mengukur validitas dan reabilitas dalam penelitian kualitatif.
Dalam penelitian dapat dipergunakan lima jenis triangulasi, yaiitu :
1. Triangulasi data adalah mempergunakan berbagai sumber data/informasi.
Dalam teknik triangulasi ini adalah mengelompokkan para pemangku kepentinganprogramm dan mempergunakannya sebagai sumber/data informasi.
2. Triangulasi peneliti. Teknik triangulasi ini digunakan oleh evaluator atau tim evaluator dalam satu proyek evaluasi. Para evaluator mempergunakan metode kualitatif yang sama, misalnya wawancara, observasi, studi kasus, kelompok kunci atau informan kunci. temuan dari setiap evaluator dibandingkan, jika temuan dari berbagai evaluator berbeda datu dama lain maka diperlukan studi lebih lanjut untuk menentuksn perbedaan tersebut.
Apakah ada kemungkinan perbedaan tersebut dapat diperkecil ?
3. Triangulasi teori . triangulasi teori adalah penelitian dengan mempergunakan berbagai profesional dengan berbagai latar belakang ilmu pengetahuan untuk menilai suatu set data/informasi.
4. Triangulasi metode. Triangulasi metode adalah pemakaian berbagai metode-metode kuantitatif dan /atau metode kualitatif untuk mengevaluasi program. Jika kesimpulan dari setiap metode sama, maka validitas penelitian ditetapkan.
5. Triangulasi lingkungan. Triangulasi jenis ini mempergunakan berbagai lokasi yang berbeda, altar dan faktor-faktor lainnya yang berhubungan dengan lingkungan dimana penelitian mengambil tempat seperti waktu suatu hari, hari suatu suatu minggu atau musim dalam satu tahun.
` Dalam penelitan ini penulis menggunakan jenis triangulasi data dan triangulasi metode. Teknik triangulasi data dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh melalui wawancara antara subjek penelitian yang satu dengan yang lain. Teknik triangulasi metode digunakan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari hasil wawancara terhadap informan dengan hasil pengamatan penelitian terkait Evaluasi Kebijakan Tata Kelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Sebagai Destinasi Pariwisata Alam di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli Desa Sibaganding Kecamatan Girsang Kabupaten Simalungun.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Tata Kelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Sebagai Destinasi Pariwisata Alam di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli Desa Sibaganding Kecamatan Girsang Kabupaten Simalungun.
Tata kelola hutan adalah kegiatan atau upaya untuk menata suatu lahan atau hutan melalui proses, mekanisme, aturan untuk pemanfaatan hutan lebih lanjut.
Tata kelola hutan disini tidak hanya sebatas mekanisme, atau pemanfaatan lahan akan tetapi bagaimana instansi atau organisasi yang mengelola memiliki sifat transparansi, akuntabilitas serta koordinasi di dalam mengelola hutan.
Tata kelola KHDTK Aek Nauli saat ini terlihat tidak terencana dengan baik, hal ini terlihat dari organisasi yang mengelola kawasan konservasi gajah tersebut.
Kawasan konservasi gajah terletak di dalam KHDTK Aek Nauli dan sebagai pemangku KHDTK ditunjuk Kepala Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup Kehutanan Aek Nauli. Kawasan konservasi gajah adalah program pendukung kegiatan pariwisata Danau Toba yang menjadi Agenda (Nawa Cita) Presiden Joko Widodo dalam pengembangan kawasan strategis pariwisata Nasional Danau Toba. Konservasi gajah merupakan salah satu tema ekowisata dengan konsep edutaiment yang ditawarkan oleh KHDTK Aek Nauli dalam mengembangkan pariwisata Nasional Danau Toba.
Tata kelola ekowisata yang masih belum terencana dengan baik menjadi permasalahan yang akan diuraikan di dalam pembahasan. Kawasan konservasi
gajah didirikan oleh tiga lembaga yang bekerja sama untuk terciptanya wisata baru yang diminati masyarakat tanpa harus merusak hutan. Akan tetapi setelah konservasi gajah resmi dibuka untuk umum, organisasi yang bertanggungjawab dalam mengelola konservasi gajah belum terbentuk hingga saat ini.
4.1.1 Dasar Hukum Tata Kelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Sebagai Destinasi Pariwisata Alam di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli
Dasar hukum pengelolaan KHDTK Aek Nauli sebagai destinasi pariwisata dengan konsep edutainment :
1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
2. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 jo. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2008 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Kerja Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 2010 tentang Penelitian dan Pengembangan Serta Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan.
5. Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor P. 6/Menhut-Ii/2010 Tentang Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) pada ataukah Dan Kesatuan Pengelolaan Huta Produksi (KPHP).
6. Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P.
40/Menhut-II/2011 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli.
7. Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia No: P.43/Menhut-II/2013 tentang penataan batas areal kerja izin pemanfaatan hutan, persetujuan prinsip penggunaan kawasan hutan, persetujuan prinsip pelepasan kawasan hutan dan pengelolaan kawasan hutan pada kesatuan pengelolaan hutan dan kawasan hutan dengan tujuan khusus 8. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK. 39/Menhut-II/2005
Tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 398/Kpts-II/1988 Tanggal 4 Agustus 1988 Tentang Penunjukan Hutan Lindung Seluas ± 1.900 (Seribu Sembilan Ratus) Hektar Sebagai Hutan Penelitian dan Hutan Produksi Terbatas Seluas ± 300 (Tiga Ratus) Hektar Sebagai Hutan Pendidikan Yang Terletak di Kabupaten Dati II Simalungun, Propinsi Dati I Sumatera Utara
9. Keputusan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Nomor SK. 90/Kpts/VIII/2007 tentang Penunjukan Penanggung Jawab Pengelolaan Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan;
10. Keputusan Kepala Badan Penelitian Dan Pengembangan Kehutanan Nomor Sk.49/VII-Set/2010 Tentang Kriteria Dan Indikator Pengelolaan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Lingkup Badan Penelitian Dan Pengembangan Kehutanan
11. Keputusan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Nomor SK. 12/VIII-SET/2010 tentang Rencana Strategis (RENSTRA) Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Tahun 2010-2014.
12. Peraturan terbaru terkait PNBP dari KHDTK 6
13. Pemenhut No. 25 tahun 2016 tentang TUPOKSI Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli.
4.1.2 Sasaran Pengelolaan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus dengan Konsep Edutainment
Sasaran pengelolaan KHDTK Aek Nauli dengan konsep edutainment antara lain adalah:
1. Penataan Kawasan Penataan kawasan KHDTK Aek Nauli diharapkan dapat tercapai dalam 3-5 tahun ke depan.
2. Pelestarian Keanekaragaman Hayati
3. Perlindungan Kawasan
4. Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dataran Tinggi
5. Pengembangan Tema-tema Edutainment
6. Pembinaan Masyarakat
7. Pengembangan Jejaring dan Kolaborasi Pengelolaan
4.2 Efektivitas (effektiveness)
Efektivitas berkenaan dengan apakah suatu alternatif mencapai hasil (akibat) yang diharapkan atau mencapai tujuan dari diadakannya tindakan.
Efektivitas yang secara dekat berhubungan dengan rasionalitas teknis, selalu
Efektivitas yang secara dekat berhubungan dengan rasionalitas teknis, selalu