1
Efektivitas Organisasi Dalam Mendukung Keterbukaan Informasi Publik Melalui Sistem Informasi Rekapitulasi (SIREKAP) di Komisi
Pemilihan Umum Kota Medan
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana (S1) Ilmu Administrasi Publik
OLEH:
Fadlan Iman Hidayat 140903065
PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2022
ii
JA
iv
JA
ABSTRAK
Pemilihan umum (Pemilu) merupakan sarana kedaulatan rakyat sekaligus perwujudan demokrasi. Tahun 2020 ini merupakan tahun politik dimana terdapat 270 daerah Provinsi, Kabupaten/Kota yang melaksanakan pemilihan Kepala Daerah yakni salah satunya Provinsi Sumatera Utara Kota Medan. Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) adalah perangkat aplikasi berbasis teknologi informasi dan berfungsi sebagai sarana publikasi hasil penghitungan suara dan rekapitulasi hasil penghitungan suara, serta alat bantu di pelaksanaan rekapitulasi hasil penghitungan suara pemilihan. Terdapat permasalahan dan kendala dalam penerapan sirekap di pilkada Kota Medan tahun 2020 antara lain : Sumber Daya Manusia, Alat Pendukung Penggunaan Aplikasi Sirekap Mobile, Sistem Kerja Aplikasi dan Jaringan Internet. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Efektivitas Organisasi Dalam Mendukung Keterbukaan Informasi Publik Melalui Sistem Informasi Rekapitulasi (SIREKAP) di Komisi Pemilihan Umum Kota Medan.
Metode penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan analisis data kualitatif.
Teknik pengumpulan wawancara terkait dengan SIREKAP data yang didapat kemudian dianalisis secara kualitatif dengan menelaah seluruh data yang telah dikumpulkan dengan pendekatan teori model efektivitas Gibson.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi mengatasi sejumlah kelemahan rekapitulasi manual, sosialisasi penggunaan SIREKAP harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari pemilih hingga pasangan calon dan partai politik. Penggunaan SIREKAP tidak bisa dilepaskan dari ketersediaan Perangkat Teknologi seperti Handphone dan Komputer/Laptop beserta jaringan internet, agar informasi hasil penghitungan bisa dengan cepat disampaikan ke masyarakat luas, maka dari itu penting membuat persiapan dan timeline untuk rencana penerapan SIREKAP pada PEMILU dan PILKADA mendatang.
Kata Kunci : Efektivitas, SIREKAP, Informasi Publik
ABSTRACT
The general election is a means of people's sovereignty as well as the realization of democracy. The year 2020 is a political year in which there are 270 Provinces, Regencies/Cities that carry out regional head elections, one of which is the Province of North Sumatra, the City of Medan. The Recapitulation Information System (Sirekap) is an application tool based on information technology and functions as a means of publishing the results of vote counting and recapitulation of vote counting results, as well as a tool for implementing the recapitulation of election vote counting results. There are problems and obstacles in the application of Sirekap in the 2020 Medan City elections, including: Human Resources, Support Tools for Using Mobile Sirekap Applications, Application Work Systems and Internet Networks. The purpose of this research is to describe Organizational Effectiveness in Supporting the Openness of Public Information Through the Recapitulation Information System (SIREKAP) at the General Election Commission of Medan City.
The research method that the author uses in this research is to use a descriptive method with a qualitative data analysis approach. Interview collection techniques related to SIREKAP the data obtained were then analyzed qualitatively by examining all the data that had been collected using the Gibson effectiveness model theory approach.
The results show that although it can increase the effectiveness and efficiency of overcoming a number of weaknesses in manual recapitulation, the socialization of the use of SIREKAP must be carried out thoroughly from voters to candidate pairs and political parties.The use of SIREKAP cannot be separated from the availability of technological devices such as mobile phones and computers/laptops along with the internet network, so that information on the results of the calculation can be quickly conveyed to the wider community, therefore it is important to make preparations and timelines for plans for implementing SIREKAP in the upcoming elections and local elections.
Keywords: Effectiveness, SIREKAP, Public Information
vi
JA
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan karunia yang telah dilimpahkan, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Tidak lupa pula shalawat berangkaikan salam kita hadiahkan kepada baginda Rasulullah SAW, semoga penulis serta pembaca selalu berada dalam naungan syafaatnya hingga akhir zaman nanti. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana (S1) pada Program Sarjana Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, dengan judul skripsi “EFEKTIVITAS ORGANISASI DALAM MENDUKUNG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK MELALUI SISTEM INFORMASI REKAPITULASI (SIREKAP) DI KOMISI PEMILIHAN UMUM KOTA MEDAN”. Sebagai suatu karya ilmiah,penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan yang disebabkan oleh keterbatasan dan pengalaman penulis dalam menyusun karya ilmiah. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya kritikan maupun saran yang bersifat membangun demi perbaikan skripsi ini. Dalam proses penulisan skripsi ini sampai dengan terselesaikannya, tentunya banyak sekali pihak yang berkontribusi di dalamnya. Maka dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak diantaranya:
1. Kepada kedua Orang tua (Jhon Hidayat dan Neliyati ) serta adik saya (Gizza Camila Hidayat) yang telah memberikan do’a, dukungan, serta pengorbanan baik moral maupun material yang telah diberikan kepada peneliti sehingga peneliti mampu menyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak Drs. Muryanto Amin S.Sos, M.Si selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. Hendra Harahap, M.Si, ph.D selaku Dekan FISIP USU dan Wakil Dekan I (Abangda Husni Thamrin S.Sos, M.SP), Wakil Dekan II (Dr.
Hatta Ridho S.Sos, M.SP), Wakil Dekan III (Dr. Harmona Daulay S.Sos, M.Si, beserta seluruh staf yang telah memberikan fasilitas dan kemudahan dalam rangka penyusunan skripsi ini.
4. Ibu Dra. Februati Timurni M. Si, Ph.D, selaku Ketua program studi Ilmu Administrasi Publik FISIP USU.
5. Abangda Rudi Kristian P.M, S.Sos., M.A, selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan masukan kepada penulis dengan kesabaran dalam penyelesaian penulisan skripsi ini.
6. Segenap Dosen Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Program Studi Ilmu Administrasi Publik yang telah memberikan bekal berbagai teori, ilmu pengetahuan dan pengalaman yang sangat bermanfaat bagi peneliti.
7. Kak Dian Cantik dan Bang Suhendri Ganteng, selaku staf Program Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang selalu bersedia membantu penulis.
8. Kepada Abangda M. Rinaldi Khair sebagai Komisioner Komisi Pemilihan Umum Kota Medan yang telah mengizinkan saya untuk melakukan penelitian.
9. Informan penelitian yang tidak bisa sebutkan satu per satu yang telah meluangkan waktunya untuk membantu keperluan penelitian.
10. Kepada Adinda M. Farhan Rizki yang selalu memberikan kritik dan saran untuk penyelesaian skripsi.
viii
JA
11. Terima kasih juga kepada kawan-kawan DUMB’S Foundation (Guntur,dedy,bosti,reza,udin,harry,adong,vahry,rozik,akbar,irfan,bg andik, yudi,david,dan andry).
12. Terima kasih kepada calon istri saya (Eva Rahayu Damanik) yang selalu sabar menunggu dan setia menemani perjuangan saya untuk menyelesaikan gelar SARJANA saya.
13. Keluarga Besar Ilmu Administrasi Publik angkatan 2014 yang tak dapat disebutkan namanya satu persatu.
14. Seluruh pihak yang ikut membantu dan memberikan dukungan serta masukan demi selesainya skripsi ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Atas semua bantuan tersebut peneliti kembalikan kepada Allah SWT.
Seiring doa semoga kiranya Allah SWT membalas kebaikan yang telah diberikan kepada peneliti. Penulis telah berupaya dengan semaksimal mungkin dalam menyelesaikan skripsi ini, namun penulis menyadari sepenuhnya kesempurnaan hanya milik Allah SWT, Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman.
Penulis mohon maaf dan sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan penyusunan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat digunakan sebagai tambahan informasi dan wacana bagi semua pihak yang membutuhkan.
Medan, 07 Januari 2022 Peneliti
Fadlan Iman Hidayat Nim. 140903065
x
JA
DAFTAR ISI
ABSTRAK... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 7
1.3 Tujuan Penelitian ... 7
1.4 Manfaat Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1. Efektivitas ... 9
2.1.1 Indikator Efektivitas ... 10
2.2. Organisasi ... 11
2.2.1 Organisasi Sebagai Suatu Sistem ... 13
2.2.2 Teori Organisasi ... 14
2.3. Efektivitas Organisasi ... 15
2.3.1 Pendekatan Efektivitas Organisasi ... 15
2.4. Keterbukaan Informasi Publik ... 18
2.5. Pengertian e-Government ... 22
2.5.1 Konsep e-Government ... 23
2.6. Sistem Informasi Rekapitulasi (SIREKAP) ... 24
2.7. Hipotesis Kerja ... 25
BAB III METODE PENELITIAN ... 26
3.1 Bentuk Penelitian ... 26
3.2 Lokasi Penelitian ... 27
3.3 Informan Penelitian ... 27
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 30
3.5 Teknik Analisis Data ... 32
3.6 Teknik Keabsahan Data ... 34
xi
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 36
4.1 Profil Kota Medan ... 36
4.2 Profil Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Medan ... 40
4.2.1 Profil Komisioner KPU Kota Medan... 46
4.2.2 Profil Sekretariat KPU Kota Medan ... 47
4.2.3 Badan Ad Hoc Penyelenggara Pilkada Kota Medan 2020... 47
4.2.3.1 Jadwal Rekrutmen Badan Ad Hoc Penyelenggara Pilkada Kota Medan 2020 ... 50
4.2.3.2 Partisipasi Publik Terhadap Badan Ad Hoc Penyelenggara Pilkada Kota Medan 2020 ... 51
4.3 Sistem Informasi Rekapitulasi (SIREKAP) di KPU Kota Medan ... 52
4.4 Efektivitas Organisasi Dalam Mendukung Keterbukaan Informasi Publik Melalui Sistem Informasi Rekapitulasi (SIREKAP) di Komisi Pemilihan Umum Kota Medan ... 57
4.4.1 Produktivitas ... 59
4.4.2 Efisiensi... 62
4.4.3 Fleksibilitas ... 65
4.4.4 Keunggulan ... 68
4.4.5 Pengembangan ... 72
4.4.6 Kepuasan ... 75
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 80
5.1 Kesimpulan ... 80
5.2 Saran ... 82
DAFTAR PUSTAKA ... 84
LAMPIRAN ... 87
xii
JA
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Pendekatan-pendekatan dalam pengukuran efektivitas
organisasi ... 17 Gambar 4.1 Struktur Sekretariat KPU Kota Medan ... 47 Gambar 4.2 Hasil Hitung Suara Real Count Pilkada Kota Medan 2020
Melalui Aplikasi Sirekap ... 60 Gambar 4.3 100% Hasil Rekapitulasi Penghitungan Suara Pilkada Kota
Medan 2020 Melalui Aplikasi Sirekap... 63 Gambar 4.4 Bimbingan Teknis Penggunaan Aplikasi Sirekap Pilkada Kota
Medan 2020... 73 Gambar 4.5 Piagam Penghargaan Aplikasi Sirekap Terhadap KPU Kota
Medan ... 76
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Matriks Informan Penelitian... 28
xiv
JA
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Pedoman Wawancara ... 1
Lampiran 2. Pedoman Observasi ... 12
Lampiran 3. Pedoman Dokumentasi ... 13
Lampiran 4.Transkrip Wawancara ... 14
Lampiran 5. Transkrip Observasi ... 52
Lampiran 6. Transkrip Dokumentasi... 53
Lampiran 7. Surat Keterangan Pengajuan Judul Skripsi ... 56
Lampiran 8. Lembar Persetujuan Seminar Proposal ... 57
Lampiran 9. Berita Acara Seminar Proposal ... 58
Lampiran 10. Lembar Persetujuan Penelitian Lapangan ... 62
Lampiran 11. Surat Izin Penelitian Komisi Pemilihan Umum Kota Medan ... 63
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Era globalisasi telah datang lebih cepat dari yang diperkirakan mengakibatkan isu-isu semacam demokratisasi, hak asasi manusia, hukum, transparansi, korupsi, civil society, good corporate governance, perdagangan bebas, pasar terbuka, dan lain sebagainya menjadi hal-hal utama yang harus diperhatikan oleh setiap bangsa jika tidak ingin diasingkan dari pergaulan dunia.
Selain itu, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi terjadi sedemikian pesatnya sehingga data, informasi, dan pengetahuan dapat diciptakan dengan teramat sangat cepat dan dapat segera disebarkan ke seluruh lapisan masyarakat di berbagai belahan di dunia dalam hitungan detik. Hal tersebutlah yang mendasari sebuah negara akan berlomba menciptakan e-government.
Kebijakan yang mengarah pada pelayanan publik berbasis teknologi adalah e-government yang biasanya mengacu pada penggunaan teknologi informasi meliputi teknologi informasi dan komunikasi dan teknologi komunikasi berbasis web lain untuk meningkatkan dan mengembangkan efisiensi dan efektivitas pelayanan disektor publik.
E-Government adalah pelayanan publik yang dilaksanakan oleh semua instansi pemerintah yang terkoordinasi satu dengan lainnya secara optimal dengan menggunakan teknologi telematika dengan target ingin memperbaiki kualitas pelayanan, meningkatkan transparansi, mengurangi secara signifikan total biaya administrasi, dan menciptakan suatu lingkungan masyarakat baru yang dapat secara cepat dan tepat menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi sejalan dengan
berbagai perubahan global, e-government diharapkan mampu menjawab tantangan di era industri 4.0 ini. Pelayanan pada dasarnya dapat didefinisikan sebagai aktivitas seseorang, sekelompok dan atau organisasi baik langsung maupun tidak langsung untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Pelayanan diberikan sebagai tindakan seseorang untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan dalam artian bahwa pelayanan langsung berhadapan dengan pelanggan dengan menempatkan pelanggan sebagai sesuatu yang urgen.
Pemilihan umum (Pemilu) merupakan sarana kedaulatan rakyat sekaligus perwujudan demokrasi. Gelombang demokrasi yang melanda hampir setiap negara dibelahan bumi termasuk di Indonesia telah membawa perubahan dalam tatanan politik Indonesia. Demokrasi secara sederhana dapat dijelaskan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, maka pemilu adalah sebuah keniscayaan dinegara demokrasi. Rakyat memilih sendiri pempimpinnya melalui pemilihan langsung baik di legislatif dan eksekutif. Tahun 2020 ini merupakan tahun politik dimana terdapat 270 daerah Provinsi, Kabupaten/Kota yang melaksanakan pemilihan Kepala Daerah yakni salah satunya Provinsi Sumatera Utara Kota Medan.
Pemilihan Kepala Daerah merupakan peluang sekaligus tantangan bagi bangsa Indonesia pada umumnya dan bagi daerah-daerah khususnya dalam meningkatkan demokratisasi pada masyarakat di daerah. Pesta demokrasi dalam wujud Pilkada adalah peluang emas untuk menentukan sendiri tokoh-tokoh yang dianggap pantas, mampu dan layak menjadi Gubernur, Bupati maupun Walikota begitu pula baik elit politik daerah yang berminat bersaing memiliki kapasitas dan kapabilitas serta mempunyai visi untuk membangun daerah. Pilkada adalah momentum bagi elit politik daerah untuk menguji tingkat dukungan mereka di depan masyarakat lokal, apakah mereka benar-benar tokoh-tokoh masyarakat, atau
lebih dari pecundang politik.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Medan sebagai penyelenggara pemilu di pilkada Kota Medan tahun 2020 berwenang dalam proses tahapan demi tahapan yang dimulai dari penetapan pendaftaran pasangan calon, Daftar Pemilih Tetap (DPT), tahapan pemilihan surat suara, hasil penghitungan suara (rekapitulasi) hingga putusan akhir pemenangan calon. Namun, dalam proses tahapan demi tahapan KPU memiliki hambatan terkait rekapitulasi penghitungan suara. Pemilu Tahun 2015 dalam tahapan rekapitulasi perhitungan suara, KPU Kota Medan menggunakan Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) akan tetapi dalam pelaksanaannya banyak terjadi permasalahan seperti salah input data C1 dan waktu penuntasan hasil perhitungan suara yang sangat lamban, oleh karena itu di tahun 2020 KPU Republik Indonesia mengganti Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) dengan Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap).
Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) adalah perangkat aplikasi berbasis teknologi informasi dan berfungsi sebagai sarana publikasi hasil penghitungan suara dan rekapitulasi hasil penghitungan suara, serta alat bantu di pelaksanaan rekapitulasi hasil penghitungan suara pemilihan. Sirekap yang dipakai sebagai sarana publikasi hasil pemilihan dan alat bantu dalam pelaksanaan rekapitulasi suara Pilkada serentak di Indonesia tahun 2020 telah dipersiapkan oleh KPU RI dalam setahun terakhir. Dasar hukum dari pembuatan aplikasi Sirekap ini tertuang dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI) 1945 Pasal 28F yang berbunyi:
“Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.”
Kemudian dituangkan ke dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik Pasal 2 ayat (1) yaitu “Setiap Informasi Publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap Pengguna Informasi Publik”dan Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) No. 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum yang terdapat dalam Pasal 3 yang berbunyi:
“Dalam menyelenggarakan Pemilu, Penyelenggara Pemilu harus melaksanakan Pemilu berdasarkan pada asas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan penyelenggaraannya harus memenuhi prinsip mandiri, jujur, adil, berkepastian hukum, tertib, terbuka, proporsional, profesional, akuntabel, efektif, dan efisien.”
KPU RI kemudian membuat Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 19 tahun 2020 Tentang Perubahan Atas Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 9 Tahun 2018 Tentang Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara dan Penetapan Hasil Pemilihan Gubernur danWakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/ atauWali Kota dan Wakil Wali Kota, dalam PKPU ini disisipkan beberapa pasal salah satunya adalah Pasal 48A yang berisi tentang Sirekap yang berbunyi:
“KPU menggunakan aplikasi berbasis teknologi informasi berupa Sirekap sebagai alat bantu dalam pelaksanaan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara di setiap tingkatan, dan sarana publikasi informasi hasil Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara”.
Secara umum, pelaksanaan Pilkada serentak di Kota Medan tahun 2020 yang menggunakan aplikasi Sirekap masih terdapat berbagai permasalahan dan kendala dalam penerapannya.
Dilihat dari sudut pandang produktivitas dan efisiensi pada hari pelaksanaan pemungutan suara aplikasi SIREKAP sangat lamban dalam penggunaannya, dikarenakan sistem dalam aplikasi SIREKAP mengalami server down sehingga mengganggu proses penutupan pemungutan suara di TPS. Selain itu juga fleksibilitas SIREKAP masih diragukan. Hal ini disebabkan masih digunakan
C Hasil salinan kwk yang ditulis manual oleh petugas KPPS, sebagai alat bukti penetapan hasil suara sementara sebelum diplenokan di tingkat Kecamatan.
Terakhir dalam hal pengembangan proses sosialiasi penerapan aplikasi SIREKAP di internal penyelenggara PEMILU (PPK,PPS dan KPPS) masih terdapat hambatan.
Seperti waktu bimbingan teknis yang minim dan estimasi waktu yang sangat dekat menjelang hari pemungutan suara. Kemudian landasan hukum KPU RI terkait penerapan SIREKAP masih berubah-ubah dan belum sempurna.
Berdasarkan hasil Focus Group Discussion (FGD) Evaluasi Tahapan Pilkada Kota Medan Tahun 2020 di tengah Pandemi Covid-19 yang dilaksanakan KPU Kota Medan di Hotel Emerald Garden Medan pada Jum’at (12/3/2021) menghasilkan beberapa Daftar Inventaris Masalah (DIM) yang menjadi sorotan perihal permasalahan dan kendala dalam penerapan sirekap di pilkada Kota Medan tahun 2020 antara lain : Sumber Daya Manusia, Alat Pendukung Penggunaan Aplikasi Sirekap Mobile, Sistem Kerja Aplikasi dan Jaringan Internet. Tahapan Pilkada Kota Medan Tahun 2020 tidak terlepas dari para penyelenggara pemilihan yang merupakan salah satu instrumen penting dalam suksesnya suatu pemilihan (pilkada). Sumber daya Manusia (SDM) merupakan faktor penting dalam menuju misi, tujuan, dan pencapaian hasil organisasi. Tanpa adanya sumber daya, proses yang ada dalam organisasi tidak dapat dijalankan.
Proses perekrutan badan ad hoc ( tidak permanen ) penyelenggara pemilu seperti Panitia Pemilu Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan Suara (PPS) dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) biasanya berkisar pada orang-orang yang minim pengetahuan teknologi informasi. Jika dilihat KPPS yang menjadi ujung tombak dalam penggunaan aplikasi sirekap mobile, karena anggota KPPS memiliki rata-rata umur yang sudah lanjut usia.Oleh sebab itu KPPS dalam
memahami dan menerima informasi secara detail dan juga spesifik pada implementasi sirekap (menggunakan aplikasi sirekap melalui handphone android) sangat jauh dari yang diinginkan sehingga penyampaian materi maupun bimbingan teknis (bimtek) mengenai sirekap yang diberikan oleh PPK maupun PPS tidak dapat diterima dengan baik sehingga pada akhirnya menimbulkan masalah dihari pemungutan suara.
Bukan hanya KPPS yang mengalami kendala, tetapi ada juga PPK maupun PPS itu sendiri yang kurang paham dalam melakukan penyuluhan/bimtek sirekap sehingga petugas KPPS tidak mengerti dan tidak paham dalam penggunaan sirekap.
Untuk penggunaan sirekap tidak bisa dilepaskan dari ketersediaan perangkat teknologi seperti handphone dan komputer/laptop beserta jaringan internet. Untuk aplikasi sirekap mobile hanya bisa digunakan di handphone android, pengguna aplikasi sirekap harus memiliki spesifikasi handphone minimal RAM diatas 2 GB dan kamera 16 megapixel. Sehingga petugas KPPS yang tidak memiliki handphone tersebut terpaksa meminjam handphone ataupun membeli handphone baru agar bisa digunakan untuk mengakses aplikasi sirekap.
Hal ini juga yang menjadikan penggunaan aplikasi sirekap masih belum maksimal dalam mengumpulkan data C Hasil Rekapitulasi dari TPS. Kemudian masih lemahnya cara kerja aplikasi sirekap dilihat dari proses registrasi akun yang lumayan rumit dan melelahkan. Selanjutnya ketersediaan jaringan internet yang dibutuhkan dalam menjalankan sirekap haruslah sangat diperhatikan namun dalam pelaksanaannya jaringan internet tidaklah bisa mengcover semua wilayah khususnya daerah Kota Medan dan sekitarnya mengingat penggunaan sirekap dilakukan secara bersamaan di seluruh Indonesia pada pilkada serentak tahun 2020.
Proses aktivasi aplikasi sirekap mobile sering menjadi kendala pada bagi anggota
KPPS jika jaringan internet lemah. Hanya pengguna kartu internet Telkomsel yang memiliki jaringan internet cukup baik di kota Medan, tetapi yang menggunakan kartu internet seperti Axis, XL dan Im3, belum memiliki jaringan internet yang cukup baik sehingga sering terjadi kendala dalam proses aktivasi dan input data aplikasi sirekap. Bagi PPK sebagai pengguna sirekap web juga memiliki kesulitan terkait jaringan internet. Masalah lainnya, dari traffic yang sangat tinggi karena digunakan dalam satu waktu bersamaan.
Proses input data ke sirekap memerlukan percepatan jika proses rekapitulasi suara diputuskan dilakukan melalui sistem informasi itu, mengingat keterbatasan jaringan internet merupakan tantangan utama bagi penggunaan sistem informasi.
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas maka peneliti mengambil judul “Efektivitas Organisasi Dalam Mendukung Keterbukaan Informasi Publik Melalui Sistem Informasi Rekapitulasi (SIREKAP) di Komisi Pemilihan Umum Kota Medan.”
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan, maka peneliti mengemukakan rumusan masalah yaitu “Bagaimana Efektivitas Organisasi dalam Mendukung Keterbukaan Informasi Publik Melalui Sistem Informasi Rekapitulasi (SIREKAP) di Komisi Pemilihan Umum Kota Medan?”
1.3. Tujuan Penelitian
Setiap penelitian yang diajukan mempunyai tujuan yang hendak dicapai oleh peneliti. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan
Efektivitas Organisasi Dalam Mendukung Keterbukaan Informasi Publik Melalui Sistem Informasi Rekapitulasi (SIREKAP) di Komisi Pemilihan Umum Kota Medan.
1.4. Manfaat Penelitian
1) Secara teoritis, penelitian ini diharapkan mampu mengembangkan dan menambah khazanah keilmuan dalam bidang administrasi publik khususnya yang berkaitan dengan efektivitas.
2) Secara praktis, penelitian ini diharapkan mampu menyumbangkan beberapa masukan dan saran bagi instansi terkait maupun masyarakat.
3) Secara akademis, penelitian ini merupakan dari perwujudan dari tanggung jawab penulis dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi serta diharapkan dapat memberikan kontribusi dan memperkaya ragam penelitian yang telah dibuat oleh para mahasiswa lain dan dapat menjadi bahan referensi tambahan dalam kajian keilmuan khususnya dalam bidang administrasi publik bagi terciptanya suatu karya ilmiah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Efektivitas
Mahmudi (2010:143) menyatakan bahwa efektivitas merupakan hubungan antara keluaran dengan tujuan atau sasaran yang harus dicapai. Dikatakan efektif apabila proses kegiatan mencapai tujuan dan sasaran akhir kebijakan. Menurut Siagian (2010: 4), efektivitas adalah pemanfaatan sumber daya, sarana dan prasarana dalam jumlah tertentu yang secara sadar ditetapkan sebelumnya untuk menghasilkan sejumlah barang atas jasa kegiatan yang dijalankannya. Efektivitas menunjukkan keberhasilan dari segi tercapai tidaknya sasaran yang telah ditetapkan. Jika hasil kegiatan semakin mendekati sasaran, berarti makin tinggi efektivitasnya.
Miller dalam Tangkilisan (2005:138), efektivitas yang dimaksud adalah sebagai
“Tingkat seberapa jauh sistem sosial mencapai tujuannya.Efektivitas ini harus dibedakan dengan efisiensi. Efisiensi terutama mengandung pengertian perbandingan antara biaya dan hasil, sedangkan efektivitas secara langsung dihubungkan dengan pencapaian suatu tujuan. Efektivitas dalam kegiatan organisasi dapat dirumuskan sebagai tingkat perwujudan sasaran yang menunjukkan sejauh mana sasaran telah dicapai. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa efektivitas adalah suatu keadaan yang menunjukkan sejauh mana rencana dapat tercapai. Semakin banyak rencana yang dapat dicapai, semakin efektif pula kegiatan tersebut, sehingga kata efektivitas dapat juga diartikan sebagai tingkat keberhasilan yang dapat dicapai dari suatu cara atau usaha tertentu sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Media pembelajaran bisa dikatakan efektif ketika memenuhi kriteria, diantaranya mampu memberikan pengaruh, perubahan atau dapat membawa hasil.”
Berdasarkan pengertian di atas, penulis menyimpulkan bahwa efektivitas sebagai tujuan yang diinginkan atau mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang diinginkan. Organisasi yang besar maupun yang kecil memiliki tujuan yang sama, yaitu merealisasikan seluruh tujuan-tujuannya secara efektif. Maksudnya, bahwa
tujuan yang efektif itu adalah tujuan suatu program yang telah ditetapkan dan berhasil berdasarkan sasaran yang juga telah ditetapkan. Efektivitas pada dasarnya menunjukkan pada taraf tercapainya hasil, sering atau senantiasa dikaitkan dengan pengertian efisien, meskipun sebenarnya ada perbedaan diantara keduanya.
Efektivitas menekankan pada hasil yang dicapai, sedangkan efisiensi lebih melihat cara mencapai hasil yang dicapai itu dengan membandingkan antara input dan output nya.
2.1.1. Indikator Efektivitas
Indikator efektivitas menggunakan jangkauan akibat dan dampak (outcome) dari keluaran (output) program dalam mencapai tujuan program.
Semakin besar kontribusi output yang dihasilkan terhadap pencapaian tujuan atau sasaran yang ditentukan, maka semakin efektif proses kerja suatu unit organisasi.
Adapun indikator dari teori efektivitas oleh Gibson et. al. dalam Tangkilisan (2005:141) yaitu:
1. Produktivitas
Menggambarkan kemampuan organisasi untuk memproduksi jumlah dan mutu output yang sesuai dengan permintaan lingkungan. Ukuran ini berhubungan secara langsung dengan output yang dikonsumsi oleh pelanggan organisasi.
2. Efisiensi
Angka perbandingan (rasio) antara output dengan input, perbandingan antara keuntungan dan biaya atau dengan output dengan waktu merupakan bentuk umum dari ukuran ini.
3. Fleksibilitas
Sampai seberapa jauh organisasi dapat menanggapi perubahan intern dan ekstern dan kemampuan manajemen untuk menduga adanya perubahan dalam lingkungan maupun dalam organisasi itu sendiri.
4. Keunggulan
Menggambarkan kelebihan organisasi dibandingkan dengan organisasi lain.
Kemampuan individu didalam organisasi tentunya diperhitungkan dan dapat menjadi keuntungan tersendiri bagi organisasi.
5. Pengembangan
Usaha pengembangan yang biasa adalah program pelatihan atau sosialisasi bagi tenaga manajemen/masyarakat dan non manajemen. Tetapi sekarang ini pengembangan organisasi telah bertambah banyak macamnya dan meliputi sejumlah pendekatan psikologi dan sosiologi.
6. Kepuasan
Kepuasan dan semangat kerja adalah istilah serupa yang menunjukkan sampai sejauh mana organisasi memenuhi kebutuhan para karyawan/
masyarakat.
2.2. Organisasi
Pada dasarnya manusia merupakan mahluk sosial yang selalu hidup berdampingan, membentuk kelompok dengan manusia yang lain. Salah satu alasan mengapa manusia selalu berkelompok adalah karena kebutuhan manusia yang semakin kompleks dari waktu ke waktu sehingga manusia membutuhkan kerjasama dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Kondisi seperti ini menggambarkan kehidupan masyarakat yang bersifat organis, yang artinya bagian yang satu dengan yang lain saling memenuhi atau melengkapi. Agar kondisi yang
diinginkan terus berjalan sesuai harapan, maka diperlukan pengorganisasian agar masing-masing dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Ini menunjukan bahwa manusia memiliki sifat mengatur terhadap segala tindakannya (Suharsono, 2012:11).
Organisasi menurut Manullang (2009:59) mengemukakan bahwa kata organisasi berasal dari istilah Yunani organon dan istilah Latin organum yang berarti alat, bagian, anggota, atau badan. Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai suatu tujuan bersama.
Bentuk Organisasi menurut Manullang (2009:61), yaitu : a. Bentuk Organisasi Garis
Organisasi garis adalah bentuk organisasi yang tertua dan paling sederhana. Sering juga disebut organisasi militer karena digunakan pada zaman dahulu di kalangan militer.
b. Bentuk Organisasi Fungsional
Organisasi fungsional adalah organisasi di mana segelintir pimpinan tidak mempunyai bawahan yang jelas sebab setiap atasan berwenang memberi komando kepada setiap bawahan, sepanjang ada hubungannya dengan fungsi atasan tersebut.
c. Bentuk Organisasi Garis dan Staf
Bentuk organisasi ini pada umumnya dianut oleh organisasi besar, daerah kerjanya luas dan mempunyai bidang-bidang tugas yang beraneka ragam serta rumit, serta jumlah pegawainya banyak. Pada bentuk organisasi garis dan staf, terdapat satu atau lebih tenaga staf.
d. Bentuk Organisasi Staf dan Fungsional
Bentuk organisasi staf dan fungsional merupakan kombinasi dari bentuk organisasi fungsional dan bentuk organisasi garis dan staf.
Menurut Heryana (2020:3), secara filosofis, terdapat tiga pendapat tentang pengertian organisasi yaitu:
1. Organisasi adalah sistem dimana manusia saling tergantung atau terkait satu sama lain dan membentuk jejaring yang saling memberikan kemanfaatan satu dengan yang lain.
2. Organisasi adalah kerangka kerja bagi manajemen dalam bekerja. Artinya organisasi merupakan wadah, lembaga, atau kelompok fungsional ketika
proses manajemen berlangsung. Organisasi semacam peta jalan (road-map) bagi manajemen dan anggotanya untuk mencapai tujuan.
3. Organisasi adalah strategi komplek yang melibatkan manusia yang didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, sehingga organisasi merupakan wadah dimana sekumpulan orang diarahkan untuk tujuan-tujuan spesifik dari organisasi. Semakin lama organisasi berdiri, maka semakin kompleks hubungan antar manusia dan peralatan kerja yang ada di dalamnya.
Sebuah organisasi terdiri dari 3 unsur pokok yakni orang-orang, tujuan, dan struktur. Sehingga fungsi utama organisasi adalah:
a) sebagai wadah bagi orang-orang dalam bekerja sama mencapai satu tujuan;
b) sebagai wadah bagi orang-orang dalam membentuk perilaku dan budaya organisasi;
c) sebagai wadah untuk mencapai sasaran yang sulit dicapai seorang diri. Orang- orang dalam organisasi pada akhirnya membentuk struktur yang menunjang pencapaian tujuan.
2.2.1. Organisasi Sebagai Suatu Sistem
Sistem adalah kumpulan dari bagian-bagian yang saling berhubungan dansaling bergantung yang diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu kesatuan (Robbins, 1994: 11). Karakteristik unik dari pandangan sistem adalah bagian-bagian yang saling berhubungan di dalam sistem dengan melalui fungsi differensiasi dan integrasi. Dalam sebuah sistem, fungsi-fungsi khusus di deferensiasikan dan menggantikan pola umum yang bermaacam-macam.
Sebagaimana dalam organisasi terdapat divisi, departemen, dan unitlainnya yang dipisahkan untuk melaksanakan aktifivitas khusus. Pada saat yang sama, agar dapat
mempertahankan kesatuan diantara bagian-bagian yang di defferensiasi dan keseluruhan bentuk yang lengkap, setiap system mempunyai proses integrasi timbal balik. Dalam organisasi, integrasi ini khususnya dicapai melalui perangkat- perangkat seperti tingkatan hierarki yang dikoordinasi, supervisi langsung, dan peraturan serta kebijakan. Sistem membutuhkan diferensiasi untuk mengidentifikasi sub-sub bagian organisasi dan integrasi untuk memastikan bahwa sistem tidak terpecah menjadi elemen-elemen yang terpisah dari sistem organisasi.
2.2.2. Teori Organisasi
Teori organisasi merupakan sejumlah pemikiran dan konsep yang menjelaskan atau memperkirakan bagaimana organisasi/kelompok dan individu di dalamnya “berperilaku”, dalam berbagai jenis struktur dan kondisi tertentu, Shafritz
& Ott (dalam Levy: 2009). Dari definisi tersebut, organisasi seperti juga manusia memiliki perilaku yang bisa diamati dengan baik oleh orang di dalamnya maupun oleh pihak luar. Ahli manajemen dan organisasi menyatakan teori organisasi berakar dan telah ada sejak zaman purbakala atau abad pertengahan. Namun studi formal tentang teori organisasi baru dilakukan ketika pabrik-pabrik mulai dikenal di Inggris Raya, Shafritz & Ott (dalam Levy: 2009). Terdapat berbagai jenis teori organisasi dari berbagai literatur dan sumber pustaka. Penulis mengutip karya Scott (dalam Legaard: 2006) yang membagi teori organisasi ke dalam tiga level analisis, yaitu:
1) Level sosial-psikologis, yakni teori organisasi yang berfokus pada hubungan individu dan antar personal/individu dalam organisasi. Pada kelompok teori ini, ahli organisasi berupaya menjelaskan bagaimana orang-orang di dalam organisasi tersebut saling berhubungan untuk mencapai tujuan masing- masing.
2) Level struktural, yakni teori organisasi yang berfokus pada organisasi secara umum dan subdivisi dari organisasi seperti departemen, tim, dan sebagainya. Pada kelompok teori ini, ahli organisasi menjelaskan bagaimana
antar unit dalam organisasi (departemen, bagian, seksi, dll) saling berkaitan untuk mencapai tujuan masing-masing unit tersebut.
3) Level makro, yakni teori organisasi yang berfokus pada peran organisasi dalam hubungannya dengan organisasi dan komunitas lainnya. Pada level ini, ahli organisasi berupaya menjelaskan hubungan antar organisasi untuk mencapai tujuan masing-masing.
2.3. Efektivitas Organisasi
Keefektifan didefinisikan sebagai sejauh mana sebuah organisasi mewujudkan tujuan-tujuannya (Robbins, 1994:11). Pada sebagian organisasi, efektivitas dan efesiensi bisa saja tidak berhubungan sama sekali. Sebuahorganisasi bisa sangat efesien tetapi tidak mampu mencapai tujuan ataupunsasaran yang dikehendakinya, misalnya karena organisasi itu memilih untukmembuat produk yang tidak laku dipasaran. Sebaliknya, suatu organisasi bias mempunyai efektivitas yang tinggi, misalnya mampu mencapai sasarannya, tetapi tidak efesien.
Pengukuran efektivitas dilakukan dengan acuan berbagai bagian yang berbeda dari organisasi. Organisasi mendapatkan input, berupa berbagai macam masukan sumberdaya dari lingkungannya. Kegiatan dan proses internal yang terjadi dalam organisasi mengubah input menjadi output, berupa produk atau pun jasa yang kemudian dilemparkan kembali kepada lingkungan.
2.3.1. Pendekatan Efektivitas Organisasi
Pendekatan efektivitas digunakan untuk mengukur sejauh mana aktivitas itu efektif. Ada beberapa pendekatan yang digunakan terhadap efektivitas yaitu:
a. Pendekatan sasaran (Goal Approach)
Pendekatan ini mencoba mengukur sejauh mana suatu lembaga berhasil merealisasikan sasaran yang hendak dicapai. Pendekatan sasaran dalam pengukuran efektivitas dimulai dengan identifikasi sasaran organisasi dan mengukur tingkatan
keberhasilan organisasi dalam mencapai sasaran tersebut. Sasaran yang penting diperhatikan dalam pengukuran efektivitas dengan pendekatan ini adalah sasaran yang realistis untuk memberikan hasil maksimal berdasarkan sasaran resmi
“Official Goal” dengan memperhatikan permasalahan yang ditimbulkannya, dengan memusatkan perhatian terhadap aspek output yaitu dengan mengukur keberhasilan program dalam mencapai tingkat output yang direncanakan.
b. Pendekatan Sumber (System Resource Approach)
Pendekatan sumber mengukur efektivitas melalui keberhasilan suatu lembaga dalam mendapatkan berbagai macam sumber yang dibutuhkannya.
Suatulembaga harus dapat memperoleh berbagai macam sumber dan juga memelihara keadaan dan sistem agar dapat menjadi efektif. Pendekatan ini didasarkan padateori mengenai keterbukaan sistem suatu lembaga terhadap lingkungannya, karena lembaga mempunyai hubungan yang merata dalam lingkungannya, dimana dari lingkungan diperoleh sumber-sumberyang terdapat pada lingkungan sering kali bersifat langka dan bernilai tinggi. Pendekatan sumber dalam kegiatan usaha organisasi dilihat dari seberapa jauh hubungan antara anggota binaan program usaha dengan lingkungan sekitarnya, yang berusaha menjadi sumber dalam mencapai tujuan.
c. Pendekatan Proses (Internal Process Approach)
Pendekatan proses menganggap sebagai efisiensi dan kondisi kesehatan dari suatu lembaga internal. Pada lembaga yang efektif, proses internal berjalan dengan lancer dimana kegiatan bagian-bagian yang ada berjalan secara terkoordinasi. Pendekatan ini tidak memperhatikan lingkungan melainkan memusatkan perhatian terhadap kegiatan yang dilakukan terhadap sumber- sumberyang dimiliki lembaga, yang menggambarkan tingkat efisiensi serta
Output Produk/Jasa (pendekatan sasaran)
Lingkungan Organisasi Kegiatan dan proses internal (pendekatan
proses)
kesehatan lembaga. (Ding, 2014:8-10).
Pendekatan sasaran (goalapproach) dalam pengukuran efektivitas memusatkan perhatian terhadap aspek output, yaitu dengan mengukur keberhasilan organisasi dalam mencapai tingkatan output yang direncanakan. Pendekatan sumber (system resource approach) mencoba mengukur efektifitas dari sisi input dan mengukur keberhasilan organisasi dalam mendapatkan sumber-sumber yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang baik. Pendekatan proses (process approach) melihat kegiatan internal organisasi dan mengukur efektivitas melalui berbagai indicator internal seperti efesiensi dan iklim organisasi.
Sumber: Ding, 2014
Gambar: 2.1 Pendekatan-pendekatan dalam pengukuran efektivitas organisasi
Efektivitas organisasi pada dasarnya adalah efektivitas individu para anggotanya didalam melaksanakan tugas sesuai dengan kedudukan dan peran mereka masing-masing dalam organisasi tersebut. Untuk mengukur efektivitas dan efisiensi organisasi administratif seperti halnya organisasi pemerintah (birokrasi) bukanlah hal yang mudah. Dapat dikatakan jauh lebih mudah untuk mengukur efektivitas dan efisiensi organisasi swasta (seperti halnya organisasi bisnis), yang tujuan utamanya ialah profit (keuntungan) dan nilainya dapat dihitung karena berupa materi (uang).
Input (pendekatan sumber)
2.4. Keterbukaan Informasi Publik
Reformasi pada tahun 1998 telah membawa banyak perubahan pada Indonesia. Dari latar belakang pemerintahan yang tertutup dan penuh kerahasiaan tersebut perbaikan dan perubahan kearah pemerintahan yang lebih baik terus dilakukan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mendorong keterbukaan informasi publik yang diwujudkan dalam UU No. 14 Tahun 2008. Menurut Erlina Hasan (2010:118) berkembangnya semangat keterbukaan dalam masyarakat setidaknya dipandu oleh kecanggihan sistem komunikasi dan informasi dimana masyarakat dengan mudah mengakses berbagai permasalahan, khususnya bidang pemerintahan dari berbagai nelahan dunia yang secara tidak langsung membuka mata dan telinga bagaimana negara lain mengelola dan memajukan kesejahteraan masyarakatnya.
Hak untuk mendapatkan informasi merupakan hak asasi manusia dan keterbukaan informasi publik merupakan salah satu ciri penting negara yang baik dan bahwa keterbukaan informasi publik merupakan sarana dalam mengoptimalkan pengawasan publik lainnya dan segala sesuatu yang berakibat pada kepentingan publik dan bahwa pengelolaan informasi publik merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan masyarakat informasi maka dianggap penting untuk menerbitkan undang-undng tentang keterbukaan informasi publik. Wacana tentang keterbukaan informasi telah muncul sejak lama di Indonesia sebagai bagian dari perjuangan menegakkan Hak Asasi Manusia (HAM). Fenomena menyongsong masyarakat informasi, bagi setiap bangsa yang merdeka dan berdaulat, semakin lama semakin meluas dan berat.
Menurut Syamsuddin Haris (2005:58) salah satu karakteristik good governance adalah keterbukaan. Karakteristik ini sesuai dengan semangat zaman serba terbuka akibat adanya revolusi informasi. Keterbukaan tersebut mencakup semua aspek aktivitas yang menyangkut kepentingan publik mulai dari proses pengambilan keputusan penggunaan dana-dana sampai pada tahapan evaluasi.
Tujuan diundangkannya Keterbukaan Informasi Publik adalah meningkatkan kualitas pelayanan informasi publik dilingkungan badan publik, mengembangkan sistem penyediaan pelayanan informasi secara cepat, mudah dan wajar serta mengembangkan sistem dokumentasi yang baik untuk penyediaan dan penyimpanan informasi publik secara efektif dan efisien.
Disamping itu tujuannya sesuai undang undang adalah :
1. Menjamin hak warga negara untuk mengetahui rencana pembuatan kebijakan publik, program kebijakan publik dan proses pengambilan keputusan publik serta alasan pengambilan keputusan publik.
2. Mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan publik.
3. Meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik dan pengelolaan badan publik yang baik.
4. Mewujudkan penyelenggaraan negara yang baik yaitu transparan, efektif dan efisien, akuntabel serta dapat dipertanggung jawabkan.
5. Mengetahui alasan kebijakan publik yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak.
6. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
7. Meningkatkan pengelolaan dan pelayanan informasi dilingkungan badan publik untuk menghasilkan layanan informasi yang berkualitas.
Terhadap keterbukaan Informasi Publik yang kini melanda dunia, kita perlu mengembangkan optimisme yang tinggi karena pancasila sendiri merupakan ideologi terbuka. Ini bermakna bahwa nilai-nilai dasarnya yang bersifat tetap itu mampu mengakomodasikan berbagai pembaharuan sesuai dengan ketentuan zaman.
Menurut Amal, Ichlasul Armawi (1999:14) keterbukaan informasi umumnya lebih bermakna sebagai kondisi yang kondusif untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan melaksanakan kesejahteraan umum.Arus keterbukaan informasi perlu disikapi (response) secara arif dengan tetap memperhatikan batas- batas kewajarannya yang berpedoman pada jiwa pancasila.
Dengan demikian, keterbukaan informasi publik menjadi bagian penting dalam mengembangkan masyarakat yang sadar akan pentingnya keterbukaan informasi publik dan berpartisipasi dalam mengontrol setiap kebijakan pemerintah melalui keterbukaan informasi publik tersebut. Kontrol masyarakat terhadap pemerintah melalui keterbukaan informasi publik tersebut mendorong penyelenggaraan pemerintahan yang transparan dan akuntabel sehingga membatasi terjadinya penyalahgunaan kewenangan dalam pemerintahan. Keterbukaan informasi publik berangkat dari prinsip bahwa informasi yang dikelola oleh badan publik merupakan sumber daya milik publik dan akses terhadap sumber daya berupa informasi tersebut akan mendorong (Transparency International).
Menjamin keterbukaan informasi publik dalam sebuah undang-undang berarti memastikan bahwa pemerintah semakin terbuka dan akuntabel (demokratis).
Menurut Henry Subagiyo (2014:46) pemerintah dikatakan demokratis apabila setiap pengambilan keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak (publik) selalu dilakukan secara terbuka dan melibatkan masyarakat yang akan terkena
dampak dari keputusan tersebut. Oleh karena itu, pemerintah yang demokratis menjamin ketersediaan informasi publik dan akses terhadap informasi publik tersebut karena menyadari hanya dengan bekal informasi yang cukuplah masyarakat dapat terlibat dalam proses pengambilan keputusan.
Menurut Dan B. Curtis, James J. Floyd dan Jerry L. Winsor (1996:36) mengatakan bahwa keterbukaan merupakan suatu cara bagaimana suatu informasi dibagikan, yaitu gaya komunikasi. Apakah informasi tersebut dibagikan secara pribadi dan dengan penuh perhatian atau dengan cara impersonal. Aspek lainnya adalah apakah pembagian hanya terbatas pada rekan kerja.
Keterbukaan informasi dalam penyelenggaraan pemerintahan merupakan salah satu wujud komitmen pemerintah dalam melaksanakaan prinsip-prinsip good governance dan demokratisasi pemerintahan, dimana salah satu butir di antara butirbutir good governance adalah adanya keterbukaan pemerintah (transparency) kepada masyarakat. Dalam Pasal (1) angka (1) Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik memberikan definisi bahwa informasi adalah keterangan, pernyataan, gagasan dan tanda-tanda yang mengandung nilai, makna dan pesan baik data, fakta maupun penjelasannya yang dapat dilihat, didengar dan dibaca yang disajikan dalam berbagai kemasan dan format sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi secara elektronik ataupun nonelektronik.
Dengan demikian adanya keterbukaan informasi publik menjadi bagian penting dalam mengembangkan masyarakat yang sadar akan pentingnya keterbukaan informasi publik dan berpartisipasi dalam mengontrol setiap kebijakan pemerintah melalui keterbukaan informasi publik. Kontrol masyarakat terhadap pemerintah melalui keterbukaan informasi publik tersebut mendorong
penyelenggaraan pemerintah yang transparan dan akuntabel sehingga membatasi terjadinya penyalahgunaan kewenangan dalam pemerintahan.
2.5. Pengertian e-Government
Secara umum istilah yang berawalan “e” memiliki definisisederhana yaitu penggunaan teknologi internet sebagai sarana utamamenggantikan media konvensional. Menurut Bank Dunia (dalam Indrajit, 2002: 2), mendefinisikan e- Government sebagai berikut:
“e-Government refers to the use by government agencies of informationtechnologies (such as Wide Area Network, the Internet, and mobilecomputing) that have the ability to transform relations with citizens,businesses, and other arms of government”.
Bank Dunia menjelaskan e-Government mengacu pada penggunaan teknologi informasi oleh lembaga pemerintah seperti Wide Area Network (WAN), Internet dan komputasi bergerak, yang memiliki kemampuan untuk mengubah hubungan dengan warga negara, bisnis dan pemerintah lainnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa e-Government ialah pemerintah melalui lembaganya menggunakan teknologi informasi untuk mengubah hubungan dengan warganegara, bisnis dan pemangku kepentingan lainnya yang dahulunya terlampau birokratis menjadi lebih bersahabat.
Sedangkan Menurut Kurniawan (dalam Hardiansyah, 2011:107), menyatakan e-Government sebagai berikut:
“e-Government adalah kumpulan konsep untuk semua tindakan dalam sektor publik (baik di tingkat Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah) yang melibatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam rangka mengoptimalisasi proses pelayanan publik yang efisien, transparan
dan efektif.”
Tjahjanto (dalam Akadun, 2009: 136), mengemukakan pendapatnya yang lebih luas.Menurutnya hal terpenting dari penyelenggaraan e-Government ini yaitu
terwujudnya pemerintahan yang lebih bertanggung jawab bagi warganya. Manfaat lainnya ialah masyarakat akan lebih banyak dapat mengakses informasidan penyelenggaraan pemerintahan juga lebih efisien dan efektif serta akan tercipta pelayanan publik yang lebih menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Dari pengertian tersebut dapat penulis pahami bahwa e-Government adalah penggunaan teknologi informasi dan telekomunikasi di lingkungan pemerintah.
Pada umumnya digunakan untuk administrasi pemerintahan agar lebih efektif dan efisien, serta memberikan pelayanan yang transparan dan memuaskan kepada masyarakat.
2.5.1 Konsep e-Government
Menurut Pasolong (2017:7) dilihat dari sejarahnya, konsep e-Government berkembang karena adanya 3 (tiga) pemicu (drivers) utama, yaitu:
1. Era globalisasi yang datang lebih cepat dari yang diperkirakan telah membuat berbagai isu-isu yang dapat menjadi hal-hal utama yang harus diperhatikan oleh setiap bangsa jika yang bersangkutan tidak ingin diasingkan dari pergaulan dunia.
2. Kemajuan teknologi informasi (komputer dan telekomunikasi) terjadi sedemikian pesatnya sehingga data, informasi, dan pengetahuan dapat diciptakan dengan taramat sangat cepat. Hal ini berarti bahwa setiap individu di berbagai negara di dunia dapat saling berkomunikasi secara langsung tanpa perantara apapun. Tentu saja teknologi ini akan sangat berpengaruh terhadap bagaimana pemerintah di masa modern harus bersikap dalam melayani masyarakatnya.
3. Meningkatnya kualitas kehidupan masyarakat di dunia tidak terlepas dari semakin membaiknya kinerja industri swasta dalam melakukan kegiatan ekonominya.
Dari beberapa konsep e-Government tersebut dapat penulis pahami bahwa munculnya e-Government disebabkan adanya tekanan yang berasal dari masyarakat terhadap pemerintah agar mampu meningkatkan kinerja pelayanan pemerintah secara signifikan kepada masyarakatnya, serta untuk meningkatkan kualitas dari
penyelenggaraan pemerintahan sebuah negara, yang pada akhirnya bermuara pada kemajuan negara itu sendiri dengan cara memanfaatkan berbagai teknologi informasi yang ada.
2.6. Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap)
Pada Pemilihan Serentak Tahun 2020, Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan menggunakan aplikasi Sistem Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara (SIREKAP) dalam menetapkan & rekapitulasi hasil penghitungan suara di TPS pada 9 Desember 2020. Sirekap adalah aplikasi yang penggunaannya telah diatur dan wajib digunakan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) untuk menghitung hasil suara pilkada yang digelar di tengah pandemi Covid-19.
Penerapan penggunaan Sirekap ini dimaksudkan untuk meminimalisir kesalahan penghitungan dan rekapitulasi, melakukan efisiensi serta transparansi penghitungan, membantu publik dan penyelenggara pemilu mendapatkan informasi hasil penghitungan suara dan mempercepat proses rekapitulasi hasil perolehan suara pada pemilihan serta untuk menghindari kerumunan massa dalam melihat rekapitulasi hasil pemilihan suara.
Proses input pada aplikasi SIREKAP akan dilakukan oleh petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) di Tempat Pemungutan Suara (TPS), setelah kegiatan penghitungan perolehan suara selesai. Nantinya hasil rekap dalam formulir C plano, difoto dengan aplikasi sirekap mobile dan dikirimkan ke server KPU. Perangkat yang berbasis aplikasi mobile dan aplikasi web ini menggunakan sistem OCR (Optical Character Recognition) dan OMR (Optical Mark Regocnition) dalam menjalankan perekaman data-datanya, dalam beberapa uji coba yang telah dilakukan, tingkat akurasinya mencapai 100 %. Sementara itu
agar bisa berjalan fungsi-fungsi aplikasi ini dibutuhkan ketersediaan jaringan internet, perangkat Smartphone/Android untuk aplikasi Mobilenya serta perangkat laptop/PC untuk aplikasi webnya.
Tujuan dari pembuatan sirekap supaya publik bisa langsung mengakses hasil pemilihan tersebut secara cepat dan efisien.Aplikasi Sirekap merupakan salah satu keterbukaan informasi publik yang dibuat oleh KPU RI agar semua masyarakat Indonesia bisa mengakses rekapitulasi suara pilkada di seluruh Indonesia.
2.7. Hipotesis Kerja
Hipotesis kerja dalam penelitian ini, yaitu Efektivitas Organisasi Dalam Mendukung Keterbukaan Informasi Publik Melalui Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) Di Komisi Pemilihan Umum Kota Medan meliputi produktivitas, efisiensi, fleksibilitas, keunggulan, pengembangan dan kepuasan.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan analisis data kualitatif.
Melalui metode ini penulis dapat membuat gambaran atau tulisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta sifat-sifat, serta hubungan antar fenomena yang diteliti. Menurut Burhan Bungin (2015: 96) dalam penelitian deskriptif dengan pendekatan analisis data kualitatif kedalaman data tersebut tidak terbatas sehingga memudahkan penulis untuk mengumpulkan sebanyak mungkin data yang mendukung kualitas penelitian.
Penelitian kualitatif memiliki karakteristik sebagai berikut (Sugiyono, 2015: 9):
1. Dilakukan pada kondisi yang alamiah, langsung ke sumber data dan peneliti adalah instrument kunci;
2. Penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif. Data yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada angka;
3. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses daripada produk atau outcome;
4. Penelitian kualitatif melakukan analisis data secara induktif;
5. Penelitian kualitatif lebih menekankan makna (data dibalik yang teramati).
Penelitian kualitatif deskriptif dirancang untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi atau berbagai variabel yang timbul di masyarakat yang menjadi objek penelitian itu. Metode penelitian jenis ini memiliki ciri studi
kasus yang tidak bersifat pemairan (menyebar di permukaan), tetapi memusatkan diri pada suatu unit tertentu dari berbagai variabel.(Burhan Bungin, 2015: 96).
Keterkaitan metode penelitian ini dapat mempermudah penulis untuk menganalisis efektivitas organisasi KPU Kota Medan dalam mendukung keterbukaan informasi publik melalui Sirekap pada pilkada Kota Medan tahun 2020 dengan fokus terhadap informasi yang dibutuhkan berkaitan dengan hipotesis kerja meliputi organisasi pelaksana, kelompok sasaran, kebijakan, dan masyarakat pemilih. Data yang diperoleh tersebut kemudian dikelola menggunakan pendekatan teori-teori kontekstual yang telah dipaparkan dalam bab sebelumnya.
3.2. Lokasi Penelitian
Penulis melakukan penelitian di kantor KPU Kota Medan yang berkedudukan di Kota Medan dan beralamat di Jl. Kejaksaan No. 37 Kota Medan, Sumatera Utara dalam mencari data yang lengkap dan wawancara dengan para komisioner KPU Kota Medan mengenai efektivitas organisasi KPU dalam mendukung keterbukaan informasi informasi publik melalui Sirekap pada pilkada Kota Medan tahun 2020, para anggota PPK, PPS dan KPPS, kemudian untuk menambah informasi yang berimbang penulis juga mencari data yang berkaitan dengan penelitian ini melalui wawancara denganpara pengamat pemilihan umum/
pilkada, akademisi dan juga organisasi tentang kepemiluan serta masyarakat pemilih di pilkada Kota Medan Tahun 2020.
3.3. Informan Penelitian
Menurut Afrizal (2017:139), informan penelitian adalah orang yang
memberikan informasi baik tentang dirinya ataupun orang lain atau suatu kejadian
atau suatu hal kepada peneliti atau pewawancara mendalam. Oleh karena itu, informan penelitian sangat dibutuhkan keberadaannya oleh peneliti ini guna memperoleh informasi terkait dengan judul penelitian yang telah ditetapkan. Dalam informan penelitian akan dibahas mengenai teknik untuk menentukan informan dan siapa saja yang dapat menjadi informan dalam penelitian ini.
Penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi dari hasil penelitiannya. Oleh karena itu, pada penelitian kualitatif tidak dikenal adanya populasi dan sampel. Oleh sebab itu, pada penelitian kualitatif, informan penelitian ditentukan dengan sengaja. Dalam penelitian ini, subjek yang menjadi informan penelitian ditentukan dengan Purposive Sampling yaitu teknik menentukan informan penelitian secara sengaja atas pertimbangan tertentu, agar dapat memperoleh informasi serta data-data yang jelas dan tepat guna memperlancar proses penelitian.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti menentukan langsung informan yang berkaitan dengan objek penelitian yang dapat memberikan informasi mengenai Efektivitas Organisasi Dalam Mendukung Keterbukaan InformasiPublik Melalui Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) Di Komisi Pemilihan Umum Kota Medan.
Di bawah ini diuraikan informan yang terkait dengan penelitian ini dalam bentuk tabel sebagai berikut:
TABEL 3.1 MATRIKS INFORMAN PENELITIAN
No. Status Informan
Informasi yang dibutuhkan
Metode Instrumen Jumlah Informan
(Orang) 1. Ketua KPU
Kota Medan
- Informasi terkait gambaran tentang organisasi
WM PW 1
KPU Kota Medan - Informasi
Perekrutan penyelengg ara pemilu (PPK,PPS dan KPPS 2. Anggota
KPU Kota Medan Bidang Teknis
- Informasi tentang teknis tentang pelaksanaan tahapan
pilkada Kota Medan Tahun 2020
- Informasi teknis tentang penggunaan Sirekap - Implementasi
penggunaan Sirekap pada pilkada Kota Medan Tahun 2020
- Hasil dari penggunaan Sirekap pada pilkada Kota Medan Tahun 2020
WM PW 1
3. Sekertariat KPU Kota Medan
- Informasi Perekrutan penyelenggara pemilu
(PPK,PPS dan KPPS)
WM PW 2
4. Pengamat Pemilu/
Pilkada, Akademisi
Penilaian tentang efektivitas
organisasi KPU dalam mendukung keterbukaan
informasi publik dalam pesta demokrasi pilkada Kota Medan Tahun 2020
WM PW 1
5. Ketua/
Anggota PPK, PPS dan KPPS
Informasi mengenai
pelaksanaan teknis Sirekap pada tahapan pemilihan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS)
WM PW 7
6. Masyarakat Pemilih Kota Medan
Informasi tentang kepuasan dalam memperoleh
informasi hasil pilkada Kota Medan Tahun 2020
WM PW 3
Jumlah 17
Keterangan:
WM : Wawancara Mendalam
PW : Pedoman Wawancara
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Metode wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman.(Burhan Bungin, 2015: 134). Bentuk wawancara yang penulis pilih dalam penelitian ini adalah teknik wawancara sistematik. Wawancara sistematik adalah wawancara yang dilakukan dengan terlebih dahulu pewawancara mempersiapkan
pedoman (guide) tertulis tentang apa yang hendak ditanyakam kepada responden.
Pedoman bagi pewawancara memiliki beberapa fungsi, antara lain (Burhan Bungin, 2015: 134-135):
1. Pedoman wawancara berfungsi membimbing alur wawancara terutama mengarahkan tentang hal-hal yang harus ditanyakan;
2. Dengan pedoman wawancara dapat dihindari kemunhkinan melupakan beberapa persoalan yang relevan dengan permasalahan penelitian;
3. Dapat meningkatkan tingkat kredibilitas penelitian karena secara ilmiah jenis wawancara ini dapat meuakinkan orang lain bahwa apa yang dilakukannya dapat dipertanggung jawabkan secara tertulis.
Penulis juga menggunakan metode observasi untuk mempermudah perolehan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Observasi adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan pengamatannya melalui hasil kerja pancaindra mata serta pancaindra yang lain. (Burhan Bungin, 2015: 142). Observasi yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode observasi langsung. Observasi langsung adalah pengamatan yang dilakukan secara langsung pada objek yang di observasi, dalam arti bahwa pengamatan tidak menggunakan “media-media transparan”.
Observasi langsung memiliki beberapa bentuk, antara lain:
1. Observasi Berstruktur;
2. Observasi Tidak Berstruktur;
3. Observasi Eksperimental;
4. Observasi Partisipasi;
5. Observasi Kelompok. (Burhan Bungin, 2015: 143)
Dalam mendukung data tersebut, peneliti juga menggunakan metode pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi. Metode dokumentasi adalah suatu cara yang digunakan untuk memperoleh data dan informasi dalam bentuk buku, arsip, dokumen, tulisan angka dan gambar yang berupa laporan serta keteranganyang dapat mendukung penelitian. Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data kemudian ditelaah. Sugiyono (2015: 329).
Dokumentasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan peneliti kualitatif untuk mendapatkan gambaran dari sudut pandang subjek melalui suatu media tertulis dan dokumen lainnya yang ditulis atau dibuat langsung oleh subjek yang bersangkutan. Dengan metode ini, peneliti mengumpulkan data dari dokumen yang sudah ada, sehingga penulis dapat memperoleh catatan-catatan yang berhubungan dengan penelitian seperti : gambaran umum sekolah, struktur organisasi sekolah dan personalia, keadaan guru dan peserta didik, catatan-catatan, foto-foto dan sebagainya. Metode dokumentasi ini dilakukan untuk mendapatkan data-data yang belum didapatkan melalui metode observasi dan wawancara.
3.5. Teknik Analisis Data
Sesuai dengan metode penelitian yang digunakan, yaitu metode penelitian kualitatif, maka teknik analisis data yang digunakan adalah teknik kualitatif.
Analisis data kualitatif digunakan apabila data penelitian yang diangkat dari lapangan adalah juga memiliki sifat-sifat kualitatif. (Burhan Bungin, 2015: 275).
Dalam analisis data, ada langkah-langkah yang dilakukan antara lain sebagai berikut:
1. Kodifikasi / Reduksi Data
Data yang diperoleh segera oleh peneliti dalam analisis melalui kodifikasi atau reduksi data.Mereduksi berarti mencari tema dan pola, menulis dan merangkum catatan di lapangan, memilih hal-jal yang pokok, mengidentifikasikan, menginterprestasikan, serta memfokuskan yang penting.Hal ini mempermudah peneliti melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila dibutuhkan.
2. Penyajian Data
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data.
Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bias dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan dan hubungan dengan pengelompokkan atau kategori.
Dengan menyajikan data maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi dan merencakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahaminya tersebut.
3. Penarikan Kesimpulan
Tahap penarikan kesimpulan atau verifikasi merupakan suatu tahap lanjutan dimana pada tahap ini peneliti menarik kesimpulan dari temuan data.Artinya, interprestasi peneliti atas temuan dari suatu wawancara atau sebuah dokumen. Setelah kesimpulan diambil, peneliti kemudian mengecek lagi kesahihan interprestasi dengan cara mengecek ulang proses reduksi dan penyajian data untuk memastikan tidak ada kesalahan yang dilakukan.
(Moloeng, 2016:248)
3.6. Teknik Keabsahan Data
Dalam mendapatkan hasil penelitian yang baik, perlu dilakukan validitas (pengabsahan) data. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode triangulasi data. Triangulasi adalah suatu cara mendapatkan data yang benar-benar absah dengan menggunakan metode ganda. (Bachtiar Bachri, 2010: 56). Adapun macam- macam triangulasi antara lain:
1. Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber berarti membandingkan mencek ulang derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui sumber yang berbeda.Misalnya membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara.
2. Triangulasi Waktu
Triangulasi waktu digunakan untuk validitas data yang berkaitan dengan perubahan suatu proses dan perilaku manusia, karena perilaku manusia mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
3. Triangulasi Teori
Triangulasi teori adalah memanfaatkan dua teori atau lebih untuk diadu atau dipadu.Untuk itu diperlukan rancangan penelitian, pengumpulan data dan analisis data yang lebih lengkap.
4. Triangulasi Peneliti
Triangulasi peneliti adalah menggunakan lebih dari satu peneliti dalam mengadakan observasi atau wawancara. Karena masing-masing peneliti mempunyai gaya, sikap dan persepsi yang berbeda dalam mengamati suatu fenomena. Maka hasil pengamatan dapat berbeda dalam mengamati fenomena yang sama.
5. Triangulasi Metode
Triangulasi metode adalah usaha memeriksa keabsahan data atau memeriksa keabsahan temuan penelitian. Triangulasi metode dapat dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan data yang sama. Pelaksanaannya dapat juga dengan cara cross check.