KINERJA APARATUR DESA DALAM PENYUSUNAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA DI DESA
SIRINGAN-RINGAN KECAMATAN UJUNG PADANG KABUPATEN SIMALUNGUN
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna memperoleh Gelar Sarjana (S1) Administrasi Publik
Oleh:
DIANINASITA WINDINING TYAS 140903077
PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kinerja aparatur desa dalam penyusunan APBDes di Desa Siringan-ringan Kecamatan Ujung Padang Kabupaten Simalungun dari segi kuantitas, kualitas, dan ketepatan waktu.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik pengumpulan data primer berupa wawancara dan observasi serta teknik pengumpulan data sekunder berupa dokumentasi dan studi kepustakaan.Sedangkan teknik analisis data yang digunakan secara kualitatif.Informan penelitian ini adalah aparatur desa, BPD, tokoh masyarakat dan tokoh agama.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja aparatur desa dalam penyusunan APBDes di Desa Siringan-ringan Kecamatan Ujung Padang Kabupaten Simalungun dari segi kuantitas kinerja sudah baik dilihat dari jumlah musyawarah, dokumen, program pembangunan, dan jam kerja. Untuk kualitas kinerja belum baik dilihat dari kurangnya kerja sama, kemampuan, wawasan serta pengetahuan. Untuk ketepatan waktu kinerja juga belum baikdilihat dari keterlambatan pencairan dana desa.
Kata Kunci: Kinerja, Aparatur Desa, Penyusunan APBDes
ABSTRACT
The purpose of this study is to analyze the performance of the village apparatus in the preparation of APBDes in the village of Siringan-ringan district of Ujung Padang Simalungun Regency in terms of quantity, quality, and timeliness.
The research method used is descriptive research method with qualitative approach. Data collection techniques used are primary data collection techniques in the form of interviews and observations as well as techniques of collecting secondary data in the form of documentation and literature study. While the data analysis techniques used qualitatively. Informants of this research are village apparatus, BPD, community leaders and religious leaders.
The result of the research shows that the performance of the village apparatus in the preparation of APBDes in the village of Siringan-ringan district of Ujung Padang Simalungun Regency in terms of quantity of performance has been good seen from the amount of deliberation, document, development program, and working hours. For performance quality is not good seen from the lack of cooperation, ability, insight and knowledge. For the timeliness of performance is also not good seen from the delay in disbursement of village funds.
Keywords: Performance, Village Apparatus, Preparation of APBDes
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Kinerja Aparatur Desa Dalam Penyusunan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Desa Di Desa Siringan-ringan Kecamatan Ujung Padang Kabupaten Simalungun”.Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar sarjana Administrasi Publik pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.Dalam penulisan skripsi ini, banyak pihak yang telah sangat membantu penulis. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Muryanto Amin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
2. Bapak Dr. Tunggul Sihombing, MA selaku Ketua Departemen Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dra. Asima Yanti Siahaan, Ma, P.hD selaku Sekretaris Departemen Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
4. Ibu Prof. Dr. Erika Revida, MS selaku dosen pembimbing skripsi yang telah membimbing dan meluangkan waktunya sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi ini.
5. Ibu Arlina, S.H, M.Hum selaku dosen pembimbing akademik penulis selama kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
6. Seluruh Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara atas segala ilmu yang telah diberikan kepada penulis selama kuliah.
7. Seluruh Staf Tata Usaha Departemen Ilmu Administrasi Publik Universitas Sumatera Utara yang telah membantu penulis selama kuliah.
8. Seluruh Aparatur Desa Siringan-ringan, BPD Siringan-ringan, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, serta Masyarakat Desa Siringan-ringan yang telah banyak membantu penulis dalam penulisan skripsi ini.
9. Kedua orang tua penulis yang telah mencintai, mendukung, memotivasi, mendoakan, dan melakukan segalanya demi kebahagiaan saya. Untuk adik-adik tersayang, Recsi, Mayland, dan Luthfi yang telah memotivasi, dan mendoakan saya selama ini.
10. Untuk teman sekaligus sahabat terbaik saya yang telah banyak membantu saya menjadi pribadi yang lebih baik dan membuat hidup saya jauh lebih bermakna.
11. Untuk sahabat saya, Diah yang telah membantu dan memotivasi penulis selama sekolah, kuliah, maupun dalam penulisan skripsi ini.
12. Untuk teman-teman kuliah saya, Sara, Umi, Sari, Aisyah yang telah saling memotivasi selama kuliah dan dalam penulisan skripsi ini.
13. Teman-teman masa sekolah saya yangtidak bisa disebutkan satu persatu yang telah saling memotivasi selama sekolah, kuliah, dan selama penulisan skripsi ini.
14. Seluruh teman-teman Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang telah bersama-sama saling mendukung selama kuliah dan selama penulisan skripsi ini.
15. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Akhir kata penulis berharap semoga Allah SWT membalas kebaikan semua pihak yang telah membantu penulis dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.
Medan, Juli 2018
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN PERSETUJUAN ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
ABSTRAK ... iii
ABSTRACT ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 9
1.3 Tujuan Penelitian ... 9
1.4 Manfaat Penelitian ... 10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Tentang Kinerja ... 11
2.1.1 Pengertian Kinerja ... 11
2.1.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja ... 13
2.1.3 Aspek-Aspek Standar Pekerjaan Dan Kinerja ... 18
2.1.4Indikator Kinerja ... 19
2.2 Tinjauan Tentang Aparatur Desa ... 23
2.2.1 Pengertian Pemerintah ... 23
2.2.2 Pengertian Desa ... 24
2.2.3 Pemerintah Desa ... 26
2.3 Tinjauan Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) ... 30
2.3.1 Pengertian APBDes ... 30
2.3.2 Struktur APBDes ... 31
2.3.3 Prinsip-Prinsip Manajemen APBDes ... 33
2.4Definisi Konsep ... 34
2.5 Kerangka Berpikir ... 35
2.6 Hipotesis Penelitian ... 39
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Bentuk Penelitian ... 40
3.2 Lokasi Penelitian ... 41
3.3 Informan Penelitian ... 41
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 44
3.5 Teknik Analisis Data ... 45
3.6 Keabsahan Data ... 46
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 49
4.1.1 Sejarah Singkat Desa Siringan-ringan ... 49
4.1.2 Geografi Desa Siringan-ringan ... 49
4.1.4 Visi Dan Misi Desa Siringan-ringan ... 52
4.1.5 Susunan Organisasi Aparatur Desa Siringan-ringan ... 54
4.1.6 Susunan Organisasi Badan Permusyawaratan Desa Siringan-ringan 56 4.2 Karakteristik Informan ... 57
4.3 Kinerja Aparatur Desa dalam penyusunan APBDes Di Desa Siringan-ringan ... 58
4.3.1 Kuantitas ... 59
4.3.2 Kualitas ... 66
4.3.3 Ketepatan Waktu ... 75
4.4 Pembahasan Kinerja Aparatur Desa Dalam Penyusunan APBDes Di Desa Siringan-ringan ... 81
4.4.1 Kuantitas ... 81
4.4.2 Kualitas ... 86
4.4.3 Ketepatan Waktu ... 88
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 94
5.2 Saran ... 96
DAFTAR PUSTAKA ... 99 LAMPIRAN PEDOMAN
TRANSKRIP
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Informan Penelitian ... 43
Tabel 1.2 Pertumbuhan Penduduk ... 50
Tabel 1.3 Mata Pencaharian Penduduk ... 51
Tabel 1.4 Pendidikan ... 51
Tabel 1.5 Infrastruktur Perhubungan ... 52
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Struktur Organisasi Aparatur Desa Siringan-ringan ... 55 Gambar 1.2 Struktur Organisasi Organisasi Badan Permusyawaratan Desa Siringan-ringan ... 56
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Desa merupakan suatu wilayah yang diberikan kewenangan untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahannya sendiri. Hal tersebut sesuai dengan pengertian desa berdasarkan UU No 6 Tahun 2014 Pasal 1 yang menyatakan bahwa desa merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal-usul dan atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kewenangan yang dimiliki desa untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahannya sendiri disebut dengan otonomi desa.
Otonomi desa memberikan hak kepada desa untuk mempunyai kekayaan yang diatur sesuai dengan sistem kelembagaan yang dikembangkan sendiri.Dengan demikian desa mempunyai wilayah yang hanya masyarakat desa yang bersangkutan yang boleh mengatur dan mengurus urusannya.Orang-orang luar yang tidak berkepentingan tidak boleh ikut campur mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat desa yang bersangkutan. (Nurcholis, 2011:19). Adanya otonomi desa diharapkan dapat memberikan keleluasaan kepada masyarakat desa untuk mengatur dan mengembangkan desanya sendiri agar lebih sejahtera dikarenakan masyarakat desalah yang lebih mengetahui permasalahan dan kebutuhan desanya sendiri sehingga masalah tidak meratanya pembangunan
antara kota dan desa yang terjadi di Indonesia diharapkan dapat diatasi melalui otonomi desa.
Pelaksanaan otonomi desa memerlukan adanya penyelenggaraan pemerintahan desa yang baik dalam mengelola keuangan desa.Keuangan desa adalah semua hak dan kewajiban dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan desa yang dapat dinilai dengan uang, termasuk di dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban desa tersebut.Keuangan desa berasal dari pendapatan asli desa, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).Penyelenggaraan urusan pemerintahan desa yang menjadi kewenangan desa didanai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes), bantuan pemerintah pusat, dan bantuan pemerintah daerah.Penyelenggaraan urusan pemerintah daerah yang diselenggarakan oleh pemerintah desa didanai dari APBD, sedangkan penyelenggaraan urusan pemerintah pusat yang diselenggarakan oleh pemerintah desa didanai dari APBN (Nurcholis, 2011:81).Sumber pendapatan desa tersebut diatur dan dikelola dalam APBDes yang setiap tahunnya ditetapkan oleh kepala desa bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) yang dituangkan dalam peraturan desa (Widjaja, 2003:6).
Dalam menjalankan pemerintahan desa, para aparatur desa wajib untuk membuat APBDes dikarenakan APBDes memuat sumber-sumber penerimaan dan alokasi pengeluaran desa dalam kurun waktu satu tahun.Melalui APBDes kebijakan desa yang dijabarkan dalam berbagai program dan kegiatan sudah ditentukan anggarannya.Dengan demikian, kegiatan pemerintahan desa berupa
pemberian pelayanan, pembangunan, dan perlindungan kepada warga dalam satu tahun berjalan sudah dirancang anggarannya sehingga sudah dipastikan dapat dilaksanakkan. Tanpa APBDes, pemerintah desa tidak dapat melaksanakan program dan kegiatan pelayanan publik (Nurcholis, 2011:85).
Penyusunan APBDes melibatkan beberapa pihak seperti aparatur desa yaitu kepala desa dan perangkat desa, BPD, warga masyarakat, dan bupati.Kepala desa sebagai kepala pemerintah desa merupakan pemegang kekuasaan dalam pengelolaan keuangan desa.Dalam melaksanakan tugasnya mengelola keuangan desa, kepala desa dibantu oleh perangkat desa.
Dalam penyusunan APBDes, kepala desa memiliki beberapa peran seperti membahas dan menyetujui Rancangan Peraturan Desa (Raperdes) APBDes, membahas perubahan APBDes dan pertanggungjawaban bersama BPD, menetapkan Perdes APBDes, mensosialisasikan Perdes APBDes, menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBDes, serta kebijakan tentang pengelolaan barang desa. BPD juga memiliki peran dalam penyusunan APBDes, yaitu membahas bersama dalam rangka memperoleh persetujuan bersama dimana pembahasan menitikberatkan pada kesesuaian dengan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes), menyetujui dan menetapkan anggaran, serta melakukan pengawasan proses penyusunan dan implementasi APBDes. Adapun peran masyarakat antara lain melakukan konsolidasi partisipan, agregasi kepentingan (mengumpulkan kepentingan yang berbeda-beda), memilih preferensi (prioritas) dan melakukan monitoring dan evaluasi. Seiring dengan itu peran bupati juga melakukan evaluasi, pembinaan, dan melakukan pengawasan.
(https://www.kompasiana.com/berdesa/peran-kepala-desa-dalam-penyusunan- apbdesa, diakses 11 Februari 2018).
Penyusunan APBDes yang dilakukan oleh aparatur desa memerlukan kinerja yang baik dari aparatur desa dikarenakan di dalam penyusunan APBDes membahas mengenai program-program pembangunan desa yang akan dilakukan di desa selama satu tahun anggaran yang dibiayai dari dana desa. Kinerja aparatur desa yang baik dalam penyusunan APBDes dapat meningkatkan pembangunan di desa karena aparatur desa dapat menyusun apa yang menjadi prioritas pembangunan di desanya. Dengan adanya kinerja yang baik pula maka dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Kinerja aparatur desa yang baik dalam penyusunan APBDes juga dibutuhkan karena Alokasi Dana Desa (ADD) yang diberikan pemerintah pusat setiap tahunnya semakin meningkat. ADD tahun 2017 adalah sebesar Rp 60 triliun. Jumlah itu meningkat tajam dari tahun sebelumnya tahun 2015 sebesar 20 triliun dan tahun 2016 sebesar Rp 47 triliun. Jumlah tersebut cukup besar dan dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, sehingga sangat diperlukan adanya kinerja yang baik bagi aparatur desa dalam penyusunan APBDes.Dalam penyusunan APBDes, kinerja aparatur desa harus sesuai dengan peraturan sehingga dapat mewujudkan pengelolaan keuangan desa yang bebas dari korupsi dan kolusi. Untuk mewujudkan kinerja aparatur yang baik juga diperlukan kontrol dari masyarakat desa untuk mengawasi penggunaan dana desa tersebut. BPD yang merupakan lembaga yang mempunyai fungsi pengawasan diharapkan dapat menjalankan perannya secara sungguh-sungguh terutama dalam hal penggunaan anggaran. BPD tidak perlu ragu untuk melakukan pengawasan
melalui check and balance terhadap kinerja kepala desa dikarenakan sudah adanya UU dan peraturan pemerintah yang memberikan payung hukum yang jelas untuk melakukan check and balance terhadap masalah tersebut.
(https://beritasimalungun.blogspot.co.id /2017/05/melawan-niat-korup-dana-desa- oknum.html, diakses 10 Februari 2018)
Meskipun demikian, kinerja aparatur desa dalam penyusunan APBDes masih menimbulkan masalah di berbagai wilayah di Indonesia. Salah satu masalah tersebut terjadi di salah satu wilayah di Indonesia yaitu Kabupaten Sukoharjo dimana aparatur desa masih sembarangan dalam membuat APBDes dimana ditemukan sejumlah desa yang membuat APBDes hanya copypaste dari APBDes tahun sebelumnya. Padahal program kegiatan yang dijalankan dalam pelaksanaan APBDes tentunya berbeda dengan program kegiatan tahun sebelumnya.Dalam penyusunan APBDes seharusnya aparatur desa tidak memburu asal jadi. Sebab butuh perhitungan cermat dan mendetail mengenai program yang akan dilaksanakan. Selain itu kepala desa harus berperan aktif memantau proses pembuatan APBDes dikarenakan banyak kepala desa pasif dan hanya menyerahkan ke perangkat untuk menyusun APBDes.
(https://www.harianmerapi.com/news/2018/03/04/9060/desa-jangan-asal-buat- apbdes, diakses 26 April 2018)
Tidak hanya masalah mengenai penyusunan APBDes saja yang sembarangan, keterlambatan penyerahan APBDes juga menjadi masalah.Seperti yang terjadi di Kabupaten Tanggamus dimana sampai akhir Maret 2018 belum ada satupun desa yang menyerahkan APBDes tahun 2018. Hal tersebut tentunya berpengaruh terhadap pencairan dana desa dimana untuk pencairan dana desa
tahap pertama memerlukan APBDes sebagai salah satu syaratnya.
(https://netizenku.com/pekon-di-tanggamus-belum-serahkan-apbdes, diakses 26 April 2018)
Masalah mengenai kinerja aparatur desa dalam penyusunan APBDes juga terjadi di Kabupaten Simalungun. Masalah yang terjadi di Kabupaten Simalungun tidak jauh berbeda dengan masalah yang terjadi di wilayah lain yang ada di Indonesia. Permasalahan penyusunan APBDes tersebut dapat dilihat dari adanya keluhan para pangulu atau kepala desa dan perangkat desa atau nagori lainnya yang belum menerima gaji padahal sudah bulan April 2018. Gaji perangkat desa bersumber dari alokasi dana desa atau nagori. Belum cairnya gaji dari perangkat desa tersebut disebabkan karena APBDes belum diselesaikan.Padahal untuk penyusunan APBDes sudah dilakukan pembinaan dan pelatihan.Pemerintah sudah menyediakan pendamping desa dan pendamping lokal desa untuk membantu perangkat desa dalam penyusunan APBDes. (buktipers.com/pangulu-kabupaten- simalungun-keluhkan-gaji-tidak-dicairkan-dpmpn, diakses 25 April 2018)
Desa Siringan-ringan merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Ujung Padang Kabupaten Simalungun yang memiliki permasalahan dalam penyusunan APBDes.Sebelumnya, pada penelitian ini penulis mengunakan istilah secara umum untuk Desa Siringan-ringan, dimana di lapangan Desa Siringan- ringan disebut dengan Nagori Siringan-ringan.Selain itu, perangkat desa yang ada di Desa Siringan-ringan juga menggunakan istilah khusus atau bahasa daerah, namun pada penelitian ini penulis mengunakan istilah secara umum.Penulis menggunakan istilah secara umum agar dapat dimengerti oleh semua pihak.
Berdasarkan pra-penelitian yang penulis lakukan di lapangan yaitu pada Desa Siringan-ringan Kecamatan Ujung Padang Kabupaten Simalungun, kinerja aparatur desa dalam penyusunan APBDes tahun anggaran 2018 masih menimbulkan berbagai masalah. Salah satu masalah yang sering terjadi disebabkan karena kualitas kinerja aparatur desa masih kurang baik dalam penyusunan APBDes.Kualitas kinerja aparatur desa yang kurang baik dalam penyusunan APBDes dapat disebabkan oleh masih rendahnya kualitas sumber daya manusia.Aparatur desa dinilai masih kurang kemampuannya dalam penyusunan APBDes. Selain itu aparatur desa seringkali masih bingung dalam menemukan dan menentukan prioritas pembangunan di desanya.
Selain kualitas kinerja aparatur desa, kuantitas kinerja aparatur desa dalam penyusunan APBDes juga harus baik. Berdasarkan pra-penelitian yang penulis lakukan di Desa Siringan-ringan, kuantitas kinerja aparatur desa dalam yang baik penyusunan APBDes dapat dilihat dari jam kerja dalam penyusunan APBDes, jumlah musyawarah dalam penyusunan APBDes, maupun dokumen-dokumen yang harus dipenuhi dalam penyusunan APBDes. Sebelum menyusun APBDes, aparatur desa harus menyelesaikan RPJMDes dan RKP karena tanpa adanya RPJMDes dan RKP maka penyusunan APBDes tidak dapat dilakukan.Jika hal-hal tersebut tidak dapat terpenuhi maka kuantitas kinerja aparatur desa dinilai tidak berjalan dengan baik.
Kinerja aparatur desa yang baik juga dapat dilihat dari ketepatan waktunya dalam menyusun APBDes.Jika penyusunan APBDes dapat dilaksanakan tepat waktu maka kinerja aparatur desa dinilai baik, dan jika tidak tepat waktu maka kinerja aparatur desa dinilai kurang baik.Berdasarkan pra-penelitian yang penulis
lakukan di Desa Siringan-ringan, ketepatan waktu kinerja aparatur desa dalam penyusunan APBDes masih menjadi masalah.Terdapat banyak keluhan mengenai lambatnya kinerja aparatur desa dalam penyusunan APBDes.Rancangan APBDes yang telah dibuat harus diperbaiki ulang karena tidak sesuai dengan standar yang berlaku sehingga aparatur desa harus memperbaikinya kembali yang mana hal tersebut akan mempengaruhi ketepatan waktu penyusunan APBDes. Sebelumnya, perlu diketahui berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 225/PMK.07/2017 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 50/PMK.07/2017 Tentang Pengelolaan Transfer Ke Daerah Dan Dana Desa dinyatakan bahwa pencairan dana desa untuk tahun 2018 dilakukan melalui tiga tahapan, dimana tahap pertama pencairan dana desa memerlukan persyaratan penyusunan APBDes 2018 harus sudah selesai. Lambatnya kinerja dari aparatur desa tersebut menyebabkan bantuan dana desa yang diberikan pemerintah menjadi terlambat pencairannya. Jika dana desa tidak segera dicairkan maka akan berdampak kepada aparatur desa dimana gaji aparatur desa tidak dapat dicairkan dan keterlambatan pencairan dana desa juga akan berdampak kepada masyarakat karena pembangunan yang terlaksana di desa akan terganggu. Hal tersebut dikarenakan dana desa digunakan untuk pemberdayaan masyarakat dan untuk pembangunan segala infrastruktur serta pengembangan potensi desa.
Berdasarkan uraian permasalahan-permasalahan di atas mengenai penyusunan APBDes, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Kinerja Aparatur Desa Dalam Penyusunan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Desa Di Desa Siringan-ringan Kecamatan Ujung Padang Kabupaten Simalungun”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana kuantitas kinerja aparatur desa dalam penyusunan anggaran pendapatan dan belanja desa di Desa Siringan-ringan Kecamatan Ujung Padang Kabupaten Simalungun?
2. Bagaimana kualitas kinerja aparatur desa dalam penyusunan anggaran pendapatan dan belanja desa di Desa Siringan-ringan Kecamatan Ujung Padang Kabupaten Simalungun?
3. Bagaimana ketepatan waktu kinerja aparatur desa dalam penyusunan anggaran pendapatan dan belanja desa di Desa Siringan-ringan Kecamatan Ujung Padang Kabupaten Simalungun?
1.3 Tujuan Penelitian
Dari permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui kuantitas kinerja aparatur desa dalam penyusunan anggaran pendapatan dan belanja desa di Desa Siringan-ringan Kecamatan Ujung Padang Kabupaten Simalungun?
2. Untuk mengetahui kualitas kinerja aparatur desa dalam penyusunan anggaran pendapatan dan belanja desa di Desa Siringan-ringan Kecamatan Ujung Padang Kabupaten Simalungun?
3. Untuk mengetahui ketepatan waktu kinerja aparatur desa dalam penyusunan anggaran pendapatan dan belanja desa di Desa Siringan- ringan Kecamatan Ujung Padang Kabupaten Simalungun?
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Secara teoritis, penelitian ini merupakan usaha untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan berpikir secara ilmiah dan sistematis melalui penulisan karya ilmiah berdasarkan teori-teori yang diperoleh dari Departemen Ilmu Administrasi Publik Universitas Sumatera Utara.
2. Secara akademis, penelitian ini dapat bermanfaat bagi Departemen Ilmu Administrasi Publik untuk melengkapi ragam penelitian baik secara teoritis maupun praktis yang telah dilakukan oleh peneliti.
3. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan yang bermanfaat bagi berbagai pihak yang membutuhkan informasi mengenai kinerja aparatur desa dalam penyusunan anggaran dan pendapatan desa maupun bagi aparatur desa dalam penyusunan anggaran pendapatan dan belanja desa di Desa Siringan-ringan untuk dapat meningkatkan kinerjanya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Tentang Kinerja 2.1.1 Pengertian Kinerja
Kinerja merupakan sesuatu yang sangat penting dalam usaha pencapaian tujuan organisasi. Tanpa adanya kinerja yang baik, maka tujuan dari organisasi akan sulit dicapai. Ada banyak definisi kinerja yang telah dikemukakan oleh para ahli.Menurut Bacal (dalam Kaswan dan Akhyadi, 2015:153), kinerja merupakan tingkat kontribusi yang diberikan pegawai terhadap tujuan pekerjaannya atau unit kerja dan perusahaan atau organisasi sebagai hasil perilakunya dan aplikasi dari keterampilan, kemampuan, dan pengetahuannya.Pendapat tersebut sejalan dengan yang dikemukakan oleh Campbell (dalam Kaswan dan Akhyadi, 2015:153) yang menyatakan bahwa kinerja pegawai menggambarkan perilaku yang dilakukan pegawai selama di tempat kerja yang memberi kontribusi terhadap tujuan organisasi.Dengan demikian kinerja menggambarkan kontribusi yang dilakukan oleh para pegawai dalam usaha mencapai tujuan organisasi.
Menurut Sedarmayanti (2009:260) kinerja merupakan terjemahan dari performance yang berarti hasil kerja seorang pekerja, sebuah proses manajemen atau suatu organisasi secara keseluruhan, dimana hasil kerja tersebut harus dapat ditunjukkan buktinya secara konkrit dan dapat diukur (dibandingkan dengan standar yang telah ditentukan). Dalam hal ini kinerja pegawai harus dapat diukur sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.kinerja pegawai dikatakan baik jika dapat memenuhi sebagian besar standar yang telah ditetapkan.
Mangkunegara (2015:67), menyatakan bahwa, kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.Dengan demikian, kinerja dapat dilihat sebagai hasil kerja yang dapat dicapai oleh pegawai berdasarkan wewenang dan tanggung jawab yang telah diberikan kepadanya.Hasil kinerja pegawai yang baik bermanfaat dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
Selanjutnya menurut Bernardian, John H. dan Joyce E.A. Russel (dalam Sedarmayanti, 2009:260), kinerja didefinisikan sebagai catatan mengenai out come yang dihasilkan dari suatu aktivitas tertentu, selama kurun waktu tertentu pula. Pendapat tersebut senada dengan yang diungkapkan oleh Motowidlo (dalam Kaswan dan Akhyadi, 2015:153), kinerja pegawai adalah nilai total yang diharapkan dari episode perilaku yang dilakukan pegawai selama periode waktu tertentu untuk organisasi. Dengan demikian, kinerja merupakan out come yang dihasilkan dari perilaku pegawai dalam periode waktu tertentu di dalam organisasi.
Sedangkan menurut Rivai (2004:309) mengemukakan pengertian kinerja dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan, sebagai berikut:
“Kinerja merupakan suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan.Untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan seseorang sepatutnya memiliki derajat kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu. Kesediaan dan keterampilan seseorang tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan sesuatu tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang akan dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya.
Kinerja merupakan perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan.
Kinerja karyawan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam upaya perusahaan untuk mencapai tujuannya”
Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa kinerja memerlukan adanya motivasi dan kemampuan yang dimiliki oleh seorang pegawai agar dapat bekerja dengan baik.Kinerja juga merupakan suatu perilaku yang dihasilkan oleh seorang pegawai sebagai sebuah prestasi sesuai dengan perannya.Kinerja seorang pegawai sangat penting dalam upaya mencapai tujuan dari perusahaan atau suatu organisasi tempat pegawai bekerja.
Berdasarkan berbagai pendapat ahli di atas, maka dapat disimpulkan kinerja adalah hasil kerja pegawai berdasarkan tanggung jawab yang diberikan kepadanya dimana hasil kerja tersebut harus dapat diukur dan dibuktikan dalam rangka pencapaian tujuan organisasi pada suatu periode tertentu.Kinerja pegawai memerlukan adanya motivasi dan kemampuan yang ditunjukkan dalam bekerja.
Kinerja pegawai yang baik akan mempermudah suatu organisasi untuk mencapai tujuannya. Sedangkan kinerja pegawai yang buruk akan mempersulit suatu organisasi untuk mencapai tujuannya.
2.1.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja
Dalam melaksanakan tugasnya, kinerja pegawai dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.Menurut Mathis dan Jackson (dalam Kaswan dan Akhyadi, 2015:155) menyatakan ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kinerja pegawai. Faktor-faktor tersebut adalah:
1. Kemampuan individu melakukan pekerjaan seperti talenta, keterampilan, kecerdasan, pengetahuan, minat, karakteristik kepribadian, dan lain-lain.
2. Usaha yang dilakukan seperti motivasi, etika kerja, kehadiran, pergantian pegawai, dan desain pekerjaan.
3. Dukungan organisasi seperti pelatihan dan pengembangan, peralatan dan teknologi, standar kinerja, manajemen dan rekan kerja, dan lain-lain.
Dari faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja di atas, dapat diketahui bahwa kemampuan dan usaha individu dalam berkerja akan saling mempengaruhi.
Pegawai yang memiliki kemampuan yang baik jika tidak memiliki usaha yang sama baiknya dalam bekerja maka kemampuan yang dimiliki pegawai tersebut tidak akan berguna. Selain itu, dengan adanya kemampuan dan usaha yang baik juga diperlukan adanya dukungan organisasi tempat seorang pegawai bekerja. Jika ketiga faktor tersebut saling mendukung, maka kinerja yang dihasilkan dari seorang pegawai akan baik.
Sedangkan menurut Keban (2004 : 203) untuk melakukankajian secara lebih mendalam tentang faktor-faktor yangmempengaruhi efektivitas penilaian kinerja di Indonesia, makaperlu melihat beberapa faktor penting sebagai berikut :
1. Kejelasan tuntutan hukum atau peraturan perundangan untuk melakukan penilaian secara benar dan tepat. Dalam kenyataannya, orang menilai secara subyektif dan penuh dengan bias tetapi tidak ada suatu aturan hukum yang mengatur atau mengendaikan perbuatan tersebut.
2. Manajemen sumber daya manusia yang berlaku memiliki fungsi dan proses yang sangat menentukan efektivitas penilaian kinerja. Aturan main menyangkut siapa yang harus menilai, kapan menilai, kriteria apa yang digunakan dalam sistem penilaian kinerja sebenarnya diatur dalam manajemen sumber daya manusia tersebut. Dengan demikian manajemen sumber daya manusia juga merupakan kunci utama keberhasilan sistem penilaian kinerja.
3. Kesesuaian antara paradigma yang dianut oleh manajemen suatu organisasi dengan tujuan penilaian kinerja. Apabila paradigma yang dianut masih berorientasi pada manajemen klasik, maka penilaian selalu bias kepada pengukuran tabiat atau karakter pihak yang dinilai, sehingga prestasi yang seharusnya menjadi fokus utama kurang diperhatikan.
4. Komitmen para pemimpin atau manajer organisasi publik terhadap pentingnya penilaian suatu kinerja. Bila mereka selalu memberikan komitmen yang tinggi terhadap efektivitas penilaian kinerja, maka para penilai yang ada dibawah otoritasnya akan selalu berusaha melakukakan penilaian secara tepat dan benar.
Dalam hal ini, untuk menilai kinerja pegawai di Indonesia diperlukan adanya kejelasan peraturan mengenai penilaian kinerja pegawai. Pihak yang
menilai juga harus ditentukan untuk menilai kinerja pegawai berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, dimana hal tersebut akan berpengaruh terhadap penilaian kinerja yang objektif. Diperlukan juga penyesuaian dengan nilai-nilai yang dianut oleh suatu organisasi ataupun perusahaan dalam melakukan penilaian kinerja.Selain itu, penilai yang menilai kinerja seorang pegawai harus berkomitmen untuk menilai dengan tepat dan benar kinerja seorang pegawai.
Selanjutya menurut Pasolong (2010:186), faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai adalah sebagai berikut:
1. Kemampuan, yaitu kemampuan dalam suatu bidang yang dipengaruhi oleh bakat, intelegensi (kecerdasan) yang mencukupi dan minat.
2. Kemauan, yaitu kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi.
3. Energi, yaitu sumber kekuatan dari dalam diri seseorang. Dengan adanya energi, seseorang mampu merespon dan bereaksi terhadap apapun yang dibutuhkan, tanpa berpikir panjang atau perhatian secara sadar sehingga ketajaman mental serta konsentrasi dalam mengelola pekerjaan menjadi lebih tinggi.
4. Teknologi, yaitu penerapan pengetahuan yang ada untuk mempermudah dalam melakukan pekerjaan.
5. Kompensasi, yaitu sesuatu yang diterima oleh pegawai sebagai balas jasa atas kinerja dan bermanfaat baginya.
6. Kejelasan tujuan, yaitu tujuan yang harus dicapai oleh pegawai. Tujuan ini harus jelas agar pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai dapat terarah dan berjalan lebih efektif dan efesien.
7. Keamanan, yaitu kebutuhan manusia yang fundamental karena pada umumnya seseorang yang merasa aman dalam melakukan pekerjaannya akan berpengaruh kepada kinerjanya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja di atas seperti kemampuan, kemauan, energi, teknologi, kompensasi.Kejelasan tujuan, dan keamanan haruslah ada di setiap diri individu maupun di sebuah organisasi.Hal tersebut bertujuan agar tercapainya kinerja yang baik yang dimiliki oleh seorang pegawai.
Menurut Simamora (dalam Mangkunegara, 2009:14) berpendapat bahwa kinerja (performance) dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:
a. Faktor individual yang terdiri dari:
1. Kemampuan dan keahlian.
2. Latar belakang.
3. Demografi.
b. Faktor psikologis yang terdiri dari:
1. Persepsi.
2. Attitude.
3. Personality.
4. Pembelajaran.
5. Motivasi.
c. Faktor organisasi yang terdiri dari:
1. Sumber daya.
2. Kepemimpinan.
3. Penghargaan.
4. Struktur.
5. Job design.
Berdasarkan pendapat Simamora tersebut dapat diketahui bahwa kinerja dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu faktor individual, faktor psikologis, dan faktor organisasi.Ketiga faktor tersebut saling mempengaruhi untuk mencapai kinerja yang baik. Dengan demikian maka hasil kerja karyawan akan dinilai baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Selanjutnya menurut Mangkunegara (2015:67), faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja (prestasi kerja) adalah:
1. Faktor kemampuan (ability).
Secara psikologis, kemampuan (ability) pegawai terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (Knowledge + Skill).Artinya, pegawai yang memiliki IQ di atas rata-rata (IQ 110-120) dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari, maka ia akan lebih mudah mencapai kinerja yang diharapkan. Oleh karena itu pegawai perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya (the right man in the right place, the right man in the right job).
2. Faktor motivasi (motivation).
Motivasi terbentuk dari sikap (attitude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi (situation) kerja.Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi (tujuan kerja).
Sikap mental merupakan kondisi mental yang mendorong diri pegawai untuk berusaha mencapai prestasi kerja secara maksimal.Sikap mental seorang pegawai harus sikap mental yang siap secara psikofisik (siap secara mental, fisik, tujuan, dan situasi).Artinya, seorang pegawai harus siap mental, mampu memanfaatkan, dan menciptakan situasi kerja.
Dari pendapat Mangkunegara di atas dapat dilihat bahwa faktor kemampuan dan faktor motivasi sangat penting untuk dimiliki oleh seorang pegawai untuk menghasilkan kinerja yang baik. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Davis (dalam Mangkunegara, 2015:67) yang merumuskan bahwa:
• Human Performance = Ability + Motivation
• Motivation = Attitude + Situation
• Ability = Knowledge + Skill
Pendapat Davis memuat tiga faktor utama yang mempengaruhi kinerja yang terdiri dari human performance (kinerja individu), motivation (motivasi), dan ability (kemampuan).Dalam human performance (kinerja individu) diperlukan kombinasi dari ability (kemampuan).danmotivation (motivasi), dalam motivation (motivasi) diperlukan kombinasi dari attitude (sikap) dan situation (situasi), sedangkan ability (kemampuan) diperlukan kombinasi dari knowledge (pengetahuan) dan skill (keterampilan).
Berdasarkan berbagai pendapat ahli di atas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai dapat disimpulkan bahwa kinerja pegawai akan meningkat jika seluruh komponen tersebut ada bersama pegawai. Namun, kinerja pegawai akan menurun jika satu, dua, atau seluruh faktor tersebut kurang atau tidak ada. Misalnya, beberapa pegawai memiliki kemampuan melakukan pekerjaannya dan bekerja keras, tetapi peralatan kerjanya kurang baik, maka hal itu akan menyebabkan tidak optimalnya kinerja pegawai.
2.13 Aspek-Aspek Standar Pekerjaan dan Kinerja
Menurut Hasibuan (dalam Mangkunegara, 2009:17) mengemukakan bahwa aspek-aspek yang dinilai kinerja mencakup sebagai berikut:
1. Kesetiaan.
2. Hasil kerja.
3. Kejujuran.
4. Kedisiplinan.
5. Kreativitas.
6. Kerjasama.
7. Kepemimpinan.
8. Kepribadian.
9. Prakarsa.
10. Kecakapan.
11. Tanggung jawab.
Sedangkan Umar (dalam Mangkunegara, 2009:18) membagi aspek-aspek kinerja sebagai berikut:
1. Mutu pekerjaan.
2. Kejujuran karyawan.
3. Inisiatif.
4. Kehadiran.
5. Sikap.
6. Kerjasama.
7. Keandalan.
8. Pengetahuan tentang pekerjaan.
9. Tanggung jawab.
10. Pemanfaatan waktu kerja.
Adapun menurut Mangkunegara (2009:18) aspek-aspek standar pekerjaan terdiri dari aspek kuantitatif dan aspek kualitatif. Aspek kuantitatif meliputi:
1. Proses kerja dan kondisi pekerjaan.
2. Waktu yang dipergunakan atau lamanya melaksanakan pekerjaan.
3. Jumlah kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan.
4. Jumlah dan jenis pemberian pelayanan dalam bekerja.
Sedangkan aspek kualitatif meliputi:
1. Ketepatan kerja dan kualitas pekerjaan.
2. Tingkat kemampuan dalam bekerja.
3. Kemampuan menganalisis data atau informasi, kemampuan atau kegagalan menggunakan mesin atau peralatan.
4. Kemampuan mengevaluasi (keluhan/keberatan konsumen).
Berdasarkan berbagai pendapat beberapa ahli di atas mengenai aspek- aspek kinerja maka dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek kinerja berperan penting untuk membantu pegawai mencapai kinerja yang baik.Aspek-aspek kinerja menurut Hasibuan meliputi sebelas aspek yang terdiri kesetiaan, hasil kerja, kejujuran, kedisiplinan, kreativitas, kerjasama, kepemimpinan, kepribadian, prakarsa, kecakapan, dan tanggung jawab.Sedangkan Umar memiliki pendapat yang berbeda mengenai aspek-aspek kinerja yang di sampaikan oleh Hasibuan.Menurut Umar aspek-aspek kinerja terdiri dari sepuluh aspek yang meliputi Mutu pekerjaan, kejujuran karyawan, inisiatif, kehadiran, sikap, kerjasama, keandalan, pengetahuan tentang pekerjaan, tanggung jawab, dan pemanfaatan waktu kerja.Selanjutnya Mangkunegara juga memiliki pendapat yang berbeda mengenai aspek-aspek kinerja dimana aspek-aspek kinerja dapat meliputi aspek kuantitatif dan aspek kualitatif.
2.1.4 Indikator Kinerja
Menurut Sedarmayanti (2009:198) dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia, mengemukakan pengertian indikator kinerja sebagai berikut:
“Indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif dan atau kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. Indikator kinerja harus merupakan sesuatu yang akan dihitung dan diukur serta digunakan sebagai dasar untuk menilai atau melihat tingkat kinerja, baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun setelah kegiatan selesai dan berfungsi. Indikator kinerja digunakan untuk meyakinkan bahwa kinerja hari demi hari organisasi atau unit kerja yang bersangkutan menunjukkan kemampuan dalam rangka dan atau menuju tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan”
Dari pendapat tersebut dapat diketahui bahwa indikator kinerja sangat penting untuk melihat kinerja yang telah dilakukan oleh seorang
pegawai.Indikator kinerja dapat berupa penilaian kinerja secara kuantitatif maupun kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian kinerja seorang pegawai, dimana hal tersebut diperlukan untuk melihat apakah kinerja seorang pegawai semakin meningkat dari sebelumnya.
Menurut Campbell (dalam Kaswan dan Akhyadi, 2015:154) terdapat delapan indikator kinerja pegawai yaitu:
1. Kemampuan tugas spesifik pekerjaan, yaitu seberapa baik pegawai dapat melakukan tugas yang merupakan persyaratan teknis utama dari suatu pekerjaan dan yang membedakan satu pekerjaan dari pekerjaan lainnya.
2. Kemampuan tugas yang tidak spesifik pekerjaan yaitu seberapa baik pegawai dapat melakukan tugas yang tidak khusus untuk pekerjaan itu, namun diperlukan oleh kebanyakan atau sebagian besar pekerjaan di dalam organisasi.
3. Komunikasi lisan dan tertulis, yaitu seberapa baik pegawai dapat menulis atau berbicara dengan orang lain, atau sekelompok orang.
4. Menunjukkan usaha, yaitu seberapa besar orang berkomitmen terhadap tugas pekerjaannya dan seberapa tekun dan intensif seorang pegawai melakukan tugas pekerjaannya.
5. Memelihara disiplin pribadi, yaitu seberapa besar seorang pegawai menghindari perilaku negatif, seperti penyalahgunaan obat, alkohol, melanggar aturan, mangkir.
6. Memfasilitasi kinerja tim dan rekan kerja, yaitu seberapa baik pegawai mendukung, membantu, dan mengembangkan rekan kerjanya dan membantu sebuah tim atau kelompok berfungsi sebagai kesatuan yang efektif.
7. Supervisi, yaitu seberapa baik seseorang mempengaruhi pegawai dalam interaksi tatap muka.
8. Manajemen dan administrasi, yaitu seberapa baik seseorang menjalankan fungsi lain manajemen yang bukan bersifat mengawasi, seperti menetapkan tujuan, mengorganisasi orang dan sumber daya, memantau kemajuan, mengendalikan biaya, dan mencari sumber daya tambahan.
Dari pendapat tersebut dapat diketahui bahwa terdapat delapan indikator kinerja pegawai yaitu kemampuan tugas spesifik pekerjaan, kemampuan tugas yang tidak spesifik pekerjaan, komunikasi lisan dan tertulis, menunjukkan usaha, memelihara disiplin pribadi, memfasilitasi kinerja tim dan rekan kerja, supervisi, serta manajemen dan administrasi. Indikator-indikator tersebut akan saling
mempengaruhi di dalam meningkatkan kinerja seorang pegawai di dalam suatu organisasi ataupun suatu perusahaan.
Selanjutnya menurut Bernardin dan Russel (dalam Kaswan dan Akhyadi, 2015:153), ada enam indikator yang digunakan untuk mengukur nilai kinerja pegawai yakni:
1. Kualitas, yaitu seberapa jauh atau baik proses atau hasil menjalankan aktivitas mendekati kesempurnaan, ditinjau dari kesesuaian dengan cara ideal menjalankan suatu kegiatan atau memenuhi tujuan yang dikehendaki oleh suatu aktivitas.
2. Kuantitas, yaitu jumlah yang dihasilkan, dinyatakan dalam nilai dolar atau rupiah, jumlah unit, atau jumlah siklus kegiatan yang telah diselesaikan.
3. Ketepatan waktu, yaitu seberapa jauh atau baik sebuah aktivitas diselesaikan, atau hasil yang diproduksi, pada waktu yang paling awal yang dikehendaki dari sudut pandang koordinasi dengan output yang lain maupun memaksimumkan waktu yang ada untuk kegiatan- kegiatan lain.
4. Efektivitas biaya, yaitu seberapa jauh atau baik sumber daya organisasi (misalnya manusia, moneter, teknologi, bahan) dimaksimumkan dalam pengertian memperoleh keuntungan tertinggi atau pengurangan dalam kerugian dari masing-masing unit, atau contoh penggunaan sumber daya.
5. Kebutuhan untuk supervisi, yaitu seberapa jauh atau baik seorang karyawan dapat melaksanakan fungsi kerja tanpa harus meminta bantuan pengawasan atau memerlukan intervensi pengawasan untuk mencegah hasil yang merugikan.
6. Dampak interpersonal/kontekstual kinerja, yaitu seberapa jauh atau baik karyawan meningkatkan harga diri, itikad baik (goodwill), dan kerjasama antar sesama karyawan dan bawahan.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat diketahui bahwa dalam menilai kinerja pegawai terdapat enam indikator untuk mengukur kinerja pegawai.Indikator-indikator tersebut meliputi kualitas, kuantitas, ketepatan waktu, efektivitas biaya, kebutuhan untuk supervisi, dan dampak interpersonal atau kontekstual kinerja.Indikator-indikator kinerja tersebut dapat membantu untuk menilai kinerja pegawai di dalam suatu organisasi atau perusahaan.
Sedangkan menurut Dharma (2003:355), indikator pengukuran kinerja meliputi:
1. Kuantitas, yaitu jumlah yang harus diselesaikan atau dicapai. Pengukuran kuantitatif melibatkan perhitungan keluaran dari proses atau pelaksanaan kegiatan. Ini berkaitan dengan jumlah keluaran yang dihasilkan.
2. Kualitas, yaitu mutu yang harus dihasilkan (baik tidaknya). Pengukuran kualitatif keluaran mencerminkan pengukuran “tingkat kepuasan,” yaitu seberapa baik penyelesaiannya. Ini berkaitan dengan bentuk keluaran.
3. Ketepatan waktu, yaitu sesuai tidaknya dengan waktu yang direncanakan.
Pengukuran ketepatan waktu merupakan jenis khusus dari pengukuran kuantitatif yang menentukan ketepatan waktu penyelesaian suatu kegiatan.
Indikator kinerja yang dikemukakan Dharma di atas dapat diketahui bahwa dalam menilai kinerja pegawai dapat dilihat berdasarkan tiga indikator yaitu kuantitas, kualitas, dan ketepatan waktu.Indikator-indikator tersebut merupakan tiga indikator dasar yang pada umumnya selalu ada untuk menilai kinerja pegawai. Dengan kata lain, indikator tersebut bersifat lebih umum.
Berdasarkan teori yang telah dikemukakan di atas, maka di dalam penelitian ini penulis menggunakan teori dari Dharma. Penulis menggunakan teori Dharma dikarenakan teori tersebut sangat sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan dan mampu menjawab permasalahan mengenai kinerja aparatur desa di dalam penyusunan APBDes. Selain itu, teori Dharma tersebut memiliki keunggulan dimana teori Dharma tersebut memuat tiga indikator dasar dimana hampir semua cara pengukuran kinerja pegawai mempertimbangkan tiga indikator tersebut. Selain itu, penulis berpendapat bahwa tiga indikator kinerja yang terdapat di dalam teori Dharma tersebut sudah mampu untuk menggambarkan indikator-indikator kinerja lainnya, sehingga dengan menggunakan teori tersebut maka kinerja aparatur desa dalam penyusunan APBDes di Desa Siringan-ringan dapat digambarkan dengan jelas.
2.2 Tinjauan Tentang Aparatur Desa 2.2.1 Pengertian Pemerintah
Menurut Surbakti (2013:214) menyatakan bahwa:
“Pemerintah (government) secara etimologis berasal dari kata Yunani, kubernan atau nahkoda kapal. Artinya, menatap ke depan. Lalu, “ memerintah”
berarti melihat ke depan, menentukan berbagai kebijakan yang diselenggarakan untuk mencapai tujuan masyarakat negara, memperkirakan arah perkembangan masyarakat pada masa yang akan datang, dan mempersiapkan langkah-langkah kebijakan untuk menyongsong perkembangan masyarakat, serta mengelola dan mengarahkan masyarakat ke tujuan yang ditetapkan”
Pengertian di atas bermakna bahwa kegiatan pemerintah lebih menyangkut pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik dalam rangka mencapai tujuan masyarakat negara.Selain itu, istilah pemerintah dan pemerintahan berbeda artinya. Surbakti (2013:214) berpendapat bahwa pemerintahan menyangkut tugas dan kewenangan, sedangkan pemerintah merupakan aparat yang menyelenggarakan tugas dan kewenangan negara.
Sedangkan Ndraha (2003:6) berpendapat bahwa:
“ Pemerintah adalah organ yang berwenang memproses pelayananpublik dan berkewajiban memproses pelayanan sipil bagi setiaporang melalui hubungan pemerintahan, sehingga setiap anggotamasyarakat yang bersangkutan menerimanya pada saat diperlukan,sesuai dengan tuntutan (harapan) yang diperintah. Dalam hubunganitu bahkan warga negara asing atau siapa saja yang ada pada suatusaat berada secara sah (legal) di wilayah Indonesia, berhakmenerima layanan sipil tertentu dan pemerintah wajibmelayangkannya”
Pendapat tersebut bermakna bahwa pemerintah merupakan badan yang berwenang untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.Dalam hal ini pemerintah wajib untuk memberikan pelayanan publik kepada masyarakat.Tidak hanya masyarakat yang berstatus sebagai warga negara Indonesia saja, melainkan warga negara asing juga berhak untuk menerima pelayanan publik dengan syarat warga negara asing tersebut berada secara sah di Indonesia.
Selanjutnya pengertian dari pemerintah terbagi dalam dua hal yaitu pemerintah dalam arti luas dan pemerintah dalam arti sempit.Menurut Surbakti (2013:216) pemerintah dalam arti luas berarti seluruh aparat yang melaksanakan fungsi-fungsi negara, sedangkan pemerintah dalam arti sempit menyangkut aparat eksekutif, yakni kepala pemerintahan dan kabinetnya.
Dari pendapat di atas dapat diketahui bahwa pemerintah terbagi menjadi pemerintah dalam arti luas dan pemerintah dalam arti sempit.Pemerintahan dalam luas merupakan seluruh aparat yang ada di suatu negara yang menjalankan tugas dan kewenangan negara.Sedangkan pemerintah dalam arti sempit bermakna aparat eksekutif seperti kepala pemerintahan dan kabinetnya yang melaksanakan tugas dan kewenangan negara.
Berdasarkan berbagai pengertian pemerintah di atas maka dapat disimpulkan bahwa pemerintah adalah suatu badan yang berwenang untuk memerintah suatu negara.Pemerintah juga berhak untuk mengatur dan memberikan pelayanan publik kepada rakyatnya.Dengan demikian, adanya pemerintah diharapkan dapat memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya dalam rangka mencapai tujuan negara.
2.2.2. Pengertian Desa
Desa menurut Soenardjo (dalam Nurcholis, 2011:4) adalah:
“Suatu kesatuan masyarakat berdasarkan adat dan hukum adat yang menetap dalam suatu wilayah yang tertentu batas-batasnya; memiliki ikatan lahir dan batin yang sangat kuat, baik karena seketurunan maupun karena sama-sama memiliki kepentingan politik, ekonomi, sosial, dan keamanan; memiliki susunan pengurus yang dipilih bersama; memiliki kekayaan dalam jumlah tertentu dan berhak menyelenggarakan urusan rumah tangga sendiri”
Dalam hal ini, desa memiliki ikatan-ikatan keluarga yang kuat.Dimana ikatan-ikatan tersebut dikarenakan adanya keturunan maupun karena adanya kepentingan bersama.Selain itu, desa juga memiliki hak untuk menyelengarakan urusan pemerintahannya sendiri.
Menurut Widjaja (2003:3) menyatakan bahwa desa adalah sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak asal- usul yang bersifat istimewa. Dalam hal ini, desa dapat melakukan perbuatan hukum, baik hukum publik maupun hukum perdata, memiliki kekayaan, harta benda dan bangunan serta dapat dituntut dan menuntut di pengadilan.Dengan demikian, desa memiliki hak istimewa untuk mengatur urusan pemerintahannya sendiri tanpa campur tangan pihak luar yang tidak berkepentingan.
Sedangkan Beratha (dalam Nurcholis, 2011:4) berpendapat bahwa desa merupakan kesatuan masyarakat hukum berdasarkan susunan asli adalah suatu
“badan hukum” dan adalah pula “badan pemerintahan”, yang merupakan bagian wilayah kecamatan atau wilayah yang melingkupinya. Dalam hal ini desa dapat dimanai sebagai suatu badan hukum maupun badan pemerintahan dimana di dalamnya terdapat satu kesatuan masyarakat hukum. Desa juga merupakan bagian dari suatu wilayah seperti wilayah kecamatan maupun wilayah lain yang melingkupinya.
Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa desa adalah suatu kesatuan masyarakat adat dan hukum adat pada suatu wilayah yang memiliki kewenangan untuk mengurus dan mengatur kepentingan masyarakatnya sesuai dengan kondisi dan sosial budaya setempat. Adanya hak istimewa desa untuk mengurus urusan pemerintahannya sendiri dapat memberikan dampak baik
bagi pembangunan desa.Tanpa adanya campur tangan pihak luar yang tidak berkepentingan, maka masyarakat desa dapat lebih leluasa untuk menentukan prioritas pembangunan desanya.
2.2.3 Pemerintah Desa
Pemerintah Desa menurut Ndraha (1991:24) adalah sebagai alat pemerintah ialah satuan organisasi terendah pemerintah (RI) yang berdasarkan asas dekonsentralisasi ditempatkan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada pemerintah wilayah kecamatan yang bersangkutan.Hal ini bermakna bahwa dalam melaksanakan tugasnya di desa, pemerintah desa bertanggung jawab terhadap pemerintah di wilayah kecamatan.Selain itu, pemerintah desa juga merupakan organisasi terendah pemerintah yang ada di Indonesia.
Menurut Nurcholis (2011:73) penyelenggaraan pemerintahan desa dilakukan oleh pemerintah desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Pemerintah desa adalah organisasi pemerintahan desa yang terdiri atas:
a. Unsur pimpinan, yaitu kepala desa.
b. Unsur pembantu kepala desa, yang terdiri atas:
1) Sekretariat desa, yaitu unsur staf atau pelayanan yang diketuai oleh sekretaris desa.
2) Unsur pelaksana teknis, yaitu unsur pembantu kepala desa yang melaksanakan urusan teknis di lapangan seperti urusan pengairan, keagamaan, dan lain-lain.
3) Unsur kewilayahan, yaitu pembantu kepala desa di wilayah kerjanya seperti kepala dusun.
Selanjutnya Nurcholis (2011:74) berpendapat bahwa kepala desa mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan. Dalam melaksanakan tugasnya, kepala desa mempunyai wewenang:
a. Memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama BPD.
b. Mengajukan rancangan peraturan desa.
c. Menetapkan peraturan desa yang telah mendapat persetujuan bersama BPD.
d. Menyusun dan mengajukan rancangan peraturan desa mengenai APBDes untuk dibahas dan ditetapkan bersama BPD.
e. Membina kehidupan masyarakat desa.
f. Membinan perekonomian masyarakat desa.
g. Mengoordinasikan pembangunan desa secara partisipatif.
h. Mewakili desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang- undangan.
i. Melaksanakan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundang- undangan.
Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya kepala desa mempunyai kewajiban:
a. Memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
b. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
c. Memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat.
d. Melaksanakan kehidupan demokrasi.
e. Melaksanakan prinsip tata pemerintahan desa yang bersih dan bebas dari kolusi, korupsi, dan nepotisme.
f. Menjalin hubungan kerja dengan seluruh mitra kerja pemerintahan desa.
g. Menaati dan menegakkan seluruh peraturan perundang-undangan.
h. Menyelenggarakan administrasi pemerintahan desa yang baik.
i. Melaksanakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan desa.
j. Melaksanakan urusan yang menjadi kewenagan desa.
k. Mendamaikan perselisihan masyarakat di desa.
l. Mengembangkan pendapatan masyarakat dan desa.
m. Membina, mengayomi, dan melestarikan nilai-nilai sosial budaya dan adat istiadat.
n. Memperdayakan masyarakat dan kelembagaan di desa.
o. Mengembangkan potensi sumber daya alam dan melestarikan lingkungan hidup.
Selain itu Nurcholis (2011:76) berpendapat bahwa:
“Kepala desa dibantu oleh perangkat desa dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya.Perangkat desa bertanggung jawab kepada kepala desa.Perangkat desa terdiri atas sekretaris desa dan perangkat desa lainnya.Adapun perangkat desa lainnya diangkat oleh kepala desa dari penduduk desa yang
bersangkutan.Pengangkatan perangkat desa tersebut ditetapkan dengan keputusan kepala desa.Jumlah perangkat desa disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi sosial budaya masyarakat setempat.Susunan organisasi dan tata kerja pemerintahan desa ditetapkan dengan peraturan desa. Kepala desa dan perangkat desa diberikan penghasilan tetap setiap bulan dan atau tunjagan lainnya sesuai dengan kemampuan keuangan desa yang ditetapkan setiap tahun dalam APBDes”
Dari pendapat di atas dapat diketahui bahwa dalam melaksanakan tugasnya kepala desa dibantu dengan perangkat desa yang terdiri dari sekretaris desa dan perangkat desa lainnya.Dimana pengangkatan perangkat desa tersebut ditetapkan berdasarkan keputusan kepala desa.Kepala desa dan perangkat desa juga diberikan penghasilan setiap bulan yang ditetapkan di dalam APBDes.
Selain pemerintah desa, BPD juga merupakan unsur penyelenggara dalam pemerintahan desa.Menurut Nurcholis (2011:77) pemerintah desa berfungsi menyelenggarakan kebijakan pemerintah atasnya dan kebijakan desa.Sedangkan BPD berfungsi menetapkan peraturan desa bersama kepala desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat.
Anggota BPD menurut Nurcholis (2011:78) adalah :
“Wakil dari penduduk desa bersangkutan berdasarkan keterwakilan wilayah yang ditetapkan dengan cara musyawarah dan mufakat. Anggota BPD terdiri atas ketua rukun warga, pemangku adat, golongan profesi, pemuka agama dan tokoh atau pemuka masyarakat lainnya.Masa jabatan anggota BPD adalah enam tahun dan dapat diangkat atau diusulkan kembali untuk satu kali masa jabatan berikutnya. Jumlah anggota BPD ditetapkan dengan jumlah ganjil, paling sedikit lima orang dan paling banyak sebelas orang, dengan memperhatikan luas wilayah, jumlah penduduk, dan kemampuan keuangan desa”
Dari pendapat tersebut diketahui jika BPD mempunyai peran dalam pelaksanaan pemerintahan di desa.Penetapan BPD dilakukan melalui musyawarah dan mufakat dikarenakan BPD merupakan wakil masyarakat.Selain itu, anggota BPD berjumlah ganjil dan disesuaikan dengan luas wilayah desa serta kemampuan keuangan desa.
Menurut Nurcholis (2011:77) BPD mempunyai wewenang:
a. Membahas rancangan peraturan desa bersama kepala desa.
b. Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan desa dan peraturan kepala desa.
c. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala desa.
d. Membentuk panitian pemilihan kepala desa.
e. Menggali, menampung, menghimpun, merumuskan, dan menyalurkan aspirasi masyarakat.
f. Menyusun tata tertib BPD.
BPD mempunyai hak:
a. Meminta keterangan kepada pemerintah desa.
b. Menyatakan pendapat.
Anggota BPD mempunyai hak:
a. Mengajukan rancangan peraturan desa.
b. Mengajukan pertanyaan.
c. Menyampaikan usul dan pendapat.
d. Memilih dan dipilih.
e. Memperoleh tunjangan.
Anggota BPD mempunyai kewajiban:
a. Mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan menaati segala peraturan perundang-undangan.
b. Melaksanakan kehidupan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa.
c. Mempertahankan dan memelihara hukum nasional serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
d. Menyerap, menampung, menghimpun, dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat.
e. Memproses pemilihan kepala desa.
f. Mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan.
g. Menghormati nilai-nilai sosial budaya dan adat-istiadat masyarakat setempat.
h. Menjaga norma dan etika dalam hubungan kerja dengan lembaga kemasyarakatan.
Hak, wewenang, dan kewajiban BPD sudah seharusnya dilaksanakan dengan baik oleh BPD.BPD merupakan perwakilan dari masyarakat sehingga sudah seharusnya BPD melaksanakan tugasnya dengan baik.Pelaksanaan tugas
yang baik dari anggota BPD dapat membantu mensejahterakan masyarakat desa karena BPD dapat menyampaikan pendapat ataupun keluhan masyarakat desa terhadap pemerintah desa sehingga dapat tercipta pemerintahan desa yang baik.
Berdasarkan dari definisi di atas mengenai pemerintah desa maka dapat disimpulkan bahwa pemerintah desa adalah organisasi terendah pemerintah Republik Indonesia yang berfungsi menyelenggarakan kebijakan pemerintah di atasnya dan menyelenggarakan kebijakan desa. Dalam penyelenggaraannya, pemerintahan desa dilakukan oleh pemerintah desa dan BPD. Selain itu, penyelenggaraan pemerintahan desa bertujuan untuk mengayomi dan mensejahterakan masyarakat desa.
2.3 Tinjauan TentangAnggaran Pendapatan Dan Belanja Desa (APBDes) 2.3.1 Pengertian APBDes
Anggaran Belanja dan Pendapatan Desa (APBDes) wajib dibuat oleh aparatur desa dalam menjalankan pemerintahan desa.Sumpeno (2011:54) berpendapat bahwa:
“APBDes merupakansuatu rencana keuangan tahunan desa yang ditetapkan berdasarkan peraturandesa yang mengandung prakiraan sumber pendapatan dan belanja untukmendukung kebutuhan program pembangunan desa yang bersangkutan”
Dengan adanya APBDes penyelenggaraan pemerintahan desa akan memiliki sebuahrencana strategis yang terukur berdasarkan anggaran yang tersedia dan yangdipergunakan. Dengan demikian, aparatur desa diharapkan memiliki kinerja yang baik dalam mengelola anggaran desa.Hal tersebut bermaksud agar anggaran desa dipergunakan secara seimbangberdasarkan prinsip pengelolaan keuangan daerah sehingga tercipta cita-cita goodgovernance.
Sejalan dengan pendapat di atas, Nurcholis (2011:85) mengemukakan bahwa:
“APBDes adalah rencana keuangan desa dalam satu tahun yang memuat perkiraan pendapatan, rencana belanja program dan kegiatan, dan rencana pembiayaan yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah desa dan badan permusyawaratan desa, dan ditetapkan dengan peraturan desa”
Penyelenggaraan pemerintahan desa yang output-nya berupa pelayanan publik, pembangunan, dan perlindungan masyarakat harus disusun perencanaannya setiap tahun dan dituangkan dalam APBDes.Oleh karena itu aparatur desa diwajibkan untuk membuat APBDes.Pembuatan APBDes diwajibkan karena di dalam APBDes memuat berbagai kebijakan, program, dan kegiatan desa dalam rangka pembangunan desa yang telah ditentukan anggarannya.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa APBDes merupakan rencana keuangan desa dalam periode satu tahun yang di dalamnya memuat pendapatan, belanja, dan pembiayaan desa yang dibuat oleh aparatur desa dan disetujui oleh badan permusyawatan desa. APBDes juga merupakan wujud pertanggungjawaban dari aparatur desa kepada masyarakat karena di dalam APBDes memuat informasi tentang segala aktivitas dan kegiatan desa dimana aktivitas serta kegiatan desa tersebut dibiayai oleh dana desa. Dengan demikian, aparatur desa harus memiliki kinerja yang baik dalam pengelolaan APBDes sehingga dapat meningkatkan pembangunan desa yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat desa.
2.3.2 Struktur APBDes
Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) terdiri atas (dalam Nurcholis, 2011:83):
a. Pendapatan desa
Pendapatan desa meliputi semua penerimaan uang melalui rekening desa yang merupakan hak desa dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh desa. Pendapatan desa terdiri atas:
1) Pendapatan asli desa (PADesa);
2) Bagi hasil pajak kabupaten/kota;
3) Bagian dari retribusi kabupaten/kota;
4) Alokasi Dana Desa (ADD);
5) Bantuan keuangan dari pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan desa lainnya;
6) Hibah;
7) Sumbangan pihak ketiga.
b. Belanja desa
Belanja desa meliputi semua pengeluaran dari rekening desa yang merupakan kewajiban desa dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh desa. belanja desa terdiri atas:
1) Belanja langsung yang terdiri atas:
a) Belanja pegawai;
b) Belanja barang dan jasa;
c) Belanja modal.
2) Belanja tidak langsung yang terdiri atas:
a) Belanja pegawai/penghasilan tetap;
b) Belanja subsidi;
c) Belanja hibah (pembatan hibah);
d) Belanja bantuan sosial;
e) Belanja bantuan keuangan;
f) Belanja tak terduga.
c. Pembiayaan desa
Pembiayaan desa meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Pembiayaan desa terdiri atas:
1) Penerimaan pembiayaan, yang mencakup:
a) Sisa lebih perhitungan anggaran (SilPA) tahun sebelumnya;
b) Pencairan dana cadangan;
c) Hasil penjualan kekayaan desa yang dipisahkan;
d) Penerimaan pinjaman.
2) Pengeluaran pembiayaan mencakup:
a) Pembentukan dana cadangan;
b) Penyertaan modal desa;
c) Pembayaran utang.
Jadi dapat disimpulkan bahwa struktur APBDes terdiri dari pendapatan desa, belanja desa, dan pembiayaan desa.Di dalam struktur APBDes dimuat
berbagai pendapatan yang diperoleh desa yang menjadi hak desa dalam satu tahun anggaran, belanja desa yang meliputi berbagai pengeluaran desa dalam satu tahun anggaran.Selain itu, di dalam struktur APBDes juga dimuat semua pembiayaan desa.
2.3.3 Prinsip-Prinsip Manajemen APBDes
Pada Modul APBDes Partisipatif, Membangun Tanggung-Gugat TataPemerintahan Desa (2003), prinsip-prinsip manajemen APBDes inidijabarkan sebagai berikut (dalam Irvan, 2017:23):
1. Perencanaan APBDes
Sebelum APBDes dibahas maka harus didahului dengan tahapanmusyawarah yaitu tahap pertama,musyawarah pembangunan di tingkatdusun untuk menyerap aspirasi dari masing-masing RT/RW, musyawarahini dipimpin oleh masing-masing kepala dusun. Hasil-hasil dari penyerapan aspirasi ditingkat dusun dituangkan dalam bentuk usulan yangakan dibawa tingkat musyawarah desa. Kedua, musyawarah ditingkat desadalam musyawarah ini aspirasi pembangunan dari masing-masing dusundibahas dalam musyawarah ini, di dalam musyawah desa dibahas hal-halsebagai berikut:
a. Musyawarah disetiap dusun.
b. Membahas usulan, program pembangunan yang diajukan oleh dusun.
c. Menyusun skala prioritas kegiatan pembangunan.
d. Mengkompilasi usulan yang diterima dalam format RAPBDes.
e. Pengajuan RAPBDes untuk dibahas ke BPD 2. Pelaksanaan APBDes
Adapun proses pelaksanaan APBDes adalah menjabarkan rencana- rencanapembangunan yang tercantum dalam APBDes untuk dilaksanakan sebaik-baiknya. Pada pelaksanaan pembangunan desa ini harus melalui tahapsosialisasi kepada masyarakat, agar mengetahui bahwa akan diadakanpembangunan desa dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan.
3. Pengawasan APBDes
Pengawasan adalah proses pengarahan dan menilai suatu pelaksanaankegiatan. Pengawasan APBDes sangat diperlukan guna menjamin agarproses pelaksanaan APBDes berjalan sesuai dengan rencana dan ketentuanperaturan perundang undangan-undangan yang berlaku.
Sehingga denganadanya pengawasan yang efektif dan berkala, maka penyimpangan dalampelaksanaan APBDes dapat diminimalisir.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip manajemen APBDes terdiri dari perencanaan APBDes, pelaksanaan APBDes, dan pengawasan APBDes. Dalam perencanaan APBDes dilakukan melalui musyawarah dengan masyarakat.Lalu dalam pelaksanaan APBDes dilakukan melalui sosialisasi kepada masyarakat desa.Selanjutnya dalam pengawasan APBDes dilakukan penilaian oleh masyarakat terhadap pelaksanaan kegiatan APBDes.
2.4 Definisi Konsep
Konsep adalah istilah dan definisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, keaadaan kelompok, atau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial.Melalui konsep kemudian penulis diharapkan dapat menyederhanakan pemikiran dengan menggunakan satu istilah beberapa kejadian (events) yang berkaitan dengan yang lainnya (Singarimbun, 1995:33).
Oleh karena itu, untuk mendapatkan batasan yang jelas dari masing- masing konsep yang akan diteliti maka penulis mengemukakan definisi konsep dari penelitian ini sebagai berikut:
a. Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
b. Aparatur desa adalahsebagai alat pemerintah ialah satuan organisasi terendah pemerintah (RI) yang berdasarkan asas dekonsentralisasi ditempatkan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada pemerintah wilayah kecamatan yang bersangkutan.
c. APBDes adalah rencana keuangan desa dalam satu tahun yang memuat perkiraan pendapatan, rencana belanja program dan kegiatan, dan rencana pembiayaan yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah desa dan badan permusyawaratan desa, dan ditetapkan dengan peraturan desa
2.5 Kerangka Berpikir
Dalam menjalankan pemerintahan desa, para aparatur desa wajib untuk membuat APBDes dikarenakan APBDes memuat sumber-sumber penerimaan dan alokasi pengeluaran desa dalam kurun waktu satu tahun. Melalui APBDes, kegiatan pemerintahan desa berupa pemberian pelayanan, pembangunan, dan perlindungan kepada warga dalam satu tahun berjalan sudah dirancang anggarannya sehingga sudah dipastikan dapat dilaksanakan. Tanpa APBDes, pemerintah desa tidak dapat melaksanakan program dan kegiatan pelayanan publik.
Penyusunan APBDes yang dilakukan oleh aparatur desa memerlukan kinerja yang baik dari aparatur desakarena Alokasi Dana Desa (ADD) yang diberikan pemerintah pusat setiap tahunnya semakin meningkat.ADD tahun 2015 sebesar 20 triliun, tahun 2016 sebesar Rp 47 triliun dan tahun 2017 sebesar Rp 60 triliun. Dengan melihat jumlah ADD yang terus meningkat setiap tahun maka diperlukan kinerja aparatur desa yang baik dalam penyusunan APBDes.
Namun pada kenyataannya, kinerja aparatur desa dalam penyusunan APBDes masih menimbulkan berbagai masalah yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia seperti aparatur desa masih sembarangan dalam membuat APBDes