ALOKASI DANA DESA UNTUK PENGELOLAAN BADAN USAHA MILIK DESA (BUM DESA) DAN PEMBANGUNAN
DESA SIPAN TAHUN 2016-2019
(Studi Kasus: Realisasi Pengadaan dan Pengelolaan BUM Desa Gabe berupa Kolam Renang dan Depot Air Minum di Desa Sipan, Kecamatan Sarudik,
Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara)
Oleh:
Iwan Putra Telaumbanua 170906031
Dosen Pembimbing : Dr. Muryanto Amin S.sos, M.Si
PROGRAM STUDI ILMU POLITIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU POLITIK
Jl. Dr. Sofyan No. 1 Medan, 20155, Telepon: 061-8220760.
IWAN PUTRA TELAUMBANUA (170906031) Email : [email protected]
“Alokasi Dana Desa Untuk Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) Dan Pembangunan Desa Tahun 2016-2019. Studi Kasus: Realisasi Pengadaan dan Pengelolaan BUM Desa Gabe berupa Kolam Renang dan Depot Air Minum di Desa Sipan, Kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara”.
Rincian Isi Skripsi: 99 halaman, 11 tabel, 8 buku, 4 Undang-Undang dan peraturan, 2 jurnal, 2 skripsi, 6 situs internet
ABSTRAK
Sejak hadirnya UU No. 6 Tahun 2014 atau dikenal dengan UU Desa, pengakuan atas otonomi desa semakin besar. UU ini mengandung beberapa asas yang memperkuat legitimasi atas otonomi tesebut diataranya ialah asas recognisi dan subsidiaritas. Ini diperkuat dengan adanya alokasi dana desa yang mulai disalurkan sejak tahun 2015. UU desa mengamanahkan agar setiap desa membentuk Badan Usaha Milik Desa yang berfungsi sebagai sumber pendapatan tambahan desa untuk menciptakan desa yang maju dan mandiri. Peneliti menggunakan metode penelitian deskritif kualitatif untuk menguraikan bagaimana proses pengalokasian dana desa tersebut dan bagaimana partisipasi masyarakat di dalamnya beserta hambatan dalam pengelolaannya.
Pengelolaan dana desa di desa Sipan menghasilkan beberapa program pembangunan baik pembangunan fisik maupun program sosial. Beberapa diantaranya yaitu pembangunan jalan desa dan progam pendidikan. Selain itu, pembangunan dan pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi salah satu program pembangunan prioritas di desa ini. Hal ini sesuai dengan arahan UU Desa tentang keharusan membangun BUMDes. Ada 2 jenis usaha yang dikelola BUMDES Gabe yaitu kolam renang dan depot air minum. Usaha yang dikelola sejak 2016 ini memberikan hasil yang positif bagi desa. Di samping itu, ada beberapa hambatan dalam program pembangunan di desa ini seperti sulitnya perangkat desa dalam meyakinkan masyarakat saat pembebasan lahan.
Masalah sumber daya manusia baik dari perangkat desa maupun pengelola BUMDes juga menjadi faktor penghambat dalam pengelolaan dana desa dan BUMDes di desa Sipan.
Kata Kunci: Dana Desa, Pengelolaan Dana Desa, Badan Usaha Milik Desa
UNIVERSITY OF NORTH SUMATERA
FACULTY OF SOCIAL SCIENCE AND POLITICAL SCIENCE DEPARTMENT OF POLITICAL SCIENCE
IWAN PUTRA TELAUMBANUA (170906031) Email : [email protected]
“The Allocation of Village Fund For the Management of Village-owned Enterprise and Village Development in 2016-2019. Case study: Realization of the Construction and Management of Village-owned Enterprise (Badan Usaha Milik Desa/BUM Desa Gabe) Those Are a Swimming Pool and a Drinking Water Depot in the Village of Sipan, Subdistrict of Sarudik, Central Tapanuli County, North Sumatra”
The content details: 99 pages, 8 tables, 8 books, 4 laws and regulations, 2 journals, 2 scripts, 6 Internet sites
ABSTRACT
Since the law no. 6 of 2014 or known as Village Law officially authorized, the claim for village autonomy has grown. The bill contains several principles that reinforce the legitimacy of its autonomy such as recognition and subsidiarity. This is reinforced by the allocation of village fund that have been shared since 2015.
Village law dictates that each village have to form a village-owned enterprise (Badan Usaha Milik Desa or BUMDes) that serves as a village's additional source of income to create an advanced and independent village. The researcher used the qualitative descriptive to describe how the village's fund was channeled and how the community participation in it and the obstacles in its management.
Fund village management in Sipan produced any development program such as physical programs and social programs. The program are like village road construction and education program. Beside that, the construction of village- owned enterprise became the priority program. It is according to Village Law that build the village-owned enterprise is a must. BUMDes Gabe manage 2 its enterprises those are swimming pool and drinking water depot. The village-owned enterprise that managed since 2016 made positive result for the village. Beside that, there are any obstacles for the execution the program such as the difficulty of the village offial to convince people to give their land for program. The human resources of the village offcials and village-owned enterprise officials became the obstacles for the village program.
Keywords: Village Fund, Village Fund Policy, Village-Owned Enterprise
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas kasih dan kekuatan yang diberikan pada saya sampai saat ini sehingga memampukan Penulis dalam menyelesaikan penelitian skripsi ini dengan baik. Adapun skripsi ini mengangkat judul: Alokasi Dana Desa Untuk Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) Dan Pembangunan Desa Sipan Tahun 2016-2019 (Studi Kasus: Realisasi Pengadaan dan Pengelolaan BUM Desa Gabe berupa Kolam Renang dan Depot Air Minum di Desa Sipan, Kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara). Skripsi ini diajukan guna memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan Strata Satu (S1) Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, bantuan, bimbingan, serta saran selama penulis menyelesaikan skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Warjio, M.A selaku Ketua Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Muryanto Amin S.Sos, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi saya yang telah memberikan waktu dan pikirannya dalam membimbing saya.
3. Seluruh dosen Departemen Ilmu Politik. Terima kasih atas ilmu yang telah diberikan selama saya belajar di Departemen Ilmu Politik FISIP USU.
4. Kepada kedua orang tua saya tercinta yang telah memberikan dukungan terbaik selama belajar di Universitas Sumatera Utara.
5. “Sahabat” terbaik saya Enjelina Siregar yang senantiasa mengingatkan dan memberikan semangat dalam menyelesaikan skripsi saya.
6. Perangkat desa Sipan terkhusus kepala desa bapak Agus Hutagalung dan Ketua BUM Desa Sipan bang Juni Hutagalung.
7. Sahabat-sahabat berbagi suka dan duka; Firdaus Marpaung, Ade Manik, Dion Sidauruk, Willy Frandy, Trismanto Sembiring, Yuni WS, Maria Siahaan, dan seluruh teman-teman mahasiswa lainnya di Departemen Ilmu Politik yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.
8. Abang senior saya di Departemen Ilmu Politik bang Yohansen W. Gultom dan kak Nenny Pakpahan yang selalu bersedia untuk menjadi tempat bertanya dalam penyelesaian skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun tata bahasa. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi segenap pihak yang memerlukannya. Sekian.
Medan, 11 Agustus 2021
Iwan Putra Telaumbanua
DAFTAR ISI
PERNYATAAN...i
ABSTRAK...ii
ABSTRACT...iii
HALAMAN PERSETUJUAN...iv
HALAMAN PENGESAHAN...v
KATA PENGANTAR...vii
DAFTAR ISI ...viii
DAFTAR TABEL ...xi
DAFTAR GAMBAR ...xi
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...1
B. Rumusan Masalah ...10
C. Batasan Penelitian ...11
D. Tujuan Penelitian ...11
E. Manfaat Penelitian ...12
F. Kerangka Teori...12
F.1 Teori Kebijakan ...13
F.2 Teori Politik Pembangunan ...16
F.3 Teori Partisipasi ...21
G. Definisi Konsep...23
G.1 Desa...23
G.2 Dana Desa...24
G.3 Pengertiaan Alokasi Dana Desa...26
G.4 Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa)...28
G.5 Penelitian Terdahulu ...31
H. Metodologi Penelitian...33
H.1 Jenis Penelitian ...33
H.2 Lokasi Penelitian ...34
H.3 Teknik Pengumpulan Data ...34
H.4 Teknik Analisis Data ...35
H.5. Sistematika Penulisan...35
BAB II PROFIL DESA DAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH (RPJM) DI DESA SIPAN A. Sejarah Desa...37
B. Letak Geografis...37
B.1 Iklim...38
C. Kondisi Demografi...39
C.1 Pendidikan Penduduk...39
C.2 Mata Pencaharian...40
C.3 Religi...41
C.4 Sumber Daya Alam...42
C.5 Antropologi...43
C.6 Sarana dan Prasarana...44
D. Perangkat Desa ...46
D.1 Aparat Pemerintahan Desa...46
D.2 Badan Permusyawaratan Desa (BPD) ...47
E. Visi dan Misi Desa...48
E.1 Visi Desa...48
E.2 Misi Desa...50
F. Isu-Isu Strategis yang Muncul di Desa Sipan...52
G. Arah Kebijakan Pembangunan Desa ...56
H. Rencana Program Prioritas Pembangunan Desa ...57
BAB III ANALISIS PENGELOLAAN DANA DESA DALAM
PEMBANGUNAN DAN PENGADAAN BADAN USAHA MILIK DESA DI DESA SIPAN, KECAMATAN SARUDIK, KABUPATEN TAPANULI TENGAH
A. Kebijakan Program Pembangunan Desa Sipan ...60
A.1 Pembangunan Infrastruktur di Desa Sipan...61
A.2 Pemberdayaan Masyarakat Desa...65
B. Pembangunan dan Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa...67
B.1 Pembangunan dan Pengelolaan Kolam Renang...70
B.2 Pembangunan dan Pengelolaan Depot Air Minum...74
C. Partisipasi Masyarakat Pada Pembangunan Di Desa Sipan...76
C.1 Partisipasi Dalam Pengambilan Keputusan...79
C.2 Partisipasi dalam Pelaksanaan...81
C.3 Partisipasi Dalam Evaluasi...82
D. Kendala Pembangunan di Desa Sipan...83
D.1. Dampak dari Hambatan Pembangunan Di Desa Sipa...87
D.2 Hal yang dilakukan untuk menghadapi masalah ...88
BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan...93
B. Saran...94
Daftar Pustaka ...86
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Sipan...39
Tabel 2.2 Tenaga Kerja dan Mata Pencaharian Masyarakat Desa Sipan...40
Tabel 2.3 Jumlah Penganut Agama di Desa Sipan...42
Tabel 2.4 Daftar Sumber Daya Alam di Desa Sipan...42
Tabel 2.5 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Sipan...44
Tabel 2.6 Sarana dan Prasarana di Desa Sipan...45
Tabel 2.7 Struktur Pemerintahan Desa Sipan...47
Tabel 2.8 Struktur Badan Permusyawaratan Desa (BPD)...48
Tabel 3.1 Pengurus BUM Desa Gabe...68
Tabel 3.2 Pembagian Pendapatan BUM Desa Gabe...69
DAFTAR GAMBAR Gambar 3.1 Pengunjung Kolam Renang Sipan...70
Gambar 3.2 Pembangunan Tahap Kedua Kolam Sipan...72
Gambar 3.3 Depot Air Minum Sipan... ....74
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Indonesia telah memasuki babak baru tepatnya 22 tahun lalu dalam hal pembangunan ekonomi maupun politik sejak pecahnya gerakan reformasi tahun 1998. Gerakan yang diinisiasi oleh mahasiswa seluruh Indonesia tersebut menuntut adanya perubahan total dari konsep pemerintahan orde baru yang dianggap terlalu otoriter baik dalam hal ekonomi maupun politik. Penerapan konsep desentralisasi atau otonomi daerah juga menjadikan reformasi berbeda dari dua orde sebelumnya yaitu Orde Lama dan Orde Baru dimana dua orde ini menerapkan konsep sentralisasi atau pembangunan terpusat yang dianggap sebagai penyebab terjadinya kesenjangan ekonomi.
Ada banyak cara yang dilakukan pemerintah dalam mencapai cita-cita reformasi seperti amandemen UUD 1945, menggagas UU yang mendukung berjalannya otonomi daerah, dan UU yang mendukung dan menjamin hak-hak politik segenap rakyat Indonesia. Selain itu perubahan atas sistem pemilu mulai dari pemilihan presiden hingga pemilihan kepala daerah atau dikenal dengan pemilihan umum langsung adalah hal yang paling menonjol dari orde reformasi.
Peneliti sebagai mahasiswa Ilmu Politik pun setuju atas sistem desentralisasi ini. Amerika Serikat yang dianggap sebagai negara Super Power jauh-jauh hari telah melaksanakan konsep tersebut dalam bentuk negara federal.
Pemilihan kepala daerah (Pilkada) langsung dan pelimpahan kekuasaan pembangunan ekonomi sepenuhnya kepada daerah menurut saya adalah konsep terbaik dalam memajukan negara ini. Dengan adanya otonomi daerah maka masyarakat diberikan peluang untuk berpartisipasi dalam membangun daerahnya.
Desentralisasi bertujuan agar pemerintah dapat lebih meningkatkan efisiensi serta
efektifitas fungsi-fungsi pelayanannya kepada seluruh lapisan masyarakat1.Harus diakui bahwa dalam menjalankan otonomi daerah tidak sempurna. Meskipun demikian, konsep pembangunan ekonomi maupun politik era reformasi masih menjadi pilihan terbaik.
Untuk mewujudkan cita-cita negara Indonesia yang berdaulat dan maju, pemerintah kian gencar membentuk visi-misi pembangunan berkelanjutan yang kemudian dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) yang kemudian diterangkan lebih detail dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). Banyak cara dilakukan seperti pembentukan maupun perubahan atas UU yang dianggap terlalu kompleks dan menghalangi percepatan pembangunan. Sebut saja perubahan atas puluhan UU ketenagakerjaan yang baru- baru ini dikerucutkan menjadi satu UU yang dikenal dengan Omnibus Law.
Setelah reformasi, UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah turut mengakui otonomi desa. Otonomi yang dimiliki oleh desa menurut UU ini secara nyata mengakui otonomi desa yang berdasarkan asal-usul dan adat istiadatnya, bukan berdasarkan penyerahan wewenang dari pemerintah.2 Titik akhir pengakuan desa sebagai ujung tombak pembangunan semakin nyata ketika pada 2014 lalu telah dikeluarkan UU No. 6 tahun 2014 tentang Desa atau dikenal dengan UU Desa. UU Desa bertujuan untuk menjelaskan lebih rinci arah pembangunan desa. Pemerintah mengetahui bahwa pembangunan desa adalah kunci dalam percepatan pembangunan ekonomi secara keseluruhan mengingat desa merupakan pusat kegiatan pangan.
Dengan munculnya UU ini semakin memperkuat pengakuan terhadap desa sebagai satuan hukum terkecil yang telah ada dan tumbuh berkembang di dalam
1 Sakinah Nadir.2013. Otonomi Daerah Dan Desentralisasi Desa: Menuju Pemberdayaan Masyarakat Desa.
Jurnal politik Profetik. Volume 1 Nomor1 Tahun 2013. hal.1. http://journal.uin- alauddin.ac.id/index.php/jpp/article/view/1621/1573
2 Nurman. 2015. Strategi Pembangunan Daerah. Jakarta. Rajagrafindo. hal 312.
masyarakat Indonesia3. Desa tidak lagi dianggap sebagai objek pembangunan melainkan ditempatkan sebagai subjek dan ujung tombak pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Desa diberikan kewenangan untuk mengatur dan mengurus pemerintahannya sesuai dengan kepentingan masyarakat setempat4.
Pada 2014 lalu, pemerintah mengusung isitilah Nawacita dalam memperkenalkan visi pembangunannya kepada masyarakat Indonesia. Nawacita sendiri terdiri dari dua kata yaitu Nawa (Sembilan) dan Cita (Harapan, Agenda, Keinginan) yang berarti bahwa Nawacita adalah sembilan harapan dan cita-cita negara Indonesia dalam pembangunan guna mewujudkan negara yang makmur dan sejahtera5. Program ini digagas untuk menunjukkan prioritas jalan perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, serta mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Program Nawacita ini merupakan acuan utama dalam membangun Indonesia sejak 2014. Pada bagian ketiga program Nawacita disebutkan bahwa misi pembangunan Indonesia yaitu dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan cita-cita negara Indonesia sebagai bangsa yang besar, maju, dan berdaulat dari segi ekonomi maupun politik.
Dengan digenjotnya pembangunan desa, maka dengan sendirinya kegiatan ekonomi masyarakat akan berjalan lancar. UU Desa sendiri menyebutkan bahwa Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan
3Yuyun Yulianah. 2015. Potensi Penyelewengan Alokasi Dana Desa Di Kaji Menurut Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 37 tahun 2007 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa. Jurnal Mimbar Justitia. Vol. I no.
02edisi juli-desember. hal. 3.
https://scholar.google.com/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=Yulianah%2C+Yuyun.+Potensi+Penyelewenga n+Alokasi+Dana+Desa+Di+Kaji+Menurut+++++++++++++++++++++Peraturan+Menteri+Dalam+Negeri+
Nomor+37+tahun+2007+Tentang+Pengelolaan++Keuangan+Desa.++&btnG=
4 Kementerian Keuangan Republik Indonesia. 2017.Buku Saku Dana Desa..hal.7.
5 https://nasional.kompas.com/read/2014/05/21/0754454/.Nawa.Cita.9.Agenda.Prioritas.Jokowi-JK diakses pada 20 Desember 2020 pukul 22.20
masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.6
Pemerintah Desa diharapkan memberikan pemikiran yang baik dalam pembangunan desa. Pemerintahan sendiri dapat diartikan sebagai organisasi yang merupakan kumpulan orang-orang yang mengelola kewenangan-kewenangan mengurus masalah kenegaraan dan kesejahteraan rakyat serta melaksanakan kepemimpinan dan koordinasi pemerintahan meliputi kegiatan legislatif, eskekutif, dan yudikatif dalam usaha mencapai tujuan negara. Tugas pemerintahan adalah untuk melayani dan mengatur masyarakat. Tugas pelayanan lebih menekankan upaya mendahulukan kepentingan umum, mempermudah urusan publik dan memberikan kepuasan kepada publik7.
Pada masa orde baru, sistem politik Indonesia mengalami kontrol total atas berjalannya pemerintahan. Seperti terhambatnya penyampaian aspirasi hingga kotornya para birokrat pemerintahan yang saat itu dikendalikan penuh oleh partai Golkar yang merupakan partai pemerintah. Hal ini pun berimplikasi terhadapan jalannya pembagunan desa. Selama pemerintahan Orde Baru, masyarakat desa mengalami kemandekan pertumbuhan di bidang politik karena saluran aspirasi politik yang tidak demokratis. Kondisi ini menyebabkan masyarakat desa sebagai mayoritas di negeri agraris ini hanya menjadi sumber legitimasi politik Pemerintah Orde Baru melalui pemilu yang syarat akan rekayasa8.
Sejak hadirnya UU Desa penyelenggaraan pemerintahan desa memasuki era baru. Apa yang membuat UU Desa ini terbilang sakti adalah dimana di dalam UU ini dituliskan bahwa penyelenggaraan pemerintahaan desa adalah secara recognisi subsidiaritas. Diketahui bahwa sebelumnya pemerintahan desa diselenggarakan berdasarkan asas desentralisasi yang merupakan bagian dari pemerintahan daerah dimana penyelenggaraan pemerintahan desa itu sendiri
6 Undang-Undang No.6 Tahun 2014 Pasal 1 Ayat 1
7 Nurman. Op. Cit. hal55- 57.
8 Ibid. hal.309.
masih bagian dari intervensi struktur-struktur pemerintahan di atas desa. Alhasil desa tidak memiliki kemampuan atau wewenang yang secara otonom dapat mengatur dirinya sendiri. Semua kegiatan desa diatur oleh struktur pemerintahan yang ada di atas desa yaitu berdasarkan kebijakan kecamatan, kabupaten, provinsi, bahkan pemerintahan pusat.
Dalam asas recognisi subsidiaritas yang ada dalam UU Desa pemerintahan desa memiliki wewenang lebih salah satunya dengan diwajibkannya pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa). Dengan legitimasi tersebut, desa memilki peluang yang besar untuk mengatur dirinya sendiri melalui aset dan potensi yang ada di dalamnya. Dalam penjelasannya, recognisi berarti desa berhak untuk memanfaatkan, mendukung, dan memperkuat usaha ekonomi desa yang sudah ada atau mengembangkannya dengan dibentuknya BUM Desa. Dengan adanya pengakuan ini, maka penyelenggaraan perekonomian di desa dapat dimaksimalkan. Kemudian subsidiaritas yaitu penetapan kewenangan lokal berskala desa melalui peraturan Bupati/Walikota maupun peraturan desa tentang kewenangan Lokal Beskala desa dengan memasukkan pendirian, penetapan, pengurusan, dan pengelolaan BUM Desa di dalamnya. Subsidiaritas ini harus lahir melalui wewenang pemerintah desa, BPD dan masyarakat desa melalui musyawarah desa dalam mengembangkan parakarsa untuk pendirian, penetapan, pengurusan, dan pengelolaan BUM Desa9.
Untuk menunjukkan keseriusan nyata dalam pembangunan yang relevan dengan UU Desa , pemerintah pada 2015 lalu merealisasikan program dana desa.
Dana desa dikatakan sebagai program yang dapat membangkitkan pembangunan ekonomi desa. Pada sampul buku yang yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan sendiri dituliskan bahwa penyaluran dana desa sendiri memiliki misi yaitu membangunan Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah desa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, menciptakan lapangan pekerjaan, mengatasi kesenjangan, dan mengentaskan kemiskinan. Disebutkan
9 https://www.berdesa.com/pingin-tahu-asas-rekognisi-dan-subsidiaritas-penjelasannya/ Diakses pada 20 Desember 2020 pukul 20.00
pula bahwa program dana desa ini bukan hanya menjadi yang pertama di Indonesia melainkan juga dunia bahkan menjadi yang terbesar di dunia. Tujuan dari program dana desa yaitu meningkatkan pelayanan publik di desa, mengentaskan kemiskinan, memajukan perekonomian desa, mengatasi kesenjangan pembangunan antar desa, dan memperkuak masyarakat desa sebagai subjek pembangunan10.
Di seluruh Indonesia terdapat 74.954 desa11. Jumlah desa tersebut mencakup sekitar 80% total wilayah Indonesia dimana sekitar 44 persen penduduk Indonesia juga masih tinggal di desa12. Pada tahun 2015, Dana Desa dianggarkan sebesar Rp20,7 triliun, dengan rata-rata setiap desa mendapatkan alokasi sebesar Rp280 juta. Pada tahun 2016, Dana Desa meningkat menjadi Rp46,98 triliun dengan rata-rata setiap desa sebesar Rp628 juta dan di tahun 2017 kembali meningkat menjadi Rp 60 Triliun dengan rata-rata setiap desa sebesar Rp800 juta13, 2019 Rp70 Triliun dengan rata-rata Rp933 juta , dan kemudian pada 2020 meningkat lagi menjadi Rp72 Triliun dimana rata-rata desa mendapatkan sekitar Rp960 juta.
Dari data-data diatas saya menarik kesimpulan bahwa pemerintah pusat telah memberikan hatinya untuk kemajuan daerah-daerah tertinggal. Asumsi saya adalah bahwa pemerintah mengetahui program dana desa ini telah memicu bangkitnya pembangunan di desa yang tentunya memberikan buah yang baik. Ini tampak dari naiknya jumlah dana desa yang dikucurkan kepada desa setiap tahunnya. Dimulai dengan Rp20,7 triliun dengan rata-rata setiap desa mendapatkan alokasi sebesar Rp280 juta pada 2015 hingga menjadi menjadi Rp72 Triliun dimana rata-rata desa mendapatkan sekitar Rp960 juta pada 2020.
Dari beberapa artikel dan jurnal yang saya baca, program dana desa ini sangat berhasil di banyak daerah. Pada umumnya, dana desa ini digunakan untuk
10 Kementerian Keuangan Republik Indonesia. 2017. Op. Cit. hal.7
11 https://www.kamusdata.com/jumlah-data-desa-di-indonesia/ Diakses pada 1 Februari pukul 09.30
12 https://economy.okezone.com/read/2010/07/19/20/354342/2015-56-penduduk-indonesia-tinggal-di-kota Diakses pada 1 Februari pukul 09.40
13 Kementerian Keuangan Republik Indonesia. 2017.Op. Cit. hal. i.
membangun jalan desa. Tujuannya ialah untuk mempermudah kegiatan masyarakat sehari-hari. Misalnya ialah mempermudah kendaraan bemotor untuk mencapai lahan bertani dan kebun dan mempermudah pengangkutan bahan-bahan material dan logistik masuk ke desa. Jalan desa ini juga dapat memberikan akses yang mudah bagi masyarakat luar desa menggapai desa dan melakukan kegiatan seperti berdagang. Hal ini sangat mudah ditemui. Misalnya saja ketika saya berkunjung ke desa Cinta Dame, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.
Disana ada banyak sekali jalan beton yang dibangun dan hasilnya memberikan kepuasan bagi masyarakat. Dana desa juga biasanya digunakan untuk program- progam sosial seperti pemberian gizi bagi lansia, ibu hamil, dan balita. Tak jarang juga digunakan untuk program edukasi seperti pengadaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Selain pembangunan fisik dan sosial, dana desa juga ditembakkan untuk menghasilkan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa). Hal ini merupakan amanah dari UU Desa yang mengharuskan setiap desa menciptakan Bumdes. Tujuan pembentukan Bumdes adalah agar desa memiliki penghasilan sendiri yang nantinya akan digunakan untuk kegiatan pembangunan demi kesejahteraan warga desa.
Dalam misi pembangunan terutama pembangunan desa, pemanfaatan sumber daya alam adalah salah satu kuncinya. Desa adalah wilayah dimana sumber daya alam seperti tanah yang subur, hutan yang baik, sungai dan mata air hingga cuaca dan lingkungan yang masih asri berada. Mengingat Indonesia adalah negara dengan iklim tropis dimana kekayaan seperti ini sangat mudah ditemukan.
Pekerjaan rumah pemerintah desa dan juga masyarakat desa yaitu bagaimana mereka mengelola sumber daya alam tersebut sebaik-baiknya hingga menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomis. Pengelolaan sumber daya alam menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis menjadi objek utama dalam pembentukan Bumdes.
Desa Ponggok yang terletak di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah adalah contoh nyata keberhasilan pengelolaan Bumdes dari sumber daya alam.
Berdasarkan data dari Kementerian desa, Bumdes desa Ponggok pada 2015 meraih omzet Rp. 6,2 Miliar, pada tahun 2016 Rp. 10,3 Miliar, dan pada 2017 bahkan mencapai Rp. 12 Miliar. Keberhasilan ini tak lepas dari kinerja perangkat desa juga kesadaran partispasi warganya yang baik. Umbul Ponggok yang merupakan andalan Bumdes ini adalah merupakan kolam renang yang dikelola dari aliran sungai dan mata air dimana pengunjung perbulannya bahkan mencapai 50.00 orang dimana pengunjung tersebut bahkan ada yang berasal dari mancanegara. Dari pengelolaan Bumdes yang baik ini desa Ponggok berhasil memperbaharui ekonomi warganya dimana 50% warganya merupakan investor Bumdes. Dari profit yang didapat dari Bumdes, desa ponggok dapat memperbaiki keadaan masayarakatnya dan menjalankan program yang menurut saya sangat luar biasa. Salah satu program itu ialah dimana pemerintah desa memberikan biaya kuliah gratis kepada setiap satu orang di dalam satu rumah. Nama program tersebut ialah program satu rumah satu sarjana14.
Disini memang sangat dibutuhkan pantauan dari pemerintah pusat maupun daerah dalam memandu pengelolaan dana desa ini. Contohnya saja adalah pada 2020 merupakan jumlah tertinggi alokasi dana desa. Jumlah itu bukanlah jumlah yang kecil. Kemungkinan penyelewengan pasti ada. Oleh sebab itu harus tetap diawasi secara baik agar target pembangunan yang telah dikonsep dengan baik berjalan dengan semestinya. Konflik antara pejabat perangkat desa juga harus diantisipasi.
Harus diakui bahwa dalam pembangunan politik dan ekonomi tidak serta merta harus dilimpahkan secara keseluruhan kepada pemerintah daerah khusunya pemerintah desa itu sendiri. Alasannya adalah bahwa dalam politik, pemerintah hanyalah sebagai pemandu dan penggerak kebijakan. Pemerintah membuat keputusan yang kemudian menajadi UU atau peraturan dimana di dalamnya
14 https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/desa-ponggok-bukti-keberhasilan-dana-desa/ Diakses pada 20 Desember 2020 Pukul 21.00
terdapat prosedur-prosedur dalam menjalankan roda pemerintahan. Titik kunci yang sebenarnya berada pada rakyat sebagai alat yang sesungguhnya dalam berjalannya pembangunan. Kesadaran masyarakat atas pentingnya pembangunan merupakan keuntungan tersendiri bagi pemerintahan untuk mensukseskan behasilnya sebuah program pembangunan. Dalam hal ini dibutuhkan sebuah kesadaran politik masyarakat bahwa tanpa partisipasi yang baik dari masyarakat itu sendiri mustahil pembangunan akan berjalan dengan baik.
Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Larry Diamond mengenai budaya politik dimana masyarakat harus memiliki keyakinan, sikap, nilai, ide-ide, sentimen dan evaluasi suatu masyarakat tentang sistem politik negerinya dan memainkan peran masing-masing individu dalam sistem itu15. Saya teringat akan pernyataan seorang penulis asal Jerman tentang pentingnya kesadaran politik.
“Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik.
Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga harga komoditas, obat, tepung, makanan, tergantung pada keputusan politik. Orang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya akan lahir pelacuran, anak terlantar, politisi busuk serta rusaknya perusahaan nasional dan multinasional”,16 begitu kata Bertolt Brecht.
Pada wawancara 13 Januari 2021 yang saya lakukan bersama kepala Desa Sipan, bapak Agus Hutagalung saya mendapatkan informasi bahwa Bumdes ini sangat membantu ekonomi masyarakat. Ada dua BUM Desa yang kini sedang berjalan yaitu Kolam Renang Sipan dan Depot Air Minum Sipan. Pada saat pembangunan Kolam Renang Sipan 100% pekerjanya merupakan masyarakat Desa tersebut. Begitu juga dengan Depot Air Minum Sipan yang mempekerjakan masyarakat desa sebagai karyawannya. Bahkan usaha depot ini tidak hanya menjadikan masyarakat desa sebagai konsumennya melainkan sampai pada
15 Yoyoh Rohaniah dan Efriza. 2017. Sistem Politik Indonesi. Malang. Intrans Publishing. hal.210.
16 https://tatkala.co/2016/06/12/buta-paling-buruk-adalah-buta-politik/ Diakses 30 Januari 2020 Pukul 10.00
kecamatan tetangganya seperti kecamatan Pandan. Berdasarkan pengamatan secara langsung saya berpikir bahwa memang program dana desa ini memberikan hasil yang konkret bagi pembangunan desa juga tentunya pemberdayaan masyarakat desa.
BUM Desa Gabe yang dikelola pemerintah desa Sipan ini terbilang berhasil dalam pengelolaannya. Ini terbukti dari prestasi yang diraihnya.
Contohnya adalah pada acara bimbingan teknis yang diadakan oleh pemerintah provinsi Sumatera Utara pada 2019, BUM Desa Gabe masuk peringkat 10 besar pengelolaan BUM Desa terbaik se-provinsi Sumatera Utara. Selain itu, pengelolaan BUM Desa ini juga menjadi percontohan di kabupaten Tapanuli Tengah dan sering mendapat apresiasi dari pemerintah kabupaten.
Program dana desa ini adalah nyata dalam meningkatkan pembangunan daerah khususnya desa. Pengelolaan dana desa yang tepat akhirnya akan menghasilkan sebuah pembangunan yang tujuannya meningkatkan taraf hidup masyarakat desa. Selain itu UU Desa sebagai pedoman pembangunan desa juga harus sesuai kenyataan di lapangan seperti menghidupkan BUMDes dan bagaimana masyarakat merespon program ini adalah hal paling vital dalam pembangunan desa. Karena alasan itulah sebabnya penelitian skripsi ini dilakukan dengan mengangkat judul; “ALOKASI DANA DESA UNTUK PENGELOLAAN BADAN USAHA MILIK DESA (BUM DESA) DAN PEMBANGUNAN DESA SIPAN TAHUN 2016-2019 (Studi Kasus: Realisasi Pengadaan dan Pengelolaan Bumdes Gabe berupa Kolam Renang dan Depot Air Minum di Desa Sipan, Kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara)”.
B. Perumusan Masalah
Pada latar belakang penelitian telah dijelaskan bahwa misi pembangunan Indonesia yang lebih maju adalah dengan mempercepat pembangunan daerah pinggiran dan tertinggal. Dalam hal ini desa sebagai satuan pemerintahan terkecil
menjadi sasaran prioritas pembangunan. UU Desa menjadi acuan pemerintah dalam mengelola desa. Dalam UU Desa telah dijelaskan wewenang dan kewajiban desa dalam menjalankan pemnbangunannya. Mulai dari kewajiban desa membentuk Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes hingga hak desa dalam mendapatkan anggaran pembangunan. Program dana desa sebagai program unggulan dalam pembangunan desa menargetkan desa agar memiliki otonomi dalam menjalankan pemerintahannya terutama dalam hal penggunaan dana desa.
Berdasarkan pemaparan latar belakang tersebut, maka pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah;
1. Bagaimana kebijakan pemerintah Desa Sipan mengelola anggaran dana desa dalam pembangunan desa?
2. Bagaimana pemerintah Desa mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)?
3. Bagaimana partisipasi masyarakat desa dalam pembangunan desa?
4. Apa kendala yang dihadapi dalam pengelolaan dana desa dan BUMDes?
C. Batasan Penelitian
Batasan masalah bertujuan untuk memperjelas ruang lingkup penelitian serta untuk membatasi agar pembahasan dalam penelitian ini tidak terlalu luas dan melebar. Dalam penelitian ini peneliti memberikan batasan pada penelitian yaitu:
1. Observasi lapangan hanya dilakukan di desa Sipan, Kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
2. Pengelolaan dana desa dalam kaitannya dengan pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
3. Peneliti hanya melakukan wawancara kepada perangkat desa Sipan dan warga desa Sipan
D. Tujuan Penelitin
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mendeskripsikan pengalokasian dana desa di Desa Sipan, Kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
2. Mendeskripsikan pembangunan dan pengelolaan Badan Usaha Milik Desa di desa Sipan.
3. Menganalisis pengaruh dari dana desa bagi masyarakat di Desa Sipan.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yaitu sebagai referensi bagi peneliti lainnya dan juga dapat memberikan sumbangsih pemikiran untuk dunia akademis dalam pengembangan akademik politik desa. Secara terperinci, manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman dan analisis tentang kerangka pemikiran yang digunakan peneliti sebagai pisau analisi, diantaranya teori Politik Pembangunan Desa dan Pengoptimalisasian Dana Desa
2. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi sebagai langkah pengembangan kajian pembangunan desa dan pengelolaan Badan Usaha Miliki Desa di Indonesia , khususnya pasca hadirnya UU Desa No. 6 tahun 2014. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan referensi penelitian bagi Departemen Ilmu Politik FISIP Universitas Sumatera Utara.
3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi dan pengetahuan masyarakat umum terhadap studi politik pembangunan desa. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi panduan/saran praktis terhadap pengoptimalan potensi desa, khususnya di Desa Sipan, Kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
F. Kerangka Teori
Teori merupakan seperangkat proporsi yang menggambarkan suatu gejala terjadi seperti itu. Proporsi yang dikandung dan yang membentuk teori terdiri dari beberapa konsep dalam bentuk hubungan sebab akibat. Namun, teori juga dapat berfungsi menggambarkan realitas dunia sebagaimana yang dapat diobservasi, hal itu dikarenakan teori telah memiliki konsep teoritis .
Dalam fungsinya sebagai kerangka penelitian, teori dapat berfungsi sebagai kesimpulan induktif yang menggeneralisasikan hubungan antara fakta- fakta atau klas-klas fakta, suatu teori juga dapat berfungsi sebagai pendorong proses berfikir deduktif dari alam abstrak menuju suatu pemikiran yang konkrit.
Di dalam hal itu suatu teori telah dipakai peneliti sebagai kerangka yang memberi pembatasan kepadanya, pembatasan terhadap fakta-fakta konkret yang tak terbilang banyaknya dalam kenyataan kehidupan masyarakat, yang harus diperhatikan .
Di dalam penelitian ini, peneliti akan memaparkan teori-teori yang merupakan landasan berpikir dari masalah-masalah penelitian yang dibahas dalam skripsi ini.
F.1 Teori Kebijakan
Menurut R.S. Parker kebijakan publik adalah suatu tujuan tertentu, atau serangkaian prinsip, atau tindakan, yang dilakukan oleh suatu pemerintah pada periode tertentu dalam hubungan dengan suatu subjek atau sebagai tanggapan terhadap suatu krisis. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kebijakan publik adalah suatu wilayan tertentu dan aktivitas pemerintah sebagai subjek studi perbandingan dan studi yang kritis, yang mencakup tindakan-tindakan dan prinsip-prinsip yang berbeda dan menganalisis kemungkinan sebab-sebab dan akibat-akibatnya dalam konteks sesuatu disiplin pikiran tertentu seperti ekonomi, sains, atau politik.
Thomas R.Dye mendefinisikan kebijakan publik sebagai semua pilihan atau tindakan yang dilakukan pemerintah. Baginya, kebijakan publik adalah pilihan-
pilihan apapun oleh pemerintah untuk melakukan sesuatu ataupun untuk tidak melakukan17.
Dalam proses pembuatan kebijakan ada tiga unsur yang harus diperhatikan yaitu jumlah orang yangi ikut mengambil keputusan, peraturan pembuatan keputusan atau formula pengambilan keputusan, dan informasi. Berikut penjelasannya18:
1. Pembuat keputusan bisa satu, dua atau lebih orang, bahkan jutaan orang. Pemilu merupakan proses pengambilan keputusan secara massal, walaupun setiap pilihan bersifat individual yang melibatkan berjuta-juta warga negara yang berhak memilih yang bertindak sebagai pengambil keputusan tentang siapa saja yang akan menjadi wakil rakyat atau kepala pemerintahan. Presiden dapat mengambil keputusan sendiri tanpa melibatkan penasihatnya, sedangkan wakil rakyat atau pimpinan parpol biasanya membuat keputusan secara kolektif. Makin banyak orang yang ikut serta dalam mengambil keputusan maka semakin besar “ongkos” yang harus ditanggung
2. Peraturan pembuatan keputusan adalah ketentuan yang mengatur jumlah orang atau persentase yang harus memberikan persetujuan terhadap satu alternatif keputusan agar dapat diterima dan disahkan sebagai sebuah keputusan. Peraturan ini hanya diperlukan bagi pengambilan keputusan yang melibatkan banyak orang, secara kolektif maupun massal. Peraturan atau formula pengambilan keputusan ini biasa dirumuskan dalam konstitusi ataupun undang-undang bagi negara, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga bagi organisasi politik dan kemasyarakatan. Formula pengambilan keputusan pada dasarnya dibagi dua yaitu mufakat dan suara terbanyak. Dalam hal suara terbanyak dapat dibagi tiga yaitu duapertiga dari total jumlah
17 Yoyoh Rohaniah dan Efriza. Op.Cit. Hal.77
18 Ibid. Hal 79
pengambil keputusan, formula mayoritas (50% + 1), dan formula pluralitas atau suara terbanyak.
3. Terakhir ialah informasi. Informasi yang sangat diperlukan dalam pembuatan keputusan berdasarkan asumsi bahwa dalam proses pembuatan keputusan terjadi diskusi, perdebatan, negosiasi, dan kompromi maka informasi yang akurat dan dalam jumlah yang memadai akan memengaruhi isi keputusan yang diambil. Strategi yang akan ditempuh dalam proses pembuatan keputusan akan sangat bergantung pada kelengkapan dan keakuratan informasi yang tersedia.
Ketepatan pengambilan keputusan dalam arti mencapai sasaran yang hendak dituju juga sangat bergantung pada lengkap tidaknya dan akurat tidaknya informasi yang tersedia pada pembuat keputusan.
Fakta, data, teori, dan kecenderungan-kecenderungan dalam masyarakat merupakan beberapa contoh wujud informasi tersebut.
Dalam proses pembuatan kebijakan baik yang menyangkut politik maupun bukan politik harus memperhatikan kepentingan dari berbagai politik karena kebijakan sifatnya menyangkut semua dan menyeluruh. Pada umumnya makin banyak pembuat kebijakan maka makin banyak kepentingan yang harus diakomodasi. Begitu pula dengan kebijakan yang dibuat. Setiap orang akan mengintervensi diputuskannya kebijakan agar menguntungkan kelompoknya atau minimal tidak merugikan kelompoknya.
Ada dua bentuk keputusan politik atau kebijakan umum yang mempuyai ruang lingkup yang berbeda, yaitu19:
1. Keputusan yang bersifak komprehensif; yaitu keputusan yang cenderung kurang memperhatikan kepentingan beberapa pihak, tetapi mungkin untuk jangka panjang akan menguntungkan semua pihak. Keputusan yang bersifak komprehensif biasanya lebih mungkin terjadi dalam sistem politik
19 Ibid. Hal 88-89
totaliter karena jumlah orang yang membuat keputusan cenderung lebih seditiki dan sentralistik.
2. Keputusan yang bersifat marginal; keputusan ini cenderung tidak dapat menyelesaikan masalah secara tuntas, tetapi semua pihak kebagian sedikit atau tidak mendapat beban yang memberatkan. Keputusan yang bersifat marginal lebih mungkin terjadi pada negara yang menganut demokrasi liberal karena jumlah orang yang membuat kebijakan cenderung lebih banyak dan dilakuan secara tidak terpusat (pluralisme dan desentralisasi).
F.2 Teori Politik Pembangunan
Dalam proses penyelenggaraan pembangunan, pemerintah harus mempertimbangkan hal-hal yang yang paling signifikan guna tercapainya target pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat seperti sistem budaya masyarakat, kondisi ekonomi bahkan kondisi geografis. Tujuan utama pembangunan ialah memperbaiki kualitas hidup masyarakat. Di negara-negara miskin dan berkembang, indikasi keberhasilan pembangunan diukur dari meningkatnya kegiatan industrialisasi dan pengembangan teknologi atau disebut dengan modernisasi. Tantangan dasar yang biasanya dihadapi dalam pembangunan sebuah negara yaitu bagaimana meningkatkan kualitas kesehatan, meningkatkan kebutuhan nutrisi, meningkatkan ketersediaan pangan, dan meningkatkan pendidikan.
Pembangunan tidak hanya berbicara soal bangunan fisik tetapi pembangunan mencakup semua mulai dari SDM, SDA, dan pengembangan daerah disemua bidang. Arti penting politik pembangunan sebagai satu konsep diperlukan untuk menjelaskan bagaimana cara-cara (politik) atau strategi-strategi yang dapat dilakukan oleh negara, institusi ataupun partai politik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa politik pembangunan bukan saja mengenai cara atau strategi yang hendak dicapai dalam pembangunan tetapi juga pemikiran atau ideologi yang termasuk dalam pembangunan dari strategi dan cara yang dijalankan.
Stigma tentang Pembangunan tidak hanya fokus pada ekonomi namun pada politik itu sendiri, karena pembangunan juga dimaknai sebagai sebuah proses dalam demokrasi yang menekankan peran institusi dan partai politik.
Hubungan politik dan pembangunan dapat difahami sebagai proses tahap demi tahap menuju modernitas, modernitas itu tercermin dalam bentuk kemajuan teknologi dan ekonomi. Dapat dilihat betul bahwa pemerintah sebagai subyek utama pembangunan memiliki kewenangan besar dalam melihat pembangunan secara luas. Contoh kecil jika mau melihat pembangunan berjalan bisa dilihat dari setiap kepala daerah, setiap calon kepala daerah wajib memiliki visi pembangunan pada saat dia menjabat sebagat sebagai wakil rakyat karena itulah yang menjadi tolak ukur pembangunan dapat berjalan.
Dalam menjalankan pembangunan, diperlukan sebuah politik pembangunan yang merupakan sebuah konsep yang jelas agar sesuai dengan tujuan utama dari visi pembangunan yaitu mensejahterakan masyarakat. Politik pembangunan sebagai konsep diperlukan untuk menjelaskan bagaimana cara-cara (politik) atau strategi-strategi/aliran tertentu yang digunakan dalam konteks pembangunan mencapai sasarannya.20
Dalam menjalankan politik pembangunan, terdapat variabel-variabel yang menentukan bagaimana politik pembangunan dilakukan. Variabel-varibel tersebut adalah:21
1. Adanya Aktor-aktor Pembangunan
Aktor-aktor pembangunan adalah syarat mutlak dari politik pem- bangunan. Aktor-aktor pembangunan adalah mereka yang mengambil peran sentral dan menentukan dalam proses pembangunan. Mereka ini bisa merupakan individu, kelompok, atau negara. Sebagai aktor pembangunan mereka memiliki naluri dan kepentingan politik dalam pembangunan melalui cara atau strategi tertentu untuk mencapai tujuan.
20 Warjio, Ph.D. 2016. Politik Pembangunan: Paradoks,Teori, Aktor, dan Ideologi.Jakarta.Kencana.hal.140.
21 Ibid.hal.141-142.
Dalam politik pembangunan, terdapat empat aktor yaitu:22 1. Negara
Studi-studi tentang negara memfokuskan bahwa negara aktor selalu mempertimbangkan pertimbangan politik dalam proses pemba ngunan dan menekankan peran negara yang diwakili oleh para biro kratnya, sebagai aktor utama pembangunan. Ada tiga konstruksi negara dalam pembangunan: Menegaskan bahwa negara merupakan bagian yang integral dari reproduksi masyarakat dalam arti reproduksi hubungan hubung an sosial (produksi) dan reproduksi hubungan-hubungan politik. Hubungan negara dan masyarakat (negara dan kelas-kelas sosial) ditentukan oleh hukum hukum dinamis dari roduksi materiel, dalam hal ini, dari produksi kapitalis. fungsi-fungsi yang dijalankan aparat birokrasi negara tidak terutama ditentukan menurut afiliasi kelas anggota-anggotanya, melainkan oleh sifat dari hubungan negara dengan kelas sosial, terutama dominan dalam masyarakat pascakolonial.
2. Swasta
Dalam pemahaman swasta sebagai aktor dalam pembangunan diasumsikan sebagai pengusaha dan koorporasi dalam proses pembangunan. Para aktor ini dibayangkan melakukan alokasi sumber daya dan keputusan ekonomi lain berdasarkan pertimbangan pasar, yaitu mengikuti dinamika kekuatan permintaan pasar. Dengan kekuatan ekonomi, kemandirian yang dimilikinya, para pengusaha memainkan peran penting dalam pembangunan. Mereka bukan saja mampu memengaruhi pemerintah atau negara dalam urusan perumusan dan ke bijakan pembangunan, para pengusaha ini juga mampu menggerakkan masyarakat sipil, di samping tentu saja seperangkat kekuatan pasar yang dimilikinya.
22 Ibid.hal.216.
3. Masyarakat Sipil (LSM)
Kebijakan dan proses yang memengaruhi pembangunan menjadi salah satu alasan penting keterlibatan LSM dan pembangunan. LSM memandang bahwa pendekatan pembangunan ini adalah strategi dan kebijakan pertumbuhan ekonomi yang memberi perhatian khusus kepada tingkat tabungan dan investasi serta intensitas model dengan teknologi modern. Sebagai sebuah lembaga mandiri, LSM melihat negara sebagai pelaksana pembangunan bukan saja harus diawasi tetapi juga LSM perlu merasa terlibat langsung dalam pembangunan sehingga proses pembangunan yang dilaksanakan oleh negara tidak terjebak pada terpinggirnya hak-hak rakyat dalam pembangunan dan juga pada efek perusakan lingkungan.
4. Individu
Aktor politik individu adalah semua masyarakat yang hadir dan berpartisipasi dalam pembangunan.
2. Adanya kekuasaan
Adanya kekuasaan menjadi syarat penting dalam pembangunan. Tanpa kekuasaan sulit bagi individu, kelompok atau negara mengintervensi pembangunan. Dengan kekuasaan tujuan pembangunan dapat dilaksanakan.
Kekuasaan adalah apa yang dimiliki oleh aktor pemba- ngunan untuk merealisasikan tujuan dari pembangunan itu baik dalam bentuk hard power maupun soft power.
3. Adanya Sistem
Adanya sistem diperlukan dalam pembangunan. Hal ini disebabkan sistem dapat menggerakkan sebuah pola yang dikehendaki dalam pembangunan. Sebuah sistem atau lebih akan memengaruhi bagaimana pembangunan dijalankan dan mencapai tujuan. Sistem ini dapat dibentuk secara internasional atau juga bersifat nasional atau lokal. Sistem adalah mekanisme yang dimiliki oleh aktor
pembangunan realisasikan tujuan pembangunan. Mekanisme terjadi tuk secara secara struktural dan memiliki hubungan atau keterkaitan antara satu titik tertentu dan titik yang lainnya. Sistem yang dmaksudkan di sini berupa sistem internasional, nasional, maupun adat. Setiap sistem memiliki ciri tersendiri bagaimana pembangunan dijalankan dan bagaimana pembangunan mencapai tujuannya.
4. Adanya ideologi
Ideologi menjadi syarat mutlak dalam politik pembangunan. Ideologi menggerakkan pembangunan karena di dalamnya terkandung semangat ataupun cita-cita. Ideologi adalah semangat yang menjadi penggerak aktor pembangunan untuk meraih tujuan. Ideologilah yang menjadi roh dari semua aktivitas yang dilakukan oleh aktor pemba ngunan dalam mencapai tujuannya.
5. Intervensi Asing
Intervensi asing adalah syarat sentral dari bekerjanya politik pembangunan. Intervensi asing adalah sesuatu intervensi yang berasal dari satu kelompok, sistem ataupun negara tertentu yang berfungsi untuk mengendalikan.
Intervensi asing atau pengaruh asing adalah aktor pembangunan yang berasal dari
"luar" yang mendukung rencana pembangunan yang dimainkan oleh aktor pembangunan dari “dalam" dan memiliki tujuan-tujuan tertentu. Mereka memiliki hubungan khusus dan kepentingan yang saling menguntungkan dan di satu sisi mungkin ada ketergantungan. Mereka bisa individu, lembaga, ataupun negara.
Kelima variabel ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dan saling memengaruhi bekerjanya politik pembangunan. Poros dari variabel ini adalah intervensi asing. Intervensi asing inilah yang mengendalikan aktor, ideologi, sistem, dan kekuasaan dari dijalankannya politik pembangunan. Memahami kelima variabel dalam politik pembangun- an ini tidak bisa dilakukan hanya berfokus pada salah satu variabel atau beberapa variabel tetapi harus menyeluruh dan saling mengkoneksikan. Pemahaman yang menyeluruh terhadap seluruh
variabel politik pembangunan akan mudah memahami bagaimana politik pembangunan dijalankan.
F.3. Teori Partisipasi
Dalam analisis politik modern partisipasi politik merupakan suatu masalah yang penting, dan akhir-akhir ini banyak dipelajari terutama dalam hubungannya dengan negara-negara berkembang. Sebagai definisi umum dapat dikatakan bahwa partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, antara lain dengan jalan memilih pimpinan negara dan, secara langsung atau tidak langsung memengaruhi kebijakan pemerintah. Kegiatan ini mencakup tindakan dalam pemberian suara dalam pemilihan umum, menghadiri rapat umum, mengadakan hubungan atau lobi dengan pejabat pemerintah atau anggota parlemen, menjadi anggota partai atau salah satu gerakan sosial dengan gerakan langsung, dan sebagainya.
Di negara-negara demokrasi konsep partisipasi politik bertolak dari paham bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat yang dilaksanakan melalui kegiatan bersama untuk menetapkan tujuan-tujuan serta masa depan masyarakat itu dan untuk menentukan orang-orang yang akan memegang tampuk pimpinan. Jadi, partisipasi politik merupakan pengejawantahan dari penyelenggaraan kekuasaan politik yang absah oleh rakyat. Anggota masyarakat yang berpartisipasi dalam proses politik, misalnya melalui pemberian suara atau kegiatan lain, terdorong oleh keyakinan bahwa melalui kegiatan bersama itu kepentingan mereka akan tersalur atau sekurang-kurangnya diperhatikan, dan bahwa mereka sedikit banyak dapat memengaruhi tindakan dari mereka yang berwenang untuk membuat keputusan yang mengikat. Dengan kata lain, mereka percaya bahwa kegiatan mereka memberikan efek politik.
Herbert McClosky mendefinisikan partisipasi politik sebagai kegiatan- kegiatan sukarela dari warga masyarakat melalui mana mereka mengambil bagian dalam proses pemilihan penguasa, dan secara langsung atau tidak langsung dalam proses pembentukan kebijakan umum. Samuel P. Huntington dan Joan M. Nelson
memberikan tafsiran terhadap partisipasi politik yaitu kegiatan warga yang bertindak sebagai pribadii-pribadi, yang dimaksud untuk mempengaruhi pembuatan keputusan oleh pemerintah. partisipasi bisa bersifat individual atau kolektif, terorganisir atau spontan, mantap dan sporadis, secara damai atau dengan kekerasan, legal atau ilegal, efektif atau tidak efektif.23
Lebih lanjut, tipe partisipasi politik masyarakat dibagi menjadi empat, yaitu24:
1. Aktivis atau the Deviant; termasuk di dalamnya pembunuh dengan maksud politik, pembajak, teroris, pejabat publik atau calon pejabat publik, fungsionaris partai politik, dan pimpinan kelompok kepentingan.
2. Partisipan, yaitu orang yang bekerja untuk kampanye, anggota partai aktif, partisipan aktif dalam kelompok kepentingan dan tindakan- tindakan yang bersifat politis, dan orang yang terlibat dalam komunitas proyek.
3. Penonton, yaitu orang yang menghadiri reli-reli politik, anggota dalam kelompok kepentingan, pemilih, orang yang terlibat dalam diskusi politik, dan pemerhati dalam pembangunan politik.
4. Apolitis, yaitu orang yang tidak aktif sama sekali mengenai isu-isu dan kegiatan politik.
Di negara-negara demokrasi umumnya dianggap bahwa lebih banyak partisipasi masyarakat, lebih baik. Dalam alam pikiran ini tingginya tingkat partisipasi menunjukkan bahwa warga mengikuti dan memahami masalah politik dan ingin melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan itu. Hal itu juga menunjukkan bahwa rezim yang bersangkutan memiliki kadar keabsahan (legitimacy) yang tinggi. Sebaliknya, tingkat partisipasi yang rendah pada umumnya dianggap sebagai tanda yang kurang baik, karena dapat ditafsirkan bahwa banyak warga tidak menaruh perhatian terhadap masalah kenegaraan. Lagi pula, dikhawatirkan
23 Mirriam Budiardjo. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik.. Gramedia. hal. 367-368.
24 Ibid. hal. 373.
bahwa jika pelbagai pendapat dalam masyarakat tidak dike- mukakan, pimpinan negara akan kurang tanggap terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat, dan cenderung melayani kepentingan beberapa kelompok saja. Pada umumnya partisipasi yang rendah dianggap menunjukkan legitimasi yang rendah pula.25 G. Definisi Konsep
G.1 Desa
Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Desa berasal dari istilah dalam bahasa Sansekerta yang berarti tanah tumpah darah. Menurut definisi universal, desa adalah kumpulan dari beberapa permukiman di area pedesaan atau rural area. Istilah desa di Indonesia merujuk kepada pembagian wilayah administratif yang berada dibawah kecamatan dan dipimpin oleh seorang Kepala Desa. Desa adalah suatu kumpulan dari beberapa pemukiman kecil yang biasa disebut Kampung (Jabar), Dusun (Yogya), atau Banjar (Bali) dan Jorong (Sumbar). Sebutan lain untuk Kepala Desa adalah Kepala Kampung, Petinggi (Kaltim), Klebun (Madura), Pambakal (Kalsel), Kuwu (Cirebon), Hukum Tuan (Sulut). Istilah desa berkembang dengan nama lain sejak berlakunya otonomi daerah seperti di Sumbar dengan sebutan Nagari, Gampong dari Aceh, dan dikenal dengan sebutan kampung di Papua, Kutai Barat. Semua institusi lain di desa juga bisa mengalami perbedaan istilah tergantung kepada karakteristik adat istiadat dari desa tersebut. Perbedaan istilah tersebut merupakan salah satu pengakuan dan penghormatan dari pemerintah terhadap asal usul adat setempat yang berlaku. Walaupun begitu, dasar hukum desa tetap sama yakni didasarkan pada adat, kebiasaan dan hukum adat.
25Ibid. hal.369.
Setiap desa memiliki Sejarah berdirinya masing-masing. Setiap desa memiliki ciri khas tersendiri yang membedakanya dengan yang lain.
Terbentuknya desa sebagai tempat tinggal kelompok terutama disebabkan karena naluri alamiah untuk mempertahankan kelompok. Didalam kelompok tersebut terjalin sendi-sendi yang melandasi hubungan-hubungan antara sesama warga kelompok berdasarkan hubungan kekerabatan/kekeluargaan, karena tinggal dekat dan karena kesamaan kepentingan. Secara historis desa merupakan cikal bakal terbentuknya masyarakat politik dan pemerintahan jauh sebelum negara Indonesia terbentuk. Sejarah perkembangan desadesa di Indonesia telah mengalami perjalanan yang sangat panjang, bahkan lebih tua dari Republik Indonesia sendiri.
Sebelum masa kolonial di berbagai daerah telah dikenal kelompok masyarakat yang bermukim di suatu wilayah atau daerah tertentu dengan ikatan kekerabatan atau keturunan. Pada masa itu desa merupakan kesatuan masyarakat kecil, seperti sebuah rumah tangga besar yang di pimpin oleh anggota keluarga yang paling dituakan atau dihormati berdasarkan garis keturunan. Pola hubungan dan tingkat komunikasi pada masa itu masih sangat rendah, terutama di daerah pedesaan terpencil dan pedalaman.
G.2. Dana Desa
Desa atau udik menurut definisi universal adalah sebuah aglomerasi permukiman di area pedesaan (rural). Bentuk sebuah desa biasanya mempunyai nama, letak, dan batas-batas wilayah yang bertujuan untuk membedakan antara desa yang satu dengan desa yang lain. Perbedaan ini dilakukan untuk memudahkan pengaturan sistem pemerintahannya. Desa merupakan awal tujuan pemerintah dalam memulai perbaikan ekonomi Indonesia, sehingga pemerintah membuat regulasi tentang Pengalokasian Dana Desa. Dana Desa (DD) merupakan salah satu penerimaan desa yang diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota dalam upaya pemerataan daerah dari level bawah, sehingga dengan adanya Dana Desa akan membuat pertumbuhan dari bidang apapun menjadi rata. Desa diberikan kewenangan penuh dalam pengelolaan Dana Desa, sehingga pelaksanaan kegiatannya harus dapat dipertanggung-jawabkan sesuai dengan
prinsip-prinsip akuntabilitas. Akuntabilitas ini semakin diperlukan seiring dengan minimnya akuntabilitas yang ada di pemerintahan daerah maupun pemerintahan desa.
Dana desa adalah dana yang bersumber dari APBN yang diperuntukkan bagi yang ditransfer melalui APBD kabupaten dan kota yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, diberikan kewenangan untuk mengatur dan mengurus kewenangannya sesuai dengan kebutuhan dan prioritas desa. Hal itu berarti dana desa akan digunakan untuk menandai keseluruhan kewenangan sesuai denagan kebutuhan dan prioritas dana desa tersebut namun, mengingat dana desa bersumber dari Belanja Pusat, untuk mengoptimalkan penggunaan dana desa, Pemerintah diberikan kewenangan untuk menetapkan prioritas penggunaan dana desa untuk mendukung program pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa. Penetapan prioritas penggunaan dana tersebut tetap sejalan dengan kewenangan yang menjadi tanggungjawab desa. Dana desa dikelola secara tertib, taat pada ketentuan peraturan perundang- undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan serta mengutamakan kepentingan masyarakat setempat. Pemerintah menganggarkan Dana Desa secara nasional dalam APBN setiap tahun.
Dana Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2014 Tentang Dana Desa Yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara ditransfer melalui APBD kabupaten/kota untuk selanjutnya ditransfer ke APBD. Dana Desa setiap kabupaten/kota dialokasikan berdasarkan perkalian antara jumlah di setiap kabupaten/kota dan rata-rata Dana Desa setiap provinsi. Rata-rata Dana Desa setiap provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dialokasikan berdasarkan jumlah desa dalam provinsi yang bersangkutan serta jumlah penduduk kabupaten/kota, luas wilayah kabupaten/kota, angka kemiskinan kabupaten/kota, dan tingkat kesulitan geografis kabupaten/kota dalam provinsi yang bersangkutan.
Berdasarkan besaran Dana Desa setiap kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (8) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2014 Tentang Dana Desa Yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara, bupati/walikota menetapkan besaran Dana Desa untuk setiap desa di wilayahnya. Besaran Dana Desa setiap Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Neagara, dihitung berdasarkan jumlah penduduk desa, luas wilayah desa, angka kemiskinan Desa, dan tingkat kesulitan geografis.26
G.3. Pengertiaan Alokasi Dana Desa
Keuangan yang diberikan kepada desa, yang mana sumbernya berasal dari Bagi hasil pajak daerah serta dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten. Sesuai dengan peraturan menteri dalam negeri no.37 tahun 2007 tetang pedoman pengelolaan kuangan desa di dalam pasal 18 menyatakan bahwa, “alokasi dana desa berasal dari APBD kabupaten/kota yang bersumber dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh pemerintah kabupaten/kota untuk desa paling sedikit 10%.
Pengelolaan alokasi dana desa harus memenuhi beberapa prinsip pengelolaan seperti berikut; Setiap kegiatan yang pendanaannya diambil dari alokasi dana desa harus melalui perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi secara terbuka dengan prinsip dari, oleh dan untuk rakyat. Seluruh kegiatan dan penggunaan dan alokasi dana desa harus dapat dipertanggung jawabkan secara administrasi, teknis dan hukum. Alokasi dana desa harus digunakan dengan prinsip hemat, terarah dan terkendali. Jenis kegiatan yang akan didanai melalu alokasi dana desa diharapkan mampu untuk meningkatkan sarana pelayanan mesyarakat, berupa pemenuhan kebutuhan dasar, penguatan kelembagaan desa dan kegiatan lainnya yang dibutuhkan masyarakat desa dengan pengambilan
26 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2014
keputusan melalui jalan musyawarah. Alokasi dana desa harus dicatat didalam anggaran pendapatan dan belanja desa melalui proses pengganggaran yang sesusai dengan mekanisme yang berlaku.
Keuangan Desa dikelola berdasarkan praktik-praktik pemerintahan yang baik. Asas-asas Pengelolaan Keuangan Desa sebagaimana tertuang dalam Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 yaitu transparan, akuntabel, partisipatif serta dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran, dengan uraian sebagai berikut:27
Transparan yaitu prinsip keterbukaan yang memungkinkan masyarakat untuk mengetahui dan mendapat akses informasi seluas-luasnya tentang keuangan desa. Asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan pemerintahan desa dengan tetap memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan;
Akuntabel yaitu perwujudan kewajiban untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pengendalian sumber daya dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Asas akuntabel yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir kegiatan penyelenggaraan pemerintahan desa harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat desa sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan;
Partisipatif yaitu penyelenggaraan pemerintahan desa yang mengikutsertakan kelembagaan desa dan unsur masyarakat desa;
Tertib dan disiplin anggaran yaitu pengelolaan keuangan desa harus mengacu pada aturan atau pedoman yang melandasinya
Adapun tujuan dari Alokasi Dana Desa (ADD) ini adalah untuk :
27 Permendagri Nomor 113 Tahun 2014.
Meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan desa dalam melaksanakan pelayanan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan sesuai kewenangannya.
Meningkatkan kemampuan lembaga kemasyarakatan di desa dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian pembangunan secara partisipatif sesuai dengan potensi desa
Meningkatkan pemerataan pendapatan, kesempatan bekerja dan kesempatan berusaha bagi masyarakat desa;
Mendorong peningkatan swadaya gotong royong masyarakat desa.
Pemerintah mengharapkan kebijakan Alokasi Dana Desa (ADD) dapat mendukung pelaksanaan pembangunan partisipatif berbasis masyarakat dalam upaya pemberdayaan masyarakat pedesaan sekaligbus memelihara kesinambungan pembangunan di tingkat desa. dengan adanya Alokasi Dana Desa (ADD), Desa memiliki kepastian pendanaan sehingga pembangunan dapat terus dilaksanakan tanpa harus terlalu lama menunggu datangnya dana bantuan dari pemerintah pusat.
G.4. Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa)
Pada dasarnya, setiap pemerintahan mulai dari yang tetinggi hingga yang terendah yaitu desa memiliki badan usaha yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah. Di tingkat pemerintahan tertinggi yaitu pemerintahan pusat, pemerintah mengelola usaha yang dikenal dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Usaha yang dikelola negara ini jumlahnya lebih banyak dan bergerak di banyak bidang. Bahkan untuk mendongkrak pendapatan negara ada beberapa BUMN yang dikelola untuk memonopoli bidang tersebut seperti Perusahaan Listrik Negara (PLN). Hasil dari BUMN akan dikelola ke dalam APBN. Begitu juga di tingkat pemerintahan daerah yang memiliki badan usaha sendiri yaitu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang bertujuan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD).