• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENATAAN AREA PARKIR DI KOTA PEMATANGSIANTAR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Sysrst Guna Memperoleh Gelar Sarjana (S1) Administrasi Publik

OLEH :

MUHAMMAD KHAIRUDDIN

140903030

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(2)

HALAMAN PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Karya tulis saya, skripsi ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik (sarjana), baik di Universitas Suamtera Utara maupun di perguruan tinggi lain.

2. Karya tulis ini adalah murni gagasan, rumusan dan penelitian saya sendiri tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan Dosen Pembimbing dan Dosen Penguji.

3. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka.

4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh karena karya ini, serta sanksi lainnya sesuai dengan norma yang berlaku di perguruan tinggi

Medan, 22 Maret 2019 Yang Membuat Pernyataan

Muhammad Khairuddin NIM : 140903030

(3)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK

HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi ini di setujui dan diperbanyak dan dipertahankan oleh:

Nama : Muhammad Khairuddin NIM : 140903030

Program Studi : Ilmu Administrasi Publik

Judul : Implementasi Kebijakan Penataan Area Parkir Di Kota Pematangsiantar.

Medan, 22 Maret 2019

Dosen Pembimbing Ketua Program Studi,

Ilmu Administrasi Publik

Drs. Robinson Sembiring, M.Si Dr. Tunggul Sihombing, MA NIP. 1960042019880310002 NIP. 196203011986031027

Dekan

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si NIP.197409302005011002

(4)

ABSTRAK

Penataan area parkir merupakan upaya untuk menata lahan parkir dengan menggunakan proses, mekanisme cara, dan aturan untuk pemanfaatan perparkiran lebih lanjut yang digunakan untuk mengurangi kemacetan. Kegiatan penataan area parkir di bahu jalan menyebabkan adanya persinggungan antara pengguna parkir dan masyarakan umum yang menimbulkan dampak positif maupun negatif terhadap lokasi tersebut. Kegiatan penataan bertujuan untuk mewujudkan ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif yang menjelaskan fenomena secara mendalam melalui pengumpulan data. Penelitian ini menggunakan teori yang disampaikan oleh Donald S. Van Meter dan Carl E. Van Horn dengan indikator implementasi yang meliputi ukuran dasar dan tujuan kebijakan, sumber-sumber kebijakan, komunikasi antar organisasi dan kegiatan para pelaksana, karakteristik badan-badan pelaksana, kondisi-kondisi sosial politik ekonomi, dan disposisi implementor.

Dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa terdapat enam unsur implementasi kebijakan yaitu ukuran dasar dan tujuan kebijakan, sumber-sumber kebijakan, komunikasi antar organisasi dan kegiatan para pelaksana, karakteristik badan-badan pelaksana, kondisi-kondisi sosial politik ekonomi, dan disposisi implementor dalam penataan area parkir yang belum efektif pelaksanaannya.

Kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh lembaga yang berwenang, menjadi kendala dalam tercapainya tujuan dari penataan area parkir serta kualitas dalam meningkatkan pelayananan area parkir.

Kata Kunci : Penataan, Area Parkir, Implementasi

(5)

ABSTRACT

Parking area arrangement is an effort to organize parking lots by using processes, means mechanisms, and rules for further parking utilization that is used to reduce congestion. The activity of structuring the parking area on the shoulder of the road has caused a contact between parking users and the general public which has a positive and negative impact on the location. Arrangement activities aim to create a safe, comfortable, productive and sustainable space.

The research method used in this research is descriptive qualitative which explains the phenomenon in depth through data collection. This study uses the theory conveyed by Donald S. Van Meter and Carl E. Van Horn with implementation indicators which include basic measures and policy objectives, policy sources, communication between organizations and activities of implementers, characteristics of implementing agencies, socio-political economic conditions, and dispositions implementor.

From this research, it can be concluded that there are six elements of policy implementation, namely basic measures and policy objectives, policy resources, communication between organizations and activities of implementers, characteristics of implementing agencies, social political economy conditions, and disposition of implementers in area planning. parking that has not been effectively implemented. The lack of supervision carried out by authorized institutions is an obstacle in achieving the objectives of structuring the parking area as well as the quality in improving the parking area services.

Keywords: Arrangement, Parking Area, Implementation

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan kasih dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memenuhi persyaratan Kurikulum Sarjana Strata-1 (S1) pada Program Studi Ilmu Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Adapun judul skripsi ini adalah Implementasi Kebijakan Penataan Area Parkir di Kota Pematangsiantar.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis menyadari telah menerima banyak bimbingan, motivasi, dan doa dari berbagai pihak. Seiring dengan rasa syukur yang tiada hentinya kepada Tuhan Yang Maha Esa, penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar-sebarnya kepada :

1. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara,yaitu Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si.

2. Ketua Progam Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial danIlmu Politik Universitas Sumatera Utara, yaitu Bapak Dr. Tunggul Sihombing, M.A.

3. Sekretaris Progam Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, yaitu Ibu Dra. AsimaYanty Siahaan, M.A, Ph. D.

4. Terima kasih kepada Dosen Pembimbing Drs. Robinson Sembiring, M.Si.

yang telah memberikan banyak pembelajaran dan pengarahan dalam mengerjakan skripsi.

5. Terima kasih sebesar-besarnya kepada kedua orang tua tercinta ayahanda Kumari dan ibunda Rosmani yang sangat berarti bagi saya. Yang selalu mendukung, mendoakan serta tidak bosan-bosannya memberikan motivasi hingga sampai saat ini. Doa dan harapan kalian senantiasa mengiringi dan menyertai saya dalam menjalani kehidupan.

6. Kepada saudara kandung bang Mulyadi, kak Ernawati, dan bang Iswandi yang telah memberikan semangat dan membantu dalam pengerjaan skripsi.

(7)

7. Kepada orang yang teristimewa Fadhilah Nur Yuslima Alfarisi Saragih yang telah banyak memberikan semangat, doa, dan kasih sayang serta memotivasi saya dalam mengerjakan skripsi 

8. Seluruh jajaran dosen atau staf pengajar Program Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

9. Seluruh staff administrasi di Program Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

10. Para sahabat dan seluruh teman seperjuangan di Departemen Ilmu Administrasi Publik angkatan 2014

11. Kepada anggota Dumbs bosti, reza (mante), fadlan (laler), hary (wakgub), guntur (bang brewok), adong (si gembel), vahry, irfan, rozik, andri, lae handi, dan teman-teman lainnya yang sudah banyak mendukung dalam proses perkuliahan hingga skripsi ini selesai.

12. Terima kasih kepada anggota PKL terbaik udilku, adong, ivan, marlina, grandma jiah, indah, murni, dumsek, vinka, azis dan teman-teman lainya yang telah mendukung dan membantu memberikan masukkan dalam pengerjaan skripsi ini.

13. Seluruh pihak yang tidak disebutkan satu persatu

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan baik dari isi maupun tata bahasa namun Penulis berharap skripsi ini dapat memberikan hal yang bermanfaat dan menambah wawasan bagi pembaca, dan bagi pegembangan keilmuan.

Medan, 22 Maret 2019

Muhamad Khairuddin

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN PERNYATAAN ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

ABSTRAK ... iii

ABSTRACT ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR TABEL ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Manfaat Penelitian ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 8

2.1 Kerangka Teori ... 8

2.2 Pengertian Kebijakan ... 8

2.2.1 Ciri Kebijakan ... 9

2.2.2 Tahap-tahap Kebijakan ... 10

2.3 Pengertian Implementasi Kebijakan ... 12

2.3.1 Teori Donald S. Van Meter dan Carl E. Van Horn ... 14

2.3.2 Teori Marilee S. Grindle ... 17

2.3.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Implementasi ... 20

2.4 Perpakiran ... 20

2.4.1 Parkir ... 21

2.5 Hipotesis Kerja ... 24

(9)

BAB III METODE PENELITIAN ... 25

3.1 Bentuk Penelitian ... 25

3.2 Lokasi Penelitian ... 26

3.3 Informan Penelitian ... 26

3.4 Teknik pengumpulan data ... 28

3.5 Teknik Analisis Data ... 30

3.6 Teknik Keabsahan Data ... 31

BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 32

4.1 Pengelolaan Area Parkir di Kota Pematangsiantar ... 33

4.2 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 34

4.2.1 Sejarah Singkat Dinas Perhubungan Kota Pematangsiantar ... 34

4.2.2 Profil Kepegawaian Dinas Perhubungan Kota Pematangsiantar ... 35

4.2.3 Tugas dan Fungsi Dinas Perhubungan Kota Pematangsiantar... 36

4.2.4 Struktur Organisasi Dinas Perhubungan Kota Pematangsiantar ... 41

4.3 Analisis Implementasi Kebijakan Penataan Area Parkir di Kota Pematangsiantar ... 49

4.3.1 Ukuran dasar dan tujuan Kebijakan (Sasaran kebijakan) ... 50

4.3.2 Sumber Daya ... 56

4.3.2.1 Sumber Daya Manusia (Staff)... 57

4.3.2.2 Sumber daya Sarana dan Prasarana (Fasilitas) ... 59

4.3.2.3 Sumber Daya Finansial (Dana) ... 61

4.3.3 Komunikasi antar organisasi dan kegiatan-kegiatan pelaksana ... 62

4.3.4 Karakteristik Agen Pelaksana ... 66

(10)

4.3.5 Kondisi Sosial, Politik, dan Ekonomi ... 68

4.3.6 Disposisi Implementor ... 70

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 75

5.1 Kesimpulan ... 75

5.2 Saran ... 77

DAFTAR PUSTAKA ... 80

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Dinas Perhubungan Kota Pematangsiantar ... 41

Gambar 4.2 Penerimaan PAD Retribusi Parkir Tepi Jalan Umum 2017-2018 ... 53

Gambar 4.3 Lokasi Parkir illegal ... 53

Gambar 4.4 Parkir di lokasi zona dilarang parker ... 56

Gambar 4.5 Fasilitas Parkir ... 57

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Informan Penelitian ... 26 Tabel 4.1 Kualifikasi Pegawai Dinas Perhubungan Kota Pematangsiantar ... 34

(13)

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkatkan tiap tahunnya. Pada tahun 2010 jumlah penduduk Indonesia mencapai 237 641 326/jiwa.1 Jumlah pertumbuhan penduduk yang tiap tahun bertambah, tidak hanya meningkatkan jumlah penduduk akan tetapi meningkatkan jumlah permintaan akan adanya kendaraan yang terus meningkat tiap tahun.

Kendaraan merupakan alat transportasi yang digunakan oleh masyarakat untuk mencapai tempat tujuan, baik yang digerakkan oleh mesin ataupun makhluk hidup. Kendaraan merupakan salah satu alat transportasi yang paling banyak digunakan oleh masyarakat dalam kegiatan sehari-hari. Hal ini terlihat dari banyaknya jumlah kantong atau area parkir yang ada baik di perkantoran, pasar, dan sekolah.

Kantong parkir atau area parkir merupakan tempat pemberhentian kendaraan sementara yang sesuai dengan rambu-rambu parkir yang ditetapkan oleh suatu instansi. Kantong parkir merupakan area pemberhentian yang dipakai oleh para pengguna kendaraan bermotor baik kendaraan roda dua ataupun roda empat sebagai area untuk memarkirkan kendaraan mereka. Kantong-kantong parkir membutuhkan lahan atau wadah sebagai tempat penataan bagi kendaraan- kendaraan yang memarkirkan kendaraannya dengan aman dan tertib.

1bps.go.id. 09-07-2012

(14)

Kota Pematangsiantar yang merupakan salah satu kota dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di sumatera utara, dengan jumlah penduduk kurang lebih sekitar 251.516 jiwa 2 . Pada tahun 2015 jumlah kendaraan bermotor di kota pematangsiantar sudah menacapai 56.779, hal ini menjadi pertanda bahwa kebutuhan akan kendaraan menjadi sangat penting. Jumlah kendaraan yang semakin bertambah tiap tahun menngakibatkan banyak terciptanya titik kemacetan akibat tidak jelasnya penataan area parkir.

Pada dasarnya jumlah kantong parkir resmi yang tersedia tidak mencukupi untuk memuat jumlah kendaraan yang ada di Kota Pematangsiantar. Hal ini diperkuat dengan salah satu laman online yang menyatakan bahwa “Sungguh luar biasa di Kota Pematangsiantar ini, pelebaran jalan di Jalan MH Sitorus, halaman sekolah dan halaman bangunan milik warga, ternyata dijadikan plataran parkir pengunjung taman hewan”3, hal tersebut tentu tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam menata area parkir.

Kebijakan penataan kantong parkir menjadi tugas pemerintah setempat dalam hal ini Dinas Perhubungan (DISHUB) untuk menata kantong-kantong parkir liar menjadi kantong parkir resmi. Penataan area parkir dimulai dari aspek pendukungnya seperti, adanya lahan parkir resmi yang dikelola Pemerintah daerah, oknum penjaga parkir, serta sarana dan prasarana pendukung lainnya.

Penataan parkir di Kota Pematangsiantar tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah akan tetapi menjadi tanggung jawab bersama untuk

2www.siantarkota.bps.go.id (Diakses tanggal 21 Maret pukul 17:41 WIB)

3 lamanrestorasidaily.com.06-01-2018

(15)

menjalankan serta menaati rambu-rambu parkir yang ada sebagai wujud dalam melaksanakan kebijakan yang ada.

Kantong-kantong parkir resmi yang tersedia di Kota Pematangsiantar tidak seimbang dengan jumlah kendaraan yang membutuhkan akan adanya lahan parkir resmi. Minim nya jumlah lahan parkir resmi menibulkan para juru parkir liar untuk memanfaatkan area yang banyak dikunjungi oleh masyarakat sebagai ladang penghasilan mereka tanpa melaksanakan kebijakan yang sudah ada dan rambu-rambu larangan parkir. Penumpukan area parkir akibat adanya kantong parkir liar menyebabkan dampak negatif terhadap ruang jalan di Kota Pematangsiantar, salah satunya yaitu kemacetan di ruas jalan Sutomo dan Merdeka. Ruas jalan tersebut merupakan pusat kegiatan pasar horas, perkantoran serta gedung sekolah.

Kemacetan yang timbul akibat adanya kantong parkir liar tentu menggangu kegiatan pengguna jalan lainnya. Penggunan trotoar sebagai area parkir yang ditujukan untuk pengguna jalan menyebabkan fungsi tortoar sebagai kepentingan masyarakat terganggu. Gedung dengan aktivitas yang tinggi biasanya menimbulkan bangkitan perjalanan, dari bangkitan perjalanan akan menimbulkan bangkitan parkir di daerah atau kawasan perdagangan. Hal tersebut akan menyebabkan lokasi-lokasi parkir baru di badan jalan.

Pada dasarnya, trotoar yang fungsi utamanya diperuntukan bagi para pejalan kaki saat ini banyak beralih fungsi sebagai kantong parkir liar. Kantong-kantong parkir yang berada di atas trotoar sangatlah menggangu para pengguna jalan kaki.

Hal ini menyebabkan semakin sedikitnya jalan yang digunakan para pejalan kaki, kemacetan yang semakin rentan terjadi, serta memungkinkan terjadinya

(16)

kecelakaan. Dengan menjadikan trotoar sebagai kantong parkir berarti sama halnya menghilangkan fungsi utama trotoar dan menghilangkan hak pengguna jalan kaki.

Akibatnya timbul juru parkir liar yang memanfaatkan situasi yang ada untuk membuka area parkir yang tidak resmi memanfaatkan kondisi tersebut untuk meraup keuntungan yang besar dari pengguna jasa parkir liar. Jika parkir resmi dikelola dan ditata dengan baik dan benar maka uang hasil retribusi tersebut masuk kedalam Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tergolong besar.

Di dalam UU No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu lintas dan angkutan jalan (LLAJ) maupun peraturan daerah (Perda) sudah jelas dinyatakan trotoar berfungsi untuk pejalan kaki4. Dinas Perhubungan sebagai badan yang mengawasi hal ini mempunyai tugas dan wewenang dalam mengatur area-area kantong parkir.

Menurut Kepala Dinas Perhubungan kota Pematangsiantar pihaknya akan mengeluarkan Kartu Tanda Anggota (KTA) bagi petugas parkir yang betugas dibawah naungan DISHUB5, karena semakin maraknya juru parkir liar disekitaran wilayah Lapangan Haji Adam Malik dan Lapangan Merdeka (taman bunga), hal tersebut disebabkan oleh banyaknya masyarakat yang berkunjung ke area tersebut dan menimbulkan juru parkir liar.

Penataan parkir yang sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 Tentang Prasarana Dan Lalu Lintas Jalan Fasilitas Parkir Untuk Umum Pasal 47 aturan yang berlaku akan memungkinan parkir liar akan semakin

4 UU No. 2 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Jalan dan Angkutan Jalan.

5 http://www.lassernewstoday.com/berita/siantar/marak-parkir-liar-dishub-akhirnya-keluarkan- kta-petugas-parkir-seputaran-lapangan-merdeka-kota-siantar/(Diakses tanggal 21 Maret pukul 17:44 WIB)

(17)

berkurang. Kawasan-kawasan yang digunakan sebagai area parkir liar harus melihat dampak apa saja yang timbul dengan penataan kawasan parkir. Dampak yang akan timbul jika area parkir ditata dengan baik maka akan mengurangi area kemacetan yang biasa timbul di tempat-tepat keramaian, seperti sekolah, pusat perkantoran dan pasar-pasar tradisional. Selain dengan penataan kawasan parkir yang benar perlu adanya juru parkir resmi untuk mengatur kawasan tersebut agar tertata rapi, tidak mengganggu lalu lintas dan terhindar dari aksi kriminal lainnya.

Dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2011 tentang retribusi daerah, bahwa daerah Lapangan Adam Malik dan Lapangan Merdeka atau Taman Bunga, merupakan daerah tanpa Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berarti daerah tersebut, merupakan zona bebas retribusi6. Akan tetapi hal tersebut tidaklah sejalan dengan Perda yang tertera diatas, masih adanya pungutan liar yang dikutip oleh sejumlah oknum yang tidak bertanggung jawab menyebabkan semakin banyaknya timbul parkir liar di sekitan lapangan merdeka kota Pematangsaintar.

Berdasarkan paparan yang telah diuraikan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Implementasi Kebijakan Penataan Area Parkir di Kota Pematangsaintar”.

6 http://medan.tribunnews.com/2018/03/05/tim-saber-pungli-akan-usut-pungutan-parkir-ilegal-di- taman-bunga-siantar. Di akses pada 14/08/2018

(18)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan yang menjadi permasalahan yaitu: “Bagaimana Implementasi dari Kebijakan Penataan Area Parkir di Kota Pematangsiantar ?”

1.3 Tujuan Penelitian

Setiap penelitian yang diajukan mempunyai sasaran yang ingin dicapai atau apa yang menjadi tujuan penelitian. Berdasarkan identifikasi dari perumusan masalah tersebut, maka penulis memiliki tujuan yang ingin dicapai dalam penyelenggaraannya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

a) Bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai Implementasi kebijakan penataan area parkir di kota Pematangsiantar

b) Bertujuan untuk mendeskripsikan dampak Implementasi kebijakan penataan area parkir di kota Pematangsiantar

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :

a. Secara Subjektif, sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan berfikir secara ilmiah dan sistematis, serta membuat karya ilmiah sesuai dengan teori yang diperoleh dari Departemen Ilmu Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

b. Secara Praktis, sebagai masukan Wali Kota Pematangsiantar dalam penataan area parkir liar di kota Pematangsiantar.

(19)

c. Secara Akademis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi pemikiran, informasi dan pengetahuan bagi kepustakaan studi Ilmu Administrasi Publik .

(20)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kerangka Teori

Dalam sebuah penelitian diperlukan adanya teori yang akan menjadi landasan teoritis dan menjadi pedoman dalam melaksanakan penelitian. Teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstruk, definisi, dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara mengonstruksi hubungan antara konsep dan proposisi dengan menggunakan asumsi dan logika tertentu .7

Kerangka Teori adalah bagian dari penelitian, tempat penelitian memberikan penjelasan tentang hal-hal yang berhubungan dengan variabel pokok, sub variabel atau pokok masalah yang ada dalam penelitian.

2.2 Pengertian Kebijakan

Easton 1969 (dalam Tangkilisan) mendefinisikan kebijakan publik sebagai adalah pengalokasian nilai-nilai kekuasaan untuk seluruh masyarakat yang keberadaannya mengikat8. Sehingga cukup pemerintah yang dapat melakukan sesuatu tindakan kepada masyarakatdan tindakan tersebut merupakan bentuk dari sesuatu yang dipilih oleh pemerintah yang merupakan bentuk dari pengalokasian nilai-nilai kepada masyarakat.

Sementara Friedrich dalam Agustino mengungkapkan bahwa kebijakan publik adalah serangkaian tindakan/kegiatan yang diusulkan oleh seseorang,

7Efendi, S., dkk, Metode Peneltian Survei . Jakarta: LP3ES. 2014. Hal : 35

8Tangkilisan, Hessel Nogi, Implementasi Kebijakan Public : Konsep, strategi, dan Kasus.

Yogyakarta: Lukman Offset & YPAPI.2013. Hal :2

(21)

kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu dimana terdapat hambatan-hambatan (kesulitan-kesulitan) dan kemungkinan-kemungkinan (kesempatan-kesempatan) dimana kebijakan tersebut disulkan agar berguna dalam mengatasinya untuk mencapai tujuan yang dimaksud.9

Dari beberapa definisi kebijakan publik di atas, pada dasarnya kebijakan publik merupakan serangkaian tindakan yang ditetapkan oleh pemerintah yang mempunyai tujuan tertentu berkenaan dengan masalah tertentu yang diorientasikan pada penyelesaian masalah publik.

Adapun yang menjadi tujuan dari sebuah kebijakan adalah sebagai berikut:

1. Memelihara ketertiban umum.

2. Memajukan perkembangan dari masyarakat dalam berbagai hal.

3. Memadukan berbagai aktivitas.

4. Menunjuk dan membagi benda material dan non material.

2.2.1 Ciri Kebijakan

Anderson dalam Zainal Abidin mengatakan ada beberapa hal yang menandakan ciri dari sebuah kebijakan, yaitu:

1. Setiap kebijakan pasti ada tujuan, maksudnya pembuatan suatu kebijakan tidak boleh sekedar asal buat atau karena kebetulan membuatnya.

2. Suatu kebijakan tidak berdiri sendiri, terpisah dari kebijakan yang lain, tetapi bekrkaitan dengan berbagai kebijakan dalam masyarakat, dan berorientasi pada pelaksanaan, interpretasi dan penegakan hukum.

3. Kebijakan adalah apa yang dilakukan oleh pemerintah.

9 Agustino. Dasar-Dasar Kebijakan Publik. Alfabeta. Bandung. 2006. Hal:7.

(22)

4. Kebijakan dapat berbentuk negatif atau melarang dan juga berupa pengarahan untuk melaksanakan atau menganjurkan.

5. Kebijakan didasarkan pada hukum, karena itu memiliki kewenangan untuk memaksa masyarakat

2.2.3 Tahap – Tahap Kebijakan Publik

Adapun tahap-tahap kebijakan publik Menurut Dunn adalah, proses kebijakan adalah serangkaian aktivitas intelektual yang dilakukan di dalam proses kegiatan yang pada dasarnya bersifat politis, aktivitas politis tersebut divisualisasikan sebagai serangkaian tahap yang saling tergantung yang diatur menurut urutan waktu.10

Sementara Winarno mengemukakan bahwa proses pembuatan kebijakan publik merupakan proses yang kompleks karena melibatkan banyak proses maupun variabel yang harus dikaji.11 Proses-proses penyusunan kebijakan publik tersebut dibagi kedalam beberapa tahapan. Tahapan-tahapan kebijakan publik adalah sebagai berikut:

a) Tahap Penyusunan Agenda

Para pejabat yang dipilih dan diangkat menempatkan masalah pada agenda publik. Sebelumnya masalah-masalah ini berkompetisi terlebih dahulu untuk dapat masuk ke dalam agenda kebijakan. Pada akhirnya, beberapa masalah masuk ke agenda kebijakan para perumus kebijakan. Pada tahap ini suatu masalah mungkin tidak disentuh sama sekali, sementara masalah yang lain ditetapkan

10Dunn, Wiliiam. Analisis Kebijakan Publik. Ypgyakarta: Gajah Mada University Press. 2003. Hal:22

11Winarno, Budi. Teori dan Proses Kebijakan Publik . Yogyakarta : Pressindo. 2002. Hal:35-37

(23)

menjadi fokus pembahasan, atau ada pula masalah karena alasanalasan tertentu ditunda untuk waktu yang lama.

b) Tahap Formulasi Kebijakan Masalah telah masuk ke agenda kebijakan kemudian dibahas oleh para pembuat kebijakan. Masalah-masalah tadi didefinisikan untuk kemudian dicari pemecahan masalah terbaik. Pemecahan masalah tersebut berasal dari berbagai alternatif atau pilihan kebijakan (policy alternatives / policy options) yang ada. Sama halnya dengan perjuangan suatu masalah untuk masuk ke dalam agenda kebijakan, dalam tahap perumusan kebijakan masing-masing alternatif bersaing untuk dapat dipilih sebagai kebijakan yang diambil untuk memecahkan masalah. Pada tahap ini, masing-masing aktor akan “bermain” untuk mengusulkan pemecahan masalah terbaik.

c) Tahap Adopsi Kebijakan

Dari sekian banyak alternatif kebijakan yang ditawarkan oleh para perumus kebijakan, pada akhirnya salah satu alternatif kebijakan tersebut diadopsi dengan dukungan dari mayoritas legislatif, konsensus antara direktur lembaga atau keputusan peradilan.

d) Tahap Implementasi Kebijakan

Suatu program kebijakan hanya akan menjadi catatan-catatan elit, jika program tersebut tidak diimplementasikan. Oleh karena itu, keputusan program kebijakan yang telah diambil sebagai alternatif pemecahan masalah harus diimplementasikan, yakni dilaksanakan oleh badan-badan administrasi maupun agen-agen pemerintah di tingkat bawah. Kebijakan yang telah diambil dilaksana-

(24)

kan oleh unit-unit administrasi yang memobilisasikan sumberdaya finansial dan manusia.

e) Tahap Evaluasi Kebijakan

Pada tahap ini kebijakan yang telah dijalankan akan dinilai atau dievaluasi, untuk melihat sejauh mana kebijakan yang dibuat telah mampu memecahkan masalah. Kebijakan publik pada dasarnya dibuat untuk meraih dampak yang diinginkan.

Adapun proses kebijakan publik menurut James Anderson dalam Subarsono yaitu :

1. Formulasi masalah (problem formulation) : Apa masalahnya ? Aapa yang membuat hal tersebut menjadi masalah kebijakan? Bagaimana masalah tersebut dapat masuk dalam agenda pemerintah ?

2. Formulasi kebijakan (formulation) :Bagaimana mengembangkan pilihan-pilihan atau alternatif-alternatif untuk memecahkan masalah tersebut ? Siapa saja yang berpartisipasi dalam formulasi kebijakan ? 3. Menentukan kebijakan (adoption) :Bagaimana alternatif ditetapkan ?

Persyaratan atau kriteria apa yang harus dipenuhi ? Siapa yang akan melaksanakan kebijakan ? Bagaimana proses atau strategi untuk melaksanakan kebijakan ? Apa isi dari kebijakan yang telah ditetapkan

?

4. Implementasi (implementation): Siapa yang terlibat dalam implementasi kebijakan ? Apa yang mereka kerjakan ? Apa dampak dari isi kebijakan ?

5. Evaluasi (evaluation): Bagaimana tingkat keberhasilan atau dampak kebijakan diukur ? Siapa yang mengevaluasi kebijakan ? Apa konsekuensi dari adanya evaluasi kebijakan ? Adakah tuntutan untuk melakukan perubahan atau pembatalan.12

2.3 Pengertian Implementasi Kebijakan

Implementasi kebijakan (dalam Tangkilisan) merupakan rangkaian kegiatan setelah suatu kebijakan dirumuskan. Tanpa suatu implementasi maka suatu kebijakan yang telah dirumuskan akan sia-sia. 13

12 Subarsono. Analisis Kebijakan Publik : Konsep, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta : Pustaka Belajar.

2005. Hal: 12

13 Op.cit., Hal:17

(25)

Sedangkan menurut Patton dan Sawicki (dalam Santoso) implementasi kebijakan adalah berbagai kegiatan yang dilakukan untuk merealisasikan program ,dimana eksekutif berperan mengatur cara dalam mengorganisasir, menginterprestasikan dan menerapkan kebijakan yang telah di seleksi. 14

Selanjutnya Van Meter dan Van Horn (dalam Winarno) membatasi implementasi kebijakan sebagai tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu- individu atau kelompok-kelompok pemerintah maupun swasta yang diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam keputusan- keputusan kebijakan sebelumnya.15

Menurut Lester dan Stewart Implementasi kebijakan (dalam Kusumanegara)16 dipahami juga sebagai suatu proses, output dan outcome. Implementasi juga dapat dikonseptualisasikan sebagai proses karena di dalamnya terjadi berbagai rangkaian aktivitas yang berkelanjutan. Implementasi juga diartikan sebagai output yaitu melihat apakah aktivitas dalam rangka mencapai tujuan program telah selesai dengan arahan implementasi sebelumnya atau bahkan mengalami penyimpangan-penyimpangan. Kopseptualisasi ini terfokus pada akibat yang ditimbulkan dari adanya implementasi kebijakan mengurangi masalah atau bahkan menambah masalah bau dalam masyarakat.

Rippley da Fraklin menyatakan keberhasilan implementasi program dan kebijakan ditinjau dari tiga faktor :

14 Santoso. Pandji. Administrasi public (teori dan aplikasi good governance). Bandung: PT Refika Utama. 2008. Hal:42

15 Op.cit., Hal:102

16Kusumanegara, Solahuddin.2010. Midel dan Aktor Dalam Proses Kebijakan Publik. Gava Media.

Hal:98-99

(26)

1. Prespektif kepatuhan (compliance) yang mengukur impelemntasi dari kepatuhan strate level bureaucracy terhadap atas mereka.

2. Keberhasilan implementasi diukur dari kelancaran rutinitas dan tiada persoalan.

3. Implementasi yang berhasil mengarah kepada kinerja yang memuaskan semua pihak terutama kelompok penerima manfaat yang diharapkan.17 Beberapa teori implementasi menurut para ahli :

2.3.1 Teori Donald S. Van Meter dan Carl E. Van Horn

Model proses Implementasi yang diperkenalkan Donald S. Van Meter dan Carl E. Van Horn tidak dimaksudkan untuk mengukur dan menjelaskan hasil-hasil akhir dari kebijakan pemerintah, tetapi mengukur dan menjelaskan yang dinamakan pencapaian program. Perlu diperhatikan bahwa pelayanan dapatdiberikan tanpa mempunyai dampak substansial pada masalah yang diperkirakan berhubungan dengan kebijakan.18

Menurut Van Meter dan Van Horn, ada enam variabel yang memberntuk ikatan (lingkage) antara kebijakan dan pencapaian (Performance), yaitu:

1. Ukuran dasar dan Tujuan Kebijakan.

Variabel ini didasarkan pada kepentingan utama terhadap sistem-sistem yang menentukan pencapaian kebijakan. Pencapaian ini menilai sejauh mana ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan telah direalisasikan. ukuran- ukuran dasar dan tujuan-tujuan berguna dalam menguraikan tujuan-tujuan keputusan kebijakan secara menyeluruh. Disamping itu, ukuran-ukuran dasar dan

17Wibawa, Samodra. Evaluasi Kebijakan Publik. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.1995.Hal:26-27

18 Op.cit., Hal:103

(27)

tujuan-tujuan merupakan bukti itu sendiri dan dapat diukur dengan mudah dalam beberapa kasus.

2. Sumber-sumber Kebijakan (Sumber daya)

Sumber - sumber layak mendapat perhatian karena menunjang keberhasilan implementasi kebijakan. Sumber-sumber yang dimaksud mencakup dana atau perangsang (icentive) yang lain mendorong dan memperlancar implementasi secara efektif.

3. Komunikasi antar organisasi dan kegiatan-kegiatan pelaksana (Komunikasi)

Komunikasi di dalam dan antar organisasi-organisasi merupakan suatu proses yang kompleks dan sulit. Dalam meneruskan pesan-pesan ke dalam suatu organisasi atau dari suatu organisasi ke organisasi lainnya, para komunikator dapat menyimpan nya dan menyebarluaskannya., baik secara sengaja atau tidak sengaja. Lebih dari itu, jika sumber-sumber informasi berbeda memberikan inteprestasi-inteprestasi yang tidak konsisten terhadap ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan atau jika sumber-sumber yang sama memberikan inteprestasi- inteprestasi yang bertentangan, para pelaksana akan menghadapi kesulitan yaang lebih besar untuk melaksanakan maksud-maksud kebijakan.

4. Karakteristik badan-badan pelaksana.

Van meter dan van horn mengetengahkan beberapa unsur yang mungkin berpengaruh terhdap suatu organisasi dalam mengimmplentasikan kebijakan :

(1). Kompetensi dan ukuran straff suatu badan

(28)

(2). Tingkatan pengawasan hierarkis terhadap keputusan-keputusan sub unit dan proses dalam badan-badan pelaksana.

(3). Sumber-sumber politik suatu organisasi (4). Vitalisasi Organisasi.

(5). Tingkat jaringan komunikasi-komunikassi “terbuka”, yang didefenisikan sebagai jaringan kerja komunikasi “terbuka”, yang didefenisikan sebagai jaringan kerja komunikasi horizontal dan vertikal secara bebas, serta tingkat kebebasan yang secara relatif tinggi dalam komunikasidengan individu-individu diluar organisasi.

(6). Kaitan formal dan informal suatu badan dengan badan “pembuat keputusan” atau “pelaksana keputusan”.

5. Kondisi-kondisi ekonomi, sosial dan politik.

Para peminat perbandingan politik negara dan kebijakan publik secara khusus tertarik dalam mengidentifikasikan pengaruh variabel-variabel lingkungan pada hasil-hasil kebijakan. Sekalipun dampak dari sistem-sistem ini pada implementasi keputusan-keputusan kebijakan mendapat perhatian yang kecil, namun menurut van meter dan van horn , sistem ini mungkin mempunyai efek yang mendalam terhadap pencapaian badan-badan pelaksana.

6. Disposisi (Sikap para pelaksana)

Pada tahap ini pengalaman-pengalaman subjektivitas individu-individu memegang peranan yang sangat besar. Van meter dan van horn kemudian mengidentifikasikan tiga unsur tanggapan pelaksana yang mungkin

(29)

mempengaruhi kemampuan dan keinginan mereka untuk melaksanakan kebijakan, yaitu :

a. kognisi, yakni pemahaman terhadap kebijakan,

b. respon implementor terhadap kebijakan, yang akan mempengaruhi kemauannya untuk melaksanakan kebijakan,

c. Intensitas disposisi implementor, yakni preferensi nilai yang dimiliki implementor.19

2.3.2 Teori Marilee S. Grindle

Menurut Marille S. Gridle (dalam Subarsono) keberhasilan implementasi dipengaruhi oleh dua variabel besar, yakni isi kebijakan (content of policy) dan lingkungan implementasi (content of implementation) .

a. Variabel isi dari kebijakan yaitu:

1. Kepentingan kelompok sasaran, kepentingan yang terpengaruhi oleh kebijakan menyangkut sejauh mana kepentingan kelompok sasaran atau target groups termuat dalam isi kebijakan. Kepentingan tersebut berkaitan dengan berbagai kepentingan yang memiliki argumen bahwa dalam pelaksanaan sebuah kebijakan pasti melibatkan banyak kepentingan, dan sejauh mana pengaruh yang dibawa oleh kepentingan-kepentingan tersebut terhadap implementasinya.

2. Tipe manfaat, yaitu jenis manfaat yang diterima oleh target group.

Dalam konten kebijkana, manfaat kebijakan berupaya untuk

19 Op.cit., Hal:103

(30)

menunjukkan dan menjelaskan bahwa di dalam sebuah kebijakan harus terdapat beberapa jenis manfaat yang memuat dan menghasilkan dampak positif oleh pengimplementasian kebijakan yang akan dilaksanakan.

3. Derajat perubahan yang diinginkan, yaitu sejauh mana perubahan yang diinginkan dari adanya sebuah kebijakan. Derajat perubahan yang ingin dicapai menunjukkan seberapa besar perubahan yang hendak atau ingin dicapai melalui adanya sebuah implementasi kebijakan harus memliki skala yang jelas.

4. Letak pengambilan keputusan. apakah letak sebuah program sudah tepat atau belum. pengambilan sebuah keputusan di dalam sebuah kebijakan memegang peranan penting dalam pelaksanaan sebuah kebijakan, oleh karena itu pada bagian ini harus dijelaskan dimana letak pengambilan keputusan dari suatu kebijakan yang akan diiplementasikan.

5. Pelaksanaan program. Maksudnya apakah sebuah kebijakan telah menyebutkan implementornya dengan rinci. Daalam melaksanakan suatu kebijakan atau program harus didukung dengan adanya pelaksanaan kebijakan yang memiliki kompetensi dan capable demi keberhasilan suatu kebijakan.

6. Sumber daya yang dilibatkan. Apakah sebuah program didukung dengan sumber daya yang memadai. Pelaksanaan suatu kebijakan juga harus didukung dengan sumber daya yang memadai dengan tujuan agar pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik.

(31)

b. Variabel Lingkungan kebijakan yaitu :;

1. Seberapa besar kekuasaan, kepentingan, dan strategi yang dimiliki oleh para aktor yang terlibat dalam implementasi kebijakan. Dalam sebuah kebijakan perlu untuk diperhitungkan mengenai kekuatan atau kekuasaan, kepentingan, serta strategi yang digunakan oleh para aktor yang terlibat guna melancarkan pelaksanaan suatu implementasi kebijakan.

2. Karakteristik lembaga dan penguasa. bagaimana keberadaan institusi dan rezim yang sedang berkuasa juga memiliki pengaruh terhadap keberhasilan, maka bagian ini dijelaskan bagaimana karakteristik dari suatu lemabga yang akan turut mempengaruhi suatu kebijakan.

3. Tingkat kepatuhan dan daya tanggap (resposifitas) kelompok sasaran. Kepatuhan dan respon dari pelaksana juga dirasa menjadi sebuah aspek penting dalam proses pelaksanaan suatu kebijakan, maka yang hendak dijelaskan pada poin ini adalah sejauh manakah kepatuhan dan respon dari pelaksana dalam menanggapi suatu kebijakan. 20

Berdasarkan pemaparan model-model implementasi di atas, peneliti mengadopsi model implementasi kebijakan yang telah dikembangkan oleh Van Meter dan Van Horn karena variabel-variabel yang ditawarkan oleh kedua ahli tersebut dianggap paling tepat untuk membantu menjawab permasalahan peneliti tentang Implementasi Penataan Area Parkir di Kota Pematangsiantar

20 Op.cit., Hal:93-94

(32)

2.3.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Implementasi

Menurut Van Meter dan Van horn (dalam Budi Winarno), terdapat enam faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan, yaitu:

1. Ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan.

2. Sumber-sumber.

3. Komunikasi antar organisasi dan kegiatan-kegiatan pelaksanaa.

4. Karakteristik-karakteristik badan-badan pelaksana.

5. Kondisi ekonomi, sosial, dan politik.

6. Kecenderungan para pelaksana.21 2.4 Perparkiran

Parkir menurut kamus bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai tempat pemberhaentian kendaraan beberapa saat, sementara dalam UU No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pada pasal 1 menyatakan bahwa parkir adalah keadaan kendaraan berhenti atau tidak bergerak untuk beberapa saat dan ditinggalkan pengemudinya.

Penataan sistem parkir dengan konsep manajemen parkir atau manajemen kebutuhan lalu lintas, berlandaskan pada Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2011 tentang Manajemen Dan Rekayasa, analisis dampak serta manajemen kebutuhan lalu lintas. Konsep tersebut mengacu pada beberapa hal sebagai berikut:

a. Waktu Pakir, b. Durasi Parkir c. Tarif

d. Kuota jumlah ruang parkir yang ditetapkan pada area tertentu

21 Op.cit., Hal:158

(33)

e. Lokasi menentukan lokasi yang diperbolehkan maupun lokasi yang dilarang untuk parkir.

Pengelolaan parkir memiliki banyak manfaat bagi perkembangan kota.

Manfaat tersebut antara lain dapat membantu mengatasi masalah ekonomi, sosial dan lingkungan, meningkatkan produktivitas ekonomi dan memberi manfaat bagi konsumen secara keseluruhan. Penerapan manajemen parkir bertujuan anatar lain untuk :

a. Meningkatkan daya tarik pusat kota sebagai jantung kota.

b. Mendukung penggunaan angkutan umum.

c. Transportasi tidak bermotor (pejalan kaki dan pesepeda).

d. Meningkatkan PAD dari sektor parkir.

e. Penataan dan transparansi pengelolaan parkir.

2.4.1 Parkir

Parkir adalah keadaan tidak bergerak dari suatu kendaraan yang bersifat sementara (Direktorat Jendral Perhubungan Darat, 1996). Selain Pengertian di atas beberapa ahli memberikan definisinya tentang parkir, yaitu :

1. Harus berhenti untuk sementara waktu (menurunkan Semua kendaraan tidak mungkin bergerak terus, pada suatu saat ia muatan) atau berhenti cukup lama yang disebut parkir

2. Jangka waktu parkir (parking duration) adalah lama parkir suatu Parkir adalah tempat pemberhentian kendaraan beberapa saat (Sumber Lainnya)

Berdasarkan dari definisi-definisi di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa parkir adalah suatu keadaan tidak bergerak suatu kendaraan bermotor atau tidak bermotor yang dapat merupakan awal dari perjalanan dengan jangka waktu tertentu sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya

(34)

Kebijakan perpakiran dilakukan untuk meningkatkan kapasitas jalan yang sudah ada. Penggunaan badan jalan sebagai tempat parkir jelas memperkecil kapasitas jalan tersebut karena sebagian besar lebar jalan digunakan sebagai tempat parkir. Lebih jauh lagi, pengelolaan parkir yang tidak baik cenderung merupakan penyebab kemacetan karena antrian kendaraan yang menunggu tempat kosong justru menghambat pergerakan arus lalu lintas. Kebijakan parkir bukan di badan jalan juga menentukan metode pengontrolan dan pengaturannya (Sumber Lainnya).

Pelaksanaan pengaturan dan pengontrolan parkir telah sering dilakukan sejak tahun 1960-an, yang biasanya meliputi (Direktorat Jendral Perhubungan Darat, 1996) :

a. Pembatasan tempat parkir di badan jalan;

b. Merencanakan fasilitas tempat parkir di luar daerah, seperti park-and-ride;

c. Pengaturan biaya parkir; dan

d. Denda yang tinggi terhadap pelanggar parkir.

Terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam penataan parkir ini, yakni satuan ruang parkir, karakteristik parkir, bangkitan parkir dan larangan parkir.

1. Satuan ruang parkir

Satuan ruang parkir (SRP) merupakan satuan ukuran guna meletakkan kendaraan meliputi mobil penumpang, bus/truk, atau sepeda motor yang parkir paralel di badan jalan, pelataran parkir maupun gedung parkir (Abubakar 2011:35).

2. Karakteristik parkir

Karakteristik parkir merupakan suatu ukuran atau besaran yang dapat digunakan untuk merencanakan kebutuhan fasilitas ruang yang dapat digunakan serta digunakan dalam mengendalikan kebutuhan parkir (Abubakar 2011:75).

(35)

3. Bangkitan parkir

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi bangkitan parkir diantaranya meliputi (Abubakar 2011:102) :

a. Besarnya kawasan terbangun yang biasanya terkait erat dengan tingkat kepemilikan kendaraan pribadi;

b. Banyaknya dan kepadatan kegiatan yang berada di kawasan tersebut;

c. Besarnya daya tarik masyarakat untuk menuju kawasan tersebut;

d. Jumlah karyawan tetap maupun tidak tetap yang bekerja di kantor atau kegiatan di kawasan tersebut.

e. Tingkat kepemilikan kendaraan pribadi ataupun milik perusahaan/dinas masyarakat metropolitan atau kota yang bersangkutan;

f. Jenis kegiatan yang berada di kawasan tersebut misalnya perkantoran, sekolah, ataupun pusat perdagangan;

g. Kebijakan perparkiran yang diberlakukan oleh pemerintah setempat.

4. Larangan Parkir

a. Sepanjang 6 meter sebelum dan sesudah tempat penyeberangan pejalan kaki atau tempat penyeberangan sepeda yang telah ditentukan.

b. Sepanjang 25 meter sebelum dan sesudah tikungan tajam dengan radius kurang dari 500 meter.

c. Sepanjang 50 meter sebelum dan sesudah jembatan.

d. Sepanjang 100 meter sebelum dan sesudah perlintasan sebidang.

e. Sepanjang 6 meter sebelum dan sesudah akses bangunan gedung

f. Sepanjang 6 meter sebelum dan sesudah hydrant atau keran pemadam kebakaran atau sumber air sejenis

g. Sepanjang tidak menimbulkan kemacetan dan bahaya. (Sumber Lainnya).

(36)

2.5 HIPOTESIS KERJA

Hipotesis kerja disusun atas teori yang dianggap tepat untuk menganalisis fenomena yang diteliti dalam implementasi kebijakan. Berdasarkan konsep- konsep implementasi yang telah penulis kemukakan, penulis merumuskan hipotesis kerja terkait Implementasi Kebijakan Penataan Area Parkir di Kota Pematangsiantar terkait dengan kriteria: Ukuran dasar dan tujuan kebijakan, Sumber-sumber kebijakan (Sumber daya), Komunikasi antar organisasi dan kegiatan pelaksana (komunikasi), Karakteristik badan-badan pelaksana, Kondisi- kondisi sosial politik dan ekonomi, Disposisi (sikap para pelaksana).

(37)

BAB III

METODE PENELITIAN

Dalam melaksanakan suatu penelitian, metode penelitian merupakan bagian yang sangat penting dan menentukan berhasilnya suatu penelitian tersebut.

Metode penelitian merupakan cara ilmiah yang digunakan dalam mencapai tujuan penelitian. Dalam bab ini peneliti menggunakan bentuk penelitian, teknik pengumpulan data, serta teknik analisis data sebagai berikut :

3.1 Bentuk Penelitian

Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Analisis Kualitatif dilakukan dengan menggunakan penelitian deskriptif adalah metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran tentang suatu kegiatan secara objektif. Dalam penelitian ini menggunakan format deskriptif, yaitu penelitian yang memberi gambaran secara cermat mengenai individu atau kelompok dan gejala yang terjadi.22

Selanjutnya penelitian kualitatif menurut Moeleong adalah penelitian yang dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll, secaraholistic, dan dengan suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. 23

22Konjtraningrat. 1993. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta.: Gramedia Pustaka. Hal:

89

23Moeloeng, Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif . Bandung : PT. Remaja Rosdakaraya. 2005. Hal:6

(38)

Penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif bertujuan untuk memahami dan mempelajari realitas sosial atau gejala sosial dengan cara pandang yang objektif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang mengumpulkan data yang sudah tersedia melalui buku-buku yang didukung oleh pendapat ahli.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini mengambil lokasi di Jl. Merdeka dan Jl. Sutomo Kota Pematangsiantar, karena penataan area parkir di pusat kota Pematangsiantar belum tertata secara baik dan benar sesuai dengan kebijakan peraturan yang ada.

Penataan area parkir di kota Pematangsiantar terbilang cukup berantakan hal ini dapat dilihat dari banyaknya kantong parkir liar wilayah tersebut. Banyaknya area atau rambu-rambu dilarang parkir namun beralih fungsi menjadi area parkir dan mengganggu lalu lintas jalan bagi pejalan kaki maupun kendaraan bermotor menjadi permasalahan bagaimana pelaksanaan kebijakan penataan parkir di Kota Pematangsaintar.

3.3 Informan Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, tidak menggunakan istilah populasi ataupun sampel. Bungin mengatakan bahwa informan penelitian adalah subjek yang memahami informasi objek penelitian sebagai pelaku maupun orang lain yang memahami objek penelitian.24Adapun informan penelitian ini, yaitu :

24Bungin, Burhan. 2011. Penelitian Kualitatif Edisi Kedua (Komunikasi Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya). Jakarta: Kencana Prenanda Media Group.

(39)

No. Informan Penelitian Informasi yang dibutuhkan Jumlah 1. Kepala Dinas Perhubungan Kota Pematangsiantar. 1. Standar dan sasaran

kebijakan, 2. Sumberdaya,

3. Hubungan antar organisasi.

4. Karakteristik agen pelaksana,

5. Kondisi sosial, politik dan ekonomi,

6. Disposisi implementor

1

2. Satlantas Polres kota Pematangsiantar 1. Standar dan sasaran kebijakan,

2. Sumberdaya,

3.Hubungan antar organisasi,

4. Karakteristik agen pelaksana,

5. Kondisi sosial, politik dan ekonomi, 6. Disposisi implementor

1

3. Anggota Dinas Perhubungan Kota Pematangsaintar .

1. Standar dan sasaran kebijakan,

2. Sumberdaya,

3. Hubungan antar organisasi,

4. Karakteristik agen pelaksana,

5. Kondisi sosial, politik dan ekonomi,

6. Disposisi implementor

2

4. Anggota Satlantas Polres kota Pematangsiantar. 1. Standar dan sasaran kebijakan,

2. Sumberdaya,

3. Hubungan antar organisasi,

4. Karakteristik agen pelaksana,

5. Kondisi sosial, politik dan ekonomi,

6. Disposisi implementor

2

(40)

5. Masyarakat pengguna parkir. 1. Standar dan sasaran kebijakan,

2. Sumberdaya,

3. Hubungan antar organisasi,

4. Karakteristik agen pelaksana,

5. Kondisi sosial, politik dan ekonomi,

6. Disposisi implementor

3

6. Juru Parkir Resmi 1. Standar dan sasaran

kebijakan, 2. Sumberdaya,

3. Hubungan antar organisasi,

4. Karakteristik agen pelaksana,

5. Kondisi sosial, politik dan ekonomi,

6. Disposisi implementor

4

7. Juru parkir tidak resmi 1. Standar dan sasaran kebijakan,

2. Sumberdaya,

3. Hubungan antar organisasi,

4. Karakteristik agen pelaksana,

5. Kondisi sosial, politik dan ekonomi,

6. Disposisi implementor

3

15

3.4 Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena bertujuan untuk mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik

(41)

pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang diharapkan

25. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

Teknik pengumpulan data primer adalah pengumpulan data yang dilakukan secara langsung pada lokasi penelitian . Pengumpulan data primer dapat dilakukan melalui, yaitu :

a. Wawancara, yaitu proses pengumpulan data yang dilakukan secara langsung dengan pihak terkait untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dengan cara melakukan tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan. Metode ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara langsung dan terbuka kepada informan atau pihak yang berhubungan dengan penelitian.

Sebelum turun ke lapangan peneliti terlebih dahulu menyusun pedoman wawancara.

b. Observasi, yaitu pengumpulan data dengan pengamatan secara langsung objek penelitian dengan cara mencatat segala gejala yang ditemukan dilapangan untuk mempelajari data-data yang diperlukan sebagai acuan yang berkenaan dengan topic penelitian. sebelum turun ke lapangan peneliti menyusun pedoman observasi.

c. Dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan catatan-catatan atau dokumentasi-dokumentasi yang ada di lokasi penelitian atau sumber lain yang terkait dengan objek penelitian.

Sebelum turun ke lapangan peneliti terlebih dahulu menyusun pedoman dokumentasi.

25 Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kualitatif, Kualitatif R&D . Bandung :Alfabeta. Hal:101

(42)

3.5 Teknik Analisis Data

Sesuai dengan metode penelitian, teknik analisa data yang dipergunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan analisis kualitatif. Menurut Farid bahwa analisis kualitatif adalah analisis terhadap data yang diperoleh yang diperoleh berdasarkan kemampuan nalar peneliti dalam menghubung-hubungkan fakta dan informasi, data dan informasi . Jadi analisis data kualitatif yaitu dengan menyajikan hasil wawancara, hasil kusioner, serta studi kepustakaan dan dokumentasi dengan melakukan analisis terhadap masalah yang ditemukan di lapangan26. Sehingga diperoleh gambaran yang jelas tentang objek yang diteliti dan menarik kesimpulan.

Dalam melakukan analisis data, terdapat beberapa tahapan antara lain :

1. Reduksi data

Proses pemilihan, pemusatan pada penyederhanaan transformasi data kasar yang muncul dari cacatan-catatan dilapangan , melakukan transkip data untuk memilih informasi mana yang dianggap sesuai dan tidak sesuai dengan masalah yang menjadi pusat penelitian dilapangan.

2. Penyajian data

Sekumpulan informasi berbentuk naratif atau uraian teks, grafik jaringan , tabel, dan bagan yang bertujuan mempertajam pemahaman penelitian terhadap informasi yang dipilih kemudian disajikan dalam tabel maupun uraian penjelasan.

26Farid, Wajidi. 1997. Analisis Isi : Pengantar Teori dan Metodelogi. Jakarta : Citra Niaga Rajawali Press. Hal: 152

(43)

3. Penarikan kesimpulan

Mencari arti pola-pola penjelasan, konfigurasi yang mungkin, alur sebab- akibat, dan proposisi. Penarikan kesimpulan dilakukan secara cermat dengan melakukan verifikasi berupa tinjauan ulang pada catatan-catatan di lapangan sehingga data-data dapat diuji validitasnya.

3.6 Teknik Keabsahan Data

Dalam Wirawan (2012) Untuk memastikan data/ informasi lengkap dan validitasnya dan reliabilitasnya tinggi penelitian kualitatif mempergunakan teknik triangulasi (triangulation). Triangulasi adalah suatu pendekatan riset yang memakai suatu kombinasi lebih dari satu strategi dalam satu penelitian untuk menjaring data/informasi 27. Triangulasi adalah suatu metode yang dipakai dalam metode yang dipakai dalam penelitian kualitatif-sering juga dipakai dalam metode kuantitaif- untuk mengukur validitas dan reabilitas dalam penelitian kualitatif.

Dalam penelitian dapat dipergunakan lima jenis triangulasi, yaitu :

1. Triangulasi data adalah mempergunakan berbagai sumber data/informasi.

Dalam teknik triangulasi ini adalah mengelompokkan para pemangku kepentinganprogramm dan mempergunakannya sebagai sumber/data informasi.

2. Triangulasi peneliti. Teknik triangulasi ini digunakan oleh evaluator atau tim evaluator dalam satu proyek evaluasi. Para evaluator mempergunakan metode kualitatif yang sama, misalnya wawancara, observasi, studi kasus, kelompok kunci atau informan kunci. temuan dari setiap evaluator

27 Wirawan. 2012. Evaluasi : Teori, Model, Standar, Aplikasi, dan Profesi. Jakarta : PT.RajaGrafindo Persada. Hal: 216

(44)

dibandingkan, jika temuan dari berbagai evaluator berbeda datu dama lain maka diperlukan studi lebih lanjut untuk menentuksn perbedaan tersebut.

Apakah ada kemungkinan perbedaan tersebut dapat diperkecil ?

3. Triangulasi teori. Triangulasi teori adalah penelitian dengan mempergunakan berbagai profesional dengan berbagai latar belakang ilmu pengetahuan untuk menilai suatu set data/informasi.

4. Triangulasi metode. Triangulasi metode adalah pemakaian berbagai metode-metode kuantitatif dan /atau metode kualitatif untuk mengevaluasi program. Jika kesimpulan dari setiap metode sama, maka validitas penelitian ditetapkan.

5. Triangulasi lingkungan. Triangulasi jenis ini mempergunakan berbagai lokasi yang berbeda, altar dan faktor-faktor lainnya yang berhubungan dengan lingkungan dimana penelitian mengambil tempat seperti waktu suatu hari, hari suatu suatu minggu atau musim dalam satu tahun.

` Dalam penelitan ini penulis menggunakan jenis triangulasi data dan triangulasi metode. Teknik triangulasi data dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh melalui wawancara antara subjek penelitian yang satu dengan yang lain. Teknik triangulasi metode digunakan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari hasil wawancara terhadap informan dengan hasil pengamatan dan dokumentasi penelitian terkait Implementasi Kebijakan Penataan Area Parkir di Kota Pematangsiantar.

(45)

BAB IV

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengelolaan Area Parkir di Kota Pematangsiantar

Pengelolaan area parkir merupakan bagian dari proses untuk menata lahan parkir yang tidak tertata dengan baik dengan melakukan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, serta pengawasan, sehingga mampu mencapai tujuan yang diharapkan dan mampu menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) serta dapat menghindari timbulnya area parkir ilegal.

Peraturan pengelolaan area parkir dikota Pematangsiantar telah diuraikan dalam peraturan walikota tentang pengelolaan pelayanan parkir di tepi jalan umum no 35 tahun 2017. Pengelolaan area parkir dikota Pematangsiantar belum terlaksana dengan baik sebagaimana yang tercantum di dalam peraturan tersebut, hal tersebut dapat dibuktikan melalui hasil wawancara, observasi serta dokumentasi yang telah penulis lakukan di lapangan. Dalam pengimplementasi penataan parkir di kota Pematangsiantar, masih banyak ditemukannya juru parkir resmi yang melanggar peraturan yang sudah ditetapkan. Seperti membuka lahan parkir di tempat yang dilarang untuk melaksanakan kegiatan parkir. Hal ini dikarenakan lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan kota Pematangsiantar.

Berdasarkan peraturan walikota no. 35 tahun 2017 tentang pengelolaan pelayanan parkir di tepi jalan umum kota Pematangsiantar yang dikelola Pemerintah Daerah sebagai berikut:

(46)

1. Pengelolaan parkir di tepi jalan umum dikelola oleh Pemerintah daerah dan dapat dikerjasamakan dengan penyedia jasa melalui metode pelelangan dan penunjukkan.

2. Pengelolaan Parkir di tepi jalan umum yang dikelola oleh pemerintah daerah dilaksanakan oleh Dinas

3. Pengelolaan parkir oleh Dinas dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Lingkup pekerjaan adalah penataan, penertiban, pembantu keamanan, kebersihan tempat parkir dan pemungutan retribusi;

b. Menyetorkan pungutan retribusi parkir setiap hari ke Kas Daerah melalui Bendahara Penerimaan, kecuali hari libur;

c. Menugaskan personil Dinas Perhubungan untuk melakukan pengawasan kepada Petugas parkir.

4.1.1 Dasar Hukum Kebijakan Pengelolaan Area Parkir di Kota Pematangsiantar Dasar-dasar hukum yang mendasari pengelolaan area parkir di kota Pematangsiantar sebagai berikut:

 UU nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

 Peraturan Walikota no. 35 tahun 2017 tentang Pengelolaan Pelayanan Parkir di tepi jalan umum.

4.2 Deskripsi Lokasi Penelitian

4.2.1 Sejarah Singkat Dinas Perhubungan Kota Pematangsiantar

(47)

Dinas Perhubungan Pematangsiantar pada awalnya dibentuk pada tahun 1991 dengan nama Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) berdasarkan Surat Keputusan Walikota Nomor : 061.1-284/WK- THN 1991 tanggal 2 Desember 1991 yang wewenang tugas masih tidak terlepas pada Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Tingkat I Propinsi Sumatera Utara, dimana tugas dari Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Kotamadya Pematangsiantar masih belum sepenuhnya diserahkan oleh tingkat I Propinsi ketingkat II Kotamadya. Pada Tahun 2002 Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan berubah menjadi Dinas Perhubungan, dan pada Tahun 2009 Dinas Perhubungan berubah menjadi Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kota Pematangsiantar.

4.2.2 Profil Kepegawaian Dinas Perhubungan Kota Pematangsiantar

Sumber daya manusia atau kepegawaian yang ada di suatu instansi atau orgnisasi sangat berpengaruh dan memgang peran yang besar sebagai penyebab utama apakah sebuah instansi atau organisasi itu berjalan dengan baik atau tidak.

Maka dari itu sumber daya manusia harus menjadi fokus utama yang harus dikembangkan dalam organisasi agar dapat memiliki fungsi sebagai penggerak, pemikir, dan perencana untuk mencapai tujuan organisasi. Adapun kualifikasi kepegawaian pada Dinas Perhubungan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.1 Kualifikasi Pegawai Dinas Perhubungan Kota Pematangsiantar

NO URAIAN JUMLAH (ORANG)

1 Jumlah Pegawai 189

2 Kualifikasi Berdasarkan Status

1. PNS 93

(48)

2. THL 96 3 Kualifikasi Berdasarkan Pendidikan

1. PNS a. S2 b. S1 c. D3 d. SMA e. SMP f. SD 2. THL

a. S1 b. SMA c. SMP d. SD

1 23

1 62

4 2

11 83 - 2 4 Kualifikasi berdasarkan golongan

1. GOL IV 2. GOL III 3. GOL II 4. GOL I

4 25 60 4

Sumber : Sekertariat Dinas Perhubungan Kota Pematangsiantar

4.2.3 Tugas dan Fungsi Dinas Perhubungan Kota Pematangsiantar

Dinas Perhubungan Kota Pematangsiantar dalam melaksanakan tugas, menyelangaarakan fungsi:

(49)

1. Perumusan kebijakan teknis dalam pengelolaan dan pelayanan jasa pada perhubungan darat (lalu lintas angkutan jalan),

2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum sesuai dengan lingkup tugasnya,

3. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum sesuai dengan lingkup tugasnya,

4. Pengawasan dan pengamanan pengelolaan dan pemeliharaan fisik dan ketertiban terminal,

5. Pengelolaan lokasi parkir kendaraan bermotor dan tidak bermotor, 6. Pengaturan lokasi tempat-tempat penyebrangan jalan,

7. Perumusan dan pelaksanaan aturan tentang pengangkutan orang dan barang dengan kendaraan bermotor dan tidak bermotor,

8. Pengelolaan lokasi dan tempat pemberhentian/halte kendaraan umum, 9. Pengadaan, penetapan, pengaturan penempatan,pemasangan dan

pemeliharaan rambu-rambu lalu lintas serta tanda-tanda jalan,

10. Pemberian rekomendasi izin dan pengawasan bengkel umum untuk kendaraan bermotor,

11. Pemberian rekomendasi izin usaha angkutan,trayek angkutan, trayek angkutan kota, insidentil dan dispensasi pemakaian jalan,

12. Penetapan ketentuan-ketentuan tambahan mengenai susunan alat-alat pada mobil bus dan mobil penumpang yang digunakan orang/barang secara tertib dan teratur,

(50)

13. Penetapan larangan penggunaan jalan-jalan tertentu demi kelancaran arus lalu lintas, dengan persetujuan gubernur untuk jalan provinsi dan persetujuan pemerintah pusat untuk jalan nasional,

14. Pengaturan sirkulasi lalu lintas di wilayah daerah kota, dengan persetujuan gubernur untuk jalan provinsi dan persetujuan pemerintah pusat untuk jalan nasional,

15. Penetapan kecepatan maksimal bagi jenis kendaaraan tertentu pada jalan kota, jalan provinsi, dan jalan nasional yang berada dalam wilayah kota, 16. Pelaksanaan kegiatan rekayasa dan manajemen lalu lintas serta larangan

penggunaan jalan kota baagi jenis dan macam kendaraan bermotor tertentu,

17. Perencanaan pembangunan sarana dan prasarana perhubungan darat dan wilayah kota,

18. Penyelenggaraan perlengkapan jalan pada jaringan jalan,

19. Penyelenggaraan penyuluhan dan bimbingan tentang keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan,

20. Penetapan tarif untuk angkutan darat dalam jaringan trayek kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,

21. Penyelenggaraan pengujian kendaraan bermotor,

22. Penyelenggaraan bina usaha angkutan orang dan barang,

23. Pengelolaan administrasi umum yang meliputi pekerjaan ketatalaksanaan, keuangan, kepegawaian, dan perlengkapan/peralatan,

24. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh walikota sesuai dengan tugas dan fungsinya.

(51)

Selain fungsi, Dinas Perhubungan menyelenggarakan tugas meliputi:

1. Membina lalu lintas dan angkutan jalan yang jaringannya berada di wilayah kota, meliputi: perencanaan, pengaturan, pengendalian, dan pengawasan;

2. Melaksanakan pengadaan, penataan, pemasangan, dan pemeliharaan rambu-rambu lalu lintas serta tanda-tanda jalan lainnya;

3. Menetapkan larangan penggunaan jalan-jalan tertentu bagi kendaraan bermotor/tidak bermotor yang muatan sumbunya melebihi batas maksimum yang ditentukan untuk jalan;

4. Melaksanakan rekayasa manajemen lalu lintas;

5. Merumuskan dan pelaksanaan aturan tentang pengangkutan orang dan barang dengan kendaraan bermotor/tidak bermotor;

6. Memberikan advis atas penertiban ijin trayek untuk angkutan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) dan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP);

7. Memberikan rekomendasi ijin usah/ijin trayek bagi angkutan umum untuk jaringan trayek yang seluruhnya berada dalam kota;

8. Memberikan rekomendasi ijin usaha angkutan/perbengkelan umum untuk kendaraan bermotor roda empat keatas dan pengawasannya;

9. Menetapkan larangan membunyikan suara pada tempat tertentu dan waktu tertentu;

10. Menetapkan kecepatan maksimum bagi jenis jalan yang seluruhnya berada di wilayah kota;

Gambar

Tabel 4.1 Kualifikasi Pegawai Dinas Perhubungan Kota Pematangsiantar
Gambar 4.2.4 Struktur Organisasi Dinas Perhubungan Kota Pematangsiantar
Gambar 4.1 Lokasi Parkir di trotoar
Gambar 4.2 Penerimaan PAD Retribusi Parkir Tepi Jalan Umum 2017-2018
+3

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 1, tujuan perkawinan adalah “Untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan

Fase tes, evaluasi dan revisi ( test, evaluation and revision ), bertujuan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran IPA berbasis pemecahan masalah yang valid dan

Manfaat yang diperoleh dari praktikum Mutu dan Keamanan Hasil Ternak yaitu dapat mengetahui bahan pangan yang mengandung Formalin dan Boraks.. Waktu

Gambar 1.2 Data NPL Perusahaan Pembiayaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2012-2016... Sumber:Bursa Efek Indonesia, data diolah

Hukum adat adalah sistem hukum yang dikenal dalam sistem kehidupan sosial di Indonesia dan di negara lain, sumbernya adalah peraturan2 hukum tidak tertulis yang tumbuh dan

Berdasarkan judul penelitian yang penulis angkat yaitu “Kajian Visual Desain Pada Kaos Pariwisata Pantai Pangandaran” maka metode yang digunakan adalah deskriptif-analitis,

Karya lainnya yang kemudian menjadi salah satu bahan perbandingan dalam penciptaan kali ini adalah pertunjukan teater dengan judul Tiga Dara karya Joned

Arikunto (2002), setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data, perlu dilakukan pengolahan data untuk kemudian dilakukan analisis, adapu langkah analisis