BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.7. Hipotesis Kerja
Hipotesis kerja dalam penelitian ini, yaitu Efektivitas Organisasi Dalam Mendukung Keterbukaan Informasi Publik Melalui Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) Di Komisi Pemilihan Umum Kota Medan meliputi produktivitas, efisiensi, fleksibilitas, keunggulan, pengembangan dan kepuasan.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan analisis data kualitatif.
Melalui metode ini penulis dapat membuat gambaran atau tulisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta sifat-sifat, serta hubungan antar fenomena yang diteliti. Menurut Burhan Bungin (2015: 96) dalam penelitian deskriptif dengan pendekatan analisis data kualitatif kedalaman data tersebut tidak terbatas sehingga memudahkan penulis untuk mengumpulkan sebanyak mungkin data yang mendukung kualitas penelitian.
Penelitian kualitatif memiliki karakteristik sebagai berikut (Sugiyono, 2015: 9):
1. Dilakukan pada kondisi yang alamiah, langsung ke sumber data dan peneliti adalah instrument kunci;
2. Penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif. Data yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada angka;
3. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses daripada produk atau outcome;
4. Penelitian kualitatif melakukan analisis data secara induktif;
5. Penelitian kualitatif lebih menekankan makna (data dibalik yang teramati).
Penelitian kualitatif deskriptif dirancang untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi atau berbagai variabel yang timbul di masyarakat yang menjadi objek penelitian itu. Metode penelitian jenis ini memiliki ciri studi
kasus yang tidak bersifat pemairan (menyebar di permukaan), tetapi memusatkan diri pada suatu unit tertentu dari berbagai variabel.(Burhan Bungin, 2015: 96).
Keterkaitan metode penelitian ini dapat mempermudah penulis untuk menganalisis efektivitas organisasi KPU Kota Medan dalam mendukung keterbukaan informasi publik melalui Sirekap pada pilkada Kota Medan tahun 2020 dengan fokus terhadap informasi yang dibutuhkan berkaitan dengan hipotesis kerja meliputi organisasi pelaksana, kelompok sasaran, kebijakan, dan masyarakat pemilih. Data yang diperoleh tersebut kemudian dikelola menggunakan pendekatan teori-teori kontekstual yang telah dipaparkan dalam bab sebelumnya.
3.2. Lokasi Penelitian
Penulis melakukan penelitian di kantor KPU Kota Medan yang berkedudukan di Kota Medan dan beralamat di Jl. Kejaksaan No. 37 Kota Medan, Sumatera Utara dalam mencari data yang lengkap dan wawancara dengan para komisioner KPU Kota Medan mengenai efektivitas organisasi KPU dalam mendukung keterbukaan informasi informasi publik melalui Sirekap pada pilkada Kota Medan tahun 2020, para anggota PPK, PPS dan KPPS, kemudian untuk menambah informasi yang berimbang penulis juga mencari data yang berkaitan dengan penelitian ini melalui wawancara denganpara pengamat pemilihan umum/
pilkada, akademisi dan juga organisasi tentang kepemiluan serta masyarakat pemilih di pilkada Kota Medan Tahun 2020.
3.3. Informan Penelitian
Menurut Afrizal (2017:139), informan penelitian adalah orang yang
memberikan informasi baik tentang dirinya ataupun orang lain atau suatu kejadian
atau suatu hal kepada peneliti atau pewawancara mendalam. Oleh karena itu, informan penelitian sangat dibutuhkan keberadaannya oleh peneliti ini guna memperoleh informasi terkait dengan judul penelitian yang telah ditetapkan. Dalam informan penelitian akan dibahas mengenai teknik untuk menentukan informan dan siapa saja yang dapat menjadi informan dalam penelitian ini.
Penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi dari hasil penelitiannya. Oleh karena itu, pada penelitian kualitatif tidak dikenal adanya populasi dan sampel. Oleh sebab itu, pada penelitian kualitatif, informan penelitian ditentukan dengan sengaja. Dalam penelitian ini, subjek yang menjadi informan penelitian ditentukan dengan Purposive Sampling yaitu teknik menentukan informan penelitian secara sengaja atas pertimbangan tertentu, agar dapat memperoleh informasi serta data-data yang jelas dan tepat guna memperlancar proses penelitian.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti menentukan langsung informan yang berkaitan dengan objek penelitian yang dapat memberikan informasi mengenai Efektivitas Organisasi Dalam Mendukung Keterbukaan InformasiPublik Melalui Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) Di Komisi Pemilihan Umum Kota Medan.
Di bawah ini diuraikan informan yang terkait dengan penelitian ini dalam bentuk tabel sebagai berikut:
TABEL 3.1 MATRIKS INFORMAN PENELITIAN
No. Status Informan
Informasi yang dibutuhkan
Metode Instrumen Jumlah Informan
KPU Kota
4. Pengamat
WM : Wawancara Mendalam
PW : Pedoman Wawancara
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Metode wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman.(Burhan Bungin, 2015: 134). Bentuk wawancara yang penulis pilih dalam penelitian ini adalah teknik wawancara sistematik. Wawancara sistematik adalah wawancara yang dilakukan dengan terlebih dahulu pewawancara mempersiapkan
pedoman (guide) tertulis tentang apa yang hendak ditanyakam kepada responden.
Pedoman bagi pewawancara memiliki beberapa fungsi, antara lain (Burhan Bungin, 2015: 134-135):
1. Pedoman wawancara berfungsi membimbing alur wawancara terutama mengarahkan tentang hal-hal yang harus ditanyakan;
2. Dengan pedoman wawancara dapat dihindari kemunhkinan melupakan beberapa persoalan yang relevan dengan permasalahan penelitian;
3. Dapat meningkatkan tingkat kredibilitas penelitian karena secara ilmiah jenis wawancara ini dapat meuakinkan orang lain bahwa apa yang dilakukannya dapat dipertanggung jawabkan secara tertulis.
Penulis juga menggunakan metode observasi untuk mempermudah perolehan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Observasi adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan pengamatannya melalui hasil kerja pancaindra mata serta pancaindra yang lain. (Burhan Bungin, 2015: 142). Observasi yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode observasi langsung. Observasi langsung adalah pengamatan yang dilakukan secara langsung pada objek yang di observasi, dalam arti bahwa pengamatan tidak menggunakan “media-media transparan”.
Observasi langsung memiliki beberapa bentuk, antara lain:
1. Observasi Berstruktur;
2. Observasi Tidak Berstruktur;
3. Observasi Eksperimental;
4. Observasi Partisipasi;
5. Observasi Kelompok. (Burhan Bungin, 2015: 143)
Dalam mendukung data tersebut, peneliti juga menggunakan metode pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi. Metode dokumentasi adalah suatu cara yang digunakan untuk memperoleh data dan informasi dalam bentuk buku, arsip, dokumen, tulisan angka dan gambar yang berupa laporan serta keteranganyang dapat mendukung penelitian. Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data kemudian ditelaah. Sugiyono (2015: 329).
Dokumentasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan peneliti kualitatif untuk mendapatkan gambaran dari sudut pandang subjek melalui suatu media tertulis dan dokumen lainnya yang ditulis atau dibuat langsung oleh subjek yang bersangkutan. Dengan metode ini, peneliti mengumpulkan data dari dokumen yang sudah ada, sehingga penulis dapat memperoleh catatan-catatan yang berhubungan dengan penelitian seperti : gambaran umum sekolah, struktur organisasi sekolah dan personalia, keadaan guru dan peserta didik, catatan-catatan, foto-foto dan sebagainya. Metode dokumentasi ini dilakukan untuk mendapatkan data-data yang belum didapatkan melalui metode observasi dan wawancara.
3.5. Teknik Analisis Data
Sesuai dengan metode penelitian yang digunakan, yaitu metode penelitian kualitatif, maka teknik analisis data yang digunakan adalah teknik kualitatif.
Analisis data kualitatif digunakan apabila data penelitian yang diangkat dari lapangan adalah juga memiliki sifat-sifat kualitatif. (Burhan Bungin, 2015: 275).
Dalam analisis data, ada langkah-langkah yang dilakukan antara lain sebagai berikut:
1. Kodifikasi / Reduksi Data
Data yang diperoleh segera oleh peneliti dalam analisis melalui kodifikasi atau reduksi data.Mereduksi berarti mencari tema dan pola, menulis dan merangkum catatan di lapangan, memilih hal-jal yang pokok, mengidentifikasikan, menginterprestasikan, serta memfokuskan yang penting.Hal ini mempermudah peneliti melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila dibutuhkan.
2. Penyajian Data
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data.
Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bias dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan dan hubungan dengan pengelompokkan atau kategori.
Dengan menyajikan data maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi dan merencakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahaminya tersebut.
3. Penarikan Kesimpulan
Tahap penarikan kesimpulan atau verifikasi merupakan suatu tahap lanjutan dimana pada tahap ini peneliti menarik kesimpulan dari temuan data.Artinya, interprestasi peneliti atas temuan dari suatu wawancara atau sebuah dokumen. Setelah kesimpulan diambil, peneliti kemudian mengecek lagi kesahihan interprestasi dengan cara mengecek ulang proses reduksi dan penyajian data untuk memastikan tidak ada kesalahan yang dilakukan.
(Moloeng, 2016:248)
3.6. Teknik Keabsahan Data
Dalam mendapatkan hasil penelitian yang baik, perlu dilakukan validitas (pengabsahan) data. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode triangulasi data. Triangulasi adalah suatu cara mendapatkan data yang benar-benar absah dengan menggunakan metode ganda. (Bachtiar Bachri, 2010: 56). Adapun macam- macam triangulasi antara lain:
1. Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber berarti membandingkan mencek ulang derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui sumber yang berbeda.Misalnya membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara.
2. Triangulasi Waktu
Triangulasi waktu digunakan untuk validitas data yang berkaitan dengan perubahan suatu proses dan perilaku manusia, karena perilaku manusia mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
3. Triangulasi Teori
Triangulasi teori adalah memanfaatkan dua teori atau lebih untuk diadu atau dipadu.Untuk itu diperlukan rancangan penelitian, pengumpulan data dan analisis data yang lebih lengkap.
4. Triangulasi Peneliti
Triangulasi peneliti adalah menggunakan lebih dari satu peneliti dalam mengadakan observasi atau wawancara. Karena masing-masing peneliti mempunyai gaya, sikap dan persepsi yang berbeda dalam mengamati suatu fenomena. Maka hasil pengamatan dapat berbeda dalam mengamati fenomena yang sama.
5. Triangulasi Metode
Triangulasi metode adalah usaha memeriksa keabsahan data atau memeriksa keabsahan temuan penelitian. Triangulasi metode dapat dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan data yang sama. Pelaksanaannya dapat juga dengan cara cross check.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Profil Kota Medan
Dahulu kala Kota Medan dikenal dengan nama Tanah Deli dengan keadaan tanah berawa-rawa kurang lebih seluas 4000 Ha. Beberapa sungai melintas Kota Medan yang bermuara menuju Selat Malaka. Sungai-sungai itu antara lain adalah Sei Deli, Sei Babura, Sei Sikambing, Sei Denai, Sei Putih, Sei Badra, Sei Belawan dan Sei Sulang Saling ataupun Sei Kera. Pada awalnya yang membuka perkampungan Medan adalah Guru Patimpus yang lokasinnya terletak di Tanah Deli, maka dari itu sejak era penjajahan orang selalu mengaitkan Medan dengan Deli (Medan-Deli). Kemudian era kemerdekaan pun lama kelamaan istilah Medan Deli secara berangsur-angsur hilang sehingga akhirnya pun kurang terkenal.
Dahulu kala masyarakat menamakan Tanah Deli mulai dari Sungai Ular (Deli Serdang) sampai ke Sungai Wampu di Langkat sedangkan Kesultanan Deli yang berkuasa pada waktu itu wilayah kekuasaannya tidak mencakup daerah diantara kedua sungai tersebut. Dan secara keseluruhan jenis tanah di daerah Deli terdiri dari tanah liat, tanah pasir, tanah campuran, tanah hitam, tanah coklat, dan tanah merah. Hal tersebut adalah penelitian dari Van Hissink pada tahun 1900 dan kemudian dilanjutkan oleh Vriens di tahun 1910 bahwa disamping jenis tanah seperti tadi ada lagi ditemui jenis tanah liat yang lebih spesifik lagi. Tanah liat inilah yang pada waktu penjajahan Belanda ditempat yang bernama Bakaran Batu (sekarang Medan Tenggara atau menteng) orang membakar batu bata yang berkualitas tinggi dan salah satu pabrik batu bata pada zaman dahulu kala adalah Deli Klei. Ada dua macam curah hujan di tanah deli yaitu maksima utama dan
maksima tambahan. Maksima Utama terjadi pada bulan Oktober sampai Desember.
Sedangkan Maksimal Tambahan terjadi antara bulan Januari sampai September.
Apabila dirincikan curah hujan di Medan rata-rata 2000 pertahunnya dengan intensitas rata-rata yaitu 4,4 mm/jam. Volker pada tahun 1860 berpandangan Medan masih banyak terdapat hutan rimba dan disana sini terutama dimuara-muara sungai diselingi pemukiman-pemukiman penduduk yang berasal dari Karo dan semenanjung Malaya. Di tahun 1863 orang-orang Belanda mulai membuka kebun Tembakau di Deli yang sempat menjadi primadona dari Tanah Deli Sejak saat itu perekonomian pun semakin terus maju sehigga pada akhirnya Medan menjadi kota pusat pemerintahan dan perekonomian di Sumatera Utara.
Medan adalah salah satu kota terbesar yang ada di Sumatera dan berkembang pesat di karenakan ekonomi kapitalisme perkebunannya. Awalnya Medan adalah wilayah yang bisa dikatakan perkampungan yang cukup sederhana.
Akan tetapi, berubah drastis menjadi pusat pemerintahan dan perekonomian yang kompleks pada masa kolonialisme Belanda. Tahun 1865 masuknya kapitalisme perkebunan sehingga gelombang migrasi pun terjadi. Sehingga tingkat rasio penduduk bertambah dan terdiri dari bermacam-macam suku bangsa dan juga ras.
Berkembangnya Medan Menjadi sebuah kota yang menggambarkan kekhasannya.
Yang berkembang dikarenakan kepentingan para kapitalis perkebunan yang menjadikan sebagai suatu poros perekonomian di pantai timur Sumatera. Di zaman colonial dibangunnya infrastruktur kota yaitu fasilitas pemerintahan, sarana transportasi kereta api, pelabuhan Belawan sebagai penopang ekonomi Kota.
Transportasi perkotaan yang ada di Kota Medan pada umumnya bukanlah berjenis angkutan masal. Kendaraan sewa yang ada di kota tidak lebih dari dua orang. Dari mulai sado, hongkong (angkong) hingga kendaraan mekanis yaitu
sepeda motor dan mobil yang minim penumpang. Sangat terkesan aneh karena disaat mobilitas yang semakin meningkat namun transportasi masih belum mendapat perhatian untuk menunjang mobilitas. Pada paruh abad yang ke-20 Medan dikatakan sebagai kota yang mempunyai padat penduduk.
Catherine L.Ross mengungkapkan bahwa pola pemukiman, pengaruh sosial, kegiatan sehari-hari, keadaan geografi, ekonomi, dan juga konsumsi di dalam perkembangan kota sangat dibentuk oleh adanya transportasi. Bisa dikatakan bahwa pertumbuhan penduduk serta perkembangan masyarakat Medan tak bisa dileraikan dari transportasi. Yang mana diketahui bahwa transportasi sangat penting untuk mobilitas masyarakat. Kajian transportasi membentuk dinamika perkotaannya. Terutama dalam melihat perkembangan kota dengan berdasarkan sudut pandang transportasinya. Medan sebagai Ibukota Provinsi Sumatera Utara secara umum dapat dilihat sebagai kota kelima terbesar di Indonesia dan kota terbesar di Pulau Sumatera. Kota Medan terletak antara 2o.27’..2o.47’ Lintang Utara dan 98o .35’- 98o.44’ Bujur Timur. Kota Medan 2,5-3,75 meter di atas permukaan laut. Kota Medan mempunyai iklim tropis dengan suhu minimum berkisar antara 23,0 o C24,1 o C dan suhu maksimum berkisar antara 30,6 o C-33,1 o C serta pada malam hari berkisar 26 o C-30,8 o C. Selanjutnya mengenai kelembapan udara di wilayah Kota Medan rata-rata 78%-82%.
Sebagian wilayah di Medan sangat dekat dengan wilayah laut yaitu pantai Barat Belawan dan daerah pedalaman yang tergolong dataran tinggi, seperti Kabupaten Karo.Akibatnya suhu di Kota Medan menjadi tergolong panas.
Kecepatan angin rata-rata sebesar 0,42 m/sec sedangkan rata-rata total laju penguapan tiap bulannya 100,6 mm. Jumlah penduduk Kota Medan menurut BPS di tahun 2019 sebanyak 2.279.894 jiwa. Kota Medan mempunyai luas 26.510 hektar
(265,10 km2 ) atau 3,6% dari keseluruhan wilayah Sumatera Utara. Dibandingkan dengan kota/kabupaten lainnya, Medan mempunyai luas wilayah yang relatif kecil dengan jumlah penduduk yang relatif besar. Sesuai dengan dinamika pembangunan kota, luas wilayah administrasi Kota Medan telah melalui beberapa kali perkembangan. Di Tahun 1951, Walikota Medan mengeluarkan Maklumat Nomor 21 tanggal 29 September 1951, dan menetapkan luas Kota Medan menjadi 5.130 Ha, mencakup 4 Kecamatan dengan 59 Kelurahan. Maklumat Walikota Medan dikeluarkan menyusul dengan keluarnya Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor 66/III/PSU tanggal 21 September 1951, agar daerah Kota Medan diperluas menjadi tiga kali lipat. Melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1973 Kota Medan lalu mengalami pemekaran wilayah menjadi 26.510 Hal yang terdiri dari 11 Kecamatan dengan 116 Kelurahan. Berdasarkan luas administrasi yang sama maka dari itu melalui surat Persetujuan Menteri Dalam Negeri Nomor 140.2271/PUOD, pada tanggal 05 Mei 1986, Kota Medan melakukan pemekaran Kelurahan sehingga terdiri dari 144 Kelurahan. Kemudian, perkembangan terakhir berdasarkan Surat keputusan Gubernur KDH Tingkat I Sumatera Utara Nomor 140.22/2772.K/1996 tanggal 30 September 1996 tentang pendefitipan 7 Kelurahan di Kota madya Daerah Tingkat II Medan dengan berdasarkan Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1992 tentang Pembentukkan Beberapa Kecamatan di Kota Madya Daerah Tingkat II Medan, dan secara administrasi Kota Medan dimekarkan kembali, dibagi menjadi 21 Kecamatan yang terdiri dari 151 Kelurahan, 2.001 lingkungan.
4.2 Profil KPU Kota Medan
KPU Kota Medan merupakan salah satu dari 33 KPU Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara. Dengan berkedudukan di Jl. Kejaksanaan No. 37, Kelurahan Petisah Tengah, Kec. Medan Petisah, Kota Medan. KPU Kota Medan memiliki visi misi yang merupakan turunan dari visi dan misi Komisi Pemilihan Umum sehingga adanya jalinan yang berkesinambungan antara visi dan misi Kantor Pusat dengan Kantor Instansi Vertikal.
1. Visi, Misi dan Tujuan
Komitmen Komisi Pemilihan Umum yang memperjuangkan kepentingan nasional khususnya dalam tugas pokok dan fungsinya yaitu menyelenggarakan Pemilihan Umum dan pelaksanaan demokrasi tercantum dalam visi, misi dan tujuan KPU periode 2015-2019 yang terdapat dalam Keputusan KPU Nomor: 51/HK.03- Kpt/03/KPU/II/2018, yaitu:
a. Visi
Terwujudnya Komisi Pemilihan Umum sebagai penyelenggara Pemilihan Umum yang memiliki integritas, profesional, mandiri, transparan dan akuntabel, demi terciptanya demokrasi Indonesia yang berkualitas berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
b. Misi
1) meningkatkan kualitas penyelenggaraan Pemilu yang efektif dan efisien, transparan, akuntabel, serta aksesibel;
2) meningkatkan integritas, kemandirian, kompetensi dan profesionalisme penyelenggara Pemilu dengan mengukuhkan code of conduct penyelenggara Pemilu;
3) menyusun regulasi di bidang Pemilu yang memberikan kepastian hukum, progesif, dan partisipatif;
4) meningkatkan kualitas pelayanan Pemilu untuk seluruh pemangku kepentingan;
5) meningkatkan partisipasi dan kualitas pemilih dalam Pemilu, Pemilih berdaulat Negara kuat; dan
6) mengoptimalkan pemanfaatan kemajuan teknologi informasi dalam penyelenggaraan Pemilu.
c. Tujuan
Tujuan yang hendak dicapai adalah sebagai berikut :
1) terwujudnya lembaga KPU yang memiliki integritas, kompetensi, kredibilitas, dan kapabilitas dalam menyelenggarakan Pemilu;
Meningkatkan pemahaman tentang hak dan kewajiban politik rakyat dalam Pemilihan Umum;
2) terselenggaranya pemilu sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku yang efektif dan efisien, transparan, akuntabel, dan aksesabel; dan
3) meningkatnya kesadaran masyarakat dan partisipasi politik dalam pelaksanaan demokrasi di Indonesia.
2. Nilai-Nilai Dasar dan Lingkup Tugas KPU Kota Medan a. Mandiri;
b. Jujur;
c. Adil;
d. Berkepastian hukum;
e. Tertib;
f. Terbuka;
g. Proporsional;
h. Professional;
i. Akuntabel;
j. Efektif;
k. Efisien; dan l. Aksesibel.
KPU Kota Medan adalah lembaga penyelenggara Pemilihan Umum yang bersifat nasional, tetap, mandiri. KPU diawasi langsung oleh BAWASLU dalam melaksanakan pemilihan. KPU mempunyai peranan yang sangat penting di dalam melahirkan pemimpin yang benar-benar sesuai dengan kriteria yang diinginkan masyarakat. KPU hadir untuk membantu pemilihan pemimpin yang mewakili suara masyarakat secara adil dan jujur. Mengingat tugas KPU adalah menyelenggarakan Pemilu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), serta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden yang diselenggarakan secara langsung oleh rakyat.
Disamping tugas tersebut juga melaksanakan Penyelenggaraan Pemilu Kepala Daerah (Pemilukada) yaitu untuk memilih Gubernur dan Wakil Gubernur serta Bupati dan Wakil Bupati Untuk melaksanakan tugas tersebut KPU dibantu Sekretariat KPU Kota Medan. Adapun tugas, fungsi, wewenang dan kewajiban sekretariat KPU Kota Medan. Yang pertama tugas dari sekretariat yaitu membantu penyusunan program dan anggaran Pemilu; Memberikan dukungan teknis administratif; Membantu pelaksanaan tugas KPU Kabupaten/Kota dalam menyelenggarakan pemilu; membantu pendistribusian perlengkapan penyelenggaraan Pemilu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, serta pemilihan Gubernur; membantu perumusan dan penyusunan
rancangan keputusan KPU Kabupaten/Kota; Memfasilitasi penyelesaian masalah dan sengketa pemilihan Bupati/Walikota; Membantu penyusunan laporan penyelenggaran kegiatan dan pertanggungjawaban KPU Kabupaten /Kota, dan;
Membantu pelaksanaan tugas-tugas lainnya sesuai dengan peraturan perundang- undangan.
Kemudian fungsi sekretariat yaitu untuk Membantu penyusunan program dan anggaran Pemilu di Kabupaten/Kota; Memberikan pelayanan teknis pelaksanaan Pemilu di Kabupaten/Kota; Memberikan pelayanan administrasi yang meliputi ketatausahaan, kepegawaian, anggaran, dan perlengkapan Pemilu di Kabupaten/Kota; Membantu perumusan dan penyusunan rancangan keputusan KPU Kabupaten/Kota; Membantu perumusan, penyusunan, dan memberikan bantuan hukum serta memfasilitasi penyelesaian sengketa Pemilu dan Kabupaten/Kota; Membantu pelayanan pemberian informasi Pemilu, partisipasi dan hubungan masyarakat dalam penyelenggaraan Pemilu di Kabupaten/Kota;
Membantu pengelolanan data dan informasi Pemilu di Kabupaten/Kota; Membantu pengelolan logistik dan distribusi barang/jasa keperluan Pemilu di Kabupaten/Kota;
membantu penyusunan kerjasama antar lembaga di Kabupaten/Kota; Membantu penyusunan laporan penyelenggaraan Pemilu dan pertanggungjawaban KPU Kabupaten/Kota. Kewenangan, Kewajiban, dan tanggung jawab sekretariat (sesuai Undang-undang No.15 tahun 2011) yang mana Sekretariat KPU Kabupaten/Kota mempunyai wewenang untuk mengadakan dan mendistribusikan perlengkapan penyelenggaraan pemilihan Bupati/Walikota berdasarkan norma, standar, prosedur dan kebutuhan yang ditetapkan oleh KPU; mengadakan perlengkapan penyelenggaraan Pemilu sebagaimana dimaksud sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan memberikan layanan administrasi, ketatausahaan, dan
kepegawaian sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan memberikan layanan administrasi, ketatausahaan, dan kepegawaian sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Lalu Sekretariat KPU Kabupaten/Kota berkewajiban dalam menyusun laporan pertanggung jawaban keuangan; memelihara arsip dan dokumen pemilu; dan mengelola barang inventaris KPU Kabupaten/Kota.Selain itu, Sekretariat KPU Kota Medan bertanggung jawab dalam hal administrasi keuangan serta pengadaan barang dan jasa berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Organisasi merupakan sebuah perangkat yang terdiri atas sekelompok orang pemegang posisi yang harus dikoordinasikan, tersusun dari sejumlah subsistem yang saling berhubungan dan bergantung, bekerjasama atas dasar
Organisasi merupakan sebuah perangkat yang terdiri atas sekelompok orang pemegang posisi yang harus dikoordinasikan, tersusun dari sejumlah subsistem yang saling berhubungan dan bergantung, bekerjasama atas dasar