A. Deskripsi Obyek Penelitian
1. Dinas Pertanian dan Peternakan
Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bantaeng merupakan perangkat organisasi kelembagaan daerah yang didasarkan pada Peraturan Daerah No. 26 Tahun2007 tentang Pembentukan Organisasi, Kedudukan Dan Tugas Pokok serta Fungsi Dinas Daerah Kabupaten Bantaeng. Dengan terbentuknya berdasarkan Peraturan Daerah tersebut diatas, maka Dinas Pertanian mempunyai tugas melaksanakan kewenangan aturan daerah kabupaten di bidang pangan dalam rangka tugas Desentralisasi.
Melalui indikator pelaksanaan Program-program Proyek kegiatan yang mencakup beberapa kegiatan yang mencerminkan kepentingan masyarakat di Kabupaten Bantaeng ternyata cukup memadai terutama dapat dilihat dari
29
perkembangan peningkatan hasil-hasil pertanian tanaman pangan dan perkebunan yang mengalami peningkatan secara konsisten dalam lima tahun terakhir.
VISI Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bantaeng
terwujudnya masyarakat petani yang maju dan sejahtera melalui pembangunan sistem agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
MISI Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bantaeng
1. Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya tahan, agroklimat komoditas unggulan daerah dan Sumber Daya Pertanian.
2. Mendorong tumbuh dan berkembangnya industri hulu khususnya perbenihan / pembibitan dan industri penunjang lainnya.
3. Mendorong perkembangan usaha agribisnis dari berbagai tingkat skala usaha dan menumbuh kembangkan kerjasama kemitraan bisnis antara usaha yang saling menguntungkan
4. Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia, baik aparat pertanian maupun pelaku agribisnis khususnya petani.
5. Mengembangkan inovasi teknologi spesifik lokasi dan ramah lingkungan.
6. Mendorong tumbuh dan kembangnya sentra – sentra agribisnis komoditi unggulan berskala ekonomi
7. Pemberdayaan masyarakat petani menuju masyarakat wirausaha / wiraswasta agribisnis yang mandiri maju dan efisien.
8. Mendorong tumbuh dan kembangnya kelompok masyarakat pelestari sumber daya alam.
Berdasarkan Peraturan Bupati Bantaeng Nomor 22 Tahun 2010 tentang Struktur Organisasi, Uraian Tugas Pokok dn fungsi Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bantaeng, untuk melaksanakan tugas dan fungsinya, struktur Organisasi Dinas Pertanian dan Peternakan terdiri dari:
1. Kepala Dinas 2. Sekretaris Dinas
a) Sub Bagian Program dan Pelaporan b) Sub Bagian Umum dan Kepegawaian c) Sub Bagian Keuangan
3. Kepala Bidang Tanaman Pangan
a) Seksi Perbenihan Sarana dan Prasarana
b) Seksi Pengembangan Produksi Perlidungan Tanaman Pangan c) Seksi Bina Usaha dan Pembinaan Kelembagaan Petani
4. Kepala Bidang Hortikultura
a) Seksi Perbenihan Sarana dan Prasarana Hortikultura
b) Seksi Pengembangan Produksi Perlindungan Tanaman Hortikultura c) Seksi Bina Usaha dan Pembinaan Kelembagaan Petani
5. Kepala Bidang Peternakan
a) Seksi Perbenihan Sarana dan Prasarana Peternakan b) Seksi Pengembangan Produksi Perlindungan Peternakan c) Seksi Kesehatan Hewan
6. Kepala Bidang Pengelolaan Lahan dan Air (PLA)
a) Seksi Pengelolaan Air dan Kelembagaan Petani Pemakai Air b) Seksi Pengelolaan Lahan dan Konservasi
c) Seksi Perluasan Areal Sarana dan Prasarana 7. Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD)
a) UPTD Balai Benih Daerah Tanaman Pangan b) UPTD Balai Benih Hortikultura
c) UPTD Ternak Unggul 2. PT. Maju Bersama
Petani yang semakin tergantung pada benih unggul yang mahal serta pupuk dan pestisida dari bahan kimia. Petani kurang memperhatikan pola tanam, memakai pupuk dan pestisida kimia melebihi anjuran dari pemerintah yang berdampak pada beban biaya produksi yang tinggi serta memicu kerusakan ekosistem lahan pertanian.Pada akhirnya Pemanfaatan bahan organik yang berasal dari limbah pertanian dan peternakan serta agen hayati untuk
mengembalikan kesuburan tanah adalah langkah kongkrit untu mencapai pertanian sehat dan berkelanjutan.
Pada tahun 2007 perusahaan dengan didukung Dinas Perindustrian Perdagangan Pertambangan dan Energi Kabupaten Bantaeng melakukan pengkajian pemanfaatan limbah ternak. Dan pada tahun 2008 kesadaran masyarakat akan pemanfaatan limbah ternak dan pertanian terus meningkat karena berbagai alasan diantaranya:
1. Limbah dapat dimanfaatkan sebagai pupuk yang dapat mengembalikan kesuburan tanah.
2. Meningkatkan produksi pertanian.
3. Mengurangi pemakaian pupuk buatan pabrik
4. Mendukung pertanian yang sehat dan ramah lingkungan.
5. Mendapatkan penghasilan tambahan dari pemanfaatan limbah 6. Membuka lapangan kerja
Antusiasme masyarakat akan kegiatan pemanfaatan limbah sejalan dengan program pemerintah tuk mengembangkan pertanian organik dan berkelanjutan sehingga meningkatkan produksi dan mutu pertanian demi tercapainya ketahan pangan nasional.Pihak-pihak yang ikut mendukung kegiatan ini yaitu instansi terkait yang ada di Kabupaten Bantaeng.
Visi:
Optimalisasi potensi sumber daya manusiaa, sumber daya alam dan sumber daya ternak guna mewujudkan cita-cita dan harapan kebupaten bantaeng maju mandiri berlandaskan iman dan taqwa.
Misi:
1. Membangun pertanian dan peternakan tangguh dengan inofasi dan teknologi 2. Mendukung pertanian dan peternakan tangguh melalui diversifikasi usaha
pada bidangnya
3. Layanan informasi usaha agribisnis
4. Bantuan dan konsultasi teknik kepada anggota dan masyarakat dibidang pengelolaan limbah ternak dan limbah pertanian menjadi lebih bermanfaat.
A. Hasil Dari Limbah peternakan a. Pupuk Organik Cair (POC)
Pupuk Organik Cair dapat dibuat dari air seni ternak tetapi unsur hara yang terkandung dalam air seni ternak sangat jauh dari yang diperlukan oleh tanaman. Tanaman memerlukan unsur hara yang lengkap dan berkeseimbangan untuk menghasilkan produksi yang terbaik. Menurut teori pembuatan pupuk organik, pupuk organik yang berkualitas tinggi mempunyai kelengkapan dan keseimbangan unsur hara dibuat dari bahan organik yang mengandung protein yang berkualitas tinggi sehingga dapat memenuhi unsur-unsur yang di perlukan oleh tanaman. Organisme pengurai sering disebut protein sel tunggal yang artinya sebagian besar selnya tersusun dari protein.
Diantara sekian banyak organisme pengurai yang terbukti dapat dijadikan bahan baku pembuatan Pupuk Organik Cair adalah jamur/kapang/cendawan mikroskopis (selnya hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop). Dengan demikian unsur hara dalam Pupuk Organik Cair yang dibuat dengan konsep pengolahan limbah peternakan secara terpadu diharapkan sebagian besar berasal dari mikroorganime pengurai.
b. Biogas
Proses pembentukan biogas meliputi tiga tahap, yaitu : 1. Hidrolisis, yaitu pemecahan bahan organik oleh air. 2. Non metanogenik, yaitu proses pemecahan senyawa organik kompleks (protein, lemak, karbohidrat) senyawa sederhana (asam amino, asam lemak, sakarida) dan CO2 oleh bakteri non metanogenik. 3. Metanogenik, yaitu pemecahan senyawa organik sederhana menjadi gas metana (CH4) dan gas-gas lain. Padatan hasil pemisahan ekstraksi masih mengandung senyawa organik sehingga masih memungkinkan dapat digunakan sebagai substrat pembuatan biogas bahkan pembentukan gas metana dapat lebih cepat karena senyawa organiknya berupa senyawa organik sederhana.
c. Pupuk Organik Padat (POP)
Bahan baku untuk pembuatan POP dapat berasal dari padatan hasil pemisahan cairan dan padatan pada proses ekstraksi POC atau dari lumpur (sludge) pembuatan biogas. Metode yang digunakan bisa pegomposan konvensional atau vermicomposting.
d. Pakan Imbuhan Feed Suplemen atau Feed Additif
Bahan baku untuk pembuatan pakan imbuhan berasal dari hasil ikutan pada proses pembuatan Pupuk Organik Cair. Pakan imbuhan yang dibuat fungsinya sebagai probiotik ketika diberikan pada ternak.
e. Bahan Pakan/Pangan/Suplemen Kesehatan
Bahan baku pembuatan bahan pakan/pangan/suplemen kesehatan dapat berupa padatan dari proses ekstraksi Pupuk Organik Cair atau sludge biogas melalui proses vermicomposting. Vermicomposting menghasilkan biomassa
cacing tanah yang dapat digunakan sebagai bahan pakan atau bahan pangan atau sebagai suplemen kesehatan.
B. Perkembangan Kelompok Pendamping
1. Kelompok Ternak “Bayangan” Ds Bonto Rita, kec. Bissappu. Memproduksi pupuk kompos, pupur organik cair, dan biopestisida.
2. Kelompok Tani “Allu” Ds. Karatuang, Kec. Bantaeng memproduksi pupuk Kompos
3. Kelompok Tani “Citra” Ds. Mappilawing, Kec. Ere merasa memproduksi Kompos
4. Kelompok Tani Ternak “Palanjong” Ds. Tombolo, Kec. Gantarang Keke memproduksi Kompos dan Pupuk Organik Cair
5. Kelompok Tani Ternak “Subur Jaya” Ds. Patallassang, Kec. Tompo bulu memproduksi Kompos, Pupuk Organik Cair, Biopestisida Agen Hayati 6. Kelompok Ternak “Terbit Terang” Ds. Nipa - Nipa, Kec. Pa’jukukang
memproduksi Kompos dan Pupuk Organik Cair
7. Kelompok Ternak “Beringin Jaya” Ds. Baruga, Kec. Pa’jukukang memproduksi Pupuk Organik Cair
8. Kelompok Ternak “Anugrah” Ds. Bonto Manai Kec. Bissappu memproduksi Kompos
9. Kelompok Tani “Campaga Loe” Ds. Bonto Jaya Kec. Bissappu memproduksi Kompos
10. Kelompok Ternak “Beringin Jaya” Ds. Borong Loe Kec. Pa’jukukang memproduksi Pupuk Organik Cair
11. Kopontren “Darul Ulum” Ds. Bonto Langkasa, Kec. Bissappu memproduksi kompos
Hasil produksi tersebut di edarkan diseluruh Kabupaten Bantaeng serta diluar daerah dan hasil olahan tersebut dimanfaatkan untuk Komuditi Umbi-Umbian, Sayuran, Padi, Jagung Dan Kakao.
B. Bentuk Kemitraan Pemerintah Dengan Pihak Swasta PT Maju Bersama