• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dinasti-Dinasti Kecil Di Barat Baghdad ( Dinasti Thulun, Iksidiyah dan Hamdaniyah)

B. Dinasti Iksidiyah (323-358 H/934-969 M) 5

d. Dalam bidang pertanian, perbaikan air di pulau Raudah (dekat Kairo) yang pertama kali dibangun pada tahun 716 M. dengan berfungsinya kembali alat ini, irigasi Mesir menjadi lancar dan pada gilirannya sangat membantu dalam meningkatkan hasil pertanian.

e. Kemajuan di bidang militer terutama pasukan perang dan angkatan laut. Dengan pasukan yang berkekuatan 100.000 orang dan 100 kapal perang. 3. Era Kemunduran Dinasti Thuluniyah

Setelah Ahmad Ibnu Thulun wafat, dinasti ini diteruskan oleh empat orang amir, yaitu: Khumarawaihi Ibnu Ahmad (884-895 M), kemudian dilanjutkan oleh Jaish Bin Khumarawaihi (895-896 M), setelah itu diteruskan oleh Harun Ibnu Khumarawaih (896-905) dan amir yang terakhir adalah Syaiban Ibnu Ahmad Ibnu Thulun (905). Namun para pengganti Ibnu Thulun ini tidak ada lagi yang sekuat dia, bahkan telah membawa dinasti Thuluniyah pada arah kemunduran. Oleh karena itu menurut Ahmad Syalabi, Dinasti Thuluniyah sebenarnya hanyalah kekuasaan Ahmad Ibnu Thulun saja.

Kematian Khumarawaih pada 895 merupakan titik awal kemunduran Dinasti Thuluniyah ini secara lebih nyata. Persaingan yang hebat antara unsur-unsur pembesar dinasti telah memecah persatuan dalam dinasti. Amir yang ketiga (Jaish Ibnu Asakir) dilawan oleh sebahagian besar pasukannya dan dapat disingkarkan pada 896. Adiknya yang baru berusia 14 tahun, Harun Khumarwaihi diangkat sebagai amir keempat. Kelemahan yang sedemikian rupa menghantarkan dinasti ini berakhir setelah amirnya yang kelima yaitu Syaiban Ibnu Ahmad Ibnu Thulun (hanya memerintah 12 hari) menyerah ke tangan pasukan Bani Abbas yang menyerang Mesir pada 905 dengan demikian berakhirlah riwayat Dinasti Thuluniyah.

B. Dinasti Iksidiyah (323-358 H/934-969 M)5

Kekuasaan Mesir berada di bawah Dinasti Abbasiyah lagi pasca dinasti Tuluniyah runtuh. Meski demikian Mesir menjadi sasaran kekacauan, hara-huru, dan perpecahan selama tiga puluh tahun. Mengingat pengaruh Abbasiyah di Mesir sudah semakin melemah setelah Dinasti tuluniyah runtuh sehingga Muhammad bin Thugj al-Ikshid, salah satu panglima perang Turki di Abbasiyah, berkeinginan menguasai Mesir dan melepaskan diri dari Abbasiyah.

Ambisi Iksyid itu kemudian ambisi tersebut diaktualisasikan secara perlahan tetapi pasti. Melalui momentum pembelaannya terhadap Mesir bagian Utara dari ancaman Dinasti Fatimiyah di Tunisia pada tahun 321-324 H/933-936 M. Setelah itu Iksyid mulai menguasai seluruh Mesir secara mutlak pada tahun 323 H/935 M.

Semula khalifah Abbasiyah, Ar-Radhi, ingin menggandeng Muhammad menjadi sekutunya. Karenanya ia memberikan hadiah gelar al-Iksyid, sebuah gelar yang berbahasa Persia untuk gubernur. Hal itu semua terjadi tentu saja mengingat Iksyid di Mesir memiliki pengaruh yang kuat pada saat itu dan didukung dengan kondisi wilayah yang luas juga semakin menambah keluarga ini berwibawa di mata masyarakat.

Muhammad bin Tugh al Iksyid kemudian diakui sejarah sebagai pendiri Dinasti Iksidiyah di Mesir. Untuk itulah maka keluarga Iksyid mulai populer. Relasi kekuasaannya dibangun dengan memiliki hubungan yang baik dengan pemerintahan Abbasiyah. Akan tetapi tampaknya hubungan baik kedua penguasa itu harus berakhir manakala salah satu wilayah kekuasaan Iksyidiyah mulai direbut oleh Abbasiyah. Pada tahun 328 H/940 M, Abbasiyah berada di bawah kekuasaan al-Radhi dengan mengirimkan pasukan perangnya yang dipimpin oleh Muhammad bin Raiq ke Syuriah untuk mencaplok Mesir dari tangan kekuasaan Iksyidiyah. Namun Iksyidiyah berhasil mempertahankannya dan bahkan mampu memukul mundur pasukan Abbasiyah.

Tentu saja preseden itu memiliki dampak buruk bagi hubungan keduanya yang semula terbina dengan baik. Rasa sakit hati dan marah menghinggapi penguasa Iksyidiyah. Sebagai ekspresi rasa marahnya kemudian Iksyid mendeklarasikan dirinya sebagai penguasa Mesir, dan mengumumkan bahwa Mesir telah merdeka dan dirinyalah yang berkuasa di Mesir. Semenjak itu pula Iksyid tidak pernah lagi menyebut-nyebut nama khalifah Abbasiyah di dalam Khutbahnya.

Langkah berikutnya, Dinasti Iksyidiyah mulai memperkuat pertahanan internal pemerintahannya. Segala bentuk manuver-manuver yang mencoba untuk melemahkan dinasti baik berupa pemberontakan ataupun dari aspek perpecahan rakyat diberantasnya. Tak lupa bahwa Iksyid pun berseru kepada seluruh rakyat dan pendukungnya untuk bahu-membahu serta bersatu padu,

terutama masyarakat Arab yang ada di Mesir dan sekitarnya, untuk berani berjuang dan melawan Romawi.

Dua tahun kemudian, Iksyid menguasai Syuriah pasca Muhammad bin Raiq wafat (330 H), dengan tujuan agar supaya menambah kekuatan pasukannya dalam menghadapi Romawi. Setahun kemudian, Ikhsyid melebarkan sayap kekuasaannya ke tanah suci Makkah dan Madinah. Kedua tanah suci itu akhirnya jatuh ke tangan kekuasaan Iksyidiyah, sehingga dinasti inilah yang mengawasi dan mengurusi pelaksanaan haji.

Sepeninggal Iksyid (335 H/946 M), tampuk kepemimpinan dinasti ini digantikan oleh sang perdana menteri, Abu Misik kafur. Selain itu juga memiliki tugas untuk melindungi dua anak Iksyid yang masih kecil-kecil. Dalam perjalanan kepemimpinan Kafur, ia terbilang sebagai seorang pemimpin yang tangguh terbukti ia mampu mempertahankan kedaulatan dinasti Iksyidiyah dari rongrongan pemberontakan kelompok Qaramithah. Kafur pun juga akhirnya mampu melakukan perluasann kekuasaannya sampai menguasai Mesir, Syuriah dan Maroko. Dengan demikian wilayah kekuasaan Dinasti Iksyidiyah semakin lebar membentang sampai daerah pegunungan Thawus di Syuriah bagian Utara. Kondisi tersebut semakin membuat Dinasti Iksyidiyah berwibawa sekaligus disegara para musuhnya, bahkan dapat dikatakan dinasti ini telah menjelma menjadi sebuah kekuatan adidaya yang ditakuti oleh Romawi.

Nama Kafur sangat populer dan “harum” di mata rakyatnya. Selama berkuasa rakyat pun mencintainya, dia adalah pemimpin yang berperangai baik, pemberani, jujur, tegas sekaligus santun dan lembut. Sehingga banyak orang yang mendoakannya, terutama di mimbar-mimbar yang kemudian di-amin-kan oleh orang banyak pula.

Setelah Kafur wafat, dinasti ini kemudian dipimpin oleh cucu iksyid, Abu Fawaris Ahmad bin Ali. Mengingat dia masih sangat belia dan belum mencapai usia sebelas tahun, maka pro dan kontra di kalangan istana pun tak dapat dihindari. Sebagai akibatnya, masyarakat pun mengalami perpecahan, tidak lagi bersatu seperti tahun-tahun sebelumya. Situasi dan kondisi pemerintahan yang demikian semakin parah dan lama-lama tidak terkendali. Ditambah lagi dengan serangan yang datang dari dinasti lain.

Dinasti Fatimiyah pun memanfaatkan kondisi Dinasti Iksyidiyah yang sedang tidak menentu. Kelemahan dan ketidakstabilan di bidang militer yang dialami dinasti Iksyidiyah ini pun tampaknya “tercium” oleh panglima perang Dinasti Fatimiyah, Al-Muizz li Dinillah. Melalui penyerangan yang telah direncanakan akhirnya Al-Muiz beserta pasukannya dengan mudah menguasai Mesir dan mengalahkan Dinasti Iksyidiyah. Dinasti Abbasiyah pun ternyata tidak mampu untuk melindungi Mesir. Inilah yang kemudian menyebabkan Dinasti Iksyidiyah runtuh dan kekuasaannya diambil alih oleh Dinasti Fatimiyah.