• Tidak ada hasil yang ditemukan

GRK Model I Persen (%) Model II Persen (%) 1. Metan Fermentasi Enterik (Gg CH4) 56,4 - 86,6 - Manajemen Manur (Gg CH4) 5,4 - 3,7 - 2. Dinitrogen oksida Direct/langsung (Gg N2O) 2,4 - 2,5 - Indirect/tidak langsung (Gg N2O) 2,4 - 2,3 -

Setelah dikonversi ke dalam satuan Gg CO2

1. Metan Fermentasi Enterik 1.297,6 45,8 1.991,1 57,2

Manajemen Manur 124,2 4,3 84,2 2,4 2. Dinitrogen oksida Direct (langsung) 705,3 24,9 727,4 20,9 Indirect (tidak langsung) 708,8 25,0 679,2 19,5 Total 2.835,8 100,0 3.481,8 100,0

Persentase emisi metan dengan dinitrogen oksida berdasarkan perhitungan menggunakan model I dan model II di Provinsi Jawa Barat Tahun 2004-2008 disajikan pada Gambar 7.

Gambar 7. Persentase Emisi Total Tahun 2008 Menggunakan Model I dan Model II Metan Dinitrogen Oksida Model II Model I Model II 40% % 60% % 50% % 50% %

52 Gambar 7 menunjukkan bahwa persentase emisi metan lebih besar daripada dinitrogen oksida. Pada emisi metan baik menggunakan model I (default-IPCC) maupun model II (enhanced) dan emisi dinitrogen oksida menggunakan model II (enhanced) pada tahun 2008 memiliki persentase yang sama. Emisi tertinggi dicapai oleh emisi metan walaupun dinitrogen oksida dikonversi dalam bentuk karbon jauh lebih besar daripada metan ke dalam bentuk karbon. Hal ini dikarenakan emisi dinitrogen oksida yang dihasilkan jauh lebih rendah daripada emisi metan yang dihasilkan. Tabel 18 menujukkan bahwa kabupaten tertinggi penghasil emisi adalah Kabupaten Karawang yaitu sebesar 502,59 Gg CO2 (pada model I) dan 525,56 Gg CO2 (pada model II) sedangkan emisi terendah dimiliki oleh Kota Cirebon yaitu sebesar 1,91 Gg CO2 (pada model I) dan 2,41 Gg CO2 (pada model II). Hal ini menunjukkan bahwa Kabupaten Karawang sebaiknya melakukan perbaikan manajemen peternakan agar emisi yang dihasilkan dapat ditekan.

Tabel 18. Emisi Total dalam Satuan Gg CO2 Tiap Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2008 Menggunakan Model I dan Model II

No Kabupaten/Kota Emisi Total dalam Gg CO2

Model I Model II 1 Kab. Bogor 177,33 221,66 2 Kab. Sukabumi 205,13 243,99 3 Kab. Cianjur 167,52 213,24 4 Kab. Bandung 171,10 253,34 5 Kab. Garut 272,70 332,60 6 Kab. Tasikmalaya 147,67 196,33 7 Kab. Ciamis 168,48 220,47 8 Kab. Kuningan 81,31 118,14 9 Kab. Cirebon 56,16 61,79 10 Kab. Majalengka 87,89 104,19 11 Kab. Sumedang 125,11 187,96 12 Kab. Indramayu 102,64 120,09 13 Kab. Subang 150,01 191,23 14 Kab. Purwakarta 227,84 257,86

53 15 Kab. Karawang 502,59 525,56 16 Kab. Bekasi 124,73 147,49 17 Kota Bogor 10,29 12,28 18 Kota Sukabumi 3,64 4,64 19 Kota Bandung 6,07 8,63 20 Kota Cirebon 1,91 2,41 21 Kota Bekasi 8,93 11,29 22 Kota Depok 14,30 18,00 23 Kota Cimahi 3,77 4,93 24 Kota Tasikmalaya 8,89 12,87 25 Kota Banjar 9,82 10,94 Jawa Barat 2.835,85 3.481,93

Tindakan Mitigasi yang Sudah Dilakukan Peternak Jawa Barat

Mitigasi merupakan tindakan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan untuk meningkatkan penyimpanan karbon dalam rangka mengatasi perubahan iklim. Mitigasi gas rumah kaca dari usaha peternakan antara lain: melakukan kontrol terhadap perubahan penggunaan lahan dari ekstensif ke intensif, perbaikan kualitas ternak secara genetik, perbaikan manajemen perkandangan dan peralatan serta perbaikan manajemen pakan, tanaman pakan ternak, dan pastura. Hal-hal yang dilakukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca antara lain dengan meningkatkan teknologi pakan, pengembangan spesies yang adaptif terhadap lahan marjinal, pengawetan/penyimpanan C dan N pada pastura dan tanah pertanian, meningkatkan tanaman peneduh dan tanaman pagar pada peternakan dan sistem rotasi pastura. Emisi yang dihasilkan dari proses fermentasi enterik dapat diturunkan dengan memperbaiki formulasi pakan yang ditunjang dengan teknologi pakan dan dengan manipulasi kondisi rumen.

Lanjutan Tabel 18.

No Kabupaten/Kota Emisi Total dalam Gg CO2

54 Berdasarkan hasil wawancara 33,33% peternak menggunakan mineral mix berupa urea molasses block dan tanaman legume yaitu kaliandra sebagai pakan tambahan. Suplementasi dengan UMB/Feed Block dapat meningkatkan efesiensi pencernaan fermentasi yang kemudian menurunkan produksi gas metana sampai 30-50% dari energi tercerna. Peternak memberikan pakan tambahan berupa mineral mix ketika ternak sakit dan dapat digunakan untuk menggemukkan ternak ataupun ketika ingin menambah produksi susu ternak. Peternak PT. Lembu Jantan Perkasa memberikan tambahan berupa kapur dan mineral mix berupa urea molasses block untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi potong.

Berdasarkan hasil wawancara 50% peternak sapi perah Pengalengan-Bandung memberikan pakan leguminosa berupa Kaliandra (Caliandra calotirtus). Alasan peternak menggunakan kaliandra sebagai pakan tambahan untuk memperbaiki produksi susu sapi. Kaliandra telah diperkenalkan sebagai tambahan pakan ternak oleh Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS) sejak tahun 1980. Kaliandra merupakan salah satu leuguminosa pohon atau semak yang memiliki beberapa spesies, satu diantaranya yang paling banyak dikenal adalah jenis kaliandra bunga merah (Calliandra calothyrsus). Peternak umumnya memberikan daun kaliandra dalam bentuk segar karena lebih disukai ternak, tetapi kadang kala dilayukan dahulu untuk menurunkan kadar tanninnya (Jayadi, 1991). Kadar tannin pada daun kaliandra cukup tinggi yaitu sekitar 8% sehingga peternak disarankan untuk melayukan daun kaliandra sebelum diberikan ke ternak. Mekanisme penghambatan produksi metan pada ternak ruminansia oleh senyawa tannin digagas oleh Tavendale et. al (2005) yakni: secara langsung melalui penghambatan pada pencernaan serat yang mengurangi produksi H2 dan secara tidak langsung yaitu dengan menghambat pertumbuhan dan aktivitas metanogen. Menurut penelitian Thalib (2004) tannin dapat mengurangi produksi gas metan. Semakin tinggi konsentrasi tannin maka produksi CH4 akan menurun. Selain itu daun kaliandra merupakan protein baik bagi ternak ruminansia karena mengandung 20%-25% protein kasar yang sangat bermanfaat bagi peningkatan produktivitas ternak. Selain digunakan sebagai hijauan pakan ternak, kaliandra juga banyak dimanfaatkan sebagai kayu bakar, produksi lebah madu, dan untuk konservasi lahan marginal. Kebanyakan tanaman kaliandra

55 dimanfaatkan sebagai tanaman untuk konservasi tanah marginal seperti tepi sungai, hutan, jalan, atau daerah lahan kritis yang ditumbuhi alang-alang (Jayadi, 1991).

Feed Block Supplement (Urea Molasses Block/UMB) merupakan pakan

tambahan yang paling digemari oleh peternak karena dapat meningkatkan produktivitas ternak. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya pertambahan bobot badan dan produksi susu. Biasanya UMB diberikan dalam bentuk permen di mana ternak akan menjilat-jilat permen yang digantung ketika sapi merasa membutuhkan suplemen pakan. Ternak membutuhkan suplemen pakan ketika kualitas pakan kurang dari kebutuhan hidupnya. Penggunaan multinutrient block merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kecernaan pakan ternak ruminansia, khususnya pada musim kemarau yang berkepanjangan. Multinutrient block ini mengandung urea, mineral, dan kadang-kadang diberi protein by-pass (Tolleng, 2002). Hartati (1998) melaporkan bahwa pemberian urea dapat menurunkan emisi gas metana dari 0,84 kg menjadi 0,126 kg per kg PBB. Selanjutnya dijelaskan bahwa, dari berbagai laporan hasil uji coba di berbagai negara, dapat dilihat bahwa pakan blok ini dapat meningkatkan produktivitas maupun tingkat reproduksi pada ternak ruminansia. Dari aspek produksi, blok ini dapat meningkatkan pertambahan bobot badan, dan produksi susu. Dari aspek reproduksi, blok ini dapat mempercepat munculnya berahi pertama setelah melahirkan dan dapat meningkatkan angka kebuntingan.

Sekitar 83,33% peternak yang diwawancarai telah melakukan tindakan mitigasi dengan memanfaatkan kotoran ternak menjadi pupuk kandang sedangkan yang memanfaatkan kotoran ternak menjadi bahan baku biogas sekitar 66,67%. Sebenarnya dengan membiarkan begitu saja di kandang, dalam waktu tertentu, kotoran ternak akan berubah menjadi pupuk kandang (Setiawan, 1996). Pemanfaatan kotoran ternak dijadikan pupuk kandang terdiri dari dua jenis yaitu pupuk kandang dengan kompos ekstensif (secara periodik/jarang) dan pupuk kandang dengan kompos intensif (setiap hari). Pemanfaatan kotoran ternak menjadi pupuk kandang dapat mengurangi emisi metan dan dinitrogen oksida karena pupuk kandang merupakan upaya untuk menjaga kandungan bahan organik dalam tanah. Selain itu kotoran ternak dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku biogas dikarenakan kotoran ternak dominan akan bahan organik. Limbah organik ini dengan pengolahan

56 teknologi sederhana dapat diupayakan menghasilkan gasbio, dimana gas ini dapat digunakan sebagai bahan bakar menggunakan kompor gas seperti lazimnya pemanfaatan gas LPG (Setiawan, 1996). Menurut Harahap et al. (1978) produksi gasbio dapat digunakan untuk memasak, penerangan, menyeterika dan mejalankan lemari es. Berdasarkan hasil wawancara, selain dimanfaatkan sebagai bahan bakar, biogas juga dimanfaatkan sebagai penerangan.

57 KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan nilai emisi metan (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O) di Provinsi Jawa Barat Tahun 2004-2008. Model yang paling detail adalah model II yaitu perhitungan emisi berdasarkan klasifikasi populasi ternak dan bangsa ternak. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan bahwa perhitungan menggunakan model II (enhanced) menghasilkan emisi 3.481,8 Gg CO2 lebih tinggi daripada menggunakan model I (default IPCC) 2.835,8 Gg CO2. Emisi Metan (50,1% pada model I dan 59,6% pada model II) memiliki persentase lebih tinggi daripada emisi dinitrogen oksida (49,9% pada model I dan 40,4% pada model II). Jenis ternak di Provinsi Jawa Barat yang menghasilkan emisi tertinggi adalah ternak domba (1.211,5 Gg CO2 pada model I dan model II) dan penghasil emisi terendah adalah ternak babi (3,7 Gg CO2 pada model I dan model II). Kabupaten tertinggi penghasil emisi adalah Kabupaten Karawang yaitu sebesar 502,59 Gg CO2 (pada model I) dan 525,56 Gg CO2 (pada model II) sedangkan emisi terendah dimiliki oleh Kota Cirebon yaitu sebesar 1,91 Gg CO2 (pada model I) dan 2,41 Gg CO2 (pada model II). Tindakan mitigasi yang telah dilakukan peternak di Provinsi Jawa Barat mayoritas dilakukan dengan memperbaiki kualitas pakan antara lain dengan penambahan leguminosa salah satu contohnya Kaliandra dan suplemen berupa UMB (Urea Molasses Block) selain itu manur digunakan sebagai bahan baku biogas.

Saran

Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan perhitungan emisi yang dihasilkan oleh sektor peternakan terutama yang masih menggunakan koefisien dari default-IPCC seperti nilai perkiraan N untuk tiap jenis ternak, persentase digestable energy (%DE) dari tiap jenis ternak dan data-data lainnya sehingga didapatkan nilai emisi yang paling benar. Selanjutnya ketika didapatkan nilai emisi maka dilakukan tindakan mitigasi sesuai dengan emisi yang dihasilkan.

58 UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam berkat nikmat iman, rahmat, dan ridhoNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Rasa syukur disampaikan karena dalam penyusunan Skripsi ini, penulis dapat menyelesaikannya tepat waktu sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Penulis tidak lupa menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih kepada beberapa pihak yang telah dengan sukarela dan ikhlas membantu dalam penyusunan skripsi ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Allah SWT yang memiliki segala isi di jagat raya ini dan berkat rahmat dan ridho-Nya pula penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

2. Keluarga tercinta, Papa terbaik Mardi Santoso dan Mama tersayang Endang Sulistyowati yang telah melahirkan seorang anak dengan penuh kasih sayang, selalu memberikan motivasi, dan do’a yang tiada henti-hentinya. Kepada kakak-kakak perempuan penulis tersayang Ema Wita Eka Pratiwi dan Prettalysa Mega Fathawati dan adik lelaki penulis tersayang Rahmat Agung Arya Nata yang secara tidak langsung memberi semangat dan do’a dari jauh demi kelancaran studi penulis di IPB.

3. Dr. Ir. Idat Galih Permana M.Sc, Agr selaku dosen pembimbing akademik dan pembimbing skripsi atas curahan perhatian dalam membimbing, mengarahkan, mendidik, memberi motivasi, serta semangat kepada penulis agar dapat menyusun skripsi dengan baik dan dapat menyelesaikan tepat pada waktunya. 4. Dr. Ir. Suryahadi DEA sebagai dosen pembimbing skripsi atas pengarahan dan

perhatiannya sehingga membantu penulis untuk menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

5. Keluarga besar dari bapak dan ibu yang selalu memberikan do’a, motivasi, pujian, dan kasih sayang kepada penulis dalam menyelesaikan studinya.

59 6. Kepada Perdana Abdillah il mio angelo custode yang selalu memberikan do’a, semangat, motivasi, nasehat, kasih sayang dan segala perhatiannya kepada penulis.

7. Kepada Mas Derik, Mas Wahyu, Mas Urip, Mas Taswi, Mas Deni, Dendy, Danar yang selalu memberikan penulis inspirasi, semangat, dan motivasi.

8. Anggota SISPENA (Siswa Pecinta Alam SMA N 1 Jember) Angkatan 21, 27, 28, 29 dan 30 yang memberikan motivasi dan semangat kepada penulis.

9. Diah Irma Ayuningtyas yang selalu memberikan motivasi, do’a, dan bantuan materi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Serta teman-teman kosan As-Sakinah yaitu Sinta, Sumisih, Mbak Fahmi, Mbak Rika, Mbak Arin, Mbak Santi, Mbak Midha, Wiwit, Ana, Gebbi, Dina, Fitri, Iriana, Nenah, Aci, Mar’ah, Irma, Nita dan lainnya yang selalu memberikan motivasi, semangat, dan keceriaan kepada penulis.

10. Teman-teman Antrax 44 yang memberikan perhatian dan semangat kepada penulis.

11. Segala pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan masukkannya. Akhir kata, semoga penulisan skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya.

60 DAFTAR PUSTAKA

Asman, W.A.H., M.A. Sutton, & J.K. Schjoerring. 1998. Ammonia: Emission, atmospheric transport and deposition. New Phytol. 139: 27-48.

Brown, J.R., M. Christy, & G.S. Smith. 2004. Nitrateinsoils and plants. University of Missouri. http://extension.missouri.edu/. [30 Maret 2011]

Badan Pusat Statistik Jawa Barat. 2005. Buku Saku Statistik Jawa Barat Tahun 2004. Badan Pusat Statistik. Bandung.

Badan Pusat Statistik Jawa Barat. 2006. Buku Saku Statistik Jawa Barat Tahun 2005. Badan Pusat Statistik. Bandung.

Badan Pusat Statistik Jawa Barat. 2007. Buku Saku Statistik Jawa Barat Tahun 2006. Badan Pusat Statistik. Bandung.

Badan Pusat Statistik Jawa Barat. 2008. Buku Saku Statistik Jawa Barat Tahun 2007. Badan Pusat Statistik. Bandung.

Badan Pusat Statistik Jawa Barat. 2009. Buku Saku Statistik Jawa Barat Tahun 2008. Badan Pusat Statistik. Bandung.

Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. 2009. Populasi ternak di Indonesia Tahun 2004-2008. Badan Pusat Statistik. Jakarta.

Crutzen, P.J, I.Aselmann, & W. Seiler. 1986. Methane production by domestic animals, wild ruminants, other herbivorous fauna, and humans. Tellus. 38B:271-284.

Deborah, B, D. Gibb & J. H. Martin. 2006. Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories. Emissions from Livestock and Manure Management. Washington, D.C.

Dinas Peternakan Bogor. 2007. Buku Saku Populasi Ternak Kerbau Rawa. Bogor. Dinas Peternakan Tasikmalaya. 2004. Buku Saku Populasi Ternak Sapi Potong.

Tasikmalaya.

Djaja, W, S. Kuswaryan, & U. H. Tanuwiria. 2007. Efek substitusi konsentrat oleh daun kering kaliandra dalam ransum sapi perah terhadap kuantitas dan kualitas susu, bobot badan, dan pendapatan peternak. Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran Jatinangor, Bandung.

European Environmental Agency. 2002. Atmospheric Emission Inventory Guidebook. Copenhagen.

61 European Environmental Agency. 2004. About Air Pollution. Rome.

Forest Resources Assessment. 2006. Statistical Database. Caracalla, Rome, Italy. http://www.fao.org.[ 24 September 2010 ]

Harahap F. M., Apandi, & S. Ginting. 1978. Teknologi Gasbio. Pusat Teknologi Pembangunan Institut Teknologi Bandung, Bandung.

Hartati, E. 1998. Suplementasi minyak lemuru dan zeng ke dalam ransum yang mengandung silase pod kakao dan urea untuk memacu pertumbuhan Sapi Holstein jantan. Disertasi Program Pascasarjana, IPB, Bogor.

Hooier, A., M. Silvius, H. Wosten, & S. Page. 2006 . Peat-CO2, assessment of CO2 emissions from drained peatlands in SE Asia. Delft Hydraulics report Q3943:29

IPCC Expert Group. 1997. Revised IPCC guidelines for national greenhouse inventories. IPCC/OECD/IEA. Paris.

IPCC. 2001. Climate Change 2001: Mitigation of Climate Change. Contribution of Working Group III to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change Cambridge. University Press, Cambridge, United Kingdom and New York. http://www.ipcc.ch. [ 24 September 2010]

IPCC. 2007. Climate Change 2007: Mitigation of Climate Change. New York. Intergovermanental Panel on Climate Change (IPCC). 2009. Emissions From

Livestock and Manure Management. New York.

Jayadi, S. 1991. Tanaman Makanan Ternak Tropika. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Kasryno, F., P. Simatupang, I.W. Rusastra, A. Djatiharti, & B. Irawan. 1989. Government policies and economic analysis of the livestock commodity System. J. Agr. Eko. 8(1): 1-36.

Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS). 2011. Data bobot badan ternak sapi perah KPBS. Pengalengan. Bandung.

Mide, M. Z. 2002. Teknik pembuatan urea molasses multinutrient block (UMMB). Makalah kursus singkat penggunaan teknologi radio-immunoassay (RIA) dan urea molasses multinutrient block (UMMB) dalam biologi reproduksi ternak. Kerjasama Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, Makassar. Mimuroto, Y. & K. Koizumi. 2003. Global warming abatement and coal supply and

62 Monteny, G.J. & J.W. Erisman. 1998. Ammonia emissions from dairy cow buildings: A review of measurement techniques, influencing factors and possibilities for reduction. Neth. J. Agric. Sci. 46: 225-247.

Ridwan. 2010. Jenis-jenis sapi potong. http://cahayaaqiqah.com. [2 Februari 2011] Risnandar, S.T. 2008. Mengenal IPCC (Intergovernmental Panel on Climate

Change). http://kehutanan.risnandarweb.com/. [ 24 September 2010 ]

Robbani, A.R. 2009. Karakteristik fenotipik kerbau rawa (Swamp Buffalo) di Kabupaten Bogor. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Setiawan, A. I., 1996. Memanfaatkan Kotoran Ternak. Penebar Swadaya. Jakarta. Setiawan, E. 2005. Analisis finansial usaha pemanfaatan limbah ternak sebagai

pupuk organik bokashi (Studi Kasus di Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya Antanan, Desa Cimande, Kec. Caringin, Bogor). Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sihombing, D.T.H. 2000. Teknik Pengelolaan Limbah Kegiatan/Usaha Peternakan. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Simbaya, J. 2002. Potential of fodder tree/shrub legumes as a feed resource for dry season supplementation of smallholder ruminant animals. Proceedings of Development and Field Evaluation of Animal Feed Supplementation Packages. IEFA Technical Co-operation Regional AFRA Project organized by the Joint FAO/IAEA Division of Nuclear Techniques in Food and Agriculture and held in Cairo. Egypt.

Sirait, C.H. 1991. Penggunaan susu sapi Fries Holland untuk pembuatan dadi suatu produk susu olahan tradisi Sumatera Utara. Disertasi. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Soejono, M, E. Sutariningsih, P. Basuki, R. Utomo & Harsoyo. 1990. Pengaruh amoniasi urea jerami padi terhadap kotoran sapi untuk produksi gas metan. PAU-Bioteknologi UGM, Yogyakarta.

Sugiyono, A. 2006. Penanggulangan pemanasan global di sektor pengguna energi. J. Sains & Tek. Mod. Cuaca. 7(2): 15-19.

Suryahadi, A.R. Nugraha, A. Bey, & R. Boer. 2002. Laju konversi metan dan faktor emisi metan pada kerbau yang diberi ragi tape lokal yang berbeda kadarnya

63 yang mengandung Saccharomyces cerevisiae. Ringkasan Seminar Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Susilorini, T.E, M.E. Sawitri, & Muharlien. 2008. Budidaya 22 Ternak Potensial. Swadaya. Jakarta.

Tangdilinting, F. K. 2002. Pakan Tambahan (Supplement). Makalah Kursus Singkat Penggunaan Teknologi Radioimmunoassay (RIA) dan Urea Molasses Multinutrient Block (UMMB) dalam Biologi Reproduksi Ternak. Kerjasama Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, Makassar.

Tavendale, M.H, L.P. Meagher, D. Pacheco, N. Walker, G.T. Attwood & S. Sivakumaran. 2005. Methane production from in vitro rumen incubation with Lotus pedunculatus and Medicago sativa, and effects of extractable condensed tannin fractions on methanogeneisi. Anim. Feed Sci. Technol. 123/124: 403-419.

Thalib, A. 2004. Uji efektivitas saponin buah Sapindus rarak sebagai inhibitor metanogenesis secara in vitro pada sistem pencernaan rumen. J. Ilmu Ternak Veteriner, 9(3): 164- 171.

Tolleng, A.L. 2002. Perbaikan tingkat reproduski ternak ruminansia di daerah tropis melalui supplementasi pakan urea multinutrient molasses block (UMMB). Makalah Kursus Singkat Penggunaan Teknologi Radioimmunoassay (RIA) dan Urea Molasses Multinutrient Block (UMMB) dalam Biologi Reproduksi Ternak. Kerjasama Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, Makassar.

Wilkie, A. C., 2000. Anaerob Digestion : Holistic vioprocessing of animal manures. in proceeding of the animal residuals management coference. p.1-12. Virginia.

Woodbury, J.W. & A. Hashimoto, 1993. Methane emissions from livestock manure in international methane emissions. US Environmental Protection Agency, Climate Change Devision. Washington, D.C.

64 LAMPIRAN

65 Lampiran 1. Pohon Keputusan untuk Karakterisasi Populasi Ternak

Keterangan :

1: Kategori ini meliputi: Emisi CH4 dari fermentasi enterik, emisi CH4 dari manajemen manur (kotoran ternak), dan Emisi N2O dari manajemen manur (kotoran ternak).

2: Volume 1 Lihat Bab 4,”Metodologi Pilihan dan Identifikasi Kategori Kunci” (mencatat Bagian 4.1.2 pada sumber daya terbatas), untuk diskusi tentang kategori kunci dan penggunaan pohon keputusan.

Box 1 : Tier 1 (default-IPCC)

Tidak Tidak Ya Ya Box 2 : Model 2 Ya

Sumber : B, Deborah . D. Gibb , and J. H. Martin (2006)

Mulai

Identifikasi spesies ternak yang berlaku untuk setiap kategori

Identifikasi, menggunakan default-IPCC atau enhanced untuk masing-masing spesies

ternak berdasarkan tombol kategori analisis2

Tinjauan nilai emisi dari metode emisi untuk masing-masing

kategori1

Meminta tiap kategori spesies ternak : data yang tersedia dapat memenuhi

data yang dibutuhkan dalam Program Dapatkah data yang akan dikumpulkan mendukung tingkat karakterisasi?

Mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk mendukung karakterisktik tersebut. Melakukan karakterisasi

yang diperlukan pada tingkat yang lebih detail

Mengatur tingkat karakterisasi dengan data

66 Lampiran 2. Pohon Keputusan Emisi CH4 dari Fermentasi Enterik

Ya

ya

tidak Box 3 : Model 3

tidak

Tidak

Box 1 : Model 1

ya

Box 2 : Model 2 Keterangan :

1: Lihat Volume 1 Bab 4, "Metodologi Pilihan dan identifikasi Kategori Kunci" (mencatat Bagian 4.1.2 pada sumber daya terbatas), untuk diskusi tentang kategori kunci dan penggunaan pohon keputusan.

2: Sebagai aturan praktis, sebuah spesies ternak akan signifikan jika menyumbang 25-30% atau lebih dari emisi dari sumber kategori.

Sumber : B, Deborah . D. Gibb , and J. H. Martin (2006)

Mulai

Apakah data tersedia dengan detail untuk menggunakan

model III (enhanced)

Perkirakan emisi untuk tiap spesies ternak dengan menggunakan pendekatan

Model III Apakah ternak yang

ditingkatkan karakteristiknya tersedia?

Apakah fermentasi enterik merupakan sebuah kategori1 kunci dan merupakan spesies

yang signifikan2?

Koleksi data karakteristik populasi ternakyang dikembangkan untuk

pendekatan Model II

Perkirakan emisi untuk tiap spesies ternak menggunakan

pendekatan Model 2

Perkiraan emisi untuk tiap spesies ternak menggunakan pendekatan

67 Lampiran 3. Pohon Keputusan untuk Emisi CH4 dari Manajemen Manur

Ya

tidak Box 3 : Tier 3

tidak

ya (semua atau beberapa) ya

tidak

Box 2 : Model 2 Box 1 : Model 1

Keterangan :

1: Lihat Volume 1 Bab 4, "Metodologi Pilihan dan identifikasi Kunci Kategori" (mencatat Bagian 4.1.2 pada sumber daya terbatas), untuk diskusi tentang kategori kunci dan penggunaan pohon keputusan.

2: Sebagai aturan praktis, sebuah spesies ternak akan signifikan jika menyumbang 25-30% atau lebih dari emisi dari sumber kategori.

Sumber : B, Deborah . D. Gibb , and J. H. Martin (2006)

Mulai

Apakah pengguna program mempunyai data yang spesifik

untuk tiap spesies ternak menggunakan model III?

Apakah data karakterisasi populasi ternak tersedia dalam Model II dan apakah pengguna program memiliki data

daerah tertentu terhadap nilai VS, nilai MCF, nilai-nilai Bo dan data sistem

manajemen manur?

Apakah CH4 dari manajemen manur merupakan kategori1sumber

utama dan merupakan data yang signifikan dari emisi-emisi2 ?

Perkirakan emisi dengan menggunakan model III

Koleksi data untuk metode

Dokumen terkait