• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Keadaan Umum Desa Reksosari

1. Keadaan Geografis

Desa Reksosari adalah sebuah desa yang berada di Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang yang terletak di sebelah timur Kota Kecamatan Suruh dan hanya berjarak dua km dari kantor kecamatan. Luas wilayah Desa Reksosari sekitar 505.935 Ha, terletak pada ketinggian 581 meter diatas permukaan air laut dan memiliki batas wilayah sebagai berikut :

a. Sebelah Barat Desa Suruh

b. Sebelah Utara Desa Krandon Lor

c. Sebelah Timur Desa Medayu

d. Sebelah Selatan Desa Purworejo

Desa ini tergolong desa yang sangat maju.Hal ini dapat dilihat dari sistem pemerintahan desa yang telah maju dan memiliki berbagai macam fasilitas mulai dari sarana olahraga, sosial hingga pendidikan.Desa Reksosari memiliki 6 dusun, yang terdiri dari :

a. Dusun Reksosari b. Dusun Karangsalam c. Dusun Bawangan d. Dusun Kepundung

e. Dusun Banjarsari f. Dusun Ngayon

Secara umum kondisi Desa Reksosari secara geografis dapat digambarkan sebagai berikut :

Tabel 3.1

Jarak GeografisDesa Reksosari

No Indikator Sub Indikator

1. Ke Gunung 25 Km 2. Ke Laut 60 Km 3. Ke Sungai 1 Km 4. Ke Pinggiran Hutan 35 Km 5. Ke Pasar 2 Km 6. Ke Pelabuhan 60 Km 7. Ke Bandara 60 Km

8. Ke Stasiun Kereta Api 60 Km

9. Ke Terminal 7 Km 10. Ke Tempat Hiburan 15 Km 11. Ke Tempat Wisata 30 Km 12. Ke Kantor Kecamatan 2 Km 13. Ke Kantor Polisi 2 Km 14. Ke Kantor Koramil 2 Km 15. Ke Kantor Kabupaten 40 Km

16. Ke Kantor Provinsi 60 Km

Tabel 3.2

Letak Geografis Desa Reksosari

No Indikator Sub Indikator

1. Kawasan Hutan Rakyat Tidak 2. Kawasan Peternakan Ada 3. Kawasan Industri Kecil Tidak 4. Kawasan Perbukitan Ada 5. Kawasan Persawahan Ada

2. Keadaan Dermografis

Berdasarkan data terakhir tahun 2017, Desa Reksosari merupakan desa yang padat penduduknya yakni mencapai 6,387 jiwa, terdiri dari 3,184 jiwa penduduk laki-laki dan 3,203 jiwa penduduk perempuan. Sedangkan jumlah kepala keluarga sebanyak 2,070 kk (Data tahunan Desa Reksosari tahun 2017).

Tabel 3.3

Jumlah Penduduk Desa Reksosari Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2017

No Rw Laki-Laki Perempuan Jumlah

1. 001 807 812 1619 2. 002 505 515 1020 3. 003 373 365 738 4. 004 733 723 1456 5. 005 587 609 1196 6. 006 178 174 352 7. 008 1 3 4 Jumlah 6387

Sumber : Data Tahunan Desa Reksosari (diambil,01 Januari 2018)

Dari tabel diatas dapat dilihat Jumlah Penduduk yang paling banyak yaitu di RW 001 sebanyak 1619 jiwa.Rw 002 menempati urutan keempat yaitu sebanyak 1020 jiwa.Rw 003 menempati urutan kelima yaitu sebanyak 738.Rw 004 menempati urutan yang kedua sebanyak 1456 jiwa.Rw 005 menempati urutan ketiga sebanyak 1196 jiwa.Rw 006 menempati urutan keenam sebanyak 352 jiwa.Rw 008 menempati urutan yang terakhir yaitu sebanyak 4 jiwa.

3. Keadaan Sosial Ekonomi

Dari segi sosial dan ekonomi masyarakat Desa Reksosari mayoritas profesinya sebagai wiraswasta dan karyawan swasta yang berjumlah 1242 dan 1101 orang.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 3.4

Jumlah Penduduk Desa Reksosari Berdasarkan Pekerjaan Tahun 2017

No Pekerjaan Jumlah

1. Mengurus Rumah Tangga 412 2. Pelajar / Mahasiswa 903

3. Pensiunan 47

4. Pegawai Negeri Sipil 72 5. Tentara Nasional Indonesia 7

6. Kepolisian RI 5 7. Perdagangan 51 8. Petani / Pekebun 694 9. Peternak 1 10. Konstruksi 1 11. Karyawan Swasta 1.101 12. Karyawan BUMN 2 13. Karyawan BUMD 1

14. Karyawan Honorer 1 15. Buruh Harian Lepas 363 16. Buruh Tani / Perkebunan 17

17. Tukang Batu 1 18. Dosen 1 19. Guru 47 20. Perawat 1 21. Pedagang 1 22. Perangkat Desa 10 23. Wiraswasta 1242 Jumlah 4981

Sumber : Data Tahunan Desa Reksosari (diambil, 01 januari 2018)

4. Keadaan Sosial Pendidikan

Pendidikan merupakan sarana yang terpenting dalam setiap daerah, karena dengan memiliki sarana pendidikan dapat mengasah ilmu pengetahuan yang sebelumnya belum diketahui.Adanya pendidikan mampu untuk merubah rendahnya pola pikir di dalam masyarakat, karena itu sarana pendidikan dapat meningkatkan taraf kehidupan masyarakat untuk lebih baik lagi.

Masyarakat Desa Reksosari sebagian besar pendidikannya hanya sampai tamatan Sekolah Dasar (SD), namun sekarang sudah banyak tingkat kelulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas(SMA) sudah lumayan banyak. Dan juga

banyak sebagian masyarakat yang sudah meneruskan jenjang pendidikan D1, D2, D3 maupun S1 dan S2.

Tabel 3.5

Jumlah Penduduk Desa Reksosari Berdasarkan Pendidikan Tahun 2017 No Pendidikan Jumlah 1. SD 1.859 2. SLTP 1.138 3. SLTA 1.242 4. DIPLOMA I / II 13

5. DIPLOMA III / S. MUDA 52 6. DIPLOMA IV / STRATA I 184

7. STRATA II 10

Jumlah 4498

Sumber :Data Tahunan Desa Reksosari (diambil, 01 Januari 2018)

5. Keadaan Sosial Keagamaan

Seluruh penduduk yang ada di Desa Reksosari mayoritas memeluk agama Islam.Desa Reksosari memiliki masjid sebagai sarana tempat beribadah dan kegiatan kegamaan lainnya seperti memperingati hari-hari besar Islam seperti Isra‟ Mi‟raj, Maulud Nabi Muhammad

Tabel 3.6

Jumlah Penduduk Desa Reksosari Berdasarkan Agama Tahun 2017 No Agama Jumlah 1. ISLAM 6.378 2. KRISTEN 8 3. KATHOLIK 1 4. HINDU 0 5. BUDHA 0 6. KHONGHUCU 0 Jumlah 6387

Sumber :Data Tahunan Desa Reksosari (diambil, 01 Januari 2018)

B. Praktek Jual Beli Bibit Lele dengan sistem takaran di Desa Reksosari

Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang

Dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak lepas dengan adanya suatu persoalan-persoalan sehingga manusia saling membutuhkan dan saling menolong antara yang satu dengan yang lainnya untuk memenuhi kebutuhan dirinya demi mempertahankan kehidupannya. Dalam usaha untuk memenuhi kebutuhannya, manusia tidak dapat melakukan secara perseorangan melainkan membutuhkan bantuan orang lain. Menurut Aristoteles menyebutkan dalam ajarannya bahwa manusia itu adalah zoon politicon artinya bahwa manusia itu sebagai makhluk yang

pada dasarnya selalu ingin bergaul dan berkumpul sesama manusia yang lain, maka manusia sebagai makhluk sosial (C.S.T. Kansil, 1989 : 29).

Jual beli bibit lele di Desa Reksosari Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang dilakukan oleh sebagian masyarakat Desa Reksosari sebagai usaha sampingan untuk tambahan agar terpenuhinya seluruh kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka menggunakan sisa tanah yang ada disamping rumah atau halaman yang tidak terpakai kemudian mereka manfaaatkan untuk membuat kolam sederhana yang digunakan untuk pembibitan maupun pembesaran bibit lele. Kesepakatan atau perjanjiannya dilakukan secara lisan tanpa adanya catatan atau kwitansi karena akad atau jual beli tersebut dilaksanakan dengan kesepakatan atau persetujuan bersama yaitu saling percaya. Adapun hasil wawancara dan observasi penulis adalah sebagai berikut :

1. Penjual

Dalam penelitian ini terdapat beberapa informan atau narasumber terkait jual beli bibit lele dengan sistem takaran di Desa Reksosari Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang. Ada 4 narasumber atau informan antara lain :

Tabel 3.7

Daftar Penjual Bibit Lele di Desa Reksosari Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang

No Nama Penjual Umur

1. Bapak Febri 45 tahun

2. Bapak Heri 48 tahun

3. Bapak Bayu 37 tahun

4. Bapak Din 50 tahun

Dalam wawancara yang dilakukan dengan Bapak Febri pada hari minggu (7/1), beliau memulai usaha pembibitan mulai tahun 2017, usaha ini merupakan hobi yang sangat menghasilkan modalnya sedikit dan hasilnya cukup lumayan banyak.Beliau mendapatkan bibit lele dari indukan lele dari pertanian magelang. Selain itu perawatannya pun cukup mudah, menurut beliau bibit lele siap dijual ketika bibit itu sudah berumur 5-6 minggu dan dijualnya pun tidak menentu jumlahnya dan bibit tersebut diambil oleh para petani. Dalam jual belinya walaupun menggunakan sistem takaran tetapi harganya dihitung per ekor karena untuk mempermudah proses perhitungan ketika pembeli membeli dalam jumlah banyak. Takaran pertama nanti buat patokan takaran-takaran selanjutnya.Masalah harga sesuai dengan ketentuan dan harga tidak bisa ditawar serta transaksinya pun harus ditempat.

Gambar 3.1 indukan lele

Dalam wawancara yang dilakukan dengan Bapak Heri pada hari minggu (7/1), beliau adalah seorang Buruh yang memiliki usaha jual bibit lele.Usaha ini dimulai sejak 1 tahun yang lalu, disamping senang dengan usaha ini hasilnya juga lumayan kalau dihitung secara bisnis.Untuk mendapatkan bibit lele, beliau harus mencari indukan lele jantan dan betina itupun harus yang berkualitas, sehat dan bermutu.Lele yang siap dijual biasanya kira-kira 2 bulan dengan ukuran 4-6 atau 5-7.Jual belinya biasanya ditelpon dari pihak penjual kemudian tengkulak datang.Dalam waktu 2 bulan biasanya bisa menjual bibit lele sebanyak 6000 ekor.Biasanya kendala dalam jual beli bibit lele ini pada resiko perawatan bebit lele, terkadang ada lele yang sehat dan ada yang sakit dan menyebabkan kerugian jika ada lele yang mati. Harga lele tergantung dengan ukuran, biasanya dari tengkulak ukuran bibit lele 3-5 harganya

@90 rupiah, ukuran 4-6 harganya @115 rupiah dan ukuran 5-7 harganya @140 rupiah.Untuk masalah harga jika langsung tengkulak harganya lebih murah dibandingka jika pembelinya warga sekitar atau luar. Dalam takarannya biasanya menggunaka gelas, semisal 1 gelasnya nanti isi 150 ekor nanti itu dijadikan acuan untuk jumlah takaran selanjutnya karena jika kita menggunakan takaran untuk mempermudah saat melakukan perhitungannya. Dan cara transaksinya dapat dilakukan dengan memesan atau mendatangi langsung ketempat penjualnya. Sebelum ditakar harus melalui proses penyaringan dulu menggunakan ember grading dengan tujuan agar bibit lele yang berukuran kecil maupun besar terpisah sesuai dengan ukuran ember.

Gambar 3.3 Ember Grading

Dalam wawancara yang dilakukan dengan Bapak Bayu pada hari minggu (7/1), beliau memulai usaha ini cukup lama sejak tahun 2015.Katanya usaha ini merupakan hobi yang menghasilkan walaupun modalnya dikit tapi untungnya sangat besar. Beliau mendapatkan bibit lele dengan cara mencari indukan jantan dan betina yang sehat kemudian ditaruh di air dengan ukuran bak 3x 2,5 cm tinggi medi air kira-kira 20 cm kemudian dikasih ijok kira-kira 2 kg. Ijoknya harus diikat dengan bambu.Selang satu malam, paginya sudah bertelur kemudian indukan diambil kemudian ijuknya dipindah dibeberapa bak yang sudah disediakan.1 indukan lele biasanya bertelur kira-kira 90.000 ekor.Selang 3 hari kemudian dikasih makan cacing sutra, pemberian cacing sutra selama kurang lebih 12 hari. Setelah 12 hari dikasih pellet atau monolis. Setelah itu dikasih pur sampai 2 bulan sampai bibit lele itu berukuran 5-7 dan siap untuk dijual.

Gambar 3.4 Ijuk yang diikatkan dengan bambu

Gambar 3.5 bibit lele yang siap dijual

Proses transaksi jual beli bibit ikan lele menggunakan takaran dengan alat yaitu gelas. Hasil wawancara dengan Bapak Bayu tentang sistem dan mekanisme takaran bibit lele terungkap bahwa cara

menghitung ukuran bibit ikan lele adalah dengan menggunakan ember grading sesuai bentuk ukuran yang berbeda-beda. Tujuan ember grading untuk mengelompokkan bibit ikan lele berdasarkan ukurannya serta untuk memenuhi ukuran-ukuran bibit yang diminati pembeli.

Biasanya pembeli sering membeli bibit lele dengan ukuran 5-7 tetapi ada juga yang membeli dengan ukuran 4-6.Saat melakukan penyaringan menggunakan ember grading biasanya ada beberapa bibit lele yang ikut dengan ukuran yang berbeda.Ketika membeli bibit lele kebanyakan dari yang sudah langganan tidak menghitung ulang karena mereka sudah saling percaya.

Dalam menakar bibit lele kepada konsumen (pembeli), menggunakan gelas sebagai alat menakar. Takaran pertama dihitung satu per satu bibit lele sedangkan takaran selanjutnya tidak dihitung lagi, karena pihak penjual menganggap jumlah takaran yang kedua atau takaran yang selanjutnya sama dengan takaran pertama, akan tetapi pihak penjual menambahkan sedikit bibit ikan lele jika sudah selesai ditakar dan penambahan itu dianggap sebagai antisipasi bahwa tidak terjadi suatu kekurangan dalam jumlah bibit ikan lele. Penjual dalam menakar bibit lele tidak menggunakan timbangan lagi. Konsumen (pembeli) yang berlangganan tidak ikut menyaksikan lagi disaat bibit lele ditakar dan dihitung oleh penjual, akan tetapi pihak yang berlangganan sudah menganggap sama-sama percaya dalam hitungan bibit lele. Akan tetapi

kepada pembeli yang tidak berlangganan, penjual memintanya untuk mendampingi dalam menakar dan menghitung bibit lele di tempat.

Dalam wawancara yang dilakukan dengan Bapak Din pada hari minggu (7/1), beliau memulai usaha pembibitan mulai tahun 2017, usaha ini mudah dan menguntungkan. Proses maupun cara mendapatkan lele itu membeli dari penjual yang lain. Kemudian tempat untuk bibit harus rajin selalu dibersihkan dan bibit lelenya harus dipisahkan sesuai dengan ukuran bibit lele.Biasanya pembeli membeli bibit berukuran 5-7.Kendala dalam jual beli bibit lele ini jika ada bibit lele yang mati.Kebanyakan yang membeli itu sudah langganan jadi antara penjual dan pembeli saling percaya saja.Jumlah bibit lele yang terjual tidak menentu.Dalam jual beli ini pernah ada perselisihan dalam hitungan tetapi disini dari penjual menambahkan satu takaran lagi semisal ada bibit saat perjalanan pulang mati atau sebagainya.Tetapi kebanyakan resiko yang terjadi ditanggung dari pihak pembeli. Dalam menentukan harga sesuai dengan kesepakatan, awalnya menggunakan hitungan per ekor namun karena jumlah pesanan yang banyak maka menggunakan sistem takaran yaitu untuk mempermudah dalam proses perhitungannya.

2. Pembeli (konsumen)

Terdapat 4 (empat) informan atau narasumber dari praktik jual beli bibit lele dengan sistem takaran di Desa Reksosari Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang antara lain sebagai berikut :

Tabel 3.8

Daftar Penjual Bibit Lele di Desa Reksosari Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang

No Nama Pembeli Pekerjaan

1. Bapak Jarwo Buruh

2. Bapak Agus Buruh

3. Bapak Tarto Petani

4. Bapak Iwan Wiraswasta

Dalam wawancara yang dilakukan dengan Bapak Jarwo pada hari minggu (7/1), beliau sering membeli bibit lele dan itupun sudah sebagai langganan tetap.Beliau biasanya membeli bibit lele sebanyak 6000 ekor.Dalam transaksinya biasanya dihitung kemudian di sampel sesuai dengan ukuran masing masing atau sesuai yang diinginkan.Semisal 1 ons ada 100 ekor nanti tinggal dikalikan sesuai harga per ekornya.Ketika sesampainya dirumah, saya tidak pernah menghitung ulang karena sudah langganan maka dari itu saya percaya saja.Ketika membeli bibit lele tidak sesuai jumlahnya ada pilasi kematian yaitu ada tambahan 1 takaran lagi.

Selanjutnya penulis mewawancarai Bapak Agus pada hari minggu (7/1), beliau biasanya memesan lele sebanyak 6000 ekor dengan ukuran lele 4-6 dan 5-7. Untuk proses pemesanan bibit lele Bapak Agus telepon ke penjual, beliau tidak mendampingi dalam melakukan takaran dan penghitungan jumlah bibit lele, akan tetapi dia juga sering melakukan

penghitungan kembali setelah bibit sampai ke tempat, terkadang dia juga mendapatkan jumlah bibit lele kurang dari jumlah pesanan. Dia juga pernah mengkomplain pihak penjual terhadap jumlah bibit yang kurang dan langsung menerima tanggapan serta bertanggung jawab atas jumlah yang kurang. Dulu pernah terjadi bibit yang kurang hanya sedikit akan tetapi dia tetap mengkomplain pihak penjual untuk menggantinya, dikarenakan sedikit dia bernegosiasi atau saling merelakan untuk dapat menggantinya pada tahap pemesanan selanjutnya. Di setiap pembelian atau pesanan bibit lele dia juga sering menghitung kembali dan pernah terjadi jumlah bibit lebih banyak dari pesanan.Terkadang juga pernah mengalami ada bibit ikan yang mati dan dia langsung memberitahukan kepada pihak penjual.Jika ada kekurangan dilakukan pilasi kematian yaitu adanya tambahan 1 kali takar.

Selanjutnya penulis mewawancarai Bapak Tarto pada hari minggu (7/1), beliau sering membeli bibit lele.Biasanya beliau membeli bibit tergantung dengan pesanan. Untuk transaksi menggunakan hitungan per ekor tetapi semisal kita membeli dalam jumlah banyak menggunakan sistem takaran dengan maksud untuk mempermudah dalam proses perhitungannya. Ketika bibit sudah sampai rumah terkadang saya menghitung ulang bibitnya, hanya memastikan jumlahnya sesuai tidak dengan yang kita beli.Jika ada kekurangan atau ada bibit yang mati itu nanti ada tambahan satu kali takaran lagi.

Selanjutnya penulis mewawancarai Bapak Iwan pada hari minggu (7/1), beliau sering membeli bibit lele dengan ukuran 5-7. Ketika membeli beliau langsung membeli ditempat dan melihat proses perhitungannya. Biasanya beliau membeli bibit lele tergantung dengan persediaan.Untuk masalah transaksi biasanya memakai hitungan perekor ketika membeli dalam jumlah sedikit tetapi ketika membeli dalam jumlah banyak memakai sistem takaran.Setelah selesai perhitungan biasanya ditambahkan 1 takaran lagi untuk menghindari jika ada kekurangan bibit lele atu kalau ada bibit lele yang mati.

Menurut Bapak SW selaku masyarakat setempat, beliau mengatakan bahwa jual beli bibit lele dengan sistem takaran tidak masalah antara penjual dan pembeli sepakat jual belinya itu sah, karena kedua belah pihak saling rela (wawancara dengan Bapak SW, kamis, 8 Februari 2018).

Begitu juga yang disampaikan oleh Bapak AT, sebenarnya saya tidak tahu boleh atau tidak jual beli dengan sistem tersebut tetapi selama itu menguntungkan bagi pembeli maupun penjual apa salahnya mereka saling menguntungkan (wawancara dengan Bapak AT, kamis, 8 Februari 2018).

Menurut Bapak JM, salah seorang tokoh agama di Desa Reksosari menyatakan bahwa jual beli bibit lele itu diperbolehkan asalkan tidak merugikan salah satu pihak yaitu antara penjual dan pembeli. Dan dalam

pelaksanaannya pun tidak ada kecurangan yang dapat menimbulkan perselisihan (wawancara dengan Bapak JM, kamis, 8 Februari 2018).

Menurut Bapak KH, beliau menyatakan bahwa jual beli bibit lele dengan sistem takaran tidak dibolehkan karena mengandung unsur yang dilarang oleh agama yaitu adanya ketidakpastian bibit dan jumlah bibit lelenya.

Berdasarkan wawancara diatas penulis menyimpulkan bahwa dalam hal ini para pihak yang berakad sepakat dan saling rela dalam jual beli bibit lele dengan sistem takaran.Sistem dan mekanisme takaran bibit lele yang dilakukan menggunakan ember grading dengan tujuan memisahkan bibit lele yang berukuran kecil dan besar.Dalam melakukan takaran menggunakan gelas sebagai alat untuk menakar bibit lele. Pada takaran pertama dihitung satu persatu sedangkan takaran selanjutnya tidak dihitung lagi, karena sudah dianggap sama jumlah takarannya. Tetapi setelah selesai menghitung semua diakhir ditambah lagi 1 takaran untuk antisipasi jika ada kekurangan bibit lele terhadap pihak pembeli.

Disini dalam pelaksanaan mereka menggunakan sistem takaran bukan perekor dan perhitungannya disesuaikan dengan takaran yang pertama. Padahal apabila menggunakan sistem takaran, jumlahnya belum tentu sama dengan jumlah takaran awal.

BAB IV

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP JUAL BELI BIBIT LELE

Dokumen terkait