• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIPLOMASI UTSMAN BIN AFFAN Utsman Bin Affan

Dalam dokumen Dr. Afzal Iqbal- Diplomasi Islam (Halaman 154-178)

Utsman bin Affan, adalah salah seorang sahabat Rasulullah yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Rasulullah. Ibunya, adalah sepupu Rasulullah. Sedangkan ayahnya adalah seorang pedagang yang sukses dan terpandang, dia meninggalkan harta warisan yang sangat banyak. Utsman pun adalah seorang pedagang bisnis yang cerdik, maka ia kembangkan harta warisan yang diterima dari ayahaya itu menjadi semakin banyak. Pada usianya yang ketigapuluh empat dia adalah salah seorang dari empat belas orang yang masuk Islam pertama kali. Islam diperkenalkan kepadanya oleh seorang saudagar kaya lainnya, Abu Bakar khalifah pertama, yang menjadi sahabat dekatnya. Dengan demikian ia adalah orang Bani Umayyah pertama yang pindah dari agama nenek moyangnya kepada Islam. Pamannya, Hakam bin Ash, sangat terpukul dengan keislamannya, maka ia mengikatnya dengan tali, dan bersumpah untuk tidak melepaskannya sampai dia kembali kepada kepercayaan lamanya. Utsman menghadapi siksaan itu dengan sabar dan tabah serta penuh keberanian dan keyakinan akan kebenaran Islam.

Dia menikah dengan Ruqayyah, putri Rasulullah dan melakukan hijrah ke Ethiopia bersama-sama rombongan kaum Muslimin yang hijrah untuk pertama kalinya ke wilayah Afrika tersebut. Isterinya, Ruqayyah, menderita sakit keras saat perang Badar. Rasulullah mengijinkannya untuk tidak ikut berperang dan tinggal di Madinah untuk merawat isterinya yang sakit. Rasulullah memberi jaminan kepadanya bahwa dia akan mendapat kedudukan yang sama dengan mereka yang ikut berperang ke Badar. Ruqayyah meninggal saat usianya dua puluh tahun akibat penyakit cacar.

Utsman memiliki kedudukan yang sangat istimewa karena menikah dengan dua putri Rasulullah. Setelah wafatnya Ruqayyah, Rasulullah menikahkan Utsman dengan anaknya yang lain, Ummu Kultsum, dan dia pun juga meninggal pada tahun sembilan Hijriyah, setelah melewati masa pernikahannya yang bahagia dan harmonis selama enam tahun setengah. Rasulullah sangat senang dengan akhlak Utsman hingga dia pernah mengatakan, "Andaikan saya memiliki sepuluh orang anak putri maka akan saya nikahkan dengan Utsman satu demi satu."

Utsman menggunakan kekayaan dan hartanya untuk kepentingan agama yang dia peluk. Pada saat hijrah ke Madinah, dia membeli sebuah sumur untuk kaum Muslinun yang saat itu belum bisa mengambil air yang bersih dan tawar. Pada saat ada panggilan jihad ke Tabuk, dan rakyat diminta agar mengumpulkan dana untuk mempersenjatai pasukan perang, Utsman mengeluarkan seribu keping emas, seribu unta, enam puluh kuda dan berbagai peralatan perang lainnya untuk kepentingan sepertiga dari jumlah tentara.

Pada saat Rasulullah ada di Hudaibiyah, Rasulullah mengutus dirinya sebagai utusan untuk menyampaikan pesan kepada kaum Quraisy bahwa kedatangan kaum Muslimin yang dipimpin Rasulullah adalah untuk berhaji dan dengan tujuan damai.

http://www.akhirzaman.info/

Hal. | 155 Ketika terdengar kabar bahwa orang-orang Quraisy telah membunuh Utsman

di Mekkah, seluruh kaum Muslimin yang berada di Hudaibiyah bersumpah untuk menuntut balas atas perlakukan mereka terhadap utusan Rasulullah tersebut. Dan mereka menyatakan sumpah setia itu di bawah sebatang pohon. Utsman saat itu berada di Mekkah, maka Rasulullah bertindak sebagai yang mewakilinya saat sumpah setia itu diambil dengan cara in-absentia, yaitu dengan mengangkat salah satu tangannya sebagai pengganti tangan Utsman dan membentangkan yang lain untuk mengambil sumpah setia dari para sahabatnya. Dia adalah satu-satunya kaum Muslimin yang mendapat perlakuan demikian terhormat dari Rasulullah.

Setiap hari Jum'at Utsman selalu membebaskan seorang budak. Dia menjalani hidupnya dengan jalan yang kudus, dan dia sangat terkenal dengan kebaikan dan kedermawanannya.

Utsman adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang mendapat jaminan langsung dari Rasulullah untuk masuk surga.1) Wasiat terakhir tentang pengangkatan Umar sebagai khalifah, ditulis oleh Utsman. Dia adalah orang pertama yang melakukan baiat kepada Umar. Dewan Musyawarah yang dibentuk Umar, memasukkan Utsman sebagai anggota terpandang.

---

1.) Abu Yusuf, Kitab Al-Kharaaj, Mesir, 1329 H., halaman 34 Pemilihan Utsman

Pada saat berada di atas pembaringannya, Umar telah membentuk Dewan Syura untuk memilih khalifah dari kalangan mereka sendiri. Dewan ini terdiri dari tujuh orang (penulis dalam bab ini memasukkan Abdullah bin Umar sedangkan pada bab sebelumnya tidak memasukkan, pent): Mereka adalah: (1). Utsman bin Affan (70 tahun), (2). Ali bin Abi Thalib (45 tahun), (3). Abdur Rahman bin Auf (69 tahun), (4). Thalhah bin Ubaidillah (40 tahun), (5). Zubair bin Awwam (43 tahun), (6). Sa'ad bin Abi Waqqash (43 tahun), dan (7). Abdullah bin Umar, salah seorang anggota termuda dan dikenal sebagai anak muda yang terpelajar dan berbudi.

Umar sebelum meninggal memberikan petunjuk prosedur pemilihan Khalifah sebagai berikut,

"Jika dua dari anggota dewan ini setuju kepada satu orang dan yang dua lagi setuju dengan yang lain maka Abdullah bin Umar hendaknya menjadi penengah. Dan kelompok yang Abdullah bin Umar berada bersamanyalah yang wajib menentukan pilihan khalifah di antara mereka. Jika mereka tidak menerima putusan Abdullah bin Umar, maka dukungan hendaknya diberikan kepada grup yang Abdur Rahman bin Auf berada di dalamnya. Jika mereka tidak setuju, maka diperbolehkan bagi mereka untuk memenggal kepala orang yang tidak setuju atas putusan tersebut. 1)

Umar memerintahkan Abdullah bin Umar, bergabung dengan kelompok mayoritas pada saat terjadi perselisihan di antara mereka, namun jika ketiga orang tersebut ada pada satu kelompok dan tiga yang lain berada berada pada kelompok

http://www.akhirzaman.info/

Hal. | 156 lain, maka dia disuruh bergabung dengan kelompok yang Abdur Rahman bin Auf

berada dengan kelompok itu.2)

Setelah Umar meninggal dunia, pertemuan diselenggarakan di ruangan isteri Rasulullah, Aisyah. Dan di muka pintu telah berdiri Abu Thalhah Al -Anshari dengan lima puluh orang yang lengkap dengan pedang di tangan mereka masing-masing, Thalhah memulai pertemuan itu, dan mengatakan bahwasanya dia memberikan suaranya untuk Utsman bin Affan. Sedangkan Zubair bin Awwam memberikan suaranya untuk Ali bin Abi Thalib. Sa'ad bin Abi Waqqash memberikan suaranya untuk Abdur Rahman bin Auf. Kini hanya ada tiga orang yang berhak dipilih dalam komisi itu. Abdur Rahman kemudian menarik diri dan suaranya dia berikan kepada Ali bin Abi Thalib. Dengan penarikan ini maka tinggallah Ali dan Utsman yang berhak untuk maju sebagai calon khalifah. Dan Abdur Rahman bertindak sebagai ketua komisi pemilihan.

Abdur Rahman mengambil inisiatif untuk melakukan konsultasi dengan beberapa orang sahabat, termasuk di antaranya adalah para isteri Rasulullah yang masih hidup. Proses pemilihan ini selesai setelah tiga hari. Bani Hasyim secara umum mendukung Ali, sedangkan Bani Umayyah mendukung Utsman. Menghadapi persoalan yang demikian, Abdur Rahman mengadakan pendekatan secara pribadi kepada kedua calon khalifah tersebut secara terpisah. Abdur Rahman berkata kepada Ali, "Anda sampai saat ini belum terpilih sebagai khalifah, siapakah yang anda pilih untuk menjadi khalifah?" Ali menjawab bahwasanya dia setuju untuk menjadikan Utsman sebagai khalifah. Abdur Rahman menanyakan hal yang sama kepada Utsman bin Affan, yang ternyata jawaban adalah bahwa Alilah yang paling cocok untuk memangku jabatan khalifah tersebut.

Dengan selesainya konsultasi ini, Abdur Rahman bin Auf segera mengadakan pertemuan umum di mesjid Rasulullah. Abdur Rahman kemudian memanggil Ali, mengangkat tangannya dan berkata, "Saya mengambil sumpahmu dengan syarat mengikuti Kitab Allah, Sunnah Rasulullah dan perilaku Syaikhain, yakni Abu Bakar dan Umar." Namun Ali menjawab dengan sangat lugas, "Saya akan mengikuti Al-Quran dan Sunnah, serta jalanku sendiri." Demikian hingga tiga kali Abdur Rahman melakukan hal yang sama, sedangkan Ali memberi jawaban yang sama pula. Abdur Rahman menurunkan tangan Ali, lalu memanggil Utsman ke depan dan dia mengangkat tangannya. Dia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya kepada Ali bin Abi Thalib, dan Utsman menyatakan kesediaannya. Dengan demikian Abdur Rahman telah mengambil sumpah setia untuk Utsman dan dia dinyatakan sebagai khalifah. Orang-orang yang hadir di mesjid waktu itu juga melakukan hal yang sama, termasuk Ali bin Abi Thalib.

---

1.) Thabari, History. III, halaman 294. 2.) Ibid, halaman 265

Kasus Pertama Masa Ke-khilafahannya

Faruz Abu Lu'lu adalah seorang budak asal Persia yang telah membunuh Umar bin Khaththab. Pembunuhan tersebut adalah sebuah konspirasi terencana dari orang-

http://www.akhirzaman.info/

Hal. | 157 orang Persia yang ada di Madinah. Orang yang berada di balik pembunuhan itu adalah

Hirmazan, seorang gubernur Persia di zaman Yazdajir, yang kemudian masuk Islam. Dia dibantu oleh orang-orang Kristen fanatik.

Ubaidillah, salah seorang putra khalifah Umar berang terhadap perlakuan yang sangat biadab tersebut. Dia mengamuk dan membunuh dua orang pelaku konspirasi tersebut. Kemudian dia datang ke rumah sang pembunuh, Abu Lu'lu. Di sana dia membunuh anak perempuan sang pembunuh. Dengan tindakan ini dia jelas bersalah, karena telah membunuh seorang Muslim dan dua orang dzimmi. Insiden tak sedap ini terjadi saat kematian Umar, dan Utsman belum naik sebagai khalifah.

Kini ada dua hal yang mesti dilakukan oleh Utsman bin Affan. Satu sisi dia harus menjalankan hukum qishas, yaitu menetapkan agar Ubaidillah bin Umar segera dieksekusi, di sini lain, ia melakukan tindakan persuasif kepada pewaris korban untuk memaafkan Ubaidillah, dengan keharusan membayar tebusan. Memang ada beberapa alibi yang dapat meringankan Ubaidillah, yaitu dia melakukan itu semua karena terpancing emosi untuk balas dendam atas terbunuh ayahnya. Ali bin Abi Thalib mengajukan agar hukum ditegakkan dengan cara qishas dan Ubaidillah, anak Umar itu harus dibunuh demi hukum, sedang pendapat mayoritas saat itu menentang pendapat tersebut, sebab itu hanya akan menimbulkan krisis. Namun keadilan itu buta, dan sangatlah gampang untuk menetapkan hukum secara buta, tapi hasilnya adalah sebuah huru-hara dan mungkin sebuah perang sipil. Utsman kemudian menyatakan bahwa orang-orang yang terbunuh itu tidak memiliki ahli waris di Madinah. Hukum menyatakan bahwa jika demikian, maka negaralah yang berhak mengambil alih perkara. Dan secara hukum, maka Utsman yang saat itu sebagai kepala negara adalah pewaris resmi dan pengganti dari para korban. Dalam kapasitasnya ini, maka ia memiliki hak untuk memberi maaf, dan itulah keputusan yang diambil. Sejumlah uang sebagai kompensasi atas kejahatan itu segera diberikan ke kas negara yang dikeluarkan dari kantong Utsman sendiri. Krisis yang mengawali awal pemerintahannya ini segera berakhir. Dengan taktik dan kebijakan yang demikian, Utsman telah memulai pemerintahannya bukan dengan darah, namun dengan rasa kasih dan cinta, pengampunan dan maaf, satu kualitas yang menandai seluruh masa pemerintahannya.

Petunjuk Kebijakan

Sebuah analisa tentang perintah-perintah yang dikeluarkan oleh Utsman kepada para gubernurnya dan komandan-komandan lapangan di medan perang, setelah dia duduk menjadi khalifah, akan menggambarkan bagaimana kebijakan yang diambil Utsman. Thabari dalam buku tarikhnya mendaftar kebijakan-kebijakan yang diputuskan Utsman pada tahun 24 H. Salah satu asumsi yang dia ambil adalah bahwa fungsi khalifah adalah pengabdi masyarakat dan bukan hanya pengumpul pajak. Dia memberi petunjuk kebijakan kepada para gubernurnya untuk melakukan fungsinya dengan simpati, ramah dalam rangka menjalankan tugas-tugas mereka sebagai pengabdi masyarakat dan sekaligus sebagai pengumpul pajak. Mereka laksana penggembala yang berfungsi untuk menjaga dan melindungi hak-hak rakyat. Mereka tidak boleh bertindak kejam, bengis, atau laksana tiran yang tidak mempunyai

http://www.akhirzaman.info/

Hal. | 158 perasaan, yang hanya berkonsentrasi untuk mengisi kas negara. Dalam

pandangannya, keramah-tamahan, penuh perhatian dan konsiderasi (pertimbangan) adalah salah satu tanda sebuah administrasi pemerintahan yang baik. Utsman menyatakan kepada para gubernurnya bahwa para pendahulunya -Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, Abu Bakar AshShidiq, dan Umar bin Khaththab - adalah pemimpin-pemimpin yang penuh perhatian kepada hak-hak rakyat. Rakyat merasa senang berada di bawah bimbingannya. Tradisi demikian menurutnya haruslah diteruskan. Dalam petunjuknya yang lain Utsman melarang segala hal-hal yang berlebihan, dan menggaris bawahi tentang hak-hak anak yatim piatu, para dzimmi dan minoritas non-Muslim yang hidup di wilayah-wilayah Muslim. Utsman menyatakan, bahwa pengumpulan pajak adalah tugas suci, dan pegawai-pegawainya harus melaksanakan tugas itu dengan sebaik-baiknya tanpa melakukan kekerasan kepada rakyat.

Dalam arahannya kepada para komandan perang dan para penjaga perbatasan, Khalifah menekankan tentang perlunya disiplin dan perlindungan terhadap rakyat. Dia tetap melanjutkan kebijakan yang pernah dilakukan oleh para pendahulunya dan mengikuti petunjuk yang pernah diberikan Umar. Jika mereka gagal melaksanakan itu, Utsman memberi ancaman, mereka yang berada di pos-pos tersebut akan diberhentikan dari tugasnya.

Utsman melaksanakan semua kebijakan yang pernah diambil Umar, dan demi memenuhi keinginan akhir Umar, dia tidak mengganti para gubernurnya selama setahun.

Perbedaan dengan Kebijakan Umar

Utsman berusaha menaikkan bayaran yang telah ditetapkan oleh para pendahulunya. Dia juga mengumumkan pemberian dana bantuan tetap kepada sahabat-sahabat terkemuka. Utsman juga merubah kebijakan Umar tentang pembatasan para sahabat untuk berada di ibu kota (Madinah). Di bawah pemerintahan Umar, para sahabat tidak diperkenankan untuk meninggalkan Madinah kecuali melalui izinnya, itu pun hanya dalam periode yang terbatas. Utsman mencabut semua larangan yang keras tersebut. Akibat dari kebijakan ini, para sahabat menyebar di berbagai negara dan mereka membangun tempat-tempat tinggal di sana. Dia mampu membangun sebuah kekuatan moral dan material dengan para patronnya (pendukung), yang mengakibatkan munculnya pusat-pusat oposisi kepada otoritas kekhalifahan. Kebijakan yang serba lembut dari Utsman ini banyak membawa kepada ketidaktentraman dan perpecahan, meskipun dia banyak memberikan jaminan dan bayaran, gaji dan pemberian, baik yang berbentuk uang ataupun rasa kasih dan damai.

Umar tahu persis dimana titik lemah dan titik kuat orang-orang Quraisy. Posisi mereka di antara orang-orang Arab di Hijaz dipandang demikian baik. Orang Quraisy adalah para pedagang, oleh karena itu mereka sering melakukan kontak dengan penduduk berbagai negara. Kebiasaan dan tradisi ini membuat mereka berada jauh dari orang-orang Arab yang lain. Orang-orang Quraisy jika dibandingkan dengan yang

http://www.akhirzaman.info/

Hal. | 159 lain, relatif jauh lebih kaya, lebib intelejen dan sangat inovatif. Mereka

memperlihatkan satu kualitas kepemimpinan, namun demikian ambisi-ambisi mereka harus terus menerus dijaga. Orang-orang Quraisy yang masuk Islam belakangan, yaitu ketika perkembangan Islam sudah tidak bisa dibendung lagi, tidak memiliki keberanian sebagaimana mereka yang masuk Islam pada periode-periode awal.

Umar pada masa pemerintahannya, menolak permintaan gubernur Syiria, Muawiyah untuk mengadakan serangan laut kepada negara Cyprus. Namun Utsman sepertinya tidak kuat mendapat tekanan yang terus-menerus dari Muawiyah dan akhirnya mengijinkannya untuk melakukan ekspedisi tersebut. Hanya dalam jangka waktu dua tahun pemerintahannya, orang-orang Quraisy telah menguasai banyak lapangan kehidupan. Dalam jangka waktu yang relatif singkat itu, orang-orang Quraisy telah menempati posisi-posisi penting dan mereka memegang kekuasaan yang tak pernah mereka peroleh sebelumnya. Kebijakan ini tentu saja disambut gembira oleh orangorang Quraisy, namun kelompok-kelompok masyarakat yang lain kini merasa gelisah dan menentang kebijakan Utsman tersebut. Umar saat memerintah mampu menyeimbangkan posisi Bani Hasyim dan Bani Umayyah, namun kini pendulum kekuasaan berada di tangan Bani Umayyah, sebuah kelompok yang sangat lambat merespon panggilan Islam di masa Rasulullah.

Penaklukan dan Konsekuensinya

Utsman memiliki rekor yang mengesankan dalam meraih penaklukan- penaklukan. Persia menyerah dengan meninggalkan 40.000 tawanan. Yazdajir, pelopor pemberontakan, mati pada tahun 652 M, pada tahun kedelapan pemerintahan Utsman. Dan kematiannya, mengakhiri ancaman yang datang dari Persia secara permanen.

Tentara Islam memerangi Persia, Turki, Romawi dan Yunani. Mereka terus merangsek ke Asia Kecil Armenia, dan mencapai Tabaristan. Mereka terus melakukan penaklukan ke Tifflis hingga menyentuh pantai Laut Hitam. Beberapa hari sebelum kematian Utsman mereka telah mencapai "halaman" Konstatinopel.

Abu Sarah, saudara angkat Utsman, telah mampu menaklukkan Tripoli dan bahkan sempat mengancam Cartahage. Gregory, gubernur Carthage, bergerak melawannya dengan jumlah pasukan 120.000. Orang-orang Islam memenangkan pertarungan sengit tersebut dan bahkan sempat menawan seorang putri Gregory, yang dibawa ke Madinah. Dalam kondisi yang sangat krusial ini khalifah memberikan seperlima bagian dari rampasan perang sebagai penghargaan pribadi terhadap Abu Sarah. Satu tindakan radikal yang jauh berbeda dengan kebijakan yang telah lama berlaku.

Setelah dikuasainya Cyprus dan Rhodesia, armada kaum Muslimin berhasil menaklukkan armada Byzantium dalam sebuah kemenangan yang mencengangkan di Aleksandria pada tahun 652 H.

http://www.akhirzaman.info/

Hal. | 160 Abu Sarah yang telah membuka kemenangan-kemenangan ini, adalah

seseorang yang mempunyai catatan hitam pada masa lalunya. Dia pernah ditugaskan oleh Rasulullah untuk menjadi seorang penulis wahyu, namun dia melakukan pengkhianatan terhadap tugas yang diberikan kepadanya. Rasulullah mengusirnya dari Madinah, namun pada saat pembukaan kota Mekkah dia mendapat amnesti umum dari Rasulullah. Dan sekarang Utsman telah menjadikan orang itu sebagai admiral (panglima angkatan laut), padahal dia adalah salah seorang yang memungkinkan untuk dihukum mati karena pengkhianatannya.

Penaklukan yang diharapkan menghasilkan diversi (kebahagiaan), malah menyebarkan disafeksi (kesedihan) dan perpecahan. Berbagai kepentingan kini menebar ke berbagai arah. Keseimbangan kekuasaan kini lenyap akibat munculnya elit-elit baru.

Kebijakan Baru Tentang Tanah

Utsman bin Affan mengambil beberapa kebijakan yang jauh berbeda dengan para pendahulunya. Dia mengadopsi sebuah kebijakan baru pada tahun 30 H. Yaitu jika seorang penduduk Hijaz memiliki kekayaan di wilayah yang ditaklukkan, dibolehkan baginya untuk mengganti kekayaan itu dengan kekayaan ada yang di daerahnya. Alasannya, dalam pandangan Utsman, hal ini ditujukan untuk mengurangi tekanan dari beberapa kota, seperti Kufah dan Bashrah, karena pertambahan penduduk Badui dan budak-budaknya melahirkan banyak problema sosial.

Kebijakan ini disambut gembira oleh penduduk Hijaz. Namun izin untuk menukarkan tanah merupakan sebilah pedang yang bermata dua. Para sahabat yang memiliki tanah-tanah di Hijaz mulai menjual tanah-tanah mereka dan membeli tanah- tanah baru di berbagai propinsi. Thalhah, misalnya, membeli banyak tanah dari pemiliknya yang berada di Hijaz. Kebijakan ini telah melahirkan kelas-kelas elit pemilik tanah dan tuan tanah. Orang-orang Quraisy terkemuka yang sebelumnya hanya berkutat di Mekkah akibat kebijakan Umar, kini menyebar ke berbagai negara Islam di dunia dan mereka menjadi sumber-sumber penderitaan. Orang-orang kecil pemilik tanah menjual tanah mereka kepada para pemilik modal, yang bisa menginvestasi sejumlah uang yang dimilikinya. Orang seperti Thalhah, Zubair, Marwan bin Hakam membeli tanah dengan jumlah yang besar akibat adanya dispensasi ini.

Para pemilik tanah yang ada di Hijaz mengolah tanah-tanahnya dengan mendatangkan para pekerja dari luar daerah yang ditaklukkan. Kelas-kelas pemilik tanah bermunculan di Mekkah, Madinah dan Thaif. Mereka hidup dalam kemewahan di kota-kota, sementara para penyewa bekerja keras di tanah itu untuk memberikan kemakmuran dan kekuasaan kepada orang kaya. Termasuk dalam kelas ekonomi kuat saat itu adalah para sahabat Rasulullah.

Orang-orang yang memiliki kekayaan yang demikian banyak dari sahabat Rasulullah saat itu adalah sebagai berikut, 1)

http://www.akhirzaman.info/

Hal. | 161 Abdur Rahman bin Auf (w. 32 H). Asset yang dimilikinya adalah seribu unta,

tiga ribu domba, seribu kuda. Dan jumlah kekayaannya secara keseluruhan adalah empat ratus ribu dinar.

Zubair bin Awwam (w. 36 H). Dia memiliki kekayaan berupa tanah di Fustat, Aleksandria, Bashrah dan Kufah. Dia memiliki sebelas rumah di Madinah, dua di Bashrah, satu di Kufah dan satu di Aleksandria. Dia memiliki seribu budak dan seribu kuda.

Thalhah bin Ubaidillah (w. 36 H). Dia memiliki tanah di Iraq yang menghasilkan uang sebanyak 500 dinar perhari. Tanahnya yang ada di Yaman menghasilkan jumlah uang yang besar setiap tahun.

Sa'ad bin Abi Waqqas (w. 50 H). Dia memiliki rumah-rumah yang mewah di luar Madinah.

Zaid bin Tsabit (w. 45 H), saat meninggalnya meninggalkan sejumlah uang emas, perak dan tanah yang harganya diperkirakan sekitar sepuluh ribu dinar.

Utsman dikenal sebagai seorang milyuner sebelum datangnya Islam. Pada saat meninggalnya dia meninggalkan uang sejumlah seratus lima puluh ribu dinar, seratus ribu dirham. Jumlah peninggalan Utsman yang berupa kuda dan unta sangat banyak.2)

---

1.) Kitab Al-Kharaaj, op.cit. halaman 340 2.) Muruuj Adz-Dzahab, Vol. I, 435 Dampak dari Kebijakan Baru

Negara yang semula berdasarkan persaudaraan dan persamaan kini tampaknya mulai mengalami pergeseran karakter. Para elit baru mulai mengeksploitasi orang miskin dan mencari kekuasaan dan pengaruh lewat kekayaan dan kemakmuran yang mereka miliki. Istana-istana (rumah-rumah) yang indah, budak- budak, kuda dan unta, binatang-binatang dan ternak, pakaian-pakaian dengan harga

Dalam dokumen Dr. Afzal Iqbal- Diplomasi Islam (Halaman 154-178)