• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUATAN KAPASITAS LEMBAGA SIMPAN PINJAM RUKUN LESTARI UNTUK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MISKIN

DISETUJUI KOMISI PEMBIMBING

Dr. Ir. Pudji Muljono, MSi. Ketua

Ir. Sutara Hendrakusumaatmadja. MSc. Anggota

Ketua Program Studi Magister Profesional Pengembangan Masyarakat

Dr. Djuara P. Lubis, MS.

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Khairil A. Notodipuro, M.S.

Tanggal Ujian : Tanggal Lulus :

vi Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Mahaesa karena atas berkat dan rahmat-Nya, maka penulis dapat menyelesaikan penulisan tugas akhir kajian pengembangan masyarakat sebagai satu persyaratan menyelesaikan studi pada Program Studi Magister Profesional Pengembangan Masyarakat Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB). Judul kajian pengembangan masyarakat ini adalah “Penguatan Kapasitas Lembaga Simpan Pinjam Rukun Lestari untuk Pemberdayaan Masyarakat Miskin, Kasus di RW 04 Dusun Dawukan Desa Sendangtirto Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman Yogyakata”.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :

1. Bapak Dr. Marjuki, M.Sc. selaku Kepala Badan Pendidikan dan Penelitian Sosial Departemen Sosial RI.

2. Bapak Dr. Ir. Khairil A. Notodipuro, MS. selaku Dekan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB).

3. Bapak Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS. selaku Ketua Program Studi Magister Profesional Pengembangan Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB).

4. Bapak Dr. Ir. Pudji Muljono, MSi. selaku Ketua Komisi Pembimbing.

5. Bapak Ir. Sutara Hendrakusumaatmadja, M.Sc. selaku Anggota Komisi Pembimbing.

6. Ibu Dr. Ir. Ninuk Purnaningsih, MS. selaku Penguji Luar Komisi Pembimbing.

7. Ibu Dra. Neni Kusumawardhani, MS. selaku Ketua Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung.

8. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Magister Profesional Pengembangan Masyarakat Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB).

9. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Magister Profesional Pengembangan Masyarakat Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) Angkatan III Tahun 2005-2006.

10.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan kontribusi bagi penyelesaian tugas akhir ini.

Atas segala perhatian, bantuan dan kerjasamanya sekali lagi penulis mengucapkan banyak terima kasih, semoga kebaikan Bapak dan Ibu memperoleh imbalan yang berlipat ganda dari Tuhan Yang Mahaesa.

Penulis dengan senang hati menerima saran dan masukan dari para pembaca, dalam upaya penyempurnaan tugas akhir ini. Akhirnya, semoga kajian ini bermanfaat.

Bogor, Oktober 2006

vii Penulis dilahirkan di Kediri pada tanggal 9 Juli 1967, sebagai anak ketujuh dari sembilan bersaudara dengan orang tua R. Soejitno dan Moeljani.

Pendidikan yang ditempuh oleh penulis adalah SD Negeri Jagalan III Kediri lulus tahun 1980, SMP Negeri III Kediri lulus tahun 1983, SMA Negeri I Kediri lulus tahun 1986, Diploma III Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung lulus tahun 1990 dan FISIPPOL Universitas Pattimura Ambon lulus tahun 1996.

Tahun 1994 penulis menikah dengan Setiawati Sujono dikarunia dua orang anak, yaitu Faris Yusuf Baktiar lahir pada tahun 1994 dan Aura Nisa Alfira lahir pada tahun 2002.

Pada tahun 1991 penulis diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) ditempatkan di Kantor Wilayah Departemen Sosial Propinsi Maluku bertugas sampai dengan Mei 1999 dan pindah tugas di Dinas Sosial Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dari Juni 1999 sampai sekarang. Selanjutnya, pada tahun 2005 penulis mendapat kesempatan untuk mengikuti tugas belajar pada Program Studi Magister Profesional Pengembangan Masyarakat Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB).

viii Halaman DAFTAR TABEL ... x DAFTAR GAMBAR ... xi DAFTAR LAMPIRAN ... xii PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1 Perumusan Masalah ... 5 Tujuan dan Kegunaan Kajian ... 7 KERANGKA KAJIAN ... 8 Kemiskinan ... 8 Masyarakat ... 12 Kelembagaan Ekonomi Lokal ... 13 Usaha Simpan Pinjam ... ... 15 Kinerja Lembaga Simpan Pinjam ... 17 Pemberdayaan ... ... 19 Penguatan Kapasitas ... 21 Kerangka Pemikiran ... 22 METODE KAJIAN ... 25

Tipe dan Aras Kajian ... 25 Strategi Kajian ... 25 Lokasi dan Waktu Kajian ... 26 Metode Pengumpulan Data ... 27 Analisis dan Pelaporan ... ... 31 PETA SOSIAL MASYARAKAT DESA SENDANGTIRTO... 33

ix Pendidikan Penduduk ... 38 Mata Pencaharian Penduduk ... 39 Struktur Komunitas ... 40 Sumberdaya Lokal ... 44 SEJARAH PENGEMBANGAN KOMUNITAS ... 47

Latar Belakang Berdirinya Rukun Lestari ... 47 Pengembangan Ekonomi Masyarakat ... 51 Pengembangan Modal Sosial dan Gerakan Sosial ... 54 Kebijakan dan Perencanaan Sosial ... ... 57 PROFIL LEMBAGA SIMPAN PINJAM DAN ANGGOTA... 58

Kapasitas Lembaga ... 58 Kapasitas Anggota ... 67 Keberfungsiansosial Anggota ... 70 Sistem Sumber Formal dan Non Formal ... 72 Potensi Lokal ... 76 Performa Lembaga Simpan Pinjam ... ... 77 STRATEGI DAN PROGRAM PENGUATAN KAPASITAS LEMBAGASIMPAN PINJAM RUKUN LESTARI ... 85

Analisis Masalah dan Tujuan ... 85 Penyusunan Program dan Strategi Penguatan Kapasitas Lembaga ... 95 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 106

Kesimpulan ... 106 Rekomendasi ... 108 DAFTAR PUSTAKA ... 109 LAMPIRAN ... 110

x Halaman Tabel 1 : Jadwal Pelaksanaan Kajian Pengembangan Masyarakat... 27 Tabel 2 : Jenis Data, Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data ... 29 Tabel 3: : Sumber Data, Tipe dan Jumlah Responden/Informan ... 30 Tabel 4 : Variabel, Indikator dan Parameter Kajian ... 30 Tabel 5 : Luas Lahan Sesuai Peruntukannya ... 34 Tabel 6 : Komposisi Penduduk Desa Sendangtirto Menurut Usia dan

Jenis Kelamin ... ... 35 Tabel 7 : Tingkat Perkembangan Pendidikan Penduduk Desa

Sendangtirto ... 38 Tabel 8 : Distribusi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian ... 39 Tabel 9 : Struktur Kepemilikan Tanah Sawah ... 46 Tabel 10 : Tabungan Anggota Simpan Pinjam, Pekerjaan dan Tanggungan 49 Tabel 11 : Perkembangan Anggota Simpan Pinjam ... 50 Tabel 12 : Perkembangan Keuangan Simpan Pinjam ... 51 Tabel 13 : Pendidikan dan Pendapatan ... 68 Tabel 14 : Jumlah Nasabah, Dana Bergulir ... 80 Tabel 15 : Matriks Alaternatif Kegiatan ... 93 Tabel 16 : Analisis Pihak Terkait ... 94 Tabel 17 : Rencana Kegiatan Penguatan Kapasitas Simpan Pinjam ... 99

xi Halaman Gambar 1 : Skema Kerangka Pemikiran... 24 Gambar 2 : Piramida Penduduk Desa Sendangtirto ... 36 Gambar 3 : Stratifikasi Masyarakat Desa Sendangtirto... 41 Gambar 4 : Analisis Permasalahan Sebab dan Tindakan ... 89 Gambar 5 : Analisis Rancangan Aksi, Tindakan dan Hasil ... 91 Gambar 6 : Strategi Pelaksanaan Program ... 102 Gambar 7 : Strategi Penguatan Kapasitas Lembaga Simpan Pinjam

xii Halaman 1. Sketsa Wilayah Desa Sendangtirto Kecamatan Berbah Kabupaten

Sleman Yogyakarta ... 112 2. Hasil Diskusi Perumusan Masalah dan Kebutuhan ... 113 3. Hasil Penyusunan Program Kerja ... 116 4. Dokumentasi Kegiatan Pengembangan Masyarakat ... 119 5. Catatan Harian ... 124

Latar Belakang

Kegagalan pendekatan pembangunan yang berporos pada pertumbuhan ekonomi berbentuk sentralistis dan bersifat top-down pada masa Orde Baru, telah bergeser pada perubahan paradigma baru dalam pembangunan masyarakat. Hal ini sejalan dengan diberlakukan UU No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah dan UU No 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Di keluarkannya peraturan tersebut, merupakan pintu masuk partisipasi masyarakat melalui Otonomi Daerah dengan kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan menurut prakarsa sendiri. Era otonomi, masyarakat yang tadinya tidak dilibatkan dan bahkan diasingkan dari proses pembangunan, kini dipandang sebagai aktor sentral yang memiliki potensi dan kemampuan dalam mengembangkan kualitas hidupnya. Mereka tidak lagi dianggap hanya sebagai penerima pasif dari berbagai ragam kegiatan pembangunan tetapi mereka telah diberdayakan agar memiliki kapasitas dalam mengorganisir dan mengambil keputusan, merespon berbagai permasalahan, serta mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri dan berkelanjutan.

Program pengembangan ekonomi masyarakat di daerah berintikan pada kebijakan pembangunan yang menggunakan sumberdaya lokal (sumberdaya alam, fisik dan lingkungan), kelembagaan dan sumberdaya sosial ekonomi yang dimiliki daerah. Titik sentral program pengembangan ekonomi masyarakat adalah pada inisiatif daerah (masyarakat dan pemerintah daerah) untuk menggerakkan proses pengembangan ekonomi daerah. Pemikiran dan inisiatif tersebut dituangkan dalam rencana umum yang dapat diterapkan, sesuai dengan permasalahan dan potensi yang ideal dalam artian aspiratif, serta rencana pembangunan multisektoral yang disusun oleh pemerintah baik di tingkat regional maupun nasional.

Pemberdayaan masyarakat melalui ekonomi lokal amat penting sebagai prasyarat dasar pemberdayaan sosial dan politik. Permasalahan pokok dasar pemberdayaan masyarakat melalui ekonomi lokal adalah rendahnya tingkat

keterampilan dan pengetahuan masyarakat, mengakibatkan rendahnya kemampuan masyarakat untuk memperoleh dan memanfaatkan akses sumberdaya yang tersedia. Hambatan utama bagi masyarkat adalah terbatas sumberdaya ekonomi berupa modal, lokasi usaha, lahan, informasi pasar dan teknologi. Kesulitan ini diperparah dengan terbatas penyediaan prasarana dan sarana produktif berakibat mempersempit peluang masyarakat untuk memperoleh lapangan kerja dengan penghasilan yang layak. Hambatan lain yang sifnifikan berupa, rendah kemampuan lembaga dan organisasi ekonomi masyarakat dalam mengelola sumberdaya untuk meningkatkan kompetensinya.

Konteks masyarakat diletakkan dalam strategi pemberdayaan dengan merujuk pada upaya yang dilakukan harus diarahkan langsung pada akar persoalan, yaitu meningkatkan kemampuan masyarakat miskin. Bagian yang tertinggal dalam hal ini masyarakat miskin dalam pemenuhan kebutuhan dasar ekonomi keluarga perlu ditingkatkan kemampuan dalam mengembangkan dan mendinamisasi potensi diri masyarakat miskin tersebut (Kartasasmita 1996). Peningkatan kemampuan dan potensi yang ada dalam diri anggota komunitas itulah yang dikenal dengan penguatan kapasitas (capacity building).

Strategi pemberdayaan masyarakat merupakan upaya pengembangan partisipasi aktif dan meningkatkatkan prakarsa masyarakat dalam menentukan arah tujuan yang akan dicapai dalam lembaga yang dibentuk bersama oleh masyarakat, pengembangan masyarakat merupakan suatu gerakan untuk meningkatkan taraf hidup yang meliputi berbagai kegiatan pembangunan tingkat lokal baik yang dilakukan pemerintah dan non- pemerintah (Adi 2001). Menurut (Sumarjo & Saharudin 2004) partisipasi masyarakat memegang peranan penting dalam pembangunan masyarakat, karena melalui partisipasi masyarakat dapat diperoleh, Pertama, informasi tentang kondisi, kebutuhan, dan sikap masyarakat. Kedua, masyarakat lebih percaya dan bertanggung jawab bila dilibatkan dalam kegiatan mulai dari perencanan hingga memanfaatkan hasil program. Ketiga, masyarakat beranggapan bahwa keterlibatan mereka dalam pembangunan merupakan hak demokrasi masyarakat itu sendiri.

Penguatan kapasitas lembaga ekonomi lokal melalui pemberdayaan masyarakat, adalah salah satu model peningkatan peranserta masyarakat dalam

kegiatan yang dirancang dengan menitikberatkan pada proses pembelajaran dan memberdayakan masyarakat lewat lembaga ekonomi lokal untuk menopang perekonomian masyarakat itu sendiri. Lembaga ekonomi lokal di atas mengandung makna “ikatan sosial” yang dibangun berdasarkan jejaring sosial (social networking) sebagai nilai tambah dari modal sosial (social capital) dengan satu fokus interaksi pada pengembangan masyarakat (Nasdian 2004).

Pembangunan dalam upaya memberdayakan masyarakat dalam arti sosiologis mengarah pada penekanan pembangunan berbasis lokal yang di dalamnya terdapat ikatan sosial yang digunakan untuk berinteraksi antar kelompok, organisasi, instansi, komunitas dan lokalitas dengan melintasi beragam ras.

Masyarakat miskin merupakan bagian dari kelompok masyarakat yang penting untuk diberdayakan, sebab mereka mempunyai banyak keterbatasan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara maksimal dan perlu diperdayakan dalam upaya memperkuat kapasitas lembaga yang membantu perekonomian Masyarakat. Desa Sendangtirto Kecamatan Berbah Kabubaten Sleman Yogyakarta dengan Penduduk 12.786 jiwa serta penduduk yang digolongkan miskin sejumlah 730 KK atau 2.555 jiwa (19,98 %) (Sumber data : Monografi Desa Sendangtirto 2004 ). Adapun penduduk miskin yang berada di RW 04 Dusun Dawukan Desa Sendangtirto sebanyak 28 KK atau 98 jiwa (59 %) dari jumlah 182 jiwa penduduk yang tinggal di wilayah RW 04.

Pemberdayaan ekonomi masyarakat sebagaimana dikemukakan tersebut telah dilakukan oleh Tokoh masyarkat dusun dawukan RW 04 sebagai bentuk keprihatinan atas kurangnya pemerintah Desa Sendangtirto memberikan akses kepercayaan untuk mendapatkan bantuan pemerintah melalui kegiatan–kegiatan Proyek yang selama ini telah diterima oleh pemerintah Desa Sendangtirto Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman Yogyakarta, yaitu : KUT (kredit usaha tani) KUKESRA (Kredit Usaha Sejahtera) KUBE (Kelompok Usaha Bersama) dan UEP (Usaha ekonomis produktif), P2KPM (Proyek Pemberdayaan Koperasi Penguatan Modal) P2KPM (Proyek Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan) Raskin (Beras untuk Rakyat Miskin) dan JPS (Jaring Pengaman Sosial).

Lembaga simpan pinjam Rukun Lestari terbentuk melalui kegiatan Selapanan dengan anggota 19 orang pada Oktober 1999 dan hingga Nopember 2005 berkembang menjadi 26 orang anggota. Terbentuknya lembaga ekonomi lokal simpan pinjam Rukun Lestari adalah sebagai upaya mendukung masing- masing warga masyarakat miskin dalam menopang perekonomian mereka.

Kenyataan yang ada memperlihatkan bahwa, walaupun lembaga simpan- pinjam Rukun Lestari yang dijalankan masyarakat miskin di RW 04 dusun Dawukan telah berjalan selama 6 tahun namun perkembangan lembaga belum mampu membantu anggota dalam memenuhi kebutuhan dasar bila dibutuhkan secara mendadak. Penyebab permasalahan tersebut adalah kapasitas simpanan kurang dapat mendukung pinjaman, serta iuran bulanan sebagai alternatif pendukung modal belum maksimal membantu. Peraturan yang masih diberlakukan hingga segarang adalah iuran sebesar Rp. 2.000,00 dan terkumpul sebesar Rp. 52.000,00 setiap bulannya, sehingga anggota yang membutuhkan secara bersamaan dengan kebutuhan yang cukup besar masih belum bisa direalisasikan. Kemampuan lembaga simpan pinjam tersebut memberikan pinjaman hingga sekarang masih berkisar pada maksimal Rp. 400.000,00 dan besaran pinjaman ini sebenarnya tidak sesuai yang diharapkan anggota sebagai modal usaha, karena untuk mencapai kecukupan modal usaha paling tidak berkisar Rp. 2.000.000,00 seperti untuk usaha warung angkringan dan pengelolaan pertanian yang luas lahan 0,5 ha. Penggunaan pinjaman banyak digunakan untuk biaya sekolah biaya berobat serta modal usaha tambahan bagi yang sudah memulai usaha kecil, disamping banyak juga yang menggunakan pinjaman untuk kebutuhan yang sifatnya konsumtif. Rendahnya sumberdaya manusia, pengetahuan dan kemampuan pengurus dalam mengakses sistem sumber belum bisa dijalankan, sehingga kemanfaatan lembaga dalam mendukung perekonomian masyarakat miskin sebagai anggota belum sepenuhnya bisa memehuhi harapkan anggota sebagai penyedia pinjaman sesuai modal usaha yang diharapkan. Ketertiban dalam hal simpan dan meminjam belum bisa dijalankan oleh anggota, disebabkan pendapatan ekonomi rumah tangga yang rendah dari masyarakat miskin tersebut. Kesimpulan permasalahan yang terjadi pada lembaga simpan pinjam sewaktu kajian PL II dilaksanakan adalah, adanya ketidak sesuaian

harapan anggota dengan tujuan yang diharapkan dengan pendirian lembaga simpan pinjam dalam membantu perekonomian anggota. Gambaran kondisi permasalahan lembaga tersebut antara lain; dari aspek permodalan, manajemen dan sumberdaya manusia, sedangkan permasalahan anggota terletak pada keberfungsian sosial dan pendapatan yang belum menunjang perekonomian.

Permasalahan yang akan dikaji secara mendalam, diharapkan dapat memberdayaan masyarakat melalui pengembangan masyarakat miskin anggota lembaga simpan pinjam secara partisipatif. Masyarakat miskin sebagai anggota lembaga serta pengurus simpan pinjam perlu dilibatkan secara langsung dalam merancang dan merencanakan pemberdayaan masyarakat, dimulai dari proses pengumpulan data sampai dengan rencana aksi pemberdayaan masyarakat secara aktif. Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan menggali kebutuhan yang dirasakan untuk dikumpulkan dan diambil prioritas mana yang akan didahulukan, dengan tetap mengingat prioritas lain yang tidak ditinggalkan.

Kajian pengembangan masyarakat dilaksanakan dengan penguatan kapasitas lembaga sampai penyusunan rencana program dan aksi, diharapkan rancangan program dan aksi pengembangan masyarakat tersebut nantinya dapat digunakan untuk mengatasi masalah kemiskinan di Desa Sendangtirto khususnya dan desa- desa lain di Kecamatan Berbah atau lokasi-lokasi lain yang memiliki karakteristik permasalahan yang sama. Tentunya dengan modifikasi yang disesuaikan dengan daerah masing-masing sesuai permasalahannya.

Perumusan Masalah

Fokus kajian pengembangan masyarakat ditujukan pada penguatan kapasitas lembaga simpan pinjam Rukun Lestari untuk pemberdayaan masyarakat miskin. Masyarakat miskin berdaya berpengaruh pada peningkatan pendapatan secara ekonomi, sehingga terjadi perbaikan berkelanjutan pada kualitas hidup diusahakan sesuai kebutuhan yang dirasakan dengan aspirasi masyarakat miskin itu sendiri.

Lembaga simpan-pinjam dalam fokus kajian ini merupakan upaya penanggulangan kemiskinan, yang berarti upayanya membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. Kajian pengembangan masyarakat dalam merancang program

perlu melibatkan masyarakat miskin sebagai anggota lembaga simpan pinjam rukun lestari dari mulai perumusan masalah, perencanaan, pengelolaan serta pengendalian kegiatan dan peniliaan keberhasilan. Partisipasi ini diharapkan terjadi proses penyadaran, proses belajar, dari kehidupan mereka sendiri dan lingkungan hidup yang mereka hadapi terhadap kemampuan masyarakat dalam membangun dirinya sendiri dan lingkungan secara swadaya yang selama ini dapat berkelanjutan. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan (Clarke dikutip dalam Hikmat et al. 2004). bahwa partisipasi masyarakat melalui lembaga swadaya masyarakat saat ini merupakan kunci partisipasi efektif untuk mengatasi masalah kemiskinan.

Permasalahan pokok yang menjadi kendala lembaga dalam kajian ini terletak pada lemahnya manajemen lembaga oleh pengurus dalam mengupayakan pelayanan dalam pemenuhan kebutuhan anggotanya. Sesuai dengan pendapat (Nasdian & Utomo 2003), bahwa salah satu fungsi kelembagaan adalah memberi pedoman berperilaku pada individu atau masyarakat, bagaimana mereka harus bertingkah, bersikap dan menghadapi masalah-masalah dalam masyarakat terutama yang menyangkut kebutuhan-kebutuhan. Sejalan dengan hal tersebut lembaga simpan pinjam akan efektif bila dapat memberikan akses kepada masyarakat miskin sebagai anggota terhadap penyediaan modal, teknologi dan pasar, dimana ketiga komponen tersebut merupakan inti dari pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin. Pemberdayaan dalam kajian ini bukan saja dilihat dari aspek ekonomi, tetapi bagaimana aspek sosial yang berpengaruh pada masyarakat miskin juga semakin meningkat.

Penguatan kapasitas Lembaga tidak saja membicarakan perihal yang berkaitan dengan lembaga tetapi juga menyangkut masyarakat miskin sebagai anggota lembaga tersebut, dalam pemberdayaan masyarakat keduanya saling berpengaruh terhadap penguatan kapasitas lembaga simpan pinjam. Lembaga tersebut dibentuk karena diperlukan oleh masyarakat miskin dalam mencapai sutau tujuan bersama, sedangkan aspek memandang permasalahan kinerja pada kajian pengembangan masyarakat tidak hanya melihat unsur-unsur yang ada di dalam lembaga tetapi juga pada individu-individu yang menjadi anggota lembaga simpan pinjam Rukun Lestari.

Gambaran latar belakang permasalahan di atas, dapat dirumuskan masalah kajian sebagai berikut :

1. Bagaimana performa masyarakat miskin sebagai anggota mendukung penguatan kapasitas lembaga simpan pinjam Rukun Lestari di RW 04 dusun Dawukan desa Sendangtirto Kabupaten Sleman Yogyakarta ?

2. Bagaimana kinerja lembaga simpan pinjam Rukun Lestari dalam memberdayakan anggotanya ?

3. Bagaimana strategi dan program yang tepat dalam pemberdayaan masyarakat miskin lewat penguatan kapasitas lembaga simpan pinjam rukun lestari ?

Tujuan dan Kegunaan Kajian

Tujuan kajian ini adalah mengkaji kapasitas kelompok yang dimiliki masyarakat lokal dengan melalui pemberdayaan masyarakat miskin dengan mengembangkan jejaring di RW 04 dusun Dawukan desa Sendangtirto Kab. Sleman, dalam rangka pemberdayaan masyarakat serta bagaimana menguatkan lembaga ekonomi lokal tersebut.

1. Tujuan yang ingin dicapai dari kajian pengembangan masyarakat ini secara khusus adalah :

a. Menganalisis performa masyarakat miskin sebagai anggota lembaga simpan pinjam Rukun Lestari di RW 04 dusun Dawukan desa Sendangtirto Kab. Sleman Yogyakarta.

b. Mengevaluasi kinerja lembaga simpan pinjam Rukun Lestari dalam memberdayakan anggotanya..

c. Menyusun strategi dan program dalam pemberdayaan masyarakat miskin melalui penguatan kapasitas kelembagaan simpan pinjam Rukun Lestari. 2. Kegunaan Kajian adalah :

a. Menghasilkan strategi dan program pemberdayaan masyarakat miskin melalui penguatan kapasitas lembaga simpan pinjam rukun lestari secara

partisipatif.

b. Hasil kajian akan dikonstribusikan untuk pengembangan dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan tempat kajian dilaksanakan.

Kemiskinan

Kemiskinan merupakan masalah sosial multidimensional, penanganan masalah kemiskinan memerlukan berbagai disiplin ilmu; mulai ekonomi, politik, sosial budaya dan keamanan (Baharsjah 1999). Kemiskinan bukan hanya suatu ketidakmampuan penduduk dalam memenuhi kebutuhan dasar bagi suatu kehidupan yang layak, tetapi juga berkaitan erat dengan keadaan sistem kelembagaan yang tidak mampu memberikan kesempatan yang adil bagi anggota masyarakat untuk memanfaatkan, memeperoleh manfaat dari sumber yang tersedia (Jamasy 2004). Kemiskinan merupakan masalah dalam pembangunan ditandai oleh pengangguran dan keterbelakangan, kemudian meningkat menjadi ketimpangan. Masyarakat miskin umumnya lemah dalam kemampuan berusaha dan terbatas aksesnya kepada kegiatan ekonomi, sehingga tertinggal jauh dari masyarakat lainnya yang mempunyai potensi lebih tinggi (Kartasasmita 1996).

Kemiskinan juga diartikan sebagai suatu keadaan di mana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelempok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental maupun fisik yang dimiliki dalam kelompok tersebut ( Soekanto 1990).

Pengertian kemiskinan oleh (Friedman dikutip dalam Suharto et al. 2005) didefinisikan sebagai kemiskinan kaitannya dengan ketidaksamaan kesempatan dalam mengakumulasi basis kekuasaan sosial yang meliputi :

1. Modal produktif atau asset (tanah, perumahan, alat produksi, kesehatan) 2. Sumber keuangan (pekerjaan, kredit)

3. Organisasi sosial dan politik yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersama (koperasi, partai politik, organisasi sosial)

4. Jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang, dan jasa 5. Pengetahuan dan keterampilan dan

6. Informasi yang berguna untuk kemajuan hidup

Kemiskinan serta definisinya, dapat ditarik kesimpulan bahwa kemiskinan mempunyai tiga penyebab antara lain :

1. Insufficentdeman for labor, yakni rendahnya Human capital deficiencies, difiensi modal manusia berarti rendahnya kualitas sumberdaya manusia,

seperti rendahnya pengetahuan, keterampilan sehingga menyebabkan pekerjaan yang rendah pendapatannya dan rendahnya daya beli;

2. Permintaan akan tenaga kerja sehingga meningkatkan pengangguran, pengangguran menyebabkan orang tidak memiliki pendapatan, daya beli rendah, akhirnya tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar;

3. Discrimination, adanya perlakuan berbeda terhadap golongan tertentu terutama dalam aksesibilitas terhadap sumberdaya-sumberdaya dan adanya dominasi pihak tertentu terhadap sumberdaya tersebut. Menurut (Transey & Ziegley 1991 seperti dikutip dalam Suharto et al. 2005). Penyebab kemiskinan menurut (BKPK & Lembaga Penelitian SMERU 2001) penyebab kemiskinan teridentifikasi sebagai berikut :

1. Keterbatasan pendapatan, modal dan sarana untuk memenuhi kebutuhan dasar termasuk : (Modal sumberdaya manusia, misalnya pendidikan formal, keterampilan dan kesehatan yang memadai, Modal produksi, misalnya lahan dan akses terhadap kredit, modal sosial, misalnya jaringan sosial dan akses terhadap kebijakan dan keputusan politik, sarana fisik, misalnya akses terhadap prasarana dan dasar jalan, listrik dan air bersih, termasuk hidup di daerah yang terpencil);

2. Kerentanan dan ketidakmampuan menghadapi goncangan-goncangan karena: Krisis ekonomi; Kegagalan panen karena hama, banjir atau kekeringan, kehilangan pekerjaan (PHK), konflik sosial dan politik; Korban kekerasan sosial dan rumah tangga; Bencana alam (longsor, gempa bumi, perubahan iklim global; dan Musibah (Jatuh sakit, Kebakaran, kecurian atau ternak terserang wabah penyakit)

3. Tidak adanya suara yang mewakili dalam institusi negara dan masyarakat karena; (tidak ada kepastian hukum; Tidak ada perlindungan dari kejahatan; Kesewenang-wenangan aparat; Ancaman dan intimidasi; Kebijakan publik yang peka dan tidak mendukung upaya penanggulangan kemiskinan; rendahnya posisi tawar masyarakat miskin). Penyebab kemiskinan dari uraian di atas dapat dikelompokkan menjadi eksternal factor (atau dalam faktor kemiskinan adalah mengenai pendapatan masyarakat miskin) dan internal factor (atau dalam faktor kemiskinan adalah mengenai keberfungsian dari keluarga ataupun lembaga sosial).

Variabel tentang pendapatan masyarakat miskin, metodanya masih terfokus pada “outcomes” dan kurang memperhatikan aspek aktor, pelaku kemiskinan serta sebab-sebab yang mempengaruhinya. Pengukuran kemiskinan oleh Departemen Sosial masih menggunakan konsep dan definisi fakir miskin sebagai orang yang

Dokumen terkait