TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kinerja Guru
2.3 Disiplin Kerja
Menurut Robert L. Mathis dan John H. Jackson (2006:511) Disiplin (discipline) adalah bentuk pelatihan yang menjalankan peraturan-peraturan organisasional. Yang paling dipengaruhi oleh sistem-sistem disiplin dalam organisasi adalah karyawan yang menyusahkan. Untungnya, karyawan yang menyusahkan terdiri
atas sejumlah kecil karyawan, tetapi mereka sering kali merupakan orang-orang yang menyebabkan sebagian besar situasi-situasi disipliner. Apabila para pemberi kerja gagal menangani karyawan yang menyusahkan, sering terjadi efek-efek negatif pada karyawan dan kelompok kerja lainnya. Persoalan disipliner umum yang disebabkan oleh karyawan-karyawan yang menyusahkan meliputi ketidakhadiran, kelambatan, kekurangan produktivitas, alkoholisme, dan pembangkangan terhadap perintah.
Menurut Keith Davis (1985:366) dalam Mangkunegara (2001:129) mengemukakan bahwa.
”Dicipline is management action to enforce organization standars”.
Berdasarkan pendapat Keith Davis maka disiplin kerja dapat diartikan sebagai pelaksanaan manajemen untuk memperteguh pedoman-pedoman organisasi. Menurut Hasibuan (2003:193), kedisiplinan adalah fungsi operatif keenam dari manajemen sumber daya manusia. Kedisiplinan merupakan fungsi operatif MSDM yang terpenting karena semakin baik disiplin karyawan, semakin tinggi prestasi kerja yang dapat dicapainya. Tanpa disiplin karyawan yang baik, sulit bagi organisasi perusahaan mencapai hasil yang optimal.
Lebih lanjut lagi menurut Robert L. Mathis dan John H.Jackson (2006:511) Sehingga seorang karyawan yang dikatakan memiliki disiplin kerja yang tinggi jika yang bersangkutan konsekuen, konsisten, taat asas, bertanggungjawab atas tugas yang diamanahkan kepadanya. Terdapat empat perspektif daftar yang menyangkut disiplin kerja yaitu.
a. Disiplin Retributif (Retributive Discipline), yaitu berusaha menghukum orang yang berbuat salah.
b. Disiplin Korektif (Corrective Discipline) yaitu berusaha membantu karyawan mengoreksi perilakunya yang tidak tepat.
c. Perspektif hak-hak individu (Individual Rights Perspective), yaitu berusaha melindungi hak-hak dasar individu selama tindakan-tindakan disipliner. d. Perspektif Utilitarian (Utilitarian Perspektive), yaitu berfokus kepada
penggunaan disiplin hanya pada saat konsekuensi-konsekuensi tindakan disiplin melebihi dampak-dampak negatifnya.
Tabel. 2.1 Perspektif Disiplin Karyawan
Perspektif Definisi Tujuan Akhir
Retributif
Korektif
Hak-hak individual
Utilitarian
Para pengambil keputusan mendisiplinkan dengan suatu cara yang proposional terhadap sasaran. Dengan tidak adil oleh orang-orang yang bertindak secara tidak tepat.
Pelanggaran-pelanggaran terhadap peraturan-peraturan harus diperlakukan sebagai
masalah-masalah yang dikoreksi daripada sebagai pelanggaran-pelanggaran yang mesti dihukum. Hukuman akan lunak sebatas pelanggar menunjukkan kemauan untuk mengubah perilaku.
Disiplin hanya tepat jika terdapat alasan yang adil untuk menjatuhkan hukuman. Hak-hak karyawan lebih diutamakan daripada tindakan disiplin.
Tingkat tindakan disiplin diambil tergantung pada bagaimana disiplin itu aakan
mempengaruhi produktivitas dan
profitabilitas. Biaya penggantian karyawan dan konsekuensi-konsekuensi
memperkenankan perilaku yang tidak wajar perlu dipertimbangkan. Karena biaya penggantian karyawan kian melambung, maka kerasnya disiplin hendaknya semakin menurun. Karena konsekuensi membiarkan perilaku yang tidak terpuji meningkat, maka
Menghukum si pelanggar Membantu karyawan mengoreksi perilaku yang tidak dapat diterima sehingga dia dapat terus dikaryakan oleh perusahaan Melindungi hak-hak individu Memastikan bahwa faedah-faedah tindakan disiplin melebihi konsekuensi-konsekuensi negatifnya.
demikian pula kerasnya hukum.
Sumber: Roberts L. Mathis dan John H. Jackson.Human Risearch Management.2012
Teknik-teknik pelaksanaan disiplin menurut Mangkunegara (2002:132), adalah sebagai berikut.
a. Teknik disiplin pertimbangan sedini mungkin.
Mungkin manajer jarang bisa memberi alasan bahwa kegagalan dalam menyelesaikan suatu proyek atau pekerjaan disebabkan oleh bawahan yang gagal dalam tugas mereka. Tanggung jawab menyelesaikan pekerjaan jauh lebih banyak terletak pada manajer dibandingkan pada mereka yang dimanajemeni. Pelatihan yang kurang sempurna atau tidak ada pelatihan sama sekali, atau kesalahan-kesalahan lain dari bawahan hendaknya pertama-tama diatasi dengan usaha penuh pengertian guna memperbaikinya. Hal ini harus dilakukan segera setelah melihat ada kekurang. Tindakan perbaikan sedini mungkin dari pihak manajer mengurangi perlunya tindakan disipliner dimasa mendatang. Jelaslah bahwa jika keadaan yang tidak baik dibiarkan memburuk, semakin sulitlah untuk mendapatkan pekerjaan yang baik dari bawahan yang tidak efektif atau tidak berkemauan penuh.
b. Teknik disiplin pencegahan yang efektif.
Organisasi besar memelihara disiplin taat asas dengan menstandarisasikan kaidah-kaidah dan tingkah laku dasar dan memaklumkannya bagi para karyawan dan penyelia mereka. Disamping itu, mereka mengadakan program-program pelatihan khusus di setiap tingkat manajemen. Kursus-kursus ini dipimpin oleh anggota-anggota manajemen menengah yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman di lapangan. Tujuan konferensi-konferensi kelompok ialah untuk meningkatkan keakraban para manajer dengan kebijakan sekarang dan untuk bertukar pikiran mengenai bagaimana menggunakan disiplin kolektif secara efektif, bukan disiplin dengan hukuman.
c. Teknik disiplin dengan mendisiplinkan diri.
Teknik disiplin yang paling penting dipelajari oleh seorang manajer ialah teknik mendisiplinkan diri. Setiap orang mempunyai kesukaan dan kebencian terhadap orang, kebiasaan, kaidah, peraturan dan pekerjaan. Namun, disiplin diri membedakan manajer yang dewasa dan efektif dengan manajer yang belum dewasa dan masih harus berjuang. Disiplin diri ialah usaha seseorang untuk mengendalikan reaksi mereka terhadap keadaan yang tidak mereka senangi, dan usaha seseorang untuk mengatasi ketidaksenangan itu.
d. Teknik disiplin inventori penyelia.
Disiplin adalah salah satu fungsi manajemen yang paling rumit dan paling sedikit dipahami pada zaman sekarang. Sejumlah besar perusahaan dan perseroan dewasa ini telah banyak membuat program pelatihan secara formal mengenai perjanjian perburuhan, interpretasi, dan administrasinya tetapi sedikit sekali yang mempunyai program secara mendalam tentang disiplin. Inventori penyelia terhadap disiplin memberikan pengetahuan pada seorang
manajer tentang kesadaran dan pemahaman manajer atau penyelia lain tentang bidang-bidang kritis dalam disiplin, seperti sebab-sebab terjadinya masalah dalam kedisiplinan, komunikasi, prinsip dan konsepsi tentang disiplin, proses penentuan hukum, pembuatan kaidah, dan pengambilan keputusan tindakan kedisiplinan.
e. Teknik disiplin menegur pegawai primadona.
Seorang manajer jangan sekali-kali takut kehilangan seorang karyawan yang baik jika ia merupakan faktor perusak keadaan yang sulit diperbaiki. Bila telah kehilangan kendali terhdap kelompok karena kehilangan seorang pekerja yang menonjol, maka manajer sendirilah yang akan kalah secara total. f. Teknik disiplin menimbulkan kesadaran diri.
Suatu teguran lunak dapat diberikan secara halus melalui pertanyaan tertentu pada bawahan yang jawabannya merupakan teguran otomatis bagi dirinya sendiri. Andaikan salah seorang dari bawahan Anda telah bekerja selama kira-kira satu jam untuk menyelesaikan suatu tugas yang sama sekali tidak perlu dan hanya membuang-buang waktu dan ia sendiri tahu bahwa pekerjaannya tidak ada gunanya. Dengan hanya minta pendapat tentang perlu tidaknya menjalankan tugas tersebut pada bawahan anda itu, anda menghindari penghinaan terhadap orang lain. Keberhasilan teknik ini tergantung pada bentuk pertanyaan anda. Hendaknya anda menghindari pertanyaan langsung.
g. Teknik “Sandwich”
Teknik ini digunakan dengan mahir oleh sejumlah besar manajer dalam menghadapi bawahan mereka. Pada dasarnya, teknik ini terdiri dari teguran lisan secara langsung, diikuti oleh ucapan syukur, dan diakhiri dengan peringatan yang lunak. Sebenarnya manajer itu menyelipkan (seperti Sandwich) ucapan syukur dan persetujuannya diantara dua teguran yang semuanya dilakukan pada saaat itu juga.
Menurut Hariandja (2002:302), untuk dapat mencapai tujuan ini, tindakan sering disebut tindakan disipliner harus berorientasi pada.
a. Bersifat mendidik, artinya mengakibatkan terjadinya perubahan perilaku, dengan cara bahwa tindakan indisipliner harus menunjukkan konsekuensi yang tidak baik bagi diri sendiri, yang biasanya tidak diinginkan seseorang, dan segera dilakukan untuk menunjukkan adanya kaitan langsung antara pelanggaran dengan akibatnya, memberikan konsekuensi yang sesuai, dan berlaku bagi semua orang. Ini seperti seseorang yang memegang tungku
panas, (hot stove-rule) bila disentuh akan segera terasa panasnya, dan ini berlaku secara konsisten bagi semua orang.
b. Memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, yang sering disebut dengan tindakan disiplin progresif, yaitu pengulangan kesalahan yang sama akan mengakibatkan hukuman yang lebih berat.
Tindakan indisipliner bisa dilakukan melalui proses. 2) Teguran lisan, kalau masih terulang.
3) Teguran tertulis (yang menjadi catatan negatif bagi pegawai) kalau masih terulang.
4) Skorsing satu minggu, kalau masih terulang. 5) Skorsing satu bulan, kalau masih terulang. 6) Memecat pegawai tersebut.
selanjutnya menurut Hariandja (2002:303), pelaksanaan sanksi terhadap pelanggar disiplin dengan memberikan peringatan, harus segera, konsisten dan impersonal, seperti.
a. Pemberian Peringatan.
Pegawai yang melanggar disiplin kerja perlu diberikan suatu peringatan pertama, kedua dan ketiga. Tujuan pemberian peringatan adalah agar pegawai yang bersangkutan menyadari pelanggaran yang telah dilakukannya. Di samping itu pula surat peringatan tersebut dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam memberikan penilaian kondite pegawai.
Pegawai yang melanggar disiplin harus segera diberikan sanksi yang sesuai dengan peraturan organisasi yang berlaku. Tujuannya, agar pegawai yang bersangkutan memahami sanksi pelanggaran yang berlaku di perusahaan. Kelalaian pemberian sanksi akan memperlemah disiplin yang ada. Di samping itu, memberi peluang pelanggar untuk mengabaikan disiplin perusahaan.
c. Pemberian Sanksi Harus Konsisten.
Pemberian sanksi kepada pegawai yang tidak disiplin harus konsisten. Hal ini bertujuan agar pegawai sadar dan menghargai peraturan-peraturan yang berlaku pada perusahaan. Ketidakkonsistenan pemberian sanksi dapat mengakibatkan pegawai merasakan adanya diskriminasi pegawai, ringannya sanksi dan pengabaian disiplin.
d. Pemberian Sanksi Harus Impersonal.
Pemberian sanksi pelanggaran disiplin harus tidak membeda-bedakan pegawai, tua muda, pria wanita tetap diberlakukan sama sesuai dngan peraturan yang berlaku. Tujuannya agar pegawai menyadari bahwa disiplin kerja berlaku untuk semua pegawai dengan sanksi pelanggaran yang sesuai dengan peraturan yang berlaku di perusahaan.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa disiplin kerja adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh seseorang dalam tindakan atau pun perilaku yang berkaitan dengan melaksanakan segala bentuk aturan atau tugas yang diberikan kepada seseorang dengan penug tanggung jawab.