HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Diskripsi Hasil
Penelitian ini menghasilkan gambaran mengenai definisi perilaku bullying; bentuk-bentuk perilaku bullying; penyebab internal maupun
eksternal dari perilaku bullying; dan dampak positif maupun negatif terhadap pelaku, korban, dan responden dalam perilaku bullying.
1. Definisi Perilaku Bullying
Setelah seluruh responden yang berjumlah delapan tersebut telah selesai melalui proses koding maka didapatkan beberapa definisi dari perilaku bullying. Secara garis besar, para responden mendefinisikan perilaku bullying sebagai perilaku yang merendahkan, tidak menghargai, merugikan, sewenang-wenang, tidak bertanggung jawab, dan membuat tidak nyaman orang lain. Selain itu, menurut para responden perilaku bullying dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja serta memiliki
perbedaan kekuatan antara pelaku dan korban.Perilaku bullying juga terjadi secara terus menerus pada satu atau lebih korban dan menimbulkan rasa sakit secara fisik maupun mental.
a. Pelaku yang memiliki perbedaan kekuatan antara pelaku dan korban Ada beberapa responden yang menyatakan bahwa perbedaan kekuatan antara pelaku dan korban yang dimaksud adalah perbedaan secara fisik, mental, dan kemampuan.
Hal tersebut dapat dilihat dari salah satu pengakuan responden pada saat wawancara :
“Terus kan yg main basket. Yg cewek pake kacamata yg cowok kan lebih besar, kelasnya lbih tinggi. Trus main yg pake kacamatanya jatuh malah di tinggal pergi malah”
(Responden 2, V1, 5) “Karena teman yang kelihatannya itu lebih memiliki sesuatu yg lebih dari temennya yang kurang itu selalu di jahilin... Ee karena anak itu merasa dia lebih aku tu punya segalanya dan kamu enggak jadi kamu harus nurut sama aku.“ (Responden 4, V1, 2-3) b. Perilaku yang dilakukan secara terus menerus atau berulang
Ada beberapa responden yang menyebutkan bahwa perilaku bullying merupakan perilaku yang dilakukan secara terus menerus.Menurut para responden, perilaku yang dilakukan secara terus menerus merupakan perilaku yang dilakukan secara berulang-ulang kali sampai pelaku bullying tersebut mendapatkan akibat dari perilakunya tersebut.
Hal tersebut dapat dilihat dari salah satu pengakuan responden pada saat wawancara :
“Kemudian akan mendapatkan kepuasan terbukti dari dia melakukan berulang-ulang dan kemudian tertawa..Itu terpuaskan karena nanti tidak ada yang nyetop kaya gitu jadi akan dalam tanda kutip mencari sensasi lagi...Tapi kalo tidak diketahui ya dampaknya sih akan terus melakukan itu sampai dia mungkin kena batunya.” (Responden 6, V1, 4-5 &26-28) c. Perilaku yang tidak bertanggung jawab
Beberapa responden menyebutkan bahwa perilaku bullying merupakan perilaku yang tidak bertanggung jawab.Menurut para responden, perilaku yang tidak bertanggung jawab adalah perilaku yang dilakukan tanpa melihat akibat dari perilakunya tersebut.
Hal tersebut dapat dilihat dari salah satu pengakuan responden pada saat wawancara :
“apalagi sampe narik kursi itu kan berbahaya, apalagi kalo sampe itu kena tulang, ya mungkin dia tidak akan berpikir sampe sampe kesana ya.” (Responden 6, V1, 25) d. Perilaku yang bersifat kekerasan fisik
Beberapa responden menyebutkan bahwa perilaku bullying merupakan perilaku yang bersifat kekerasan fisik.Menurut para responden, perlaku yang bersifat kekerasa fisik meliputi perilaku memukul, mencubit, hingga mengkroyok korban.
Hal tersebut dapat dilihat dari salah satu pengakuan responden pada saat wawancara :
“E dimana-mana selalu ingin e kalo bullying yg kekerasan itu, perlakunya itu mempunyai greget entah apa itu ga tau kalo kekerasan itu memukuli dia atau mengkroyok dengan teman2nya, pokoknya yang menyakiti fisik si korban, itu kalo kekerasan,” (Responden 1, WL, 3) e. Perilaku yang bersifat kekerasan verbal
Beberapa responden menyatakan bahwa perilaku bullying juga merupakan perilaku yang bersifat kekerasan verbal. Menurut para responden, kekerasan verbal meliputi berkata kotor, berkata kasar, memanggil seseorang tidak sesuai dengan namanya, dan membicarakan kejelekan orang lain.
Hal tersebut dapat dilihat dari salah satu pengakuan responden pada saat wawancara :
“Contoh, pertama memanggil nama teman tidak sesuai dg nama aslinya misalnya menggunakan olokan nama orang tua, atau yg ke2 membrikan cap ato label pada anak, misalnya dy hitam dpanggil si kecap.” (Responden 6, LW, 3-4) Dari keseluruhan pernyataan para responden, ada salah satu responden yang memiliki perbedaan pendapat.Responden tersebut merupakan korban laki-laki dari perilaku bullying.Responden yang berinisial ER tersebut menyatakan bahwa bullying hanya secara fisik. Menurut responden, kekerasan secara verbal bukan termasuk bullying. Hal tersebut didapatkan dari salah satu pendapat responden sebagai berikut :
“Karena klo membully sama menjahil itu main tangan.Kalo fitnah itu tidak main tangan cuman ngomong.” (Responden 3, WL, 4) 2. Bentuk Perilaku Bullying
Setelah seluruh responden yang berjumlah delapan tersebut telah selesai melalui proses koding maka didapatkan beberapa bentuk dari perilaku bullying. Secara garis besar, para responden menyebutkan bentuk-bentuk perilaku bullying seperti kenakalan remaja, keusilan atau keisengan, fitnah, gosip, berkata-kata kotor, dan melukai secara fisik seperti memukul dan mencubit. Hal tersebut dapat dilihat dari pengakuan para responden sebagai berikut :
a. Kenakalan
Beberapa responden menyebutkan bahwa salah satu bentuk perilaku bullying adalah kenakalan.Menurut para responden, kenakalan
merupakan perilaku yang membuat pelaku mendapatkan kepuasan.Hal tersebut didapatkan dari salah satu pendapat responden sebagai berikut :
“Yang terjadi adalah kenakalan. Itu anak apa ta? Usia SMP ya? Kenakalan yang bermula dari iseng, kemudian ya ini akhirnya apa namanya anak ini nanti dari dia iseng kemudian nakal dan dia mendapatkan kepuasan.” (Responden 6, V1, 1-3) b. Keusilan atau keisengan
Beberapa responden menyebutkan bahwa bentuk lain dari perilaku bullying adalah keusilan atau keisengan. Menurut para responden,
keusilan atau keisengan merupakan perilaku bullying yang tidak disengaja atau pelaku tidak memiliki niat untuk melakukan perilaku bullying yang dapat merugikan dan membuat celaka orang lain.Hal
tersebut didapatkan dari salah satu pendapat responden sebagai berikut :
“Secara tidak sengaja maksudnya tidak tidak bermaksud untuk membullying dia tapi ternyata dampaknya bisa anak itu merasa dibullying. Keisengan it ya termasuk kategori yang tidak sengaja itu,” (Responden 5, WL, 3-5) c. Fitnah
Beberapa responden menyebutkan bahwa bentuk lain dari perilaku bullying adalah fitnah. Menurut para responden, fitnah merupakan
perilaku tidak bertanggung jawab yang dilakukan dengan tujuan untuk melukai orang lain secara tidak langsung sehingga dapat
membuat korban menjadi rendah diri.Hal tersebut didapatkan dari salah satu salah satu pendapat responden sebagai berikut :
“Ada juga, tapi juga termasuk iseng bisa kekerasan, kaya fitnah... Kalo fitnah ga fisik,tanpa melukai secara langsung si korban, bisa lewat media, lewat mading, kan dia ga melukai si korban tapi tanpa melukai si korban secara langsung si korban akan merasa sakit. Kalo secara fisik itu berarti harus bertemu dengan korban secara langsung. Kalo yang fitnah tanpa dia harus ketemu dia bisa melakukan, entah itu di rumah ato d lingkungan buat berita apa yang mungkin bisa menyakiti si korban.” (Responden 1, WL, 5-7) d. Berkata-kata kotor
Beberapa responden menyebutkan bahwa bentuk lain dari perilaku bullying adalah kata kotor. Menurut para responden,
berkata-kata kotor merupakan perilaku yang tidak menyenangkan terhadap orang lain secara verbal seperti memanggil seseorang bukan dengan namanya, memanggil seseorang dengan julukan karena fisik tertentu, dan sebagainya. Hal tersebut didapatkan dari salah satu salah satu pendapat responden sebagai berikut :
“Perilaku yang tidak menyenangkan terhadap orang lain, bullying to? Seperti ngomong kotor itu termasuk bullying.” (Responden 7, WL, 4-5) e. Melukai secara fisik
Beberapa responden menyebutkan bentuk lain dari perilaku bullying adalah melukai secara fisik. Menurut para responden, melukai secara fisik merupakan perilaku yang dapat merugikan orang lain yang dilakukan secara fisik, seperti mengambil kursi yang akan digunakan
tanpa sepengetahuan dari orang tersebut, mencubit, memukul, dan sebagainya. Hal tersebut didapatkan dari salah satu pendapat responden sebagai berikut :
“Klo di kursi misalnya klo cidera kecil itu waktu di kursi itu cuman bgtu dia ga tau kalo kursinya diambil trus dia duduk trus jatuh mungkin Cuma e kena meja kepalanya kena meja dikit, kebentur dikit itu ga papa mungkin itu Cuma merasa ah ga papa cuman sakit sedikit, tpi klo cidera berat itu jika kalo sampe si korban waktu jatuh itu kena patah di tulang ekor trus buta itu kan selamanya, jadi itu seumur hidupnya cuman gara2 kejadian itu dia hidup jadi ga tenang karena baik itu tadi, pada di tulang ekor trus buta, ga cuman sakit sementara.” (Responden 1, V1, 28-29) Dari keseluruhan bentuk-bentuk dari perilaku bullying yang disampaikan oleh para responden terdapat hal yang menarik.Salah satu responden menyatakan bahwa kejahilan bukan bagian dari bentuk perilaku bullying sedangkan beberapa responden lain menyatakan bahwa kejahilan merupakan bagian dari perilaku bullying.Responden yang menyatakan bahwa kejahilan bukan bagian dari perilaku bullying adalah korban laki-laki. Hal tersebut dibuktikan dari hasil wawancara sebagai berikut:
“Beda. Kalo jahil ya mungkin membully dan menjahil itu kaitannya dengan waktu mungkin.Kalo membully itu terus menerus tapi kalo menjahili itu sekali dua kali.” (Responden 3, WL, 3) 3. Penyebab Perilaku Bullying
Setelah seluruh responden yang berjumlah delapan tersebut telah selesai melalui proses koding maka didapatkan beberapa penyebab dari perilaku bullying. Beberapa penyebab dari perilaku bullying yang di
sebutkan oleh para responden tersebut dikategorikan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
a. Faktor Internal
Faktor internal merupakan penyebab yang berasal dari dalam diri pelaku bullying.Menurut beberapa responden, penyebab internal dari perilaku bullying yaitu iri hati, dendam, cemburu, kesenangan, ingin diperhatikan, ingin terkenal, ingin menjatuhkan orang lain, dan ingin membuat korban di benci orang. Hal tersebut dapat dilihat dari pengakuan para responden sebagai berikut :
1) Iri hati
Beberapa responden menyebutkan bahwa salah satu faktor internal penyebab pelaku melakukan perilaku bullying adalah iri hati.Menurut para responden, iri hati merupakan rasa yang muncul yang disebabkan oleh kemampuan yang dimiliki oleh korban lebih banyak dibandingkan dengan pelaku. Hal tersebut didapatkan dari salah satu pendapat responden sebagai berikut :
“Kalo ini kalo di video ini anak SMA ya, kalo ini lebih pada iri. Iri melihat orang lain itu lebih dari dia. Berarti kan dia melihat ani ini lebih dari si ini, saya memberikan istilah pelaku ya. Jadi sia aninya itu lebih tinggi, lebih dari segalanya.” (Responden 6, V2, 9) 2) Dendam
Beberapa responden menyebutkan bahwa faktor internal lainnya penyebab pelaku melakukan perilaku bullying adalah
dendam.Menurut para responden, dendam merupakan rasa yang muncul yang disebabkan oleh masalah yang mungkin belum terselesaikan oleh kedua belah pihak. Hal tersebut didapatkan dari salah satu pendapat responden sebagai berikut :
“Mungkin kalo menurut saya, ada suatu dendam yang mungkin yang dulu pernah terjadi tetapi belum dituntaskan atau belum diselesaikan” (Responden 1, V2, 5) 3) Cemburu
Beberapa responden menyebutkan bahwa faktor internal lainnya penyebab pelaku melakukan perilaku bullying adalah cemburu. Menurut para responden, cemburu merupakan rasa yang muncul yang disebabkan oleh masalah percintaan dan asmara yang tidak sesuai dengan kenyataan. Hal tersebut didapatkan dari salah satu pendapat responden sebagai berikut :
“Kalo saya sih cemburu itu cenderung ke soal hati, percintaan anak2, asmara.” (Responden 8, V2, 8) 4) Kesenangan
Beberapa responden menyebutkan bahwa faktor internal lainnya penyebab pelaku melakukan perilaku bullying adalah kesengangan.Menurut para responden, kesenangan merupakan rasa yang muncul karena melihat orang lain sengsara. Hal tersebut didapatkan dari salah satu pendapat responden sebagai berikut :
“mungkin dia lebih merasa senang karena memang senang melihat temannya itu sengsara.” (Responden 4, V1, 5) b. Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan penyebab yang berasal dari luar diri pelaku bullying.Menurut beberapa responden, penyebab eksternal dari perilaku bullying yaitu lingkungan, pergaulan, modelling, sekolah tidak tegas, dan pengaruh media elektronik.Selain itu ada faktor penyebab sesesorang melakukan bullying yang merupakan faktor dari keluarga seperti, kesalahan didik orang tua, tekanan dari orang tua, kurang perhatian orang tua, dan orang tua yang terlalu memanjakan. Hal tersebut dapat dilihat dari pengakuan para responden sebagai berikut :
1) Lingkungan
Beberapa responden menyebutkan bahwa salah satu faktor eksternal penyebab pelaku melakukan perilaku bullying adalah lingkungan. Menurut para responden, contoh dari lingkungan adalah keluarga, pertemanan, dan daerah di sekitar pelaku yang dapat membuat pelaku melakukan perilaku bullying. Hal tersebut didapatkan dari salah satu pendapat responden sebagai berikut :
“kalo dari luar itu pengaruh yang masuk dari luar dirinya. Itu termasuk juga pergaulan, kemudian e lingkungan. Terus mungkin karena kebiasaan uda melihat orang seperti itu terus lama2 dia ngikut apa yang dilakukan oleh orang itu. Kalo lingkungan itu global jadi gak cuman dia bersahabat dengan beberapa orang tetapi dilingkungan dia global.Jadi siapapun bisa melakukan itu. Misalnya di rumah, ada yang
lingkungan sekitar rumahnya banyak yang sering ngejahili kemudia ia sering di ajak terus dia ikut2 coba2, itu bukan di sekolah cuman di rumah, dia ikut2 nah lama kelamaan dia terapkan di sekolah yang dari lingkungan itu terus melakukan sesuatu di sekolah. Pertama itu tumbuh dari lingkungan baru ke pergaulan.” (Responden 1, V1, 23-25) 2) Pergaulan
Beberapa responden menyebutkan bahwa faktor eksternal lain penyebab pelaku melakukan perilaku bullying adalah pergaulan. Menurut para responden, pergaulan merupakan tempat dimana anak sering berkumpul dengan teman seusianya yang biasanya membuat pelaku melakukan perilaku bullying. Hal tersebut didapatkan dari salah satu pendapat responden sebagai berikut :
“kalo dari luar itu pengaruh yang masuk dari luar dirinya. Itu termasuk juga pergaulan, kemudian e lignkungan. Terus mungkin karena kebiasaan uda melihat orang seperti itu terus lama2 dia ngikut apa yang dilakukan oleh orang itu. pergaulan yang dari emang dari pergaulan itu membentu suatu kumpul teman dari pergaulan ada sering ngobrol2 nanti ada gagasan, itu kok sendirian? Yuk kita jahili. Ada yang memberi ide nanti kita gini2 nanti lama2 dari kumpulan teman itu nanti ada satu pergaulan, nanti kan ada ketemu satu gagasan uda pada nyebutin gagasannya sambil ketaka2 nanti disetujui nanti dia mereka kompak buat ngelakuin itu. Itu bisa dikatakan kalo pergaulan itu hasil dari apa yang mereka ucapkan di kelompok teman itu, kelompok pergaulan itu. Dia membuat sesuatu dan kelihatannya itu enak untuk di jahili.Kalo pergaulan itu melihat yang enak buat dijaili.Kan ada pergaulan yang baik ada yang buruk.Kalo yang buruk ya kalo kumpul ya uda cerita itu itu pengen ngejailin ini kemudian yang namanya itu kok kaya ini.Terus ada gagagsan untuk melakukan sesuatu bersama.”
(Responden 1, V1, 23-24)
3) Modelling
Beberapa responden menyebutkan bahwa faktor eksternal lain penyebab pelaku melakukan perilaku bullying adalah modelling. Menurut para responden, modelling merupakan perilaku meniru orang lain secara langsung maupun melalui media elektronik. Hal tersebut didapatkan dari salah satu pendapat responden sebagai berikut :
"Kalo melihat kalo dikenyataan banyak yang diberitakan.Contohnya sinetron ato nonton2 film yang seharusnya ga ditonton. Nah itu kan termasuk melihat, ga tentu dari lingkungan, dia melihat dengan sendiri tanpa harus ada temannya. Melihat di tv itu kan sendirian ga ad temannya, trus lama kemaan jdi meniru apa yang di sinetron. Harusnya dia tidak nonton itu tapi dia nonton. Jadi dia melihat entah itu dikenyataan di lingkungan, bisa di tv ato di manapun dia melihat. Ga perlu ada temnannya itu dia ttp bisa terpengaruh.” (Responden 1, V1, 26) 4) Orang tua
Beberapa responden menyebutkan bahwa faktor eksternal lain penyebab pelaku melakukan perilaku bullying adalah orangtua. Menurut para responden, orangtua menjadi penyebab eksternal dari perilaku bullying. Perhatian orangtua yang kurang, kesalahan didik dari orangtua, tekanan dari orangtua, dan orangtua yang terlalu memanjakan anak menjadi penyebab
pelaku melakukan perilaku bullying. Hal tersebut didapatkan dari salah satu pendapat responden sebagai berikut :
“semena-mena pada e mungkin juga bisa dari dari didikan orang tua ya bisa juga. Salah salah didikan orang tua.Mungkin di rumah dia justru agak tertekan.” (Responden 5, V1, 5) Dari keseluruhan data faktor penyebab pelaku melakukan perilaku bullying terdapat hal yang menarik. Hal tersebut terlihat dari beberapa
responden yang tidak menyebutkan bahwa faktor penyebab pelaku melakukan perilaku bullying terdiri dari faktor eksternalakan tetapi hanya dari faktor internal saja. Responden tersebut adalah responden yang terdiri dari korban laki-laki, korban perempuan, dan guru BK perempuan. 4. Dampak Perilaku Bullying
Setelah seluruh responden yang berjumlah delapan tersebut telah selesai melalui proses koding maka didapatkan beberapa dampak dari perilaku bullying. Beberapa dampak tersebut dibedakan menjadi tiga yaitu dampak terhadap pelaku, korban, dan partisipan.
a. Pelaku
Secara garis besar para responden menyebutkan lebih banyak dampak negatif terhadap pelaku dibandingkan dengan dampak positifnya.
1) Positif
Dari keseluruhan responden, ada limaresponden yang menyebutkan ada dampak positif perilaku bullying terhadap
pelaku. Dampak positif yang diterima oleh pelaku antara lain sebagai berikut:
a) Kepuasan
Menurut para responden, kepuasan adalah salah satu dampak positif yang dapat dirasakan oleh pelaku. Para responden menyatakan bahwa kepuasan adalah perasaan yang muncul ketika pelaku telah melakukan sesuatu yang dapat mempermalukan orang lain. Dengan adanya rasa puas tersebut membuat pelaku dapat melakukan perilaku itu kembali. Hal tersebut didapatkan dari salah satu pendapat responden sebagai berikut :
“Kemudian dampak yang kedua e kalo dia melakukan itu satu dia akan merasa terpuaskan ya terpuaskan karena dia merasa sudah melakukan ini, ah besok saya akan mencari kepuasan lagi ya itu melakukan yang mungkin lebih parah lagi,” (Responden 6, V1, 24) b) Kesenangan
Menurut para responden, kesenangan adalah salah satu dampak positif yang dapat dirasakan oleh pelaku.Kesenangan yang dimaksud oleh para responden adalah kesenangan yang bersifat sesaat saja. Hal tersebut didapatkan dari salah satu pendapat responden sebagai berikut :
“buat pelaku fitnah, untuk awal dia merasa senang. Sebelum dia ketahuan tentu dia merasa senang.”
(Responden 8, V2, 10) c) Mendapat perhatian
Menurut salah satu responden, mendapat perhatian adalah salah satu dampak positif yang dapat dirasakan oleh pelaku.Perhatian yang dimaksudkan oleh responden tersebut adalah perhatian yang muncul ketika pelaku melakukan perilaku bullying seperti mendapat panggilan dari guru-guru di sekolahnya. Hal tersebut didapatkan dari salah satu pendapat responden sebagai berikut:
“Dampaknya jelas satu, dia akan mendapatkan perhatian, tapi perhatiannya juga yang akhirnya nanti juga mengarahkan dia untuk apa ya, e diperhatiakan karena kenakalananya kan gitu. Dampaknya kan satu diperhatikan karena kenakalannya. Otomatis perhatian teman atau guru akan selalu memanggil dia, iya to? Akan selalu memanggil-manggil dia.” (Responden 6, V1, 23) d) Mempunyai banyak teman
Menurut salah satu responden, mempunyai banyak teman adalah salah satu dampak positif yang dapat dirasakan oleh pelaku.Teman yang dimaksudkan oleh responden tersebut adalah teman yang mengetahui bahwa pelaku menjadi korban dari perilaku bullying tersebut. Hal tersebut didapatkan dari salah satu pendapat responden sebagai berikut:
“Itu dampak ya tadi? Dampak buat si pelaku ya.Dia akan kalo seperti itu kan seakan-akan dia punya banyak teman karena dia di
dukung, dan dia istilahnya seperti, dia merasa punya banyak teman.” (Responden 6, V2, 12) 2) Negatif
Seluruh responden menyatakan bahwa ada beberapa dampak negatif yang dirasakan oleh perilaku bullying terhadap pelaku. Dampak negatif yang diterima oleh pelaku antara lain sebagai berikut:
a) Dijauhi orang lain
Beberapa responden menyebutkan bahwa salah satu dampak negatif yang dirasakan oleh pelaku adalah dijauhi orang lain. Menurut para responden, orang lain yang menjauhi pelaku adalah orang-orang yang tidak menyukai perilaku bullying yang muncul dari pelaku sehingga pelaku tidak memiliki teman. Hal tersebut terlihat dari salah satu hasil wawancara sebagai berikut:
“E sama misalnya sekolah mungkin ada anak yg ga suka sama dia terus dijauhi. Sulit buat, gabungnya cuman sama anak2 yg tertentu aja ga bisa sm yg lainnya gtu. Ya cenderung banyak di jauhi sama temen.” (Responden 2, V1, 13) b) Mendapat hukuman
Beberapa responden menyebutkan bahwa salah satu dampak negatif yang dirasakan oleh pelaku adalah mendapatkan hukuman.Menurut para responden, hukuman tersebut
diberikan oleh guru. Hal tersebut terlihat dari salah satu hasil wawancara sebagai berikut:
“Yang pertama itu dampaknya, ya sebenernya dampaknya emang dari mungkin kena sangsi dari guru,” (Responden 1, V1, 43) c) Dibenci orang lain
Beberapa responden menyebutkan bahwa salah satu dampak negatif yang dirasakan oleh pelaku adalah dibenci orang lain. Menurut para responden, orang lain yang dimaksudkan adalah orang yang tidak menyukai perilaku bullying para pelaku. Hal tersebut terlihat dari salah satu hasil wawancara sebagai berikut:
“mungkin jadi banyak orang yang membenci dia karena tingakah lakunya.” (Responden 4, V1, 7) d) Menjadi kebiasaan
Beberapa responden menyebutkan bahwa salah satu dampak negatif yang dirasakan oleh pelaku adalah perilaku tersebut