• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi masyarakat mengenai perilaku bullying.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Persepsi masyarakat mengenai perilaku bullying."

Copied!
199
0
0

Teks penuh

(1)

DAN KECERDASAN EMOSI PADA REMAJA

Agnes Wijaya Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara intensitas penggunaan situs jejaring sosial dan kecerdasan emosi pada remaja. Hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini, yaitu terdapat hubungan negatif antara intensitas penggunaan Situs Jejaring Sosial dan kecerdasan emosi pada remaja. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantatif dengan teknik analisis data spearman Rho untuk menguji korelasi kedua variabel. Responden penelitian adalah 221 remaja dengan rentang usia 13-18 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan (p < 0.05) antara intensitas penggunaan Situs Jejaring Sosial dan kecerdasan emosi pada remaja.

(2)

Emotional Intelligence among Adolescents

Agnes Wijaya Abstract

The purpose of this research is to determine the correlation between the intensity of Social Networking Sites usage and adolescenceemotional intelligence. This research hypothesis is, there is a negative correlation between the intensity of Social Networking Sites usage and adolescence emotional intelligence. This research is quantitative research that using spearman rho as its analysis data technique. Respondents are 221 teenagers(13 to 18 years old). The result shows that there is significance (p < 0.05) negative correlation between the intensity of Social Networking Sites usage and adolescence emotional intelligence.

(3)

PERSEPSI MASYARAKAT MENGENAI PERILAKU BULLYING

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun Oleh : Grace Kristiana Susanto

NIM : 109114049

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(4)

SKRIPSI

PERSEPSI MASYARAKAT MENGENAI PERILAKU BULLYING

Oleh:

Grace Kristiana Susanto 109114049

Telah Disetujui oleh:

Dosen Pembimbing,

(5)

iii

(6)

“He hath made every thing beautiful in His time”

~Ecclesiastes 3:11a~

“Not all of us can do great things, but we can do small

things with great love”

~Mother Theresa~

Ther e is no elevat or t o success. You have t o t ake t he

st air s. NN

Do what you have to do until you can do what you

want to do. `Oprah Winfrey`

Believe in yourself dan you will be unstoppable.

(7)

v

Untuk Tuhan Yesus Kristus yang telah

memberikan kehidupan, biarlah melalui

karya ini nama-Mu dimuliakan

Untuk yang terkasih Papa, Mama, dan Aldo

yang selalu memberikan dukungan tiada

(8)

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan kesungguhan hati bahwa karya ini tidak memuat karya orang lain kecuali yang tercantum dalam sumber acuan dan daftar pustaka selayaknya karya ilmiah.

Yogyakarta,

(9)

vii

PERSEPSI MASYARAKAT MENGENAI PERILAKU BULLYING

Grace Kristiana Susanto

ABSTRAK

(10)

PERCEPTIONS OF REGARDING THE BULLYING

Grace Kristiana Susanto

Abstract

This study aimed to see how perceptions of regarding the bullying that occurred in indonesia .The study was done because many of the people in indonesia often see the eyes behavior bullying and are not research regarding the bullying in indonesia .This research used the method interpretative phenomenological analysis ( IPA ) .This method aimed at to explore in detail way of respondents to perceive situation or a specific condition in the life of social .This research involved eight respondents who were divided into four group that is , victims , bullies , parents , and counseling teacher .The data was preceded by presentation of two video and followed by semi-structure interview. The result of research showed that according to respondents behavior bullying is behavior that shows up because of differences in strength between bullies and victims , repeated behavior , and behavior as physical .Respondents wasn’t using the term bullying to mention behavior bullying is directly said forms of behavior bullying as slanderous and misbehavior

(11)

ix

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma

Nama : Grace Kristiana Susanto Nomor Mahasiswa : 109114049

Demi pengembangan ilmu pegetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

PERSEPSI MASYARAKAT MENGENAI PERILAKU BULLYING

Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal,

Yang menyatakan,

(12)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas rahmat karunia berlimpah yang telah diberikan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

Penulis menyadari ada banyak pihak yang telah berkontribusidalam proses penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Dr. Tjipto Susana M.Si. selaku Dosen Pembimbing Skripsi. Terima kasih atas bimbingan dan kesabaran Ibu selama ini.

2. Bapak YB. Cahya Widiyanto, Ph.D. selaku Dosen Penguji. Terima kasih atas masukkannya untuk skripsi saya.

3. Ibu Sylvia Carolina MYM,. M.Si. selaku Dosen Penguji. Terima kasih atas masukkannya untuk skripsi saya.

4. Bapak Dr. Tarsisius Priyo Widiyanto, M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

5. Ibu Ratri Sunar Astuti, M.Si. selaku Kepala Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

6. Ibu Dra Lusia Pratidarmanastiti selaku Dosen Pembimbing Akademik. Terima kasih atas segala petuah-petuah yang ibu berikan.

(13)

xi

8. Segenap staff Fakultas Psikologi dan Perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang telah memberi banyak bantuan kepada saya selama proses perkuliahan.

9. Untuk Papa Edi Susanto Lono dan Mama Rina Magdalena, orangtua yang tidak pernah lelah untuk memberikan semangat dan dukungan secara moril maupun materiil. Terima kasih untuk segalanya. Untuk adikku satu-satunya Leonardo Theo Susanto, terima kasih untuk selalu menjadi adik yang berguna untuk kakaknya.

10.Untuk Adelbertus Reynard Bai. Terima kasih untuk semuanya.

11.Untuk para responden yang telah memberikan waktu dan pemikirannya dalam penelitian kali ini.

12.Untuk yang tersayang My Support System, Wuri yang selalu ada untuk berbagi rasa, Yovidia yang selalu memberikan keceriaan, Bianca yang selalu memberikan pandangan-pandangan baru, dan Fiona yang sudah menjadi pribadi yang objektif. Sayang kalian semua. Sukses selalu ya gengs.

(14)

14.Untuk teman-teman asisten P2TKP seperjuangan, Rika, Anin, Anju, Lito, Bella, Christy, Ester, Pudar, Ardi, Lukas, Natasya, terima kasih untuk kebersamaannya selama 2 tahun kita berkembang bersama menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Untuk adik2 asisten lainnya, Pipit, Sasha, Jejes, Cia, Retha, Stanis, Lenny, Tiara, Dimas, Estu. Terima kasih untuk dinamika selama 1 tahun ini kita belajar bersama untuk saling mengenal dan menyayangi.

15.Untuk teman-teman seangkatan seperjuangan Sr. Petra, Vivid, Tirza, terima kasih untuk kebersamaannya selama ini.

Penulis menyadari bahwa Skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan untuk menyempurnakan skripsi ini.Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan dalam perkembangan ilmu pengetahuan.Terimakasih.

Penulis,

(15)

xiii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN... iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

LEMBAR PERSETUJUAN PIBLIKASI ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

DAFTAR TABEL ... xvii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 7

1. Manfaat Teoritis ... 7

2. Manfaat Praktis ... 7 BAB II

(16)

A. Perilaku Bullying ... 8

1. Pengertian Bullying ... 8

2. KarakteristikBullying ... 9

3. Bentuk-Bentuk Bullying ... 10

4. Komponen Perilaku Bullying ... 12

5. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Perilaku Bullying ... 15

6. Dampak Perilaku Bullying ... 15

B. Perilaku Agresi ... 17

1. Pengertian Agresi ... 17

2. Jenis-jenis Agresi ... 18

3. Faktor-faktor penyebab Terjadinya Agresi ... 20

C. Perilaku Kekerasan ... 22

1. Pengertian Kekerasan ... 22

2. Rentang Respon Ekspresi Marah ... 23

D. Perbedaan Antara Bullying, Agresi, dan Kekerasan ... 23

E. Persepsi ... 24

1. Pengertian Persepsi ... 24

2. Proses Terjadinya Persepsi ... 25

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi ... 26

F. Dinamika Persepsi Masyarakat terhadap Perilaku Bullying ... 27

(17)

xv

B. Responden Penelitian ... 29

1. Pelaku Bullying ... 30

2. Korban Bullying ... 30

3. Orangtua ... 30

4. Guru Bimbingan Konseling (BK) ... 31

C. Metode Pengumpulan Data ... 32

D. Metode Analisi Data ... 34

E. Verivikasi Penelitian ... 36

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian ... 37

B. Identitas Responden Penelitian ... 41

C. Diskripsi Hasil ... 44

1. Definisi Perilaku Bullying ... 45

2. Bentuk Perilaku Bullying ... 48

3. Penyebab Perilaku Bullying ... 52

4. Dampak Perilaku Bullying ... 59

5. Temuan Lain dalam Wawancara ... 71

D. Pembahasan ... 72

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 78

(18)
(19)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Informed Consern ... 85

Lampiran 2. Lembar Persetujuan Wawancara ... 86

Lampiran 3. Transkrip Wawancara Responden 1 ... 87

Lampiran 4. Transkrip Wawancara Responden 2 ... 108

Lampiran 5. Transkrip Wawancara Responden 3 ... 115

Lampiran 6. Transkrip Wawancara Responden 4 ... 122

Lampiran 7. Transkrip Wawancara Responden 5 ... 128

Lampiran 8. Transkrip Wawancara Responden 6 ... 137

Lampiran 9. Transkrip Wawancara Responden 7 ... 151

(20)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kategori bentuk-bentuk perilaku bullying ... 11

Tabel 2. Daftar Pertanyaan Wawancara ... 34

Tabel 3. Persiapan Pengambilan Data ... 37

Tabel 4. Pelaksanaan Wawancara ... 40

Tabel 5. Keterangan Identitas Responden ... 44

(21)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perilaku bullying sangat marak terjadi di dunia. Menurut survey Latitude News pada tahun 2012 terhadap 40 negara, Indonesia masuk ke

dalam urutan ke-2 dari 5 negara yang melakukan bullying tertinggi di dunia. Dengan adanya survey tersebut, Indonesia termasuk negara yang rawan dengan perilaku bullying. Selain itu, menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terdapat 369 pengaduan terkait dengan masalah bullying mulai pada bulan Januari 2011 hingga Agustus 2014. Pengaduan tersebut merupakan bentuk pengaduan tertinggi di bidang pendidikan yaitu 25% dari total pengaduan sebanyak 1.480 pengaduan (“Aduan Bullying Tertinggi”, 2014). Fakta-fakta yang ada di masyarakat mengenai perilaku bullying sangat banyak. Kelompok Nero atau yang sering disebut gank Nero pada tahun 2008 sering dikabarkan melibatkan siswi-siswi SMP untuk melakukan bullying. Kelompok tersebut menampar korban secara bergantian serta

meludahi korbannya.Selain itu, perilaku bullying sangat terlihat pada masa Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) pada Perguruaan Tinggi.Kasus IPDN adalah kasus yang paling diingat karena kasus tersebut mengakibatkan beberapa korban jiwa yang merupakan mahasiswa baru pada Institusi tersebut.

(22)

2014).Redheads merupakan sebutan bagi individu yang memiliki warna rambut merah. Individu tersebut merupakan korban yang paling mudah untuk menjadi sasaran perilaku bullying. Hal tersebut diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Kevin O’Regan pada tahun 2013 di University College Cork. Ia menyebutkan bahwa lebih dari 90% anak laki-laki lebih mudah menjadi korban bullying karena warna rambutnya yang merah. Sebutan lain bagi individu tersebut adalah ginger.

Ducan (1999) menyatakan bahwa bullying dapat menimbulkan efek negatif sehinggga bullying dapat dikatakan sebagai perilaku agresif.Beberapa orang sering menyamakan perilaku bullying dengan perilaku agresif.Perilaku bullying dan agresif memiliki perbedaan namun perbedaan tersebut sangat

tipis.Agresivitas merupakan perilaku yang wajar dilakukan oleh manusia. Menurut Baron (dalam Koeswara, 1988), agresif merupakan perilaku yang dilakukan oleh individu yang memilki tujuan untuk melukai orang lain. Selain itu, Myer (dalam Adriani, 1985) mengatakan bahwa perilaku agresif merupakan perilaku yang melukai orang lain secara fisik maupun verbal. Berkowitz (1987) menjelaskan bahwa perilaku agresif adalah perilaku yang dapat menyakiti orang lain secara fisik maupun psikologis. Pendapat lain dikemukakan oleh Murray (dalam Lidnzey, 1981), perilaku agresif merupakan cara seseorang untuk melawan atau menghukum orang lain dengan kekuatannya sendiri.

(23)

1996).Olweus juga menyebutkan bahwa bullying merupakan perilaku negatif yang menimbulkan rasa tidak nyaman terhadap orang lain. Menurut Slonje dan Smith (2008), perilaku bullying dapat dibagi menjadi beberapa tipe yaitu physical bullying dan verbal bullying.Selain itu, Monks dan Smith (2006)

menambahkan tipe bullying yang lain, yaitu relational bullying dan social bullying. Sullivan (2002) menyatakan bahwa ada beberapa karakteristik

bullying yaitu, perilaku bullying merupakan kekerasan; memiliki perbedaan

kekuatan; dilakukan secara terorganisir dan sistematik; perilaku tersebut dilakukan secara berulang, dalam jangka waktu panjang, dan terkadang dilakukan secara acak; serta menimbulkan luka fisik maupun psikologis pada korbannya.

(24)

Kekerasan atau yang biasa disebut dengan abuse juga memiliki kemiripan dengan bullying. Menurut Stuart dan Sundeen (1995), kekerasan merupakan perilaku fisik yang muncul untuk membahayakan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar.Selain itu, kekerasan merupakan respon maladaptif seseorang dari perasaan marah (Barry, 1998).Dengan penjelasan tersebut maka kekerasan berbeda dengan perilaku bullying.Perilaku kekerasan merupakan respon dari kemarahan sedangkan perilaku bullying belum tentu dari respon kemarahan.Perilaku bullying dapat disebabkan karena modelling. Selain itu, kasus dari kekerasan biasanya terjadi pada orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda seperti, kekerasan terhadap anak. Sedangkan perilaku bullying biasanya terjadi antar siswa di sekolah.

Perilaku bullying sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak.Penelitian yang dilakukan oleh National Youth Violence Prevention Resource Center Sanders pada tahun 2003 (dalam Anesty, 2009)

(25)

remaja, dan tingginya kejahatan orang dewasa (dalam Northwest Regional Educational Laboratory, 2001; dalam Anesty, 2009)

Dengan adanya akibat-akibat dari bullying tersebut, peran dari lingkungan sangat membantu dalam mencegah terjadinya perilaku bullying. Di Amerika sedang digalakkan kampanye anti bullying dengan fokus korban redheads. Mereka menyampaikan kampanye anti bullying melalui media

massa seperti televisi dalam bentuk kartun yang dapat dengan mudah disampaikan kepada anak-anak. Isi dari kampanye tersebut adalah dampak dari perilaku bullying yang diterima oleh korban serta apa yang dirasakan oleh korban. Kampanye tersebut ditampilkan pada channel anak-anak sehingga kampanye tersebut memberi dampak menurunya tingkat bullying yang terjadi di sekolah.

(26)

perilaku bullying adalah kesalahan dari para pengajar yang menggunakan sistem kekerasan, paksaan, dan selalu memposisikan anak pada posisi yang salah. Ia juga menyatakan bahwa kejadian seperti itu sering terjadi di masyarakat namun tidak menjadi perhatian bagi orang tua dan para pengajar (Setop Bullying, 2014).

Komesioner Bidang Pendidikan KPAI, Susanto, mengatakan bahwa pengajar mengabaikan perilaku bullying muncul di sekolah. Hal ini terbukti pada kasus bullying yang terjadi pada murid Sekolah Dasar (SD) yang diunggah pada situs youtube.com.Dalam video tersebut terlihat seorang anak sedang dipukul dan ditendang oleh temannya.Kejadian tersebut terjadi di dalam ruang kelas dan ada seorang guru yang berada dalam ruang kelas tersebut.Hal tersebut membuktikan bahwa pihak sekolah mengabaikan perilaku bullying yang terjadi di sekolah (“Setop Bullying”, 2014).Selain itu, menurut Susanto kasus bullying merupakan kasus yang penting namun dalam kenyataannya penanganan kasus tersebut tidak ditangani dengan intervensi yang serius. Para pengajar yang sering menganggap bahwa hal tersebut biasa dilakukan anak, permesivitas terhadap perilaku bullying serta belum terbangunnya sistem sekolah tanpa bullying merupakan faktor yang menyebabkan perilaku bullying tidak diatasi dengan baik. Kasus bullying yang marak terjadi akan menyebabkan munculnya generasi sadisme di masyarakat.

(27)

masyarakat Indonesia kurang terbiasa menggunakan kata bullying. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini peneliti tidak menggunakan kata bullying saat mewawancarai responden. Peneliti menggunakan media video yang berisikan perilaku-perilaku yang menyerupai perilaku bullying seperti yang dijelaskan oleh para ahli. Sedangkan masyarakat yang dimaksud oleh peneliti dalam penelitian ini adalah individu yang memiliki hubungan dengan perilaku bullying seperti pelaku bullying, korban bullying, orangtua, dan guru

Bimbingan Konseling. Orangtua dan guru Bimbingan Konseling memiliki peranan yang penting dalam penyebab perilaku bullying.

(28)

B. Pertanyaan Penelitian

Pada penelitian ini, permasalahan yang ingin diketahui adalah bagaimana persepsi masyarakat mengenai perilaku bullying.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi masyarakat mengenai perilaku bullying yang terjadi di Indonesia.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penilitian ini adalah : 1. Manfaat Teoritis

Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru pada ilmu perngetahuan dalam bidang psikologi, khususnya psikologi sosial mengenai fenomena perilaku bullying yang terjadi di lingkungan sosial apabila terdapat hasil yang berbeda antara persepsi masyarakat Indonesia dan persepsi masyarakat dunia.

2. Manfaat Praktis

(29)

9

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Perilaku Bullying 1. Pengertian Bullying

Olweus (2002) menyatakan bahwa perilaku bullying muncul pertama kali pada akhir tahun 1960 di Swedia dan menyebar di wilayah Skandinavia.Istilah “mobbing” atau “mobbning” merupakan istilah yang digunakan oleh masyarakat Skandinavia untuk menyebutkan perilaku yang menyerupai bullying.Dalam bahasa Inggris, kata “mob” memiliki arti individu atau kelompok yang melakukan kekerasan (Heinemann, dalam Olweus 2003).Perilaku bullying juga dikenal dengan kata “peer abuse” atau “peer harassment”.Hal tersebut disebabkan karena perilaku

tersebut memiliki unsur kekerasan.Namun sekarang masyarakat lebih sering menggunakan kata “bully” (Harris & Petrie, 2003).

Bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara terus

(30)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bullying merupakan perilaku agresif yang biasanya dilakukan oleh individu secara sengaja, dilakukan berulang kepada sebayanya yang lebih lemah dan memiliki tujuan untuk memberikan rasa takut kepada korbannya. Apabila orang tua melakukan tindak kekerasan kepada anaknya maka disebut dengan abuseatau kekerasan pada anak.

2. Karakteristik Bullying

Perilaku bullying memiliki beberapa karakteristik. Sullivan (2011) memberikan beberapa karakteristik bullying, antara lain;

a. Perilaku bullying memiliki sifat kekerasan dan pengecut, pengecut disini berarti tidak bertanggung jawab

b. Perilaku bullyingmemiliki perbedaan kekuatan antara pelaku dan korban

c. Perilaku bullyingmerupakan perilaku yang terorganisir dan sistematis d. Perilaku bullyingmerupakan perilaku yang dilakukan secara berulang,

terjadi dalam jangka waktu yang lama, dan terkadang terjadi secara acak

e. Perilaku bullyingmerupakan perilaku yang dapat memberikan luka secara fisik maupun psikologis kepada korbannya

(31)

yang lama, dan memberikan luka pada korban secara psikologis maupun fisik.

3. Bentuk-bentuk Bullying

Menurut Sullivan (2011), perilaku bullying dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Physical bullying

Physical bullyingatau bullying secara fisik merupakan perilaku

bullying yang bertujuan untuk melukai korban secara fisik seperti,

memukul, menggigit, mencubit, atau juga bisa dengan merusak barang miliki orang lain.

b. Psychological bullying

Psychological bullyingatau bullying secara psikologis merupakan

perilaku bullying yang memiliki tujuan untuk menyerang dalam diri orang lain. Bullying secara psikologis dibedakan menjadi dua yaitu: 1) Verbal

Psychological bullyingsecara verbal meliputi berkata-kata kotor,

name-calling, mengirim surat kaleng, atau menyebarkan gosip.

2) Non-verbal

Psychological bullyingsecara non-verbal dibedakan menjadi dua

(32)

mengabaikan, dan merusak hubungan.Biasanya bullying secara tidak langsung ini juga disebut dengan relational bullying.

Tabel 1

Kategori bentuk-bentuk perilaku bullying

Bukan

bullying Bullying

Perilaku Kriminal Kejahilan Fisik Menggigit Menyerang

dengan

Mencakar Mencuri Meludah Kekerasan

seksual

Verbal Berkata-kata kotor

(33)

Perilaku tidak Sopan

Tidak langsung Merusak persahabatan Mengabaikan

Mengisolasi

Bullying dapat terdiri dari perilaku-perilaku diatas atau gabungan antara perilaku-perilaku tersebut

Bullying merupakan permikiran yang jahat, dilakukan secara sengaja dan pengecut, dan

penyalahgunaan kekuatan

Bullying merupakan perilaku yang dilakukan secara berulang-ulang

4. Komponen-komponen Bullying

Ada beberapa komponen dari bullying (Sullivan, 2011) yaitu antara lain : a. Pelaku bullying

(34)

sedangkan perempuan cenderung bertahan dan memilih untuk bersedih.Menurut Olweus (dalam Harris & Pertrie, 2003), pelaku tindak bullying laki-laki cenderung lebih stabil dibandingkan dengan pelaku tindak bullying perempuan yang cenderung berkurang seiring dengan berjalannya waktu.

Astuti (2008) menyebutkan beberapa ciri dari pelaku bullying, antara lain:

1) Memiliki kehidupan yang berkelompok dan cenderung menguasai kehidupan sosial teman sebayanya

2) Memiliki kepopuleran di sekitarnya

3) Perilaku yang ditunjukkan selalu membuat lebih menonjol, seperti berjalan di depan kelompok, sering menendang meja atau kursi.

b. Korban atau victim

Menurut Borg (1999), ada fakta yang ada penelitian-penelitian mengenai korban bullying, antara lain :

1) Korban bullying cenderung memiliki kecerdasan akademik lebih tinggi dibandingkan dengan pelaku bullying,

2) Korban bullying memiliki kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan teman sebayanya,

(35)

4) Korban bullying cenderung kurang memiliki kedekatan dengan orang-orang di sekitarnya.

Susanto (2010) menyakatakan beberapa ciri dari korban tindak bullying, antara lain :

1) Secara akademik memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi maupun lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata teman sebayanya.

2) Secara sosial memiliki hubungan yang harmonis dengan keluarganya.

3) Secara mental dan perasaan memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah, tingkat kecemasan yang tinggi, merasa modoh, dan tidak berharga.

4) Secara fisik lebih lemah dibandingkan dengan teman sebayanya.

c. Partisipan atau bystander

Selain pelaku dan korban, dalam tindak bullying terdapat individu yang tidak termasuk ke dalam korban ataupun pelaku, yaitu partisipan atau bystanders.Individu yang menyaksikan tindak bullying di sebut dengan partisipan atau bystanders.Harris dan Petrie

(36)

saja dan ada pula yang menganggap bahwa perilaku tersebut berbahaya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa komponen dari tindakan bullying bukan hanya terdapat pelaku dan korban, namun juga adanya partisipan atau bystanders.

5. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Bullying

Ada 4 faktor penyebab terjadinya perilaku bullying(Olweus, 2003; Loeber & Stouthamer-Loeber, dalam Olweus 2003), yaitu :

a. Modelling

Modelling merupakan perilaku meniru yang biasanya dilakukan oleh

anak terhadap orang-orang disekitarnya, terlebih orang tua.

b. Sikap orang tua yang kurang tegas terhadap anaknya yang berperilaku agresif

c. Punishment yang diberikan oleh orang tua d. Karakter anak

Dengan demikian terdapat berbagai macam penyebab dari perilaku bullying, yaitu modelling, sikap dari orang tua yang kurang tegas

menangani anak yang berperilaku agresif, hukuman yang selalu diberikan oleh orang tua, dan karakter anak.

6. Dampak Bullying

(37)

tidak berdaya.Hal tersebut disebabkan karena korban tidak dapat bertahan terhadap perilaku bullying yang dialaminya.Selain itu korban juga cenderung merasa khawatir, tidak bahagia, dan merasa ketakutan. Dalam jangka panjang, depresi yang dialam oleh korban meningkat, merasa cemas, memunculkan simptom psikosomatis (Arseheault et al, 2006; Campbell dan Morrison, 2007; Kaltiala-Heino et al, 2000; Tehrain, 2004; dalam Sullivan 2011), dan memicu untuk melakukan bunuh diri (Kaltiala-Heino et al, 1999; dalam Sullivan 2011).

Perilaku bullyingjuga dapat memberi dampak pada pelaku (Sullivan, 2011). Pelaku yang pernah melakukan perilaku bullyingakan melakukan perilaku tersebut secara terus menerus dan dapat melakukan perilaku tersebut secara lebih serius. Apabila pelaku tetap melakukan perilaku bullyingsecara terus menerus maka pelaku tidak dapat berhenti melakukan perilaku bullying dan perilaku tersebut tidak dapat ditolerir lagi.Dampak paling besar pada pelaku adalah pelaku menjadi pelaku kriminal dan dapat dimasukkan ke dalam penjara.

Tindak bullying juga dapat mempengaruhi bystander.Berikut bentuk-bentuk pengaruh yang dialami bystander (Harris & Petrie, 2003), yaitu :

1) Kecemasan meningkat dan sering mengalami mimpi buruk.

2) Merasa marah dan kecewa karena tidak dapat menolong korban bullying.

(38)

4) Tidak memiliki self respect.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dampak perilaku bullying tidak hanya dialami oleh korban saja namun juga dialami oleh

pelaku dan partisipan. Dampak yang dialami oleh korban antara lain, merasa bersalah, ketakutan, tidak berdaya, tidak bahagia, hingga muncul keingingan untuk bunuh diri. Selain itu, dampak yang paling berat yang dialami oleh pelaku adalah dapat menjadi pelaku kriminal dan dapat masuk ke dalam penjara. Dampak yang dialami oleh partisipan antara lain muncul kecemasan, merasa marah dan kecewa karena tidak dapat membantu korban, merasa bingung ketika ada tindak bullying, dan tidak memiliki self respect.

B. Perilaku Agresi 1. Pengertian Agresi

(39)

agresif merupakan cara seseorang untuk melawan atau menghukum orang lain dengan kekuatannnya sendiri.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perilaku agresi merupakan perilaku yang wajar dilakukan oleh setiap individu yang bertujuan untuk melukai orang lain secara fisik maupun psikologis, dapat dilakukan secara langsung maupun secara verbal dengan kekuatan sendiri. 2. Jenis-jenis Agresi

Buss (dalam Dayakisni dan Hudaniah, 2012) menggolongkan dimensi agresi menjadi 3 yaitu: fisik-verbal, aktif-pasif dan secara langsung-tidak langsung. Perbedaan dimensi fisik-verbal terletak pada menyakiti fisik (tubuh) orang lain dan kata-kata. Perbedaan dimensi aktif-pasif adalah pada tindakan nyata dan kegagalan untuk bertindak, sedangkan agresi langsung berarti kontak face-to-face dengan orang yang diserang dan agresi tidak langsung terjadi tanpa kontak dengan orang yang diserang.

Kombinasi dari ketiga dimensi ini menghasilkan suatu framework untuk mengkategorikan berbagai bentuk perilaku agresi, yaitu:

a. Perilaku agresif fisik aktif langsung, merupakan perilaku agresif yang dilakukan dengan cara menyakiti fisik orang lain secara langsung. Sebagai contoh memukul, meninju, dan menikam.

(40)

lain. Sebagai contoh membuat perangkap atau jebakan, menyuruh orang lain untuk memukul.

c. Perilaku agresif fisik pasif langsung, merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara langsung namun tidak terjadi kontak fisik. Sebagai contoh melakukan demonstrasi.

d. Perilaku agresif fisik pasif tak langsung, merupakan perilaku agresif yang dilakukan tidak secara langsung dan tidak terjadi kontak fisik. Sebagai contoh menolak tugas.

e. Perilaku agresif verbal aktif langsung, merupakan perilaku agresif yang dilakukan dengan cara menyakiti orang lain melalui kata-kata secara langsung. Sebagai contoh menghina, mengejek.

f. Perilaku agresif verbal aktif tak langsung, merupakan perilaku agresif yang dilakukan dengan cara menyakiti orang lain melalui kata-kata namun tidak dilakukan secara langsung. Sebagai contoh menyebarkan gosip atau rumor.

g. Perilaku agresif verbal pasif langsung, merupakan perilaku agresif yang dilakukan orang lain untuk menyakiti orang lain secara langsung namun tidak ada kata-kata yang diucapkan. Sebagai contoh menolak berbicara, tidak menjawab orang lain.

(41)

3. Faktor Penyebab Terjadinya Agresi

Menurut Baron dan Byrne (2005) ada tiga kelompok besar faktor penyebab perilaku agresi, yaitu:

a. Faktor sosial 1) Frustasi

Frustasi merupakan situasi dimana seseorang mengalami keterhambatan atau kegagalan dalam mencapai tujuan yang diinginkan oleh individu tersebut (Koeswara, 1998).

2) Provokasi langsung

Menurut Geen (dalam Koeswara, 1998), provokasi merupakan pemicu munculnya perilaku agresi. Hal tersebut disebabkan karena provokasi merupakan serangan terhadap rasa harga diri seseorang.

3) Tayangan Kekerasan di Media Massa

Media massa dalam menjadi efek yang kuat bagi kognitif yang berhubungan dengan agresi, secara perlahan-lahan dapat membentuk hostile expectation bias yang pada akhirnya jika ekspektasinya kuat maka seseorang dapat memunculkan perilaku agresi.

b. Karakter Kepribadian 1) Pola Perilaku Tipe A

(42)

tersinggung atau agresif (Glass dan Strube, dalam Baron, Branscombe, dan Byrne 2006).

2) Bias Atribusi Hostile

Bias Atribusi hostile mrupakan salah satu faktor pembeda yang penting dalam perilaku agresi (Baron dan Byrne, 2005). Individu yang memiliki bias atribusi hostile yang tinggi jarang memandang tindakan orang lain sebagai bentuk ketidaksengajaan. 3) Jenis Kelamin

Bettencourt dan Miller (dalam Baron dan Byrne, 2005) menyatakan bahwa perbedaan jenis kelamin dalam perilaku agresi sangat besar ketika tidak ada provokasi dibanding adanya provokasi. Laki-laki memiliki kecenderungan agresif dibandingkan dengan perempuan apabila tidak ada provokasi. Namun laki-laki dan perempuan memiliki kecenderungan agresif yang sama ketika mereka mendapatkan provokasi oleh orang lain. c. Faktor Situasional

1) Suhu Udara

(43)

2) Alkohol

Busman, Cooper, dan Gustafson (dalam Baron dan Byrne, 2005) menemukan bahwa individu yang mengkonsumsi alkohol dalam jumlah yang banyak memiliki respon yang lebih cepat pada perilaku agresi.

C. Perilaku Kekerasan 1. Pengertian kekerasan

Menurut Stuart dan Sundeen (1995), kekerasan merupakan perilaku fisik yang muncul untuk membahayakan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar.Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman.Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan emosi yang merupakan campuran perasaan frustasi dan marah (Barry, 1998).Selain itu, menurut Townsend (1998) perilaku kekerasan adalah keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan secara fisik.

(44)

2. Rentang Respon Ekspresi Marah

Kekerasan merupakan respon maladaptif dari ekspresi marah. Menurut Stuart dan Sundeen (1987), terdapat rentang respon ekspresi marah yang dapat di gambarkan menjadi seperti di bawah ini :

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Asertif Frustrasi Pasif Agresif Kekerasan Keterangan :

a. Asertif, merupakan respon kemarahan tanpa menyakiti orang lain. b. Frustrasi, merupakan respon kemarahan yang terjadi karena individu

gagal mencapai tujuan dan tidak menemukan alternatif lain.

c. Pasif, merupakan respon kemarahan yang terjadi akibat kegagalan mencapai tujuan yang disebabkan oleh hambatan dan realita.

d. Agresif, merupakan respon kemarahan yang memperlihatkan permusuhan, mengancam, menuntut tanpa memiliki niatan untuk melukai orang lain.

(45)

D. Perbedaan antara Bullying, Agresi, dan Kekerasan

Masyarakat sering kali menganggap bullying, agresi, dan kekerasan merupakan perilaku yang sama. Namun dalam kenyataannya bullying, agresi, dan kekerasan memiliki banyak perbedaan.Agresif dan kekerasan merupakan respon dari rasa marah (Davidoff, 1991; Stuart & Sundeen, 1987).Respon yang diberikan oleh orang yang melakukan perilaku kekerasan memiliki tingkatan maladaptif lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang melakukan perilaku agresif. Seseorang akan melakukan perilaku agresif dan kekerasan ketika ia merasa marah terhadap seseorang atau sesuatu. Berbeda dengan bullying, seseorang akan melakukan bullying ketika ia sedang marah maupun tidak sedang marah. Hal tersebut disebabkan karena perilaku bullying dapat disebabkan oleh modelling (Olweus, 2003).

(46)

E. Persepsi

1. Pengertian Persepsi

Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan (Rakhmat, 2009).Selain itu, Robbins (2006) menyatakan bahwa persepsi merupakan proses untuk memaknai objek-objek yang ada di sekitarnya dengan cara mengelola stimulus yang diterima oleh alat indera. Meski demikian apa yang dipersepsikan seseorang terkadang dapat berbeda dari kenyataan yang obyektif (Robbins, 2006).

(47)

Persepsi yang diinginkan pada penelitian ini adalah apersepsi.Hal tersebut disebabkan karena masyarakat lebih mengenal apersepsi dengan sebutan persepsi.Oleh karena itu, untuk memudahkan dalam penelitian ini apersepsi diganti dengan sebutan persepsi.

2. Proses Terjadinya Persepsi

Menurut Sunaryo (2004) ada 3 proses dalam mempersepsi sesuatu, yaitu : a. Proses fisik

Proses fisik meliputi proses dimana seseorang mendapat stimulus dari suatu objek melalui reseptor atau alat indera.

b. Proses fisiologis

Proses fisiologis merupakan proses dimana stimulus yang telah diterima disalurkan ke otak melalui saraf-saraf sensoris.

c. Proses psikologis

Proses psikologis merupakan proses didalam otak sehingga individu menyadari stimulus yang telah diterima

Selain itu, Walgito (2002) juga menyatakan proses dari terjadinya persepsi, yaitu:

a. Proses kealaman, merupakan proses dimana seseorang menerima stimuli dari objek atau sasaran yang ditangkap melalui alat indera. Proses tersebut terjadi secara alamiah.

(48)

c. Proses psikologis, merupakan proses dimana otak memproses stimuli yang siterima sehingga individu dapat menyadari stimuli yang diterima tersebut.

Keseluruhan dari proses tersebut disebut sebagai proses persepsi yaitu proses dimana individu menyadari dan mengetahui objek tertentu melalui stimuli yang diterima oleh alat indera.

3. Faktor-faktor yang Memperngaruhi Persepsi

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi persepsi seseorang (Toha, 2003), yaitu:

a. Faktor internal

Faktor internal yang dapat mempengaruhi seseorang dalam mempersepsi sesuatu antara lain; perasaan, sikap, kepribadian, dorongan, perhatian, prasangka, proses belajar, minat, dan motivasi. b. Faktor eksternal

Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi seseorang dalam mempersepsi sesuatu antara lain; latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh sebelumnya, pengetahuan-pengetahuan yang telah diterima, dan lain-lain.

F. Dinamika Persepsi Masyarakat terhadap Perilaku Bullying

(49)

beberapa hal seperti, perasaan, kepribadian, pengalaman-pengalaman masa lalu, dan lingkungan. Hal tersebut membuat persepsi bersifat subjektif (Toha, 2003). Dengan demikian, setiap individu di setiap daerah memiliki perbedaan persepsi terhadap setiap hal.

Perbedaan persepsi tersebut juga berlaku pada setiap individu dalam memaknai perilaku bullying.Masyarakat di Amerika memaknai perilaku bullying sebagai perilaku agresif yang intensif, berulang, dan memiliki

berbagai dampak negatif terhadap korban, pelaku, maupun partisipan. Sedangkan di Indonesia, menurut survey yang ada masyarakat cenderung mengabaikan dan kurang memberikan perhatian lebih terhadap perilaku bullying. Hal tersebut mungkin disebabkan karena kata bullying sendiri tidak

masuk ke dalam Kamus Bahasa Indonesia dan kurang memiliki pengertian yang jelas. Dengan demikian, memungkinkan ada perbedaan persepsi mengenai persepsi bullying yang berkaitan dengan makna dari kata bullying itu sendiri dan perhatian dari masyarakat.

Penelitian ini merupakan penilitian dengan menggunakan metode interpretative phenomenological analysis (IPA).IPA dapat digunakan untuk

(50)

teknik wawancara merupakan teknik yang tepat untuk mengetahui persepsi masyarakat mengenai perilaku bullying.

G. Pertanyaan Penelitian

(51)

31

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap perilaku bullying.Berdasarkan tujuan peneliti, maka jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan interpretative phenomenological analysis (IPA). Tujuan dari IPA adalah untuk mengeksplorasi secara detail mengenai bagaimana individu memaknai situasi atau kondisi tertentu dalam kehidupan sosialnya (Smith, 2008).

Pendekatan IPA memiliki 2 tahapan.Pertama, responden dalam penelitian ini diharapkan untuk memikirkan kembali dan memaknai pengalaman-pengalaman mereka.Kedua, peneliti kemudian melakukan pemaknaan bagaimana responden penelitian memikirkan kembali dan memaknai pengalaman-pengalaman tersebut.Pendekatan IPA berfokus pada pemaknaan dari sudut pandang responden dan memaknai kembali dengan sudut pandang peneliti.

B. Fokus Penelitian

(52)

dimaksud dalam penelitian ini adalah orangtua dan guru Bimbingan Konseling.

C. Responden Penelitian

Responden dalam penelitian ini adalah masyarakat yangmemiliki kontak langsung dengan perilaku bullyingseperti, pelaku, korban, dan partisipan. Ada beberapa kriteria umum yang harus dimiliki oleh responden, yaitu: responden penelitian berusia minimal 17 tahun. Hal tersebut menjadi pertimbangan karena diharapkan pada usia tersebut responen berada pada tahap perkembangan operasional formal. Dalam tahap tersebut seseorang mampu berfikir secara abstak, idealis, dan logis sehingga responden dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh peneliti. Dalam penelitian ini, masyarakat yang dimaksud meliputi;

1. Pelaku bullying

Pelaku yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah individu yang pernah melakukan perilaku bullying seperti labbeling, memukul, dsb.Dia melakukan perilaku tersebut berulang-ulang dan dilakukan secara sistematis.Pelaku bullying menjadi pertimbangan dalam pemilihan responden karena pelaku merupakan elemen penting dalam perilaku bullying.

2. Korban bullying

(53)

itu, pengalaman tersebut sering dialami oleh individu tersebut.Korban bullying menjadi pertimbangan dalam pemilihan responden karena korban

merupakan elemen penting dalam perilaku bullying. 3. Orangtua

Orangtua yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah orangtua yang memiliki anak usia 17 tahun keatas. Orangtua menjadi pertimbangan dalam pemilihan responden karena orangtua memiliki peran yang penting dalam pembentukan perilaku anak.

4. Guru Bimbingan Konseling (BK)

Guru yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah guru yang mengajar Bimbingan Konseling (BK). Selain itu, guru tersebut pernah menangani permasalahan bullying. Guru BK menjadi pertimbangan dalam pemilihan responden karena guru memiliki peran yang penting dalam pembentukan perilaku anak.

(54)

memiliki kecenderungan untuk melakukan tindakan bullying secara fisik dan bersifat mengancam sedangkan perempuan cenderung melakukan perilaku bullying secara tidak langsung seperti menyebarkan gosip.

Empat kriteria responden tersebut dipilih dengan pertimbangan bahwa mereka memiliki persepsi yang berbeda terhadap perilaku bullying.Responden tersebut memiliki pengalaman-pengalaman yang dapat

menentukan persepsi terhadap perilaku bullying. Selain itu, keempat kriteria tersebut merupakan bagian dari perilaku bullying. Orangtua dan guru Bimbingan Konselingmemiliki peranan yang penting dalam pencegahan perilaku bullying. Peneliti memilih beberapa responden tersebut karena menurut peneliti responden tersebut dapat mewakili masyarakat untuk memberikan data mengenai perilaku bullying.

Subjek mencari responden korban dan pelaku bullying dengan cara mengunjungi beberapa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan menanyakan kepada Guru Bimbingan Konseling mengenai kasus-kasus bullying yang terjadi di sekolah tersebut. Setelah itu, peneliti meminta data-data mengenai siswa yang pernah melakukan perilaku bullying maupun yang pernah mendapatkan perilaku bullying. Sekolah yang dipilih adalah sekolah yang pernah menangani masalah perilaku bullying.

(55)

sebanyak delapan (8) responden. Hal tersebut menjadi pertimbangan karena dengan delapan (8) responden dapat mewakili masyarakat.

D. Metode Pengumpulan Data

Kata bullying tidak termasuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Hal tersebut memungkinkan masyarakat kurang memakai kata bullying dalam hidup sehari-hari dan tidak memiliki makna yang jelas. Hal tersebut membuat peneliti menggunakan video untuk menggantikan kata bullying. Video tersebut digunakan untuk mengilustrasikan perilaku bullying. Dengan demikian, metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menampilkan video mengenai perilaku bullying dan dilanjutkan dengan wawancara semi terstruktur. Metode pengumpulan data tersebut merupakan metode yang paling tepat pada penelitian dengan pendekatan IPA (Smith, 2008).Hal tersebut disebabkan karena metode ini dapat mengumpulkan lebih banyak data dan lebih mendalam dari responden.

Di bawah ini adalah video-video yang akan ditampilkan sebelum peneliti melakukan wawancara semi terstruktur.

Contoh Kasus I cuplikan dari film Langit Biru (40.00 – 42.30)

Pemotongan video dari menit ke 40.00 sampai ke 42.30. Peneliti memilih bagian dari film tersebut karena dalam film tersebut terdapat karakteristik dari perilaku bullying dengan bentuk bullying secara fisik.

(56)

menjadi satu sehingga membuat temannya tersebut terjatuh. Ia juga menakut-nakuti teman lainnya dengan cicak. Selain itu, ia juga sengaja membuat temannya terjatuh saat bermain bola basket. Ia juga sengaja mengunci temannya di kamar mandi dan menggeser tempat duduk temannya saat temannya ingin duduk.

Contoh Kasus II cuplikan dari sinetron Aku Anak Indonesia episode 2 Pemotongan video dari menit ke 6.30 sampai 9.20 dilanjutkan menit ke 15.15 sampai 16.15 dilanjutkan lagi menit ke 17.47 sampai 18.40. Peneliti memilih bagian dari video tersebut karena pada video tersebut terdapat karakteristik dari perilaku bullying dengan bentuk bullying secara psikologis.

Dalam video tersebut terlihat ada seorang anak SMA yang secara sengaja memfitnah temannya merebut pacar orang.Ia menghasut teman-teman lainnya untuk membenci anak tersebut. Selain itu, ia juga menyebarkan fitnah melalui websitesekolahnya dengan menyebarkan foto yang menampilkan temannya yang sedang menikam teman lainnya yang sedang berpacaran dengan menggunakan pisau. Dalam website tersebut teman-teman sekolahnya ikut berkomentar. Di dalam sekolah, ia juga mengajak teman-teman sekolahnya untuk menjauhi anak tersebut.

Contoh kasus-kasus tersebut memiliki beberapa karakteristik dari perilaku bullying, antara lain;

(57)

3. Ada perbedaan kekuatan antara korban dan pelaku 4. Perilaku tersebut terorganisir dan sistematis

5. Perilaku tersebut memberikan dampak psikologis terhadap korban

Di bawah ini merupakan daftar pertanyaan wawancara yang akan disampaikan kepada para responden.

Tabel 2

Daftar Pertanyaan Wawancara

Aspek Tujuan Pertanyaan

Definisi bullying

Ingin mengetahui definisi bullying melalui contoh kasus bullying

Apa yang terjadi dalam peristiwa tersebut? Adakah korban dalam peristiwa tersebut? Menurut anda pelaku tersebut melakukan

Penyebab Ingin mengetahui penyebab dari perilaku bullying

Apa yang menyebabkan pelaku melakukan perilaku tersebut?

Dampak

Ingin mengetahui dampak perilaku bullying pada korban

Apa dampak yang terjadi pada korban apabila

perilaku tersebut terus ada? Ingin mengetahui dampak

perilaku bullying pada pelaku

Apa dampak yang terjadi pada pelaku bila perilaku tersebut terus ada? Ingin mengetahui dampak

perilaku bullying pada partisipan

(58)

E. Metode Analisis Data

Penelitian ini menggunakan pendekatan interpretative phenomenological analysis (IPA). Pendekatan tersebut memiliki tujuan untuk

mengeksplorasi secara mendetail cara responden untuk memaknai situasi atau kondisi tertentu dalam kehidupan sosialnya (Smith, 2008). Metode analisis yang dilakukan adalah analisis isi kualitatif atau AIK. AIK merupakan metode penelitian untuk menafsirkan secara subjektif isi data berupa teks melalui proses klasifikasi sistematik berupa coding atau pengkodean dan pengidentifikasian aneka tema atau pola (Hsieh & Shannon, dalam Supratikya, 2015). Tujuan dari AIK adalah mendapatkan pengetahuan dan pemahaman berupa konsep-konsep atau kategori-kategori tentang fenomena yang sedang diteliti (Hsieh & Shannon; Elo & Kyngas, dalam Supratikya, 2015). Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam metode ini:

1. Menentukan satuan analisis

Membuat transkrip berupa teks dari hasil wawancara tentang fenomena tertentu dalam proses pengambilan data.

2. Membaca keseluruhan data

Tujuan dari membaca keseluruhan data adalah agar dapat menyelami dan memperoleh kesan tentang keseluruhan data tersebut.

3. Melakukan opencoding

Open coding dilakukan dengan cara membaca kembali secara cermat

(59)

Daftar kode-kode yang ditemukan dikelompokkan kembali di bawahjudul baru pada tingkatan yang lebih tinggi atau lebih luas. Tujuan dari pengelompokan ini adalah untuk mengurangi jumlah kode dengan cara menggabungkan kode-kode yang ada sehingga diperoleh kategori kode yang lebih bermakna (Elo & Kyngas, dalam Supratiknya, 2015).

5. Mengidentifikasi hubungan antar kode

Langkah ini merupakan upaya dari peneliti untuk melakukan abstraksi yaitu merumuskan aneka diskripsi tentang topik yang diteliti dengan menemukan tema-tema (Elo & Kyngas, dalam Supratiknya, 2015).

6. Merumuskan makna dari keseluruhan temuan

Peneliti merumuskan keseluruhan makna dari hasil yang telah ditemukan.

F. Verifikasi Penelitian

Cara yang dapat digunakan peneliti untuk mendapatkan validasi atau keakuratan dari hasil penelitian kualitatif (Creswell, 2012) adalah dengan member checking. Member checking merupakan cara untuk memberikan

(60)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Penelitian

Peneliti melakukan beberapa persiapan untuk melakukan pengambilan data supaya penelitian berjalan dengan lancar. Persiapan yang dilakukan peneliti terdiri dari pencarian video sebagai media pengantar sebelum pertanyaan, penyusunan guideline pertanyaan wawancara, dan melakukan try out guna menguji guideline pertanyaan yang sudah disusun.

Tabel 3

Persiapan Pengambilan Data

Tanggal Kegiatan Tempat Catatan

25-Apr-15 Pembuatan guideline wawancara

Rumah Peneliti Peneliti membuat susunan guideline wawancara

28-Apr-15 Revisi guideline wawancara

Kampus Paingan Universitas Sanata Dharma

Guideline wawancara diperiksa oleh dosen pembimbing

05-Mei-15 Revisi guideline wawancara

Kampus Paingan Universitas Sanata Dharma

Guideline wawancara kembali diperiksa oleh dosen pembimbing setelah melalui beberapa revisi pertanyaan

12-Mei-15 Diskusi

mengenai video yang akan digunakan

(61)

Tanggal Kegiatan Tempat Catatan 19-Mei-15 Diskusi

mengenai video yang akan digunakan sebagai pengantar wawancara setelah mengganti video yang lebih cocok

26-Mei-15 Diskusi

mengenai video yang akan digunakan sebagai pengantar wawancara setelah mengganti video yang lebih cocok

05-Jun-15 Pelaksanaan Try Out

SMA X di Kota Y

Dosen pembimbing sudah menyetujui video yang digunakan sebagai pengantar wawancara sehingga

peneliti siap melakukan try out

29-Jun-15 Diskusi Hasil Try Out menggali lebih dalam

jawaban dari responden

02-Jul-15 Penggalian hasil Try Out

(62)

Peneliti mencari beberapa video yang mencerminkan perilaku bullying yang berada di Indonesia. Peneliti memilih video yang berlatar belakang di Indonesia agar situasi yang ada di video relatif sama dengan kenyataan yang ada di sekitar responden penelitian. Setelah menemukan beberapa video, peneliti mendiskusikan kepada dosen pembimbing skipsi dengan gelar Doktor dalam bidang psikologi klinis dan dosen lain yang dengan gelar Master dalam bidang psikologi klinis untuk memastikan video yang dipakai untuk penelitian tersebut tidak menyalahi kode etik dalam penelitian psikologi.Selain itu, peneliti juga mendiskusikan video pada individu berusia dewasa awal dengan tujuan untuk mengetahui respon yang muncul pada orang awam dan tidak memberikan efek psikologis.

Setelah seluruh persiapan mengambilan data wawancara sudah dirasa cukup maka tahap selanjutnya adalah pemilihan responden wawancara.Peneliti mendapatkan responden untuk wawancara dengan dua cara. Cara yang pertama adalah dengan meminta rekomendasi dari guru Bimbingan Konseling di sekolah X di kota Y untuk responden korban dan pelaku dan meminta rekomendasi dari pihak kepala sekolah X di kota Y untuk responden guru Bimbingan Konseling. Sekolah tersebut dipilih karena perilaku bullying juga muncul di sekolah tersebut. Sedangkan cara yang kedua adalah dengan relasi yang dimiliki oleh peneliti untuk responden orangtua.

(63)

melakukan uji coba pertanyaan kepada pelaku, peneliti menjelaskan kepada responden mengenai wawancara yang akan dilakukan. Peneliti menjelaskan bahwa selama proses wawancara tersebut akan direkam menggunakan alat rekam. Selain itu, peneliti juga menjelaskan bahwa wawancara tersebut dilakukan secara sukarela, dilakukan sejujur-jujurnya, dapat dilakukan lebih dari satu kali, dan mendapatkan ijin dari dosen pembimbing skripsi.Setelah responden menyetujui kesepakatan tersebut maka dapat melaksanakan pengambilan data.Pengambilan data tersebut dimulai dengan menampilkan video yang telah disiapkan sebelumnya.Setelah menampilkan video tersebut peneliti mengajukan beberapa pertanyaan kepada responden.

Hasil dari uji coba pertanyaan tersebut kemudian didiskusikan dengan dosen pembimbing skripsi dan harus dilakukan pendalaman lebih lanjut mengenai hasil uji coba pertanyaan tersebut.Setelah melakukanwawancara lanjutan dengan pelaku tersebut untuk mendalami jawaban-jawabannya ternyata hasil wawancara tersebut dapat dipakai sebagai hasil wawancara responden pertama. Setelah itu peneliti melanjutkan wawancara terhadap responden-responden lainnya dengan proses yang sama dengan responden pertama.

Tabel 4

Pelaksanaan Wawancara

(64)

Tanggal Kegiatan Tempat Catatan 30-Jul-15 Wawancara

dengan memiliki jam mengajar sehingga responden

dapat menjalanin wawancara dengan lancar

31-Jul-15 Wawancara dengan

responden 4 dilakukan seusai jam sekolah dan lingkungan sekolah sepi sehingga wawancara berjalan dengan lancar.

05-Agust-15 Wawancara dengan responden 3 dan 6

SMA X di Kota Y

Responden 3 diberikan waktu untuk melakukan wawancara sehingga wawancara dapat berjalan dengan lancar.

Responden 6 melakukan wawancara ketika sudah tidak memiliki jam mengajar pada hari itu sehingga wawancara dapat berjalan dengan lancar.

20-Sep-15 Wawancara dengan responden 7 dan 8

Rumah responden

Wawancara dilakukan di rumah responden sehingga responden merasa lebih nyaman dan dapat melaksanakan wawancara dengan lancar.

B. Identitas Responden Penelitian

(65)

1. Pelaku Bullying

Pelaku bullying yang menjadi responden penelitian adalah dua responden yang terdiri dari satu laki-laki dan satu perempuan. Kedua responden tersebut merupakan siswa siswi dari SMA X di Kota Y. Kedua responden tersebut merupakan rekomendasi dari guru Bimbingan Konseling yang memiliki beberapa perilaku yang serupa dengan kriteria pelaku bullying.

a. Responden 1

Inisial responden 1 adalah RA.RA berjenis kelamin laki-laki dan berusia 17 tahun.RA direkomendasikan oleh guru Bimbingan Konseling karena perilaku RA memenuhi kriteria pelaku bullying. b. Responden 2

Inisial responden 2 adalah RS.RS berjenis kelamin perempuan dan berusia 17 tahun.RS juga merupakan rekomendasi dari guru Bimbingan Konseling karena perilaku RS memenuhi kriteria pelaku bullying.

2. Korban Bullying

(66)

a. Responden 3

Inisial responden 3 adalah ER. ER berjenis kelamin laki-laki dan berusia 17 tahun. ER merupakan rekomendasi daru guru Bimbingan Konseling karena perilaku memenuhi kriteria korban bullying.

b. Responden 4

Inisial responden 4 adalah AD.AD berjenis kelamin perempuan dan berusia 17 tahun. AD merupakan rekomendasi daru guru Bimbingan Konseling karena perilaku memenuhi kriteria korban bullying.

3. Orangtua

Orang tua yang menjadi responden penelitian merupakan orang tua yang memiliki anak berusia remaja.Kedua responden tersebut terdiri atas satu laki-laki dan satu perempuan.

a. Responden 7

Inisial responden 7 adalah AB. AB berjenis kelamin laki-laki dan berusia 45 tahun. Merupakan seorang ayah yang memiliki anak usia 17 tahun ke atas.

b. Responden 8

Inisial responden 8 adalah SH. SH berjenis kelamin perempuan dan berusia 40 tahun. Merupakan seorang ibu yang memiliki anak usia 17 tahun ke atas.

4. Guru Bimbingan Konseling

(67)

respondentersebut terdiri atas satu laki-laki dan satu perempuan. Kedua responden tersebut memiliki relasi yang dekat dengan siswa siswi di SMA X di Kota Y.

a. Responden 5

Inisial responden 5 adalah W. W berjenis kelamin laki-laki dan berusia 45 tahun.W merupakan guru Bimbingan Konseling di SMA X di Kota Y. W memiliki hubungan yang dekat dengan para siswa di sekolah tersebut.

b. Responden 6

Inisial responden 6 adalah E. E berjenis kelamin perempuan dan berusia 34 tahun.E merupakan guru Bimbingan Konseling di SMA X di Kota Y. E memiliki hubungan yang dekat dengan para siswa di sekolah tersebut.

Tabel 5

Keterangan identitas responden

Keterangan Inisial Usia Jenis Kelamin 1. Pelaku RA 17 tahun Laki-laki

2. Pelaku RS 17 tahun Perempuan

3. Korban ER 17 tahun Laki-laki

4. Korban AD 17 tahun Perempuan

5. Guru BK W 45 tahun Laki-laki

6. Guru BK E 34 tahun Perempuan

7. Orangtua AB 45 tahun Laki-laki 8. Orangtua SH 40 tahun Perempuan

(68)

Penelitian ini menghasilkan gambaran mengenai definisi perilaku bullying; bentuk-bentuk perilaku bullying; penyebab internal maupun

eksternal dari perilaku bullying; dan dampak positif maupun negatif terhadap pelaku, korban, dan responden dalam perilaku bullying.

1. Definisi Perilaku Bullying

Setelah seluruh responden yang berjumlah delapan tersebut telah selesai melalui proses koding maka didapatkan beberapa definisi dari perilaku bullying. Secara garis besar, para responden mendefinisikan perilaku bullying sebagai perilaku yang merendahkan, tidak menghargai, merugikan, sewenang-wenang, tidak bertanggung jawab, dan membuat tidak nyaman orang lain. Selain itu, menurut para responden perilaku bullying dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja serta memiliki

perbedaan kekuatan antara pelaku dan korban.Perilaku bullying juga terjadi secara terus menerus pada satu atau lebih korban dan menimbulkan rasa sakit secara fisik maupun mental.

a. Pelaku yang memiliki perbedaan kekuatan antara pelaku dan korban Ada beberapa responden yang menyatakan bahwa perbedaan kekuatan antara pelaku dan korban yang dimaksud adalah perbedaan secara fisik, mental, dan kemampuan.

Hal tersebut dapat dilihat dari salah satu pengakuan responden pada saat wawancara :

“Terus kan yg main basket. Yg cewek pake kacamata yg cowok kan lebih besar, kelasnya lbih tinggi. Trus main yg pake kacamatanya jatuh malah di

(69)

(Responden 2, V1, 5) “Karena teman yang kelihatannya itu lebih memiliki sesuatu yg lebih dari temennya yang kurang itu selalu di jahilin... Ee karena anak itu merasa dia

lebih aku tu punya segalanya dan kamu enggak jadi kamu harus nurut sama aku.“

(Responden 4, V1, 2-3) b. Perilaku yang dilakukan secara terus menerus atau berulang

Ada beberapa responden yang menyebutkan bahwa perilaku bullying merupakan perilaku yang dilakukan secara terus menerus.Menurut para responden, perilaku yang dilakukan secara terus menerus merupakan perilaku yang dilakukan secara berulang-ulang kali sampai pelaku bullying tersebut mendapatkan akibat dari perilakunya tersebut.

Hal tersebut dapat dilihat dari salah satu pengakuan responden pada saat wawancara :

“Kemudian akan mendapatkan kepuasan terbukti dari dia melakukan

berulang-ulang dan kemudian tertawa..Itu terpuaskan karena nanti tidak ada yang nyetop kaya gitu jadi akan dalam tanda kutip mencari sensasi

lagi...Tapi kalo tidak diketahui ya dampaknya sih akan terus melakukan itu sampai dia mungkin kena batunya.”

(Responden 6, V1, 4-5 &26-28) c. Perilaku yang tidak bertanggung jawab

(70)

Hal tersebut dapat dilihat dari salah satu pengakuan responden pada saat wawancara :

“apalagi sampe narik kursi itu kan berbahaya, apalagi kalo sampe itu kena tulang, ya mungkin dia tidak akan berpikir sampe sampe kesana ya.”

(Responden 6, V1, 25) d. Perilaku yang bersifat kekerasan fisik

Beberapa responden menyebutkan bahwa perilaku bullying merupakan perilaku yang bersifat kekerasan fisik.Menurut para responden, perlaku yang bersifat kekerasa fisik meliputi perilaku memukul, mencubit, hingga mengkroyok korban.

Hal tersebut dapat dilihat dari salah satu pengakuan responden pada saat wawancara :

“E dimana-mana selalu ingin e kalo bullying yg kekerasan itu, perlakunya

itu mempunyai greget entah apa itu ga tau kalo kekerasan itu memukuli dia atau mengkroyok dengan teman2nya, pokoknya yang menyakiti fisik si

korban, itu kalo kekerasan,” (Responden 1, WL, 3) e. Perilaku yang bersifat kekerasan verbal

Beberapa responden menyatakan bahwa perilaku bullying juga merupakan perilaku yang bersifat kekerasan verbal. Menurut para responden, kekerasan verbal meliputi berkata kotor, berkata kasar, memanggil seseorang tidak sesuai dengan namanya, dan membicarakan kejelekan orang lain.

(71)

“Contoh, pertama memanggil nama teman tidak sesuai dg nama aslinya

misalnya menggunakan olokan nama orang tua, atau yg ke2 membrikan cap ato label pada anak, misalnya dy hitam dpanggil si kecap.”

(Responden 6, LW, 3-4) Dari keseluruhan pernyataan para responden, ada salah satu responden yang memiliki perbedaan pendapat.Responden tersebut merupakan korban laki-laki dari perilaku bullying.Responden yang berinisial ER tersebut menyatakan bahwa bullying hanya secara fisik. Menurut responden, kekerasan secara verbal bukan termasuk bullying. Hal tersebut didapatkan dari salah satu pendapat responden sebagai berikut :

“Karena klo membully sama menjahil itu main tangan.Kalo fitnah itu tidak main tangan cuman ngomong.”

(Responden 3, WL, 4) 2. Bentuk Perilaku Bullying

Setelah seluruh responden yang berjumlah delapan tersebut telah selesai melalui proses koding maka didapatkan beberapa bentuk dari perilaku bullying. Secara garis besar, para responden menyebutkan bentuk-bentuk perilaku bullying seperti kenakalan remaja, keusilan atau keisengan, fitnah, gosip, berkata-kata kotor, dan melukai secara fisik seperti memukul dan mencubit. Hal tersebut dapat dilihat dari pengakuan para responden sebagai berikut :

a. Kenakalan

(72)

merupakan perilaku yang membuat pelaku mendapatkan kepuasan.Hal tersebut didapatkan dari salah satu pendapat responden sebagai berikut :

“Yang terjadi adalah kenakalan. Itu anak apa ta? Usia SMP ya?

Kenakalan yang bermula dari iseng, kemudian ya ini akhirnya apa namanya anak ini nanti dari dia iseng kemudian nakal dan dia

mendapatkan kepuasan.” (Responden 6, V1, 1-3) b. Keusilan atau keisengan

Beberapa responden menyebutkan bahwa bentuk lain dari perilaku bullying adalah keusilan atau keisengan. Menurut para responden,

keusilan atau keisengan merupakan perilaku bullying yang tidak disengaja atau pelaku tidak memiliki niat untuk melakukan perilaku bullying yang dapat merugikan dan membuat celaka orang lain.Hal

tersebut didapatkan dari salah satu pendapat responden sebagai berikut :

“Secara tidak sengaja maksudnya tidak tidak bermaksud untuk membullying dia tapi ternyata dampaknya bisa anak itu merasa dibullying.

Keisengan it ya termasuk kategori yang tidak sengaja itu,” (Responden 5, WL, 3-5) c. Fitnah

Beberapa responden menyebutkan bahwa bentuk lain dari perilaku bullying adalah fitnah. Menurut para responden, fitnah merupakan

(73)

membuat korban menjadi rendah diri.Hal tersebut didapatkan dari salah satu salah satu pendapat responden sebagai berikut :

“Ada juga, tapi juga termasuk iseng bisa kekerasan, kaya fitnah... Kalo fitnah ga fisik,tanpa melukai secara langsung si korban, bisa lewat media,

lewat mading, kan dia ga melukai si korban tapi tanpa melukai si korban secara langsung si korban akan merasa sakit. Kalo secara fisik itu berarti

harus bertemu dengan korban secara langsung. Kalo yang fitnah tanpa dia harus ketemu dia bisa melakukan, entah itu di rumah ato d lingkungan

buat berita apa yang mungkin bisa menyakiti si korban.” (Responden 1, WL, 5-7) d. Berkata-kata kotor

Beberapa responden menyebutkan bahwa bentuk lain dari perilaku bullying adalah kata kotor. Menurut para responden,

berkata-kata kotor merupakan perilaku yang tidak menyenangkan terhadap orang lain secara verbal seperti memanggil seseorang bukan dengan namanya, memanggil seseorang dengan julukan karena fisik tertentu, dan sebagainya. Hal tersebut didapatkan dari salah satu salah satu pendapat responden sebagai berikut :

“Perilaku yang tidak menyenangkan terhadap orang lain, bullying to? Seperti ngomong kotor itu termasuk bullying.”

(Responden 7, WL, 4-5) e. Melukai secara fisik

(74)

tanpa sepengetahuan dari orang tersebut, mencubit, memukul, dan sebagainya. Hal tersebut didapatkan dari salah satu pendapat responden sebagai berikut :

“Klo di kursi misalnya klo cidera kecil itu waktu di kursi itu cuman bgtu

dia ga tau kalo kursinya diambil trus dia duduk trus jatuh mungkin Cuma e kena meja kepalanya kena meja dikit, kebentur dikit itu ga papa mungkin

itu Cuma merasa ah ga papa cuman sakit sedikit, tpi klo cidera berat itu jika kalo sampe si korban waktu jatuh itu kena patah di tulang ekor trus

buta itu kan selamanya, jadi itu seumur hidupnya cuman gara2 kejadian itu dia hidup jadi ga tenang karena baik itu tadi, pada di tulang ekor trus

buta, ga cuman sakit sementara.” (Responden 1, V1, 28-29) Dari keseluruhan bentuk-bentuk dari perilaku bullying yang disampaikan oleh para responden terdapat hal yang menarik.Salah satu responden menyatakan bahwa kejahilan bukan bagian dari bentuk perilaku bullying sedangkan beberapa responden lain menyatakan bahwa kejahilan merupakan bagian dari perilaku bullying.Responden yang menyatakan bahwa kejahilan bukan bagian dari perilaku bullying adalah korban laki-laki. Hal tersebut dibuktikan dari hasil wawancara sebagai berikut:

“Beda. Kalo jahil ya mungkin membully dan menjahil itu kaitannya dengan

waktu mungkin.Kalo membully itu terus menerus tapi kalo menjahili itu sekali dua kali.”

(Responden 3, WL, 3) 3. Penyebab Perilaku Bullying

Gambar

Tabel 1. Kategori bentuk-bentuk perilaku bullying .................................. 11
Tabel 1 Kategori bentuk-bentuk perilaku bullying
Tabel 2 Daftar Pertanyaan Wawancara
Tabel 3 Persiapan Pengambilan Data
+4

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis data penelitian diketahui bahwa terdapat persamaan antara bentuk bullying yang paling sering dilakukan oleh pelaku maupun dialami oleh

Berdasarkan data dari Josephson Institute, anak dan remaja yang terlibat dalam perilaku bullying, baik itu terlibat sebagai korban, pelaku, maupun hanya sebagai pihak yang

1) Bullying Fisik, bullying ini dilakukan pelaku dengan cara melukai fisik seperti memukul, menendang, mendorong, merusak benda-benda milik korban, melakukan

Peneliti menunjuk pada teori yang dikemukakan oleh Sanders (2003) diketahui bahwa perilaku yang muncul pada pelaku bullying adalah rasa percaya diri yang tinggi, perilaku agresif,

Ketiga, tujuan korban menjadi pelaku bullying adalah untuk melindungi diri dari situasi yang tidak menguntungkan bagi pelaku, sehingga perilaku tersebut dimunculkan

Secara umum diperoleh bukti empirik bahwa Model Konseling Kognitif Perilaku efektif untuk menanggulangi bullying baik pada pelaku, korban baik berdasakan pola asuh maupun

Berdasarkan hasil analisis data penelitian diketahui bahwa terdapat persamaan antara bentuk bullying yang paling sering dilakukan oleh pelaku maupun dialami oleh

Keinginan pelaku untuk mendominasi dan bersikap agresif me- nyerang terhadap korban bullying dapat mendorongnya kepada tin- dakan tanpa pikiran atau merusak.82 Tindakan demikian dapat