AKSES SUMBER DAYA DAN STRATEGI AKTOR
7.2. Diskursus dan Arena Kontestasi Kepentingan
Kontestasi kepentingan di lapisan diskursus terjadi dalam 2 (dua) hal, yaitu diskursus pengetahuan terkait daya dukung lingkungan dan diskursus pakan. Kontestasi diskursus yang pertama adalah diskursus pengetahuan terkait daya dukung lingkungan perairan ini bersumber dari perbedaan mendasar terkait pendekatan dan cara perhitungan daya dukung lingkungan perairan. Pertama adalah kelompok ilmuwan yang mengasumsikan perairan waduk tidak ubahnya seperti
“kolam besar”, sehingga dasar penentuan daya dukung lingkungannya mengacu pada kebutuhan oksigen terlarut. Sementara, kedua adalah kelompok yang
mengasumsikan perairan waduk bukan sebagai “kolam besar”, sehingga penentuan
daya dukung lingkungannya mengacu atas total nitrogen dan pospor. Kedua pendekatan ini menghasilkan perhitungan yang berbeda, dengan pendekatan kebutuhan oksigen terlarut mendapatkan jumlah KJA jauh lebih besar dibanding pendekatan total nitrogen dan fosfor. Perbedaan dasar pengetahuan ini akhirnya berdampak terhadap penentuan jumlah batas maksimal keberadaan kegiatan KJA di Waduk Djuanda, Jatiluhur. Masing-masing instansi mengeluarkan batasan yang berbeda-beda (Tabel 21).
Tabel 21. Perbedaan Batasan Jumlah dan Luas Areal Budidaya KJA
Kriteria Satuan POKJA
1996 Balitkanwar 1996 SK Bupati 06/2000 PJT II 2004 Luas waduk Ha 8.300 6.000 8.300 8.300
Elevasi air min. M dpl 90,00 92,45 87,65
Jarak antar unit M 25 50
Luas desain/petak KJA M2 453 75 624
Jumlah KJA Petak 5.480 3.637 3.216 2.100
Luas Perairan KJA Ha 209,5 27,3 131 83
Luas perairan KJA % 2,52 0,45 1,58 1
Sumber : Sudjana (2004)
Kontestasi kepentingan kedua diskursus ini pada gilirannya menyebabkan terpolarisasinya kepentingan, yaitu pihak yang menginginkan jumlah KJA diperbesar dan pihak yang menginginkan jumlah KJA diperkecil. Pemerintah daerah cenderung memilih diskursus daya dukung lingkungan perairan berdasarkan oksigen terlarut, demikian juga pengusaha KJA dan agen pakan. Sementara pihak PJT II cenderung memilih diskursus daya dukung lingkungan perairan berdasarkan total nitrogen dan fosfor yang semakin membatasi jumlah KJA. Dampak dari perbedaan pendekatan ini berimplikasi atas kebijakan yang diambil pemerintah melalui Disnakkan Kabupaten Purwakarta dan PJT II sebagai pilihan strategi kebijakan.
Hal mendasar dari perbedaan kedua lembaga otorita ini adalah terkait cara pandang sumber penyebab degradasi perairan. Pihak pendukung diskursus daya dukung lingkungan perairan berdasarkan kebutuhan oksigen terlarut menganggap degradasi lingkungan perairan akibat dampak ikutan dari proses eutrofikasi perairan. Eutrofikasi terjadi melalui berbagai jenis bahan cemaran yang masuk ke perairan. Proses eutrofikasi ini menyebabkan menurunnya total kadar oksigen terlarut di dalam perairan. Akibat dari menurunnya total kadar oksigen terlarut menyebabkan kemampuan daya dukung lingkungan perairan menjadi terbatas. Implikasi strategi dan arah kebijakan yang diambil adalah tidak dengan mengurangi jumlah keberadaan KJA tetapi dengan mengurangi dampak eutrofikasi. Salah satu strateginya adalah dengan penebaran ikan berjenis plankton feeder yang bertujuan mengurangi algae. Strategi ini berasumsi bahwa algae sebagai sumber eutrofikasi juga sekaligus sebagai sumber pakan bagi beberapa jenis ikan plankton feeder.
Perkembangan jenis ikan plankton feeder di perairan waduk secara otomatis akan menyebabkan kadar oksigen terlarut dapat ditingkatkan dan jumlah KJA dapat terus bertambah.
Sumber permasalahan degradasi perairan waduk bagi pendukung diskursus daya dukung lingkungan perairan berdasarkan biomassa dan total nitrogen dan fosfor adalah keberadaan KJA dan limbah sisa pakan. Intensifnya kegiatan usaha KJA berbanding lurus dengan intensifnya material loading yang masuk ke dalam perairan. Hal ini terutama dari hasil sisa pemberian pakan yang diklaim lebih banyak terbuang ke perairan dibandingkan dengan dimanfaatkan oleh ikan di KJA. Sisa pakan terbagi menjadi dua, yaitu sisa pakan yang tidak dikonsumsi oleh ikan dan sisa kotoran ikan yang terbuang di perairan. Ditambah lagi dengan sifat usaha KJA yang lebih banyak menghabiskan waktu di tengah perairan menyebabkan timbul juga keberadaan kegiatan sehari-hari oleh para operator atau pekerja KJA. Hal ini menyebabkan bertambahnya daftar material loading ke perairan melalui limbah domestik KJA. Total limbah yang masuk ini mengotori perairan yang menyebabkan terjadinya degradasi kualitas lingkungan perairan dan bersifat racun serta korosif. Memburuknya kualitas lingkungan perairan menyebabkan terganggunya operasional usaha dari pihak PJT II yaitu dengan menambah biaya pemeliharaan dan penggantian instalasi yang rusak dari unit-unit instalasi bahan baku air bersih dan listrik. Oleh karena itu, walaupun tidak menutup kemungkinan sumber bahan cemaran perairan berasal dari faktor lain tetapi tetap saja pihak PJT II menganggap bahwa keberadaan KJA sebagai sumber utama terjadinya degradasi lingkungan perairan waduk.
Kedua diskursus pengetahuan ini seringkali bertemu di berbagai forum, baik forum ilmiah maupun forum kebijakan. Kedua diskursus pengetahuan ini uniknya bersumber dari satu institusi perguruan tinggi yang sama. Kelompok yang mendukung diskursus nitrogen dan fosfor berasal dari latar belakang kelompok ilmu manajemen sumber daya air, sementara kelompok yang mendukung diskursus oksigen terlarut berasal dari latar belakang kelompok ilmu manajemen budidaya ikan. Dengan adanya dua latar belakang ilmu pengetahuan yang berbeda ini maka masing-masing aktor otorita memilih satu diantaranya yang dapat digunakan sebagai justifikasi kebijakannya. Justifikasi kebijakan yang “diperkuat” klaim ilmu
pengetahuan ini sebenarnya digunakan sebagai alat untuk membuat justifikasi yang dapat melindungi kepentingan masing-masing aktor otorita. Kedua belah pihak masing-masing memegang pendapatnya dan menjadi dasar pengambilan kebijakan. Dalam konteks arena penguasaan dan pengelolaan sumber daya, diskursus pengetahuan ini menjadi alat bagi kontestasi kepentingan masing-masing aktor otorita. Dengan pengertian lain, diskursus pengetahuan dipilih menjadi alat justifikasi untuk memperjuangkan dan meligitimasi kepentingan para aktor. Tabel 22 menunjukkan resume kontestasi diskursus pengetahuan daya dukung sumber daya perairan waduk.
Tabel 22. Kontestasi Diskursus Pengetahuan Daya Dukung Sumber Daya Perairan Waduk Aktor PJT II Disnakkan Kab Purwakarta Penyebab Degradasi SDA
Akumulasi material loading karena kegiatan KJA
Eutrofikasi karena akumulasi bahan cemaran
Asumsi Karakteristik SDA
Waduk ≠ Kolam Besar Waduk = Kolam Besar Dasar Penentuan
Daya Dukung SDA
Jumlah Total Nitrogen dan Fosfor
Kebutuhan Oksigen Terlarut
Strategi Kebijakan -Jumlah KJA harus dikurangi
-Pengerukan dasar perairan untuk membuang
akumulasi material loading
- Jumlah KJA tetap atau dinamis sesuai
ketersediaan oksigen terlarut di perairan - Restocking atau
introduksi jenis ikan plankton feeder untuk mengurangi masalah blooming algae
Kontestasi diskursus kedua adalah diskursus tentang pakan yang melibatkan dua hal, yaitu (1) diskursus pakan komersial yang diakui memberikan hasil produksi yang terbaik; (2) diskursus jumlah pakan yang diberikan berbanding lurus dengan jumlah total hasil panen yang diperoleh. Berbeda halnya dengan diskursus pertama yang berada pada kelompok elit masyarakat di tingkat otorita, maka diskursus ini lebih berada di tingkat kelompok masyarakat pengguna. Dampak
kedua diskursus tersebut sangatlah besar di dalam pemahaman dan kegiatan pemanfaatan sumber daya sehari-hari.
Diskursus pakan yang pertama tentang keunggulan pakan komersial berdampak hingga masuknya pemahaman tersebut ke dalam materi-materi penyuluhan dan juga panduan pelaksanaan budidaya yang dikeluarkan oleh pemerintah. Dampak lainnya adalah adanya larangan membuat pakan sendiri. Alasannya adalah pakan lain tersebut lebih berpeluang hanya mengotori lingkungan perairan. Hampir keseluruhan pembudidaya memiliki konstruksi pemahaman pengetahuan yang sama tentang pakan komersial ini. Penggunaan pakan komersial bisa dikatakan menjadi satu-satunya cara. Pengecualian dalam hal ini adalah pembudidaya KJA skala kecil. Namun hal ini juga bukan karena adanya konstruksi pemahaman yang berbeda, tetapi lebih didasarkan dari keterbatasan modal yang ada. Pembudidaya KJA skala kecil umumnya secara sembunyi-sembunyi menggunakan pakan alternatif seperti dari sisa-sisa makanan, dedaunan dan lainnya selain menggunakan pakan komersial. Penggunaan pakan alternatif ini bertujuan mengurangi beban biaya pakan dalam struktur biaya produksi. Perbandingan penggunaan pakan komersial dan non-komersial di tingkat pembudidaya KJA skala kecil berdasarkan informasi selama penelitian adalah berkisar antara 70:30 %. Sementara di tingkat pembudidaya KJA skala menengah dan besar secara keseluruhan menggunakan pakan komersial dengan mengkombinasikan berbagai produk pakan komersial.
Diskursus pakan yang kedua adalah tentang rasio pakan dan hasil panen yang membuat berkembangnya pengetahuan sistem pompa dalam pemberian pakan. Sistem pompa adalah cara pemberian pakan dengan frekuensi dan jumlah yang sangat intensif dan masif. Tujuannya adalah mengejar target produksi dan waktu panen. Secara sederhana sistem pompa dipahami dengan anggapan bahwa jika pertumbuhan ikan diinginkan akan terjadi secara cepat maka hal tersebut harus diimbangi dengan pemberian pakan yang sebanyak dan sesering mungkin. Pembudidaya juga biasanya menghitung dan memprediksi hasil panen menggunakan batasan jumlah pakan yang akan diberikan. Diskursus ini mengalahkan diskursus pengetahuan kemampuan penyerapan ikan dan sisa pakan yang terbuang ke perairan. Pembudidaya KJA tidak pernah mempertimbangkan
permasalahan limbah sisa pakan yang terbuang ke dalam perairan. Hal yang menarik adalah proses reproduksi diskursus pengetahuan ini terjadi di semua lapisan aktor pengguna. Berdasarkan informasi selama penelitian, diperoleh keterangan bahwa bagi siapapun yang memiliki keinginan untuk membuka usaha KJA, maka yang bersangkutan akan mendapatkan saran yang sama baik dari sesama pembudidaya, bandar ikan, maupun pedagang pakan.
Pihak yang diuntungkan dari adanya kedua diskursus tentang pakan ini adalah pedagang pakan dan juga tentunya pabrik pakan. Hal ini disebabkan karena sama halnya dengan petani yang sangat bergantung dengan pupuk, demikian halnya dengan pembudidaya yang sangat bergantung dengan pakan. Meningkatnya jumlah pembudidaya secara otomatis meningkatkan permintaan akan pakan, dan harga pakan pun terus meningkat dari tahun ke tahun. Sementara keuntungan yang diterima pembudidaya dari tahun ke tahun sebenarnya semakin mengecil, karena meningkatnya persentase biaya pakan dalam perhitungan biaya produksi. Permasalahan degradasi lingkungan perairan waduk yang ditandai oleh semakin seringnya kematian massal ikan dan juga semakin bertambahnya waktu pemeliharaan ikan justru menjadi hal yang menguntungkan bagi hal perdagangan pakan. Pembudidaya justru semakin terpacu mengintensifkan pemberian pakan karena anggapan bahwa pemberian pakan yang lebih banyak lagi akan dapat memperpendek waktu pemeliharaan sebelum terjadinya siklus tahunan kematian massal ikan yang dipicu di saat musim penghujan. Sementara siklus tahunan kematian massal ikan tersebut justru salah satunya adalah akibat proses blooming algae yang dipicu dari kondisi perairan yang eutrof sebagai akibat terjadinya upwelling perairan. Proses upwelling perairan ini dengan sendirinya mengangkat dan mengaduk limbah sisa pakan di bagian dasar perairan yang bersifat racun di dasar perairan. Tabel 23 menunjukkan resume arena kontestasi kepentingan di tingkat diskursus.
Tabel 23. Arena Kontestasi Kepentingan di Tingkat Diskursus Arena Diskursus
Daya Dukung Pakan
Aktor
Otorita
(PJT II dan Disnakkan Kab. Purwakarta)
Pabrik pakan, Pedagang pakan, pengusaha KJA
Kontestasi
Daya dukung berbasis oksigen terlarut VS total nitrogen dan fosfor
a. Pakan komersial VS non-komersial
b. Teknik pemberian pakan sistem pompa VS non-sistem pompa Basis Kepentingan Pengurangan jumlah KJA VS Mempertahankan jumlah KJA
Keuntungan usaha VS kualitas lingkungan sumber daya perairan
Pihak yang kuat
Otorita
(PJT II dan Disnakkan Kab. Purwakarta)
Pabrik pakan dan pedagang pakan
Pihak yang lemah
Pengguna Pengusaha KJA skala kecil