AKSES SUMBER DAYA DAN STRATEGI AKTOR
SUMBER DAYA PERAIRAN WADUK
1.1. Latar Belakang
Sumber daya perairan (SDP), seperti dimaklumi oleh banyak orang bersifat milik bersama (common pool resource). Hal ini kemudian mendorong semua pihak beranggapan dapat memanfaatkan SDP tersebut (open access). Permasalahan yang kemudian muncul karena menganggap SDP bersifat open access adalah tidak adanya pihak yang bertanggungjawab dalam pemeliharaan kelestarian sumber daya. Berbicara tentang pengelolaan sumber daya sebenarnya tidak terlepas dari relasi manusia dengan sumber daya alam dan manusia dengan manusia atas sumber daya alam. Jager et al., (2000) menyebutkan bahwa hubungan manusia dengan ekosistem adalah bermuka dua. Pada satu sisi, manusia bergantung pada ekosistem sebagai sumber makanan, bahan baku untuk membangun dan lingkungan yang sehat sebagai tempat hidup. Namun pada sisi yang lain, manusia juga sering menjarah dan mencemari ekosistem seperti halnya manusia tidak bergantung sama sekali dengan ekosistem. Hal tersebut seringkali dituding sebagai salah satu penyebab terjadinya penurunan kualitas dari ekosistem.
Hardin (1968) menyatakan bahwa ketika sumber daya alam yang terbatas jumlahnya dikuasai oleh semua orang, setiap individu mempunyai rasionalitas untuk memanfaatkannya secara intensif yang kemudian berakibat berkurangnya sumber daya alam tersebut dan semua pihak merugi. Benda-Beckmann, et al (2001) menyebutkan bahwa kebebasan berpindah tempat mencari sumber daya baru merupakan salah satu alasan tidak adanya pihak yang perduli untuk mengembalikan SDP yang telah rusak atau habis. Hal lainnya disebabkan karena sebagian besar pelaku usaha menganggap konservasi hanya akan menambah biaya produksi. Hal
ini kemudian mendorong terjadinya kondisi ”tragedy of the commons” (Hardin,
1968).
Sebagai solusi dalam mencegah terjadinya ”tragedy of the commons”, Hardin
(1968) menyarankan agar pengelolaan sumber daya berada pada kepemilikan swasta (private property) atau tetap menjadikannya sebagai barang milik publik (public property) dengan mengatur dan mengalokasikan hak-hak tertentu untuk
memasukinya. Hardin menyebutkan, “we might sell them off as private property. We might keep them as public property, but allocate the right to enter them. The allocation might be in the basis of wealth, by the use of an auction system. It might be on the basis of merit, as defined by some agreed-upon standard. It might be by lottery. Or it might be on a first-come, first-served basis, administered to long queues...They are all objectionable. But we must choose – or acqcuisce in the destruction of the commons... (Hardin, 1968). Selanjutnya dijelaskan oleh Burke
(2001), terkait upaya solusi yang Hardin tawarkan, yaitu “Hardin suggests there are only two collective solutions to the “Tragedy of the Commons.” Resources can be privatized so both benefits and costs of resource use accrue to individuals (1968)1. However, some resources such as water and air “cannot readily be fenced,” so tragedies must be prevented through the second option of “mutually agreed upon mutual coercion.” In this approach, an external “regulatory agency” must manage the commons (Hardin and Baden, 1977, p. 49)2 by fees, taxes, or penalties at the request of the “majority of the people affected” (1968, p. 1245). Tujuannya adalah bentuk ”kepemilikan” nya menjadi jelas berikut hak-hak pengelolaannya, sehingga diharapkan pengelolaan sumber daya menjadi lebih efisien dan bertanggung jawab.
Sumber daya perikanan perairan umum daratan (seperti sungai, rawa banjiran, dan danau) umumnya bersifat common pool resource dan bersifat komplek jika dipandang dari segi kategori serta jumlah pemanfaatnya. Seringkali pada satu badan air yang sama ditemukan berbagai jenis pemanfaat sumber daya. Sementara eksternalitas yang dihasilkan oleh satu pemanfaat akan berpengaruh terhadap pemanfaat lainnya, baik menguntungkan atau pun merugikan.
Namun berbeda dengan sumber daya perairan sungai, rawa banjiran dan danau, sumber daya perairan waduk umumnya cenderung bersifat state property atau private property. Waduk juga bersifat multifungsi, yaitu digunakan dan dimanfaatkan oleh berbagai kegiatan ekonomi, diantaranya adalah pembangkit tenaga listrik, penyedia bahan baku air minum, irigasi pertanian, perikanan tangkap, perikanan budidaya, dan transportasi. Waduk Djuanda atau yang lebih dikenal
1 Hardin, G. (1968). The tragedy of the commons. Science 162: 1243–1248.
2 Hardin, G., and Baden, J. (1977). Managing the Commons, W. H. Freeman and Company, San Francisco.
dengan nama Waduk Jatiluhur merupakan waduk serbaguna dengan peruntukkan bagi PLTA, penyediaan baku air minum dan industri, penyediaan air irigasi, perikanan, pariwisata dan pengendalian banjir. Waduk Jatiluhur secara legal formal berada di bawah otoritas BUMN Perum (Perusahaan Umum) Jasa Tirta II. Sumber air berasal dari DAS Citarum yaitu, daerah pengaliran Waduk Saguling dan Cirata. Pemanfaatan perairan waduk memiliki ciri khas sumber daya yang sangat bergantung terhadap kondisi tinggi muka perairan. Perbedaan tinggi permukaan air akan mempengaruhi pola-pola pemanfaatan sumber daya. Sementara tinggi permukaan air dalam kasus perairan waduk tidak hanya dipengaruhi semata-mata oleh curah hujan, namun yang lebih utama adalah kebijakan dari otoritas pengelola waduk (Koeshendrajana et al, 2008).
Sifat multifungsi waduk menyebabkan banyak pihak yang memiliki kepentingan, utamanya adalah kepentingan ekonomi. Hal yang menarik adalah walaupun secara legal formal otoritas pengelolaan sumber daya perairan waduk berada pada pihak Perum Jasa Tirta II, namun dalam kenyataannya kegiatan ekstraksi ekonomi atas sumber daya perairan tidak hanya dilakukan oleh pihak otoritas saja. Kegiatan budidaya keramba jaring apung (KJA), sebagai contoh, dilakukan oleh penduduk yang umumnya bukan berasal dari daerah setempat. Sementara kegiatan perikanan tangkap, transportasi serta pertanian pasang surut dilakukan umumnya oleh penduduk setempat. Permasalahan muncul ketika kegiatan ekonomi ini, seperti budidaya KJA, dituding sebagai penyebab utama terjadinya degradasi lingkungan perairan. Tarik menarik berbagai kepentingan terlihat semakin nyata, terutama terkait dengan kegiatan ekonomi yang melibatkan perputaran uang sangat besar seperti usaha budidaya KJA.
Solusi yang ditawarkan oleh Hardin dalam bentuk regulated public property ataupun private property dalam konteks perairan waduk menjadi sebuah tanda tanya besar. Hal ini mengingat tujuan efisiensi dan efektifitas pengelolaan tidaklah nampak terjadi dalam konteks pengelolaan perairan waduk, walaupun secara legal formal sudah bersifat private property. Ostrom kemudian mengajukan dan memperluas konsep propety right system menjadi empat bentuk, yakni state property, private property, common property dan non-property atau open access berikut sekumpulan hak-haknya (Ostrom, 1990). Kemudian berkembang konsep
model pengelolaan sumber daya secara kolaboratif (co-management) dengan menggunakan kerangka bundle of rights Ostrom. Secara prinsip, model pengelolaan sumber daya yang bersifat co-management adalah model berbagi peran dan tanggung jawab atas pengelolaan sumber daya antara dua pihak, umumnya antara pemerintah dengan masyarakat atau swasta.
Penelitian ini berupaya mencari jawaban dan menyoroti berbagai kelompok kepentingan yang saling berkontestasi dalam pengelolaan sumber daya perairan Waduk Jatilhur. Kelompok-kelompok kepentingan ini disinyalir memberikan warna dalam proses-proses negosiasi dan kontestasi atas rights dan otoritas, sehingga hal-hal terkait akses dan kontrol atas sumber daya tidak hanya sebatas atas masalah distribusi rights diantara para aktor saja.
1.2. Rumusan Masalah Penelitian
Kegunaan waduk yang bersifat multi fungsi melibatkan beberapa aktifitas diantaranya adalah penyediaan bahan baku air bersih, pembangkit tenaga listrik, irigasi, pengendali banjir, perikanan budidaya, perikanan tangkap dan transportasi air. Beragamnya kegunaan waduk tersebut menyebabkan sifat pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya perairannya melibatkan berbagai aktor yang memiliki kepentingan yang berbeda. Berdasarkan kronologis pengelolaan waduk, diawali dengan diterbitkannya PP No.8 tahun 1967, maka dibentuklah suatu badan pengelola dan pembina Waduk Jatiluhur dengan nama Perusahaan Negara (PN) Jatiluhur yang berkedudukan di Jatiluhur. Berdasarkan PP tersebut, maka segala hak dan kewajiban, perlengkapan dan kekayaan serta usaha beralih kepada PN Jatiluhur. Pengalihan hak dan kewajiban ini mencakup pengelolaan sumber daya air dan potensi ekonominya (Sudjana, 2004; Witomo dan Reswati, 2009).
Agar pengelolaan dan pengusahaan maksimal dari potensi-potensi tersebut, maka perlu adanya perubahan bentuk perusahan berupa perusahan umum. Perusahaan umum yang dimaksud adalah suatu unit bisnis negara dengan seluruh modal dan kepemilikan dikuasai oleh pemerintah bertujuan menyediakan barang dan jasa publik dan melayani masyarakat umum serta mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengolahan perusahaan. Kemudian diterbitkanlah PP No. 20
Tahun 1970 tentang Pembentukan Perusahaan Umum (Perum) “Otorita Jatiluhur”.
Kewenangan Perum ini mencakup sebagai pengelola air dan sumber-sumber air serta prasarana pengairan yang berada di wilayahnya. Berdasarkan PP No 94 Tahun 1999, maka pengelolaan, perlindungan, pemanfaatan dan pengembangan waduk Ir. H. Djuanda merupakan kewenangan Perum Jasa Tirta II (PJT II) sebagai BUMN pengelola air dan atau sumber air (Sudjana, 2004).
Kegiatan ekonomi yang ada di waduk saat masa-masa awal penggenangan air adalah hanya sebatas pada perikanan tangkap secara sederhana, yaitu menggunakan alat tangkap pancing dan jaring insang (gill net). Kemudian semenjak Tahun 1974 dimulai uji coba dan penelitian terkait pengembangan teknik budidaya Keramba Jaring Apung (KJA). Kegiatan budidaya KJA tersebut pada awalnya direkomendasikan sebagai bagian dari program pemindahan dan pemukiman kembali penduduk yang terkena dampak pembangunan waduk. Program ini bertujuan memberikan mata pencaharian baru bagi penduduk setempat sebagai pengganti mata pencaharian pertanian sawah dan kebun, juga perikanan tangkap di aliran Sungai Citarum. Berkembangnya budidaya ikan KJA di waduk Ir. H. Djuanda terbukti telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi ikan, konsumsi ikan, peluang usaha, kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan semenjak diintroduksikan (Sudjana, 2004).
Pada awal perkembangan budidaya KJA, baik masyarakat umum maupun pihak pemerintah dan Perum Otorita sama-sama melihat sebagai sebuah potensi ekonomi yang cukup besar. Tidak lama setelah terlihat berhasilnya budidaya KJA dikeluarkanlah oleh pemerintah berupa Keppres No.7 Tahun 1981 tentang
Penetapan Perusahaan Umum (Perum) ”Otorita Jatiluhur“ sebagai perusahaan yang
dapat menarik dan menerima iuran pembiayaan eksploitasi dan pemeliharaan prasarana pengairan. Iuran pembiayaan eksploitasi dan pemeliharaan prasarana pengairan ini mengacu atas UU No 11 Tahun 1974 tentang pengairan yang mewajibkan baik badan hukum, badan sosial maupun perorangan yang mendapat manfaat langsung dari tersedianya air sebagai hasil pembangunan pengairan, baik untuk diusahakan lebih lanjut maupun untuk keperluan sendiri, wajib ikut serta menanggung pembiayaan dalam bentuk iuran.
Kemudian, sebagai konsekuensi dari UU No 11 Tahun 1974 tersebut maka ditetapkanlah PP No.6 Tahun 1981 tentang Iuran Pembiayaan Eksploitasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengairan yang menjadi dasar hukum bagi Perum Otorita Jatiluhur. Iuran pembiayaan eksploitasi dan pemeliharaan prasarana pengairan meliputi dana yang ditarik sebagai imbalan dari pihak-pihak yang telah memperoleh manfaat penggunaan dan kenikmatan dengan tersedianya air, dari sumber-sumber air, dan dengan adanya bangunan-bangunan pengairan sebagai hasil pengelolaan perusahaan baik untuk diusahakan sendiri atau yang akan diusahakan lebih lanjut untuk kepentingan pihak ketiga. Juga dari mereka yang usaha atau kegiatannya telah mengakibatkan pencemaran air dan sumber-sumber air di dalam wilayah perusahaan yang bersangkutan (Witomo dan Reswati, 2009). Berdasarkan uraian kronologis di atas, maka terlihat perubahan sifat
“kepemilikan” sumber daya perairan dari bersifat publik (umum) menjadi privat (swasta), dalam hal ini dikuasai oleh BUMN. Seluruh wilayah genangan air waduk kemudian secara de juremenjadi “hak milik” perusahaan BUMN tersebut. Namun
demikian, secara de facto masyarakat masih menganggap wilayah genangan air waduk tersebut adalah miliknya karena tanah yang ada di dasar perairan adalah milik mereka (Koeshendrajana et al., 2008). Pengakuan secara de facto ini muncul akibat rasa tidak puas dari proses ganti rugi dahulu yang tidak sesuai sehingga banyak masyarakat yang tadinya memiliki sawah dan kebun, setelah proses ganti rugi tidak mampu memiliki sawah dan kebun pengganti. Hal ini terlihat dari berkembangnya usaha pertanian di daerah lereng pasang surut waduk yang diklaim oleh masyarakat atas dasar “kedekatan” jarak dari tanah asalnya yang terendam
dahulu. Masyarakat juga menolak dikenakan biaya sewa atas usaha pertanian ini (ACIAR, 2004; Koeshendrajana et al, 2008). Pihak PJT II tetap memberikan akses utamanya bagi kegiatan budidaya dalam kerangka “sewa lahan” yang mengacu
pada PP No.6 Tahun 1981 tentang Iuran Pembiayaan Eksploitasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengairan.
Permasalahan lebih kompleks kemudian muncul seiring dengan terus berkembangnya usaha budidaya KJA. Bagi masyarakat terjadi kecemburuan sosial dan ekonomi. Hal ini disebabkan karena mayoritas kepemilikan usaha budidaya KJA berasal dari luar daerah, yaitu lebih dari 60 % dengan penguasaan jumlah petak
keramba mencapai lebih dari 80 % dari total KJA yang ada (ACIAR, 2004). Total KJA mencapai 8.043 petak pada Tahun 2004 (ACIAR, 2004). Kecenderungan yang ada adalah terus bertambahnya kepemilikan KJA oleh pihak di luar penduduk setempat. Hal ini disebabkan besarnya modal yang diperlukan dalam mengawali usaha budidaya KJA dan besarnya biaya operasional, terutama dari komponen biaya pakan. Penduduk setempat semakin terjepit karena pekerja di KJA milik penduduk luar daerah bukan berasal dari penduduk tempatan. Pemilik KJA cenderung mengambil tenaga kerja sebagai operator sehari-hari dari daerah asalnya masing-masing dibanding penduduk setempat sekitar waduk.
Masyarakat setempat kemudian terpinggirkan dengan berusaha sebagai nelayan akibat keterbatasan modal bukan sebagai pilihan utama. Hal ini ditunjukkan dengan mayoritas nelayan sebesar 85 % dari total 871 nelayan pada Tahun 2004 (ACIAR, 2004). Jenis ikan tangkapan bukan merupakan jenis ikan ekonomis tinggi, dengan mayoritas hasil tangkapan berupa Ikan Nila. Penghasilan tangkapan nelayan bersifat tidak pasti dan jauh dibandingkan dengan pendapatan sebagai operator KJA. Hal ini diperparah dengan terbatasnya sumber-sumber mata pencaharian bagi nelayan tersebut. Umumnya nelayan tidak memiliki lahan pertanian dan cenderung bergantung atas pekerjaan sebagai nelayan atau buruh lepas (Koeshendrajana et al, 2008).
Sementara bagi pihak PJT II, perkembangan kegiatan budidaya KJA cenderung menimbulkan permasalahan, utamanya akibat dari sisa pakan. Semakin besar jumlah dan intensitas eksploitasi sumber daya air tersebut berdampak terhadap degradasi kualitas lingkungan yang cenderung meningkat, terjadi penurunan kualitas air sekitar KJA, dan peraiaran yang mengarah ke kondisi anoksia (tidak terdapat kandungan oksigen) sehingga dapat menyebabkan kematian ikan serta menghasilkan gas beracun seperti amoniak dan H2S. Hal ini berpengaruh pada estetika, usaha kepariwisataan dan penduduk sekitar (Sudjana, 2004). Intensitas limbah sisa pakan juga ditengarai mempercepat proses pelapukan bendungan, dan korosi pada turbin selain mengurangi kualitas bahan baku air minum. Dengan demikian, akibat adanya aktifitas budidaya KJA ini dipandang hanya menambah beban biaya perawatan instalasi PJT II.
Pemerintah, baik pemerintah pusat (Kementerian Kelautan dan Perikanan) dan pemerintah daerah (Dinas Perikanan Kabupaten Purwakarta), memiliki kepentingan yang berbeda terkait Waduk Juanda. Arah kebijakan perikanan nasional yang masih tetap pada jalur pemacuan produksi perikanan menyebabkan sub sektor budidaya perikanan secara umum menjadi strategi dalam pencapaiannya. Sementara bagi pemerintah daerah memiliki kepentingan atas pungutan bagi pemasukan asli daerah. Upaya penambahan jumlah KJA dan intensifikasi usaha menjadi alternatif yang ditempuh dalam pembinaan dan pengembangan budidaya.
Pemahaman akan jargon “batasi penangkapan dan kembangkan budidaya”
diterapkan juga pada perikanan perairan umum seperti waduk. Sementara beberapa hasil penelitian di perairan umum seperti waduk, kondisinya mengatakan hal yang
berlawanan, yaitu “batasi budidaya dan kembangkan penangkapan”.
Lain halnya dengan pihak swasta, dalam hal ini adalah perusahaan pakan melalui agen-agen pakan memiliki kepentingan bisnis yang besar dari keberadaan budidaya KJA. Biaya pakan mencakup lebih dari 70 % keseluruhan biaya operasional budidaya KJA. Perputaran uang yang terjadi setiap harinya dapat mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Sementara harga pakan cenderung terus meningkat setiap tahunnya (ACIAR, 2004: Koeshendrajana et al., 2008). Agen-agen pakan dapat memberikan paket-paket keringan dalam permodalan yang bertujuan mendorong pertambahan jumlah KJA.
Berdasarkan uraian di atas, maka terlihat beberapa aktor yang terlibat dan berinteraksi pada satu sumber daya perairan yang sama. Setiap aktor memiliki derajat kepentingan, kekuasaan dan otoritas yang berbeda dengan aktor lainnya. Hal ini mempengaruhi pilihan-pilihan strategi masing-masing aktor dalam menghadapi dan berkontestasi atas isu pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya perairan waduk tersebut.
Hal yang menarik adalah terpinggirkannya nelayan dari permasalahan dan proses-proses negosiasi terkait aturan-aturan pengelolaan waduk. Kegiatan budidaya menjadi sorotan dan menyita ruang publik dari pengelolaan waduk. Sementara penentuan jumlah besaran KJA akan juga berpengaruh terhadap berkurang atau bertambahnya luasan zona penangkapan mereka. Lokasi yang telah
penangkapan. Hal tersebut akibat semakin rapatnya jarak satu kepemilikan usaha KJA dengan kepemilikan usaha KJA lainnya. Permasalahan lainnya adalah hampir mayoritas penduduk setempat hanya mampu mengakses sumber daya perairan sebagai nelayan, sementara budidaya KJA dikuasai mayoritas oleh penduduk luar daerah setempat. Hal ini tentu akan memicu permasalahan keadilan lingkungan dan bisa menjadi sumber pemicu konflik terkait keadilan distribusi manfaat sumber daya perairan.
Berdasarkan uraian di atas, maka timbul pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimanakah konfigurasi aktor dan distribusi hak kepemilikan sumber daya perairan waduk yang terjadi ?
2. Bagaimanakah akses terhadap sumber daya perairan waduk dan strategi aktor dalam memperoleh dan mempertahankannya ?
3. Bagaimanakah proses kontestasi kepentingan yang terjadi di dalam penguasaan dan pengelolaan sumber daya perairan waduk?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin diperoleh dalam penelitian ini adalah :
1. Mengetahui konfigurasi aktor dan distribusi hak kepemilikan sumber daya di perairan Waduk Djuanda Jatiluhur
2. Menganalisis akses terhadap sumber daya dan strategi aktor dalam memperoleh dan mempertahankannya di perairan Waduk Djuanda Jatiluhur
3. Menganalisis proses kontestasi kepentingan yang terjadi di dalam penguasaan dan pengelolaan sumber daya perairan Waduk Djuanda Jatiluhur
1.4. Manfaat Penelitian
Proses pengelolaan sumber daya perairan haruslah dipandang secara utuh dengan melihat nature dari pola-pola relasi antara aktor (kelompok kepentingan), sehingga dapat menghindari proses benturan-benturan antara kepentingan pelestarian sumber daya dan kesejahteraan. Oleh sebab itu, penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan manfaat atas :
1. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan referensi bagi pemerintah pusat dan daerah, atau pihak otoritas pengelola sumber daya dalam menerapkan atau menyempurnakan program-program pengelolaan sumber daya secara kolaboratif.
2. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan pencegahan atas konflik sumber daya dengan mengelola berbagai kepentingan para aktor.
2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.1. Teori Kepemilikan Sumber Daya (Property rights)
Kondisi ”tragedy of the common” didorong oleh kondisi sumber daya perikanan yang bersifat milik bersama (common pool resources). Status “milik bersama” tersebut memiliki konsekuensi terhadap akses bagi pengelolaannya.
Konsekuensi akses pengelolaan tersebut dapat bersifat ekslusif bagi kelompok tertentu atau seringkali bersifat open access. Permasalahan yang kemudian muncul akibat pengelolaan bersifat open access adalah tidak adanya pihak yang bertanggungjawab dalam pemeliharaan kelestarian sumber daya. Terkait hal ini, Benda-Beckmann et al (2001) berpendapat kebebasan berpindah tempat mencari sumber daya baru merupakan salah satu alasan tidak adanya pihak yang perduli untuk mengembalikan sumber daya perikanan yang telah rusak atau habis. Hal lainnya karena konservasi dianggap hanya akan menghambat usaha, menambah biaya produksi dan akhirnya mengurangi keuntungan (Kinseng, 2003).
Berbicara kaitan sumber daya dengan masyarakat tidak dapat terlepas dari permasalahan akses. Akses terhadap sumber daya haruslah dipandang sebagai sebuah kesatuan dalam suatu sistema hak kepemilikan sumber daya yang ada di dalam masyarakat. Sistem hak kepemilikan sumber daya seringkali diartikan sebagai mekanisme sosial yang memberikan wewenang, serta mengikat individu dalam suatu masyarakat atas kepemilikan wewenangnya. Sistem hak kepemilikan sumber daya dan pola pengelolaan sumber daya juga dapat dipandang sebagai suatu kesatuan dari struktur hak dan kewajiban (Bromley, 1991). Struktur hak dan kewajiban tersebut mewarnai pola hubungan antara seorang individu dengan lainnya atas sumber daya yang sama (North, 1990 dalam Hanna et al, 1996). Terkait dengan sifat hak kepemilikan (property rights), Ostrom (1990) dan Bromley (1992) menyebutkan bahwa sumber daya milik bersama (common-pool resources) dapat terjadi dalam empat bentuk rezim. Keempat rezim tersebut adalah non-property, private property, state property dan communal property.
Open-access (non-property), terjadi ketika hak kepemilikan tidak terdefinisi dan diatur dengan jelas, sehingga akses pemanfaatan sumber dayanya bebas dan terbuka bagi semua pihak. Private property terjadi ketika kondisi yang ada memberikan seseorang atau badan usaha suatu kewenangan atau hak untuk membatasi atau melarang orang lain serta memiliki kewenangan untuk mengatur pemanfaatan sumber daya tersebut. State property terjadi ketika kewenangan mengatur dan membatasi penggunaan dalam pemanfaatan sumber daya hanya terbatas pada tingkat negara. Communal property terjadi pada kondisi ketika sumber daya ”dimiliki” oleh suatu komunitas yang teridentifikasi dengan jelas dan
dapat mengatur serta melarang pihak di luar anggota komunitasnya untuk memanfaatkan sumber daya tersebut.
Bromley (1991) menyebutkan bahwa unsur-unsur atau komponen-komponen property right dalam pengelolaan sumber daya meliputi: (1) klaim kepemilikan; (2) batas wilayah pengelolaan dan pemanfaatan; (3) pemegang wewenang dan pendistribusian hak pengelolaan dan pemanfaatan; dan (4) aturan pengelolaan dan pemanfaatan (rules of the game). Namun demikian, kenyataan dalam kehidupan keseharian cenderung menyebabkan satu sumber daya berada pada status yang merupakan kombinasi dan memiliki berbagai variasi yang berbeda dari keempat bentuk rezim hak kepemilikan di atas (Berkes, 1996). Tipe rezim hak kepemilikan