Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel pengaruh motivasi terhadap keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjutan yaitu organisasi proyek, kepemimpinan dan dukungan perusahaan. Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa dari ketiga variabel yang digunakan untuk mengukur faktor-faktor motivasi terhadap keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjutan, ketiga variabel motivasi tersebut memiliki pengaruh positif terhadap keberhasilan keselamatan dan
kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjutan. Pada sub bab ini akan mendiskusikan mengenai hasil penelitian, yaitu sebagai berikut:
1. Organisasi proyek (Project Organization)
Organisasi proyek merupakan variabel motivasi yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjutan, karena memiliki nilai estimasi positif sebesar 0,465. Jadi pada penerapan motivasi dalam organisasi proyek seperti kejelasan kesamaan tujuan, kejelasan tanggung jawab, teknologi dan tugas-tugas dapat berlangsung dengan baik, maka akan berpengaruh langsung terhadap keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjutan. Dari hasil analisis PLS-SEM dengan menggunakan program SmartPLS v.3, dapat diketahui bahwa indikator yang paling berpengaruh terhadap variabel organisasi proyek, yaitu indikator kejelasan tanggung-jawab dengan nilai loading factor sebesar 0,779. Hal ini berarti bahwa indikator kejelasan tanggung jawab dalam organisasi proyek merupakan indikator utama yang harus diperhatikan oleh pihak kontraktor, khususnya pemimpin proyek atau project manager.
Dimana hubungan atau pengaruh antara indikator kejelasan tanggung jawab dari faktor motivasi, dengan keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjutan yaitu, setiap komponen atau pihak-pihak yang ada dalam proyek konstruksi harus menyadari bahwa, baik pimpinan maupun pekerja memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaan masing-masing. Karena apabila tanggung jawab sudah tertanam dalam diri, maka disetiap pekerjaan yang dilakukan akan meningkatkan kinerja tim dan mendorong kerja sama yang efektif dari para anggota tim proyek, serta dengan sendirinya keselamatan dan kesehatan kerja akan terlindungi.
Pada beberapa literatur sebelumnya yang membahas tentang kejelasan tanggung jawab (Anantatmula, 2010; Hertel et al., 2005; Maznevski, 1994; Van der Vegt dan Janssen, 2003), dimana mengartikan kejelasan peran dan tanggung jawab anggota tim proyek tanpa kesalah-pahaman dianggap sangat penting untuk meningkatkan kinerja tim, serta mendorong kerja sama yang efektif dari para anggota tim proyek. Ketika peran dan tanggung jawab sudah jelas maka motivasi akan meningkat. Kejelasan tanggung jawab selain memotivasi setiap individu atau
pekerja, juga memberikan keuntungan di lingkungan kerja. Dan juga kejelasan tanggung jawab memiliki peran penting dalam pembentukan norma dan nilai yang berakar pada norma dan nilai organisasi. Hal itu bertujuan untuk memotivasi para anggota tim agar dapat bekerja dengan norma dan nilai-nilai tersebut, dapat membantu anggota tim yang tersebar dalam menciptakan rasa keterhubungan dengan anggota tim lain. Sehingga hasil dari penelitian ini sudah benar karena didukung oleh beberapa literatur diatas.
2. Kepemimpinan (Leadership)
Kepemimpinan merupakan variabel motivasi yang memiliki pengaruh terbesar kedua terhadap keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjutan, karena memiliki nilai estimasi positif sebesar 0,374. Jadi pada penerapan motivasi dalam kepemimpinan pada proyek konstruksi seperti kemampuan interpersonal, pengalaman dan kepercayaan yang dimiliki oleh seorang pemimpin proyek, maka akan berpengaruh langsung terhadap keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjutan.
Dari hasil analisis PLS-SEM dengan menggunakan program SmartPLS v.3, dapat diketahui bahwa indikator yang paling berpengaruh terhadap variabel kepemimpinan, yaitu indikator kemampuan interpersonal dengan nilai loading factor sebesar 0,799. Hal ini berarti bahwa indikator kemampuan interpersonal yang dimiliki seorang pemimpin dalam menjalankan suatu proyek merupakan indikator utama yang harus diperhatikan oleh pihak kontraktor, khususnya pemimpin proyek atau project manager.
Dimana hubungan atau pengaruh antara indikator kemampuan interpersonal dari faktor motivasi, dengan keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjutan yaitu, setiap pemimpin yang berada dalam struktur proyek konstruksi harus mempunyai kemampuan untuk memotivasi, berkomunikasi baik dengan para pekerja, dan kemapuan untuk membangun tim/pekerja agar dapat melaksanakan pekerjaan dengan teliti, hati-hati dan benar serta memperhati-hatikan keselamatan dan kesehatan kerja.
Kemampuan interpersonal seorang pemimpin untuk memotivasi para pekerja sangat penting dalam efektivitas kepemimpinan. Dalam hasil penelitian
seorang pemimpinan lebih efektif dalam memotivasi pada low level of management/manajemen pada tingkat rendah, dibandingkan dengan keefektifan motivasi untuk medium level of management/manajemen pada tingkat sedang.
Sehingga hasil dari penelitian ini sudah benar karena didukung oleh beberapa literatur diatas.
3. Dukungan perusahaan (Company Support)
Dukungan perusahaan merupakan variabel motivasi terakhir yang berpengaruh terhadap keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjutan, karena memiliki nilai estimasi positif sebesar 0,339. Jadi dalam penerapan motivasi yang berupa dukungan perusahaan seperti dukungan peralatan, waktu dan intensif; pemilihan tim; atutan berkomunikasi dan kebijakan dapat berlangsung dengan baik, maka akan berpengaruh langsung terhadap keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjutan.
Dari hasil analisis PLS-SEM dengan menggunakan program SmartPLS v.3, dapat diketahui bahwa indikator yang paling berpengaruh terhadap variabel organisasi proyek, yaitu indikator dukungan peralatan, waktu dan intensif dengan nilai loading factor sebesar 0,809. Hal ini berarti bahwa indikator dukungan peralatan, waktu dan intensif merupakan indikator utama yang harus diperhatikan oleh pihak kontraktor dalam variabel dukungan perusahaan.
Dimana hubungan atau pengaruh antara indikator kemampuan interpersonal dari faktor motivasi, dengan keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjutan yaitu, dengan adanya dukungan perusahaan berupa penyediaan peralatan keselamatan dan kesehatan pekerja (safety tools), pekerja akan merasa nyaman karena merasa terlindungi bagi keselamatan dirinya selama proses kerja berlangsung, serta perusahaan memberikan dukungan waktu yang tepat baik dalam waktu bersosialisasi tentang penerapan keselamatan dan kesehatan kerja maupun waktu pada saat bekerja.
Sehingga kedua belah pihak baik dari perusahaan maupun pekerja akan mendapatkan keuntungan, salah satunya meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja atau mengurangi dampak kecelakaan kerja. Dan juga dukungan insentif dari perusahaan akan memotivasi para pekerja untuk melakukan pekerjaannya dengan benar.
Pada beberapa literatur sebelumnya yang membahas tentang dukungan peralatan, waktu dan intensif (Verburg et al., 2013) dimana, dukungan dari perusahaan dalam bentuk waktu, alat/sarana dan prasarana, serta penghargaan dan insentif dapat memotivasi anggota tim dalam perilaku proyek lebih cepat (faster proyek conduct), serta keselarasan dan tujuan bersama (alignment and shared goals) dalam tim untuk mencapai keberhasilan proyek. Sehingga hasil dari penelitian ini sudah benar karena didukung oleh beberapa literatur diatas.
Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa dari 5 indikator yang berpengaruh terhadap keberhasilan keselamatan dan kesehatan kerja, memiliki pengaruh positif terhadap keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjutan. Dari 5 indikator didapatkan 3 indikator yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjuatan. Pada sub bab ini akan mendiskusikan mengenai hasil penelitian, yaitu sebagai berikut:
1. Lokasi energi yang dapat diperbarui (On-site renewable energy) &
Pengoptimalan kinerja energi (Optimized energy performance)
Dari hasil analisis PLS-SEM dengan menggunakan program SmartPLS v.3, dapat diketahui bahwa indikator yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjutan, yaitu indikator lokasi energi yang dapat diperbarui & pengoptimalan kinerja energi dengan nilai loading factor sebesar 0,774. Yang berarti dari 5 indikator kredit LEED yang dianggap memiliki resiko dan dampak paling berbahaya pada proses konstruksinya didapatkan, lokasi energi yang dapat diperbarui & pengoptimalan kinerja energi merupakan indikator yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjutan.
Jadi dalam penerapan kredit LEED untuk lokasi energi yang dapat diperbarui &
pengoptimalan kinerja energi, dampak resiko pada keselamatan dan kesehatan pekerja dalam proses konstruksinya harus diminimalisir sebaik mungkin, dengan begitu dapat meningkatkan keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjutan. Hal ini berarti bahwa indikator lokasi energi yang dapat diperbarui & pengoptimalan kinerja energi merupakan indikator utama
yang harus diperhatikan oleh pihak kontraktor, khususnya pemimpin proyek atau project manager.
Pada beberapa literatur sebelumnya yang membahas tentang lokasi energi yang dapat diperbarui & pengoptimalan kinerja energi (Fortunalo et al., 2012;
Rajendran dan Gambatese, 2009; Chen, 2010; Gerhold, 1999; Dewlaney, 2012;
Kohlman Rabbani et al., 2014) dimana, pemasangan panel surya dapat meningkatkan resiko jatuh dari ketinggian karena pekerjaan dilakukan di atap, resiko kesetrum listrik, resiko terkena zat berbahaya dikarenakan solar panel menggunakan bahan kimia yang berbahaya seperti debu silikon, kadmium, dan selenium dioxide. Pemasangan sistem solar panel dapat menyebabkan peningkatan bahaya bekerja di ketinggian, kesetrum dan terkena sambaran (struck-by) dikarenakan panel biasanya dipasang dengan menggunakan crane.
Untuk sistem pengoptimalan kinerja energi meningkatkan volume pekerjaan mekanik, listrik, dan pipa (MEP) yang dilakukan pada ketinggian atau di ruang terbatas atau sempit dan pekerja dapat terkena bahan kimia yang digunakan dalam proses filtrasi di tempat. Pada penelitian Dewlaney (2012) menunjukkan pemasangan solar panel memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan jatuh dari ketinggian selama pekerjaan di atap sebesar 24% karena instalasi lokasi energi yang dapat diperbaharui. Sedangkan menurut Kohlman Rabbani et al. (2014) terbukti dalam penelitiaannya pemasangan sistem solar panel positif memiliki dampak seringnya pekerja jatuh dari atap karena memasang solar panel. Sehingga hasil dari penelitian ini sudah benar karena didukung oleh beberapa literatur diatas.
2. Efek penggunaan atap reflektif (Heat-Island Effect roof)
Dari hasil analisis PLS-SEM dengan menggunakan program SmartPLS v.3, dapat diketahui bahwa indikator terbesar kedua yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjutan, yaitu indikator efek penggunaan atap reflektif dengan nilai loading factor sebesar 0,767. Yang berarti dari 5 indikator kredit LEED yang dianggap memiliki resiko dan dampak paling berbahaya pada proses konstruksinya didapatkan efek penggunaan atap reflektif merupakan indikator kedua yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan
berkelanjutan. Jadi dalam penerapan kredit LEED untuk efek penggunaan atap reflektif, dampak resiko pada keselamatan dan kesehatan pekerja dalam proses konstruksinya harus diminimalisir sebaik mungkin, dengan begitu dapat meningkatkan keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjutan. Hal ini berarti bahwa indikator efek penggunaan atap reflektif merupakan indikator kedua utama yang harus diperhatikan oleh pihak kontraktor, khususnya pemimpin proyek atau project manager.
Pada beberapa literatur sebelumnya yang membahas tentang efek penggunaan atap reflektif (Fortunalo et al., 2012; Rajendran dan Gambatese, 2009; Dewlaney, 2012; Kohlman Rabbani et al., 2014) dimana, dalam pemasangan atap reflektif digunakan lapisan atap menggunakan Thermoplastic polyolefin (TPO) sebagai penutup atap pengganti dari ethylene propylene diene monomer (EPDM) yang digunakan pada bangunan non-hijau. Hasilnya menunjukkan bahwa membran lapisan atap TPO secara signifikan lebih berat dari EPDM tradisional, dimana penutup atap TPO lebih "terang menyilaukan" di bawah sinar matahari karena memantulkan sinar matahari, dan lebih licin saat basah. Dengan demikian, adanya peningkatan bahaya terpeleset, tersandung, dan jatuh karena dilakukan pada ketinggian, serta bahaya mengangkat dan membawa bahan berat karena meningkatnya berat dari material atap karena penggunaan TPO, dan penurunan jarak pandang karena pantulan sinar matahari pada lapisan atap dengan TPO. Penelitian Dewlaney (2012) menunjukkan dampak signifikan akibat peningkatan 19% tegangan pada mata (eye strain) ketika menginstal membran atap reflektif atau lapisan penutup atap reflektif (heat-island effect roof).
Sehingga hasil dari penelitian ini sudah benar karena didukung oleh beberapa literatur diatas.
3. Pengendalian sistem pencahayaan (Controlability of systems lighting) &
penerangan 75% sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan (Daylight 75% of spaces)
Dari hasil analisis PLS-SEM dengan menggunakan program SmartPLS v.3, dapat diketahui bahwa indikator terbesar ketiga yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjutan,
yaitu indikator pengendalian sistem pencahayaan & penerangan 75% sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan dengan nilai loading factor sebesar 0,691.
Yang berarti dari 5 indikator kredit LEED yang dianggap memiliki resiko dan dampak paling berbahaya pada proses konstruksinya didapatkan pengendalian sistem pencahayaan & penerangan 75% sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan merupakan indikator ketiga yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjutan.
Jadi dalam penerapan kredit LEED untuk pengendalian sistem pencahayaan &
penerangan 75% sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan, dampak resiko pada keselamatan dan kesehatan pekerja dalam proses konstruksinya harus diminimalisir sebaik mungkin, dengan begitu dapat meningkatkan keberhasilan keselamatan dan kesehatan pada konstruksi bangunan berkelanjutan. Hal ini berarti bahwa indikator pengendalian sistem pencahayaan & penerangan 75%
sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan merupakan indikator ketiga utama yang harus diperhatikan oleh pihak kontraktor, khususnya pemimpin proyek atau project manager.
Pada beberapa literatur sebelumnya yang membahas tentang pengendalian sistem pencahayaan & penerangan 75% sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan (Fortunalo et al., 2012; Rajendran dan Gambatese, 2009; Dewlaney, 2012; Chen, 2010; Kohlman Rabbani et al., 2014) dimana, pemasangan jendela berukuran besar yang secara tradisional dirancang untuk meningkatkan cahaya alami ke dalam bangunan. Tingkat pencahayaan ini dicapai dengan membangun skylight, atrium, dan curtain walls. Akibatnya terjadi peningkatan resiko bahaya tidak hanya pada peningkatan bahaya jatuh, tetapi tapi jumlah peningkatan cedera atau kecelakaan akibat kelelahan memasang jendela berukuran besar. Skylight dapat meningkatkan resiko pekerja jatuh dari ketinggian. Skylight dapat menjadi komponen penting dari sebuah bangunan hijau dengan meningkatkan jumlah cahaya alami yang masuk ke dalam gedung dan mengurangi penggunaan energi.
Namun, dalam pemasangan skylight terjadi peningkatan bahaya jatuh pada para pekerja. Hal ini sebagian karena skylight tidak dibangun untuk menahan beban berat dan sering tidak memiliki alat bantu keselamatan yang memadai. Pada penelitian Dewlaney (2012) menunjukkan pemasangan pengendalian sistem
pencahayaan penerangan 75% sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan jatuh dari ketinggian selama pekerjaan di atap sebesar 18% karena instalasi lokasi energi yang dapat diperbaharui. Sedangkan menurut Kohlman Rabbani et al. (2014) dalam proses konstruksi natural lighting/pencahayaan alami negatif memiliki dampak pada keselamatan dan kesehatan pekerja.