BAB 5 KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
5.2 Diskusi
Hasil penelitian menunjukan bahwa dukungan orang tua memiliki pengaruh yang signifikan secara posituf terhadap orientasi masa depan pada remaja dalam area pekerjaan pada remaja.
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Trommsdroff (1983) yang menyatakan bahwa dukungan orang tua dan interaksi sosial yang terbina dalam keluarga akan memberikan pengaruh yang sangat penting bagi pembentukan orientasi masa depan pada remaja, terutama dalam menumbuhkan sikap optimis dalam memandang masa depanya. Remaja yang mendapat kasih sayang dan dukungan dari orang tuanya, akan mengembangkan rasa percaya dan sikap yang positif terhadap masa depan. Percaya akan keberhasilan yang akan dicapainya, serta lebih termotivasi untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan dimasa depan.
Selain itu Nurmi (1991) juga menjelaskan bahwa interaksi antara orang tua dan anak memegang peranan penting dalam orientasi masa depan anak. Interaksi ini memberikan pengaruh dengan cara : (1) penetapan standar normative, orang tua mempengaruhi perkembangan minat, nilai dan tujuan hidup anak, (2) orang tua berperan sebagai contoh bagi anak dalam menyelesaikan masalah-masalah
yang timbul dalam tugas perkembangan anak, (3) dukungan orang tua membantu anak mengembangkan sikap optimis terhadap masa depan anak.
Selanjutnya, variabel lain yang secara signifikan mempengaruhi remaja dalam area pekerjaan adalah aspek dukungan jaringan sosial. Dukungan jaringan sosial memiliki nilai koefesien regresi sebesar 0,137 (0,030 < 0,05). Pengaruh pada dukungan jaringan sosial bernilai positif, artinya semakin tinggi dukungan jaringan sosial maka semakin tinggi orientasi masa depan dalam area pekerjaan pada remaja. Seperti yang diungkapkan oleh Cohen & McKay (dalam Sarafino, 2002) yang menyatakan bahwa bentuk dukungan ini akan membuat individu merasa sebagai anggota dari suatu kelompok yang memiliki kesamaan minat dan aktifitas sosial denganny, sehingga semakin tinggi dukungan jaringan sosial yang dirasakan oleh remaja maka semakin tinggi pula orientasi masa depan dalam area pekerjaan pada remaja.
Berikutnya adalah variabel aspek dukungan emosi memperoleh nilai koefisien regresi sebesar -0,055 (0,404 > 0,05), artinya dukungan emosi secara negatif mempengaruhi orientasi masa depan. Hal ini mungkin terjadi dikarenakan remaja tidak merasakan kenyamanan dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang disekitarnya. Misalnya, orang-orang yang ada disekitarnya terlalu memberikan perhatian, khawatir dan terlalu perduli.
Kemudian dukungan instrumental memperoleh nilai koefisien regresi sebesar 0,107 (0,233 > 0,05), artinya dukungan instrumental secara positif mempengaruhi orientasi masa depan namun tidak signifikan. Walaupun mungkin dalam aspek Cohen & McKay (dalam Sarafino, 2002) dukungan instrumental merupakan suatu bentuk dukungan yang dapat diwujudkan dalam bentuk bantuan langsung misalnya pemberian dana atau pemberian bantuan berupa tindakan nyata atau benda, namun dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis bahwasanya remaja bukan saja memerlukan bantuan berupa barang, materi ataupun benda tetapi lebih kepada hal-hal yang bisa membuat remaja lebih termotivasi dalam merealisasikan masa depanya.
Dukungan penghargaan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap orientasi masa depan, dengan nilai koefesien regresi sebesar 0,152 (0,062 < 0.05). Pengaruh pada dukungan penghargaan ini bernilai positif, artinya semakin tinggi dukungan penghargaan maka semakin tinggi orientasi masa depan, namun tidak signifikan. Hal ini mungkin dikarenakan remaja tidak menganggap adanya penghargaan atau penilaian yang positif yang diberikan oleh orang tua, sehingga ia tidak merasa berarti.
Aspek yang terakhir ialah dukungan informasi, dukungan informasi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap orientasi masa depan, dengan nilai koefesien regresi sebesar 0,152 (0,078 < 0,05). Hal ini mungkin dikarenakan remaja meluangkan lebih sedikit waktunya bersama orang tua & lebih banyak menghabiskan waktu untuk berinteraksi dengan dunia yg lebih luas, sehingga remaja lebih banyak menerima informasi atau saran dari lingkungan sosialnya.
Selanjutnya dari hasil uji T-test untuk variabel jenis kelamin, hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari jenis kelamin terhadap orientasi masa depan pada remaja. Dengan kata lain, perbedaan jenis kelamin tidak secara signifikan mempengaruhi orientasi masa depan dalam area pekerjaan pada remaja. Artinya responden yang berjenis kelamin laki-laki dan responden yang berjenis kelamin perempuan memiliki orientasi masa depan dalam area pekerjaan relatif sama.
Namun, berdasarkan tinjauan literature sebelumnya ada perbedaan jenis kelamin yang signifikan antara dominan-dominan pada orientasi masa depan, tetapi pola perbedaan yang muncul akan berubah seiring berjalanya waktu Nurmi (1991, dalam McCabe & Bernett,2000). Ditemukan bahwa perempuan lebih berorientasi kearah masa depan pernikahan dan laki-laki berorientasi ke arah masa depan karir. Berari tidak ada kesesuaian antara hasil penelitian ini dengan penelitian sebelumnya.
Pertama, hal ini mungkin dapat dikarenakan oleh jumlah sampel dalam penelitian ini tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan, dimana perempuan memiliki proporsi yang lebih besar.
Kedua Menurut peneliti, faktor budaya Indonesia secara umum, juga mempengaruhi orientasi masa depan. Contohnya, pada masyarakat Indonesia sekarang ini, nilai kultural yang berlaku adalah individual autonomy (kemandirian individu). Nilai ini mengajarkan dan melatih generasi mudanya untuk mandiri dan merencankan masa depanya sendiri. Ketika nilai kemandirian dan berfikir kemasa depan menjadi nilai utama yang berlaku dimasyarakat Indonesia. Terkait dengan
peranan budaya dalam orientasi masa depan dalam area pekerjaan pada remaja , peneliti berfikir bahwa persamaan dalam orientasi masa depan dikarenakan adanya kesetaraan gender yang berlaku di Indonesia seperti sekarang ini.
Untuk variabel usia hasil penelitian menunjukan bahwa usia tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap orientasi masa depan pada remaja dalam area pekerjaan. Dengan kata lain tidak ada perbedaan secara signifikan antara remaja yang berusia 15,16,17,18, terhadap orientasi masa depan dalam area pekerjaan pada remaja. Remaja dengan usia yang lebih dewasa belum tentu secara signifikan memiliki orientasi masa depan yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja dengan usia yang lebih muda.
Variabel terakhir ialah variabel sosioekonomi, hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari status sosioekonomi terhadap orientasi masa depan dalam area pekerjaan pada remaja. Artinya tidak terdapat perbedaan tingkat orientasi masa depan antara remaja dengan status sosioekonomi tinggi, sedang, rendah.
Hasil tersebut tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Poole dan Conney (1991) yang menunjukan bahwa individu yang memiliki latar belakang status sosioekonomi yang tinggi cenderung untuk memiliki pikiran mengenai masa depan karir yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang memiliki latar belakang sosioekonomi yang rendah. Perbedaan hasil penelitian diatas dapat dikarenakan oleh proposisi sampel yang tidak seimbang antara remaja yang memiliki status sosioekonomi tinggi, sedang, rendah.