BAB V. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
B. Diskusi
Hasil penelitian pada pengguna internet aktif menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan loneliness terhadap internet addiction pada pengguna internet aktif yaitu sebesar 11,1 %. Hasil ini menunjukkan bahwa masih ada faktor-faktor lain sebesar 88,9 % yang mempengaruhi internet addiction pada pengguna internet.
Hasil ini mendukung pendapat Nalwa & Anand (dalam Weiten & Llyod, 2006) yang mengungkapkan bahwa individu loneliness lebih sering menunjukkan penggunaan internet yang dapat memicu timbulnya internet addiction. Selanjutnya, individu yang mengalami loneliness menghabiskan banyak waktu online di internet dan menghabiskan lebih banyak waktu sendirian di depan komputer di kantor dan rumahnya, sehingga individu tersebut akan menyediakan waktu yang lebih sedikit untuk hubungan tatap muka di dunia nyata dan
mengurangi kesempatannya untuk berinteraksi tatap muka (Weiten & Llyod, 2006). Situasi ini dapat menyebabkan individu mengalami loneliness. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Peplau & Perlman (dalam Deaux, Dane & Wrightsman, 1993) mengungkapkan bahwa loneliness merupakan hasil dari kurangnya atau terhambatnya hubungan sosialnya dengan orang lain.
Terdapat faktor-faktor lain, selain loneliness, yang turut mempengaruhi seseorang menjadi internet addiction. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Graham (dalam Nakken, 2002) bahwa internet addiction dipengaruhi oleh faktor genetik, biologis, pengaruh keluarga (cinta, pola asuh, pembekalan kecakapan hidup), pengaruh budaya, dan pengaruh sosial (role model, pendidikan, agama, norma, dan tekanan teman sebaya). Penelitian-penelitian selanjutnya diharapkan dapat membahas faktor-faktor lain yang mempengaruhi seseorang menjadi internet addiction.
Kelompok subjek yang paling banyak pada masing-masing kategori adalah berusia 19-23 tahun, berjenis kelamin laki-laki, belum bekerja, menggunakan internet rata-rata 8-21 jam per minggu, menggunakan internet untuk tujuan sebagai hiburan, dan paling sering menggunakan aplikasi website saat berinternet. Secara keseluruhan, loneliness yang dirasakan subjek penelitian ini tergolong sedang. Artinya loneliness yang dirasakan subjek penelitian tidak tinggi namun tidak juga rendah. Sebagaimana yang diungkapkan oleh McKenna & Bargh (dalam Weiten & Llyod, 2006) bahwa penggunaan internet sebagai salah satu upaya mengatasi loneliness membawa efek positif sekaligus negatif. Di satu biasanya menimbulkan keuntungan seperti mengurangi loneliness,
mengembangkan perasaan mendapat dukungan sosial, dan membentuk persahabatan secara online (Shaw & Gant; Morahan-Martin & Schumacher dalam Weiten & Llyod, 2006). Di sisi lain malah menyebabkan individu loneliness memiliki waktu yang terbatas untuk berinteraksi langsung didunia nyata, yang sebenarnya lebih dibutuhakan agar secara aktif dapat mengatasi loneliness yang dialaminya, karena terlalu lama di depan komputer.
Penelitian lain menunjukkan bahwa pada individu yang mengalami loneliness lebih sering menunjukkan penggunaan internet yang juga menyebabkan gangguan dalam fungsi kehidupan sehari-harinya (Morahan-Martin & Schumacher dalam Weiten & Llyod, 2006) serta memicu timbulnya internet addiction (Nalwa & Anand dalam Weiten & Llyod, 2006). Selain itu, menggunakan internet dianggap dapat mengurangi rasa malu dan rasa takut untuk dikenali orang lain seperti yang dialami saat di dunia nyata, padahal sebenarnya hal ini justru menciptakan alam yang kondusif sebagai pelarian dan melepaskan ketegangan mental yang memicu timbulnya perilaku kecanduan (dalam Rachamawati, dkk, 2002).
Internet addiction yang dialami subjek penelitian juga tergolong sedang yang artinya internet addiction yang dialami individu tersebut tidak tinggi namun juga tidak rendah. Greenfield (dalam Duran, 2003) mengungkapkan bahwa individu yang mengalami internet addiction ditandai dengan adanya gangguan dalam pengaturan waktu dalam kehidupan sehari-harinya, mudah mendaptakan kebutuhan akan intimasinya dengan cepat, dan tidak mampu mengendalikan atau mengatur dirinya sendiri. Selanjutnya, DeAngelis (2000) menjelaskan bahwa
hanya individu yang mengalami internet addiction pada tingkatan yang tinggi dan kuat yang dapat menyebabkan individu tersebut mengalami gangguan yang signifikan terhadap kehidupan perkawinan dan hubungannnya dengan individu lain di sekitarnya (dalam Duran, 2003)
Dintinjau dari jenis kelamin, tidak ada perbedaan internet addiction yang signifikan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Young (1997) bahwa tidak ada pengaruh perbedaan gender terhadap internet addiction. Penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan mengenai gender mana yang lebih rebtan mengalami internet addiction. Perbedaan tersebut hanya terletak pada aplikasi yang digunakan laki-laki dan perempuan. Pengguna internet laki-laki lebih tertarik pada hal-hal yang bersifat mendominasi dan fantasi seksual secara online, sedangkan pengguna internet perempuan lebih tertarik pada pertemanan, mencari pasangan untuk hubungan yang sifatnya lebih romantis, dan lebih menyukai percakapan dengan orang-orang yang belum dikenal sebelumnya, sehingga dapat menyembunyikan penampilannya. Laki-laki lebih sering mengalami kecanduan terhadap game online, cyberporn, dan online gambling. Sedangkan perempuan lebih serung mengalami kecanduan terhadap aplikasi chatting, instant messaging, eBay, dan online shopping. Sehingga dapat dilihat bahwa perbedaan gender di dunia internet sebenarnya hampir serupa dengan yang terjadi di dunia nyata (Young, 1997).
Dilihat dari status pekerjaan, maka tidak terdapat perbedaan internet addiction yang signifikan terhadap status pekerjaan pengguna internet.
Berdasarkan banyak waktu berinternet per minggu, maka tidak terdapat perbedaan internet addiction yang signifikan terhadap banyak waktu berinternet per minggu yang digunakan pengguna internet.
Bila dilihat dari tujuan menggunakan internet, maka tidak terdapat perbedaan internet addiction yang signifikan terhadap tujuan menggunakan internet.
Bila dilihat dari aplikasi internet yang paling sering digunakan, maka tidak terdapat perbedaan internet addiction yang signifikan terhadap aplikasi internet yang paling sering digunakan oleh pengguna internet.
Ditinjau dari jenis kelamin, tidak ada perbedaan loneliness yang signifikan antara laki-laki dan perempuan. Studi mengenai loneliness sebelumnya juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan loneliness antara laki-laki dan perempuan, namun laki-laki lebih sulit dalam mengungkapkan bahwa mereka mengalami loneliness daripada perempuan (Brehm et al, 2002).
Bila ditinjau dari usia maka tidak ada perbedaan loneliness yang signifikan. Analisis yang dilakukan Perlman menunjukkan bahwa individu paling merasakan loneliness pada usia dewasa dini, dimana loneliness akan menurun seiring dengan bertambahnya usia dan meningkat kembali ketika individu memasuki usia lansia (Brehm et al, 2002). Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan analisis Perlman tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa apabila loneliness dihubungkan dengan internet addiction pada pengguna internet, maka perbedaan usia tidak menjadi perbedaan yang signifikan dalam perasaan loneliness yang dirasakan individu pengguna internet tersebut.
Ditinjau dari banyaknya waktu yang digunakan untuk berinternet, maka loneliness dari hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan loneliness yang signifikan.
Berdasarkan status pekerjaan, maka loneliness ditinjau dari hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan loneliness yang signifikan. Weiss (dalam Brehm et al, 2002) menyatakan bahwa isolasi emosional yang dirasakan individu tidak dapat diringankan dengan banyaknya jaringan sosial yang dimilikinya. Pengguna internet yang loneliness merasakan isolasi secara emosional tidak dapat diringankan dengan adanya jaringan sosial lain yang sebenarnya mudah didapatkan saat individu sudah bekerja. Status bekerja individu tidak akan membedakan apakah individu tersebut akan merasa lebih atau kurang merasakan loneliness secara emosional dibandingkan dengan yang tidak bekerja.