STUDI KADAR TIMBAL DALAM DARAH HIJAMAH (BEKAM) DENGAN SPEKTROFOTOMETER SERAPAN ATOM (SSA)
DISKUSI Pengambilan sampel
Pengambilan sampel darah dilakukan dengan dua metode yang berbeda yaitu flebetomi menggunakan spuit dan hijamah dengan alat mahjama. Flebetomi didasarkan pada pengambilan darah yang ada didalam pembuluh darah sehingga spuit dimasukkan ke dalam kulit melewati jaringan epidermis dan dermis hingga mencapai pembuluh darah seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1 (a) . Darah yang diambil dengan metode ini disebut darah normal. Sedangkan, pada proses hijamah darah yang diambil merupakan darah yang telah mengalami kerusakan (terhemolisis) dan bercampur dengan substansi-substansi yang sudah tidak dibutuhkan oleh tubuh, cairan tersebut berkumpul dipermukaan kulit tepatnya pada bagian epidermis [6]. Sehingga jarum yang digunakan atau mahjama akan masuk sampai jaringan epidermis saja. Proses hijamah ditunjukkan pada Gambar 1 (b).
Gambar 1.
Pengambilan Darah (a) Flebetomi (b)
Hijamah
Preparasi sampel. Proses preparasi sampel diawali dengan pencegahan koagulasi di dalam darah
melalui penambahan garam EDTA. EDTA berfungsi sebagai penghambat aktivasi prototrombin oleh
ion kalsium (Ca2+) membentuk trombin melalui pembentukan senyawa Ca-EDTA. Reaksi antara ion
Halaman 54 N N O O O O O O Ca O O N N HO OH HO O OH O O O EDTA Ca-EDTA Ca2+ +
Gambar IV. 2. Reaksi Pembutukan Ca-EDTA
Setelah dilakukan pengawetan melalui agen pengkelat, tahap selanjutnya adalah destruksi. Destruksi berfungsi untuk memecah atau merobak senyawa-senyawa menjadi bentuk yang lebih sederhana dan dapat terukur. Larutan yang digunakan untuk proses destruksi adalah asam nitrat pekat (HNO3) dan
hidrogen peroksida (H2O2). Keduanya berfungsi untuk mengoksidasi senyawa organik. Asam nitrat
juga berfungsi untuk melarutkan logam timbal yang ada di dalamnya. Reaksi pelarutan timbal ditunjukkan pada persamaan 1.
Pb2+(aq) + HNO3(aq) → Pb(NO3)2(aq) + H+(aq) (1)
Sampel darah yang didestruksi akan membentuk larutan bening kekuningan. Larutan tersebut merupakan larutan yang siap untuk di analisis dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Namun sebelum menganalisis, dilakukan validasi metode terlebih dahulu yang meliputi kurva kalibrasi, akurasi, presisi, LoD, dan LoQ. Jika seluruh parameter ini memenuhi batas keberterimaan maka hasil analisis dapat diterima.
Validasi Metode
Validasi metode dilakukan sebagai parameter terhadap suatu percobaan yang memenuhi syarat atau tidak. Validasi yang dilakukan meliputi kurva kalibrasi, akurasi, presisi, LoD, dan LoQ. Kurva kalibrasi menunjukkan hubunga antara respon instrumen yaitu nilai absorbansi dengan konsentrasi timbal dalam larutan. Nilai kurva kalibrasi diperoleh dari pengukuran larutan deret standar 0-6 ppm, yang berupa nilai persamaan regresi. Akurasi merupakan parameter untuk menunjukkan kedekatan hasil analisis dengan nilai sebenarnya. Nilai akurasi terukur dalam bentuk %Recovery. Presisi menunjukkan nilai kedekatan dari hasil pengukuran yang berulang-ulang, dinyatakan dalam %RSD (Relative Standard Deviation). Seluruh parameter tersebut kemudian dibandingkan dengan batas keberterimaan seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1. Berdasarkan hasil yang diperoleh, diketahui bahwa seluruh parameter validasi metode dapat diterima. Sedangkan, LoD merupakan batas terkecil yang dapat direspon oleh alat dan LoQ adalah batas minimum respon yang terkuantisasi. Kedua nilai yang diperoleh berturut-turut 0,1984 ppm dan 0,0003 ppm.
Halaman 55
Tabel. 1. Hasil Pengukuran Validasi Metode
No Parameter Hasil Analisis Batas
Keberterimaan
Keterangan
1 Kurva kalibrasi Abs = 0,0404 conc + 0,0048
R = 0,9979 R = 0,9970 Diterima 2 Akurasi %Recovery = 107,3300% %Recovery = 80-110 % Diterima 3 Presisi % RSD = 0,01% % RSD < 2% Diterima
Analisis Timbal dalam Darah
Analisis logam timbal dalam darah dilakukan dengan menggunakan metode adisi standar. Metode ini baik digunakan untuk sampel yang sedikit mengandung logam di dalamnya. Adisi standar didasarkan pada pengukuran dua larutan, dimana salah satu larutan tersebut ditambahkan larutan standar yang sudah diketahui konsentrasinya. Hasil analisis diperoleh konsentrasi timbal dalam darah normal dan darah hijamah terdapat pada Tabel 2.
Tabel 2. Konsentrasi Timbal dalam Darah Normal
No Kode
Darah
Pb dalam Darah Normal (ppm)
Kode Darah Pb dalam Darah
Hijamah (ppm) 1 DNPL 1 -0,0106 DHPL 1 -0,1243 2 DNPL 2 1,5821 DHPL 2 -0,1411 3 DNPP 1 -0,299 DHPP 1 -0,1543 4 DNPP 2 3,9193 DHPP 2 -0,1727 5 DNBPL 1 -0,0288 DHBPL 1 -0,3048 6 DNBPL 2 -0,0567 DHBPL 2 -0,1789 7 DNBPP 1 -1,6106 DHBPL 1 -0,1652 8 DNBPP 2 -0,1118 DHBPL 2 -0,1351
Berdasarkan konsentrasi timbal yang diperoleh diketahui bahwa dari 8 sampel darah normal yang dianalisis, hanya 2 sampel yang positif mengandung timbal yaitu sampel DNPL 2 (Darah Normal Petani Laki-laki) dan DNPP 2 (Darah Normal Petani Perempuan). Namun, kadar timbal tersebut masih berada dibawah ambang batas yang telah ditentukan oleh CDC (Center Disease of Control) yaitu sebesar 10 ppm. Kedua sampel yang mengandung timbal merupakan sampel yang berprofesi sebagai petani. Potensi cemaran timbal bagi para petani dapat berasal dari pestisida atau pupuk yang digunakan. Insektisida jenis karbofuran yang sering digunakan para petani dianalisis dan diketahui mengandung timbal sebesar 37,3325 ppm. Menurut Haryati mengandung logam timbal seperti
Antracol 70 WP 12,48 mg/kg dan Dithane M 45 80 WP 19,38 mg/kg [2]. Sedangkan menurut Karyadi,
menjelaskan bahwa pada kadar timbal dalam pestisida yang berkisar dari 0,87-19,37 mg/kg dapat menyumbang penambahan akumulasi hingga 2991,26 mg/Ha setiap satu musim [7]. Semakin sering petani berinteraksi dengan pestisida yang mengandung timbal, maka potensi akumulasi timbal semakin besar. Mekanisme masuknya timbal ke dalam tubuh dapat melalui proses inhalasi dan ingesti, timbal yang masuk kemudian terakumulasi ke dalam jaringan lunak (otak, ginjal, dan hati) atau jaringan keras (gigi dan tulang).
Jika dibandingkan, sampel darah normal mengandung timbal tidak seperti sampel darah hijamah yang tidak mengandung timbal. Keberadaan timbal dalam darah normal dipengaruhi karena mekanisme dari flebotomi itu sendiri. Darah yang diambil dengan proses flebotomi meskipun dilakukan dengan
Halaman 56
waktu yang singkat namun pengambilan darah langsung dilakukan pada pembuluh darah. Hal ini berbeda dengan proses hijamah.
Mekanisme darah hijamah dimulai dengan pemberian tekanan negatif oleh alat mahjama (cup) sehingga permukaan kulit membengkak. Tekanan yang diberikan di permukaan kulit menyebabkan kompenen-komponen yang ada di dalam cairan interstisial berkumpul, dan komponen yang ada dalam pembuluh darah arteri berdifusi sedangkan filtrasi pada pembuluh darah vena menurun. Komponen yang berasal dari difusi tersebut ikut berkumpul dengan kompenen dari cairan interstisial di bagian epidermis kulit. Komponen tersebut meliputi substansi penyebab penyakit, darah yang terhemolisis, sel-sel yang telah rusak, dan kompenen lain seperti timbal [5].
Tahap kedua yaitu penusukan pada permukaan kulit yang membengkak yang berfungsi untuk mengeluarkan substasi yang berkumpul di epidermis kulit. Penusukan ini berlangsung pada kedalaman 0,1 mm, tepatnya di bagian dermis. Kedalaman tersebut tidak akan merusak jaringan dermis sehingga dapat mengurangi rasa sakit. Selain itu, tahap kedua ini tidak akan merusak dinding pembuluh darah atau endothelium, karena itu proses tersebu tidak menyebabkan pendarahan yang berasal dari darah normal. Darah yang keluar hanya darah yang terhemolisis, artinya darah tersebut sudah rusak [5].
Tahap ketiga yaitu penyedotan atau pemberian tekanan negatif kembali oleh mahjama. Proses ini bertujuan untuk memaksimalkan proses keluarnya substansi yang sudah tidak dibutuhkan oleh tubuh. Tahap terakhir adalah pengambilan produk eksresi hijamah, dan sterilisasi kulit menggunakan larutan alkohol antiseptik. Mekanisme hijamah ditunjukkan pada Gambar. 3.
Gambar 3. Mekanisme hijamah (a) Adanya substansi berbahaya dalam tubuh (b) Proses cupping
pertama (c) Permukaan kulit ditusuk dengan jarum (Puncturing) kemudian dilakukan cupping kedua, sehingga darah bersama substansi lainnya tereksresikan (d) Substansi tereksresikan.
Berdasarkan mekanisme hijamah, diketahui bahwa komponen yang ada di dalam darah hijamah merupakan komponen yang berhasil terkumpulkan dari cairan interstisial dan komponen yang berhasil berdifusi dari pembuluh darah. Jika konsentrasi timbal dalam darah rendah maka akan sedikit bahkan tidak ada timbal yang berhasil terdifusi. Seperti yang diketahui, konsentrasi timbal dalam darah normal masing-masing sampel sangat kecil sehingga hijamah tidak berhasil mengeksresikan timbal tersebut.
Halaman 57 KESIMPULAN
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:
1. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa darah bekam tidak mengandung logam timbal. Sedangkan pada darah normal sampel petani laki-laki 2 (DNPL 2) dan sampel petani perempuan 2 (DNPP 2) positif mengandung timbal dengan konsentrasi masing-masing sebesar 1,5821 mg/L dan 3,9193 mg/L dan sampel yang lain tidak mengandung logam timbal,
2. Tidak terdapat perbedaan kadar logam timbal dalam darah bekam antara petani dan bukan petani. Namun, terdapat perbedaan kadar darah normal petani dan bukan petani. Kadar logam timbal pada petani lebih besar dibandingkan darah normal, dan
3. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) diketahui bahwa hijamah (bekam) tidak dapat digunakan sebagai metode untuk mengurangi kadar logam timbal dalam darah.
DAFTAR PUSTAKA
[1] E. Kartini, “Kadar Plumbum (Pb) dalam Umbi Bawang Merah di Kecamatan Kersana
Kabupaten Brebes,” Jurnal Viskes, vol. 10, no. 1, 201.
[2] S. E. Manahan, Toxicological Chemistry and Biochemistry, Florida, United States : Lewis
Publisher , 2003.
[3] W. J. Rogan dan K. N. Dietrich, “The Effect of Chelation Theraphy With Succimer On
Neuropsychological Development In Children Exsposed To Lead,” The New England
Journal of Medicine , vol. 344, no. 19, 2001.
[4] E. Sayed SM, M. HS dan N. MMH, “Medical and Scientific Bases of Wet Cupping Therapy
(Al-Hijamah) : in Light of Modern Medicine and Prophetic Medicine,” Alternative and
Integrative Medicine , vol. 2, no. 5, p. 1, 2013.
[5] H. Baghdadi, N. Abdel-Aziz , N. Ahmed , H. S. Mahmoud, A. Barghash, A. Nasrat, M. M.
HelmyNabo dan S. M. El Sayed , “Ameliorating Role Exerted by Al-HIjamah in Autoimmune Diseases: Effect on Serum Autoantibodies and Inflammatory Mediators,” dalam International Journal of Health Sciences , Saudi Arabia , 2015.
[6] K. Karyadi , S. Syarifudin dan D. Soterisnanto, “Akumulasi Logam berat Timbal (Pb)
Sebagai Residu Pestisida pada Lahan Pertanian,” Jurnal Ilmu Lingkungan , vol. 9, no. 1, pp. 1-9, 2011.
Halaman 58