• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLIMER MELALUI PEMBUATAN SLIME

HASIL DAN PEMBAHASAN Optimasi Prosedur Percobaan Pembuatan Slime

Kegiatan optimasi dilakukan untuk mengetahui kondisi optimum dari prosedur percobaan pembuatan

slime dalam LKS praktikum yang dikembangkan. Prosedur percobaan pembuatan slime yang

dijadikan acuan oleh peneliti dalam melakukan optimasi adalah prosedur praktikum yang dikembangkan oleh [10].

Berdasarkan hasil optimasi yang dilakukan, slime paling optimum dapat dihasilkan dari pencampuran PVA 4% dalam air sebanyak 100 mL dan larutan Natrium borat 2% sebanyak 10 mL, 15 mL, dan 20 mL, dengan lama waktu pengadukan selama 1 menit 30 detik.

Penyusunan LKS Praktikum Berbasis Inkuiri Terbimbing pada Topik Polimer Melalui Pembuatan Slime

Pada penelitian ini, produk yang dihasilkan adalah Lembar Kerja Siswa (LKS) praktikum berbasis inkuiri terbimbing. Komponen LKS praktikum yang dikembangkan mengikuti tahapan inkuiri menurut [3] yaitu orientasi (dalam bentuk fenomena), merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan merumuskan kesimpulan.

Komponen-komponen ini dikembangkan dengan mengikuti kerangka indikator keterampilan inkuiri berdasarkan [11] dan [12] berupa arahan-arahan yang dapat membimbing siswa untuk melakukan kegiatan yang terdapat pada tahapan tersebut sehingga pada akhirnya siswa dapat menemukan konsep yang diharapkan. Adapun komponen yang terdapat di dalam LKS praktikum yang dikembangkan adalah sebagai berikut:

1. Judul 2. Fenomena

3. Arahan merumuskan masalah 4. Arahan merumuskan hipotesis

5. Arahan mengumpulkan data yang meliputi arahan:

a. menentukan judul percobaan b. menentukan bahan

c. menentukan alat

d. menentukan variabel percobaan e. merancang prosedur percobaan f. melakukan percobaan

6. Arahan menuliskan hasil pengamatan

7. Arahan membandingkan data hasil

pengamatan

8. Arahan menganalisis data 9. Arahan menguji hipotesis 10. Arahan membuat kesimpulan

Halaman 154

Hasil Validasi Guru dan Dosen terhadap LKS Praktikum yang Dikembangkan

Validasi LKS dilakukan terhadap 4 aspek penilaian, yaitu aspek kesesuaian komponen LKS dengan indikator keterampilan inkuiri, aspek kebenaran konsep, aspek tata bahasa, dan aspek kesesuaian tata letak dan perwajahan dalam LKS (Tabel 1).

Penilaian aspek kesesuaian indikator keterampilan inkuiri mengacu pada indikator katerampilan inkuiri menurut [11] dan [12] dan penilaian aspek kesesuaian konsep, kesesuaian tata bahasa, serta kesesuaian tata letak dan perwajahan dalam LKS mengacu pada syarat-syarat LKS praktikum yang baik menurut [6].

Tabel 1. Hasil Validasi Guru dan Dosen terhadap LKS Praktikum yang Dikembangkan

No Aspek Penilaian Skor (%) Kategori

1 Aspek Kesesuaian Indikator Keterampilan Inkuiri 90,7 Sangat baik

2 Aspek Kesesuaian Konsep 82,4 Sangat baik

3 Aspek Tata Bahasa 85,2 Sangat baik

4 Aspek Tata Letak dan Perwajahan 84,7 Sangat baik

Berdasarkan Tabel 1, seluruh aspek penilaian termasuk ke dalam kategori sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa komponen dalam LKS praktikum yang dikembangkan sudah memenuhi aspek kesesuaian dengan indikator keterampilan inkuiri, kesesuaian konsep, kesesuaian tata bahasa, serta kesesuaian tata letak dan perwajahan.

Keterlaksanaan Praktikum Menggunakan LKS Praktikum yang Dikembangkan

Penilaian keterlaksanaan praktikum ini dilakukan berdasarkan dua aspek, yaitu penilaian terhadap hasil observasi tahapan-tahapan inkuiri yang dilakukan oleh beberapa observer dan penilaian jawaban siswa terhadap tugas-tugas yang terdapat dalam LKS praktikum yang dikembangkan. Hasil penilaian keterlaksanaan disajikan dalam tabel 2 dan gambar 1.

Tabel 2. Hasil Observasi Keterlaksanaan Praktikum Menggunakan LKS Praktikum yang

Dikembangkan Aspek Penilaian Skor Keterlaksanaan Tahapan Inkuri (%) Waktu Pengerjaan Tahapan Inkuiri Membaca fenomena 100 0:02:17

Membuat pertanyaan sesuai

fenomena 90 0:03:25

Mendiskusikan rumusan masalah 80 0:01:43

Memfokuskan satu rumusan masalah 90 0:00:54

Membuat hipotesis 90 0:01:32

Membuat judul percobaan 90 0:01:06

Memilih bahan 100 0:01:26

Memilih alat 100 0:01:50

Menuliskan variabel percobaan 100 0:03:10

Membuat prosedur percobaan 100 0:03:07

Melakukan praktikum 100 0:03:58

Halaman 155 Aspek Penilaian Skor Keterlaksanaan Tahapan Inkuri (%) Waktu Pengerjaan Tahapan Inkuiri

Membandingakan data hasil percobaan 100 0:03:26

Menganalisis hasil pengamatan 100 0:12:20

Membuktikan hipotesis 100 0:00:56

Membuat kesimpulan 100 0:01:22

Rata-rata skor (%) 96,3

Total waktu 0:43:43

Gambar 1. Diagram Hasil Penilaian Jawaban Siswa terhadap Tugas-tugas dalam LKS

Keterangan:

1. Merumuskan pertanyaan penelitian

2. Merumuskan masalah

3. Merumuskan hipotesis

4. Menentukan judul percobaan

5. Memilih bahan

6. Memilih alat

7. Menentukan variabel percobaan

8. Merancang prosedur percobaan

9. Menuliskan data hasil pengamatan

10. Menganalisis data

11. Menguji hipotesis

12. Membuat kesimpulan

Berdasarkan Tabel 2, diperoleh skor rata-rata sebesar 96,3% dan termasuk ke dalam kategori sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa LKS praktikum yang dikembangkan memiliki keterlaksanaan yang sangat baik berdasarkan hasil observasi keterlaksanaan tahapan inkuiri. Waktu yang paling singkat adalah ketika memfokuskan satu rumusan masalah yaitu 54 detik. Hal ini dikarenakan pada tahapan inkuiri tersebut, siswa hanya diminta untuk memilih satu pertanyaan rumusan masalah dari beberapa pertanyaan rumusan masalah yang telah dibuat sebelumnya. Sedangkan waktu yang paling lama adalah pada tahapan menganalisis data yang mengharuskan siswa menjawab beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan hasil pengamatan dengan lama waktu 12 menit 20 detik.

Total waktu yang diperlukan siswa untuk melaksanakan seluruh tahapan inkuiri yang terdapat dalam LKS adalah 43 menit 43 detik. Dilihat dari total waktu tersebut sudah sesuai dengan alokasi waktu dalam kurikulum yakni 90 menit atau 1 jam 30 menit (2 Jam Pelajaran × 45 menit). Kelebihan waktu selama 46 menit 17 detik dapat digunakan guru untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran yang lain seperti meminta siswa untuk mengomunikasikan kesimpulan dari hasil percobaan yang telah dilakukan dalam diskusi kelas, mengklarifikasi rancangan prosedur yang diajukan siswa dan konfirmasi tentang kesimpulan hasil pembelajaran.

86.7 90 73.3 100 100 63.3 85 72 92 88.1100 64 85.7 0 20 40 60 80 100 120 Sko r (%) Ja w ab an Si sw a

Tugas-tugas dalam LKS Praktikum

Keterangan warna: Sangat baik Baik Cukup Kurang baik Tidak baik

Halaman 156

Keterlaksanaan LKS praktikum juga dilihat dari penilaian jawaban siswa terhadap tugas-tugas dalam LKS yang dikembangkan. Berdasarkan Gambar 1, persentase skor jawaban siswa tertinggi terdapat pada tahapan menentukan judul percobaan, memilih bahan, dan menguji hipotesis dengan perolehan skor sebesar 100% dan masuk ke dalam kategori sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa siswa mempunyai kemampuan yang sangat baik dalam mengerjakan tugas-tugas tersebut.

Perolehan skor terendah terdapat pada komponen memilih alat (63,3%), membuat kesimpulan (64%), merancang prosedur percobaan (72%), dan merumuskan hipotesis (73,3%). Hal ini dikarenakan pada tahapan memilih alat, terdapat kelompok siswa tidak menyertakan jumlah masing-masing alat yang telah dipilih sesuai dengan yang telah diperintahkan dalam LKS sehingga mengurangi jumlah skor yang diperoleh masing-masing kelompok tersebut. Pada tahapan membuat kesimpulan, ada beberapa kelompok siswa yang hanya menuliskan jawaban dari rumusan masalah dan tidak mengaitkannya dengan hasil analisis data berdasarkan hasil pengamatan. Pada tahapan merancang prosedur percobaan, siswa sudah terbiasa menggunakan petunjuk praktikum berupa instruksi langsung yang telah menyediakan prosedur percobaan yang harus dilakukan sehingga siswa belum terbiasa dalam merancang prosedur percobaannya sendiri. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh [13] yang menunjukkan bahwa dalam praktikum berbasis inkuiri, merancang prosedur percobaan merupakan tahapan yang paling sulit dilakukan oleh siswa. Pada komponen merumuskan hipotesis disebabkan karena arahan dalam merumuskan hipotesis kurang menuntun siswa kepada jawaban yang diharapkan atau informasi yang diperlukan oleh siswa kurang memadai untuk membimbing siswa dalam merumuskan hipotesis. Hal ini sesuai dengan masukan yang diberikan oleh salah satu validator yang menyarankan untuk memberikan arahan kepada siswa untuk mencari informasi yang berkaitan dengan “ikatan silang” guna mempermudah siswa dalam merumuskan hipotesis.

Secara keseluruhan, persentase perolehan skor rata-rata penilaian jawaban siswa terhadap tugas-tugas dalam LKS adalah sebesar 85,7% dan masuk ke dalam kategori sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa arahan-arahan dalam LKS praktikum yang dikembangkan mampu membimbing siswa dalam mengerjakan tugas-tugas dalam LKS dengan sangat baik.

Respon Siswa terhadap LKS Praktikum yang Dikembangkan

Respon terhadap LKS praktikum meliputi aspek ketertarikan siswa dan pemahaman kalimat yang digunakan pada LKS praktikum yang dikembangkan. Kedua aspek tersebut dinilai berdasarkan 7 pernyataan pada angket respon siswa (gambar 2)

Gambar 2. Diagram Persentase Respon Siswa terhadap LKS Praktikum yang Dikembangkan

Keterangan:

1. Ketertarikan membaca LKS praktikum

2. Ketertarikan melakukan praktikum dengan menggunakan LKS praktikum 3. Pemahaman terhadap kalimat pada fenomena

85 85 83,3 83,3 80 83,3 81,7 83,1 0 20 40 60 80 100 Sko r R es po n Si sw a

Item Pertnyataan Angket

Keterangan warna: Sangat Baik Cukup Kurang Tidak baik

Halaman 157

4. Pemahaman terhadap tugas-tugas dalam LKS pr aktikum

5. Kemudahan mempelajari topik sifat polimer melalui pembuatan slime

6. Topik identifikasi sifat polimer melalui pembuatan slime menarik untuk dipelajari

7. Topik identifikasi sifat polimer melalui pembuatan slime dekat dengan kehidupan sehari-hari

Berdasarkan Gambar 2, respon siswa terhadap LKS praktikum yang paling tinggi adalah pada item pernyataan nomor 1 dan 2, yaitu ketertarikan membaca LKS praktikum berbasis inkuiri terbimbing dan ketertarikan melakukan praktikum dengan menggunakan LKS praktikum berbasis inkuiri terbimbing dengan persentase sebesar 85% dan termasuk ke dalam kategori sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa siswa sangat antusias ketika membaca LKS praktikum dan melakukan praktikum berdasarkan rancangan yang telah mereka buat sendiri. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh [13] yang menyatakan bahwa siswa merasa lebih tertarik dan senang melakukan percobaan berbasis inkuiri yang mengharuskan mereka merancang percobaannya sendiri.

Hal lain yang membuat siswa merasa tertarik dengan percobaan yang dilakukan adalah karena produk yang dihasilkan dari percobaan merupakan produk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa yaitu slime. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh [14] yang menyatakan bahwa pembelajaran kimia yang dekat dengan kehidupan sehari-hari akan lebih meningkatkan motivasi belajar kimia siswa.

Respon siswa terendah diperoleh pada item pernyataan nomor 5 yaitu kemudahan mempelajari topik sifat polimer melalui pembuatan slime dengan persentase sebesar 80% dan termasuk ke dalam kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa ada beberapa siswa yang masih merasa kesulitan dalam mempelajari topik sifat polimer melalui pembuatan slime menggunakan LKS praktikum yang dikembangkan.

Respon Siswa terhadap Praktikum Menggunakan LKS Praktikum yang Dikembangkan

Respon siswa terhadap keterlaksanaan praktikum terdiri dari 13 pernyataan yang berkaitan dengan pelaksanaan praktikum menggunakan LKS praktikum berbasis inkuiri terbimbing yang dikembangkan dapat dilihat pada Gambar 3 di bawah ini.

Gambar 3. Diagram Persentase Respon Siswa terhadap Praktikum Menggunakan LKS

Praktikum yang Dikembangkan

80 83,376,778,3 85 80 80 81,778,383,3 80 81,778,380,5 0 20 40 60 80 100 Skor R esp on Sisw a (% )

Item Pernyataan Angket

Keterangan warna: Sangat baik Baik Cukup Kurang baik Tidak baik

Halaman 158

Keterangan:

1. Fenomena membantu perumusan masalah

2. Merasa senang diberi kesempatan merumuskan masalah 3. Kemudahan membuat hipotesis

4. Merasa senang diberi kesempatan merumuskan hipotesis 5. Kemudahan menentukan alat dan bahan

6. Kemudahan merancang prosedur percobaan

7. Merasa senang diberi kesempatan merancang prosedur percobaan 8. Kemudahan melakukan percobaan

9. Kemudahan mengisi tabel pengamatan

10. Kemudahan membandingkan data pengamatan dengan kelompok lain 11. Kemudahan menganalisis data

12. Kemudahan menyimpulkan percobaan

13. LKS praktikum membantu emanasi topik sifat polimer melalui pembuatan slime

Berdasarkan Gambar 3, skor tertinggi terdapat pada item pernyataan nomor 2 dan 10 yaitu merasa senang diberi kesempatan merumuskan masalah dan kemudahan membandingkan data pengamatan dengan kelompok lain dengan persentase skor 83,3% dan masuk dalam kategori sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa siswa merasa sangat senang diberi kesempatan untuk merumuskan masalah dan siswa tidak mengalami kesulitan dalam membandingkan data pengamatan dengan kelompok lain. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh [15] yang menyatakan bahwa siswa merasa sangat senang ketika merumuskan masalah penelitian dan berdiskusi mengenai hasil percobaan.

Perolehan skor terendah terdapat pada item pernyataan nomor 3 yaitu kemudahan merumuskan hipotesis dengan persentase skor 76,7% dan termasuk ke dalam kategori baik. Hal ini disebabkan karena arahan dalam merumuskan hipotesis yang kurang memberi penekanan kepada informasi yang dibutuhkan siswa dalam merumuskan hipotesis sesuai dengan jawaban yang diharapkan.

KESIMPULAN

Hasil optimasi prosedur pembuatan slime adalah volume PVA 4% dalam air 100 mL, natrium borat 2% 10 mL; 15 mL; dan 20 mL, serta lama waktu pengadukan yang dibutuhkan untuk menghasilkan

slime selama 1 menit 30 detik. Hasil validasi guru dan dosen terhadap kesesuaian komponen dalam

LKS dengan indikator keterampilan inkuiri, kesesuaian konsep, tata bahasa, serta tata letak dan perwajahan termasuk ke dalam kategori sangat baik. Keterlaksanaan praktikum berdasarkan observasi keterlaksanaan tahapan inkuiri dan penilaian jawaban siswa termasuk ke dalam kategori sangat baik. Respon siswa terhadap LKS praktikum termasuk ke dalam kategori sangat baik dan respon siswa terhadap praktikum menggunakan LKS termasuk ke dalam kategori baik.

REFERENSI

[1] Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2016

Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah

[2] Djamarah & Zain. (2010). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Halaman 159

[4] Siska, B. M., Kurnia, & Sunarya, S. (2013). Peningkatan keterampilan proses sains siswa SMA melalui pembelajaran praktikum berbasis inkuiri pada materi laju reaksi. Jurnal Riset dan

Praktik Pendidikan Kimia. 1(1), hlm. 69-75.

[5] Gormally, C., Brickman., & Peggy. (2011). Lessons learned about implementing an

inquiry-based curiculum in a college biology laboratory classroom. Journal of College Science

Teaching. 40(3), hlm. 45-51.

[6] Widjajanti, E. (2008). Kualitas Lembar Kerja Siswa. Pelatihan Penyusunan LKS Mata

Pelajaran Kimia Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Bagi Guru SMK/MAK.

Yogyakarta 22 Agustus 2008.

[7] Lilia, L & Widodo, A.T. (2014). Implementasi pembelajaran kontekstual dengan strategi percobaan sederhana berbasis alam lingkungan siswa kelas x. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia. 8(2) hlm. 1351-1359.

[8] Sukamdinata, N. S. (2012). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

[9] Riduwan. (2014). Dasar-dasar Statistika. Bandung: Alfabeta.

[10] Herr, N & Cunningham, J. (1999). Hands-on Chemistry Activities Alt Real-Life Applications. West Nyack, NY: Center for Applied Research in Education.

[11] Lou, Y., Blanchard, P., & Kennedy, E. (2015). Development and validation of a science inquiry skills assessment. Journal of Geoscience Education. 63(1), hlm. 73-85.

[12] National Research Council (NRC). (2012). A framework for K-12 science education: practices,

crosscutting concepts, and core ideas. Committee on a Conceptual Framework for New K-12 Science Education Standards. Board on Science Eduaction Division of Behavioral and Social Sciences and Education. Washington, DC: National Academic Press.

[13] Deters, K. M. (2005). Student opinions regarding inquiry-based las. Journal of Chemical

Education. 82(8), hlm. 1178-1180.

[14] Magwilang, E. B. (2016). Teaching chemistry in context: in effects of student’s motivation, attitudes and achievement in chemistry. Internasional Journal of Learning, Teaching and

Educational Research. 15(4), hlm. 60-68.

[15] Hofstein, A., Shore, R., & Kipnis, M. (2004). Providing high school chemistry students with opportunities do develop learning skills in na inquiry-typelaboratory: A Chase Study.

Halaman 160

PENERAPAN PENDEKATAN INQUIRY UNTUK MENINGKATKAN