• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terdakwa yang bernama Hadi Kusumo yang dilahirkan di Malang pada tanggal 6 Juni 1980, berusia 30 tahun, berjenis kelamin laki-laki, berkebangsaan Warga Negara Indonesia, bertempat tinggal di Jalan Ahmad Yani Nomor : 45 Malang, yang beragama Islam dan bekerja swasta. Terdakwa melakukan tindak pidana Narkotika dan pada proses beracara dalam persidangan pidana terdakwa tidak didampingi oleh penasihat hukum.

2. Berita Acara Penolakan Didampingi Penasihat Hukum

Bahwa Terdakwa pada saat masih berstatus sebagai tersangka pada tingkat penyidikan, berdasarkan Laporan Polisi Nomor : LP/112/IV/2010/Biro Ops, tanggal 17 April 2010, Surat Perintah Penangkapan Nomor : SP.Kap/153/IV/2010/Ditreskoba, tanggal 17 April 2010, Surat Perintah Penyidikan Nomor : SP. Sidik/115/IV/2010/Ditreskoba, tanggal 17 April 2010. Oleh pemeriksa yang bernama Ambar Susanto SH. selaku penyidik pada Kantor Direktorat Reserse Narkoba Polisi Daerah Jawa Timur, Tersangka telah diberitahu hak-haknya bahwa dalam memberikan keterangan ditingkat penyidikan, Tersangka mempunyai hak untuk didampingi penasihat hukum, namun

tersangka menyatakan menolak untuk didampingi Penasihat Hukum dalam tingkat penyidikan. Dan Berita Acara Penolakan untuk didampingi Penasihat Hukum tersebut dibuat dengan sebenarnya atas kekuatan sumpah jabatan, kemudian ditutup dan ditandatangani oleh Tersangka dan Penyidik di Surabaya pada tanggal 19 April tahun 2010.

3. Dakwaan Jaksa Penuntut Umum

Terdakwa oleh Jaksa Penuntut Umum pada tahap pemeriksaan di tingkat pengadilan didakwa dengan dakwaan bahwa, terdakwa Hadi Kusumo pada hari sabtu tanggal 17 April 2010 sekitar pukul 19.00 Waktu Indonesia Barat bertempat di halaman masjid Terminal Bungurasih kecamatan Waru kabupaten Sidoarjo, secara tanpa hak atau melawan hukum, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman, yakni berupa 5 (lima) bungkus ganja yang dilakban coklat dengan berat kotor (beserta dengan bungkusnya) berat seluruhnya 4262,39 ( empat ribu dua ratus enam puluh dua koma tiga sembilan) gram atau berat bersih (tanpa bungkus) dengan berat seluruhnya 4062,49 (empat ribu enam puluh dua koma empat sembilan) yang dilakukan dengan cara mengambil ”barang” tersebut di terminal Bungurasih Sidoarjo atas permintaan dari Inul (Daftar Pencarian Orang) yang sebelumnya antara Terdakwa dan Inul telah melakukan komunikasi melalui handphone untuk menentukan waktu dan lokasi pengambilan barang tersebut, yang kemudian akan dibawanya menuju ke terminal Arjosari Malang, dan Terdakwa akan diberi upah sebesar Rp 400.000,-

(empat ratus ribu rupiah) apabila Terdakwa sudah sampai mengantar barang tersebut ke terminal Arjosari Malang.

Namun, pada perjalanan menuju ke terminal Arjosari Malang terdakwa ditangkap oleh petugas polisi Polda Jatim dan dari tangan terdakwa polisi menyita bungkusan ganja yang dilakban coklat seberat 4262,39 (empat ribu dua ratus enam puluh dua koma tiga sembilan) gram, selanjutnya terdakwa dan barang bukti dibawa ke Ditreskoba Jatim untuk dilakukan penyidikan lebih lanjut. Kemudian dari hasil pemeriksaan Laboratorium Forensik POLRI cabang Surabaya No. Lab. 2302/ISNF/2010 tanggal 23 April 2010, dengan kesimpulan bahwa barang bukti dengan nomor 1906/2010/KNF s/d 1910/2010/KNF masing-masing berupa daun, batang dan biji tersebut diatas adalah benar ganja, terdaftar dalam golongan I (satu) nomor urut 8 lampiran I Undang-undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Atas perbuatan tersebut terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 111 ayat (2) Undang- undang RI No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Yang bunyi pasalnya : Pasal 111

(1)Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp8.000.000.000,00 (delapan miliar rupiah).

(2)Dalam hal perbuatan menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beratnya melebihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5 (lima) batang pohon, pelaku dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga).

4. Keterangan Terdakwa

Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari Terdakwa Hadi Kusumo61, yang mengakui bahwa dalam setiap pemeriksaan, baik pemeriksaan dalam tahap penyidikan, jaksa penuntut umum maupun dalam pemeriksaan pengadilan terdakwa tidak didampingi oleh penasihat hukum. Terdakwa hanya mengikuti alur dari proses beracara pada setiap pemeriksaan tersebut. Sedangkan mengenai Berita Acara Penolakan Penasihat Hukum yang ditandatanganinya, didapati bahwa terdakwa pada dasarnya tidak mengetahui mengenai hak-haknya selama menjalani penyidikan, mengenai apakah penyidik memberitahukan hak-hak tersebut, terdakwa juga menguatkan bahwa selama dalam proses pemeriksaan penyidikan tidak diberitahukan akan hak-haknya terutama mengenai hak untuk mendapatkan pendampingan Penasihat Hukum. Yang Terdakwa peroleh dari pemberitahuan penyidik pada saat sebelum menandatangani Berita Acara Penolakan tersebut, Terdakwa hanya diberitahukan bahwa Terdakwa bisa mendapatkan Penasihat Hukum selama proses peradilan namun untuk mendapatkannya Terdakwa harus mengeluarkan biaya besar, dari pemberitahuan yang disampaikan oleh penyidik tersebut kemudian Terdakwa menyatakan bahwa tidak mampu membayar biaya untuk Penasihat Hukum tersebut sehingga Terdakwa menyatakan menolak untuk didampingi penasihat hukum dan akhirnya menandatangi Berita Acara Penolakan Penasihat Hukum. Sedangkan tentang mendapatkan penasihat

61

Wawancara dengan Terdakwa Hadi Kusumo di Lembaga Pemasyarakatan Sidoarjo, tanggal 6 Januari 2011, pukul 10.20

hukum secara cuma-cuma atau pro deo terdakwa juga tidak mengetahui dan juga tidak diberitahu oleh pihak penyidik.

Berdasarkan Keterangan Terdakwa diatas penulis menyimpulkan bahwa dalam Berita Acara Penolakan Penasihat Hukum yang dibuat oleh penyidik masih diragukan kebenarannya, hal ini disebabkan karena dalam isi BAP tersebut hanya menyatakan bahwa “Tersangka telah diberitahu hak-haknya bahwa dalam memberikan keterangan ditingkat penyidikan, Tersangka mempunyai hak untuk didampingi penasihat hukum, namun tersangka menyatakan menolak untuk didampingi Penasihat Hukum dalam tingkat penyidikan”. Dalam pernyataan tersebut penyidik tidak menguraikan secara jelas tentang hak yang bagaimana yang seharusnya diperoleh Terdakwa. Penyidik hanya memberitahukan hak terdakwa sebatas pada apa yang telah ditentukan dalam Pasal 56 ayat (1) KUHAP yaitu hak untuk didampingi penasihat hukum. Namun tidak disebutkan mengenai hak mendapatkan bantuan hukum dari penasihat hukum dengan biaya cuma-cuma (pro deo) sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 56 ayat (2) KUHAP. Hal ini berakibat kurangnya penyampaian pemberitahuan akan hak-hak dari terdakwa yang seharusnya wajib diperoleh.