• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Spiritualitas

2.2. Distres Spiritual

2.2.1. Definisi Distress Spiritual

Menurut Bergren-Thomas dan Griggs (1995 dalam Young & Koopsen, 2007) menjelaskan bahwa distress spiritual adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami gangguan atau kekacauan nilai dan keyakinan yang biasanya memberikan kekuatan, harapan dan makna hidup. Menurut Herdman & Kamitsuru (2014) dijelaskan bahwa distress spiritual merupakan suatu keadaan penderitaan yang terkait dengan gangguan kemampuan untuk mengalami makna dalam hidup melalui hubungan dengan diri sendiri, orang lain, dunia atau alam dan kekuatan yang lebih besar dari diri sendiri.

Distress spiritual atau krisis spiritual terjadi ketika seseorang tidak dapat menemukan makna dan tujuan hidup, harapan, cinta, kedamaian atau kekeuatan dalam hidup mereka. Krisis ini bisa terjadi saat seseorang mengalami ketiadaan hubungan dengan hidup, sesama, alam dan ketika situasi hidup bertentangan dengan keyakinan yang dimilikinya (Anandarajah dan Hight, 2001 dalam Young dan Koopsen, 2007).

Distress spiritual mengacu pada tantangan dari kesejahteraan spiritual atau sistem kepercayaan yang memberikan kekuatan, harapan dan arti hidup (Carpenito 2002 dalam Kozier et al, 2004). Pendapat lain menjelaskan bahwa distress spiritual merupakan masalah yang sering terjadi pada pemenuhan kebutuhan spiritual (Hidayat, 2009). Kebutuhan spiritual yang dimaksud yaitu kebutuhan untuk mencari makna dan tujuan hidup, kebutuhan mencintai dan dicintai serta kebutuhan untuk memberi maaf dan dimaafkan (Hamid, 2009).

2.2.2. Ciri-ciri Khusus Distress Spiritual

Menurut Benedict dan Taylor (2002, dalam Young dan Koopsen, 2007) ciri-ciri khusus dari distress spiritual meliputi hal berikut: pertanyaan tentang implikasi moral/etis dari aturan terapeutik, perasaan tidak bernilai, kepahitan, penolakan, rasa salah dan rasa takut, mimpi buruk, gangguan tidur, anorexia, keluhan somatis, pengungkapan konflik dalam batin atas kepercayaan yang dihayati, ketidakmampuan dalam berpartisipasi dalam praktik keagamaan yang biasa diikuti, mencari bantuan spiritual, mempertanyakan makna penderitaan, mempertanyakan makna

perasaan atau perilaku (marah, menangis, menarik diri, cemas, apatis dan sebagainya), dan untuk yang terakhir menghindari humor.

2.2.3. Batasan Karakteristik Distress Spiritual

Menurut Herdman & Kamitsuru (2014) batasan karakteristik dari distress spiritual yaitu sebagai berikut.

2.2.3.1. Hubungan dengan Diri Sendiri

Yang berhubungan dengan diri sendiri meliputi: marah, kurangnya ketenangan atau kedamaian, perasaan tidak dicintai, rasa bersalah, kurang dapat menerima atau kurang pasrah, koping yang tidak efektif, tidak cukup tabah, mengungkapkan kurangnya makna hidup.

2.2.3.2. Hubungan dengan Orang Lain

Berhubungan dengan orang lain meliputi: mengungkapkan rasa terasing, menolak berinteraksi dengan pemimpin spiritual, menolak berinteraksi dengan orang yang dianggap penting, pemisahan dari sistem pendukung.

2.2.3.3. Hubungan dengan Seni, Musik, Literatur, Alam

Berhubungan dengan seni, musik, literatur, alam meliputi ketidakmampuan mengungkapkan kondisi kreativitas sebelumnya (misalnya menyanyi, mendengarkan musik ataupun menulis), dan tidak berminat atau tertarik pada alam maupun membaca literatur spiritual.

2.2.3.4. Hubungan dengan Kekuatan yang Lebih Besar

Berhubungan dengan kekuatan yang lebih besar dari dirinya meliputi mengungkapkan kemarahan terhadap kekuatan yang lebih besar dari dirinya, merasa ditinggalkan, putus asa, ketidakmampuan untuk introspeksi diri, ketidakmampuan untuk mengalami pengalaman religiositas, ketidakmampuan berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan, ketidakmampuan untuk berdoa, merasakan penderitaan, meminta menemui pemimpin keagamaan, dan mengalami perubahan yang tiba-tiba dalam praktik spiritual.

Menurut Carpenito (2013) batasan karakteristik distress spiritual dibagi berdasarkan mayor dan minor. Karakteristik mayor adalah karakteristik yang harus ada pada distress spiritual yaitu klien mengalami suatu gangguan dalam sistem keyakinan. Batasan karakteristik minor yaitu karakteristik yang mungkin ada pada klien dengan distress yaitu (Carpenito, 2013) meliputi:

1. Mempertanyakan makna kehidupan, kematian, dan penderitaan 2. Mempertanyakan kredibilitas terhadap sistem keyakinan 3. Mendemonstrasikan keputusan atau kekecewaan

4. Memilih untuk tidak melakukan ritual keagamaan yang biasa dilakukan

5. Mempunyai perasaan ambivalen (ragu) mengenai keyakinan 6. Mengungkapkan bahwa ia tidak mempunyai alasan untuk

8. Menunjukkan keterpisahan emosional dari diri sendiri dan orang lain

9. Menunjukkan kekhawatiran-marah, dendam, ketakutan-mengenai arti kehidupan, penderitaan, kematian

10.Meminta bantuan spiritual terhadap suatu gangguan dalam sistem keyakinan.

2.2.4. Faktor yang Berhubungan Distress Spiritual

Menurut Anandarajah dan Hight (2001, dalam Young dan Koopsen, 2007) distress atau krisis spiritual dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental dan sering diperburuk oleh penyakit medis atau takut mati. Faktor tambahan lain yang berhubungan dengan distress spiritual meliputi (Taylor, 2002 dalam Young dan Koopsen 2007) : kehilangan orang yang dicintai, rendahnya harga diri, penyakit mental, penyakit alamiah, penyakit fisik, perasaan kehilangan sesaat, penyalahgunaan benda terlarang, reaksi yang buruk dengan sesama, tekanan fisik atau psikologis, ketidakmampuan untuk mengampuni, kekurangan mencintai diri sendiri dan yg terakhir kecemasan ekstrem.

Menurut Herdman (2012) faktor yang berhubungan dengan distress spiritual yaitu sebagai berikut: menjelang ajal, ansietas, sakit kronis, kematian, perubahan hidup, kesepian, nyeyi, keterasingan diri maupun sosial dan gangguan sosiokultural.

2.2.5. Proses Keperawatan Distress Spiritual

Proses keperawatan distress spiritual terdiri dari 5 tahap yaitu: 1. Proses keperawatan – pengkajian. Pada proses pengkajian yaitu

dilakukan pengkajian terhadap keyakinan klien seperti sumber kekuatan dan arti spiritual pada klien, mengkaji bagaimana kepuasan atau pencapain hidup, hubungan dengan masyarakat, ritual dan praktek keagamaan, pekerjaan dan harapan klien.

2. Proses keperawatan – diagnosa. Kesejahteraan spiritual sebaiknya dipikirkan secara luas dan tidak terbatas pada agama. Semua orang beragama, dalam arti bahwa mereka membutuhkan sesuatu yang dapat memberikan arti dalam hidup mereka. Untuk sebagian orang hal ini berarti percaya kepada Tuhan dalam arti tradisional, untuk yang lainnya hal ini merupakan perasaan keselarasan dengan alam, sementara yang lainnya lagi hal ini dapat keluarga dan anak-anak. Ketika pasien percaya bahwa hidup tidak memiliki arti dan tujuan hidup dalam arti apapun saat itulah terjadi distress spiritual.

3. Proses keperawatan – perencanaan. Pada proses perencanaan perlu diperhatikan kolaborasi dengan klien dan keluarga akan pilihan intervensi, konsul dengan pemimpin keagamaan, ritual spiritual dan observasi.

4. Proses keperawatan – implementasi. Dalam melaksanakan spiritual care yaitu perawat perlu mendengarkan pasien, perawat perlu hadir setiap saat untuk pasien, kemampuan perawat untuk menerima apa

keterbukaan pasien pada perawat. Promosi kesehatan yaitu menyatakan pentingnya kebutuhan spiritual pada pasien. Membantu berdoa atau mendoakan pasien juga merupakan salah satu tindakan keperawatan terkait spiritual pasien, menghubungi atau merujuk pasien kepada pemuka agama, perawat dan pemuka agama dapat bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien.

5. Proses keperawatan – evaluasi. Untuk melengkapi siklus proses keperawatan spiritual pasien, perawat harus melakukan evaluasi yaitu dengan menentukan apakah tujuan telah tercapai. Hal ini sulit dilakukan karena dimensi spiritual yang bersifat subjektif dan lebih kompleks. Membahas hasil dengan pasien dari implementasi yang telah dilakukan tampaknya menjadi cara yang baik untuk mengevaluasi spiritual care pasien (Govier, 2000).

Dokumen terkait