BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Distribusi penderita cedera kepala berdasarkan
jenis kelamin ... 30 4.2 Distribusi penderita cedera kepala berdasarkan usia ... 31 4.3 Distribusi penderita cedera kepala berdasarkan
Pekerjaan ... 32 4.4 Distribusi penderita cedera kepala berdasarkan
penyebab ... 33 4.5 Distribusi penderita cedera kepala berdasarkan jenis
cedera kepala ... 34 4.6 Distribusi penderita cedera kepala berdasarkan
tingkat keparahan... 35 4.7 Distribusi penderita cedera kepala berdasarkan keadaan
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1 Tengkorak... 5
2.2 Lapisan meninges ... 6
2.3 Kerangka teori ... 22
DAFTAR SINGKATAN
ABCD : Airway, Breathing, Circulation, Disability
CBF : Cerebral Blood Flow
CCHR : Canadian Computed Tomography Head Rule
CDC : Center of Disease Control and Prevention
CO2 : Carbon Dioksida
CSS : Cairan Serebrospinal
CT : Computed Tomography
CTE : Chronic Traumatic Encephalopathy
DAI : Diffuse Axonal Injury
FBC : Full Blood Count
GCS : Glasgow Coma Scale
ICD : International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems
ICP : Intracranial Pressure
INR : International Normalized Ratio mg/dL : miligram/deciliter
MRI : Magnetic Resonance Imaging
NICE : National Institute for Clinical Excellence NOC : New Orleans Criteria
PT : Prothrombin Time
PTA : Post Traumatic Amnesia
PTT : Partial Thromboplastin Time
RS : Rumah Sakit
RSUP HAM : Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik
SCALP : Skin, Connective tissue, Aponeurosis, Loose areolar tissue, Perikranium
SSP : Susunan Saraf Pusat
TBI : Traumatic Brain Injury
ABSTRAK
Latar Belakang. Cedera kepala adalah kegawatdaruratan yang umum terjadi di seluruh dunia.
Cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan atau benturan fisik dari luar tubuh. Cedera kepala biasanya mengacu pada Traumatic Brain Injury (TBI), namun cedera kepala bukan hanya mengenai otak, tetapi dapat mengenai kulit kepala, tengkorak, jaringan otak atau gabungan dari masing-masing bagian tersebut. Data yang tersedia menunjukkan bahwa hampir 60% dari cedera kepala adalah karena cedera lalu lintas jalan di seluruh dunia; sekitar 20-30% adalah karena jatuh; 10% karena kekerasan, dan 10% lainnya. Tujuan. Mengetahui karakteristik cedera kepala di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan tahun 2016-2017. Metode. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan desain penelitian retrospektif. Pengambilan sampel menggunakan teknik Total Sampling. Hasil. Berdasarkan penelitian terhadap 258 subjek penelitian, didapatkan hasil penderita cedera kepala 76,7% adalah laki-laki, 28,3% berusia 17-25 tahun, 35,3% berstatus sebagai pelajar/mahasiswa, 83,7% penyebabnya karena kecelakaan lalu lintas, 54,4% menderita intracranial injury, 78,7% datang dengan Glasgow Coma Scale (GCS) ringan (13-15), 10 hari median lama rawat inap dengan GCS ringan, 9 hari dengan GCS sedang, 4 hari dengan GCS berat, dan 60,4% pulang dengan keadaan sembuh. Kesimpulan. Cedera kepala paling banyak diderita oleh laki-laki, berusia 17-25 tahun, berstatus pelajar/mahasiswa, disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, menderita intracranial injury, datang dengan GCS ringan, dirawat selama 10 hari, dan pulang dengan keadaan sembuh.
ABSTRACT
Background. Head injuries are common emergencies around the world. Head injury is a damage
to the head, not congenital or degenerative, but caused by physical attacks or impacts from outside the body. Head injury usually refers to a traumatic brain injury (TBI), but head injury is not only about the brain, but it can affect the scalp, skull, brain tissue or a combination of each of these parts. Available data indicate that nearly 60% of head injuries are due to road traffic injuries worldwide; about 20-30% is due to fall; 10% due to violence, and another 10%.
Objective. To know the characteristic of head injury at Haji Adam Malik General Hospital Medan
in 2016-2017. Method. This research is retrospective descriptive design. Sampling using Total Sampling technique. Results. Based on the research on 258 subjects, 76.7% of the results were 76.7% male, 28.3% were 17-25 years old, 35.3% were students, 83.7% were caused by traffic accidents , 54.4% suffered from intracranial injury, 78.7% came with mild Glasgow Coma Scale / GCS (13-15), 10 days median duration of hospitalization with mild GCS, 9 days with moderate GCS, 4 days with severe GCS, and 60.4% returning home recovered. Conclusion. The most common head injury to males, aged 17-25 years old, is a student, caused by a traffic accident, suffering from intracranial injury, coming with mild GCS, being treated for 10 days, and returning home recovered.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Cedera kepala adalah masalah kegawatdaruratan di seluruh dunia. Namun, gejala yang dialami oleh mereka yang menderita cedera kepala sering tidak terlihat, seperti gangguan memori atau kognisi, sehingga disebut sebagai “silent epidemic” (Hyder et al., 2007). Menurut Brain Injury Assosiation of America, cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan atau benturan fisik dari luar (Zamzami et al., 2010).Dari semua jenis cedera, cedera kepala adalah yang paling mungkin mengakibatkan kematian atau cacat (Hyder et al., 2007).
Data yang tersedia menunjukkan bahwa hampir 60% dari cedera kepala adalah karena cedera lalu lintas; sekitar 20-30% karena jatuh; 10% karena kekerasan, dan 10% karena gabungan dari tempat kerja dan olahraga terkait cedera (Hyder et al., 2007).Pria memiliki risiko lebih tinggi mengalami cedera kepala daripada wanita (Li et al., 2016). Insidensi cedera kepala jika dilihat dari gawat darurat, rawat inap, dan kematian terus meningkat dari tahun 2001 ke 2010. Misalnya, dari tahun 2001 sampai 2005, tingkat cedera kepala mengalami peningkatan 521-616 per 100.000 penduduk dan pada tahun 2010 peningkatan ke 824 per 100.000 penduduk (Center of Disease Control and Prevention (CDC, 2014)).
Setiap tahun, setidaknya 1,7 juta cedera kepala terjadi di Amerika Serikat (di semua kelompok umur), dan penyebab sekitar sepertiga (30,5%) dari semua kematian adalah karena cedera. Remaja yang lebih tua (usia 15 sampai 19 tahun), orang dewasa yang lebih tua (usia 65 tahun dan lebih tua), dan laki-laki di semua kelompok umur yang paling mungkin untuk mengalami cedera kepala (ASHA, 2017). Di Eropa, secara keseluruhan tingkat kejadian sebanyak 262 per 100.000
2
untuk kasus cedera (Peeters et al., 2015).
Data epidemiologi cedera kepala di Indonesia belum tersedia secara nasional. Namun ada beberapa data epidemiologi di wilayah Indonesia yang bisa didapatkan, antara lain dari bagian saraf Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Cipto Mangunkusumo pada tahun 2005 didapatkan kasus cedera otak mencapai 434 pasien cedera otak ringan, 315 pasien cedera otak sedang, kasus dengan mortalitas sebanyak 23 kasus. Sedangkan data epidemiologi di Medan, diperoleh dari RS Pirngadi Medan pada tahun 2002-2003 sebanyak 1095 kasus cedera kepala dan 92 kasus kematian akibat cedera kepala (Zamzami et al., 2010). Di RS Haji Medan pada tahun 2007 sebanyak 102 kasus cedera kepala. Di RSUP H.Adam Malik berjumlah 977 kasus cedera kepala yang dirawat inap dan 605 kasus cedera kepala yang dirawat jalan pada tahun 2015.
Data-data mengenai kasus cedera kepala di Indonesia kurang lengkap khususnya data pada setiap daerah di Indonesia. Maka, dengan itu penulis memilih Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan yang merupakan rumah sakit tipe A dan sebagai pusat rujukan di Sumatera Utara dan sekitarnya.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Bagaimana karakteristik cedera kepala di Rumah Sakit Umum Pusat Haji
Adam Malik Medan Tahun 2016 sampai 2017?
1.3 TUJUAN PENELITIAN
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui karakteristik cedera kepala di Rumah Sakit Umum Pusat
Haji Adam Malik Medan Tahun 2016 sampai 2017.
1.3.2 Tujuan Khusus
2. Mengetahui proporsi penderita cedera kepala berdasarkan jenis kelamin, umur, pekerjaan.
3. Mengetahui proporsi penderita cedera kepala berdasarkan penyebab. 4. Mengetahui proporsi penderita cedera kepala berdasarkan jenisnya. 5. Mengetahui proporsi penderita cedera kepala berdasarkan tingkat
keparahan cedera kepala.
6. Mengetahui proporsi penderita cedera kepala berdasarkan lamanya dirawat inap.
7. Mengetahui proporsi penderita cedera kepala berdasarkan keadaan sewaktu pulang.
1.4 MANFAAT PENELITIAN
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan dan masukan untuk penelitian lebih lanjut yang berhubungan dengan cedera kepala. 2. Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman dan
pengetahuan dalam melakukan penelitian dan pemahaman tentang cedera kepala.
3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang benar tentang karakteristik cedera kepala di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2016 sampai 2017.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI CEDERA KEPALA
Cedera kepala biasanya mengacu pada cedera otak traumatis (Traumatic Brain Injury/TBI), lebih tepatnya mengarah kepada yang lebih luas karena dapat melibatkan kerusakan pada struktur selain otak, yaitu seperti kulit kepala dan tengkorak (Pushkarna et al., 2010). CDC mendefinisikan TBI sebagai gangguan pada fungsi normal otak yang bisa disebabkan oleh benturan, pukulan, atau sentakan ke kepala atau cedera kepala yang tembus (Frieden et al., 2015).
2.2 ANATOMI KEPALA
2.2.1 Kulit Kepala
Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut sebagai SCALP yaitu (Faiz et al., 2011):
a. Skin atau kulit
b. Connective Tissue atau jaringan penyambung c. Aponeurosis atau galea aponeurotika
d. Loose areolar tissue atau jaringan penunjang longgar e. Perikranium
2.2.2 Tengkorak
Tengkorak adalah tulang kerangka dari kepala yang disusun menjadi dua bagian yaitu kranium (kalvaria) yang terdiri atas delapan tulang dan kerangka wajah yang terdiri atas empat belas tulang. Rongga tengkorak mempunyai permukaan atas yang dikenal sebagai kubah tengkorak, licin pada permukaan luar dan pada permukaan dalam ditandai dengan gili-gili dan lekukan supaya dapat
sesuai dengan otak dan pembuluh darah. Permukaan bawah dari rongga dikenal sebagai dasar tengkorak atau basis kranii. Dasar tengkorak ditembusi oleh banyak lubang supaya dapat dilalui oleh saraf dan pembuluh darah (Pearce, 2008).
Gambar 2.1 Tengkorak (Netter, 2011). 2.2.3 Meninges
Otak dan sumsum tulang belakang diselimuti meninges yang melindungi struktur saraf yang halus, membawa pembuluh darah, dan sekresi cairan, yaitu cairan serebrospinal yang akan melindungi dari benturan atau goncangan (Pearce, 2008).Meninges terdiri atas dura mater, araknoidea mater, dan pia mater.
Dura mater : berbentuk padat dan keras, terdiri dari dua lapisan. Lapisan luar yang melapisi tengkorak, dan lapisan dalam yang bersatu dengan lapisan luar, kecuali pada bagian tertentu, di mana sinus-venus terbentuk, dan di mana dura mater membentuk bagian-bagian berikut: Falx serebri yang terletak di antara kedua hemisfer otak. Tepi atas falx serebri membentuk sinus longitudinalis inferior atau sinus sagitalis inferior yang menyalurkan darah keluar falx serebri. Tentorium Serebeli memisahkan serebelum dari serebrum (Pearce, 2008).
6
Araknoidea mater : di sebelah dalam dura mater. Membentuk jembatan di atas sulki dan fisura otak. Rongga subaraknoidea berisi liquor serebrospinalis.
Pia mater : mengikuti kontur otak, mengisi sulki (Faiz et al., 2011).
Gambar 2.2 Lapisan meninges (Netter, 2011). 2.2.4 Otak
Otak merupakan organ tubuh yang sangat penting karena merupakan pusat kendali dari semua alat tubuh, bagian dari saraf sentral yang terletak di dalam rongga tengkorak (kranium) yang dibungkus oleh selaput otak yang kuat. Otak terdiri dari otak besar (cerebrum), otak kecil (cerebellum), dan batang otak (Trunkus serebri) (Pearce, 2008). Besar otak orang dewasa kira-kira 1300 gram, 7/8 bagian berat terdiri dari otak besar (Irianto, 2008).
1. Otak besar (cerebrum)
Otak besar merupakan bagian yang terluas dan terbesar dari otak, berbentuk telur mengisi penuh bagian depan atas rongga tengkorak. Fungsi otak besar yaitu sebagai pusat berpikir (kepandaian), kecerdasan dan kehendak. Selain itu otak besar juga mengendalikan semua kegiatan yang disadari seperti bergerak, mendengar, melihat, berbicara, berpikir dan lain sebagainya (Irianto, 2008).
2. Otak kecil (cerebellum)
Otak kecil terletak dibawah otak besar. Terdiri dari dua belahan yang dihubungkan oleh jembatan varol, yang menyampaikan rangsangan pada kedua belahan dan menyampaikan rangsangan dari bagian lain. Fungsi otak kecil adalah untuk mengatur keseimbangan tubuh serta mengkoordinasikan kerja otot ketika bergerak (Irianto, 2008). Batang Otak (Trunkus serebri) (Syaifuddin, 1997).
Batang otak terdiri dari :
Diensefalon
Bagian batang otak paling atas terdapat diantara serebellum dengan mensepalon. Diensefalon ini berfungsi sebagai vaso konstruksi (memperkecil pembuluh darah), respiratori (membantu proses pernafasan), mengontrol kegiatan refleks, dan membantu pekerjaan jantung.
Mensefalon
Mensefalon ini berfungsi untuk sebagai pusat pergerakan mata, mengangkat kelopak mata, dan memutar mata.
Pons varolli
Merupakan bagian tengah batang otak dan karena itu memiliki jalur lintas naik dan turun seperti otak tengah. Selain itu terdapat banyak serabut yang berjalan menyilang menghubungkan kedua lobus cerebellum dan menghubungkan cerebellum dengan korteks serebri (Pearce, 2008).
Medula oblongata
Merupakan bagian dari batang otak yang paling bawah yang menghubungkan pons varolli dengan medulla spinalis. Medulla oblongata memiliki fungsi yang sama dengan diensefalon (Syaifuddin, 1997).
8
2.2.5 Cairan Serebrospinal
Cairan serebrospinal (CSS) dihasilkan oleh pleksus koroideus dengan kecepatan produksi sebanyak 20 ml/jam. CSS mengalir dari ventrikel lateral melalui foramen monro menuju ventrikel III kemudian melalui aquaductus sylvii menuju ventrikel IV. Selanjutnya CSS keluar dari sistem ventrikel dan masuk ke dalam ruang subaraknoid yang berada di seluruh permukaan otak dan medula spinalis. CSS akan direabsorbsi ke dalam sirkulasi vena melalui vili araknoid.
2.3 PENYEBAB CEDERA KEPALA
Penyebab paling umum cedera kepala adalah sebagai berikut:
Jatuh – 35,2%
Cedera akibat kendaraan bermotor – 17,3%
Tidak disengaja terbentur sesuatu – 16,5%
Kekerasan - 10%
Lainnya - 21%
Jatuh adalah penyebab paling umum cedera kepala, terutama terjadi pada anak-anak yang sangat muda dan kelompok usia dewasa yang lebih tua. Jatuh adalah penyebab utama kedua kematian pada cedera kepala yang paling sering terjadi pada orang berusia di atas 65 tahun (Faul et al., 2010). Usia menentukan baik buruknya prognosis, pada jenis cedera kepala manapun, dibandingkan karena penyebab cedera tertentu (BMJ, 2008).
Cedera yang berkaitan dengan kendaraan bermotor adalah penyebab utama cedera kepala kedua, dan merupakan penyebab utama kematian terkait cedera kepala. Cedera akibat kendaraan bermotor meliputi kendaraan bermotor, sepeda motor, dan sepeda, serta pejalan kaki yang ditabrak kendaraan. Kematian paling banyak terjadi pada orang berusia 20 sampai 24 tahun (Faul et al., 2010).
Karena tidak disengaja oleh atau terhadap suatu benda adalah penyebab utama cedera kepala ketiga, namun lebih umum menyebabkan cedera kepala ringan sampai sedang, dan angka kematian terkait adalah yang terendah dari penyebab
umum cedera kepala. Kelompok ini mencakup cedera yang disebabkan oleh tidak disengaja atau dipukul oleh benda atau manusia, binatang, atau benda mati selain kendaraan, dan karena itu mencakup luka-luka karena olahraga kontak atau kegiatan rekreasi berisiko tinggi (Faul et al., 2010).
Penyerangan saat ini merupakan penyebab utama cedera kepala keempat dan penyebab utama kematian terkait cedera kepala ketiga, dengan angka kematian tertinggi pada kelompok usia 20 sampai 35 tahun. Senjata api adalah penyebab kematian yang paling umum karena serangan (Faul et al., 2010).
2.4 PATOFISIOLOGI CEDERA KEPALA
Cedera kepala dapat dibagi menjadi cedera primer dan cedera sekunder. Cedera primer diinduksi oleh gaya mekanik dan terjadi pada saat cedera. Cedera sekunder tidak diinduksi secara mekanis. Mungkin tertunda dari saat cedera, dan mungkin memperberat cedera di otak yang sudah terkena cedera mekanis (Silver et al., 2005).
2.4.1. Cedera Primer
Dua mekanisme utama yang menyebabkan cedera primer adalah kontak (misalnya, benda yang menabrak kepala atau otak yang menabrak bagian dalam tengkorak) dan percepatan pelambatan. Cedera primer karena kontak dapat menyebabkan luka pada kulit kepala, patah tulang tengkorak, dan memar permukaan. Cedera primer akibat percepatan-perlambatan akibat gerakan kepala yang tidak terbatas dan menyebabkan ketegangan, pergeseran, penarikan, dan penekanan. Kekuatan ini dapat menyebabkan perdarahan intrakranial, cedera vaskular difus, dan cedera pada saraf kranial dan batang hipofisis (Silver et al., 2005).
Kontusi adalah daerah yang berbeda dari jaringan otak yang membengkak. Biasanya ditemukan di lobus frontal, bagian inferior lobus frontalis, korteks atas dan di bawah operkulum pada sylvian fissures, dan bagian lateral dan inferior lobus temporal.
10
Perdarahan intrakranial adalah penyebab paling umum kematian dan kemunduran klinis setelah cedera kepala. Hematoma dikategorikan sebagai berikut (Silver et al., 2005):
Perdarahan epidural - Biasanya ini disebabkan oleh fraktur tulang temporal dan ruptur arteri meningeal tengah. Pada perdarahan epidural, darah bergumpal mengumpul di antara tulang dan dura. Karena sumber perdarahannya bersifat arterial, perdarahan jenis ini bisa berkembang dengan cepat dan menimbulkan tekanan terhadap jaringan otak.
Perdarahan subdural - Perdarahan semacam itu biasanya disebabkan oleh pecahnya bridging veins di ruang subdural. Dapat berkembang cukup besar sebagai lesi massa, dan berhubungan dengan morbiditas dan tingkat kematian yang tinggi.
Perdarahan subaraknoid - Ini akibat kerusakan pembuluh darah di batang fossa posterior.
Cedera aksonal difusi (Diffuse Axonal Injury/DAI) adalah salah satu patologis cedera kepala yang paling umum dan penting. Ini merupakan kerusakan mikroskopis, dan seringkali tidak terlihat pada pemeriksaan pencitraan (imaging). Kekuatan mekanik utama yang menyebabkan DAI adalah percepatan rotasi otak, sehingga pergerakan kepala tidak terbatas. Percepatan rotasi menghasilkan gaya geser dan tarik, dan akson dapat ditarik terpisah pada tingkat mikroskopis. Evaluasi mikroskopik pada jaringan otak sering menunjukkan akson yang bengkak dan terputus. Peregangan akson yang cepat dianggap merusak sitoskeleton aksonal dan oleh karena itu, mengganggu fungsi neuron normal (Smith, Meaney and Shull, 2003).
2.4.2 Cedera Sekunder
Cedera sekunder dapat terjadi berjam-jam atau bahkan berhari-hari setelah kejadian cedera yang mendahuluinya. Cedera bisa terjadi akibat penurunan lokal aliran darah serebral (Cerebral Blood Flow/CBF) setelah cedera kepala.
Penurunan CBF adalah hasil akibat edema lokal, perdarahan, atau peningkatan tekanan intrakranial (Intracranial Pressure/ICP). Sebagai hasil dari perfusi yang tidak memadai, pompa ion seluler mungkin gagal, menyebabkan kaskade melibatkan kalsium intraseluler dan natrium. Kelebihan kalsium dan natrium yang dihasilkan dapat menyebabkan kerusakan sel. Pelepasan asam amino yang terangsang berlebihan, seperti glutamat dan aspartat, memperburuk kegagalan pompa ion. Saat kaskade berlanjut, sel mati, menyebabkan pembentukan radikal bebas, proteolisis, dan peroksidasi lipid. Faktor-faktor ini pada akhirnya dapat menyebabkan kematian neuron.
2.5 KLASIFIKASI CEDERA KEPALA
Cedera kepala dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara, termasuk tipe, tingkat keparahan, lokasi, mekanisme cedera, dan respons fisiologis terhadap cedera. Heterogenitas ini dianggap sebagai salah satu kesulitan paling berarti untuk melakukan intervensi terapeutik yang efektif pada cedera kepala (Saatman et al., 2008). Upaya di AS dan Inggris untuk membuat ketentuan penamaan, definisi, dan klasifikasi sub-kelompok cedera kepala bertujuan untuk mengurangi variabilitas dalam pengkodean data dan meningkatkan kualitas pengumpulan data dalam penelitian cedera kepala (Berger et al., 2012).
2.5.1 Berdasarkan Tingkat Keparahan Klinis
Glasgow Coma Scale (GCS) telah digunakan secara umum untuk mengklasifikasikan cedera kepala berdasarkan tingkat keparahan dan prognosis:
Cedera kepala ringan : GCS 13-15 ; Kematian 0,1%
Cedera kepala sedang : GCS 9-12 ; Kematian 10%
Cedera kepala berat : GCS <9 ; Kematian 40%
Banyak penulis merekomendasikan bahwa pasien dengan GCS 13 diklasifikasikan sebagai sedang, bukan ringan atau kecil, karena tingginya kejadian cedera kepala dan hasil buruk pada pasien tersebut. Pedoman klinis di
12
Australia menyatakan bahwaterjadi peningkatan morbiditas pada pasien dengan GCS 13, dan membatasi klasifikasi cedera kepala ringan pada pasien dengan GCS 14 atau 15 (NSW Goverment, 2012).
2.5.2 Berdasarkan Etiologi
Cedera kepala tumpul: Terjadi ketika kekuatan mekanik eksternal menyebabkan percepatan atau perlambatan yang berdampak pada otak. Hal ini biasanya ditemukan dalam cedera akibat kendaraan bermotor, jatuh, luka bakar, atau alterasi fisik.
Cedera kepala penetrasi terjadi saat sebuah benda menembus tengkorak dan melukai dura mater, yang biasanya terlihat pada luka tembak dan tusukan.
Cedera kepala ledak umumnya terjadi setelah pengeboman dan peperangan, karena kombinasi antara gaya kontak dan inersia, tekanan berlebih, dan gelombang akustik.
2.5.3 Berdasarkan Keterlibatan
Cedera kepala dapat diklasifikasikan berdasarkan area yang terlibat, seperti dalam diffuse atau focal, walaupun 2 jenis ini sering disamakan.
Cedera kepala yang meliputi cedera aksonal difus (DAI), cedera otak hipoksia, edema serebral difus, atau cedera vaskular yang menyebar.
Cedera fokal meliputi lesi spesifik seperti kontusi, haematoma intrakranial, infark, axonal tears, evakuasi saraf kranial, dan fraktur tengkorak.
2.5.4 Berdasarkan Perkembangan Cedera
1) Cedera primer
Disebabkan oleh kekuatan mekanik langsung, apakah tumpul, tembus, atau meledak, dan termasuk berikut ini (Haydel, 2016):
Kontusi (memar / berdarah pada otak) yang dapat menyebabkan perdarahan (pembekuan darah di lapisan meningeal atau struktur kortikal / subkortikal akibat trauma),
Gegar otak (cedera kecepatan rendah yang mengakibatkan defisit fungsional tanpa cedera patologis)
Laserasi (di jaringan otak atau pembuluh darah otak),
Cedera aksonal difus (gaya geser traumatis yang menyebabkan robeknya serabut saraf di sepanjang gray matter).
Cedera primer dapat disebabkan oleh cedera tembus (open-head) atau cedera yang tidak menentu (close-head). Cedera tembus (open) melibatkan luka terbuka kepala karena benda asing (mis., peluru). Hal ini biasanya ditandai dengan kerusakan fokal yang terjadi di sepanjang rute yang telah dilalui benda tersebut di otak yang mencakup tengkorak retak/perforasi, robeknya meninges, dan kerusakan pada jaringan otak.
Cedera nonpenetrasi (closed-head) ditandai dengan kerusakan otak akibat dampak tidak langsung tanpa masuknya benda asing ke otak. Tengkorak itu mungkin tidak rusak, tapi tidak ada penetrasi meninges. Cedera yang tidak menentu terdiri dari dua jenis:
Cedera akselerasi-disebabkan oleh pergerakan otak di dalam kepala yang tidak terkendali (misalnya cedera pukulan). Jika kekuatan yang mempengaruhi kepala cukup kuat, hal itu dapat menyebabkan kontusi pada tempat benturan dan sisi berlawanan tengkorak, menyebabkan kontusi tambahan (cedera coup-contrecoup).
Cedera non-akselerasi disebabkan oleh cedera pada kepala yang tertahan dan, oleh karena itu, tidak ada akselerasi atau perlambatan otak yang terjadi di dalam tengkorak. Ini biasanya mengakibatkan deformasi (patah tulang) tengkorak, menyebabkan kerusakan lokal terpusat pada meninges dan otak.
14
2) Cedera sekunder
Mengacu pada konsekuensi patofisiologis yang berkembang dari cedera primer dan mencakup banyak kaskade neurobiologis kompleks