BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
5.1.3. Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan
Berdasarkan data rekam medis, penderita rinosinusitis pada tahun 2010 di RSUP H. Adam Malik Medan berusia antara umur 3 sampai 79 tahun. Berikut ini tabel distribusi sampel berdasarkan kelompok umur:
Tabel 5.1 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan umur di RSUP. H. Adam Malik pada Tahun 2010
No Umur Jumlah % Jumlah
1. 0-9 2 2.1 2. 10-19 10 10.4 3. 20-29 17 17.7 4. 30-39 16 16.7 5. 40-49 21 21.9 6. 50-59 19 19.8 7. 60-69 7 7.3 8. 70-79 4 4.2 Total 96 100
Kelompok usia responden tertinggi terdapat pada kelompok usia 40-49 tahun yaitu sebanyak 21 orang (21,9%) sedangkan kelompok usia terendah terdapat pada kelompok usia 0-9 tahun yaitu sebanyak 2 orang (2,1%).
5.1.4 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan jenis kelamin
Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan jenis kelamin pasien di RSUP. Haji Adam Malik Medan pada tahun 2010 dijelaskan pada tabel 5.2 berikut
Tabel 5.2 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan jenis kelamin di RSUP. H. Adam Malik pada Tahun 2010
No. Jenis Kelamin Jumlah % Jumlah
1. Laki-Laki 38 39.6 2. Perempuan 58 60.4
Berdasarkan tabel 5.2 didapatkan bahwa jumlah penderita rinosinusitis lebih banyak diderita oleh perempuan yaitu 58 orang (60,4%), sedangkan laki-laki yaitu sebanyak 38 orang (39,6%)
5.1.5 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan pekerjaan
Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan pekerjaan di RSUP. Haji Adam Malik Medan tahun 2010 dijelaskan pada tabel 5.3 berikut:
Tabel 5.3 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan pekerjaan di RSUP. H. Adam Malik pada Tahun 2010
No. Pekerjaan Jumlah % Jumlah
1. Ibu rumah tangga 21 21.9
2. Mahasiswa 6 6.3 3. Nelayan 2 2.1 4. Pegawai negeri 15 15.6 5. Pegawai swasta 8 8.3 6. Pelajar 13 13.5 7. Pensiunan 2 2.1 8. Petani 5 5.2 9. Tidak bekerja 3 3.1 10. Tukang 1 1.0 11. Wiraswasta 20 20.8 Total 96 100.0
Berdasarkan Tabel 5.3 diatas dijelaskan bahwa jumlah sampel dengan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga merupakan yang tertinggi dengan sampel sebanyak 21 orang (21,9%), sedangkan pekerjaan sebagai tukang merupakan sampel yang terendah yaitu sebanyak 1 orang (1.0%).
5.1.6 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan tingkat pendidikan
Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan tingkat pendidikan di RSUP. Haji Adam Malik Medan pada tahun 2010 dijelaskan pada tabel 5.4 berikut:
Tabel 5.4 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan tingkat pendidikan di RSUP. H. Adam Malik pada Tahun 2010
No. Tingkat pendidikan Jumlah % Jumlah
1. belum tamat SD 2 2.1 2. SD 16 16.7 3. SMP 13 13.5 4. SMA 31 32.3 5. Sarjana 34 35.4 Total 96 100.0
Berdasarkan Tabel 5.4 diatas dijelaskan bahwa pasien dengan tingkat pendidikan Sarjana lebih banyak menderita rinosinusitis yaitu sebanyak 34 orang (35,4%). Sedangkan pasien yang belum tamat SD merupakan yang paling sedikit menderita rinosinusitis yaitu 2 orang (2,1%).
5.1.7 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan keluhan utama
Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan keluhan utama di RSUP. Haji Adam Malik Medan tahun 2010 dijelaskan pada tabel 5.5 berikut:
Tabel 5.5 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan keluhan utama di RSUP. H. Adam Malik pada Tahun 2010
No Keluhan Utama Jumlah % Jumlah
1. Hidung tersumbat 65 67.7 2. Nyeri di hidung 6 6.3 3. Nyeri di pipi 2 2.1 4. Hidung berair 8 8.3 5. Sakit kepala 5 5.2 6. Mata bengkak 2 2.1 7. Hidung berbau 3 3.1 8. Hidung berdarah 3 3.1 9. Batuk 1 1.0 10. Sakit menelan 1 1.0 Total 96 100.0
Dijelaskan pada tabel 5.5 keluhan utama yang paling banyak diderita pada pasien rinosinusitis di RSUP. Haji Adam Malik medan adalah keluhan hidung tersumbat yaitu 65 orang (67,7%). Lalu didapatkan juga keluhan keluhan lain seperti keluhan hidung berair sebanyak 8 orang (8,3%), nyeri di hidung sebanyak 6 orang (6,3%), sakit kepala sebanyak 5 orang (5,2%), nyeri di pipi sebanyak 2 orang (2,1%), mata bengkak sebanyak 2 orang (2,1%), keluhan batuk sebanyak 1 orang (1%) dan sakit menelan sebanyak 1 orang (1%).
5.1.8 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan lokasi
Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan lokasi rinosinusitis di RSUP. Haji Adam Malik Medan tahun 2010 dijelaskan pada tabel 5.6 berikut:
Tabel 5.6 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan lokasi rinosinusitis di RSUP. H. Adam Malik pada Tahun 2010
No. Tipe Jumlah % Jumlah
1. Maksilaris 62 64.6 2. Etmoidalis 2 2.1 3. Sfenoidalis 1 1.0 4. Maksilaris, Etmoidalis 12 12.5 5. Maksilaris, Sfenoidalis 3 3.1 6. Maksilaris, Frontalis 2 2.1 7. Etmoidalis, Sfenoidalis 1 1.0 8. Maksilaris, Etmoidalis,Sfenoidalis 2 2.1 9. Etmoidalis, Sfenoidalis, Frontalis 2 2.1 10. Maksilaris, Sfenoidalis, Frontalis 1 1.0 11. Maksilaris, Etmoidalis, Frontalis 5 5,3 12. Maksilaris,
Etmoidalis,Sfenoidalis,Frontalis
3 3,1
Total 96 100.0
Pada tabel 5.6 dijelaskan bahwa yang menderita rinosinusitis maksilaris sebanyak 62 orang (64,6%) dan merupakan lokasi yang paling banyak terlibat sedangkan lokasi yang paling sedikit terlibat adalah rinosinusitis sfenoidalis yaitu 1 orang (1.0%). Pada beberapa pasien, infeksi pada sinus tidak hanya melibatkan 1 sinus saja tetapi bisa pada beberapa sinus. Pada penelitian ini didapatkan bahwa infeksi yang melibatkan dua atau lebih sinus terbanyak didapatkan pada lokasi maksilaris beserta etmoidalis sebanyak 12 orang (12.5%) sedangkan infeksi yang paling sedikit didapatkan pada lokasi etmoidalis beserta sfenoidalis dan lokasi sinus maksilaris, sfenoidalis beserta frontalis dengan masing-masing 1 orang (1.0%)
5.1.9 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan jumlah sinus yang terlibat
Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan jumlah sinus yang terlibat di RSUP. Haji Adam Malik Medan tahun 2010 dijelaskan pada tabel 5.7 berikut :
Tabel 5.7 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan jumlah sinus yang terlibat di RSUP. H. Adam Malik pada Tahun 2010
No Sinus yang terlibat Jumlah % Jumlah
1. Single rinosinusitis 65 67.7 2. Multisinusitis 28 29.2 3. Pansinusitis 3 3.1
Total 96 100.0
Pada tabel 5.7 diatas dapat dijelaskan bahwa berdasarkan jumlah sinus yang terlibat untuk single rinosinusitis merupakan yang paling banyak diderita oleh pasien-pasien yang datang ke RSUP Haji Adam Malik Medan yaitu sebanyak 65 orang (67,7%) lalu diikuti dengan Multisinusitis dengan 28 orang (29,2%) dan Pansinusitis yaitu 3 orang (3,1%).
5.1.10 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan lama penyakit
Distribusi penderita berdasarkan lama penyakit rinosinusitis di RSUP. Haji Adam Malik Medan tahun 2010 dijelaskan pada tabel 5.8 berikut :
Tabel 5.8 Distribusi penderita berdasarkan lama penyakit rinosinusitis di RSUP. H. Adam Malik pada Tahun 2010
No. Lama penyakit Jumlah % Jumlah
1. Akut 9 9.4
3. Kronis 75 78.1
Total 96 100.0
Penderita rinosinusitis kronis merupakan yang terbanyak yang diderita oleh pasien di RSUP. Haji Adam Malik pada tahun 2010 dengan pasien sebanyak 75 orang (78,1%) dan penderita rinosinusitis akut merupakan yang terendah yang diderita oleh pasien yaitu sebanyak 9 orang (9,4%).
5.1.11 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan komplikasi
Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan komplikasi di RSUP. Haji Adam Malik Medan tahun 2010 dijelaskan pada tabel 5.9 berikut :
Tabel 5.9 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan komplikasi di RSUP. H. Adam Malik pada Tahun 2010
No. Komplikasi Jumlah % Jumlah
1. Tidak ada 95 99.0
2. Mukokel 1 1.0
Total 96 100.0
Berdasarkan tabel 5.9 dilihat bahwa komplikasi yang diderita pasien yaitu Mukokel pada 1 orang pasien (1,0%). Sedangkan sekitar 95 orang pasien (99%) tidak menunjukkan adanya komplikasi
5.2 Pembahasan
5.2.1 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan umur
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di RSUP. Haji Adam Malik pada tahun 2010 didapatkan bahwa kelompok umur yang paling banyak menderita rinosinusitis berada pada kelompok 40-49 tahun yaitu sebanyak 21 orang (21,9%). Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Multazar (2008) di RSUP. Haji Adam Malik Medan bahwa proporsi tertinggi penderita rinosinusitis adalah kelompok usia 20-50 tahun. European Position Paper on Rinosinusitis and
Nasal Polyps pada tahun 2007 juga menyatakan bahwa usia yang paling banyak menderita rinosinusitis adalah penderita dengan usia <50 tahun.
Varonen (2003) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pasien-pasien rinosinusitis yang menjadi subjek penelitiannya berasal dari umur 18-75 tahun, dengan umur rata-rata yaitu 39,7 tahun.
Penelitian yang dilakukan oleh Acala (2010) di Poliklinik RSUP. Dr. Sardjito bahwa pasien rinosinusitis paling banyak pada umur dekade ke 3 yaitu 30%.
Penelitian yang dilakukan Frisdiana (2010) di RS. Santa Elisabeth Medan pada tahun 2006-2010 menyatakan bahwa kelompok usia yang terbanyak menderita rinosinusitis adalah 23-31 tahun yaitu sebanyak 22 orang (21,6%).
Dari data diatas didapati bahwa penderita rinosinusitis lebih banyak diderita oleh kelompok usia dewasa. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh kelompok usia dewasa merupakan kelompok usia yang aktif dan sering terpapar oleh polutan atau zat-zat iritan yang mungkin dapat menyebabkan atau memperberat terjadinya rinosinusitis, sehingga lebih banyak penderita dengan kelompok usia dewasa yang datang berobat ke rumah sakit.
5.2.2 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan jenis kelamin
Berdasarkan penelitian ini, ditemukan bahwa jumlah sampel berjenis kelamin perempuan lebih banyak yaitu sekitar 58 orang (60,4%) dibandingkan laki-laki yaitu 38 orang (39,6%) . Hasil tersebut sejalan dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya, bahwa penderita rinosinusitis berdasarkan jenis kelamin memang lebih banyak diderita oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Berdasarkan penelitian Daudia (2008) dijelaskan bahwa Insidensi kunjungan ke dokter-dokter untuk keluhan rinosinusitis akut di Belanda pada tahun 2000 adalah sekitar 20 per 1000 laki-laki dan 33,8 per 1000 wanita. Penelitian di Kanada juga menyebutkan prevalensi rata-rata rinosinusitis kronis lebih banyak diderita oleh wanita, dengan rasio perbandingan 6:4. US Government Statistics pada tahun
1994 juga mengatakan bahwa rinosinusitis kronis lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria.
Penelitian yang dilakukan oleh Lindbaek (1997) di Norwegia menyatakan bahwa dari 1.053 subjek yang didiagnosa menderita rinosinusitis, didapatkan bahwa perempuan sebanyak 69% sedangkan laki-laki sebanyak 31%.
Varonen (2003) pada penelitiannya menyatakan bahwa dari total 150 pasien rinosinusitis yang dimasukkan kedalam penelitiannya, terdapat 105 perempuan (70%) dan 45 laki-laki (30%).
Chen (2009) dalam penelitiannya di Kanada menyatakan bahwa dari 73.364 subjek rinosinusitis yang diteliti, didapatkan prevalensi rinosinusitis tertinggi pada wanita yaitu sebesar 5,7% sedangkan laki-laki yaitu 3,4%.
Manor (2010) dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa dari 137 pasien rinosinusitis, terdapat bahwa perempuan sebanyak 83 orang sedangkan laki-laki 54 orang.
Penelitian secara case series oleh Multazar (2008) juga menyatakan bahwa
proporsi penderita rinosinusitis lebih banyak dijumpai pada jenis kelamin perempuan, yaitu sebanyak 57,09% sedangkan laki-laki sebanyak 42,91% .
Banyaknya penderita rinosinusitis perempuan pada penelitian ini kemungkinan karena perempuan lebih peduli dengan keluhan sakit sehingga perempuan yang lebih banyak dan lebih cepat berobat ke rumah sakit. Selain itu European Position Paper on Rinosinusitis and Nasal Polyps pada tahun 2007 menyatakan beberapa teori bahwa adanya efek hormonal dari estrogen, progesteron dan placental growth hormon pada mukosa nasal dan pembuluh darah. Philpott (2008) dalam penelitiannya menyatakan bahwa dari 25 orang pasien wanita yang menderita rhinitis, sebanyak 24 orang ditemukan adanya estrogen pada biopsi nasal pasien tersebut.
Pada penelitian ini ditemukan bahwa jumlah sampel dengan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga merupakan yang terbanyak yang dijumpai yaitu 21 orang (21,9%).
Hal tersebut mungkin disebabkan karena Ibu Rumah Tangga sering dihadapkan kepada pekerjaan-pekerjaan rumah tangga seperti sering terpapar asap atau debu yang dapat memacu terjadinya aeroalergen yang akhirnya dapat meningkatkan kejadian rinosinusitis. Ibu rumah tangga juga mempunyai lebih banyak waktu yang fleksibel sehingga frekwensi ibu rumah tangga untuk berobat ke dokter lebih sering. Selain itu adanya penelitian-penelitian lain yang menyatakan bahwa rinosinusitis memang lebih banyak diderita oleh perempuan dibandingkan laki-laki.
Pada penelitian saya ditemukan bahwa rinosinusitis juga banyak diderita oleh pekerja baik sebagai pegawai negeri, pegawai swasta, wiraswasta, petani, nelayan dan tukang yaitu sebanyak 51 orang. Hal tersebut sejalan dengan penelitian case series oleh Pujiwati (2006) terhadap 80 orang pekerja, dimana yang menderita rinosinusitis akibat kerja sebanyak 35 orang (43,8%).
Tingginya kejadian rinosinusitis pada pekerja mungkin dapat diakibatkan oleh terpaparnya polutan atau zat-zat iritan yang berpotensi untuk terjadinya rinosinusitis. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Mangunkusumo (2007), bahwa apabila terpapar terus menerus oleh lingkungan yang berpolusi, udara dingin dan kering serta kebiasaan merokok yang lama, hal tersebut akan menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia.
5.2.4 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan tingkat pendidikan
Pada penelitian ini, pasien dengan tingkat pendidikan sarjana lebih banyak menderita rinosinusitis yaitu sebanyak 34 orang (35,4%). Sedangkan pasien yang belum tamat SD merupakan yang paling sedikit menderita rinosinusitis yaitu 2 orang (2,1%). Hal tersebut tidak sejalan dengan penelitian Pujiwati (2006), bahwa terdapat sekitar 82,5% penderita rinosinusitis terdapat pada pasien dengan pendidikan sedang (SMA), pendidikan rendah (SD dan SMP) sekitar 13,8% dan pendidikan tinggi (Sarjana) sekitar 3,8%.
Hal tersebut mungkin dapat terjadi dikarenakan pasien dengan tingkat pendidikan SMA atau Sarjana biasanya lebih peduli pada kesehatannya dan juga
langsung memeriksakan diri ke dokter apabila terdapat keluhan pada kesehatannya. Sehingga pada penelitian ini, lebih banyak pasien rinosinusitis dengan tingkat pendidikan Sarjana yang tercatat di rekam medis RSUP. Haji. Adam Malik medan pada tahun 2010.
5.2.5 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan keluhan utama
Keluhan utama yang paling banyak didapatkan pada penelitian ini yaitu keluhan hidung tersumbat sebanyak 65 orang (67,7%). Hal tersebut sejalan dengan penelitian case series Kurnia (2002) terhadap 40 penderita rinosinusitis di RSUP H. Adam Malik, Medan bahwa terdapat keluhan utama rinosinusitis yang terbanyak adalah hidung tersumbat dengan 38 penderita (95%). Penelitian case
series yang dilakukan oleh Multazar (2008) juga menunjukkan bahwa proporsi keluhan utama terbanyak pada penderita rinosinusitis adalah hidung tersumbat sebesar 75,3%.
Penelitian case series oleh Frisdiana (2010) di RS. Santa Elisabeth Medan pada tahun 2006-2010 juga didapati bahwa keluhan utama yang paling banyak ditemukan adalah hidung tersumbat yaitu 63,7%.
Hidung tersumbat terjadi karena adanya proses inflamasi, baik karena infeksi sebelum terjadi rinosinusitis ataupun sebagai infeksi sekunder dari rinosinusitis. Bila terinfeksi organ-organ yang membentuk KOM mengalami oedem, sehingga mukosa yang berhadapan akan saling bertemu. Hal ini menyebabkan silia tidak dapat bergerak dan juga menyebabkan tersumbatnya ostium sehingga terjadi penghambatan drainase sinus. Bila tidak sembuh maka sekret yang tertumpuk dalam sinus ini akan menjadi media yang baik untuk tumbuh dan multiplikasi bakteri dan dapat menyebabkan infeksi sekunder. (Casiano,1999; Mangunkusumo E, 2007; Meltzer, 2011)
Penyebab lain hidung tersumbat bisa dikarenakan oleh deviasi septum, hipertrofi konka, polip kavum nasi, tumor hidung. (Ballenger, 1994)
5.2.6 Distribusi proporsi pasien rinosinusitis berdasarkan lokasi
Pada penelitian ini didapatkan bahwa yang menderita rinosinusitis maksilaris merupakan yang terbanyak yang diderita yaitu sebanyak 62 orang
(64,6%). Hal tersebut sejalan dengan penelitian Sogebi (2008) yang menyatakan bahwa sinus maksilaris merupakan lokasi sinus yang paling banyak mendapatkan kelainan yaitu sebanyak 70,51%, sedangkan sinus sfenoidalis merupakan lokasi sinus yang paling jarang terdapat kelainan yaitu 0%.
Penelitian case series oleh Frisdiana (2010) di RS. Santa Elisabeth Medan pada tahun 2006-2010 bahwa rinosinusitis maksilaris merupakan yang paling banyak diderita oleh pasien yaitu sebesar 94,1%. Mangunkusumo (2007) menyatakan bahwa sinus yang paling sering terkena rinosinusitis adalah sinus etmoid dan maksila.
Sinus maksila merupakan sinus yang paling sering terinfeksi, oleh karena merupakan sinus paranasal yang terbesar dan letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar sinus. Selain itu dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis maksila (Ballenger, 1997)
5.2.7 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan jumlah sinus yang terlibat
Single rinosinusitis merupakan yang paling banyak diderita oleh pasien- pasien yang datang ke RSUP Haji Adam Malik Medan yaitu sebanyak 64 orang (66,7%) lalu diikuti dengan Multisinusitis dengan 28 orang (29,2%) dan Pansinusitis yaitu 4 orang (4,2%).
Hal tersebut sejalan dengan penelitian oleh Ogunleye (1999) yang menyatakan di Ibadan, Nigeria, berdasarkan studi retrospektif pada 90 pasien, didapatkan bahwa yang menderita single rinosinusitis yaitu sekitar 56%, multisinusitis 16% dan pansinusitis yaitu 29%.
Sogebi (2008) juga menyatakan bahwa sebanyak 73,08% subjek pada penelitiannya menderita single rinosinusitis, 21,79% multisinusitis dan 5,13% pansinusitis.
Penelitian yang dilakukan Multazar (2008), juga menyatakan bahwa yang
paling banyak terlibat adalah single rinosinusitis sebesar 87,8% dan paling rendah adalah pansinusitis sebesar 0,4%.
Pada penelitian ini yang paling banyak ditemukan adalah single maksilaris yaitu sebanyak 62 orang (64,6%). Hal tersebut dikarenakan rongga sinus maksilaris
merupakan yang terbesar dan letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar sinus. Sehingga hal tersebut menyebabkan sinus maksilaris lebih berpotensi untuk terkena infeksi dibandingkan organ sinus yang lain.
5.2.8 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan lama penyakit
Penderita rinosinusitis kronis merupakan yang terbanyak yang diderita oleh pasien di RSUP. Haji Adam Malik pada tahun 2010 dengan pasien sebanyak 75 orang (78,1%) sedangkan penderita rinosinusitis akut diderita oleh pasien yaitu sebanyak 9 orang (9,4%). Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ogunleye (1999) dalam penelitiannya di Ibadan, Nigeria, bahwa terdapat sekitar 93% pasien rinosinusitis kronis sedangkan hanya 7% pasien rinosinusitis akut.
Namun hal tersebut tidak sejalan dengan penelitian yang diadakan di Jerman pada tahun 2001, bahwa angka kejadian rinosinusitis akut sebesar 6,3 juta orang sedangkan angka kejadian rinosinusitis kronis sebesar 2,6 juta orang.
Adanya perbedaan tersebut dapat terjadi dikarenakan gejala Rinosinusitis akut dianggap gejala yang biasa karena waktu pada saat muncul gejalanya hanya sebentar sehingga orang awam lebih banyak menanggap hal tersebut bukan merupakan suatu masalah yang berarti dan tidak datang berobat ke rumah sakit.
5.2.9 Distribusi penderita rinosinusitis berdasarkan komplikasi
Komplikasi yang diderita oleh pasien rinosinusitis di RSUP. Haji Adam Malik Medan pada tahun 2010 adalah Mukokel sebanyak 1 orang pasien (1,0%). Sedangkan sekitar 95 orang pasien (99 %) tidak menunjukkan adanya komplikasi. Penelitian Frisdiana (2010) , bahwa dari 102 penderita rinosinusitis kronik yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth dari tahun 2006-2010, semuanya tidak ada menunjukkan adanya komplikasi.