• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Distribusi Karakteristik Responden

4.2.12 Distribusi Responden berdasarkan Pengaruh Lingkungan Sosial

Pengaruh lingkungan sosial daerah asal yaitu, lingkungan tempat responden dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarganya dimana lingkungan tersebut berpengaruh terhadap responden.

Pada bagian tingkat pengaruh lingkungan sosial responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) tidak berpengaruh, (2) berpengaruh, dan (3) sangat berpengaruh. Adapun kategori tidak berpengaruh dengan skor delapan enam belas, berpengaruh dengan skor tujuh belas sampai dua puluh satu, dan terakhir kategori sangat berpengaruh berkisar dari skor dua puluh dua sampai skor tiga puluh satu.

Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan pengaruh lingkungan sosial daerah asal dapat dilihat pada Tabel 13 berikut ini.

Tabel 13. Distribusi responden berdasarkan pengaruh lingkungan sosial daerah asal

Pengaruh lingkungan sosial

daerah asal Jumlah Persentase

Tidak berpengaruh 38 38

Berpengaruh 32 32

Sangat berpengaruh 30 30

Jumlah 100 100

Skor minimum: 8 Skor maksimum: 31 Skor rata-rata: 18,56

Tabel 13 mengungkapkan bahwa 38% responden dalam penelitian ini tidak terpengaruh oleh lingkungan sosial daerah asal, baik tempat kehidupannya dibesarkan maupun tempat pergaulan sebelum menjadi WTS.

4.2.13 Distribusi responden berdasarkan jarak tempat bekerja

Jarak tempat bekerja yang dimaksud dalam penelitian ini ialah jarak tempat tinggal responden dengan tempat bekerja sebagai wanita tuna susila.

Pada bagian jarak tempat bekerja responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) dekat, (2) sedang, dan (3) jauh. Adapun kategori dekat berkisar dari seratus meter sampai satu kilo meter, kategori sedang berkisar dari satu setengah kilo meter sampai dua setengah kilometer, dan terakhir kategori jauh berkisar dari tiga kilometer sampai seratus kilometer.

Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan jarak tempat bekerja sebagai wanita tuna susila dapat dilihat pada Tabel 14 berikut ini.

Tabel 14 Distribusi responden berdasarkan jarak tempat bekerja Tempat bekerja Jumlah Persentase Tabel 14 mengungkapkan bahwa 35% responden dalam penelitian ini jarak dari tempat tinggal ke tempat bekerjanya yang termasuk kategori jauh, dengan jarak rata-rata yang ditempuh sekitar 7,4 kilometer. Hal ini menunjukan bahwa mereka benar-benar memerlukan pekerjaan ini.

4.2.14 Distribusi Responden berdasarkan Intensitas Interaksi dengan WTS lain

Intensitas interaksi responden dengan wanita tuna susila lain yang dimaksud dalam penelitian ini ialah frekuensi hubungan responden dengan wanita tuna susila lainnya dalam kurun waktu satu minggu.

Pada bagian intensitas interaksi responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) rendah, (2) sedang, dan (3) tinggi. Adapun kategori rendah berkisar dari dua kali sampai tiga kali, kategori sedang berkisar dari empat kali, dan kategori tinggi berkisar dari lima sampai enam kali dalam satu minggu

Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan intensitas interaksi responden dengan wanita tuna susila lain dapat dilihat pada Tabel 15 berikut ini.

Tabel 15. Distribusi responden berdasarkan intensitas interaksi dengan WTS lain

Tabel 15 mengungkapkan bahwa 41% responden dalam penelitian ini intensitas interaksi dengan WTS lain atau rekannya termasuk dalam kategori sedang, yaitu sekitar empat kali dalam satu minggu.

4.2.15 Distribusi Responden berdasarkan Orang Yang mengajari/

melatih tentang seksual

Yang mengajar atau melatih seksual yang dimaksud dalam penelitian ini ialah banyaknya responden menerima informasi dan cara-cara melakukan seksual dengan pelanggan sampai saat penelitian dilaksanakan.

Pada bagian yang mengajari atau melatih seksual responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) rendah, (2) sedang, dan (3) tinggi. Adapun kategori rendah berkisar dari lima sampai enam kali, kategori sedang berkisar dari tujuh kali sampai sepuluh kali, dan terakhir kategori tinggi berkisar dari sebelas kali sampai dengan dua puluh satu kali.

Hasil penelitian distribusi responden yang diajari atau dilatih cara melakukan hubungan seksual dapat dilihat pada Tabel 16 berikut ini.

Tabel 16. Distribusi responden berdasarkan yang mengajari atau melatih seksual

Yang mengajar atau melatih

seksual Jumlah Persentase

Rendah 34 34

Sedang 40 40

Tinggi 26 26

Jumlah 100 100

Minimum : 5 kali Maksimum : 21 kali Rata-rata : 9 kali

Tabel 16 mengungkapkan bahwa 40% responden dalam penelitian ini pernah diajari atau dilatih tentang pengetahuan dan informasi cara melakukan hubungan seksual, dalam kategori sedang, ialah bahwa selama menjadi WTS rata-rata diajari sebanyak sekitar 9 kali tentang bagaimana cara melakukan hubungan seksual.

4.2.16 Distribusi responden berdasarkan Intensitas hubungan dengan pelanggan

Intensitas hubungan dengan pelanggan yang dimaksud dalam penelitian ini ialah banyaknya hubungan yang telah dilakukan responden dengan pelanggan dalam kurun waktu satu minggu.

Pada bagian intensitas hubungan responden dengan pelanggan dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) rendah, (2) sedang, dan (3) tinggi. Adapun kategori rendah berkisar dari dua kali sampai tiga kali, kategori sedang berkisar dari empat sampai dengan lima kali, dan terakhir kategori tinggi berkisar dari enam kali sampai dengan sepuluh kali.

Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan intensitas hubungan dengan pelanggan dapat dilihat pada Tabel 17 berikut ini.

Tabel 17. Distribusi responden berdasarkan intensitas hubungan dengan pelanggan

Intensitas hubungan dengan

pelanggan (per minggu) Jumlah Persentase

Rendah 26 26

Sedang 36 36

Tinggi 38 38

Jumlah 100 100

Minimum : 2 kali Maksimum : 10 kali Rata-rata : 5 kali

Tabel 17 mengungkapkan bahwa 38% responden dalam penelitian ini intensitas hubungan dengan pelanggannya termasuk kategori tinggi, ialah 6 – 10 kali per minggu, atau setiap hari sekali.

4.2.17 Distribusi Responden berdasarkan Persepsi hedonisme

Persepsi hedonisme seks yang dimaksud dalam penelitian ini responden melakukan seks hanya untuk kesenangan.

Pada bagian persepsi hedonisme responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) rendah, (2) sedang, dan (3) tinggi. Adapun kategori rendah berkisar dari skor empat sampai skor lima, kategori sedang berkisar dari skor enam sampai

dengan sepuluh dan terakhir kategori tinggi berkisar dari skor sebelas sampai dengan skor dua puluh satu.

Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan persepsi hedonisme dapat dilihat pada Tabel 18 berikut ini.

Tabel 18. Distribusi responden berdasarkan persepsi hedonisme Persepsi hedonisme Jumlah Persentase

Rendah 59 59

Sedang 13 13

Tinggi 28 28

Jumlah 100 100

Skor minimum: 4 Skor maksimum: 21 Skor rata-rata: 7,8

Tabel 18 mengungkapkan bahwa 59% responden dalam penelitian ini memiliki persepsi hedonisme (seks untuk kesenangan) yang termasuk kategori rendah.

4.3 Pengetahuan Responden Tentang HIV/AIDS

Yang dimaksud pengetahuan wanita tuna susila adalah tingkat kemampuan kognitif responden tentang HIV/AIDS

Pengetahuan tentang HIV/AIDS dibagi menjadi 10 bidang yang harus dikuasai responden, agar mampu menghindari penyakit yang mematikan itu dengan baik. Ke sepuluh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS itu adalah:

1. Pengertian

2. Penyebab AIDS dan Infeksi Sekunder sebagai Akibat AIDS 3. Cara Penularan

4. Cara Pencegahan

5. Pengetahuan Kesehatan alat reproduksi 6. Bahaya HIV/AIDS bagi kesehatan manusia 7. Akibat HIV/AIDS

8. Hubungan Sosial Dengan Penderita AIDS 9. Dampak Sosial Ekonomi AIDS

10. Hubungan Narkoba dengan AIDS

Hasil penelitian hubungan karakteristik wanita tuna susila di Panti Rehabilitasi Sosial Wanita Jawa Barat tentang pengetahuan HIV/AIDS dapat dilihat pada Tabel 19 berikut ini.

Tabel : 19 Pengetahuan respondeng tentang HIV/AIDS

No Bidang Pengetahuan Skor Jenjang

1 Bahaya HIV bagi kesehatan 68,00 1

7 Hubungan sosial dengan penderita HIV/AIDS 49,30 7

8 Penyebab AIDS dan infeksi 45,40 8

9 Dampak sosial ekonomi AIDS 42,00 9

10 Hubungan narkoba dengan AIDS 38,00 10

Rata-rata 53,01

Tabel 19 memberikan gambaran, bahwa skor tertimbang dan jenjang dari ke sepuluh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS yang tergolong tinggi adalah pengetahuan mengenai bidang-bidang: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara penularan, 3) Cara Pencegahan, 4) Pengertian, 5) Pengetahuan Kespro, 6) Akibat HIV/AIDS, 7) Hubungan Sosial dengan penderita HIV/AIDS, 8) Penyebab AIDS dan Infeksi sekunder, 9) Dampak sosial Ekonomi AIDS, dan 10) Hubungan Narkoba dengan AIDS.

4.4. Hubungan Karakteristik Responden Dengan Pengetahuan tentang HIV/AIDS

Karakteristik terpilih yang dihubungkan dengan pengetahuan responden tentang HIV/AIDS adalah: 1) Umur, 2) Status perkawinan, 3) Pendidikan formal, 4) Tingkat Pendapatan, 5) Motivasi Instrinsik menjadi WTS, 6) Motivasi ekstrinsik menjadi WTS, 7) Persepsi untuk hidup yang Ideal, 8) Lamanya menjadi WTS, 9) Mendapat perlakuan kekerasan, 10) Keadaan ekonomi keluarga, 11) Kepatuhan terhadap norma susila, 12) Pengaruh lingkungan sosial daerah asal, 13) Jarak tempat sebagai WTS, 14) Intensitas Interaksi dengan WTS lain, 15) Yang

melatih/mengajari tentang seksual, 16) Intensitas hubungan dengan pelanggan, dan 17) Persepsi seks sebagai hedonisme

Hasil penelitian hubungan karakteristik dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS dapat dilihat berikut ini.

4.4.1 Hubungan Umur Responden dengan pengetahuan HIV/AIDS

Hasil penelitian hubungan umur responden dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS, dapat dilihat pada Tabel 20 berikut ini.

Tabel 20. Hubungan umur responden dengan Pengetahuan tentang HIV/AIDS

Tabel 20 menjelaskan bahwa bagi responden yang berumur muda pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting adalah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara penularan, dan 3) Pengertian tentang HIV/AIDS. Adapun bagi responden yang berumur sedang pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting ialah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara penularan, dan 3) Cara pencegahan.

Selanjutnya bagi responden yang berumur tua pengetahuan tentang HIV/AIDS

paling penting ialah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Akibat HIV/AIDS, dan 3) Cara penularan.

Selanjutnya kelompok ini membuat jenjang yang lebih rendah pada tujuh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS lainnya seperti: 1) Pengetahuan Kespro, 2) Cara pencegahan, 3) Akibat HIV/AIDS, 4) Penyebab AIDS dan infeksi sekunder akibat AIDS, 5) Hubungan sosial dengan penderita HIV/AIDS, 6) Dampak sosial ekonomi HIV/AIDS, 7) Hubungan narkoba dengan AIDS.

Sekalipun ketiga kelompok tersebut beragam dalam penjenjangan kesepuluh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS itu, koefisien Konkordansi Kendall W sebesar 0,91 yang nyata pada α = 0,01 menunjukkan tingkat kesepakatan yang tinggi diantara responden dalam penjenjangan kesepuluh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS itu.

4.4.2 Hubungan Status Perkawinan dengan pengetahuan HIV/AIDS

Hasil penelitian hubungan status perkawinan responden dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS, dapat dilihat pada Tabel 21 berikut ini.

Tabel 21. Hubungan status perkawinan dengan Pengetahuan HIV/AIDS

No Bidang Pengetahuan

4 Hubungan sosial dengan

penderita HIV/AIDS 53,14 4 48,23 7 48,55 8

5 Cara pencegahan 51,14 5 60,27 3 61,36 3

Hasil penelitian hubungan status perkawinan dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS dikemukakan, responden yang sudah menikah pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting adalah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Pengertian, 3) Cara penularan HIV/AIDS. Adapun bagi responden yang pernah menikah pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting ialah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara penularan, 3) Cara pencegahan. Selanjutnya responden yang belum menikah pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting ialah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara penularan, 3) Cara pencegahan.

Selanjutnya kelompok ini membuat jenjang yang lebih rendah pada tujuh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS lainnya seperti: 1) Pengertian HIV/AIDS, 2) Hubungan sosial dengan penderita HIV/AIDS, 3) Pengetahuan Kespro, 4) Akibat HIV/AIDS, 5) Penyebab AIDS dan infeksi sekunder akibat AIDS, 6) Dampak sosial ekonomi HIV/AIDS, 7) Hubungan narkoba dengan AIDS.

Sekalipun ketiga kelompok tersebut beragam dalam penjenjangan kesepuluh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS itu, koefisien Konkordansi Kendall W sebesar 0,88 yang nyata pada α = 0,01 menunjukkan tingkat kesepakatan yang tinggi diantara responden dalam penjenjangan kesepuluh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS itu.

4.4.3 Hubungan Pendidikan Formal dengan pengetahuan HIV/AIDS

Hasil penelitian hubungan pendidikan formal dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS adalah sebagai berikut: responden yang berpendidikan formal rendah pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting adalah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Pengertian tentang HIV/AIDS, 3) Cara Pencegahan, dan 4)cCara penularan. Responden yang pendidikan formalnya sedang pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting ialah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara penularan, 3)ppengertian tentang HIV/AIDS, dan 4) Cara pencegahan. Adapun responden yang pendidikan formalnya tinggi pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting ialah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara penularan, 3) Cara pencegahan, dan 4) Akibat HIV/AIDS.

Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 22 berikut ini.

Tabel 22. Hubungan pendidikan formal dengan pengetahuan tentang

penderita HIV/AIDS 43,89 8 49,03 7 56,7 6

9 Penyebab AIDS dan infeksi 41,58 9 44,38 8 51,33 8 10 Hubungan narkoba dengan AIDS 35,53 10 37,5 10 41,67 9

Rata-rata 58,943 49,1 54,9

W = 0,88**

Pada kelompok ini membuat jenjang yang lebih rendah pada enam bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS lainnya seperti: 1) Akibat HIV/AIDS, 2) Pengetahuan Kespro, 3) Dampak sosial ekonomi HIV/AIDS, 4) Hubungan sosial dengan penderita HIV/AIDS, 5) Penyebab AIDS dan Infeksi sekunder dan 6) Hubungan narkoba dengan AIDS.

Sekalipun ketiga kelompok tersebut beragam dalam penjenjangan kesepuluh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS itu, koefisien Konkordansi Kendall W sebesar 0,88 yang nyata pada α = 0,01 menunjukkan tingkat kesepakatan yang tinggi diantara responden dalam penjenjangan kesepuluh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS itu.

4.4.4 Hubungan Tingkat Pendapatan dengan pengetahuan HIV/AIDS

Hasil penelitian hubungan tingkat pendapatan dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS dikemukakan, bahwa responden yang tingkat pendapatannya rendah pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting adalah: 1) Bahaya HIV bagi

kesehatan, 2) Cara penularan, dan 3) Cara pencegahan HIV/AIDS. Adapun bagi responden yang pendapatannya sedang pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting ialah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara pencegahan, dan 3) Akibat HIV/AIDS. Selanjutnya bagi responden yang tingkat pendapatannya tinggi pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting ialah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara penularan dan 3) Pengertan HIV/AIDS.

Lebih jelasnya hasil penelitian hubungan tingkat pendapatan responden dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS, dapat dilihat pada Tabel 23 berikut ini.

Tabel 23. Hubungan tingkat pendapatan responden dengan Pengetahuan Tentang HIV/AIDS

8 Hubungan sosial dengan

penderita HIV/AIDS 40,66 8 57,67 7 49,54 8

9 Hubungan narkoba dengan

AIDS 34,38 9 40,91 10 38,57 10

10 Dampak sosial ekonomi AIDS 34,37 10 48,48 8 42,85 9

Rata-rata 45,632 57,83 55,36

W = 0,84**

Selanjutnya kelompok ini membuat jenjang yang lebih rendah pada tujuh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS lainnya seperti: 1) Pengertian HIV/AIDS, 2) Pengetahuan Kespro, 3) Penyebab AIDS dan infeksi sekunder akibat AIDS, 4) Akibat HIV/AIDS, 5) Hubungan sosial dengan penderita HIV/AIDS, 6) Hubungan narkoba dengan AIDS dan 7) Dampak sosial ekonomi HIV/AIDS.

Sekalipun ketiga kelompok tersebut beragam dalam penjenjangan kesepuluh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS itu, koefisien Konkordansi

Kendall W sebesar 0,84 yang nyata pada α = 0,01 menunjukkan tingkat kesepakatan yang tinggi diantara wanita tuna susila dalam penjenjangan kesepuluh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS itu.

4.4.5 Hubungan Motivasi Intrinsik dengan pengetahuan HIV/AIDS

Hasil penelitian hubungan motivasi instrinsik dengan pengetahuan HIV/AIDS, dapat dilihat pada Tabel 24 berikut ini.

Tabel 24. Hubungan motivasi instrinsik dengan pengetahuan HIV/AIDS

No Bidang Pengetahuan

Motivasi Intrinsik

Rendah Sedang Tinggi

Skor Jj Skor Jj Skor Jj 1 Bahaya HIV bagi kesehatan 64,64 1 65,77 1 75,09 1

2 Cara penularan 55,68 2 59,64 2 66,02 3

3 Akibat HIV/AIDS 54,55 3 51,43 6 60,94 6

4 Cara pencegahan 52,27 4 56,43 4 67,19 2

5 Pengertian 51,08 5 56,74 3 63,39 5

6 Pengetahuan kespro 48,55 6 56,23 5 63,63 4

7

Hubungan sosial dengan

penderita HIV/AIDS 46,55 7 49,54 7 52,13 7

8 Penyebab AIDS dan infeksi 44,24 8 47,43 8 44,38 9 9 Hubungan narkoba dengan AIDS 34,85 9 38,57 10 40,63 10 10 Dampak sosial ekonomi AIDS 32,32 10 45,71 9 47,91 8

Rata-rata 48,473 52,75 58,13

W = 0,93**

Tabel 24 menjelaskan bahwa responden yang motivasi instrinsiknya rendah pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting adalah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara penularan, dan 3) Akibat HIV/AIDS. Adapun responden yang motivasi instrinsiknya sedang pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting ialah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara penularan, 3) Pengertian tentang HIV/AIDS. Selebihnya responden yang motivasi instrinsiknya tinggi pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting ialah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara pencegahan, dan 3) Cara penularan HIV/AIDS.

Kelompok ini membuat jenjang yang lebih rendah pada tujuh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS lainnya seperti: 1) Cara pencegahan, 2) Pengertian HIV/AIDS, 3) Pengetahuan Kespro, 4) Hubungan sosial dengan penderita HIV/AIDS, 5) Penyebab AIDS dan Infeksi sekunder akibat AIDS, 6) Hubungan narkoba dengan AIDS dan 7) Dampak sosial ekonomi HIV/AIDS,

Pada kelompok ini meskipun beragam dalam penjenjangan kesepuluh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS itu, koefisien Konkordansi Kendall W sebesar 0,93 yang nyata pada α = 0,01 menunjukkan tingkat kesepakatan yang tinggi diantara wanita tuna susila dalam penjenjangan kesepuluh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS tersebut.

4.4.6 Hubungan Motivasi Ekstrinsik dengan pengetahuan HIV/AIDS

Hasil penelitian hubungan Motivasi ekstrinsik dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS secara jelas dapat dilihat pada Tabel 25 berikut ini.

Tabel 25. Hubungan Motivasi ekstrinsik dengan Pengetahuan HIV/AIDS

No Bidang Pengetahuan

Motivasi Ekstrinsik

Rendah Sedang Tinggi Skor Jj Skor Jj Skor Jj 1 Bahaya HIV bagi kesehatan 67,66 1 67,73 1 69,84 1

2 Cara pencegahan 60 2 53,03 6 62,5 3

3 Cara penularan 55 3 63,26 2 63,28 2

4 Pengertian 54,29 4 57,58 4 59,38 5

5 Hubungan sosial dengan

penderita HIV/AIDS 53,43 5 46,45 8 47,97 7

6 Akibat HIV/AIDS 51,43 6 57,57 5 57,81 6

7 Pengetahuan kespro 50,49 7 58,67 3 59,47 4

8 Dampak sosial ekonomi AIDS 48,57 8 40,4 9 36,45 10 9 Penyebab AIDS dan infeksi 42,29 9 48,48 7 45,63 8 10 Hubungan narkoba dengan

AIDS 38,57 10 37,88 10 37,5 9

Rata-rata 52,173 53,11 53,98

W = 0,86**

Tabel 25 menjelaskan bahwa responden yang motivasi ekstrinsiknya rendah pengetahuan HIV/AIDS paling penting adalah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara pencegahan, 3) Cara penularan. Adapun bagi responden yang motivasi ekstrinsiknya sedang pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting ialah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara penularan, 3) Pengetahuan kespro.

Selanjutnya bagi responden yang motivasi ekstrinsiknya tinggi pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting ialah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara penularan, dan 3) Cara pencegahan.

Selanjutnya kelompok ini membuat jenjang yang lebih rendah pada tujuh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS lainnya seperti: 1) Pengertian HIV/AIDS, 2) Hubungan sosial dengan penderita HIV/AIDS, 3) Akibat HIV/AIDS, 4) Pengetahuan Kespro, 5) Dampak sosial ekonomi HIV/AIDS, 6) Penyebab HIV/AIDS dan infeksi sekunder, dan 7) Hubungan narkoba dengan AIDS.

Meskipun ketiga kelompok tersebut beragam dalam penjenjangan kesepuluh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS itu, koefisien Konkordansi Kendall W sebesar 0,86 yang nyata pada α = 0,01 menunjukkan tingkat kesepakatan yang tinggi diantara responden dalam penjenjangan kesepuluh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS itu.

4.4.7 Hubungan Persepsi hidup ideal dengan pengetahuan HIV/AIDS

Hasil penelitian hubungan persepsi hidup ideal wanita dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS dijelaskan sebagai berikut: responden yang persepsi hidup kurang ideal pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting adalah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara pencegahan, 3) Akibat HIV/AIDS.

Adapun bagi responden yang persepsi hidup ideal pengetahuan HIV/AIDS paling penting ialah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara penularan, dan 3) Pengetahuan kespro. Selanjutnya responden yang persepsi hidupnya sangat ideal pengetahuan HIV/AIDS paling penting ialah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara penularan, dan 3) Pengertian HIV/AIDS. Lebih jelasnya hal ini dapat dilihat pada Tabel 26 berikut ini.

Tabel 26. Hubungan persepsi hidup ideal dengan Pengetahuan tentang HIV/AIDS

No Bidang Pengetahuan

Persepsi Hidup ideal Kurang

Ideal Ideal Sangat Ideal Skor Jj Skor Jj Skor Jj 1 Bahaya HIV bagi kesehatan 64,5 1 67,83 1 71,7 1

2 Cara pencegahan 56,67 2,5 55 5 62,5 6

3 Akibat HIV/AIDS 56,67 2,5 43,33 8 63,75 4

4 Cara penularan 51,67 4 62,92 2 65 2

5 Hubungan sosial dengan

penderita HIV/AIDS 49 5 52,27 6 47,5 7

6 Pengertian 48,57 6 55,24 4 64,64 3

7 Pengetahuan kespro 47,83 7 55,63 3 62,55 5

8 Penyebab AIDS dan infeksi 42,67 8 46,67 7 46,5 8 9 Dampak sosial ekonomi AIDS 42,22 9 39,99 9 43,33 9 10 Hubungan narkoba dengan

AIDS 36,67 10 36,67 10 40 10

Rata-rata 49,647 51,56 56,75

W = 0,84**

Selanjutnya kelompok ini membuat jenjang yang lebih rendah pada tujuh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS lainnya seperti: 1) Cara penlaran, 2) Hubungan sosial dengan penderita HIV/AIDS, 3) Pengertian HIV/AIDS, 4) Pengetahuan kespro, 5) Penyebab AIDS dan infeksi sekunder akibat AIDS, 6)dDampak sosial ekonomi HIV/AIDS, 7) Hubungan narkoba dengan AIDS.

Hasil penjenjangan kesepuluh bidang pengetahuan HIV/AIDS itu, koefisien Konkordansi Kendall W sebesar 0,84 yang nyata pada α = 0,01 hal ini menunjukkan tingkat kesepakatan yang tinggi diantara responden dalam penjenjangan kesepuluh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS tersebut.

4.4.8 Hubungan Lama Bekerja menjadi WTS dengan pengetahuan HIV/AIDS

Hasil penelitian hubungan lama bekerja menjadi WTS dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS, adalah sebagai berikut: responden yang tidak lama bekerja sebagai WTS pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting adalah:

1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Pengertian HIV/AIDS, dan 3) Cara Penularan

HIV/AIDS. Adapun bagi responden yang lama bekerja sebagai WTS pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting ialah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara penularan, dan 3) Cara pencegahan. Selebihnya responden yang sangat lama bekerja sebagai WTS pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting ialah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara penularan, dan 3) Pengetahuan kesehatan alat-alat reproduksi.

Lebih lengkapnya hubungan lama bekerja sebagai WTS dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS dapat dilihat pada Tabel 27 berikut ini.

Tabel 27. Hubungan lama bekerja dengan Pengetahuan HIV/AIDS

No Bidang Pengetahuan

Lama Jadi WTS Tidak

Lama Lama Sangat

Lama Skor Jj Skor Jj Skor Jj 1 Bahaya HIV bagi kesehatan 60,64 1 65,89 1 78,14 1 8 Hubungan sosial dengan

penderita HIV/AIDS 40,42 8 47,97 7 59,11 6

9 Dampak sosial ekonomi AIDS 35,35 9 43,75 9 46,66 8 10 Hubungan narkoba dengan

AIDS 34,85 10 39,06 10 40 10

Rata-rata 47,878 53,36 57,68

W = 0,90**

Kelompok ini membuat jenjang yang lebih rendah pada tujuh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS lainnya seperti: 1) Cara pencegahan, 2) Akibat HIV/AIDS, 3) Pengetahuan kespro, 4) Penyebab AIDS dan infeksi sekunder akibat AIDS, 5) Hubungan sosial dengan penderita HIV/AIDS, 6) Dampak sosial ekonomi HIV/AIDS, 7) Hubungan narkoba dengan AIDS.

Kendatipun ketiga kelompok ini membuat penjenjangan dari kesepuluh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS itu beragam, koefisien Konkordansi

Kendall W sebesar 0,90 yang nyata pada α = 0,01 menunjukkan tingkat kesepakatan yang tinggi diantara wanita tuna susila dalam penjenjangan kesepuluh bidang pengetahuan tentang HIV/AIDS.

4.4.9 Hubungan Mendapat perlakuan kekerasan seksual dengan pengetahuan HIV/AIDS

Hasil penelitian hubungan mendapat perlakuan kekerasan seksual dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS, dapat dilihat pada Tabel 28 berikut ini.

Tabel 28. Hubungan mendapat perlakuan kekerasan dengan Pengetahuan Tentang HIV/AIDS

No Bidang Pengetahuan

Perlakuan kekerasan Tdk Pernah Pernah Sering

Skor Jj Skor Jj Skor Jj

7 Hubungan sosial dengan

penderita HIV/AIDS 49,63 7 45,29 7 53,2 8

8 Penyebab AIDS dan infeksi 47,63 8 31,43 9 48 9 9 Dampak sosial ekonomi AIDS 42,1 9 23,81 10 66,66 7 10 Hubungan narkoba dengan

AIDS 37,5 10 39,26 8 40 10

Rata-rata 52,825 45,98 64,74

W = 0,87**

Tabel 28 menjelaskan responden yang tidak pernah mendapat perlakuan kekerasan seksual pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting adalah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara penularan, dan 3) Cara pencegahan tentang HIV/AIDS. Adapun bagi responden yang pernah mendapat perlakuan kekerasan seksual pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting ialah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara pencegahan, dan 3) Pengetahuan kespro. Selanjutnya bagi

Tabel 28 menjelaskan responden yang tidak pernah mendapat perlakuan kekerasan seksual pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting adalah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara penularan, dan 3) Cara pencegahan tentang HIV/AIDS. Adapun bagi responden yang pernah mendapat perlakuan kekerasan seksual pengetahuan tentang HIV/AIDS paling penting ialah: 1) Bahaya HIV bagi kesehatan, 2) Cara pencegahan, dan 3) Pengetahuan kespro. Selanjutnya bagi