III. METODOLOGI PENELITIAN
3.3 Data dan Instrumentasi
3.3.2 Instrumentasi
Instrumentasi atau alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah dalam bentuk kuesioner yang berisi daftar pertanyaan yang akan dijawab oleh responden dan berhubungan dengan peubah-peubah yang akan dikaji dalam penelitian. Selain itu digunakan metode wawancara (interview) untuk memper-kuat data hasil penelitian, dengan teknik: (1) secara berkelompok dengan responden yang berisi tentang kehidupan dunia WTS, Pengetahuan tentang HIV/AIDS, penyakit menular seksual (PMS) dan bahayanya pada kesehatan, (2) secara perorangan (untuk lebih akurat) tentang latar belakang kehidupan keluarga, keadaan ekonomi, tempat mereka berasal dan penyakit-penyakit yang pernah mereka derita.
Untuk memperoleh proses tabulasi atau rekapitulasi data dan analisis, maka kuesioner dibuat dengan struktur sebagai berikut:
a. Berisi petunjuk cara pengisian kuesioner
b. Daftar pertanyaan untuk peubah karakteristik Wanita Tuna Susila berbentuk kombinasi antara pertanyaan langsung, tertutup dan tidak tertutup yang terdiri dari: (1) Umur, (2) Status perkawinan, (3) Pendidikan Formal, (4) Tingkat Pendapatan, (5) Motivasi Instrinsik Menjadi WTS, (6) Motivasi Ekstrinsik Menjadi WTS, (7) Persepsi untuk hidup yang Ideal, (8) Lamanya Menjadi WTS, (9) Mendapat perlakuan Kekerasan, (10) Keadaan Ekonomi Keluarga, (11) Kepatuhan Terhadap Norma Susila, (12) Pengaruh Lingkungan Sosial Daerah Asal, (13) Tempat sebagai WTS, (14) Intensitas Interaksi dengan WTS lain, (15) Yang melatih/mengajari tentang seksual, (16) Intensitas Hubungan dengan Pelanggan, dan (17) Persepsi seks sebagai Hedonisme
c. Pengetahuan Wanita Tuna Susila tentang HIV/AIDS berbentuk pernyataan langsung dan tertutup. Bentuk pernyataan tersebut terdiri dari 40 butir pertanyaan dengan bentuk “Benar” atau “Salah” (B - S).
3.3.3 Uji Validitas (Validity Test)
Validitas menunjukkan sejauh mana alat ukur yang digunakan dapat mengukur apa yang akan diukur. Ada beberapa cara untuk mengukur validitas
(kesahihan) alat ukur, yaitu validitas konstruk, validitas isi, validitas eksternal, validitas prediktif, validitas budaya, dan validitas rupa. (Singarimbun dan Effendi, 1999:124-132). Teknik pengujian validitas alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas konstruk, yaitu menyusun tolok ukur operasional dari suatu kerangka konsep dan teori. Upaya-upaya yang dilakukan dalam hal ini adalah: (1) konsultasi dengan dosen pembimbing, (2) konsultasi dengan para ahli dan berbagai pihak yang dianggap menguasai materi daftar pertanyaan yang digunakan, dan (3) melakukan uji coba daftar pertanyaan sebelum dilakukan sebagai alat pengumpul data.
3.3.4 Uji Reliabilitas (Reliability Test)
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau diandalkan, sebagai alat ukur untuk pengumpul data (Singarimbun dan Effendi,1999:125), bahwa yang dimaksud reliabilitas adalah istilah yang dipakai sejauhmana suatu hasil pengukuran relatif konsisten apabila pengukuran diulangi dua kali atau lebih.
Uji Cronbach Alpha, diterapkan untuk menguji reliabilitas instrumen dengan alternatif jawaban per butir pertanyaan dengan rumus sebagai berikut :
α
= n-1 Vt N 1- Vi
n = Jumlah item Vi = Varian item ke i Vt = Varian total
Uji Reliabilitas dilakukan dari data pretest kuesioner
Uji coba dilaksanakan pada minggu ketiga bulan Juli 2006. Responden untuk Uji reliabilitas sebanyak 20 orang terdiri dari: 10 orang Wanita Tuna Susila di Panti Sosial Karya Wanita Marga Rahayu Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, dan 10 orang Wanita Tuna Susila dari Balai Pemulihan Sosial Wanita
Tuna Susila Silih Asih di Kecamatan Palimanan Kabupaten Cirebon, yang diambil secara acak. Pengujian instrumen terdiri dari pengujian peubah pengetahuan Wanita Tuna Susila tentang HIV/AIDS. Alat ukur cukup reliabel untuk digunakan jika nilai α > 0,500 dan mendekati 1,00 (Arikunto,1989). Hasil uji reliabilitas diperoleh nilai sebesar α = 0,947
3.3.5 Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dari bulan Agustus 2006 sampai dengan bulan September 2006. Data primer dikumpulkan dari Wanita Tuna Susila yang dijadikan responden dengan menggunakan instrument penelitian berupa daftar pertanyaan (lampiran 2). Data primer tentang karakteristik wanita tuna susila juga diperoleh dengan wawancara terhadap Kepala Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) Kecamatan Nagrak Kabupaten Sukabumi, Kepala Balai Pemulihan Sosial Wanita Tuna Susila (BPSWTS) Kecamatan Palimanan Kabupaten Cirebon, Kepala Seksi Pemulihan, Pejabat Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Dinas Sosial, Puskesmas, dan staf pengajar/Instruktur Bimbingan dan Penyuluhan dari kedua Panti Sosial Wanita PSKW Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi dan BPSWTS Kecamatan Palimanan Kabupaten Cirebon, Propinsi Jawa Barat .
Data sekunder dikumpulkan melalui tinjauan terhadap catatan-catatan kemajuan wanita tuna susila yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan dan pelatihan pencegahan HIV/AIDS bagi Wanita Tuna Susila Jawa Barat .
3.3.6 Analisis Data
Data yang dikumpulkan terlebih dahulu ditabulasi dengan pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kualitatif adalah melakukan analisa deskriftif terhadap data dan hasil pengamatan. Sedangkan pendekatan kuantitatif dilakukan untuk menguji hubungan-hubungan variabel-variabel yang diamati dan dianalisis dengan bantuan program SPSS (Statistical Program for Social Science). Untuk membantu dalam mendeskripsikan peubah karakteristik Wanita Tuna Susila dengan pengetahuan Wanita Tuna Susila tentang HIV/AIDS
dan bahayanya pada kesehatan manusia, dengan menggunakan teknik korelasi Konkordansi Kendall W pada tarap kepercayaan 0,05 – 0,01 (Siegel,1994:285).
Selain itu juga dilakukan analisis kualitatif deskriftif atas dasar hasil-hasil pengamatan dan catatan selama proses pengumpulan data di lapangan.
Adapun rumus Konkordansi Kendall W sebagai berikut:
W = S
1/12 k 2 (N3 – N)
dimana:
S = jumlah kuadrat deviasi observasi dari mean Ri k = banyak himpunan ranking penjenjangan
N = banyak obyek atau individu yang diberi ranking
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pendahuluan
Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Agustus sampai September 2006, dengan tujuan: (1) mengidentifikasi karakteristik individu para wanita tuna susila yang sedang direhabilitasi di Panti Rehabilitasi Sosial Wanita Jawa Barat.
(2) Untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan para wanita tuna susila itu tentang HIV/AIDS dan bahayanya pada kesehatan manusia (3) Untuk menghitung tingkat hubungan karakteristik para wanita tuna susila itu dengan pengetahuan mereka tentang HIV/AIDS dan bahayanya pada kesehatan manusia
Responden dalam penelitian ini adalah wanita tuna susila yang terpilih untuk dijadikan sebagai sampel. Sampel penelitian ini sebanyak 100 orang responden yang menjadi Kelayan di Panti Rehabilitasi Sosial Wanita di Provinsi Jawa Barat yang diambil secara acak. Adapun data yang dikumpulkan dari keseratus responden tersebut digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan penelitian di atas.
4.2 Distribusi Karakteristik Responden
4.2.1 Distribusi Responden berdasarkan Umur
Umur yang dimaksud dalam penelitian ini ialah usia responden yang dihitung sejak lahir sampai saat menjadi responden dalam penelitian, diukur dalam jumlah tahun.
Pada bagian umur responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) muda, (2) sedang, dan (3) tua. Adapun kategori muda berkisar dari umur tiga belas tahun sampai dua puluh tiga tahun, klasifikasi sedang berkisar dari umur dua puluh empat tahun sampai dengan dua puluh delapan tahun, dan klasifikasi tua berkisar dari dua puluh sembilan tahun sampai dengan empat puluh empat tahun.
Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan peubah umur dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.
Tabel 2. Distribusi responden berdasarkan umur
Umur Jumlah Persentase
Muda 31 31
Sedang 37 37
Tua 32 32
Jumlah 100 100
Minimum : 13 tahun Maksimum : 44 tahun Rata-rata : 26,4 tahun
Tabel 2 mengungkapkan bahwa 37% responden dalam penelitian ini memiliki umur dalam klasifikasi berumur sedang.
4.2.2 Distribusi Responden berdasarkan Status Perkawinan
Status perkawinan yang dimaksud dalam penelitian ini ialah status marital responden yang berada di panti rehabilitasi sosial saat ini, dengan status: (1) belum menikah, (2) menikah, dan (3) pernah menikah
Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan status perkawinan dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini.
Tabel 3. Distribusi responden berdasarkan status perkawinan
Status pekawinan Jumlah Persentase
Belum menikah 22 22
Pernah Menikah 56 56
Masih menikah 22 22
Jumlah 100 100
Tabel 3 mengungkapkan bahwa 78 % responden dalam penelitian ini berstatus pernah menikah dan masih menikah.
4.2.3 Distribusi Responden berdasarkan Pendidikan Formal
Pendidikan formal yang dimaksud dalam penelitian ini ialah pendidikan formal tertinggi yang telah diselesaikan oleh responden.
Pada bagian pendidikan formal responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) rendah, (2) sedang, dan (3) tinggi. Adapun kategori rendah berkisar dari dua tahun sampai enam tahun, atau setara Sekolah Dasar, kategori sedang berkisar dari enam setengah tahun sampai dengan sepuluh tahun atau setara Sekolah Menengah Pertama sampai SLTA kelas I, dan kategori tinggi berkisar dari sebelas tahun sampai dengan lima belas tahun, setara dengan SLTA kelas dua sampai dengan kuliah di semester enam atau setara Diploma 3.
Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan pendidikan formal dapat dilihat pada Tabel 4 berikut ini.
Tabel 4. Distribusi responden berdasarkan pendidikan formal
Pendidikan Formal Jumlah Persentase
Rendah 38 38
Sedang 32 32
Tinggi 30 30
Jumlah 100 100
Minimum : 2 tahun Maksimum : 15 tahun Rata-rata : 8,35 tahun
Tabel 4 mengungkapkan bahwa 38% responden dalam penelitian ini berpendidikan formal yang termasuk rendah, setara dengan Sekolah Dasar.
4.2.4 Distribusi Responden berdasarkan Tingkat Pendapatan
Tingkat Pendapatan yang dimaksud dalam penelitian ini ialah tingkat pendapatan tertinggi yang telah dihasilkan responden dalam satu bulan.
Pada bagian tingkat pendapatan responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) rendah, (2) sedang, dan (3) tinggi. Adapun kategori rendah berkisar dari Rp 450.000,- sampai Rp 1.200.000,-per bulan, kategori sedang berkisar Rpk1.250.000,- sampai Rp 3.100.000,-, dan kategori tinggi berkisar Rpp3.150.000,- sampai Rp 7.600.000,-
Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan tingkat pendapatan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut ini.
Tabel 5. Distribusi responden berdasarkan tingkat pendapatan
Tingkat pendapatan Jumlah Persentase
Rendah 32 32
Sedang 33 33
Tinggi 35 35
Jumlah 100 100
Minimum : Rp 450.000,- Maksimum : Rp 7.600.000 Rata-rata : Rp 2.182.900,-
Tabel 5 mengungkapkan bahwa 35% responden dalam penelitian ini termasuk berpenghasilan tinggi, ialah antara Rp 3.150.000,- – Rp 7.600.000,-
4.2.5 Distribusi Responden berdasarkan Motivasi Instrinsik
Motivasi Instrinsik yang dimaksud dalam penelitian ini ialah motivasi atau dorongan dari dalam diri responden sehingga melakukan hal ini.
Pada bagian motivasi Instrinsik responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) rendah, (2) sedang, dan (3) tinggi. Adapun kategori rendah bila berkisar dari skor tujuh sampai skor sebelas, kategori sedang berkisar dari skor dua belas sampai dengan enam belas, dan kategori tinggi berkisar dari skor tujuh belas sampai dengan skor dua puluh delapan.
Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan Motivasi Instrinsik dapat dilihat pada Tabel 6 berikut ini.
Tabel 6. Distribusi responden berdasarkan Motivasi Instrinsik
Motivasi Instrinsik Jumlah Persentase
Rendah 33 33
Sedang 35 35
Tinggi 32 32
Jumlah 100 100
Skor minimum: 7 Skor maksimum: Skor 38 Skor rata-rata : 14, 17 Tabel 6 mengungkapkan bahwa 35% responden dalam penelitian ini motivasi instrinsiknya untuk menjadi WTS dalam klasifikasi sedang.
4.2.6 Distribusi Responden berdasarkan Motivasi Ekstrinsik
Motivasi Ekstrinsik yang dimaksud dalam penelitian ini ialah motivasi atau dorongan dari luar diri responden sehingga melakukan pekerjaan menjadi wanita tuna susila.
Pada bagian motivasi ekstrinsik responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) rendah, (2) sedang, dan (3) tinggi. Adapun kategori rendah bila berkisar dari skor empat sampai skor delapan, kategori sedang berkisar dari skor sembilan sampai dengan skor sepuluh, dan kategori tinggi dengan skor sebelas sampai dengan skor dua puluh.
Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan Motivasi Ekstrinsik dapat dilihat pada Tabel 7 berikut ini.
Tabel 7. Distribusi responden berdasarkan Motivasi ekstrinsik
Motivasi Ekstrinsik Jumlah Persentase
Rendah 35 35
Sedang 33 33
Tinggi 32 32
Jumlah 100 100
Skor minimum : 4 Skor maksimum : 20 Skor rata-rata : 9,32 Tabel 7 mengungkapkan bahwa 35% responden dalam penelitian ini mempunyai motivasi ekstrinsik untuk menjadi WTS dalam klasifikasi rendah.
4.2.7 Distribusi Responden berdasarkan Persepsi hidup ideal
Persepsi hidup ideal yang dimaksud dalam penelitian ini ialah persepsi responden terhadap kehidupan kerumahtanggaan, sebagaimana halnya tugas dan peran seorang wanita.
Pada bagian persepsi hidup ideal responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) kurang ideal, (2) ideal, dan (3) sangat ideal. Adapun kategori kurang ideal bila berkisar dari skor lima sampai skor dua belas, kategori sedang berkisar
dari skor tiga belas sampai dengan skor enam belas, dan kategori tinggi dengan skor tujuh belas sampai dengan skor dua puluh satu.
Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan persepsi hidup ideal wanita dapat dilihat pada Tabel 8 berikut ini.
Tabel 8. Distribusi Responden berdasarkan persepsi hidup ideal
Persepsi hidup ideal Jumlah Persentase
Kurang ideal 30 30
Ideal 30 30
Sangat ideal 40 40
Jumlah 100 100
Skor minimum : 5 Skor maksimum : 21 Skor rata-rata : 14,3
Tabel 8 mengungkapkan bahwa 40% responden dalam penelitian ini mempunyai persepsi hidup yang termasuk kategori sangat ideal, ialah hidup secara kodrati tugas pokok sebagai ibu rumahtangga yaitu pemangku keturunan, pendidik anak, pendamping suami, mengurus kekayaan dan ekonomi rumah tangga, serta mengatur hubungan sosial dengan tetangga.
4.2.8 Distribusi Responden berdasarkan Lama Bekerja
Lama bekerja yang dimaksud dalam penelitian ini ialah lamanya responden terjun sebagai wanita tuna susila.
Pada bagian lama bekerja responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) tidak lama, (2) lama, dan (3) sangat lama. Adapun kategori tidak lama berkisar dari dua bulan sampai enam bulan, kategori lama berkisar dari tujuh bulan sampai dengan tiga belas bulan dan kategori sangat lama berkisar dari empat belas bulan sampai dengan tiga ratus bulan, atau sama dengan dua puluh lima tahun. Sebagian responden menyatakan terjun sebagai WTS pada usia antara 13 tahun – 19 tahun.
Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan lama bekerja sebagai wanita tuna susila dapat dilihat pada Tabel 9 berikut ini.
Tabel 9. Distribusi responden berdasarkan lama bekerja Tabel 9 mengungkapkan bahwa 35% responden dalam penelitian ini memiliki pengalaman bekerja yang tergolong kategori sangat lama, sampai 25 tahun tanpa henti, berarti tidak mempunyai minat untuk mencari pekerjaan lain.
4.2.9 Distribusi Responden berdasarkan Mendapat perlakuan kekerasan seksual
Mendapat perlakuan kekerasan seksual yang dimaksud dalam penelitian ini ialah tingkat mendapat perlakuan kekerasan dalam hal seksual dan perlakuan lainnya selama melayani pelanggan.
Pada bagian tingkat mendapat perlakuan kekerasan seksual responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) tidak pernah, (2) pernah, dan (3) sering.
Adapun kategori tidak pernah adalah tidak pernah sama sekali mendapatkan perlakuan kekerasan seksual dan kekerasan lainnya selama melayani pelanggan, kategori pernah berkisar dari satu kali sampai dua kali, dan kategori sering mendapatkan perlakuan kekerasan seksual sekitar tiga kali sampai dua puluh kali.
Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan mendapat perlakuan kekerasan seksual dan kekerasan lainnya dapat dilihat pada Tabel 10 berikut ini.
Tabel 10. Distribusi responden berdasarkan mendapat perlakuan kekerasan seksual dan kekerasan lainnya
Mendapat perlakuan
Tabel 10 mengungkapkan bahwa mayoritas responden dalam penelitian ini tidak pernah mendapat perlakuan kekerasan seksual dan kekerasan lainnya selama melayani pelanggan.
4.2.10 Distribusi Responden berdasarkan Keadaan Ekonomi keluarga
Keadaan ekonomi keluarga yang dimaksud dalam penelitian ini ialah tingkat keadaan ekonomi keluarga responden.
Pada bagian tingkat keadaan ekonomi responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) rendah, (2) sedang, dan (3) tinggi. Adapun kategori rendah dengan skor lima sampai delapan, sedang dengan skor sembilan sampai sebelas, dan terakhir kategori tinggi berkisar dari skor dua belas dua sampai skor empat belas.
Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan keadaan ekonomi keluarga dapat dilihat pada Tabel 11 berikut ini.
Tabel 11. Distribusi responden berdasarkan keadaan ekonomi keluarga
Keadaan ekonomi keluarga Jumlah Persentase
Rendah 35 35
Sedang 38 38
Tinggi 27 27
Jumlah 100 100
Skor minimum: 5 Skor maksimum: 14 Skor rata-rata: 9,51
Tabel 11 mengungkapkan bahwa 38% responden dalam penelitian ini keadaan ekonomi keluarga yang termasuk kategori sedang. Dari sebanyak itu sebagian berasal dari kalangan keluarga sejahtera tahap I (KS I) dan keluarga sejahtera tahap II (KS II) berdasarkan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
4.2.11 Distribusi Responden berdasarkan Kepatuhan terhadap Norma Susila
Tingkat kepatuhan terhadap norma susila yang dimaksud dalam penelitian ini ialah tingkat kepatuhan yang dilaksanakan responden dalam menjalankan kehidupan sosialnya.
Pada bagian tingkat kepatuhan terhadap norma susila responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) tidak patuh, (2) patuh, dan (3) sangat patuh.
Adapun kategori tidak patuh dengan skor empat sampai enam, patuh dengan skor tujuh sampai sepuluh, dan terakhir kategori sangat patuh berkisar dari skor dua puluh dua sampai skor tiga puluh satu.
Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan kepatuhan terhadap norma susila dapat dilihat pada Tabel 12 berikut ini.
Tabel 12. Distribusi responden berdasarkan kepatuhan terhadap norma susila
Kepatuhan terhadap norma
sosial Jumlah Persentase
Tidak patuh 38 38
Patuh 38 38
Sangat patuh 24 24
Jumlah 100 100
Skor minimum: 4 Skor maksimum: 16 Skor rata-rata: 8,17
Tabel 12 mengungkapkan bahwa 76% responden dalam penelitian ini kepatuhan terhadap norma susila yang termasuk kategori tidak patuh, hingga patuh terhadap norma susila. Dengan demikian responden tidak sungguh-sungguh dalam menjalankan norma-norma kehidupan dalam masyarakatnya.
4.2.12 Distribusi Responden berdasarkan Pengaruh Lingkungan Sosial Daerah Asal
Pengaruh lingkungan sosial daerah asal yaitu, lingkungan tempat responden dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarganya dimana lingkungan tersebut berpengaruh terhadap responden.
Pada bagian tingkat pengaruh lingkungan sosial responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) tidak berpengaruh, (2) berpengaruh, dan (3) sangat berpengaruh. Adapun kategori tidak berpengaruh dengan skor delapan enam belas, berpengaruh dengan skor tujuh belas sampai dua puluh satu, dan terakhir kategori sangat berpengaruh berkisar dari skor dua puluh dua sampai skor tiga puluh satu.
Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan pengaruh lingkungan sosial daerah asal dapat dilihat pada Tabel 13 berikut ini.
Tabel 13. Distribusi responden berdasarkan pengaruh lingkungan sosial daerah asal
Pengaruh lingkungan sosial
daerah asal Jumlah Persentase
Tidak berpengaruh 38 38
Berpengaruh 32 32
Sangat berpengaruh 30 30
Jumlah 100 100
Skor minimum: 8 Skor maksimum: 31 Skor rata-rata: 18,56
Tabel 13 mengungkapkan bahwa 38% responden dalam penelitian ini tidak terpengaruh oleh lingkungan sosial daerah asal, baik tempat kehidupannya dibesarkan maupun tempat pergaulan sebelum menjadi WTS.
4.2.13 Distribusi responden berdasarkan jarak tempat bekerja
Jarak tempat bekerja yang dimaksud dalam penelitian ini ialah jarak tempat tinggal responden dengan tempat bekerja sebagai wanita tuna susila.
Pada bagian jarak tempat bekerja responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) dekat, (2) sedang, dan (3) jauh. Adapun kategori dekat berkisar dari seratus meter sampai satu kilo meter, kategori sedang berkisar dari satu setengah kilo meter sampai dua setengah kilometer, dan terakhir kategori jauh berkisar dari tiga kilometer sampai seratus kilometer.
Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan jarak tempat bekerja sebagai wanita tuna susila dapat dilihat pada Tabel 14 berikut ini.
Tabel 14 Distribusi responden berdasarkan jarak tempat bekerja Tempat bekerja Jumlah Persentase Tabel 14 mengungkapkan bahwa 35% responden dalam penelitian ini jarak dari tempat tinggal ke tempat bekerjanya yang termasuk kategori jauh, dengan jarak rata-rata yang ditempuh sekitar 7,4 kilometer. Hal ini menunjukan bahwa mereka benar-benar memerlukan pekerjaan ini.
4.2.14 Distribusi Responden berdasarkan Intensitas Interaksi dengan WTS lain
Intensitas interaksi responden dengan wanita tuna susila lain yang dimaksud dalam penelitian ini ialah frekuensi hubungan responden dengan wanita tuna susila lainnya dalam kurun waktu satu minggu.
Pada bagian intensitas interaksi responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) rendah, (2) sedang, dan (3) tinggi. Adapun kategori rendah berkisar dari dua kali sampai tiga kali, kategori sedang berkisar dari empat kali, dan kategori tinggi berkisar dari lima sampai enam kali dalam satu minggu
Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan intensitas interaksi responden dengan wanita tuna susila lain dapat dilihat pada Tabel 15 berikut ini.
Tabel 15. Distribusi responden berdasarkan intensitas interaksi dengan WTS lain
Tabel 15 mengungkapkan bahwa 41% responden dalam penelitian ini intensitas interaksi dengan WTS lain atau rekannya termasuk dalam kategori sedang, yaitu sekitar empat kali dalam satu minggu.
4.2.15 Distribusi Responden berdasarkan Orang Yang mengajari/
melatih tentang seksual
Yang mengajar atau melatih seksual yang dimaksud dalam penelitian ini ialah banyaknya responden menerima informasi dan cara-cara melakukan seksual dengan pelanggan sampai saat penelitian dilaksanakan.
Pada bagian yang mengajari atau melatih seksual responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) rendah, (2) sedang, dan (3) tinggi. Adapun kategori rendah berkisar dari lima sampai enam kali, kategori sedang berkisar dari tujuh kali sampai sepuluh kali, dan terakhir kategori tinggi berkisar dari sebelas kali sampai dengan dua puluh satu kali.
Hasil penelitian distribusi responden yang diajari atau dilatih cara melakukan hubungan seksual dapat dilihat pada Tabel 16 berikut ini.
Tabel 16. Distribusi responden berdasarkan yang mengajari atau melatih seksual
Yang mengajar atau melatih
seksual Jumlah Persentase
Rendah 34 34
Sedang 40 40
Tinggi 26 26
Jumlah 100 100
Minimum : 5 kali Maksimum : 21 kali Rata-rata : 9 kali
Tabel 16 mengungkapkan bahwa 40% responden dalam penelitian ini pernah diajari atau dilatih tentang pengetahuan dan informasi cara melakukan hubungan seksual, dalam kategori sedang, ialah bahwa selama menjadi WTS rata-rata diajari sebanyak sekitar 9 kali tentang bagaimana cara melakukan hubungan seksual.
4.2.16 Distribusi responden berdasarkan Intensitas hubungan dengan pelanggan
Intensitas hubungan dengan pelanggan yang dimaksud dalam penelitian ini ialah banyaknya hubungan yang telah dilakukan responden dengan pelanggan dalam kurun waktu satu minggu.
Pada bagian intensitas hubungan responden dengan pelanggan dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) rendah, (2) sedang, dan (3) tinggi. Adapun kategori rendah berkisar dari dua kali sampai tiga kali, kategori sedang berkisar dari empat sampai dengan lima kali, dan terakhir kategori tinggi berkisar dari enam kali sampai dengan sepuluh kali.
Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan intensitas hubungan dengan pelanggan dapat dilihat pada Tabel 17 berikut ini.
Tabel 17. Distribusi responden berdasarkan intensitas hubungan dengan pelanggan
Intensitas hubungan dengan
pelanggan (per minggu) Jumlah Persentase
Rendah 26 26
Sedang 36 36
Tinggi 38 38
Jumlah 100 100
Minimum : 2 kali Maksimum : 10 kali Rata-rata : 5 kali
Tabel 17 mengungkapkan bahwa 38% responden dalam penelitian ini intensitas hubungan dengan pelanggannya termasuk kategori tinggi, ialah 6 – 10 kali per minggu, atau setiap hari sekali.
4.2.17 Distribusi Responden berdasarkan Persepsi hedonisme
Persepsi hedonisme seks yang dimaksud dalam penelitian ini responden melakukan seks hanya untuk kesenangan.
Pada bagian persepsi hedonisme responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) rendah, (2) sedang, dan (3) tinggi. Adapun kategori rendah berkisar dari skor empat sampai skor lima, kategori sedang berkisar dari skor enam sampai
dengan sepuluh dan terakhir kategori tinggi berkisar dari skor sebelas sampai dengan skor dua puluh satu.
Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan persepsi hedonisme dapat dilihat pada Tabel 18 berikut ini.
Hasil penelitian distribusi responden berdasarkan persepsi hedonisme dapat dilihat pada Tabel 18 berikut ini.