HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
2. Distribusi Sampel Berdasarkan Tingkat Kapasitas Aerobik
Seperti yang terlihat pada tabel 5.2. Pada saat pretest tidak terdapat responden yang termasuk dalam kategori baik sekali tetapi pada saat posttest mengalami peningkatan menjadi 5 orang. Begitupun pada kategori baik yang saat pretest hanya terdapat 6 orang kemudian saat posttest jumlahnya bertambah 6 orang sehingga menjadi 12 orang.
Selanjutnya pada kategori cukup saat pretest hanya terdapat 5 orang tetapi jumlahnya bertambah 8 orang saat posttest sehingga menjadi 13 orang. Adapun pada kategori kurang saat pretest terdapat 9 orang tetapi jumlahnya menurun sebanyak 7 orang pada saat posttest sehingga menjadi 2 orang saja. Selanjutnya pada kategori kurang sekali saat pretest terdapat 12 orang tetapi pada saat posttest sudah tidak terdapat responden yang termasuk dalam kategori tersebut.
3. Pengaruh Pemberian Metode Interval Training terhadap Perubahan Kapasitas Aerobik
Berdasarkan gambar 5.1 dapat dilihat bahwa terdapat satu responden yang mengalami penurunan secara kategori antara hasil pretest dan posttest nya. Pada saat pretest responden mendapatkan
55
nilai 523 detik yang termasuk dalam kategori baik namun pada saat posttest nilai yang didapatkan adalah 565 detik yang termasuk dalam kategori cukup. Hal ini disebabkan oleh aktivitas fisik lain yang dilakukan oleh responden sebelumnya yang menyebabkan terjadinya kelelahan sesaat sebelum dilakukan posttest sehingga pada saat responden berlari menempuh jarak 1600 m, reponden tersebut membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan tes tersebut dibandingkan pada saat pretest dimana kondisi responden dalam keadaan prima dan tidak mengalami kelelahan sehingga waktu tempuh yang digunakan untuk menyelesaikaan tes lari 1600 m lebih sedikit.
Adapun responden ke 28 pada saat pretest mendapatkan nilai 532 detik yang termasuk dalam kategori baik dan pada saat posttest mendapatkan nilai 530 detik yang masih dalam kategori baik.
Walaupun dalam kategori yang sama tetapi tetap dikatakan ada perubahan jika dilihat dari nilai yang diperoleh. Nilai tersebut adalah waktu (dalam satuan detik) yang digunakan oleh responden untuk menyelesaikan tes lari 1600 m yang merupakan parameter untuk mengukur kapasitas aerobik pada anak-anak, semakin sedikit waktu yang digunakan artinya tingkat kapasitas aerobik yang dimiliki seseorang semakin bagus begitupun sebaliknya jika waktu yang digunakan untuk menyelesaikan jarak tersebut semakin banyak artinya tingkat kapasitas aerobik yang dimiliki juga semakin kurang atau kategorinya semakin rendah.
Meskipun ada responden yang justru mengalami penurunan tingkat kapasitas aerobik setelah mengikuti metode interval training yang diberikan selama 12 kali pertemuan, tetapi lebih banyak responden yang mengalami peningkatan kapasitas aerobik jika dibandingkan antara hasil pretest dan posttest yang didapatkan. Ada 8 responden yang pada saat pretest hanya berada dikategori kurang sekali tetapi pada saat posttest meningkat menjadi kategori cukup.
Artinya responden tersebut naik dua tingkat. Terdapat juga 4 responden yang pada saat pretest berada dikategori kurang tetapi meningkat 2 tingkat menjadi kategori baik pada saat pretest. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu frekuensi latihan yang diberikan, aktivitas fisik yang dilakukan dan juga karena faktor genetik.
Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah frekuensi latihan yang diberikan. Sesuai dengan teori latihan bahwa untuk dapat memelihara kapasitas aerobik dan memperoleh kesegaran jasmani, maka latihan sebaiknya dilakukan dengan frekuensi latihan 3-4 kali per minggu (Barteck dalam Suharjana, 2013). Seperti yang diketahui sampel pada penelitian ini adalah atlet multilateral yang pada dasarnya adalah atlet yang masih sangat muda usianya. Oleh karena itu, pemberian beban latihan pada tahap ini tidak memerlukan frekuensi yang banyak dalam satu minggu. Frekuensi latihan hanya berkisar 3 kali dalam seminggu dan diselingi dengan satu hari istirahat untuk memberikan kesempatan kepada otot untuk berkembang dan beradaptasi pada hari istirahat tersebut (Harsono, 2000). Hal ini juga
57
dikarenakan ketahanan seseorang akan menurun setelah 48 jam tidak melakukan pelatihan. Jadi sebelum ketahanan menurun harus berlatih lagi.
Pada penelitian ini latihannya adalah menempuh jarak 200 m.
Secara fisiologis, pada saat lari jarak 200 m terjadi adaptasi jantung dimana pada awal latihan jantung berdetak kencang namun perlahan-lahan menjadi stabil karena kekuatan otot jantung bertambah untuk memompakan darah. Dikarenakan lari 200 m jaraknya jauh artinya aktivitas fisik yang dilakukan semakin berat sehingga kebutuhan oksigen didalam tubuh semakin besar. Untuk mengimbangi hal tersebut jantung dan sistem peredaran darah harus bekerja lebih untuk memenuhi kebutuhan oksigen dijaringan tubuh. Hal ini memiliki pengaruh yang positif terhadap peningkatan VO2Max yang merupakan faktor yang dominan dalam menunjukkan kemampuan tubuh seseorang serta kemampuan VO2Max akan memberikan gambaran terhadap besarnya kemampuan motorik (motoric power).
Pada saat berlatih hawa tidal tidak akan meningkat atau pernafasan menjadi lebih dalam. Dengan pernafasan yang lebih dalam maka tekanan udara dalam paru akan meningkata, sehingga difusi (pertukaran gas) antara O2 dan CO2 juga akan meningkat.
Meningkatnya hawa tidal disertai frekuensi pernafasan yang meningkat maka ventilasi (udara yang masuk selama satu menit) juga akan meningkat. Semakin tinggi intensitas latihan, frekuensi pernafasan juga akan semakin tinggi, sehingga ventilasi juga akan
semakin tinggi. Kemampuan maksimal fungsi jantung, paru-paru merupakan penilaian terbaik kemampuan tubuh seseorang untuk mengukur konsumsi oksigen maksimal.
Selain kedua faktor eksternal tersebut, faktor internal yang juga sangat berpengaruh terhadap kapasitas aerobik dari setiap responden adalah faktor genetik yakni sifat-sifat spesifik yang ada dalam tubuh seseorang sejak lahir. Sebuah penelitian mengatakan bahwa herediter bertanggung jawab atas 25-40% dari perbedaan nilai VO2Max sedangkan penelitian lain mengatakan bahwa lebih dari setengah perbedaan kekuatan maksimal aerobik dikarenakan oleh perbedaan genotype dan faktor lingkungan (nutrisi) sebagai penyebab lainnya.
Ada banyak faktor yang memberikan kontribusi pada kebugaran aerobik, termasuk kapasitas maksimal sistem respiratory dan kardiovaskuler, jantung yang lebih besar, sel darah merah dan hemoglobin yang lebih banyak (Sharkey,2003). Pengaruh genetik pada kekuatam otot dan daya tahan otot pada umumnya berhubungan dengan komposisi serabut otot yang terdiri dari serat merah dan serat putih. Seseorang yang memiliki lebih banyak serat otot rangka merah lebih tepat untuk melakukan kegiatan yang bersifat aerobik, sedangkan yang lebih banyak memiliki serat otot rangka putih, lebih mampu melakukan kegiatan yang bersifat anaerobik.
Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa ada pengaruh pemberian metode interval training terhadap perubahan kapasitas aerobik pada anak tahap multilateral disekolah sepak bola Anyelir
59
Football Club makassar. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rahmayana (2016) dengan memberikan latihan Interval Training sebanyak 12 kali pertemuan terhadap 24 orang didapatkan hasil bahwa latihan tersebut dapat meningkatkan kapasitas aerobik. Hasil penelitian lainnya dilakukan oleh Khotimah pada tahun 2011 dengan menerapkan latihan terhadap 34 siswa putra kelas VII SMP Negeri 1 Baki Sukoharjo dengan menerapkan 16 kali pertemuan dan juga didapatkan hasil bahwa latihan interval training dapat meningkatkan daya tahan aerobik.