• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH METODE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH METODE"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH METODE INTERVAL TRAINING TERHADAP PERUBAHAN KAPASITAS AEROBIK PADA ANAK TAHAP MULTILATERAL DI SEKOLAH SEPAK BOLA ANYELIR

FOOTBALL CLUB MAKASSAR

SKRIPSI

MARIA ULFHA IBRAHIM C131 14 004

PROGRAM STUDI FISIOTERAPI FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2018

(2)

ii

FOOTBALL CLUB MAKASSAR

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana

Disusun dan diajukan oleh

MARIA ULFHA IBRAHIM C131 14 004

kepada

PROGRAM STUDI FISIOTERAPI FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2018

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

(6)

vi

Dengan menyebut nama Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT dan salam serta shalawat kepada Rasulullah SAW, berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehinga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul

“Pengaruh Metode Interval Training Terhadap Perubahan Kapasitas Aerobik pada Anak Tahap Multilateral di Sekolah Sepak Bola Anyelir Football Club Makassar”.

Skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan studi Sarjana Fisioterapi Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin. Penulis juga menyadari bahwa pelaksanaan ini tidak akan terselesaikan tanpa ada dukungan dan partisipasi dari berbagai pihak, maka izinkanlah penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1) Kedua orang tua tercinta, Ibrahim dan Uswatun Hasanah atas segala do’a, kasih sayang dan dukungan yang luar biasa kepada penulis. Semoga kelak Allah SWT membalas ketulusan mereka berdua. Aamiin.

2) Bapak Dr. H. Djohan Aras, S.Ft, Physio, M.Pd, M.Kes, selaku ketua program studi fisioterapi dan sebagai pembimbing akademis yang telah memberikan bimbingan selama perkuliahan di program studi fisioterapi.

3) Ita Rini, S.Ft.,Physio.,M.Kes dan Dian Amaliah Nawir, S.Ft.,Physio.,M.Kes, selaku dosen pembimbing yang menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam penyusunan skripsi ini.

(7)

vii

4) Andi Besse Ahsaniyah, S.Ft., Physio., M.Kes dan Andi Rahmaniar S, S.Ft, Physio, M.Kes, yang telah meluangkan waktu untuk menguji dan memberikan revisi pada penyusunan skripsi ini.

5) Kakak dan adik-adikku tercinta (Abd.Kadir, Tina dan Zahra) terima kasih telah mendo’akan dan memberikan dukungan kepada penulis selama ini.

6) Teman, sahabat sekaligus partner dalam menempuh pendidikan sejak dari SMA (Mahathir R) terima kasih telah meluangkan waktu untuk membantu penulis selama ini dan bersedia mendengar keluh kesah penulis.

7) Sahabat yang sudah seperti saudara sendiri selama 4 tahun terakhir (Dewi dan Ulmi) terima kasih untuk segala waktu, perhatian dan kebersamaannya. Tidak terkira rasa syukur dan beruntungnya penulis dipertemukan dengan kalian.

8) Best Friend Till Jannah (Darna, Masni dan Marni) kalian keluarga kedua tempat memecah rindu terbaik, terima kasih untuk kesetiaannya sejak SMP.

9) Sahabat SC14TIC yang senantiasa memberikan semangat dan dukungan yang luar biasa dalam penyelesaian skripsi ini terkhusus (Lili, Intan, Deyul, Fadhil, Chatrin, Meisi, Uus, Akiro, Ririn, Vindy, Savira, Echa, Salwah dan Ikka) terima kasih telah menemani penulis melakukan observasi hingga menyelesaikan penelitian ini dan juga untuk (Ibtisam,temannya dan kenalan temannya) terima kasih telah membantu penulis menemukan tempat penelitian.

10) Keluarga Besar Exact One terima kasih untuk perhatiannya dan canda tawanya terkhusus (Aya, Tanti dan Nur) terima kasih telah mensupport dan selalu memberikan bantuan kepada penulis.

(8)

viii

12) Bapak H. Abd. Kadir selaku kepala pelatih di SBB Anyelir FC Makassar yang telah mengizinkan penulis untuk melakukan penelitian ditempat tersebut.

13) Bapak Ahmad Fatillah selaku staf administrasi program studi fisioterapi yang senantiasa membantu penulis dalam proses penyelesaian skripsi ini.

14) Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Akhir kata penulis berharap Allah S.W.T berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga skripsi ini membawa manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Makassar, 18 Mei 2018 Penulis

(9)

ix

ABSTRAK

MARIA ULFHA IBRAHIM Pengaruh Metode Interval Training Terhadap Perubahan Kapasitas Aerobik Pada Anak Tahap Multilateral di Sekolah Sepak Bola Anyelir Football Club Makassar (dibimbing oleh Ita Rini dan Dian Amaliah Nawir)

Salah satu cabang olahraga yang membutuhkan daya tahan atau endurance yaitu sepak bola. Dalam permainan sepak bola kemampuan daya tahan aerobik yang baik atau VO2 Max yang tinggi sangat diprioritaskan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode latihan Interval Training terhadap perubahan kapasitas aerobik pada anak-anak tahap multilateral cabang olahraga sepak bola.

Penelitian ini merupakan penelitian pre eksperimental design, dengan pendekatan penelitian one group pretest-posttest design. Populasi penelitian adalah siswa Sekolah Sepak Bola Anyelir Makassar yang berusia 6-14 tahun. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah nonprobability sampling yaitu sampel jenuh atau sering disebut total sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan cara mengambil seluruh anggota populasi sebagai responden atau sampel yaitu 32 orang siswa laki-laki.

Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengambilan data primer melalui instrumen pengukuran kapasitas aerobik yaitu tes aerobik lari 1600 m. Penelitian dilakukan selama 4 minggu dengan frekuansi latihan 3 kali dalam 1 minggu. Uji statistik yang digunakan adalah Paired Sample Test. Hasil analisis pre test dan post test memperlihatkan penurunan nilai Tes Aerobik Lari 1600 m yang menunjukkan kapasitas aerobik mengalami peningkatan dengan nilai signifikansi p<0,001. Hal tersebut menunjukkan bahwa metode latihan interval training berpengaruh terhadap perubahan kapasitas aerobik.

Kata Kunci : Latihan interval training, kapasitas aerobik, tahap multilateral

(10)

x

MARIA ULFHA IBRAHIM Effect of Interval Training Methods to Alteration of Aerobic Capacity on Multilateral Stage Children in Anyelir Football Club of Makassar (guided by Ita Rini and Dian Amaliah Nawir)

One of the sports that requires endurance or endurance is football. In a good aerobic endurance football game or high VO2 Max is highly prioritized. This study aims to determine the effect of training methods Interval Training on aerobic capacity changes in children stage multilateral soccer sports.

This research is pre experimental design, with one group pretest-posttest design.

The population of this research is students of Anyelir Football Club of Makassar age 6-14 years old. Sampling technique in this research is nonprobability sampling that is saturated sample or often called total sampling that is sample determination technique by taking all member of population as respondent or sample that is 32 student of boy.

Data collection is done by primary data collection through aerobic capacity measurement instrument that is aerobic test run 1600 m. The study was conducted for 4 weeks with the frequency of exercise 3 times a week. The statistical test used is Paired Sample Test. The results of pretest and post-test analysis showed a decrease of Aerobic Test Score of 1600 m which showed aerobic capacity increased with significance value p<0,001. It shows that the interval training method has an effect on aerobic capacity change.

Keywords: interval training, aerobic capacity, multilateral stage

(11)

xi

DAFTAR ISI

Halaman Judul ... i

Halaman Pengajuan ... ii

Halaman Persetujuan ... iii

Halaman Pengesahan ... iv

Pernyataan Keaslian Skripsi ... v

Kata Pengantar ... vi

Abstrak ... ix

Abstract ... x

Daftar Isi ... xi

Daftar Tabel ... xv

Daftar Gambar ... xvi

Daftar Lampiran ... xvii

Daftar Arti Lambang dan Singkatan ...xviii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

1. Tujuan Umum... 5

2. Tujuan Khusus ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

A. Tinjauan Umum Tentang Kapasitas Aerobik (VO2Max) ... 7

(12)

xii

Kapasitas Aerobik (VO2Max) ... 9

3. Manfaat Kapasitas Aerobik (VO2Max) ... 13

4. Pengukuran Kapasitas Aerobik (VO2Max) ... 14

B. Tinjauan Umum Tentang Latihan Interval Training... 16

1. Pengertian Latihan ... 16

2. Tujuan Latihan... 17

3. Prinsip-prinsip Latihan ... 17

4. Unsur-unsur Latihan ... 23

5. Model Latihan Daya Tahan... 24

6. Latihan Interval Training ... 25

C. Tinjauan Umum Tentang Permainan Sepak Bola... 28

1. Pengertian Sepak Bola Secara Umum ... 28

2. Komponen Kondisi Fisik Pemain Sepak Bola... 30

D. Tinjauan Umum Tentang Hubungan Antara Pemberian Latihan Interval Training Terhadap Perubahan Kapasitas Aerobik (VO2Max) ... 34

E. Kerangka Teori ... 37

BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS ... 38

A. Kerangka Konsep ... 38

B. Hipotesis ... 38

BAB IV METODE PENELITIAN ... 39

A. Metode Penelitian ... 39

(13)

xiii

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 40

1. Tempat Penelitian ... 40

2. Waktu Penelitian ... 40

C. Populasi dan Sampel ... 40

1. Populasi ... 40

2. Sampel... 40

D. Alur Penelitian ... 41

E. Variabel Penelitian ... 41

1. Identifikasi Variabel ... 41

2. Definisi Operasional Variabel ... 41

F. Prosedur Penelitian ... 43

1. Tahap Persiapan ... 43

2. Tahap Pre-test ... 43

3. Pemberian Program Latihan Interval Training Terhadap Kapasitas Aerobik (VO2Max) ... 44

4. Tahap Post-test ... 45

G. Pengolahan dan Analisis Data ... 45

H. Masalah Etika ... 45

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN... 47

A. Hasil Penelitian ... 47

B. Pembahasan ... 52

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 60

A. Kesimpulan ... 60

B. Saran ... 60

(14)

xiv

(15)

xv

DAFTAR TABEL

1. Norma Tes Lari Jarak Menengah (800 meter) ... 15

2. Norma Tes Lari Jarak Menengah (1600 meter) untuk Laki-laki ... 16

3. Norma Tes Lari Jarak Menengah (1600 meter) untuk Perempuan ... 16

4. Interval Training lambat dengan Jarak lebih jauh ... 27

5. Interval Training cepat dengan Jarak lebih dekat ... 27

6. Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Usia ... 47

7. Distribusi Sampel Berdasarkan Tingkat Kapasitas Aerobik ... 48

8. Distribusi Tingkat Kapasitas Aerobik Berdasarkan Usia ... 49

9. Hasil uji normalitas data pretest dan posttest ... 50

10. Hasil uji Hipotesis ... 51

(16)

xvi

1. Piramida Latihan Olahraga Usia Sekolah sampai

Mencapai Prestasi Puncak ... 18

2. Prinsip Periodisasi Latihan ... 19

3. Lapangan Sepak Bola ... 29

4. Kerangka Teori ... 37

5. Kerangka Konsep ... 38

6. Desain Penelitian ... 39

7. Alur Penelitian ... 41

8. Grafik Perubahan Kapasitas Aerobik antara Sebelum dan Sesudah Pemberian Latihan Interval Training ... 51

(17)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

1. Lembar Informed Consent ... 66

2. Lembar Formulir Penelitian ... 68

3. Lembar Pengukuran Kapasitas Aerobik ... 69

4. Lembar Kontrol Pemberian Program Latihan Interval Training Untuk Kapasitas Aerobik (VO2Max) ... 71

5. Hasil Olah Data Statistik ... 72

6. Surat Keterangan Izin Penelitian ... 79

7. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ... 80

8. Dokumentasi ... 81

9. Riwayat Hidup Peneliti ... 83

(18)

xviii

DAFTAR ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN

Lambang/Singkatan Arti dan Keterangan VO2Max

m SSB

Volume Oksigen Maksimal Meter (satuan panjang) Sekolah Sepak Bola

(19)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Latihan olahraga haruslah dimulai dari usia anak-anak sehingga tubuh dan pikirannya dapat dikembangkan secara progresif dan sistematis. Melatih anak-anak calon atlet harus dilakukan secara seksama memperhatikan dan memahami prinsip-prinsip latihan yang dikaji dalam ilmu faal, teori pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai usianya, psikologi anak usia sekolah, nutrisi dan juga pedagogik agar prestasi puncak dapat diraih sesuai dengan tujuan yang dirumuskan dalam program latihan jangka panjang (Sidik, 2015).

Dalam kegiatan olahraga, salah satu hal yang menunjang prestasi olahraga adalah seberapa besar tingkat kebugaran aerobik yang dimiliki, karena dengan mempunyai tingkat kebugaran aerobik yang baik, seseorang akan mempunyai daya tahan atau endurance yang baik yang berguna dalam menunjang kegiatan olahraga yang dilakukan. Daya tahan tersebut ditentukan oleh kemampuan jantung dan paru-paru dalam menghirup oksigen dan menyalurkannya pada bagian tubuh, yang bekerja dalam rentang waktu lebih dari tiga menit atau lebih dikenal dengan istilah VO2Max. Oksigen yang digunakan juga ditentukan oleh ukuran tubuh seseorang, karena semua jaringan yang ada pada tubuh mempergunakan oksigen tersebut. Sehingga jika seseorang mempunyai ukuran tubuh yang besar, maka konsumsi oksigen

(20)

maksimal yang dibutuhkan juga lebih besar jika dibandingkan dengan orang yang memiliki tubuh lebih kecil (Kurniawan, 2010).

Salah satu cabang olahraga yang membutuhkan daya tahan atau endurance yaitu sepak bola. Dalam permainan sepak bola kemampuan daya tahan aerobik yang baik atau VO2 Max yang tinggi sangat diprioritaskan.

Sebab, tanpa daya tahan permainan terbaikpun akan mengalami kelelahan selama permainan 90 menit. Seorang pemain dengan daya tahan yang baik akan mempunyai pemulihan yang singkat setelah melakukan gerakan dengan cepat dan tenaga intensif. Hal inilah yang menjadi sangat berperan dan penting untuk diperhatikan bahwa daya tahan sangat dibutuhkan oleh seorang pemain sepak bola untuk diterapkan dalam metode pelatihan. Oleh karenanya pemain sepak bola perlu terlatih akan hal daya tahan aerobik.

Sepak bola merupakan olahraga yang cukup berat, mengingat seorang pemain harus dapat bermain selama 90 menit. Kegiatan fisik yang terus menerus dengan berbagai bentuk gerakan seperti berlari, melompat, beradu badan (body charge) dan sebagainya jelas memerlukan daya tahan yang tinggi. Permainan sepak bola masa kini, pemain dituntut untuk dapat menguasai bola lebih lam, sehingga peluang untuk menciptakan gol cukup besar, penguasaan bola yang lebih baik maka diperlukan suatu kondisi fisik yang baik. Apabila kondisi fisik atlet dalam keadaan baik maka atlet akan lebih cepat menguasai teknik-teknik gerakan yang dilatihkan. Secara psikologis atlet yang memiliki kondisi fisik yang baik akan merasa lebih percaya diri dan lebih siap dalam menghadapi tantangan-tantangan latihan dan pertandingan. Oleh karenanya latihan daya tahan atau kapasitas aerobik

(21)

3

(VO2Max) haruslah direncanakan secara sistematis yang ditujukan untuk meningkatkan kondisi fisik dan kemampuan fungsional dari sistem tubuh sehingga dengan demikian dapat mencapai prestasi yang lebih baik (Irwandi, 2016).

Salah satu tes untuk mengetahui sejauh mana tingkat VO2Max yaitu dengan menggunakan Tes Aerobik Lari 800 m dan 1600 m. Tes Aerobik Lari 800 m dan 1600 m merupakan salah satu tes untuk mengukur tingkat VO2Max khusus pada anak-anak. Kegunaan dari tes ini adalah untuk memperkirakan atau mengetahui kemampuan aerobik. Hasil tes ini untuk memprediksi berapa lama seseorang mampu beraktivitas dan bertahan dalam kondisi aerobik.

Upaya meningkatkan kapasitas aerobik (VO2Max) bagi calon atlet pemain sepak bola melalui program latihan yang tepat sangat diperlukan.

Sebab untuk mendapatkan prestasi maksimal di usia emas dibutuhkan program latihan jangka panjang yang berkesinambungan dari usia dini atau usia sekolah (6 sampai 8 tahun). Sukses dalam kompetisi merupakan hasil dari sebuah perencanaan, kerja keras, dan komitmen, serta tentunya dengan latihan yang berjenjang mulai dari usia dini sampai usia lanjut dan senior.

Fisioterapis sebagai tenaga kesehatan profesional yang mempromosikan, membimbing, memberikan resep, dan mengupayakan serta mengelola kegiatan olahraga dapat berperan aktif dalam memberikan program latihan untuk meningkatkan kemampuan pemain (WCPT, 2010, dalam Indrayanti, 2012). Dengan adanya program latihan, maka diharapkan fisioterapi olahraga

(22)

dapat semakin berkembang dan lebih dikenal lagi (Australian Physiotherapy Association, 2006 dalam Indrayanti, 2012).

Ada beberapa jenis latihan untuk meningkatkan kapasitas aerobik (VO2Max) salah satunya adalah metode latihan interval training yaitu suatu sistem latihan yang diselingi oleh interval-interval yang berupa masa-masa istirahat. Jadi, latihan (misalnya lari) – istirahat – latihan – istirahat – latihan dan seterusnya. Adapun beberapa keuntungan yang diperoleh jika menggunakan metode latihan Interval Training yaitu pengontrolan latihan lebih teliti, peningkatan potensi energi lebih cepat daripada metode conditioning lainnya dan latihan ini juga tidak memerlukan peralatan khusus.

Berdasarkan latar belakang tersebut dan hasil observasi yang dilakukan di salah satu Sekolah Sepak Bola atau biasa disingkat SSB yaitu tepatnya di SSB Anyelir FC Makassar didapatkan bahwa selama terbentuknya SSB belum ada referensi atau data terkait dengan tes dan pengukuran yang berhubungan dengan kapasitas aerobik. Setelah dilakukan pretest awal data yang diperoleh yaitu dari total populasi 32 anak terdapat 12 anak yang memiliki kapasitas aerobik (VO2Max) termasuk dalam kategori kurang sekali.

Maka dari itu penulis tertarik meneliti dan mengkaji tentang “Pengaruh Metode Interval Training Terhadap Perubahan Kapasitas Aerobik pada Anak Tahap Multilateral di Sekolah Sepak bola Anyelir Football Club Makassar”.

(23)

5

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang bahwa pentingnya kapasitas aerobik (VO2Max) pada pemain sepak bola, sehingga menjadi landasan peneliti untuk melakukan penelitian tentang “pengaruh metode interval training terhadap perubahan kapasitas aerobik (vo2max) pada anak tahap multilateral di sekolah sepak bola Anyelir Football Club Makassar”. Oleh karena itu, dapat dikemukakan pertanyaan penelitian sebagai berikut :

“Apakah ada pengaruh metode Interval Training terhadap perubahan Kapasitas Aerobik pada anak tahap multilateral di sekolah sepak bola Anyelir Football Club Makassar?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum

Diketahuinya pengaruh metode Interval Training terhadap perubahan kapasitas aerobik pada anak tahap multilateral di sekolah sepak bola Anyelir Football Club Makassar tahun 2018.

2. Tujuan khusus

a. Diketahuinya kapasitas aerobik pada anak tahap multilateral di sekolah sepak bola Anyelir Football Club Makassar sebelum diberikan metode Interval Training

b. Diketahuinya kapasitas aerobik pada anak tahap multilateral di sekolah sepak bola Anyelir Football Club Makassar setelah diberikan metode Interval Training

(24)

c. Diketahuinya pengaruh metode Interval Training terhadap perubahan kapasitas aerobik pada anak tahap multilateral di sekolah sepak bola Anyelir Football Club Makassar.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Aplikatif

a. Bagi atlet dan Pelatih

Hasil penelitian ini dapat dijadikan pelatih maupun pembina sebagai pembanding dalam memberikan porsi latihan dengan menggunakan metode interval training untuk meningkatkan daya tahan sesuai kebutuhan atlet muda untuk peningkatan prestasi dimasa depan.

b. Bagi Peneliti dan Fisioterapi

Memberi informasi untuk penelitian lebih lanjut terkait kapasitas aerobik (VO2Max) pada anak usia sekolah dasar.

c. Bagi Masyarakat

Sebagai tambahan wawasan ilmu serta menjadi salah satu acuan latihan untuk meningkatkan kapasitas aerobik (VO2Max) pada orang yang melakukan olahraga individu.

2. Manfaat Akademik

Diperolehnya pemahaman secara teoritis yang pada akhirnya dapat dijadikan sebagai referensi dan rujukan bagi para pelatih maupun atlet muda bahwa VO2Max merupakan modal dasar melakukan aktivitas bertanding dalam olahraga sepak bola.

(25)

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum tentang Kapasitas Aerobik 1. Pengertian Kapasitas Aerobik

Menurut Agung (2014) Indikator tingkat kebugaran jasmani seseorang adalah kemampuan atau kapasitas seseorang untuk menggunakan oksigen sebanyak-banyaknya (Kapasitas Aerobik Maksimal = VO2Max). Salah satu cara penting untuk menentukan kesegaran kardiovaskular adalah mengukur besarnya VO2Max.

VO2Max juga disebut daya aerobik atau kapasitas aerobik maksimal yang merupakan kecepatan pemakaian oksigen dalam metabolisme aerobik maksimum (Guyton, 2014).

VO2Max adalah hasil dari curah jantung maksimal dan ekstraksi oksigen (O2) maksimal oleh jaringan dan keduanya meningkat dengan latihan. Perubahan yang terjadi pada otot rangka dengan latihan adalah peningkatan jumlah mitokondria dan enzim yang berperan dalam metabolisme oksidatif. Terjadi peningkatan jumlah kapiler dengan distribusi darah ke serat otot menjadi lebih baik. Efek akhir ialah ekstraksi O2 yang lebih sempurna dan akibatnya untuk beban kerja yang sama, peningkatan pembentukan laktat lebih rendah. Peningkatan aliran darah ke otot menjadi lebih rendah dan karena hal ini, kecepatan denyut jantung dan curah jantung kurang meningkat dibanding orang yang tidak terlatih (Ganong, 2009).

(26)

VO2Max merupakan nilai tertinggi dimana seseorang dapat mengkonsumsi oksigen selama latihan, serta merupakan refleksi dari unsur kardiorespirasi dan hematologik dari pengantaran oksigen dan mekanisme oksidatif otot, orang dengan tingkat kebugaran yang baik memiliki nilai VO2Max lebih tinggi dan dapat melakukan aktivitas lebih kuat dibanding mereka yang tidak dalam kondisi baik. Tenaga aerobik maksimal, sering kali disebut penggunaan oksigen maksimal, adalah tempo tercepat dimana seseorang dapat menggunakan oksigen selama olahraga yang dalam litelatur fisiologis tenaga aerobik maksimal disingkat sebagai VO2Max (Menurut Pate, 1993 dalam Agung, 2014). Berikutnya Pate juga menjelaskan bahwa VO2Max adalah kecepatan terbesar pemakaian oksigen dan merupakan ukuran mutlak kecepatan terbesar dimana seseorang dapat menyediakan energi ATP dengan metabolisme aerobik.

Hampson, sorang ahli fisiologis menggambarkan VO2Max atau volume oksigen maksimal merupakan suatu ukuran kapisitas setiap individu dalam menghasilkan energi yang diperlukan saat aktifitas daya tahan. VO2Max adalah salah satu faktor yang paling utama untuk menentukan kemampuan individu berlatih yang lebih panjang dibanding latihan selama empat atau lima menit.

VO2Max adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan oksigen selama kegiatan maksimal. Besarnya pasokan energi yang berasal dari sistim aerobik maksimal disebut dengan daya aerobik maksimal. Adapaun daya aerobik maksimal juga disebut dengan

(27)

9

VO2Max, yaitu banyaknya ambilan oksigen persatuan waktu pada saat tubuh melakukan pengerahan tenaga maksimum. Kapasitas aerobik maksimal biasanya dinyatakan dengan maksimal uptake dan merupakan salah satu faktor penting untuk menunjang prestasi kerja dan ketahanan fisik seseorang (Sulistyarto,2008).

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kapasitas Aerobik (VO2Max) Menurut Pate, dkk (1993) dalam Agung (2014) Ada beberapa faktor yang mempengaruhi nilai VO2Max yaitu antara lain:

a. Umur

Penelitian cross-sectional dan longitudinal nilai VO2Max pada anak usia 8-16 tahun yang tidak dilatih menunjukkan kenaikan progresif dan linier dari puncak kemampuan aerobik, sehubungan dengan umur kronologis pada anak perempuan dan laki-laki. VO2Max anak laki-laki menjadi lebih tinggi mulai umur 10 tahun, walau ada yang berpendapat latihan ketahanan tidak terpengaruh pada kemampuan aerobik sebelum usia 11 tahun.

Puncak nilai VO2Max dicapai kurang lebih pada usia 18-20 tahun pada kedua jenis kelamin.

Secara umum, kemampuan aerobik turun perlahan setelah usia 25 tahun. Penelitian dari Jackson AS et al. menemukan bahwa penurunan rata-rata VO2Max per tahun adalah 0.46 ml/kg/menit untuk pria (1.2%) dan 0.54 ml/kg/menit untuk wanita (1.7%).

Penurunan ini terjadi karena beberapa hal, termasuk reduksi denyut jantung maksimal dan isi sekuncup jantung maksimal.

(28)

b. Jenis kelamin

Kemampuan aerobik wanita sekitar 20% lebih rendah dari pria pada usia yang sama. Hal ini dikarenakan perbedaan hormonal yang menyebabkan wanita memiliki konsentrasi hemoglobin lebih rendah dan lemak tubuh lebih besar. Wanita juga memiliki massa otot lebih kecil daripada pria. Mulai umur 10 tahun, VO2Max anak laki-laki menjadi lebih tinggi 12% dari anak perempuan. Pada umur 12 tahun, perbedaannya menjadi 20%, dan pada umur 16 tahun VO2Max anak laki-laki 37% lebih tinggi dibanding anak perempuan.

Sehubungan dengan jenis kelamin wanita, Lebrun et al dalam penelitiannya tahun 1995 pada 16 wanita yang mendapat latihan fisik sedang, melakukan pengukuran serum estradiol dan progesteron untuk memantau fase-fase menstruasi. Dari penelitian tersebut didapatkan bahwa VO2Max absolut meningkat selama fase folikuler dibanding dengan fase luteal.

c. Suhu

Pada fase luteal menstruasi, kadar progesteron meningkat.

Padahal progesteron memiliki efek termogenik, yaitu dapat meningkatkan suhu basal tubuh. Efek termogenik dari progesteron ini rupanya meningkatkan Basal Metabolic Rate (BMR), sehingga akan berpengaruh pada kerja kardiovaskuler dan akhirnya berpengaruh pula pada nilai VO2Max. Sehingga, secara tidak langsung, perubahan suhu akan berpengaruh pada nilai VO2Max.

(29)

11

d. Keadaan latihan

Latihan fisik dapat meningkatkan nilai VO2Max. Namun begitu, VO2Max ini tidak terpaku pada nilai tertentu, tetapi dapat berubah sesuai tingkat dan intensitas aktivitas fisik. Contohnya, bedrest lama dapat menurunkan VO2Max antara 15%-25%, sementara latihan fisik intens yang teratur dapat menaikkan VO2Max dengan nilai yang hampir serupa. Latihan fisik yang efektif bersifat endurance (ketahanan) meliputi durasi, frekuensi, dan intensitas tertentu. Sehingga dengan begitu dapat dikatakan bahwa kegiatan dan latar belakang latihan seorang atlet dapat mempengaruhi nilai VO2Max nya.

e. Fungsi paru

Pada saat melakukan aktivitas fisik yang intens, terjadi peningkatan kebutuhan oksigen oleh otot yang sedang bekerja.

Kebutuhan oksigen ini didapat dari ventilasi dan pertukaran oksigen dalam paru-paru. Ventilasi merupakan proses mekanik untuk memasukkan atau mengeluarkan udara dari dalam paru.

Proses ini berlanjut dengan pertukaran oksigen dalam alveoli paru dengan cara difusi. Oksigen yang terdifusi masuk dalam kapiler paru untuk selanjutnya diedarkan melalui pembuluh darah ke seluruh tubuh. Untuk dapat memasok kebutuhan oksigen yang adekuat, dibutuhkan paru-paru yang berfungsi dengan baik, termasuk juga kapiler dan pembuluh pulmonalnya. Pada seorang atlet yang terlatih dengan baik, konsumsi oksigen dan ventilasi

(30)

paru total meningkat sekitar 20 kali pada saat ia melakukan latihan dengan intensitas maksimal.

Dalam fungsi paru, dikenal juga istilah perbedaan oksigen arteri-vena (A-V O2diff). Selama aktivitas fisik yang intens, A-V O2

akan meningkat karena oksigen darah lebih banyak dilepas ke otot yang sedang bekerja, sehingga oksigen darah vena berkurang. Hal ini menyebabkan pengiriman oksigen ke jaringan naik hingga tiga kali lipat daripada kondisi biasa. Peningkatan A-VO2diff terjadi serentak dengan peningkatan cardiac output dan pertukaran udara sebagai respon terhadap olah raga berat.

f. Fungsi kardiovaskuler

Respon kardiovaskuler yang paling utama terhadap aktivitas fisik adalah peningkatan cardiac output. Peningkatan ini disebabkan oleh peningkatan isi sekuncup jantung maupun heart rate yang dapat mencapai sekitar 95% dari tingkat maksimalnya.

Karena pemakaian oksigen oleh tubuh tidak dapat lebih dari kecepatan sistem kardiovaskuler menghantarkan oksigen ke jaringan, maka dapat dikatakan bahwa sistem kardiovaskuler dapat membatasi nilai VO2Max.

g. Sel darah merah (Hemoglobin)

Didalam darah oksigen berikatan dengan hemoglobin, maka kadar oksigen dalam darah juga ditentukan oleh kadar hemoglobin yang tersedia. Jika kadar hemoglobin berada di bawah normal, misalnya pada anemia, maka jumlah oksigen dalam darah

(31)

13

juga lebih rendah. Sebaliknya, bila kadar hemoglobin lebih tinggi dari normal, seperti pada keadaan polisitemia, maka kadar oksigen dalam darah akan meningkat. Hal ini juga bisa terjadi sebagai respon adaptasi pada orang-orang yang hidup di tempat tinggi . Kadar hemoglobin rupanya juga dipengaruhi oleh hormon androgen melalui peningkatan pembentukan sel darah merah.

Laki-laki memiliki kadar hemoglobin sekitar 1-2 gr per 100 ml lebih tinggi dibanding wanita.

h. Komposisi tubuh

Jaringan lemak menambah berat badan, tapi tidak mendukung kemampuan untuk secara langsung menggunakan oksigen selama olah raga berat. Maka, jika VO2Max dinyatakan relatif terhadap berat badan, berat lemak cenderung menaikkan angka penyebut tanpa menimbulkan akibat pada pembilang VO2;

VO2 (mk/kg/menit) = VO2 (LO2) x 1000 Berat badan (kg) Jadi, kegemukan cenderung mengurangi VO2max.

3. Manfaat Kapasitas Aerobik

Menurut Debbian (2016), menyatakan bahwa bagi mereka yang terlatih olahraga aerobik secara teratur akan mendapat keuntungan, antara lain:

a. Berkurangnya resiko ganguan pada jantung.

b. Tekanan darahnya yang sebelumnya tinggi akan menurun secara teratur.

(32)

c. Terjadi penurunan kadar lemak yang membahayakan didalam darah dan terjadi kenaikkan kadar lemak yang baik dan bermanfaat bagi tubuh.

d. Tulang-tulang, persendian, dan otot-otot menjadi lebih kuat (tergantung macam latihannya).

Berdasarkan penelitian yang dikemukakan Lutan dkk., (2000) manfaat pembinaan daya tahan kardiorespirasi dapat mengurangi resiko:

a. Tekanan darah tinggi b. Penyakit jantung koroner c. Kegemukan

d. Diabetes

Seperti yang telah dikemukakan diatas, betapa besar manfaat kebugaran kardiorespirasi bagi setiap orang dan khususnya pada seorang atlet. Dengan demikian kebugaran kardiorespirasi yang baik maka seorang atlet akan meningkatkan kebugaran jasmaninya sehingga terhindar dari resiko penyakit dan meningkatkan prestasi.

4. Pengukuran Kapasitas Aerobik

Ada beberapa jenis tes Pengukuran Kapasitas Aerobik (VO2Max), pada penelitian kali ini menggunakan metode Tes Aerobik Lari 800 dan l600 m. Pengukuran kapasitas aerobik dapat dilakukan dengan lari menempuh jarak 800 meter bagi siswa usia 6-7 tahun dan lari jarak 1800 meter untuk siswa diatas 7 tahun (Fenanlampir dan Faruq, 2015).

(33)

15

a. Kegunaan

Untuk memperkirakan atau mengetahui kemampuan aerobik.

Hasil tes ini untuk memprediksi berapa lama seseorang mampu beraktivitas dan bertahan dalam kondisi aerobik. Pengukuran kapasitas aerobik dapat dilakukan dengan lari menempuh jarak tertentu dengan ketentuan sebagai berikut:

1) bagi atlet usia 6-7 tahun : 800 meter;

2) bagi atlet di atas 7 tahun : 1600 meter;

b. Prosedur Pelaksanaan Tes:

Prosedur pelaksanaan tes adalah sebagai berikut.

1) Jumlah lintasan sesuai dengan jumlah alat pengukur waktu dan jumlah petugas pengambil waktu.

2) Atlet berdiri di belakang garis start.

3) Dengan aba-aba “siap”, atlet siap dengan start berdiri.

4) Dengan aba-aba ”ya”, atlet segera berlari secepat-cepatnya dengan menempuh jarak yang telah ditentukan.

5) Alat pengukur waktu dimatikan pada saat tubuh atlet melewati garis akhir. Waktu dicatat dalam satuan menit dan detik.

Tabel 2.1.Norma Tes Lari Jarak Menengah (800 Meter)

Norma

Laki – laki Perempuan

Usia Usia

6 7 6 7

Baik sekali 4 : 27 4 : 11 4 : 46 4 : 32

Baik 4 : 52 4 : 33 5 : 13 4 : 54

Cukup 5 : 23 5 : 00 5 : 44 5 : 25

Kurang 5 : 58 5 : 35 6 : 14 6 : 01

Kurang sekali 6 : 40 6 : 20 6 : 51 6 : 38

(Sumber: Morrow, Jack son, Disch & Mood, 2000)

(34)

Tabel 2.2. Norma Tes Lari Jarak Menengah (1600 meter) pada Laki - laki

Norma

Usia

8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18

Baik sekali 8:46 8:10 8:13 7:25 7:13 6:48 6:27 6:23 6:13 6:08 6:10

Baik 9:29 9:00 8:48 8:02 7:53 7:14 7:08 6:52 6:39 6:40 6:42

Cukup 10:39 10:10 9:52 9:03 8:48 8:04 7:51 7:30 7:27 7:31 7:35

Kurang 12:14 11:44 11:00 10:32 10:13 9:06 9:10 8:30 8:18 8:37 8:34 Kurang sekali 14:05 13:37 12:27 12:07 11:48 10:38 10:34 10:13 9:36 10:43 10:50 (Sumber: Morrow, Jack son, Disch & Mood, 2000)

Tabel 2.3. Norma Tes Lari Jarak Menengah (1600 meter) pada Perempuan

Norma

Usia

8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18

Baik sekali 9:39 9:08 9:09 8:45 8:34 8:27 8:11 8:23 8:28 8:20 8:22

Baik 10:23 5:50 10:09 9:56 9:52 9:30 9:16 9:28 9:25 9:26 9:31

Cukup 11:32 11:13 11:14 11:15 10:58 10:52 10:32 10:46 10:34 10:34 10:51 Kurang 12:59 12:45 12:52 12:45 12:33 12:17 11:49 12:18 12:10 12:03 12:14 Kurang sekali 14:48 14:31 14:20 14:35 14:07 13:45 13:13 14:07 13:42 13:46 15:18 (Sumber: Morrow, Jackson, Disch & Mood, 2000)

B. Tinjauan Umum tentang Latihan Interval Training 1. Pengertian Latihan

Secara sederhana latihan dapat dirumuskan, yaitu segala daya dan upaya untuk meningkatkan secara keseluruhan kondisi fisik dengan proses yang sistematis dan berulang-ulang dengan kian hari kian bertambah jumlah beban latihan, waktu atau intensitasnya.

Latihan yang berasal dari kata training adalah suatu proses penyempurnaan kemampuan dalam berolahraga dengan pendekatan ilmiah, memakai prinsip pendidikan yang terencana dan teratur, sehingga dapat meningkatkan kesiapan dan kemampuan olahragawan.

Adapun pengertian lain dar kata training yaitu merupakan salah satu

(35)

17

bagian yang dapat membentuk adaptasi pada sistem faal tubuh seseorang. Tidak jarang kepribadian atlet sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang tercipta saat pelaksanaan latihan (Wiarto,2013).

2. Tujuan Latihan

Tujuan latihan secara umum adalah membantu para pembina, pelatih dan guru olahraga agar dapat menerapkan dan memiliki kemampuan konseptual serta keterampilan dalam membantu mengungkap potensi olahragawan mencapai puncak prestasi (Mahfud,2014).

3. Prinsip-prinsip Latihan

Latihan olahraga haruslah dimulai dari usia anak-anak sehingga tubuh dan pikirannya dapat dikembangkan secara progresif dan sistematis. Melatih anak-anak calon atlet harus dilakukan secara seksama memperhatikan dan memahami prinsip-prinsip latihan yang dikaji dalam ilmu faal, teori pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai usianya, psikologi anak usia sekolah, nutrisi dan juga pedagogik agar prestasi puncak dapat diraih sesuai dengan tujuan yang dirumuskan dalam program latihan jangka panjang. Bisa dilihat pada gambar piramida latihan olahraga usia sekolah sampai mencapai prestasi puncak (Sidik, 2015).

(36)

Gambar 2.1 Piramida Latihan Olahraga Usia Sekolah sampai mencapai Prestasi Puncak

Sumber : Sidik (2015). Pelatihan Olahraga dan Prinsip Periodisasi Latihan untuk Usia Sekolah (6-18 tahun)

Latihan yang harus dikembangkan pada anak usia sekolah adalah keterampilan teknik gerak dasar yang benar sesuai dengan aturan teknik dasar dan kemampuan fisik dasar yang baik. Latihan keterampilan teknik dasar pada usia anak sekolah sangat penting sekali karena latihan keterampilan membutuhkan koordinasi gerak yang bagus, sekaligus mengasah otak anak untuk mencoba merangkaikan gerakan. Pada dasarnya latihan keterampilan teknik yang baik jika diberikan sejak usia sekolah akan disimpan di memori otaknya yang akan berguna ketika nanti memasuki usia dewasa dan menjadi atlet pada usia emasnya. Oleh karena itu, setiap pelatih dituntut untuk memahami tahapan-tahapan latihan dari aspek-aspek

(37)

19

latihan tersebut sehingga mengetahui kapan dan berapa besar porsi latihan untuk multilateral dan spesialisasi (Sidik, 2015).

Sesuai dengan prinsip periodisasi latihan bahwa untuk usia sekolah (6–18 tahun) terbagi dalam dua penerapan prinsip, yaitu : mulilateral development principle dan specialized principle sehingga masing-masing mempunyai tahapan proses seperti terlihat pada gambar berikut.

Gambar 2.2 Prinsip Periodisasi Latihan

Sumber : Sidik (2015). Pelatihan Olahraga dan Prinsip Periodisasi Latihan untuk Usia Sekolah (6-18 tahun)

(38)

Adapun bentuk pelatihan pada tahap permulaan dan pembentukan yaitu dapat berupa kemampuan keterampilan gerak dasar dan kemampuan fisik dasar.

a. Latihan kemampuan keterampilan gerak

Keterampilan gerak (motor ability) merupakan salah satu kondisi internal yang membedakan setiap individu dalam mengembangkan suatu keterampilan gerak, dapat dipandang sebagai landasan keberhasilan mas yang akan datang didalam melakukan keterampilan gerak. Perbedaan kemampuan gerak memiliki implikasi terhadap proses latihan. Ketepatan dan penugasan keterampilan olahraga dipengaruhi kemampuan gerak, sehingga tinggi rendahnya kemampuan gerak yang dimiliki atlet menentukan keterampilan dari atlet itu sendiri. Perbedaan kemampuan gerak atlet akan menjadi bahan pertimbangan yang penting ketika pelatih atau guru memilih atau menentukan metode latihan yang sesuai dengan karakter masing- masing atlet atau siswa. (Darmawan, 2013).

b. Latihan fisik

Selain latihan kemampuan keterampilan juga perlu diberikan latihan fisik. Pelatihan fisik yang dapat diberikan pada tahap permulaan ini berupa latihan-latihan fisik dasar yang sudah dianugrahkan Tuhan kepada makhluknya, seperti kemampuan kelenturan pada persendian dan persambungan (flexibility), kemampuan kecepatan gerak (Speed – Agility – Quickness), kemampuan kekuatan (strength), dan kemampuan daya tahan

(39)

21

(endurance). Adapun yang paling penting untuk dicermati oleh setiap pelatih adalah bagaimana menerapkan metode dan bentuk latihan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak usia permulaan (6–10 tahun) dan pembentukan (11–14 tahun). Adapun latihan fisik tersebut adalah :

1) Latihan Fleksibilitas

Kelenturan adalah kemampuan tubuh mengulur diri seluas- luasnya yang ditunjang oleh luasnya gerakan pada sendi.

Kemampuan untuk menggerakan tubuh dan anggota tubuh seluas- luasnya, berhubungan erat dengan kemampuan gerak kelompok otot besar dan kapasitas kinerjanya, latihan fleksibilitas dilakukan dengan cara peregangan (stretching) (Mylsidayu & Kurniawan, 2015).

2) Latihan Kecepatan Gerak

Kecepatan adalah kemampuan untuk mengerjakan suatu aktivitas berulang yang sama serta berkesinambungan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Komponen kecepatan gerak berkaitan erat dengan kekuatan, kelincahan, keseimbangan, koordinasi dan daya tahan. Kecepatan gerak diukur dengan cara mengukur jarrak yang ditempuh (Nala, 2011).

3) Latihan Kekuatan dan Stabilisasi

Kemampuan ini harus dilakukan secara hati-hati karena secara fisiologik kemampuan anak-anak usia ini masih sangat lemah. Oleh karena itu, latihan kemampuan ini dilakukan dengan

(40)

menggunakan beban sendiri atau dengan alat yang ringan sehingga tidak mengganggu pertumbuhan dan perkembangan fungsionalnya. Kemampuan kekuatan yang dituju lebih kepada daya tahan kekuatan yang berarti lebih memperhatikan volume karena pengulangannya dibandingkan dengan intensitas bebannya, serta irama gerakan yang tidak cepat. Harus diperhatikan apabila kita akan memberikan latihan kekuatan lompatan hendaknya dilakukan dengan low impact. Latihan penguatan (strengthening) yang juga akan membantu tingkat stabilitas saat bergerak pada anak usia ini adalah dengan latihan stabilisasi. Latihan ini boleh dikatakan dengan resiko cedera yang sangat minim dan bahkan untuk orang dewasa (atlet) latihan ini menjadi bagian dari latihan rehabilitasi atau penyembuhan dari cedera. Latihan ini akan lebih baik apabila sudah diperkenalkan pada anak-anak usia sekolah. Adapun yang perlu diperhatikan dari latihan kekuatan dan stabilisasi ini adalah porsi / takaran latihan dan bentuk latihan yang sesuai dan tepat (Sidik, 2015).

4) Latihan Daya Tahan

Kemampuan daya tahan adalah kemampuan yang paling jelas dimiliki oleh anak-anak. Pada usia anak-anak tingkat kesadaran akan kelalahan sangatlah kecil. Aktivitas sehari-hari yang dilakukan sangat padat akan tetapi jarang (bahkan tidak pernah) mengeluh kelelahan. Pelatihan pada kemampuan ini

(41)

23

adalah memberikan perlakuan terhadap anak-anak untuk menyelesaikannya dalam waktu yang lama.

Dalam latihan ini tingkat kejenuhan dan rasa malas cukup tinggi sehingga dituntut pelatih untuk mampu menciptakan variasi latihan yang banyak dengan menerapkan metode dan bentuk latihan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan. Bentuk latihannya lebih dominan permainan yang menuntut aktivitas setiap individu anak (tidak pasif) yang berlangsung cukup lama (waktu yang lama atau pengulangan yang cukup banyak). Untuk menarik perhatian dan minat bergerak maka penggunaan alat bantu yang tepat harus dimaksimalkan (Sidik, 2015).

4. Unsur – unsur Latihan

Menurut Aryani (2017) unsur-unsur latihan dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :

a) Intensity atau intensitas

Intensitas latihan merupakan komponen kualitas yang mengacu pada jumlah kerja yang dilakukan dalam satu unit waktu tertentu.

Cara menentukan intensitas latihan adalah dengan lama dan singkatnya pemberian waktu recovery dan interval. Semakin singkat waktu recovery dan interval selama latihan, berarti semakin tinggi intensitas latihannya, begitupun sebaliknya.

b) Volume atau dosis

Volume adalah ukuran yang menunjukkan kuantitas (jumlah) suatu rangsang atau pembebanan. Volume latihan dapat juga diartikan

(42)

sebagai komponen utama dari latihan karena merupakan persyaratan untuk mencapai teknik, taktik dan fisik yang tinggi.

Adapun cara untuk meningkatkan volume latihan dapat dilakukan dengan cara latihan itu : (1) diperberat, (2) diperlama, (3) dipercepat, atau (4) diperbanyak.

c) Recovery

Recovery adalah waktu istirahat yang diberikan pada saat antar repetisi (ulangan). Dalam menu program latihan biasanya tertulis 1:5 artinya waktu recovery yang diberikan 5 kali lebih lama dari waktu kerja.

d) Interval

Interval adalah waktu istirahat yang dibeikan pada saat antar set/seri atau sirkuit atau antar sesi per unit latihan. Pada prinsipnya pemberian waktu recovery selalu lebih singkat atau lebih pendek dari pemberian waktu interval.

5. Model Latihan Daya Tahan

Latihan daya tahan adalah kemampuan tubuh untuk melawan kelelahan sehingga tubuh mampu melakukan kegiatan atau kerja dalam waktu yang relatif cepat untuk kembali bugar (Rubianto, 2007).

Daya tahan merupakan faktor fisik yang sangat penting, yang menentukan prestasi seorang atlet, karena daya tahan yang baik seorang atlet akan mampu menerapkan tehnik dan taktik secara maksimal, sehingga dengan kemampuan daya tahan yang prima kesempatan untuk meraih prestasi akan lebih mudah. Faktor utama

(43)

25

keberhasilan dalam latihan dan pertandingan olahraga dipengaruhi oleh tingkat kemampuan ketahanan olahragawan, jadi kemampuan ketahanan seseorang yang baik akan mampu melakukan pekerjaannya dengan maksimal. Ketahanan fisik yang baik adalah kemampuan maksimal dalam memenuhi konsumsi oksigen yang ditandai dengan tingkat volume oksigen maksimal (VO2Max). VO2Max adalah jumlah maksimum oksigen dalam milliliter, yang dapat digunakan dalam satu menit per kilogram berat badan. Orang yang kebugarannya baik mempunyai nilai VO2Max yang lebih tinggi dan dapat melakukan aktifitas lebih kuat dari pada mereka yang tidak dalam kondisi baik (Watulingas dkk,2013).

Daya tahan (endurance) dibagi menjadi dua yaitu daya tahan kardiovaskuler dan daya tahan otot. Daya tahan kardiovaskuler adalah kemampuan dalam mempergunakan sistem jantung , paru-paru, dan peredaran darah secara efektif dan efisien untuk menjalankan kerja secara terus menerus yang melibatkan kontraksi otot dalam intensitas tinggi dalam waktu yang cukup lama. Menurut Wahyu (2015) salah satu model latihan untuk meningkatkan daya tahan adalah interval training.

6. Latihan Interval Training

Menurut Syaifudin (2015) interval training adalah suatu sistem latihan yang diselingi oleh interval-interval yang berupa masa- masa istirahat. Jadi, latihan (misalnya lari) – istirahat – latihan – istirahat – latihan dan seterusnya. Interval training adalah cara latihan

(44)

yang penting dimasukan dalam program latihan keseluruhan.

Sedangkan menurut Hairy (2010) menjelaskan bahwa latihan interval atau interval training merupakan suatu rangkaian dari pengulangan- pengulan`gan kegiatan dari suatu latihan yang diselingi oleh waktu istirahat. Selama masa istirahat tersebut biasanya dipergunakan bentuk-bentuk latihan yang ringan.

Dari beberapa pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa interval training merupakan suatu metode latihan berupa rangkaian pengulangan-pengulangan kegiatan yang diselingi oleh interval- interval berupa masa-masa istirahat.

a. Pelaksanaan Interval Training

Ada beberapa faktor yang harus dipenuhi dalam menyusun interval training (Syaifudin, 2015) yaitu :

1) Lamanya latihan.

2) Beban latihan.

3) Ulangan (repetition) melakukan latihan.

4) Masa istirahat (recovery interval) setelah setiap repetisi latihan.

Bentuk latihan dalam interval training dapat berupa lari (interval running) atau renang (interval swimming) interval training dapat pula diterapkan pada weight training, circuit training, dan sebagainya. Menurut Syaifudin (2015) ada 2 bentuk latihan interval training yaitu :

1) Interval Training Lambat akan tetapi dengan jarak lebih jauh Lama latihan : 60 detik-3 menit

(45)

27

Intensitas latihan : 10%-70% max Ulangan lari : 10-20 kali Istirahat : 3-5 menit

Tabel 2.4 Interval Training Lambat Dengan Jarak Lebih Jauh Waktu terbaik 800 m : 2 menit 20 detik

Repetisi Jarak Waktu Istirahat

3 800 meter 160 detik 5 menit

3 600 meter 120 detik 4 menit

3 400 meter 80 detik 3 menit

3 300 meter 60 detik 2 menit

2) Interval Training cepat akan tetapi dengan jarak lebih dekat Lama latihan : 5 - 30 menit

Intensitas latihan : 85%-90% max Ulangan lari : 20 – 25 kali Istirahat : 30-90 detik

Tabel 2.5 Interval Training Cepat Dengan Jarak Lebih Dekat Waktu terbaik 100 m : 12 detik

Repetisi Jarak Waktu Istirahat

5 50 meter 8 detik 30 detik

5 100 meter 16 detik 90 detik

5 100 meter 16 detik 90 detik

5 50 meter 8 detik 30 detik

Interval atau istirahat ini penting sekali, istirahat ini haruslah istirahat yang aktif dan bukan istirahat yang pasif. Istirahat ini bisa berupa jalan, relaxed jogging melakukan bentuk-bentuk latihan senam kelentukan, peregangan dan sebagainya.

Jogging secara relax adalah cara yang baik untuk pemulihan atau recovery yang cepat dan efektif. Jogging ini akan

(46)

memassage darah kita lebih cepat ke jantung dari pada istirahat pasif.

Tabel 2.6 Program Latihan Interval Training

Lama latihan 4 Minggu

Frekuensi latihan 3 kali perminggu

Jarak 300 meter

Waktu tiap work interval 60 detik Recovery interval 1:2 (2 menit)

Repetisi 3 kali

Jumlah set 2 set

Beban 75% dari 1-RM (repetisi maksimum)

b. Keuntungan Menggunakan Interval Training

Banyak keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan metode latihan interval jika dibandingkan dengan metode lainnya (Hairy,2010), di antaranya adalah :

1) pengontrolan latihan lebih teliti.

2) lebih sistematis karena memungkinkan seorang pelatih lebih mudah untuk mengetahui kemajuan dari hari ke hari.

3) peningkatan potensi energi lebih cepat daripada metode conditioning lainnya.

4) program dapat dilakukan hampir dimana saja dan tidak memerlukan peralatan khusus.

C. Tinjauan Umum tentang Permainan Sepakbola 1. Pengertian Permainan Sepak bola secara Umum

Sepak bola adalah cabang olahraga yang dimainkan oleh dua tim yang masing-masing tim beranggotakan sebelas orang salah

(47)

29

satunya sebagai penjaga gawang yang bertanding selama 2x45 menit untuk memasukkan sebuah bola bundar ke gawang lawan (mencetak gol). Tim yang lebih banyak mencetak gol adalah pemenangnya. Jika hasil gol sama banyaknya maka akan ada penambahan waktu 2x15 menit dan apabila dalam penambahan waktu hasil gol masih imbang maka diselesaikan dengan adu penalti. Peraturan utama dari sepak bola adalah para pemain selain penjaga gawang tidak boleh menyentuh bola selama permainan berlangsung. Pertandingan ini dipimpin oleh seorang wasit yang dibantu oleh dua-empat hakim garis, keputusan dari wasit atau hakim garis bersifat mutlak (Nonalisa, 2013).

Gambar 2.3 Lapangan Sepak Bola

Sepak bola dimainkan di atas lapangan berumput yang mempunyai ukuran standar internasional yaitu panjang 100 – 110 m dan lebar 64 - 75 m, ukuran daerah pinalti yaitu 18 m dari setiap posnya, gawang berukuran lebar 7 m dengan tinggi 2,5 m, dan garis pinalti berada 11m dari titik tengah garis gawang. Bola yang

(48)

digunakan berbahan kulit berisi udara yang mempunyai ukuran lingkar 69 – 71 cm.

Teknik dasar dengan bola yang harus dimiliki pemain sepak bola menurut Herwin (2004) antara lain adalah:

a. Pengenalan bola dengan bagian tubuh (ball feeling) b. Menendang bola (passing)

c. Mengoper bola pendek dan panjang atau melambung, menendang bola kegawang (shooting)

d. Menggiring bola (dribling)

e. Menghadapi lawan dan daerah bebas, menerima dan menguasai bola (receiving and controling the ball) dengan kaki, paha dan dada.

f. Menyundul bola (heading) untuk bola lambung atau bola atas g. Gerak tipu (feinting) untuk melewati lawan

h. Merebut bola (tackling) saat lawan menguasai bola

i. Melempar bola (throw-in) bila bola keluar lapangan untuk menghidupkan kembali permainan

j. Teknik menjaga gawang (goal keeping).

2. Komponen Kondisi Fisik Pemain Sepak bola

Sepak bola merupakan suatu permainan yang membutuhkan waktu yang lama, yaitu 90 menit dan pemain dituntut untuk senantiasa bergerak, baik dengan bola maupun tanpa bola. Seorang pemain sepak bola harus mempunyai kondisi fisik yang prima untuk dapat memainkan permainan tersebut dengan baik. Menurut Depdikbud

(49)

31

(1992) dalam Lestari (2013) disamping kemahiran teknik, kualitas fisik yang terdiri dari kekuatan, kecepatan, daya tahan, daya ledak, kelentukan, kelincahan juga harus dibina. Menurut Lestari (2013) komponen-komponen kondisi fisik dapat dikemukakan antara lain sebagai berikut:

a. Daya tahan (Endurance)

Daya tahan, adalah kondisi tubuh untuk dapat berlatih dalam waktu yang lama, tanpa mengalami kelelahan yang berlebih setelah melakukan latihan. Daya tahan diperlukan dalam bermain sepakbola, karena dalam bermain sepakbola membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu 90 menit sehingga membutuhkan daya tahan yang baik. Daya tahan (endurance) dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:

1) Daya tahan otot setempat (local endurance) yaitu kemampuan seseorang dalam mempergunakan suatu kelompok ototnya untuk berkontraksi secara terus-menerus dalam waktu relatif cukup lama dengan beban tertentu.

2) Daya tahan umum (cardiorespiratory endurance) yaitu kemampuan seseorang dalam mempergunakan sistem jantung, pernafasan dan peredaran darahnya secara efektif dan efisien dalam menjalankan kerja terus menerus.

Berdasarkan pada predominan sistem energi yang digunakan, Sukadiyanto (2005) menyatakan bahwa ketahanan dapat dikelompokkan menjadi: (1) ketahanan aerobik, dan (2)

(50)

ketahanan anaerobik. Ketahanan aerobik adalah proses pemenuhan kebutuhan energi (tenaga) untuk bergerak di dalam tubuh yang memerlukan bantuan oksigen dari luar tubuh manusia, sedangkan ketahanan anaerobik merupakan proses pemenuhan kebutuhan energi yang tidak memerlukan bantuan oksigen dari luar tubuh manusia.

b. Kekuatan (Strength)

Kekuatan otot sangat diperlukan dalam permainan sepakbola, terutama kekuatan otot tungkai. Hal ini dikarenakan jika dalam sebuah permainan, terutama permainan sepak bola tidak ada kekuatan otot tungkainya, maka seseorang tidak akan bisa bermain sepakbola dengan sempurna. Sebelum dijelaskan tentang pengertian kekuatan otot, terlebih dahulu akan dijelaskan tentang pengertian kekuatan.

Kekuatan, adalah kemampuan otot untuk membangkitkan tegangan. Dalam bermain sepak bola, selain diperlukan kekuatan otot kaki juga diperlukan kekuatan otot perut. Hal ini dikarenakan agar seorang pemain sepak bola, tidak mempunyai perut yang buncit agar bisa bermain sepak bola dengan baik.

Menurut Ismaryati (2008), kekuatan adalah tenaga kontraksi otot yang dicapai dalam sekali usaha maksimal. Usaha maksimal ini, dilakukan oleh otot atau sekelompok otot untuk mengatasi suatu tekanan. Kekuatan pada seseorang akan berubah- ubah sesuai dengan aktivitas yang dilakukannya. Menurut Lutan

(51)

33

(2000), kekuatan otot adalah kemampuan seseorang untuk mengerahkan daya semaksimal mungkin untuk mengatasi sebuah tekanan. Jika kekuatan yang dikeluarkan untuk melakukan aktivitas itu besar, maka hasil yang akan diperoleh juga akan semakin bagus.

c. Kelincahan (Agility)

Kelincahan (agility) adalah kemampuan untuk merubah arah dan posisi tubuh dengan cepat dan tepat pada waktu sedang bergerak tanpa kehilangan keseimbangan dan kesadaran akan posisi tubuh. Dalam bermain sepak bola, kelincahan sangat diperlukan. Semakin lincah seorang atlet, semakin baik pula seorang atlet bermain sepak bola. Manfaat kelincahan dalam permainan sepak bola adalah untuk menerobos pertahanan lawan, mengelabuhi lawan, dan untuk menghindari cidera.

d. Kecepatan (Speed)

Kecepatan (speed) adalah kemampuan seseorang dalam melakukan gerakan berkesinambungan, dalam bentuk yang sama dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kecepatan adalah kemampuan unutk berjalan, berlari atau bergerak dengan sangat cepat. Menurut Sukadiyanto (2005) kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk melakukan gerak atau serangkaian gerak secepat mungkin sebagai jawaban terhadap rangsang.

e. Kelentukan (Flexibility)

Kelentukan adalah keefektifan seseorang dalam penyesuaian dirinya untuk melakukan segala aktivitas tubuh

(52)

dengan penguluran seluas-luasnya, terutama otot-otot, ligamen- ligamen disekitar persendian. Kelentukan adalah kemampuan untuk melakukan gerakan persendian melalui jangkauan gerak yang luas).

Menurut Sukadiyanto (2005) kelentukan mengandung pengertian, luas gerak satu persendian atau beberapa persendian.

D. Tinjauan Hubungan Latihan Interval Training terhadap Perubahan Kapasitas Aerobik

Sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga dinamis yang membutuhkan kondisi fisik yang prima. Fisik yang prima adalah syarat dasar yang harus dimiliki seorang pemain sepak bola. Dalam sepak bola karakteristik sistem energi yang paling dominan digunakan adalah sistem energi anaerobik karena para pemain banyak melakukan sprint berkali-kali untuk melakukan serangan, merebut bola maupun berlari untuk mengamankan daerahnya. Namun dengan lamanya waktu pertandingan maka perlu didukung oleh sistem energi aerobik. Sistem energi aerobik banyak membutuhkan oksigen terus menerus disalurkan pada serabut otot sebagai bahan metabolisme aerobik bersama dengan karbohidrat, lemak dan protein untuk diubah menjadi energi, kecepatan maksimal penggunaan energi melalui sistem aerobik yang memerlukan oksigen dibatasi oleh kecepatan maksimal sistem cardiovaskulerrespiratory dalam mengirimkan oksigen ke otot, maka pemain sepak bola perlu memiliki VO2Max yang baik untuk mensuplai oksigen guna menunjang aktifitas mereka selama pertandingan berlangsung (Agung, 2014).

(53)

35

Adapun jenis latihan untuk meningkatkan kapasitas aerobik (VO2Max) salah satunya adalah menggunakan metode latihan interval training yaitu suatu sistem latihan yang diselingi oleh interval-interval yang berupa masa-masa istirahat. Jadi, latihan (misalnya lari) – istirahat – latihan – istirahat – latihan dan seterusnya. Adapun beberapa keuntungan yang diperoleh jika menggunakan latihan Interval Training yaitu pengontrolan latihan lebih teliti, peningkatan potensi energi lebih cepat daripada metode conditioning lainnya dan latihan ini juga tidak memerlukan peralatan khusus.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahmayana (2016) dengan memberikan latihan Interval Training sebanyak 12 kali pertemuan terhadap 24 orang didapatkan hasil bahwa latihan tersebut dapat meningkatkan kapasitas aerobik. Hasil penelitian lainnya dilakukan oleh Khotimah pada tahun 2011 dengan menerapkan latihan terhadap 34 siswa putra kelas VII SMP Negeri 1 Baki Sukoharjo dengan menerapkan 16 kali pertemuan dan juga didapatkan hasil bahwa latihan interval training dapat meningkatkan daya tahan aerobik.

Latihan interval training bermanfaat untuk kebugaran fisik karena membuat jantung bertambah besar, sehingga daya tampung dan denyut nadi (stroke volume) menjadi kuat. Hal ini terjadi karena saat latihan terjadi peningkatan tuntutan oksigen di otot aktif menjadi meningkat, lebih banyak nutrisi digunakan dan proses metabolisme dipercepatkan serta menghasilkan sisa metabolisme. Terjadi respon, seperti peningkatan kontraktilitas miokard, peningkatan curah jantung yang juga berdampak

Referensi

Dokumen terkait

a) Bahan hukum primer: bahan hukum yang mengikat dan terdiri atas norma-norma dasar, misalnya: Mahkamah Konstitusi, Ketetapan Majelis Perwakilan Rakyat, peraturan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh program gemar membaca teks faktual terhadap kompetensi menemukan gagasan utama teks pada siswa kelas VII SMP Pemda

Perjanjian pengangkutan pihak pengangkut adalah bebas untuk memilih sendiri alat pengangkutan yang hendak dipakainya. Dalam perjanjian pengangkutan itu pihak

[r]

iii. Memiliki tata urutan pelajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuan anak. Apabila konsep yang hendak dituju merupakan sesuatu yang kompleks, dapat dipecah

Peraturan Senat Universitas Negeri Malang Nomor 01 Tahun 2010 Tentang Tata Cara Penjaringan dan Pemberian Pertimbangan Calon.. Rektor Universitas Negeri Malang, Tanggal

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan bauran pemasaran produk dana Bank Syariah Mandiri Kantor Kas FMIPA UI Metode yang digunakan adalah observasi

Tabel 4.8 Aspek Menguasai Teori Belajar dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran yang Mendidik Pada Guru SD Lulusan PGSD dan Non PGSD ..... DAFTAR